Aceh Dalam Lintasan Sejarah


ATJEH DALAM LINTASAN SEDJARAH

Disalin kembali oleh Mulyadi Nurdin, Lc

(dari makalah seminar tahn 1972, untuk dibaca oleh masyarakat luas)

PEMAKALAH :

1.     H. M. ZAINUDDIN

2.     S. M. IDRUS

3.     H. A. BAKAR ATJEH

4.     T. SJAMSUDDIN

5.     UMAR KAJAM

6.     DARWIS SULAIMAN

7.     L. K. ARA

8.     IDRIS ALI

9.     ADNAN HANAFIAH

10.  ARABY AHMAD

11.   ZAINI ALI

12.  A. MUIN UMAR

Seminar PKA Ke – II / 1972

PANITIA PUSAT PEKAN KEBUDAJAAN ATJEH KE-II

(The 2nd. Atjeh Cultural Festival)

ATJEH DALAM INSKRIPSI DAN LINTASANSEDJARAH

OLEH = H. M. ZAINUDDIN =

SUMBANGAN – PIKIRAN PADA SEMINAR KEBUDAJAAN DALAM RANGKA PKA – II DAN DIES NATALIS KE – XI UNIVERSITAS SJIAH KUALA 21 S/D 25 AGUSTUS 1972, DI BANDA ATJEH

ATJEH DALAM LINTASAN INSKRIPSI DAN SEDJARAH

Oleh : H. M. Zainuddin

MUKADDIMAH

 

Saudara Ketua  serta Para Anggota Dewan jang terhormat, Bapak Gubernur KDH. Daerah Istimewa Atjeh, Bapak Panglima Kodam I/Iskanda Muda jang kami hormati, Para rektor, Para Dekan, Para Dosen, Pejabat-Pejabat Sipil dan Militer, serta Para Mahasiswa, Hadirin-Hadirat Sekalian.

Sjukur Alhamdulillah dengan kurnia Tuhan Jang Maha Esa pada hari ini dalam usia saja mendjelang 80 tahun masih dapat menghadiri dan Pekan Kebudajaan Atjeh ke-II ini. Saja telah memberanikan diri memintah kepada Panitia agar di dalam Seminar Kebudajaan Pekan Kebudajaan Atjeh ke II ini dapat diungkapkan mengenai masalah masuknja Islam ke Atjeh Darussalam.

Dalam hal ini panitia telah pula menentukan Para Pembanding atau prasaran jang akan saja kemukakan nantinja.

Akan tetapi saudara Ketua dan Madjlis jang terhormat, tidaklah akan menganggap bahwa para pembanding dari prasaran saja itu sebagai lawan saja, melainkan adalah sebagai pembimbing dan pembantu saja dalam mentjari kebenaran, jang sesuai dengan peribahasa jang ditinggalkan oleh Marhoem Meukuta Alam Sri Sultan Iskandar Muda jaitu :

Alang neu tulong

Langsung neu tjok

Pat njang santeuk

Meupeuglah seugra

Indonesianja : Alang tolonglah

Langsung ambillah

Dimana tersangkut

Segera lepaskan

Dan :               Beuna neu ikat

Karot neu reugah

Pat njang salah

Puwoe bak beuna

Indonesianja : Kalau benar ikut

Kalau tidak pada tempatnja sanggah

Dimana jang salah

Bawalah kembali kepada jang benar.

Dengan ini pula saja sangat mengharapkan kerdja sama jang sebaik-baiknja dan seharmonis mungkin diantara kita untuk mentjiptakan seminar ini sebagai pendjernihan dari persoalan masuknja Islam ke Atjeh Darussalam dari alam jang gelap dan bersimpang siur kepada suatu alam jang terang, demi menghilangkan kekaburan sedjarah kita jang sangat berguna bagi bangsa dan negara Indonesia tertjinta.

Hormat saja dan terima kasih.

H. M. ZAINUDDIN
I. ATJEH DALAM LINTASAN INSKRIPSI DAN SEDJARAH

Dalam kita mengungkapkan masalah masuknja Islam ke Atjeh atau Sumatera Utara, perlu terlebih dahulu kita menukil kembali akan nama-nama negeri di djaman purbakala jang disebut-sebut oleh musafir-musafir asing di djaman itu, jaitu : Poli, Indrapuri, Lam Oli, Indrapatra, Lamuri, Indra Purba, Pantjur, Nej, Pulu Putu, Darogorin, Litaj, mungkin ini Batee dekat Poli Sjamtalira sampai sekarang masih nama itu Samudra, Basma, Perlac, Aramiah/mungkin ini Al-Rami, Tamiang dan Haru (Lihat Hp. P Groeneveld Indonesia and Malaja, hal. 30)

Diantar penulis-penulis itu terutama bangsa Arab, Persia, India dan Tjina jang menjebut-njebut nama itu. Hanja Indresi sekedar sedikit saja jang menulis Geografi, jang lain menulis sepintas lalu saja, sebab itu orang senantiasa ragu-ragu menentukan tempat tersebut. Diantara penulis atau musafir-musafir itu adalah :

1.      Fahian bangsa Tjina di tahun 413, I. Tsung tahun 671 M/51 H. Dan Ma Hoa serta Sampo Kong atau Tjeng Ho di tahun 818H. Atau 1416 M. Singgah di Aru, Perlak, Samudra, Nago, Litoj (Pidie) dan Lamuri dan Lampoli (mungkin Lam Ilei).

2.      Zahid bangsa Persi di tahun 717 atau 82 H.

3.      Idresi bangsa Arab ahli Ilmu Bumi di tahun 1157 atau 552 H.

4.      Qaswini bangsa Persi 1270 M atau 668 H.

5.      Ibnu Khordabeh bangsa Arab 846 M atau 231 H.

6.      Sulaiman bangsa Arab tahun 851 atau 237 H.

(Lihat Enc. Paulus halaman 73 dan Winsted tawarech Melaju halaman 33)

Maka musafir-musafir jang menjebut-njebut nama negeri di Sumatera Utara seperti jang tersebut di atas tadi dan Sumatera Selatan disebut Sabarza, oleh orang Arab dan oleh orang Tjina Shih li Fo Shah atau Sam Botsai untuk Sriwijaja atau Palembang dan untuk negeri di Utara Semenanjung Malaka dinamai oleh orang Arab Kalahbar, oleh orang Tjina Kadaha dan oleh orang Keling (Tamil) Kadaran, ini untuk negeri Kedah. Nama-nama ini telah ddjelaskan diketahui orang, tetapi negeri-negeri jang tersebut dalam Sumatera Utara atau Atjeh selain Tashe = Pase, Atjeh = Asji sedangkan jang lain orang masing ragu-ragu. Dr. L. Van Ryekevprsel dalam Hikajat pulau-pulau Hindia Timur pasal 9 halaman 68, J. B. Wolters Groningen 1929, ddjelas disebutkan bahwa negeri Poli letaknja di ujung Sumatera Utara di satu telah jang genting dan indah pelabuhannja djadi di Atjeh. Dan Prof. Inggeris R. O. Winsted dalam bukunja Tawarech melaju (lihat H. R. Groeneveld Indonesia and Malaja hal. 30) dan The Strait Settlements and the farted and Unfrated  Malajan states, serupa atau sependapat, akan tetapi beberapa ahli sedjarah Belanda seperti Prof. Krom dan Prof. Kern, masih sangsi dengan pendapat di atas, hanja menjebutkan negeri Poli itu di Bali atau di tanah semenandjung Melaju. Ahli-ahli sedjarah ini tidak pernah datang meneliti ke tempat tersebut, maka mereka mendjadi sangsi. Akan tetapi saja sendiri telah 2 kali datang meneliti ke tempat itu masih bernama Poli disekitar Kuala Genteng dan Kuala Batee jang memang benar ada satu kampung disebut Meunasah Poli dan masih ada terdapat di sekitar kampung itu bekas djerat (kuburan) Hindu dan letaknja memang indah tetapi bagian telah mendjadi belukar dan daratan. Jang masih tinggal sampai sekarang ialah bekas satu pelabuhan jang dinamai Pelabuhan Iskandar Muda dan tentulah di masa memerintah Sri Sultan Iskandar Muda/Mahkuta Alam masih dibuka pelabuhan jang indah permai pemandangan itu bagi kapal-kapal Asing.

KEBUDAJAAN ARAB DAN PERSIA

Setelah dipeladdjari keterangan-keterangan jang tersebut di atas tadi, marilah dipeladdjari lagi keadaan-keadaan lain jang bersangkut paut dengan nama-nama itu. Menurut pendapat saja jang telah saja datang meneliti ke tempat-tempat itu, bahwa sebelum datang bangsa Hindu di Sumatera (Atjeh) terlebih dahulu telah ada Kolonisasi bangsa Arab dan bangsa Persia. Dekat Birem Langsa (Atjeh Timur) dan suatu tempat atau kampung jang dinamai Aramiah dan Bajan. Kampung Aramiah didiami oleh satu suku bangsa jang berasal dari Palestina dan tempat itu dinamai Aramiah, menurut nama suku bangsanja. Di atas satu bukit ketjil ada satu bekas tapak kaki aulia jang membangun negeri itu di zaman purbakala dan bekas tapak itu dari dahulu sampai sekarang masih dipudja-pudja oleh orang kampung dan nelajan-nelajan jang melepaskan nazar. Selain di Aramiah, bekas tapak kaki ini terdapat djuga di ujung Perling, Telaga Tudjuh dan Kuala Bugak Perlak.

Tradisi pemudjaan tapak-tapak kaki ini adalah kebudajaan orang-orang Persia. Dan pemudjaan tapak kaki ini terdapat pula di teluk Tapak Tuan di Atjeh Selatan jang telah pula saja datangi meneliti kesana kira-kira dalam tahun 1933 dulu sebab itu negeri itu dinamai Tapak Tuan, nama sebenarnja aulia itu Abdur Rahman. Selain dari itu tidak berapa djauh dari kampung Aramiah terdapat satu kampung (Pekan) jang bernama Bajan dan pada lidah orang Atjeh disebut Bajeun. Bajan asal kata dari Bajsan, jaitu satu suku bangsa atau bama satu kampung di Palestina (Sjria). Aramiah dan Rajsan (Bajan = Bajeun) pada zaman dahulu termasuk daerah keradjaan perlak.

KEDATANGAN MARCO POLO DAN IBNU BATUTAH

Kedatangan orientalis Barat bangsa Italia ke Asia ini membawa kita kepada masa kemadjuan ”Pra Sedjarah”. Jang membuka kemadjuan penelitian sedjarah selain dari fakta-fakta pudjaan-pudjaan kebudajaan purbakala, jang telah disebut diatas tadi bekas tapak kaki. Maka terbukalah pintu bagi ahli-ahli sedjarah mendapatkan bahan-bahan baru untuk studinja, jaitu batu-batu nisan jang telah ada di Perlak (Peureulak sekarang), batu-batu nisan jang berada disekitar negeri Samudra atau jang disebut Pase sekarang, terutama batu nisan Sultan Al-Kamil, Sultan Malikus-Saleh, Sultan Malikul Thahar dan lain-lain. Jang tjukup terang pada batu nisan itu tertulis nama dan tanggal mangkatnja. Setelah itu batu nisan di Pantee Radja daerah Pidie, research saja pada tanggal 23 Februari 1967 bersama Tgk. H. Abdullah Udjong Rimba dan Drs. A. Rheids di atas bukit makam Sultan Sjamsul Alam bin Sultan Muhammad Lamuri.

Tambahan lagi diantara nisan-nisan di daerah Pase terdapat di kampung Mundje Tudjoh, makam seorang ratu bertulisan huruf kuno, bahasa Arab tjampur, bahasa Djawi dan Sanskerta, jang mangkat pada tahun 781 H. Atau 1379 M. Seorang radja jang bekuasa dan berhak atas negeri Kadha/Kedah dan Pase berkuasa darat dan laut asalnja dari bangsa Batubasa. Dengan adanja inskripsi Mundje Tudjoh bolehlah dikatakan bahwa keradjaan Pase ada hubungan ketat dengan keradjaan Kedah dimasa dahulu dan Kedah lebih dahulu masuk Islam dari Malaka. Nisan di Labuj Pidie, adalah makam Sultan Ma’rufsjah, jang mangkat pada tahun 916 H. Atu 1511 M. Nisan Putroe Balee di Sangeue, jang mangkat pada 970 H atau 1588 M (research 8 Agustus 1964). Setelah itu banjak lagi di batu-batu nisan jang tedapat di Lam Ili dekan Indrapuri, jang bentuk batu-batu nisan itu serupa dengan ukiran nisan-nisan di Pase, bahwa satu-satu ada jang lebih indah dari pada nisan di Pase. Diantara nisan-nisan di Lam Ili terdapat satu komplek jang dinamai Jerat Keling (Kuburan Keling). Menurut seorang wanita tua (80 tahun) tatkala saja research di tahun 1952 bahwa nama orang jang disebut jerat Keling Abdullah Arif, ia mengetahui nama itu sedjak ia masih muda, orang-orang melepaskan hajat pada makam jang disebut jerat Keling (Abdullah Arif). Menurut nota saudara Muhammad Said dalam bukunja Islam ke Indonesia, hal. 191. Mangkatnja tahun 1177 M atau 523 H, tetapi nisannja telah rusak dan pada nisan-nisan lain djuga begitu banjak diperiksa disekitarnja tidak terdapat nama orang dan tanggal meninggalnja, tetapi kalau ada orang kampung kita tanjakan dimana jerat Keling atau jerat Megat dapat ditundjukkannja.

Salah seorang murid dari Abdullah Arif ini, Burhanuddin jang jatuh ke Ulakan Periaman (Sumatera Tengah) Vide AS. Harahap Sedjarah Agama Islam di Asia Tenggara hal. 9 tjetakan II 1950. De Hallander I. H 581. setelah Indrapuri kita periksa makam di kampung Pande, tetapi tidak bertulis nama hanja satu saja jang ada tetulis namanja, jaitu Sultan Abdullah dan Sultan Munawarsjah mangkat tahun 907 H atau 1503 M research saja pada 11 Mei 1963. Jang tertua disebut Tuan di Kandang, itulah jang dikatakan orang-orang tua Sultan Johan Sjah asalnja orang Arab datang dari Persia. Dari situ kita menudju ke Darul Kamal (Darul Kameue sebutan Atjeh) jang disebut orang-orang makam Meurah-Meurah. Disitu kata seorang wanita tua, diantara makam jang banjak itu ada satu makam jang disebut Sultan Inajat Sjah atau Radja Madat dan makam-makan Meurah ini kata orang tua itu ada hubungannja dengan makam di Biluj. Tidak berapa djauh dari situ kita dapat melihat satu komplek makam-makam di Lam Leu Eue jang nisannja pun terukir dengan tulisan-tulisan kalimah tauhid, tetapi tidak ada tersebut nama dan tanggalnja, hanja satu saja jang tertulis nama Hussin Sjah, tetapi tanggal mangkatnja telah patah-patah ketika saja datang ke dua kalinja bersama-sama dengan Tgk. H. Abdullah Rimba untuk memeriksa lebih teliti lagi, tetapi tidak terdapat makam jang ada nama dan tanggal mangkatnja. Setelah diperiksa makam di Biluj disitu dapat melihat nisan-nisan jang masih baik dan tertulis namanja Sultan Muzafar Sjah bin Sultan Inajat Sjah bin Abdullah Al-Malikul Mubin, mangkat pada tahun 902 H atau 1497 M. Makam di Kuala Daja menurut buku-buku lama ada makam Sultan Salathin bin Inajat Sjah jang mangkat pada 7 Radjab 913 H atau 12 November 1509 M. Makam di Kuta Alam di kampung Lam Teh di pinggir djalan dari Lambhuk ke Pangoe, kita dapati pula jerat radja Perak Pling, batu bertulis kalimah tauhid bulat 8 segi, tetapi tidak sebaik nisan-nisan jang ada di Pase dan Indrapuri, Lam Ili. Menurut penduduk disitu dimasa radja itu memerintah agama Islam baru-baru ke Atjeh dan dalam satu kampung ada orang Islam dan orang jang masih beragama Hindu. Beberapa ratus meter kita masuk kedalam sampailah kita pada makam Po Teu Meureuhom Kuta Alam. Di pinggir djalan di atas satu tanah tinggi terdapat bertulis nama dan tanggal mangkatnja, jaitu :

1.      Nisan Sultan Sjamsu Sjah bin Munawar Sjah mangkat 14 Muharram 937 H atau 7 September 1530 M.

2.      Nisan Laksamana Radja Ibrahim bin Sultan Sjamsu Sjah adik dari Sultan Ali Mughajat, mangkat 12 Zulkaidah 936 H atau 7 Agustus 1530 M.

Nama Laksamana Ibrahim ini terdapat dalam buku-buku bangsa Portugis, Inggeris, Belanda dan Melaju sebab tokoh pahlawan inilah jang menumpaskan kapal-kapal perang Portugis jang pertama kali dalam pelabuhan Atjeh, Pidie dan Pasai.

MAKAM KANDANG BLANG

Setelah itu diperiksa makam Kandang Blang, di lorong Muhammadijah sekarang di atas tanah tinggi jaitu makam Sultan Ali Riajat Sjah atau Meurhom Saidil Mukammil, nenek disebelah ibu Sultan Iskandar Muda atu Meurhom Meukuta Alam seorang radja Atjeh jang kurang suka berperang, melainkan meramaikan pekan-pekan dari daerah Pasei, Pidie, Atjeh Besar dan Daja. Baginda ini jang menerima masuknja bangsa asing Spanjol, Belanda dan Inggeris untuk meramaikan bandar-bandar atau pelabuhan-pelabuhan. Dan baginda inilah jang mengirim utusan Atjeh ke negeri Belanda dalam tahun 1600 M untuk menghadap radja Belanda Princ Van Muriets sehingga terdjadilah persahabatan kembali antara Atjeh dengan Belanda jang ditawan Cornilis De Houtman cs dilepaskan. Bagindalah jang mengangkat seorang wanita mendjadi Laksamana jang bernama Malahajati jang pusaranja baru diketahui di atas bukit Hajati bekas kuta Lamreh Krueng Raja, dekat dengan kuta Inong Balee jang kami team Panitia Kebudajaan Research pada 19 Mei 1972. Selepas itu melihat lagi ke dalam kuta Mydia makam Marhum Sultan Djamalul Alam di dalam satu rumah bekas pasanggerahan Sultan dulu setelah lapangan tennis  bekas simpang di djalan Air Wangi. Radja ini jang disebut-sebut di dalam hikajat Potjut Muhammad atau Panghulei Peunaroe. Karena radja ini merampas kekuasaan dari Sultan Alaadin Johan Sjah : atau jang disebut Poteu Oek. Putra dari Maharadja Lela Melaju dari suku Bugis jang pernah diangkat mendjadi Sultan Atjeh dengan gelar Sultan Alaadin Ahmad Sjah dari tahun 1446-1455 H = 1735-1742 M. Baginda tiada beroleh putera dari Gohara, melainkan empat orang putera dari gundiknja jaitu : Potjut Oek, Potjut Sandang, Potjut Keling dan Potjut Muhammad. Karena anak-anak dari gundik menurut adat tidak boleh diangkat mendjadi radja maka kekuasaan itu dirampas oleh Jamalulil atau djuga diambil gelarnja Djamalul Alam. Karena itu terdjadilah peperangan antara orang-orang Pidie jang dipelopori oleh Potjut Muhammad, menjerbu istana Sultan Djamalul Alam untuk kekuasaan dan diangkat kembali Potjut Oek mendjadi radja dengan diberi gelar Sultan Alaadin Johan Sjah dan memerintah tahun 1455-1481 H atau 1742-1767 M. Peristiwa ini banjak disebut-sebut dalam hikajat Potjut Muhammad, Pang Ulee Peunaroe, turunan Bentara Keunangan di Pidie.

MAKAM KANDANG XII

Makam ini dahulu terletak di muka istana Darul Dunia sekarang dalam komplek militer dekat bengkel motor jang tiada berapa djauh dengan kantor militer bahagian goni. Di atas satu tanah tinggi terletak 12 makam, tetapi sekarang masih tinggal 10 batu nisa lagi, jang mungkin 2 nisan lagi telah hilang atau telah rubuh bahagian ujungnja. Dalam komplek Kandang XII ini terletak nisan-nisan jang dapat di batja nama dan tanggalnja jaitu :

1.      Sri Sultan Ali Mughajatsjah jang mangkat dalam tahun 936 H atau 1530 M.

2.      Sri Sultan Alauddin Riajatsjah Al Kahhar jang mangkat dalam tahun 979 H atau 1571 M.

3.      Sri Sultan Ali Riajatsjah putera Alauddin Riajatsjah Al Kahhar jang mangkat pada tahun 987 H atau 1579 M

Dan jang lain-lain makam-makam keluarga radja-radja tersebut tersebut jang tidak terdapat nama. Tiga buah nisan dari 1-3, pada dahulunja berpuntjak tembaga dan perak jang dipudi dengan tuasa dan emas, jang sedjak di masa Belanda dan Ddjepang barang-barang jang bermutu dan berharga tinggi itu telah ditjungkil orang, tetapi bekas-bekas pudian emas dan tuasa masih dapat dilihat. Makam XII ini dekat sekali hubungannja dengan makam di Lamteh Sultan Sjamsu Sjeh dan Laksamana Radja Ibrahim jaitu dengan ajah dan adiknja Laksamana Radja Ibrahim jang disebut di atas, merupakan kapal-kapal perang Portugis di perairan laut Atjeh Besar (Lamuri), Pidie atau Kuala Gigieng, Pasei dan Aru.

Djadi tokoh-tokoh jang tersebut di atas ini semua adalah tokoh pahlawan ulung jang pertama mempertahankan serangan musuh negara dan agama jang hendak mendjadjah Atjeh.

MAKAM MAHKUTA ALAM

Makam ini terletak disamping kanan Istana Darul Dunia dahulu diseberang sungai Darul jang sekarang disamping kanan Gubernuran, jang dulu disebut djuga dalam perkarangan Masjid Baitul Rahim, makam-makam itu telah dihantjurkan dan disembundjikan oleh pemerintahan Militer Belanda kira-kira dalam tahun 1256 H atau 1880 M. Diantara nisan-nisan jang telah disembundjikan itu terdapat nisan-nisan Putri Suni, Putri Pahang Permaisuri dan Maharani, Sri Sultan Iskandar Muda dan Ratu Tadjul Alam Safiathuddinsjah, ahli-ahli adat, ahli hukum dan sardjana dalam pemerintahan dan adil. Karena untuk menegakkan keadilan maka Sri Sultan Iskandar Muda anak kandungnja jang lalim dibunuhnja, menurut pemerintahan Khalifah Saidina Umar bin Khattab dan Sultan Alauddin Riajatsjah Al Kahhar. Oleh karena pembunuhan anak kandungnja maka orang bertanja kepada baginda, mengapa anaknja jang begitu bersalah dibunuh, maka baginda mendjawab :

Matee aneuk na djeurat

Matee adat pat tamita

Artinja :           Kalau mati anak ada kuburnja

Tetapi kalau mati adat dimana ditjari

Dan satu lagi didjawabnja :

Kong tutue meuna peuneumat

Kong Adat meuade Radja

Artinja :           Kuat titi kalau ada pemegangnja

Kuat adat kalau adil radjanja.

MAKAM DARUSSALAM

Makam ini adalah makan Sultan Iskandar Sani Mughajat Sjah suami dari Ratu Tadjul Alam Safiatuddin Sjah, letaknja di atas gunungan di pinggir sungai Daroj dalam taman sari jang sekarang masing ada bekasnja (lihat Bustanus Salatin). Menurut kitab Bustanus Salatin karangan Sjech Nurdin Ar Raniry, bahwa batu-batu nisan Mahkuta Alam/Sri Sultan Iskandar Muda dan nisan Darussalam/Sultan Iskandar Sani dan Putri Pahang dan mungkin djuga nisan Ratu Tadjul Alam, ada lebih indari dari nisan-nisan di Kandang XII, karena bertahtakan perak, tuasa dan emas, bahkan pula nisan Mahkuta Alam sendiri bertahtakan dengan batu-batu permata dan sudah tentu pula dalam rawatan dan pendjagaan jang ketat. Akan tetapi tatkala dirubuhkan oleh Militer Belanda, barang-barang jang amat berharga itu telah banjak diambil atau disembundjikan oleh jang merusakkannja.

MAKAM SJIAH KUALA

Penghabisan tidak dapat dikesampingkan makam Almarhum Sjech Abdul Rauf bin Ali jang berada di Kuala Atjeh, walau makam itu hanja setjara sederhanakan saja tidak mempunjai nisan jang berukir indah, hanja baru besar sadja, tetapi tjukup dihormati dan dipudja orang sampai sekarang ini. Ini adalah makam seorang sastrawan dan sardjana hukum, pengarang tafsir Balawi dan atas perintahnja Ratu Tadjul Alam Safiatuddinsjah dikarangnja kitab Meratul Thalat atau tjermin mahasiswa dan Kadhi-Kadhi Keradjaan tebalnja 517 hal 22 x 33. kitab ini tidak saja dipergunakan dalam negeri Atjeh tetapi sampai keluar jaitu Banjarmasin, Malajsia ke Pulau Ddjawa, Tidore, Batjan, Makassar (Bone) Maluku dan lain-lain. Aktifitas Ratu Tadjul Alam dan Sjech Abdul Rauf/Sjiah Kuala, menjiar dan memperkembangkan agama Islam di Nusantara/Indonesia. Menurut Agus Salim Harahap dalam bukunja Sedjarah Penjiaran Agama Islam di Asia Tenggara halaman 45-46 jang diambil sumbernja dari buku-buku Portugis dan Encyclopedia Van Ned Indie, bahwa seorang Gubernur Portugis jang bernama Don Ruis Parera jang sangat aktif memperkembangkan agama Kristen dalam daerah Maluku dan sekitarnja, meminta kepada Gubernur Jenderalnja jang berkedudukan di Goa (India) supaja dikirim kitab-kitab Propagandis (Mubaligh-mubaligh Kristen ke Maluku untuk memperlantjar madjunja agama Kristen/Katolik adn sudah 2 tahun lamanja ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Akan tetapi beberapa dari orang Maluku datang ke Atjeh meminta kepada Ratu dan Sjiah Kuala supaja dibantu mengirim beberapa orang mubaligh Islam dan kitab penjebarannja untuk melawan agama Kristen. Maka dalam beberapa bulan sadja utusan itu kembali ke tempatnja dengan diantar oleh beberapa kapal perang Atjeh jang membawa mubaligh-mubaligh serta kitab-kitab penjebaran agama Islam jaitu Qur’an, dan kitab-kitab Siratul Mustaqin, Babul Nikah karangan Sjech Nurdin ar Ranirj dan kitab Maratul Thalab jang dikarang oleh Sjech Abdul Rauf bil Ali/Sjiah Kuala.

Maka oleh karena Gubernur Portudi Don Ruis Parera merasa malu pada orang-oang di Maluku, maka ia minta berhenti dan pulang ke negerinja. Dan mubaligh-mubaligh Islam jang sudah sampai disana sehingga agama Islam berkembang madju dikeseluruh kepulauan di Indonesia Timur dan di masa itu disebut-sebut orang bahwa negeri Atjeh pusat perkembangan agama Islam di Nusantara/Indonesia dan dengan perkataan lain ”Atjeh Serambi Mekkah”.

II. NAMA-NAMA NEGERI DI DDJAMAN PURBAKALA DI ATJEH

Adapun negeri-negeri jang terletak di Sumatera Utara bahagian Atjeh, menurut buku W. P. Groeneveldt Historical Notes on Indonesia an Malaja halaman 30 dari sumber Tjina:

1.      LAMBRI, ini jang dimaksud adalah Lamuri di Atjeh Besar dekat Inderapatra  di kampung Lam Nga sekarang, terletak ke Selatan sedikit dari kuala Gigieng pada muara sungai Krueng Kole, jang disebut djuga namanja Kuta Podaniet. Disekitar kampung Kuta. Podaniet itu ada bekas-bekas kampung orang Arab dan pesantren tempat orang mengadji.

2.      Sumatera, jaitu tempat namanja Samudera di daerah pasai.

3.      Sjamtalira, jaitu perkampungan orang-orang Sjam (Damascus) djuga sampai sekarang masih bernama itu dalam negeri Baju.

4.      Pulu Putu, ini jang dimaksud oleh sebutan orang Tjina Paru Putu. Ini terletak di daerah Pidie disebut sebutan nama dua buah banda atau kuala jaitu: Kuala Paru atau Bandar Paru dan Kuala atau Bandar Putu. Letaknja antara kuala Njong Pantee Radja. Kepedalaman Bandar atau Kuala ini tanah daratan berbukit-bukit jang banjak ditanami lada atau meritja sehingga bandar atau kuala itu banjak disinggahi kapal-kapal asing di zaman dulu dan disekitar bandar itu ada terdapat nama kampung jang bernama Tanjung Keling, tempat tinggal orang Keling, Kerandji jang berasal dari kota Karatji jang didiami oleh orang India dan Pakistan, Kampung Musa menurut nama Nabi Musa, jang saja dengan musa ini ditinggali oleh orang-orang kampung Nabi Musa. Negeri ini ada jang diperintahi oleh keradjaan Islam, karena ada bekas istana (tjot istana), ada nama kampung djurong Radja berangkat atau Lorong Radja berangkat dan ada kampung jang bernama Peurade jaitu bekas tanah tinggi bekas Hindu mendirikan tjandi-tjandinja. Selain itu ada satu bukit jang dinamai Bukit Meurhom.

Diatas bukit itu kami periksa terdapat tiga buah pusara atau makam atau batu nisan jaitu :

1.      Nisan Sultan Sjamsu Alam bin Sultan Muhammad Lamuri tetapi tidak terdapat tanggal mangkatnja. Hanja saja kita keradjaan ini ada hubungannja dengan keradjaan Lamuri di Atjeh Besar jang terdapat dalam kitab Bustanus Salatin Karangan Sjech Muhammad Nurdin Ar Lamiri dan masanja dapat ditaksir dalam abad ke 13 dan 15 M. Sama djuga dengan masa berdirinja keradjaan Islam di Djawa oleh Maulana Malik Ibrahim.

2.      Nisan Ulama Sjam Sdjarief ini menurut orang tua Tgk. Njak Akob (umur lebih kurang 100 tahun) adalah murid dari Malik Ibrahim. Dimana Sjam Sdjarief ini pernah ikut mengantar ke Djawa Timur. Kemudian ia disuruh pulang kembali mendjadi Kadhi Radja di Pante Radja.

3.      Makam Siti Aminah binti Sjam Sdjarief, isteri dari Sultan Sjamsul Alam.

Seterusnja disebut nama Palala atau Parara, ini jang dimaksud tidak lain dari pada nama negeri Peureulak jang tersebut dalam buku The Travel of Marco Polo, Perlac, Basima, Samara (Samudra).

Di dalam buku itu (halaman 274-2814) tersebut pula keradjaan Islam di Perlak dan Samara (Samudra Pasai).

Nama-nama negeri : 1. Dagaraein/Nager dan Litaj, kalau Dagorein ini disamakan dengan Dagor jang disebut oleh Kolonel Veltman bekas civiel Geraghebbe di Sigli dulu, maka negeri Nagor itu saja rasa terletak dalam daerah komplek Mesjid Radja Pidie atau satu kampung jang bernama Nagor. Mungkin kedudukan radja Pidie itu kedudukannja di desa Nagorm sebab itu disebut saja nama samarannja Radja Nogo, jang mungkin pula radja ini adalah ajah dari Sultan Ma’rufsjah.

Sultan Ma’rufsjah inilah jang berperang dengan radja Lamuri (Atjeh Besar) dan Sultan Ma’rufsjah ini ada hubungan dengan keradjaan Haru, karena ibunda puteri radja Haru, sebab itulah ditolak oleh radja Atjeh Radja mendjadi iparnja. Dan lagi negeri jang disebut Litaj, jaitu Batee, letaknja Nagor dan Batee (Litaj dekat sekali jaitu berdekatan pula dengan  kampung Poli kira-kira 3 atau 4 km saja djauhnja menudju ke pantai Laut (Kuala Genting).

Supaja lebih djelas lagi baik rasanja saja ungkapkan lagi bahwa jang disebut Atjeh sekarang sesudah dirobohkan keradjaan Hindu Poli, Indrapuri, Indrapatra dan Indrapurwa ada terdapat beberapa keradjaan Islam jaitu :

1.      Keradjaan Perlak (Peureulak)

2.      Keradjaan Pasai (Samudra)

3.      Keradjaan Jeumpa (Dekat Bireun)

4.      Keradjaan Pante Radja.

5.      Keradjaan Pidie (Nagor)

6.      Keradjaan Lamuri

7.      Keradjaan Darul Kamal dan

8.      Keradjaan Daja (Barat)

KOTA-KOTA KERADJAAN HINDU DI DJAMAN PURBAKALA

  1. Kota keradjaan Poli di Pidie (tahun 413 M), ibu negerinja Pugli (tahun 84).
  2. Kota keradjaan Sahe (Sanghela) jang datang dari pulau Ceylon di Ulee Glee Meureudu.
  3. Kota keradjaan di Indrapuri.
  4. Kota keradjaan Indrapatra di Ladong.
  5. Kota keradjaan Indrapurwa di dekat Lam Pageue/Kuala Pantjur.

Semua kota-kota ini sesudah datang Islam dirobohkan dan patung-patungnja dihantjurkan dan bekas-bekasnja masih dapat diperiksa. Di Ulee Glee dan Paja Tui di daerah Meureudu masih ada tinggal masing-masing sebuah patung jang terletak tertanam dalam tanah dan rawa-rawa.

III. ISLAM MASUK KE NEGERI PERLAC (PEUREULAK)

Adapun Peureulak asal namanja dari pohon kaju jang bernama Perlah; jaitu sedjenis kaju jang keras untuk dibuat perahu atau kapal; karena papannja kuat menahan air.

Menurut hikajat negeri Peureulak, pohon Perlak itu letaknja dihulu sungai Peureulak, dipersimpangan Kuala Peunaron dengan sungai Jernel/Gajo Luas Serbadjadi. Utom pangkal bekas pohon kaju jang disuruh potong oleh puteri radja Peureulak Nurul Ala untuk dibuat bahteranja, telah saja kunjungi pada tahun 1925-1930 tatkala saja mendjadi leveransir Imeb (Ingseor Eigen Beheer) sebagai kontraktor pembuat djalan radja antara Kedai Peureulak di Djambo Batang jang kira-kira 60 Km. Pandjang dari Peureulak ke Simpang Peunaron dan di Lubuk Bajak. Disamping itu pula saja dirikan kedai tempat orang-orang mengambil ransom. Adapun negeri Peureulak ini, adalah sebuah negeri jang tertua seperti negeri Haru/Aru, Bintang, dan Sriwijaja. Djadi sebelum ada Tumasik/Singapura, Malaka dan Pasai, telah ada negeri Peureulak. Maka sudah tentulah di zaman purbakala negeri Peureulak telah dikenal oleh bangsa-bangsa India, Persia dan Palestina, Burma dan negeri Tjina.

Karena saudagar-saudagar dari negeri tersebut di atas tadi datang kesitu membeli dan menjual barang dagangannja, minjak tanah djernang, bunga ratan dan kaju papan perahu, sumbu badak, rotan, air madu, kapur barus (kamper), kemenjan dan sebagainja, baik dari hasil bumi sendiri atau jang dibawa orang dari daerah Nusantara (Indonesia dan Malaja). Djadi bandar Peureulak ini adalah satu pasar dagang jang ramai di masa itu. Pekannja bernama Bandar Khalifah (bahasa Persi), jang letaknja lebih kurang 4 km dari kedai Peureulak sekarang. Di tempat pekan sekarang masih merupakan tepi laut jang dalam dan kampung ini sampai sekarang bernama Lhok Dalam artinja teluk jang dalam. Disekitar Teluk dalam kehilirnja ada nama kampung Pasir Putih (Tepi Laut) dan kampung Blang Betera, artinja tempat berhimpun Bahtera/kapal atau perahu-perahu. Disekitar Bandar Chalifah terdapat kolonisasi orang Persia, Afghanistan, Arab dan Afrika. Orang Afghanistan tinggal di kampung Kabu sekarang jang asalnja dari kota Kabul. Diseberang sungai Bandar Chalifah kolonisasi Arab jang mendjadi tempat tinggal orang-orang Arab dari Said-Said dan orang Persia Mohrat atau Meroh, istilah bahasa Persia itu adalah Merah = titel Radja-radja. Kampung ini sekarang bernama Paja Unoe, artinja banjak terdapat orang-orang memelihara lebah dan ke atas Bandar Chalifah lebih kurang 4 km lagi ke hulu sungai terdapat kolonisasi orang Afrika jang bernama kampung Seumali (ditempat Emplasemen KPM/Tambang Minjak), jang bernama Seumanah dan Meusee, artinja berasal dari kata Mesir. Saja mengetahui kampung-kampung ini karena sedjak tahun 1921-1925 sebagai pegawai pertanian dan Departemen Landbaw dari pusat (Bogor) untuk meluaskan persawahan rakjat, jang berasal dari bekas-bekas kebun lada jang telah mati dan memperkembangkan tanaman buah-buahan tjangkokan dan okulasi, Ramoutan sawomanila dan jeruk bali, disamping mendjadi Berherder (pemimpin) tiga kebun pentjontohan (pertjobaan) jang letaknja di Langsa, Alue Lhok dan Idi.

Sementara saja mendjalankan dinas, senantiasa saja dengan orang-orang tua jang mengenal sedjarah negeri Perlak dan membatja buku sedjarah jang saja pinjam dari perpustakaan di kantor Kontroleur di Idi; jang banjak disediakan buku-buku sedjarah lama dan atas bantuan sahabat saja Teungku Muhammad Hadji sebagai Klerk pada kantor kontroleur itu. Hasil dari wawantjara dan membatja buku-buku itu kelak menambah bahan sedjarah jang saja kumpulkan dari Pidie dan Atjeh Besar (Kuta Radja).

Dalam tahun 1926, saja minta berhenti dari pegawai Departemen Landbow, membuka perusahaan sendiri Atjehscn Production Handels, jang mendapat koneksi dengan Medan dan Pulau Penang. Ke Penang di eksport rotan, tali ijok, lilin, lebah, daun nilam, djernang dan sumbu badak, dan dengan Medan mengirim rotan benang, dan nipah untuk perkebunan tembaga dan hevea via agen kami dari Firma Hook Sing Lie, Seng Huat, Mohdhlin dan Mat Sjech.

Sementara saja berniaga kontan dengan orang-orang Gajo jang berlangganan rotan dengan saja dan selalu berwawantjara mengenai sedjarah, keadaan ekonomi dan penghidupan mereka di tanah pedalaman itu. Oleh sebab itu banjak sedikit mendjadi bahan studi saja.

Mengenai masuknja Islam ke Peureulak pernah saja batja dalam satu buku karangan Damste dalam buku Land en Vol kenkunde dalam dalam djudul Het Volk Van Atjeh jang intinja bahwa dalam tahun 717 Masehi atau lebih kurang 95 H. Orang-orang Hindu Mahadjana sangat sibuk mendirikan tjandi-tjandi di Pulau Djawa. Maka tatkala itu pula di Peureulak/Atjeh telah banjak orang Arab dari Sjria (Palestina) sebagai muballigh Islam jang sangat giat sekali mengadakan dakwah untuk mengembangkan agama Islam. Maka hal ini saja pertautkan dengan kedatangan musafir Persia jang bernama Zahid jang datang pertama kali ke Peureulak Atjeh dalam tahun 82 H atau 704 M. Dan datangnja jang kedua kali pada tahun 717 M atau lebih kurang 95 H. Hal ini ada tersebut dalam kitab Hadirul Al Alam  al Islami halaman 336, karangan Sjekib Arselan. (batja Tarickh Atjeh dan Nusantara ps. 4 hal. 40 jang saja perkuatkan dengan nota sdr. Prof. Dr. Abubakar Atjeh dalam Sedjarah Masuknja Islam ke Indonesia hal. 96-127).

Maka untuk memperkuat keterangan di atas Prof. Dr. J. Paulus dalam Encyclopedi van Ned. Indie halaman 73, banjak datang ke Atjeh/Peureulak saudagar-saudagar Arab (saracceen merehant) menggiatkan perkembangan agama Islam dimana dalam masa itu belum dibangun keradjaan Pasai, tetapi Peureulak, Poli dan Atjeh Besar sudah tentu ada keradjaannja, walaupun masih dalam kekuasaan keradjaan Hindu, Indrapurwa (kota termuka), Indraparta (kota pertahanan), Indrapuri (kota istana ratu) dan Poli (Pidie). Lihat tarich Atjeh dan Nusantara ps. VII hal. 84 dab Encyclopedi Paulus hal. 72.

Maka dengan uraian saja jang di atas ini, mudah-mudahan dalam mejakinkan kita bahwa agama Islam masuk ke Atjeh pertama kali ialah Peureulak, bahagian Atjeh Timur pada tahun 82 H atau 704 M atau tahun 95 H atau 717 M dan pada tahun 161 H atau 778 M.

Selain itu saja perkuatkan lagi dengan berdirinja Sulthanat Peureulak pada tahun 470 H atau 1078 M dan Sultan Peureulak I tahun 520-544 H. Bersamaan dengan 1161-1186 M. (batja Tarich Atjeh dan Nusantara).

PERIODE I ATJEH BESAR

Lamuri, menurut buku A. Salim Harahap; bersinarnja agama Islam di Indonesia, Colombo (cylon) 15 Maret 1936, terdjemahan dari buku The Preaching of Islam of the Propagation of the Muslim faich, by T. W. Arnold M.A.C.I.E. Prof of Arabie Euniversity of London.

Maka dalam buku tersebut diuraikan tentang masuknja Islam ke Sumatera/Nusantara pada halaman 8 diterangkan Muballigh Islam jang datang ke Atjeh bernama Abdullah Arif pada pertengahan abad II, pada notanja disebutkan sumbernja diambil dari buku De Hollander I muka 581 dan Veth I muka 60.

Mengenai riwajat Abdullah Arif ini pandjang lebar telah saja uraikan dalam buku saja; Tarich Atjeh dan Nusantara didjilid I fasal IV purbakala halaman 50 dan epigraphie diatas tadi pun, telah saja sebutkan bahwa di Lam Ili dekat Indrapuri, jang dizaman dahulu termasuk dalam daerah keradjaan Lamuri, dimana dalam komplek djerat Keling jang disebut oleh penduduk Lam Ili, disitulah pusaranja/nisan Abdullah Arif, pertinggalannja tidak ada lagi, tetapi dalam nota Ketua Panitia Seminar Sedjarah Masuknja Islam ke Indonesia saudara H. Muhammad Saidd halaman 191 dan nota saudara Abdullah bin Nuh utusan dari Lembaga Pendidikan Islam halaman, 143, diterangkan bahwa tahun mengkatnja Abdullah Arif jaitu 177 Masehi dan tahun itu saja persamakan dengan tahun Arab mendjadi 573 H. Djadi dengan fakta ini dapat dikatakan/diketahui, sesudah pada periode I Islam masuk di Peureulak.

Periode II. Pada ke II masuknja Islam di Lamuri ditandai dengan adanja makam Abdullah Arif di kampung Lam Ili jang mangkat dalam tahun 573 H atau 1177 M.

Periode III. Setelah periode ke II Lamuri maka sekarang saja ungkapkan periode ke III jaitu daerah kampung Pande, kemudian pindah ke kampung Darul Kamal (Darul Kameun) di kampung Pande ini (saja berpendapat kampung Pande ini dulu bernama Al Ramni) pun banjak terdapat batu-batu nisan, tapi rupanja tidak seindah nisan di Indrapuri dan Pasai (Samudra), hanja menjerupai batu jang bertulisan kalimat sadja. Seperti nisan jang terdapat pada nisan radja Plak Pieng di Lam Bhuk. Diantara batu-batu nisan jang dipudja orang terdapat nisan Teungku di Kandang. Nisan ini menurut keterangan penduduk disitu adalah makam Sultan Johansjah jang dinobatkan pada 1 Ramadhan 601 H atau 1025 M dan mangkatnja pada 1 Radjab 633H atau 1235 M. (Lihat indek dalam buku saja Tarich Atjeh dan Nusantara I haaman 19. dan perhatikan pula lampiran jang berikut epigraphi ini.

Kedudukan keradjaan kampung Pande/Al Ramni ini dalam masa Sultan ke IV jaitu Firmansjah dalam tahun 708 H atau 1308 M dipindahkan ke Darul Kamal dan disana dibangun satu pekan jang dinamai pekan Dara Baru. Bekas pekan ini sampai sekarang masih ada jang telah mendjadi persawahan rakjat, dan tidak berapa djauh letaknja makah Meurah-Meurah; atau komplek makam Sulthan Inajatsjah (radja Madrat). Nisan-nisan disini menjerupai ukiran di Pasai. Dapat saja tambah lagi dalam daerah keradjaan Darul Kamal ini, hanja terdapat kolonisasi (perkampungan ) orang-orang asing seperti Nej, jaitu tempat duduk orang Arab jang berasal dari Ned. Surien (perkampungan orang Syria).

Emperium (kampung orang Rum dan Turki) dan Lam Keu Neu Eun (Kampung orang Kenaan/Palestina). Di Lam Keu Neu Eun ada satu makam jang dizaman dulu dipudja-pudja oleh orang-orang jang berkebun lada, baik di Atjeh Besar, di Pidie, Sampai ke Atjeh Timur, tiap tahun melepaskan nazar kesitu. Karena Teungku Lam Keu Neu Eun jang membawa bibit lada dari Madagaskar (menurut isi buku Prof. J. H. Heyl ahli pertanian Belanda De Pe Percultuur in Atjeh. Pada Abad VII/VIII sudah ada orang jang bertanam lada di Atjeh. (batja tarich Atjeh dan Nusantara ps. 20 halaman 263-266).

Dengan keterangan-keterangan saja di atas ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa di Atjeh Besar ada dua keradjaan Islam jang tertua jaitu Lamuri dan Al Ramni (kampung Pande) jang kemudian mendjadi Darul Kamal (Darul Kameu) di Ulee Lueng.

Keadaan masuknja Islam dapatlah kita tuliskan sebagai berikut :

    1. Lamuri pada tahun 573 H atau 117 M.
    2. Darul Kamal pada tahun 601 H atau tahun 1205 (kampung Pande).

Djadi sebelum Pasai , Atjeh Besar Lamuri dan Darul Kamal, telah lebih dulu masuk Islam atau sesudah Peureulak. Atjeh Besarlah lebih dulu masuk Islam.

Periode IV. Pada periode ini saja menganalisa masuknja Islam di Pasai atau Samudra. Saja tidak sependapat dengan apa jang dipaparkan dalam sedjarah Melaju jang dikarang oleh G. W. Shellebear dan Abdullah Munshi, bahwa Islam pertama masuk di Pasai dan Sultan pertama adalah Sultan Malikus Saleh, jang dinobatkan pada tahun 668 H atau 1206 M. Dan ada djuga pendapat sardjana lain pada tahun 678 H atau 1270 M.

Karena inkripsi/nisan-nisan jang terdapat di Pasai, bahwa Sultan Malikus Saleh mangkat pada tahun 690 H atau 1297 M. (Lihat Tarich Atjeh dan Nusantara I hal. 51). Djuga disekitar Pasai ini ada inskripsi atau nisan jang lebih tua dari nisan Sultan Malikus Saleh jaitu :

1.      Malik Al Kamil, jang mangkat 607 H atau 1210 M (Lihat saja masuknja Islam ke Indonesia, hal. 103.

2.      Nisan Al Malik Abdul Rahman, jang mangkat pada hari Rabu tahun 610 H atau 1213 M.

3.      Nisan Naena Hisanuddin jang mangkat pada bulan Sjawal 622 H atau 1225 M. (lihat Tarich Atjeh dan Nusantara ps. IV hal. 55).

4.      Nisan Jakub, seorang Panglima Perang, jang mangkat pada tahun 630 H atau 1232 M (lihat tarich Atjeh dan Nusantarea ps. IV hal. 53).

Djadi dari uraian di atas dapatlah kita ketahui bahwa masuknja Islam dalam negara Atjeh Darussalam adalah sebagai berikut :

I.             Di Perlac (Peureulak) pada tahun 82 H atau 704 M atau 717 M atau 95 H atau 161 H atau 778 M.

II.          Di Lamuri (Atjeh Besar) pada tahun 573 H atau 1177 M.

III.       Kampung Pande (Al Ramni) pada tahun 601 H atau 1205 M.

IV.       Di Pasai (Samudra) pada tahun 607 H atau 1210 M.
PENUTUP

Oleh karena itu seandainja bila kita hendak membuat perbandigan tentang masuknja Islam ke Asia Tenggara atau Timur Djauh adalah sebagai berikut :

I.             Canton (negeri Tjina) pada tahun 30 H atau 551 M, jang dipelopori oleh Saad bin Abi Waqqas, dalam masa pemerintahan dinasti Tang.

II.          Malabar (India Selatan pada abad VII tahun 63 H atau 684 M, jang dipelopori oleh Saidina Angkasah, seorang bekas sahabat Nabi Muhammad Saw. Dan bekas panglima perang jang menaklukkan negeri Persi, dalam masa Chalifah Maawijah bin abi Sofjan.

III.       Peureulak/Atjeh Darussalam, dalam abad I Islam dan permulaan abad VIII M tahun 82 atau 95 H atau 704 M atau 717 M jang dipelopori oleh Zaid dan saudagar-saudagar Syria (Palestina)

IV.       Lam Ili/Lamuri Atjeh Besar pada abad ke VI H atau ke 12 Masehi jang dipelopori oleh Abdullah Arif, tahun 523 H atau 1177 M.

V.          Samudra/Pasai dalam tahun 607 H atau 1210 M. Jang menurut nisan Malik Al Kamil dan Malik Abdul Rahman tahun 610 H atau 1213 M.

Demikian hasil study/penjelidikan saja jang dapat saja sumbangkan pada seminar ini, dengan harapan mudah-mudahan Seminar jang kita adakan dapat memberikan suatu putusan, guna dapat diketahui umum.

Lampiran

INDEK SULTHANAT ATJEH BESAR

(Radja-radja di Kandang)

No Nama dan Gelar Dinobatkan Tahun Mangkat atau dipetjat Tahun Peringatan
H M H M
1.2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

Sulthan Johan SjahAhmad Sulthan Da’jat Sjah

Sulthan Mahmud Sjah

Sulthan Firman Sjah

Sultan Mansjur Sjah

Mahmud Sulthan (2) Aladin Djohan Sjah

Sulthan Hussain Sjah

Sulthan Ali Mughajat Sjah

Sulthan Salahuddin

Sulthan Alladdin Al

Sultan Muslim Al-Ikhlas

1 Ramadhan1 Ra’jab

4 Sja’ban

12 Rabi’ul awal

-

10 Sja’ban

12 Sja’ban

1 Ra’jab

12 Ra’jab

4 Zulkaidah

601633

665

708

755

811

870

885

917

946

12051235

1267

1308

1345

1408

1465

1497

1511

1839

1 Ra’jab4 Sja’ban

12 Rabi’ul Awal

-

10 Sja’ban

12 Sja’ban

1 Ra’jab

12 Ra’jab

4 Zulkaidah

5 Safar

633665

708

755

811

870

885

917

946

975

12351267

1308

1345

1408

1465

1497

1530

1539

1557

Umum I tahun dipangku oleh orang lain mungkin (ibunja sampai dewasa. Mendirikan Pekan Baru jang bernama Peukan Dara Baro. Letaknja di Ulee Loeeng Daroi/dekan Mata Ie.

Saja rasa batu nisannja jang telah patah namanja masih dapat dibatja tetapi tanggalnja telah rusak.

Dipetjat

H   = Tahun Hijrah

M   = Tahun Masehi

(2) = Mungkin ini Sulthan Inajatsjah

(3)  = Mungkin jang bergelar Sulthan Musafarsjah

PANITIA PUSAT

PEKAN KEBUDAJAAN ATJEH KE-II

(The 2nd. Atjeh Festival)

HARI DEPAN KEBUDAJAAN ATJEH

O

L

E

H

DRS. S. M. IDRUS

PRASARAN

PADA SEMINAR KEBUDAJAAN

DALAM RANGKA PKA-II DAN DIES

NATALIS UNIVERSITAS SJIAH KUALA KE-XI

21 S/D 25 Agustus, tahun 1972.

D

I

BANDA ATJEH

HARI DEPAN KEBUDAJAAN ATJEH

Oleh : Drs. S. M. Idrus

I. PENDAHULUAN

Kepada kami oleh Panitia Pekan Kebudajaan Atjeh ke-II, diminta untuk memberi prasaran dalam seminar Pekan Kebudajaan Atjeh dengan topic ”Hari Depan Kebudajaan Atjeh”. Permintaan mana adalah sebuah kehormatan jang di berikan kepada kami, dan bagi kami sendiri sukar pula untuk tidak menerimanja. Kami menduga permintaan tersebut lebih banjak didasarkan kepada fungsi kami sehari-hari sebagai Kepala Perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudajaan djuga. Mengurus djuga sol-soal kebudajaan disamping soal Pendidikan, dari pada keahlian kami sendiri dalam bidang kebudajaan tersebut.

Di dalam daftar susunan para pemrasaran dengan topic jang sama jaitu ”Hari Depan Kebudajaan Atjeh” tertjantum pula dua tokoh jang terkenal dalam bidang kebudajaan dan agama, Pertama sdr. Dr. Umar Kajam seorang tokoh jang sudah tjukup kita kenal keahliannja dalam kebudajaan. Kedua, Sdr. Prof. H. Abubakar Atjeh, seorang putera Atjeh jang berpengalaman dalam bidang agama dan kebudajaan, tertutama kebudajaan Atjeh. Djasa beliau dilapangan ini tidak perlu kami uraikan lagi disini.

Meskipun topic jang diserahkan kepada kami bertiga adalah sama, tapi kami tidak tahu dengan pasti apa-apa kiranja jang mendjadi objek pembahasan sdr. Umar Kajam dan Prof. H. Abubakar Atjeh kami bertiga tidak pula mempunjai kesempatan bertukar pendapat sebelum masing-masing kami menjusun prasaran-prasaran. Menurut estimate kami sdr. Dr. Umar Khajam sebagai seorang ahli akan membahas masalah-masalah kebudajaan lebih luas dan Prof. H. Abubakar Atjeh tentu akan membahas masalah-masalah kebudajaan Atjeh lebih dalam dan mendetail.

Berdasarkan estimate di atas maka kami mengambil masalah praktis dalam kebudajaan dimana buah pikiran dilapangan ini memang dihajati sangat oleh masjarakat sebagai kebutuhan jang mendesak. Lagi pula akan lebih sesuai dengan kegiatan-kegiatan kami sehari-hari sebagai fungsionil pemerintah jang diberi tugas mengurus soal-soal kebudajaan. Oleh karena itu berdjudul prasaran kami ini kami beri nama : ”Peranan Kebudajaan Nasional”.

Masalah mengembangkan kebudajaan adalah masalah jang paling erat sekali hubungannja dengan soal-soal masa depan suatu kebudajaan. Sebab apa jang sudah terbina pada masa jang lampau (sedjarah) dan usaha apa jang dapat dikembangkan pada masa kini akan sangat menentukan tjorak wajah hari depan. Masalah pengembangan kebudajaan Atjeh oh khususnja dan pengembangan kebudajaan nasiolan (umumnja, adalah masalah hari ini, tetapi akan mempunjai pengaruh besar pada hari depan kebudajaan Atjeh dan kebudajaan Nasional).

Lagi pula dalam usaha membina ketahanan dalam bidang kebudajaan dikalangan rakjat, sehingga mampu menghindari diri dari pengaruh-pengaruh dan unsur kebudajaan jang merusak keperibadian kita sendiri, maka masalah pengembangan kebudajaan daerah dan nasional adalah masalah jang penting jang harus kita petjahkan. Tentu sadja dalam usaha pengembangan tersebut dibutuhkan sebuah program dengan tudjuan-tudjuan jang djelas. Oleh karena itulah dalam prasaran kami ini jang perlu mendapat perhatian kita jang khusus untuk dikembangkan terus sebagai sumbangan jang berharga sebagai pengembangan kebudajaan nasional. Tapi dengan demikian prasaran ini dapat mengakibatkan mendjadi sangat luas dan akan mendjadi tidak effisien dalam suatu pembahasan jang bermaksud untuk menemui pandangan-pandangan jang tepat dan praktis. Kami sendiri djuga berpedoman kepada suatu pendirian bahwa makin sempit scope jang dibahas, makin besar kemungkinan menentukan perumusan-perumusan jang lebih baik dan konkrit.

II. BEBERAPA PENGERTIAN KEBUDAJAAN :

Prasaran ini tidak merupakan kupasan apakah kebudajaan itu. Kami tidak bermaksud memberi definisi demi definisi tentang arti kebudajaan atau menstir karang-karangan para ahli dari luar dan dalam negeri. Sebab hal itu akan mendjadi tak berkeputusan. Karena telah banjak memusatkan pikiran pada definisi demi definisi. Maka kita sering hanja menghasilkan pembatjaan-pembatjaan buah pikiran sardjana saja, sedangkan soal praktis jang mungkin dapat kita pikirkan untuk kita laksanakan tidak terpetjahkan, dengan begitu pengetahuan dan usaha-usaha mendjadi steril. Sedangkan jang penting ia berpikir tentang masalah-masalah baru jang ada dalam masjarakat kita dewasa ini. Djadi kalau kami disini menjinggung djuga tentang pengertian kebudajaan, itu hanja sekedar untuk memudahkan uraian-uraian selandjutnja. Sedangkan pengertian jang kami pilih terutama pengertian jang sifatnja umum dan populer.

Menurut perkataannja maka kebudajaan itu berarti ”buah budi” manusia dan karenanja, baik jang bersifar lahir maupun batin, telah mengandung sifat keluhuran, ethis dan aes thetis, jang ada pada hidup manusia pada umumnja.

Menurut timbulnja atau terdjadinja maka kebudajaan adalah hasil perdjuangan manusia terhadap segala pengaruh zaman atau masjarakatnja, jang kedua-duanja alam dan zaman tersebut menjebabkan terus menerus berganti segala bentuk dan isi kebudajaan di dalam hidupnja tiap-tiap bangsa.

Hendaknja harus dibedakan pengertian kebudajaan (culture) dan peradaban (civilisasi) kesanggupan materiel merupakan tanda-tanda hidup peradaban dan kesanggupan materiel serta spiritual mewudjudkan kebudajaan. Berhubung dengan kesamaan alam dan zaman kodrat dan masjarakat, suasana dan sedjarah, hidup dan penghidupan dan lain-lain keadaan, maka rakjat disuatu negeri selalu merupakan suatu kelompok jang mempunjai satu kebudajaan, asal saja kebebasan dan kemerdekaan senantiasa dimilikinja. Kesatuan kebudajaan berarti kesamaan sifat dan bentuknja jang pokok adlam hidup dan penghidupan rakjat seluruh negeri dan sekali-kali tidak mengharuskan adanja kesamaan dalam segala isi dan tjara dalam bahagian-bahagian dari segala aspek penghidupan. Biasa disamping kesamaan alam dan periode jang pokok masih ada perbedaan di daerah-daerah jang sangat dipengaruhi  beberapa aspek penghidupan.

Disinilah ragaman kebudajaan jang disebut kebudajaan daerah kita djumpai di Indonesia. Meskipun terdapat kesamaan terutama faktor jang kita sebutkan diatas, tapi berhubungan dengan perkembangan sedjarahnja maka telah pula lahir perbedaan-perbedaan. Sesudah Indonesia merdeka maka terbinalah satu kesatuan politik jang memungkinkan terbinanja satu kesatuan kebudajaan jang baru jang dinamakan kebudajaan nasional.

Perbedaan keadaan di daerah-daerah tadi makin lama makin akan berkurang, apabila hubungan antara daerah-daerah tersebut, baik jang bersifat lahir maupun batin (semangat) semakin dipermudah. Dengan bagitu kemadjuan daerah kesatuan jang dinamakan kebudajaan nasional dalam zaman jang serba modern akan terdjadi dengan sendirinja dan dapat dipertjepat dengan sengaja.

Di dalam upaja mempertjepat atau mempermudah proses kemadjuan itu hendaknja dipertimbangkan hukum evaluasi djuga. Antara lain bahwa benih-benih kebudajaan jang kuat dan sehatlah jang akan menang. Atjeh dalam proses pembentukan dan pembinaan kebudajaan Nasional sangast tergantung pada hukum evaluasi tersebut.

III. HUBUNGAN KEBUDAJAAN ATJEH DAN KEBUDAJAAN NASIONAL

Apakah sebenarnja kebudajaan Atjeh itu?. Disini kami tidak bermaksud akan merumuskan dan mendjeladjah terlalu luas tentang soal-soal tersebut di atas. Hal ini biarlah dilakukan oleh teman-teman lain jang turut memberikan prasaran dalam seminar ini. Kebudajaan Atjeh adalah salah satu kebudajaan daerah dimana pendukungnja adalah rakjat Atjeh, jang merupakan sebahagian rakjat Indonesia. Identitas jang njata tentang kebudajaan Atjeh adalah pengaruh Islam jang sangat besar dalam seluruh aspek kebudajaan. Meskipun sisa-sisa animisme/dinamisme, Hiduisme dan Budhisme masih dapat kita temui di dalamnja, tapi sudah sangat kemah dan tidak berarti lagi. Imperialisme Barat dan modernisasi dimana dominasi kebudajaan Barat tampak dengan djelas di dalamnja mempengaruhi djuga kebudajaan Atjeh, tetapi identitas Islamnja tampaknja tidak terdesak dan selalu terpelihara.

Karena letak geografis Atjeh di tepi lalu lintas internasional, maka rakjat Atjeh sudah terbiasa dan mampu menampung segala pengaruh-pengaruh jang datang dari luar, tanpa terdjadi kegontjangan-kegontjangan jang dapat menghilangkan identitas kebudajaan seperti itu. Semuanja djelas dapat kita lihat dalam sedjarah Atjeh sendiri.

Sesudah proklamasi kemerdekaan maka rakjat Atjeh berintegrasi dalam suatu wadah kesatuan bangsa jaitu Republik Indonesia. Sebenarnja sebelum datang imperialisme Barat ke wilajah kepulauan Indonesia dilihat dari sudur kulturil kita mempunjai kesatuan. Perbedaan-perbedaan jang terdjadi antara berbagai-bagai daerah karena letak geografis Indonesia, tidak menjebabkan terdjadinja perbedaan kebudajaan antara berbagai daerah itu dalam bentuk dan sifar pokok. Perbedaan hanja terletak dalam isi dan tjara sadja. Integrasi berbabagi kebudajaan ke dalam suatu bentuk, sifat, isi dan tjara jang sama untuk seluruh wilajah Indonesia kita akui agak terlambat selama masa penindasan imperialisme Barat dengan memakai tjara-tjara jang disebut divide et empera, tapi pertukaran-pertukaran bahan-bahan kebudajaan dengan sipendjadjah tidak sampai dapat merupakan assosiasi. Kemerdekaan negeri kita memberi kesempatan berlangsungnja suatu proses pembentukan suatu kesatuan kebudajaan jang dinamakan kebudajaan nasional Indonesia. Proses itu harus kita pertjepat dan permudah.

Di dalam pendjelasan UUD 1945 bab XIII pasal 32 dengan djelas mengatakan bahwa kebudajaan nasional itu tidak lain dari segala puntjak-puntjak dari sari-sari kebudajaan di daerah-daerah jang bernilai, baik jang lama maupun jang tjiptaan baru, jang berdjiwa nasional. Djadi kedudukan kebudajaan daerah djelas sebagai unsur pembentukan dan pembinaan kebudajaan nasional. Seberapa besar sumbangan kebudajaan daerah dalam proses pembentukan kabudajaan nasional, hal ini tentu tidak terlepas dari hukum evolusi, baik benih-benih kebudajaan jang hidup, sehat dan kuatlah jang akan membawa peranan penting. Kalau kebudajaan Atjeh ingin memberi sumbangan jang sebesar-besarnja dalam proses ini tidak ada djalan lain selain dari melakukan suatu usaha dengan sangaja agar benih-benih kebudajaan Atjeh tetap hidup sehat dan kuat.

Kita tahu bahwa proses pembentukan kebudajaan suatu bangsa akan memakan waktu ratusan tahun, sedangkan kita dalam membina kebudajaan Indonesia baru dimulai sedjak 17 Agustus 1945. Dapatlah dimengerti bahwa sekarang ini kita masih dalam taraf jang awal sekali. Kita menjadari pula bahwa kebudajaan suatu daerah atau bangsa tidak terlepas dari saling pengaruh mempengaruhi antara berbagai kelompok kebudajaan daerah dan kebudajaan bangsa lain.

IV. KEADAAN SEKARANG DAN MASALAH-MASALAHNJA.

Menurut pendapat kami berdasarkan hasil-hasil penelitian jang dilakukan maka di daerah kita dirasakan bahwa apresiasi dan rasa tjinta terhadap nilai-nilai seni budaja daerah masih kuat di kalangan masjarakat, tetapi sudah mulai ada tendensi menurun dikalangan generasi muda. Hal ini pada masa jang akan datang melemahkan ketahanan kebudajaan serta melemahkan identitas daerah kita.

Kurangnja daja, sarana dan dana dalam melindungi, menjelamatkan serta memelihara segala warisan kebudajaan rakjat Atjeh jang sedang terantjam oleh pengaliran benda-benda purbakala setjara tidak sah ke luar negeri, pentjurian dan pengrusakan jang tidak bertanggung djawab, serta hantjurnja nilai-nilai budaja oleh waktu, penjakit dan lain-lain. Momentum ordenansi tahun 1931 No. 238 jang diperkuat oleh intruksi Menteri Dalam Negeri No. Pem.65/1/7/tgl. 5 Februari 1960 nampaknja tidak dilaksanakan sungguh-sungguh di daerah ini. Hal ini terbukti dalam kegiatan-kegiatan pemerintah dan lembaga-lembaga jang turut bertanggung djawab. Kalaupun ada kegiatan sewaktu-waktu dilapangan ini umumnja setjara insidentil dan tidak continue. Koordinasi berbagai lembaga jang bekerdja di lapangan ini djuga sangat buruk. Masing-masing bekerdja sendiri-sendiri dan tidak sesuai dengan peraturan jang ada. Kalau keadaan ini terus berlangsung maka daerah ini pada suatu saat mendjadi daerah jang miskin dari harta budaja dan generasi masa jang akan datang akan kehilangan kebanggan warisan masa lampau.

Kurangnja prasarana-prasarana, sarana dan fasilitas jang diperlukan di bidang pendidikan kesenian dalam usaha pembinaan kelangsungan kebudajaan Atjeh. Disamping itu kurangnja pengertian tentang pendidikan kesenian, Tenaga Pendidik, buku-buku penuntun pengadjaran kesenian serta minat seni masjarakat.

Keadaan Permuseuman di Atjeh belum menggembirakan, belum memenuhi sjarat sebagai museum jang berfungsi sebagai media pendidikan, tempat studi ilmiah, tempat penikmatan dan tumbuhnja ilham/aspirasi seni, disamping buruknja pemeliharaan barang koleksi jang tiada ternilai harganja. Sebelum Perang Dunia ke II Atjeh memiliki dua buah Museum jaitu Atjeh Legere dan Atjeh Museum. Jang tinggal sekarang hanja Atjeh Museum (Rumoh Atjeh) jang sebahagian koleksinja jang sangat berharga sudah banjak jang terbang ke luar negeri dan tempat-tempat lain. Keadaannja sekarang tak lebih dari gudang barang antik jang terawat rapi dengan beberapa staf juru kuntji tanpa staf ahli, tanpa librarian, tanpa curator, register, dan pejabat-pejabat fungsionil Museum lainnja. Rumah Atjeh belum pula mendjadi anggota perkumpulan Museum Nasional dan I.C.O.M. (International Council of Museums).

Usaha-usaha penggalian, Penelitian, Pengembangan unsur-unsur Kebudajaah Daerah disamping belum mantap, boleh dikatakan hampir-hampir tidak dilakukan tertutama di bidang sedjarah, Musik dan Bahasa dan Sastra, Kepurbakalaan dan peninggalan zaman lampau.

Lembaga-lembaga baik swasta maupun pemerintah jang diharapkan sebagai penggerak ke arah pengembangan kebudajaan belum berfungsi penuh prasarana, sarana fasilitas, dan dana jang dimiliki oleh lembaga-lembaga jang ada buruk sekali. Tindakan-tindakan Pemerintah Pusat dan Daerah agar lembaga-lembaga ini dapat berfungsi penuh hampir-hampir belum ada.

Dilihat dari keadaan jang kami sebutkan di atas maka di daerah Atjeh ini kita djumpai masalah-masalah kebudajaan jang dapat kita perintji sebagai berikut :

1.      Bagaimana tjara memelihara Kebudajaan Atjeh, sebagai warisan bangsa mempunjai nilai Sedjarah, Pendidikan, Moral Spirituil jang tinggi dari kehantjuran, permusnahan dan terdesaknja oleh kebudajaan asing.

2.      Bagaimana dapat dibina kelangsungan kebudajaan Atjeh untuk dikembangkan melalui pendidikan kesenian formil maupun informil, sehingga tidak saja untuk kebudajaan dapat ditingkatkan, tetapi dapat ditjiptakan ahli-ahli dibidang kebudajaan dan kesenian.

3.      Bagaimana dapat diselamatkan kebudajaan Atjeh dari unsur-unsur negatif kebudajaan Asing, menjelamatkan benda-benda purbakala dan koleksi museum dari penjakit dan pentjurian, menjelamatkan monumen-monumen historis serta peninggalan masa lampau lainnja jang terantjam oleh kehantjuran dan kerusakan.

4.      Bagaimana dapat menumbuhkan pengertian masjarakat dan pemerintah terhadap fungsi dan pentingnja kebudajaan bagi kehidupan daerah Atjeh di masa jang akan datang.

V. HARI DEPAN KEBUDAJAAN ATJEH DAN USAHA-USAHA PENGEMBANGAN KEBUDAJAAN ATJEH.

Kalau kita bitjarakan hari depan Kebudajaan Atjeh, maka ada dua pengertian jang terkandung didalamnja. Pertama kita mentjoba meramalkan apa jang mungkin terdjadi atas nasib kebudajaan Atjeh, melihat proses jang terdjadi sekarang. Kedua kita menginginkan sesuatu atas kebudajaan Atjeh sehingga ia berkembang ke arah jang kita tjita-tjitakan. Saja beranggapan seminar ini tentu bermaksud akan membahas jang kedua ini. Kalau itu jang dimaksudkan maka sudah djelas bahwa hari depan kebudajaan Atjeh haruslah dapat mendjadi unsur jang sehat dan kuat agar dapat memberi sumbangan jang sebesar-besarnja dalam pembentukan dan pembinaan kebudajaan Nasional.

Untuk mentjapai maksud tersebut kita harus berbitjara tentang masalah-masalah pengembangan kebudajaan Atjeh jang sedjalan dengan usaha pengembangan kebudajaan Nasional. Sebuah usaha dalam bentuk apa saja harus mempunjai program jang djelas. Program Pengembangan Kebudajaan Atjeh hendaknja bertudjuan untuk turut mengembangkan kebudajaan Nasional. Maka menurut pendapat kami maka tudjuan Pengembangan Kebudajaan Atjeh dapat kita perintji sebagai berikut :

1.      Tudjuan Umum

1.1.  Pemeliharaan Kebudajaan Atjeh dan Kebudajaan Nasional dengan mengadakan penggalian, pemeliharaan dan pengembangan kabudajaan tradisionil serta mengadakan dokumentasi, penelitian, dan penerbitan semua karja budaja daerah.

1.2.  Pembinaan berlangsung kebudajaan daerah dengan mengadakan pengolahan dan penjanjian kesenian tradisionil, pengamatan dan pengarahan pengembangan kesenian kontemporer ke arah mutu universil, pendidikan generasi muda setjara intra dan ekstra kurikuler, pemeliharaan bahasa dan sastra serta peninggalan Nasional.

1.3.  Pembinaan ketahanan kebudajaan dalam hubungan antara kebudajaan dengan mengadakan pengamatan dan penelitian terhadap semua unsur kebudajaan asing, pembentukan dan pemantapan apresiasiseni jang bermutu. Pembinaan benda-benda purbakala dan peninggalan sedjarah. Penulisan serta pendidikan sedjarah daerah.

1.4.  Penjusunan dan pemantapan sistim pembinaan kebudajaan dengan pentjiptaan dan pengertian pokok dan kebijaksanaan kebudajaan kepada pejabat-pejabat aparatur pemerintahan dan masjarakat. Pembinaan dana dan sarana serta penggarisan dan pendaja gunaan organisasi (lembaga-lembaha jang bergerak dalam bidang pembnaan da pendjumbangan kebudajaan).

2.      Tudjuan Khusus

2.1.  Meningkatkan mutu kesenian dan apresiasi seni di kalangan masjarakat dengan membangun pusat-pusat kesenian jang diperlengkapi dengan peralatan dan fasilitas jang diperlukan, sebagai wadah atau tempat segala aktifitas kesenian dan kebudajaan.

2.2.  Meningkatkan mutu pendidikan kesenian serta menghasilkan tenaga-tenaga kesenian jang diperlengkapi dengan peralatan-peralatan dan fasilitas jang diperlukan. Sesudah itu diusahakan penjempurnaan kurikulum peningkatan kualitas dan kuantitas peladjar/mahasiswa pada lembaga-lembaga pendidikan kesenian, up grading guru-guru kesenian.

2.3.  Peningkatan, penggalian, penelitian dan penerbitan di bidang sedjarah dan anthrapologi, bahasa daerah, museum dengan membangun pusat-pusat penelitian untuk itu.

2.4.  Meng-Inventarisir data-data kebudajaan, pernerbitan hasil budaja.

2.5.  Menjelamatkan dan meningkatkan usaha-usaha pemeliharaan peninggalan budaja dengan me-restorasi monument-monument historis, musuem-musuem jang menjediakan peralatan-fasilitas jang diperlukan. S

2.6.  Meningkatkan pembinaan dan pengembangan antar daerah dalam rangka memupuk kesatuan bangsa dan saling pengertian dalam bidang kebudajaan/kesenian dengan menjediakan peralatan dan fasilitas jang diperlukan.


VI. PENUTUP

Demikianlah pokok-pokok pikiran jang dapat kita sampaikan dalam seminar ini. Banjak masalah jang belum mendapat tempat dan pembahasan dalam prasaran ini. Hal ini tidak sadja karena waktu jang tidak mengizinkan, tapi ada djuga masalah-masalah jang perlu lebih dahulu mendapat penelitian jang lebih tjermat sehingga kesimpulan-kesimpulan jang dapat diambil akan lebih bernilai. Dengan praasaran kami ini dapat kami sampaikan beberapa saran dan kesimpulan :

1.      Kebudajaan adalah unsur mutlak dari kebudajaan Nasional.

2.      Pengembangan kebudajaan Atjeh akan sangat membantu pengembangan kebudajaan Nasional.

3.      Kebudajaan Atjeh jang tumbuh dalam kondisi jang sehat dan kuat akan memberi sumbangan jang sangat besar dalam pembinaan dan pengembangan kebudajaan Nasional.

4.      Untuk pengembangan kebudajaan Atjeh dalam rangka membangun kebudajaan Nasional diperlukan suatu program dengan tudjuan-tudjuan jang djelas.

5.      Lembaga-lembaga jang bergerak dalam bidang kebudajaan memegang peranan penting dalam pengembangan kebudajaan Atjeh. Oleh karena itu harus diusahakan supaja lembaga-lembaga jang ada sekarang harus berfungsi penuh dalam bidangnja masing-masing.

6.      Untuk mengkoordinir semua lembaga-lembaga jang ada jang bergerak di lapangan kebudajaan diperlukan adanja sebuah lembaga jang bertugas untuk itu. Kalau perlu lembaga-lembaga kebudajaan Atjeh jang pernah tumbuh diaktifkan kembali.

PANITIA PUSAT

PEKAN KEBUDAJAAN ATJEH KE-II

(The 2nd. Atjeh Cultural Festival)

HARI DEPAN KEBUDAJAAN ATJEH

O

L

E

H

PROF. DR. H. ABUBAKAR ATJEH

PRASARAN

PADA SEMINAR KEBUDAJAAN

DALAM RANGKA PKA-II DAN DIES

NATALIS KE-XI UNIVERSITAS SJIAH KUALA

21 S/D 25 Agustus, tahun 1972.

D

I

BANDA ATJEH

HARI DEPAN KEBUDAJAAN ATJEH

Oleh : Prof. Dr. H. Abubakar Atjeh

1. KEBUDAJAAN INDONESIA

Dalam Undang-Undang Dasar 1945 kita dapati, kemana politik Kebudajaan Indonesia diarahkan. Meskipun keterangand alam Undang-Undang Dasar 1945 itu sangat ringkas, dan setahu saja, belum ada satu uraian jang dapat setjara terintji, jang tidak hanja bersifat politik dan daerah semata-mata, tetapi sudah dapat djuga kita bangsa Indonesia mengetahui, kemara arah tudjuan Kebudajaan Nasional kita persiapkan untuk kebahagiaan Indonesia Raja.

Dalam Undang-Undang Dasar 1945, bab XIII pasal 32, tertulis ”Pemerintah memadjukan kebudajaan Nasional Indonesia”.

Dalam risalah ”Undang-Undang Dasar 1945”, jang diterbitkan oleh Pandja Paramita, Ddjalan Madiun 8, Jakarta, kita dapati tafsir dari pasal 32 tersebut sebagai berikut :

”Kebudajaan Bangsa adalah kebudajaan jang timbul sebagai buah usaha budi daja rakjat Indonesia seluruhnja.

Kebudajaan lama dan asli jang terdapat sebagai puntjak-puntjak kebudajaan daerah-daerah diseluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudajaan Bangsa. Usaha kebudajaan harus menudju ke arah kemadjuan adab, budaja dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudajaan asing jang dapat memperkembang atau memperkaja kebudajaan bangsa sendiri, serta mempertinggi deradjat kemanusiaan bangsa Indonesia” (hal. 35).

2. APAKAH KEBUDAJAAN ATJEH ITU?

Sebagaimana kita ketahui, bahwa kata kebudajaan itu terambil dari budaja, jang dihubungkan pengertiannja dengan budi dan djiwa, sehingga kebanjakan  orang memahaminja, bahwa kebudajaan itu adalah gambaran jang ditimbulkan oleh reaksi djiwa, gambaran djiwa dalam utjapan, tingkah laku, tjara berfikir dan fi’il perbuatan manusia.

Kita ketahui pula dari sedjarah perkembangsan sastra bangsa kita Indonesia, bahwa kebudajaan itu dimaksudkan terdjemahan dari pada perkataan asing ”Culture” atau civilization, jang lebih tepat berarti peradaban, dari bahasa Arab ats-tsaqafah jang berarti djuga peradaban.

Ada dua aliran dalam memahami kebudajaan agama; tjara Barat, bahwa agama itu termasuk kebudajaan, karena mereka berpendapat bahwa agama itu pada hakikatnja timbul dari pada manusia sendiri dalam menghadapi alam jang luas ini, setjara Islam, bahwa agama itu diluar kebudajaan manusia, karena agama itu bukan tjiptaan manusia sendiri, tetapi merupakan wahju Tuhan jang diturunkan kepada Nabi-nabi dan Rasul-rasul, dan adjaran inilah jang kemudian mempengaruhi djiwa dan keinginan manusia jang kemudian memberikan manifestasi (mazhar) dalam segala tjabang kebudajaan dan keseniannja. Atjeh jang sudah beratus tahun dipengaruhi oleh agama Islam, tidak dapat dengan mudah terlepas atau dilepaskan dari kebudajaannja jang bertjorak agama itu. Dalam segala bidang kesenian Atjeh kita dapati unsur-unsur agama, dalam siasat pemerintahan, dalam siasat peperangan, dalam kesenian sastra, dalam bidang pergaulan dan adat istiadat, dalam bidang pendidikan dan pengadjaran, dalam bidang asal usaha dan perbuatan, apalagi dalam bidang kejakinan dan sosial.

Bahwa suatu kebudajaan dipengaruhi oleh agama tidaklah usah mendjadikan keheranan, karena hampir semua bidang kebudajaan berasal dari kejakinan agama. Barulah sesudah habis jang dinamakan : ” The Ages of Religion”, abad keagamaan dan dunia memasuki abad ilmu pengetahuan dan demokrasi, pengaruh agama itu terdesak ke pojok. Tetapi baik Pantjasila kita maupun UUD. 1945, masih membuka pintu luas bagi warga negara kita untuk mengamalkan agamanja menurut kejakinannja masing-masing (pasal XXIX hal. 1-2).

3. PENGARUH AGAMA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Sudah kita djelaskan bahwa agama Islam jang sudah dianut beratus-ratus tahun di Atjeh tidak dapat dengan mudah terlepas dari pada kebudajaannja jang bertjorak agama itu.

Dalam kehidupan sehari-sehari kita bertemu dengan unsur-unsur agama, misalnja memberi salam waktu berdjumpa dan berpisah, berdo’a pada waktu ada sesuatu santapan, tjara Islam pada waktu perkawinan,  waktu memperingati kedjadian-kedjadian jang penting dalam masa perkawainan, pada waktu melahirkan dan pada waktu ada kematian.

Orang Atjeh mempunjai tjorak pakaian sendiri, jang banjak sedikitnja, disamping tenunan jang bertjorak daerah dan perhiasan-perhiasan jang dipakainja, djuga ada hubungannja dengan kejakinan agama, misalnja menutup aurat bagi laki-laki dan perempuan dalam batas-batas jang ditentukan oleh agama. Seorang wanita Atjeh merasa geli, kalau kepalanja dan auratnja terbuka, dan seorang laki-laki Atjeh akan merasa belum sempurna berdandan, djika ada pinggangnja tidak berselat sebilah rentjong pada bahunja tidak tersangkut sebuah bungkusan sirih. Karena memakai senjata itu dalam adjaran Islam dan memakan sirih tidak sama dengan merokok jang oleh Salaf dianggap bid’ah. Kita lihat pada seorang Atjeh jang memakai kopiah Atjeh, pada kopiahnja bergambar lafadh Allah, dan rentjongnja menggambarkan Bismillah. Djika bertemu satu sama lain, selain dari pada memberi salam, seorang Atjeh berjabat tangan, jang berasal dari adjaran Islam Safah, dan anak-anak laki-laki dan perempuan, apabila ia bertemu dengan guru atau orang tua kampung, mereka menjembah pada lututnja.

Demikianlah kita lihat dalam bidang kesenian lain unsur-unsur kejakinan itu, misalnja dari kehidupan berkampung, jang dianggap belum lengkap, sebelum di dalamnja terdapat Meunasah, Madrasah tempat mengaji, beribadat, bermusjawarah, berkumpul dan digunakan sebagai pasanggrahan untuk tamu-tamu dari djauh.

Peninggalan jang lain dari kebudajaan jang sudah silam, pada Atjeh berada pada kantjah peperangan dengan pendjadjahan asing Portugis, Inggeris dan Belanda, dapat kita lihat dalam susunan pemerintahan. Kepala-kepala sebuah kampung jang bernama Keutjhik, diatur di bawah pimpinan seorang Imam, Imuem, jang merupakan kepala regu jang kemudian menurut undangan gilirannja tunduk kepada seorang hulubalang, atau seorang panglima. Pembahagian ini telah menundjukkan dari satu sudut tjara pemerintahan dan dari lain sudut tjara menjusun barisan perang, jang saban waktu siap sedia untuk mempertahankan daerahnja. Ada dua Imam, pertama Imam Masjid jang memimpin ibadat dan kedua Imam Rakjat jang suatu waktu memimpin pertahanan. Hulubalang-hulubalang dan panglima-panglima tunduk kepada seorang Sultan jang diangkat dan dita’ati.

4. PENGARUH AGAMA DALAM KESENIAN

Dalam sedjarah hidup manusia, agamalah jang mula-mula mentjetuskan kesenian dan kebudajaan dalam segala bidang kareja djiwa dan kejakinan manusialah jang menggerakkan akal dan perbuatannja metjiptakan segala sesuatu untuk perlindungan dirinja dan kemadjuannja.

Sedjak manusia hidup telanjang dalam hutan akalnja sudah berputar untuk mentjari tempat tinggal di bawah pohoh-pohon kaju jang rindah di hutan atau di tjelah-tjelah batu gunung dan gua jang dapat melindungi dirinja dan keluarganja dari serangan binatang buas, serangan halilintar jang menakutkan, serangan matahari jang menjebabkan panas atau serangan hujan jang membuatnja basah kujup. Ia memikirkan dengan akalnja jang sederhana makanan jang enak dan tidak berbahaja, ia memikirkan tutup badannja dari rumput-rumput, kulit kaju dan kulit binatang, siapa jang mau menggunakan akalnja dengan sebaik-baiknja, ialah jang lebih madju dari pada teman-temannja jang lain.

Kurangkah tepat Tuhan dalam Al-Qur’an, disamping iman, ketentraman hidup manusia di alam ini. Mu’tazaliha mengarang dua djilid besar jang mendjadi pegangan pendiriannja, bernama ”Al-Aqal”, dan membuat sebagai motto jang terpenting dalam kitab itu sebuah hadits Qudsi: ”Bahwa jang pertama-tama ditjiptakan Tuhan adalah akal…”, sehingga mereka mendjadikan dasar menetapkan sesuatu hukum ”Akal terlebih dahulu kemudian baru nash untuk menguatkannja”, berlainan dengan pendirian Ahlisunnah, jang mengambil sebagai dasar menetapkan suatu hukum, ”Nash lebih dahulu dan kemudian akal (rakji) untuk pendjelasannja.

Bagaimana djuga, kita lihat hampir semua tjabang kesenian digerakkan oleh agama, seperti tjandi-tjandi dan pahat-pahatan patung jang dianggap indah sebagai kesenian Hindu, pemeliharaan pohon-pohonan dan pembikinan obatan-obatan serta pendirian gereja jang megah dipermukaan bumi adalah digerakkan oleh pastur-pastur dan pendeta-pendeta pada zaman dahulu kala, demikianlah kita lihat dalam sedjarah apa jang dikagumi oleh dunia pada masa ini di Junani, Romawi, Mesir, Djepang, Tjina dan lain-lain dari pada kebudajaan dan kesenian dalam segala bidang, asal mulanja disetuskan oleh iman dan diperkembangkan sebagai akal manusia.

Sebagai tjontoh di Atjeh kita ambil kesenian ”Seudati”, suatu kesenian jang sangat digemari rakjat. Dari mana asalnja? Tidak lebih dari tarekat Sufi, jang dibangkitkan oleh Sjech tarekat Samman, dan bermain Seudati itu dinamakan djuga ”Meusamman” dalam bahasa Atjeh. Perkataan Seudati berasal dari bahasa tarekat ”Ja Sadati” jang artinja ”Wahai tuan Guru”. Pantun-pantunnja pun pada masa pentjiptaan itu sendiri dari pada zikir-zikir dan sjair-sjair agama. Dalam Rateb Samman kelihatan benar sifat keagamaan ini. Diantara sadjaknja atau nasib, kita dapati sebagai berikut :

Meseujidén Haram Ureuëng dua dròé

Nabineu Sidòé sahabatneu dua

Neupeu’ét surat keudéh Nanggròé Tjam

Neujuë éseulam bandum Blanda

Kaphé Jahudi han jitém masö’

Dalam suntö’ runtöh agama.

Artinja : Dalam Mesjidil Haram ada dua orang, jaitu Nabi dan Sahabatnja. Nabi menjuruh kirim surat ke Sjam (Palestina), memerintahkan masuk Islam semua Belanda, kafir Jahudi tidak mau masuk Islam. Mereka selalu berusaha meruntuhkan agama.

Baik Ratéb saman, jang pada mulanja hanja digunakan untuk membatja manaqib Sjah Saman adn berzikir maupun Ratéb Mensa, jang berasal dari tarekat Sjattarijah, maupun Ratéb Sadati, jang mula pertamanja bersifat Agama, kemudian berubah mendjadi suatu kesenian duniawi jang digemari orang-orang Atjeh. Tjaranja berubah mendjadi sematjam tari, zikirnja berubah mendjadi pantun-pentun pertjintaan atau tjakri, dan tidak tinggal apa-apa ketjuali namanja. Batja ”De Achehers”, karangan Dr. C. Snouck Hurgronje, atau ”Atjeh”, karangan Kreemer.

Keadaan sematjam ini tidak hanja terdjadi di Atjeh, djuga terdjadi di daerah-daerah lain. Sedjarah terdjadinja wajang oleh para Wali Sanga djuga menerangkan pada awal mulanja merupakan suatu dakwah agama. Kita ambil tjontoh dengan wajang jang paling tua ”Wajang Purwa” artinja wajang pertama, jang pokok tjeritanja mengenai tjerita Bharata Juda, perang saudara keluarga Bharata, jaitu perang keluarga antara Pandawa melawan Ngastina merebutkan keradjaan jang akhirnja dimenangkan Pandawa.

Tjerita ini saja ambil dari pada karangan A. Basid Adnan dengan Djudul ”Gubahan tjerita wajang oleh para Wali, termuat pada lembaran kebudajaan, ilmu dan filsafat dri harian ”Abadi”, Sabtu 10 Juni 14972. Ia mentjeritakan serba serbi tentang sedjarah, pembentukan wajang jang pertama sesuai dengan patung-patung jang terdapat tjandi penataran, jang kemudian diubah mendjadi rupa, sehingga tidak bertentangan dengan sjari’at Islam. Kata Basid Adnan selandjutnja : ”Lakon-lakon wajang jang ditjiptakan para wali maksudnja untuk memberikan gambaran kebenaran adjaran Islam. Lakon-lakon demikian antara lain : Dewa Ruci, Petruk djadi Radja, Semar barang tjantur, Pandu Bergola, Mustaka Weni dan sebagainja. Djimat kalima sada pada pokoknja lakon Mustaka Weni adalah gambaran kebenaran, terambil dari perkataan ”Djimat kalimatusy sjahadah”, jang pada asalnja konon milik Prabu Darmakusuma, seorang anggota keluarga Pandawa. Pusaka itu adalah sebagai warisan dari nenek mojangnja, jaitu Begawa Abidjasa.

Pada suatu masa Dewa Srani ingin berkuasa dan bertanja kepada ibunja Betari Durga, isteri Betara Kala, bagaimana djalannja agar ia dapat menguasai dunia ini. Berarti Durga jang tahu betul akan kekuasaan jang tersimpan dalam Jumat Kalimasada, mendjawab bahwa kalau ia menginginkan tjita-tjitanja dapat tertjapai, berusahalah agar Djimat Kalimasada itu, jang sekarangan dimiliki Prabu Darma Kusuma direbutnja. Betari Durga membujuk agar Dewa Srani (mungkin menurut Basid sindiran kepada pendjadjah Belanda) merebut Djimat Kalimasada itu. Hal ini dilakukan dan berhasil, tetapi tidak berapa lama Djimat Kalimasada itu dapat direbut kembali oleh Arjuna.

Sekali lagi Djimat Kalimasada hilang ditjuri oleh Mustakaweni karena keluarga Pandawa, pada suatu masa membangun tjandi Sapta Arga, jaitu kubur nenek mojangnja, jang kemudian dipudja-pudja, dan karena pekerdjaan itu lupa akan Ddjimat Kalimasada.

Menurut pendapat Tumenggung Dipaningrat, salah seorang pengurus Musium Radperputaka di Solo, tjerita ini menundjukkan, bahwa sjirik dapat menghilangkan kekuatan tauhid, dalam hal ini kesaktian Djimat kalimasada.

Dalam lakon Petruk mendjadi Ratu, pernah mendapatkan Djimat Kalimasada, jang diberikan oleh Priembada dengan pesan supaja Petruk berhati-hati, jang mula-mula berhasil, tapi salahnja Petruk terlalu tamak, ia ingin memiliki sendiri djimat itu, oleh karena itu ia tidak lama mendjadi Radja dengan gelar jang menggelikan ”Pangeran Bergeduwelbeh Tongtongsot. Radja-radja Ngastina, Dwarawati dan Ngamarta sepakat untuk membinasakan Petruk, tetapi selama Djimat Kalimasada ada padanja, Petruk tidak dapat dikalahkan.

Demikianlah Wali-wali itu memperwajangkan tauhid, untuk mejakinkan kepertjajaan orang kepada Tuhan.

A. Basid Adnan menutup karangannja: ”Sampai dewasa ini sebagian Islam masih masih aprici mengharamkan terhadap perwadjangan. Pada hal kenjataan sangat digemari oleh rakjat dipelosok-pelosok desa, kampung-kampung terutama di Pulau Djawa. Begitu pula terhadap kesenian Djawa misalnja Gending-gending Karawitan, tariannja. Hanja gemelan Sekaten jang ”mendapat hati” bisa ditabuh di halaman Masjid Agung di Sala dan Djogja.

Demikianlah asal kedua sedjarah Seudati dan Wajang, dan banjak kesenian-kesenian lain, jang pada mulanja ditjiptakan untuk rijadah dan dakwah Islam, kemudian berubah mendjadi kesenian biasa. Kebudajaan jang tumbuh sebagai reaksi budi manusia ini digemari oleh rakjat banjak, dan sajanglah kalau dibasmi atau dihantjurkan. Memang ada akibat-akibat jang kadang-kadang menjeleweng djauh dari pada aslinja, miaslnja anak-anak muda sekarang banjak menggunakan pantun-pantu tjinta dan utjapan jang bersifat pornografis, jang menjeret kepada perhubungan tjinta atau akhlak di luar agama, tetapi kesalahan itu terdapat pada persoalan kurang perhatian dari pada orang-orang tua. Apakah pantun dan utjapan-utjapan atau kelakuan jang pornografis tidak dapat disingkirkan dengan sadjak-sadjak jang bermutu untuk perdjuangan dan kemadjuan bangsa?

Begitu djugalah wajang jang mula-mulanja diarahkan kepada tauhid, kemudian menjeleweng kepada kejakinan jang bukan-bukan, apakah tidak dapat diperbaiki?

Djika perbaikan ini dilakukan setjara menggantinja radikal, jang pernah terdjadi dengan Modernisasi wajang-wajang oleh atheisten dalam masa Bung Karno, pasti tidak bisa berdjalan, karena tidak ada hubungan dengan djiwa dan karakter atau kegemaran untuk rakjat di Djawa.

5. KEADAAN SEKARANG INI

Sesudah jatuh Belanda dan Djepang pada 17 Agustus 1945, sesudah kita usir pendjadjahan itu dengan revolusi kita, tjorak politik dan kebudajaan berubah. Semua daerah-daerah politik, kebudajaan dan adat istiadat jang berlain-lainan kita arahkan kepada satu bangsa Indonesia seluruhnja. Baik politik maupun kebudajaan atau sifat-sifat daerah tidak dihantjurkan sadja, tetapi semua itu dipelihara untuk memperoleh unsur-unsur jang akan kita gunakan untuk membina politik dan kebudajaan Indonesia ke dalam, jang dalam kongres-kongres kebudajaan akan kita bahas kembali dan memilih, nama-nama jang lajak dimasukkan ke dalam kebudajaan Nasional Indonesia dan nama-nama jang hanja dipelihara sekedar untuk kepentingan daerah.

Kita ketahui bahwa bangsa Indonesia terdiri dari beratus-ratus suku bangsa jang mendiami tidak kurang dari beratus-ratus pulau dan daerah jang ketjil-ketjil, jang masing-masing mempunjai djuga dasar-dasar dan tjorak-tjorak kebudajaan sendiri.

Apakah politik dan kebudajaan di Indonesia dapat berubah-ubah? Memang dapat berganti menurut suasana, masa dan musim serta tempat. Djangankan politik dan kebudajaan, zaman. Dan ’illahnja Imam Sjafi’i pernah menetapkan dua hukum jang berbeda, lain dari pada waktu beliau bertempat di Baghdad (qaul qadim) dan lain dikala beliau bertempat di Mesir (qaul djadid). Dalam masa Nabi orang berjual beli gandum dengan takaran, jang kemudian dalam bahasa Abbasiah oleh Abu Jusuf (Hanafi) ditukar dengan timbangan, karena pada waktu itu jang paling banjak orang mempergunakan timbangan. Chamar di haramkan karena memabukkan, tetapi apabila ’illahnja sudah hilang dan chamar itu telah mendjadi tjuka, ia tidak haram lagi. Tjara menetapkan hukum seperti ini dinamakan dalam ilmu fiqh dengan istilah  ”taghirul ahkam li taghjiril makan wal azminah wal ’ilal” (mengubah hukum karena berubah tempat, masa dan sebab), bahkan di negara-negara jang modern, ulama-ulama Islam sudah sampai kepada mempraktekkan ”taghyirunusus” (mengubah nash atau ajat Qur’an dan Hadits dengan suatu tafsir jang sesuai dengan zaman), seperti jang terdjadi banjak sekali dalam masa chalifah Umar bin Chattab.

Dengan demikian dapat kita pahami, bahwa politik dan kebudajaan sewaktu-waktu dapat djuga berubah menurut kepentingan tempat, masa dan keperluan.

Politik dalam arti kata staat kunde berubah-ubah, dalam masa Belanda lain, dalam masa Djepang lain, dan dalam masa kemerdekaan kita lain pula. Memang ada perbedaannja, djika dibandingkan dari pada satu-satu misalnja dalam masa pemerintah Hindia Belanda kelihatan makmur, nilai uang tinggi, segala sesuatu mudah di dapat, karena apa? Karena Belanda memakai isolasi politik, sehingga pengaruh dalam negeri tidak membawa perubahan ke dalam. Meskipun kelihatan makmur, tetapi djiwa kita selalu gelisah, karena terhina, karena merasa bahwa Belanda itu adalah golongan pemerintah Belanda jang tinggi jang tahu mengatur, dan kita golongan jang diperintah, hanja mendjadi alat Belanda sadja. Djiwa kemerdekaan kita hilang. Materiil barangkali tjukup tetapi spirituil tertekan.

Setelah zaman kemerdekaan, jang kita peroleh dengan persatuan kita dan revolusi kita menghadapi pendjadjah. Dari satu pihak beroleh kesukaran, karena kita harus menjusun sendiri, memerintah sendiri dan membangun sendiri, sedang disekitar kita bekas pendjadjah kita selalu berusaha, supaja tudjuan kita itu gagal, agar politik perdagangan mereka, jang terselip dalam pendjadjahan itu dapat berdjalan terus. Segala pembangunan dan penjusunan negara sedapat mungkin digagalkan. Mereka hanja senang kalau negara kita ini tjuma merupakan pasar bagi produksi pabrik dan industri mereka semata-mata hingga kemakmuran kita bergantung kepadanja, dan nasib kita terus dalam kedudukan pendjadjahan politik dan ekonomi asing. Maka oleh karena itu haruslah kita membangun kebudajaan baru, jang digerakkan dengan pikiran-pikiran baru pula.

Disini saja membenarkan utjapakan Pangdam V/Jaja Maj. Jen. Poniman, jang pada waktu berbitjara tentang Mission ABRI dan Golkar, menegaskan kembali, bahwa mission jang diemban oleh Golkar termasuk ABRI adalah mensukseskan politik dan strategi pemerintahan Orde Baru, jaitu pembangunan.

Didjelaskan, bahwa pembangunan itu mempunjai dua aspek, jaitu aspek kesejahteraan Nasional dan aspek ketahanan nasional. Dengan demikian pembangunan tidak berarti pembangunan ekonomi semata-mata, akan tetapi djuga meliputi penguatan idiologi nasional, pendewasaan kehidupan politik, keserasian hidup sosial, pembangunan budaja dan pengembangan kekuatan HANKAM. (Pos Kota, Selasa 13 Juni 1972).

PANITIA PUSAT

PEKAN KEBUDAJAAN ATJEH KE-II

(The 2nd. Atjeh Cultural Festival)

HARI DEPAN KEBUDAJAAN ATJEH

O

L

E

H

DRS. T. SJAMSUDDIN

BANDINGAN

PADA SEMINAR KEBUDAJAAN

DALAM RANGKA PKA-II DAN DIES

NATALIS KE-XI UNIVERSITAS SJIAH KUALA

21 S/D 25 Agustus, tahun 1972.

D

I

BANDA ATJEH

HARI DEPAN KEBUDAJAAN ATJEH

Oleh : Drs. T. Sjamsuddin

I. PENGANTAR

Masalah kebudajaan dewasa ini merupakan masalah jang unik dibitjarakan karena masalah kebudajaan menjangkut salah satu faktor pendorong dan penghambat bagi pembangunan. Djadi kebudajaan bukanlah tempat berpijaknja suatu ilmu untuk kepentingan akademis tetapi djuga menjangkut persoalan kehidupan masjarakat setjara menjeluruh.

Oleh karena itu ada baiknja saja memperkuat kedua isi prasaran terdahulu biarpun apa jang saja kemukakan berbeda dalam redaksinja. Kita semua tentu setudju bahwa kebudajaan adalah seluruh tradisi sosial (Lowie: Indroduction on to Cultural Antropology, New York, 1940).

Berdasarkan definisi itu djika dirangkaikan dengan masjarakat Atjeh, maka kebudajaan Atjeh adalah seluruh tradisi dari masjarakat Atjeh sendiri. Dengan kata lain kebudajaan Atjeh adalah seluruh tjara-tjara hidup masjarakat Atjeh mulai zaman Prasedjarah hingga sekarang ini. Karena itu kebudajaan Atjeh meliputi tjara hidup masjarakat Atjeh di seluruh daerah Provinsi Daerah Istimewa Atjeh.

Tetapi djika kita kembali kepada analisa hukum adat maka Propinsi Atjeh sekarang ini meliputi dua daerah hukum adat, jang berarti dua daerah kebudajaan pula, sesuai dengan pembahagian daerah hukum adat, jang dikumpulkan oleh Vollenhoven dalam bukunja: Het Adatrecht van Nederlandshe Indie.

Daerah hukum adat termaksud adalah daerah hukum adat Atjeh dan daerah hukum adat Gajo-Alas. Memang pada mulanja kedua daerah hukum adat ini berbeda, tetapi kemudian karena latar belakang historis dan politis mendjadi laun terdapat persamaan-persamaan. Lebih-lebih ketika diletakkannja daerah ini sebagai salah satu kabupaten Atjeh, jaitu setelah Proklamasi kemerdekaan 1945, persamaannja lebih tampak lagi, perbedaan terletak dalam variasinja sadja.

II. HARI DEPAN KEBUDAJAAN ATJEH

Menurut hemat kami berbitjara mengenai kebudajaan Atjeh berarti berbitjara tentang isi kebudajaan jang terletak setjara geografis di dalam daerah Propinsi Atjeh, tanpa adanja perbedaan-perbedaan pendangan didalamnja. Kemudian dari sinilah kita dapat melihat hari depan kebudajaan Atjeh.

Setiap berbitjara mengenai masalah kebudajaan, termasuk masalah kebudajaan Atjeh, maka titik tolak haruslah berdasarkan pada persoalan bahwa kebudajaan Atjeh seperti kebudajaan lain manapun djuga mempunjai cultural universal. Para ahli antropologi merumuskan cultural universal setiap kebudajaan mempunjai minimal 7 unsur kebudajaan; ketudjuh unsur ini setjara sistematis terdiri dari :

1.      Sistim peralatan dan perlengkapan hidup,

2.      Sistim mata pentjaharian hidup,

3.      Sistim kemasjarakatan,

4.      Bahasa,

5.      Kesenian,

6.      Sistim pengetahuan,

7.      Sistim religi.

Sebahagian dari unsur-unsur ini telah dikemukakan Prof. H. Abu Bakar Atjeh dalam Prasejarh tetapi pada kenjataan umumnja setiap berbitjara tentang kebudajaan maka selalu dianggap kebudajaan adalah kesenian. Kesenian Atjeh sebenarnja adalah merupakan suatu unsur sadja dari kebudajaan Atjeh.

Orang tidak menjinggung masalah sistim pengetahuan dalam hubungan hidup dan sistim dan sistim pengetahuan dalam hubungan dengan unsur-unsur kebudajaan, tetapi selalu dilihat lepas dan seakan-akan tidak ada hubungannja dengan kebudajaan sama sekali.

Bahan-bahan mengenai ini belum banjak diselidiki dan di merupakan tantangan bagi kita semua pada masa-masa jang akan datang. Dengan melihat unsur-unsur kebudajaan setjara keseluruhan dari kebudajaan Atjeh, baru kita dapat membajangkan bagaimana sebenarnja Hari Depan Kebudajaaan Atjeh itu.

Unsur-unsur Kebudajaan Atjeh tersebut itulah jang membentuk sikap mental masjarakat Atjeh dalam kontaknja dengan dunia luar. Pada masa ini kebudajaan Atjeh adalah kebudajaan semua abad untuk suatu zaman. Kebudajaan Nasional dan diakui berdasarkan pendjelasan UUU. 1945, Bab III, pasal 32.

Kebudajaan Atjeh itu tidak boleh melepaskan diri dari pada pengaruh dan kontak kebudajaan dari luar, karena kontak tersebut memperkaja kebudajaan Atjeh sebagai bagian dari pada kebudajaan Nasional Indonesia, sedjauh tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama Islam jang dianut oleh seluruh rakjat Atjeh.

Kebudajaan Atjeh jang akan datang adalah kebudajaan jang terbuka terhadap unsur-unsur kebudajaan jang positif dan memberikan pengaruh bagi kehidupan rakjat banjak. Karena ini meningkatkan kebudajaan berarti sekaligus memberi pengaruh terhadap sikap mental masjarakat sesuai dengan tuntutan pembangunan.

Suatu masjarakat dianggap modern apabila setiap masjarakat Atjeh, setidak-tidaknja mempunjai sikap mempunjai sikap mental seperti diharapkan adalah :

-          Kejujuran

-          Effisien

-          Bertepatan waktu (punctuality)

-          Keteraturan (onderliness)

-          Kemadjuan

-          Sifat hemat

-          Rasionil dalam pikiran dan mengambil keputusan,

-          Kemampuan untuk menangguhkan konsumsi (Prof. Dr. Muchtar Kusumaatmadja dalam Hukum dan Pembangunan Nasional).

Masjatakat Atjeh masa ini seperti masjarakat-masjarakat lainnja di Indonesia terletak pada tangga paling bawah dalam kehidupan dunia modern. Untuk itu diperlukan suatu tjara berpikir jang berobah, maka pengenalan terhadap lembaga modern dalam kehidupan jang akan datang tidak akan berhasil.

Ini berarti pula bahwa masjarakat Atjeh tetap tinggal pada tingkatan paling rendah dari pada perkembangan masjarakat umumnja. Untuk menundjukkan masalah ini maka setiap penduduk harus mendapat pengetahuan jang lajak dan terarah, serta penerangan-penerangan jang intensif. Tanpa perubahan ini maka pemerintah akan tertaruk kebelakang mengikuti pola-pola kehidupan jang telah dihajati sedjak dulu jaitu sikap hidup masjarakat agrarische tradisionil.


PANITIA PUSAT

PEKAN KEBUDAJAAN ATJEH KE-II

(The 2nd. Atjeh Cultural Festival)

KESENIAN ATJEH. IDENTITAS DAN PENGEMBANGANNJA DALAM RANGKA KEBUDAJAAN NASIONAL

MODERN

O

L

E

H

UMAR KAJAM

PRASARAN

PADA SEMINAR KEBUDAJAAN

DALAM RANGKA PKA-II DAN DIES

NATALIS KE-XI UNIVERSITAS SJIAH KUALA

21 S/D 25 Agustus, tahun 1972.

D

I

BANDA ATJEH

KESENIAN ATJEH : IDENTITAS DAN PENGEMBANGANNJA DALAM RANGKA KEBUDAJAAN MODERN

Oleh : Umar Kajam

PENGANTAR

Prasaran ini mentjoba untuk membebaskan dirinja dari setidak-tidaknja dua matjam pretensi. Pertama, pretensi untuk membuat prasaran ini satu karangan ilmiah. Jakni satu karangan jang didukung oleh suatu penelitian jang mendalam serta sistematis jang sempurna. Kedua, satu pretensi untuk membuat prasaran ini karangannja seorang ”connoiseur” kesenian Atjeh. Jakni satu karangan jang mentjerminkan satu tjita rasa dan pengenalan jang tinggi dan mendalam tentang kesenian Atjeh.

Prasaran ini adalah djauh dari pada dua pretensi itu. Ini adalah prasaran jang spekulatif jang terutama dimaksud untuk merangsang satu pembahasan lebih landjut tentang perspektif perkembangan kesenian daerah dalam konteks modernisasi Indonesia di masa jang akan datang. Pemilihan sudut pandangan jang demikian serta kedudukan prasaran jang boleh dikatakan  ”asing” sama sekali dari kesenian Atjeh, membuat prasaran ini lepas dari penjerotan khusus tentang kesenian Atjeh itu sendiri. Ia akan mentjoba membahas ”kesenian Atjeh” sebagai salah satu komponen persoalan umum dari perkembangan kebudajaan Indonesia di masa datang. Ia akan menempatkan ”Kesenian Atjeh” sebagai salah satu dari sekian untaian mata rantai kesenian daerah. Dengan demikian dalam kesenian ini ”kesenian Atjeh” akan lebih banjak dibatja sebagai ”kesenian daerah”.

TENTANG IDENTITAS SATU KESENIAN DAERAH

Satu kesenian daerah adalah ”miliknja” satu lingkungan kebudajaan, ia lahir dan kemudian mengembang dan membentuk dirinja karena adanja lingkungan itu. Format, bentuk ataupun isi dari kesenian itu akan banjak ditentukan oleh ”kebutuhan” lingkungan itu akan perkembangannja. Inilah pula jang kemudian akan menentukan ”identitas” dari kesenian daerah itu. Identitas, sesuatu jang menentukan tjiri, pada hakekatnja adalah hasil tema dari unsur-unsur jang bertema dalam lingkungan itu.

Demikianlah dalam satu masjarakat atau lingkungan kebudajaan agraris identitas dari keseniannja adalah pentjerminan dari totalitas masjarakat jang demikian. Masjarakat jang demikian menghendaki adanja satu penjatuan jang integral dari keseniannja dari kehidupan agraris jang bulat. Segala tjabang kesenian dari masjarakat jang agraris dikehendaki untuk abdikan kepada kebulatan lingkungan itu. Seni suara, seni tari, seni rupa dari masjarakat agraris  tradisionil selalu berkaitan langsung dengan alam sekitarnja serta ”pengelolaan” dari alam itu. Maka seni lingkungan kebudajaan jang demikian adalah seni jang ”fungsionil” sifatnja; seni jang langsung difungsikan pada suatu ”upatjara” atau ”rite”. Dengan demikian sifat keseniannja disebut djuga seni jang ”komunal”. Dan seni jang ”komunal” tidak menganggap penting jang relevant akan peranan seniman sebagai pentjipta individuil. Seni memang ditjiptakan untuk orang-seorang tetapi orang-seorang itu adalah komponen dari kolektivita. Maka pantun-pantun, lagu-lagu dan tarian rakjat tidak pernah dikenal pentjiptanja karena sifat jang demikian dari kesenian agraris tradisionil itu.

TENTANG KEBUDAJAAN MODERN

Kebudajaan modern adalah kebudajaannja satu perkembangan landjut dari masjarakat jang telah meninggalkan wajah agraris tradisionilnja setjara tuntas (thorough) dan lengkap. Ia adalah tjermin dari masjarakat jang terbuka, tidak ”total”, ”kota”, ”tradisionil” dan ”effesien”. Masjarakat itu demikian karena perkembangan menghendakinja demikian. Ia terbuka karena status total integral dari masjarakat agraris tradisionil telah dilepaskan. Begitu satu masjarakat memutuskan untuk bergeser dari statusnja jang agraris tradisionil ia akan harus memikul konsekwensi dan risiko mendjadi terbuka dan tidak total. Keragaman pengelolaan kekajaannja dan dengan demikian mata pentjahariannja melebar dan lebih beragam lagi. Wilajahnja djuga melebar, djauh melampoi dari sebelumnja dikenal sebagai batasan lingkungan pertaniannja. Lingkungan hidup dan dengan demikian djuga lingkungan kebudajaan baru tumbuh dan berkembang. Lingkungan jang sesuai dengan tumbuhnja keaneka-ragaman pengeloaan kekajaan alam dan tumbuhnja keterampilan dan profesi baru jang disebut kota. Satu gaja kehidupan jang sama sekali baru tumbuh. Satu gaja hidup jang menuntut ketjekatan dan kegesitan jang lebih dari jang sudah karna sifat lingkungan jang djauh lebih kontitif lagi.

Kesenian dari masjarakat jang demikian dengan sendirinja djuga bergeser sifat dan fungsinja. Dari kesenian jang komunaal jang diabdikan penuh kepada masjarakat dia mendjadi kesenian jang sepenuhnja pribadi. Pribadi dalam pengertian ditjiptakan oleh pribadi-pribadi dan bukan oleh satu kolektifitas. Kesenian itu djuga brgeser dari sifatnja jang rituil kesifatnja jang ”Profaan”. Smentara seni itu berkembang mendjadi seni ”hiburan komorsiil, ”kicth”, tapi sementara itu djuga ada jang berkembang mendjadi seni ekspressif dari kreativitas individuil jang tjemerlang.

KESENIAN ATJEH (KESENIAN DAERAH) DAN MODERNISASI INDONESIA

Kesenia Atjeh sama dengan kesenian daerah lainnja di Indonesia jang memiliki identitasnja sebagai satu kesenian masjarakat agraris tradisionil. Ia sama dengan kesenian daerah lain merupakan ”produk” dari satu masjarakat total. Dengan demikian ia berakar langsung pada masjarakat jang mendjadi lingkungannja. Keseniannja sebagian terbesar adalah pentjerminan kesenian tradisionil jang anonim dan berfungsi langsung pada kepentingan masjarakat.

Tapi seperti djuga kesenian daerah lainnja di Indonesia ia djuga direstui oleh alam kekajaan dan kewarna-warnian (richness and colourfulness) dalam pengungkapan. Indonesia sedang bergerak meninggalkan wajahnja jang agraris tradisionil. Keinginannja untuk membangun suatu nation baru jang kuat dan homogen dan bukan satu konglomerat dari masjarakat-masjarakat pertanian jang lama serta keinginannja untuk mengembangkan segala kekajaan dan kemampuannja untuk bisa mendirikan tingkat kehidupan jang lebih lajak lagi dari rakjatnja, membuat negeri ini tidak bisa lain dari pada meinggalkan statusnja jang lama sebagai puak-puak agraris tradisionil. Ia tidak bisa lain dari pada mesti bergerak ke arah modernitasi. Jakni suatu keadaan dimana sumber-sumber kekajaan alam serta bakat-bakat dan kepandaian dilola dan dikembangkan sedemikian rupa untuk memberikan kesejahteraan jang lebih memuaskan bagi anggota masjarakatnja. Keadaan demikian menuntut adanja satu gaja hidup jang berlainan dari dari gaja hidupnja satu masjarakat agraris tradisional jang total dan tertutup. Bila pada masjarakat agraris tradisionil titik berat pengelolaan masjarakatnja diletakan pada penjangga keseimbangan dalam gaja jang tenteram dan passif, maka masjarakat modern jang djuga menghendaki keseimbangan menitik beratkan pada keseimbangan jang dinamis. Artinja satu keseimbangn jang dihasilkan oleh adanja perkembangan-perkembangan, pelebaran kemampuan dan sumber-sumber setjara akrif dan ” agresif”. Dengan lain perkataa satu kreativitas jang dinamis. Ini membawa konsekuensinja dan resikonnja sendiri. Lingkungan-lingkungan kebudajaan indonesia berserakan seluruh kepulaun ini mesti bersedia membukakan pintu-pintu mereka lebar-lebar. Dialog-dialog antar lingkungan kebudajaan dengan demikana djuga nilai-nilai mesti terdjadi dengan lebih gentjar lagi. Satu proses jang sangat diamis dalam ” to take and give” dari nilai-nilai antar lingkungan kebudajaan akan terdjadi sangat dahsjat. Ilmu tecnologi ddan teknik baru mesti dikembangkan untuk menampung konsekkwensi dari segala gerak baru itu.

Maka quo vadis” keseian daerah ”(djuga kesenian atjeh)”dalam kontak perkembangan jang demikan dan keadaan transisi kebudajaan seperti sekarang ini? Satu bentuk keseniaan jang berakar dan memantap(sewaktu) jang berabad-abad pastilah tidak akan larut dalam sehari atau dua hari. Tapi bahwa dia akan berubah dan bergeser, itu pasti. Namu tidak seorangpun akan mampu mengatakan setjara pasti bagaimana” wudjud baru’ dari kesenian daerah itu wajah kita jang agraris tradisionil, kesenian-kesenian derah setjara bertahap akan djuga ”melarut”. Pada akhirja satu bentuk kesenian hidup  langeng atau mati bersamaan dengan relevansija terhadap ”opgave” zaman atau tuntutan”kebutuhan” perkembangan dari sesuatu masjarakat jang pernah mentjiptakan dan menundjangnja.

Maka dengan demikan identitas daerah , sesuatu jang menentukan tjiri daerah, akan djuga melarut bersamanja? ja, dalam pengertian sebagia satu ”metamorphosis ”, ini berarti bila kita mendapatkan ”identitas” itu dalam tempat dinamis dan bukan dalam tempat jang statsi dan beku. Identitas sesuatu daerah akan tetap ada bagaimanapun mungkin berubah bagaimana jang dipilihnja. Maka persoalan strategi pengembangan budaja den kesenian daerah, saja kira adalah persoalan mengaitkan pada kontak jang bagaimana. Diterima bahwa kehendaknja tidak bisa lain dari konteks Indonesia jang modern jang tidak lagi agraris-tradisionil, tetapi djuga Indonesia jang mengandung unsur-unsur warna seperti sudah ”telandjur”dikenalnja. Maka strategi itu mesti ditekankan pada penjongsongan dan persiapan  kepada keadaan jang demikian. Ini berarti persiapan” over-all” jang tidak kepalang. Persiapkan jang masih dikerdjakan lewat pendidikan dasar hinga universitas serta dialog-dialog umum jang terbuka. Isolasi mesti didobrak, kreativitas individual mesti didorong sebanjak mungkin. Maka sestatus anonom dari kesenian daerah (Atjeh) dengan demikian djuga harus dimulai dihitung hari matinja. Kesemua daerah harus makin muntjul sebagai hasil tjipta dari individu-individu, orang seorang jang memilih lapangan hidupnja sebagai ”seniman”. Kesenian sudah waktunja akan  dilakukan oleh ”seniman-seniman” dan bukan oleh ”petani-petani” jang menari, menjanji atau menulis sebagia bagian dari satu” ritus ”bagi masjarakatnja.

PANITIA PUSAT

PEKAN KEBUDAJAAN ATJEH KE-II

(The 2nd. Atjeh Cultural Festival)

KESENIAN ATJEH. IDENTITAS DAN PENGEMBANGANNJA DALAM RANGKA KEBUDAJAAN NASIONAL

MODERN

O

L

E

H

DRS. DARWIS A. SULAIMAN

PRASARAN

PADA SEMINAR KEBUDAJAAN

DALAM RANGKA PKA-II DAN DIES

NATALIS KE-XI UNIVERSITAS SJIAH KUALA

21 S/D 25 Agustus, tahun 1972.

D

I

BANDA ATJEH

KESENIAN ATJEH, IDENTITAS DAN PENGEMBANGANNJA DALAM RANGKA KEBUDAJAAN NASIONAL MODERN

Oleh : Drs. Darwis A. Sulaiman

PROBLEMA

Dalam hubungan dengan thema seminar jang berbunji Faktor Kebudajaan dalam Pembangunan Daerah. Dan hubungan dengan topic Seminar jang dihadapkan kepada kita sekarang ini, maka menurut hemat kami sekurang-kurangnja terdapat 3 buah pertanjaan pokok jang perlu mendapat djawaban, jaitu :

1.      Bagaimana sesungguhnja identitas dari kesenian Atjeh itu, atau sifat-sifat khas apa dari kesenian Atjeh itu jang membedakan dengan kesenian daerah lain. Pertanjaan itu menundjukkan kepada perlunja peninddjauan terhadap kesenian Atjeh. Dan kiranja perlu pula peninddjauan terhadap latar belakang masjarakat jang telah menghasilkan kesenian-kesenian itu.

2.      Adakah kesenian Atjeh mengalami perkembangan selama ini, dan apabila ada sedjauh mana unsur-unsur kebudajaan modern telah memberi pengaruhnja. Pertanjaan ini menundjukkan kepada perlunja penindjauan terhadap keadaan dan kepada ketjenderungan pengembangan kesenian Atjeh dewasa ini.

3.      Sehubungan dengan thema seminar pertanjaan jang timbul adalah, bagaimana kesenian Atjeh itu harus dikembangkan dalam rangka membangun Atjeh dibidang kulturil jang sedjalan dengan perkembangan kebudajaan Nasional. Dan tentu sadja dalam rangka peningkatan ketahanan Nasional di bidang budaja. Pertanjaan ini menundjukkan kepada perlunja pemikiran terhadap pendidikan kesenian, sebagai salah satu approach kepada prospektif pembinaan faktor budaja.

Dengan kata lain pemabahasan ketiga pertanjaan tersebut di atas akan meliputi peninddjauan masa lampau, masa kini dan masa depan dari pada kesenian Atjeh, suatu usaha jang bukan sadja memang penting tetapi djuga tidak mudah. Dan prasaran ini isinja akan mendjurus kepada ketiga problema tersebut.

KESENIAN ATJEH

Sebelum kami mengemukakan uraian lebih landjut agaknja perlu lebih dahulu diseragamkan pengertian mengenai apa jang dimaksud dengan kesenian Atjeh. Dalam hal ini ingin kami bedakan dua pengertian, jaitu kesenian Atjeh dan kesenian-kesenian  jang terdapat di daerah Atjeh. Kalau jang petama berarti kesenian asli atau spesifik mengenai Atjeh atau kesenian tradisionil jang tumbuh di dalam masjarakat Atjeh seperti halnja kita mengenal adanja kesenian Djawa, kesenian Sunda, kesenian Minang, kesenian Maluku dan sebagainja. Maka jang kedua berarti termasuk pula  didalamnja kesenian-kesenian jang bukan kesenian Atjeh spesifik, pokoknja segala matjam kesenian jang dahulu terutama jang kini terdapat di Atjeh, sekalipun kesenian-kesenian itu adalah kesenian-kesenian dari daerah lain (Minang, Tapanuli dan sebagainja). Jang dikembangkan di daerah Atjeh. Namun tentu sadja tidak semua bentuk seni dapat dibedakan atas dasar lokasi daerah. Sebab seperti seni lukis umpamanja adalah bersifat universil. Kita tidak dapat mengatakan bahwa lukisan-lukisan jang objeknja mengenai Atjeh lalu kita namakan seni lukis Atjeh, dan jang objek lukisan bukan mengenai Atjeh lalu tidak lagi termasuk karja seni lukis Atjeh.

Dalam hal ini maka perbedaan seperti tersebut di atas tidak dapat digunakan. Terhadap seni lukis hanja berarti seni lukis jang berkembang di Atjeh, apakah objeknja mengenai Atjeh atau bukan, dan apakah seniman pelukisnja orang Atjeh atau bukan, bukanlah mendjadi sudut-sudut perbedaan.

Demikian pula dengan seni pahat, seni ukir, dan djuga seni drama, seni photo dan lain-lain. Tegasnja perbedaan jang kami kemukakan di atas, jaitu antara kesenian dan kesenian di Atjeh, adalah mengenai seni sastra, seni tari, dan seni suara/musik sadja.

Selandjutnja kami maksudkan dalam uraian-uraian di bawah ini adalah mengenai kesenian Atjeh dan bukan mengenai kesenian jang terdapat di Atjeh. Ini perlu kami tegaskan oleh karena semakin lama dan dengan semakin bertambah terbuka dan berkembangnja kehidupan sesuatu daerah, maka perbedaan tersebut sudah mendjadi lebih kabur.

IDENTITAS KESENIAN ATJEH

Sembojan Bhineka Tunggal Ika berarti pengakuan bahwa negara Republik Indonesia merupakan keragaman, jaitu keragaman dalam natur dan sosio kultur.

Keragaman itu berarti pula bahwa masing-masing mempunjai identitas sendiri, namun semua matjam keragaman dan segala matjam identitas itu tertudju kepada suatu ikatan kepada suatu kesatuan jaitu Tunggal Ika. Dalam rangka keragaman itulah kita berbitjara mengenai identitas, dimana hal ini, adalah identitas kesenian Atjeh.

Kesenian merupakan media komunikasi. Art is Medium of Communication making community of experience possible (Lihat John Dewey : Art as experience).

Berbitjara mengenai identity kesenian, maka tidak dapat dilepaskan hubungannja dengan masjarakat dimana kesenian itu ditjipta dan tumbuh, oleh karena  sebagai media komunikasi kesenian memantjarkan keadaan masjarakat, atau mengkomunikasikan pengalaman-pengalaman akan keindahan oleh seseorang seniman jang tumbuh dalam sesuatu masjarakat kepada orang lain.

Dalam hubungan ini kita memahami bahwa masjarakat Atjeh ditandai oleh suatu kenjataan jaitu telah memperoleh pengaruh jang kuat dan lama sekali oleh adjaran-adjaran agama Islam. Agama Islam itu telah sangat berpengaruh kepada rakjat Atjeh terutama pada masa dahulu di dalam tata kehidupan tradisionil.

Kejakinan kepada adjaran-adjaran agama Islam dan pengalaman kepadanja adalah sangat mendalam dan sangat kuat di dalam masjarakat Atjeh tradisionil itu, sehingga berbagai aspek kehidupan diliputi oleh djiwa keagamaan. Demikian djuga halnja dalam aspek kehidupan kebudajaan, khususnja kesenian. Masjarakat mengkomunikasikan nilai-nilai keagamaan dalam berbagai-bagai bentuk kesenian. Ini sangat terlihat di dalam seni sastra jang berkembang di Atjeh. Hampir semua sjair-sjair dan hikajat-hikajat mengisahkan tentang tjerita-tjerita jang menjangkut agama Islam, misalnja hikajat Hasan Husin, hikajat Nabi Daud dan lain-lain, disamping hikajat-hikajat jang mengisahkan tjerita-tjerita kepahlawanan. Tjerita-tjerita kepahlawanan itu djuga bernafaskan Islam, misalnja hikajat Prang Sabi dan lain-lain.

Tindjauan tersebut di atas merupakan tindjauan dari sudut Philosofis, jaitu sudut value atau nilai-nilai jang ingin diungkapkan melalui kesenian. Maka atas tindjauan ini berpendapat bahwa identitas dari pada kesenian-kesenian Atjeh adalah religious, atau dengan kata lain salah satu identity dari kesenian-kesenian Atjeh ialah religious Islam.

Terhadap identity ini ingin kami tambahkan bahwa penafsiran-penafsiran terhadap value-value dari pada agama Islam telah memberikan kemungkinan-kemungkinan membuka pintu atu menutup pintu bagi eksistensi kesenian. Di Atjeh kedua kemungkinan itu berlaku, artinja pengaruh Agam Islam belum kemungkinan itu berlaku, artinja pengaruh Agama Islam seakan-akan memberi peluang gerak bagi hidupnja beberapa kesenian tetapi djuga telah membuat beberapa tjabang kesenian tidak mempunjai kesempatan untuk hidup dan berkembang. Adanja penafsiran bahwa Islam tidak membolehkan melukis gambar-gambar photo-photo atau patung-patung dan lain-lain sedjenisnja jang dipandang tabu dan haram telah menjebabkan tidak berkembangnja seni lukis. Penafsiran bahwa njanjian-njanjian, terutama apabila dinjanjikan oleh anak perempuan adalah haram, telah membatasi bagi hak hidup bagi tjabang seni suara. Tidak boleh naik pentas anak laki-laki dan perempuan misalnja untuk suatu tjerita sandiwara, atau untuk menarikan tarian bersama-sama telah menjebabkan tersentak-sentaknja kehendak hidup dari seni drama dan seni tari. Fanatisme terhadap Islam telah mendjadi penghambat bagi kehidupan seni di Atjeh. Keadaan demikian telah berlangsung lama dan tertanam kuat di dalam dada rakjat Atjeh jang konservatif. Sikap konservatisme telah mulai berubah sekalipun pengaruh itu masih terasa sampai kini.

Perlu kami djelaskan bahwa dengan paham konservatifme tersebut di atas adalah paham jang mengharamkan setiap jang berbau seni. Ketjuali dalam bentuk sastra (sjair), seni suara dan seni tari. Terhadap bentuk-bentuk kesenian tersebut menurut hukum Islam terdapat perbedaan-perbedaan pendapat. Ada pendapat jang mengharamkan dan ada pendapat jang membolehkan, masing-masing dengan dalil-dalil dan argumentasi. Prof. H. M. Toha Jahja Umar, M. A. mengatakan bahwa Allah telah memberikan kepada manusia akal dan pantja indera. Kehidupan manusia dapat berkembang madju di dalam segala bidang dengan mempergunakan akal beserta dengan pantja indera. Djadi musik, lagu/njanji dan tari adalah termasuk kebutuhan naluri-naluri dari pantja indera manusia. Prof. Toha Jahja, telah membahas ketiga djenis seni tersebut menurut hukum Islam, dimana setelah membandingkan antara pendapat-pendapat jang membolehkan dan jang mengharamkan, pada akhirnja telah mengambilkan kesimpulan dan menentukan sikap bahwa hukum seni musik, seni suara, dan seni tari dalam Islam adalah mubah (boleh) selama tidak disertai dengan hal-hal lain jang haram. (Prof. H. M. Thoha Jahja Umar M. A. Hukum seni musik, seni suara dan seni tari dalam Islam, Penerbit Widjaja, Jakarta, 1964).

Demikianlah bahwa agam Islam telah mempengaruhi kepada kehidupan seni di Atjeh, dan sekalipun beberapa tjabang kesenian tidak dapat berkembang, tetapi untuk beberapa tjabang kesenian jang dapat hidup dan berkembang telah mendjadikannja sebagai modal komunikasi nilai-nilai Islam. Dan ini kami memandangnja sebagai salah satu identitas dari kesenian Atjeh.

Adapun identitas jang kedua menurut paham kami mengenai kesenian Atjeh adalah bahwa kesenian Atjeh itu bersifat dinamis, maksudnja kesenian Atjeh itu memperlihatkan suasana hidup, suasana jang bersemangat, suasana riang dan gembiran. Sifat ini sangat terlihat pada seni tari. Semua tarian di Atjeh bersemangat, memperlihatkan gerak jang lintjah, jang hidup, berbeda halnja dengan banjak tarian-tarian tradisionil di Djawa jang lembut dan halus. Kita lihat dalam tari Seudati misalnja suasana begitu bersemangat, gerakan-gerakan jang menghentak disertai dengan tepuk dada dan njanjian jang kadang-kadang gemuruh, namun harmonis dan indah. Demkian pula halnja dalam seni sastra, dimana sjair-sjair dan pantun Atjeh, baik jang berdiri sendiri sebagai karja sastra, maupun jang merupakan bagian dari karja tari, senantiasa memperlihatkan suasana jang dinamik. Karena itu kami memandang bahwa sifat seperti itu adalah pula merupakan salah satu dari pada identitas dari kesenian Atjeh tradisionil.

Selandjutnja terdapat satu identitas lainnja dari kesenian Atjeh, jaitu apabila kami mendjangkaunja dari sudut thema jang sering kali disentuh oleh suatu karja kesenian Atjeh, baik karja tari, maupun karja sastra, jaitu bahwa kesenian Atjeh berthemakan kemasjarakatan dan kerakjat djelataan atau berthema kehidupan demokratis. Artinja thema jang terlihat dalam karja kesenian Atjeh mengutamakan faktor kemasjarakatan dari pada faktor individuil, dan mementingkan faktor rakjat djelata, atau kehidupan rakjat sehari-hari dari pada faktor feodal. Identitas tersebut adalah djuga merupakan akibat dari pada pengaruh adjaran Islam, dimana adjaran Islam adalah sangat demokratis sifatnja.

Hampir semua tari Atjeh adalah tarian kelompok atau group dance. Tidak ada tarian jang dilakukan sendiri (oleh satu orang) seperti halnja tarian-tarian pada kesenian Djawa dan Sunda. Sifat kolektivistis ini terlihat pula di dalam kenjataan bahwa kita tidak mengenal siapa pentjipta dari karja-karja seni tradisionil itu. Karja seni telah mendjadi milik bersama. Tidak ditondjolkan identitas individu. Karja seni selalu bersifat anonim.

Demikianlah tiga matjam identitas dari pada kesenian Atjeh, jang kami kemukakan di dalam seminar ini. Selandjutnja di bawah ini akan kami uraiakan mengenai perkembangan kesenian Atjeh, dengan mentjoba meneropong beberapa tjabang dari padanja.

 

PERKEMBANGAN KESENIAN ATJEH.

Agak sulit untuk mendjawab pertanjaan jang berbunji : apakah ada terdjadi perkembangan pada kesenian Atjeh, oleh karena sesungguhnja kehidupan masjarakat itu bersifat terus mendjadi, bersifat dinamis, dan kebudajaan sebagai produk masjarakat adalah pula sesungguhnja bersifat dinamis, sehingga sudah tentu kesenian sebagai hasil karja manusia dalam mengkomunikasikan nilai-nilai dalam kehidupan itu akan bersifat dinamis dan mengalami perkembangannja pula.

Namun kalau kita melihat kepada kenjataan sampai sekarang, seakan-akan tidak ada perkembangan dalam kesenian Atjeh baik dalam tjabang seni suara, seni tari, seni sastra, lebih-lebih seni ukir, seni lukis dan seni drama. Tidak ada perkembangan itu tidaklah berarti kesenian itu telah mati, tetapi memperlihatkan keadaan jang amat statis sekalipun seperti jang telah kami sebutkan ia memiliki identitas jang dinamis. Dalam hubungan itu kami tjenderung kepada kesimpulan bahwa perkembangan kesenian Atjeh adalah amat sedikit dan berkembang lambat sekali, baik keadaan itu pada masa-masa sebelum kemerdekaan maupun sedjak kemerdekaan sampai saat ini, sehingga kesimpulan demikian mengarah kepada kekhawatiran bahwa pabila keadaan seperti ini berlarut akan menudju kepada kenjataan bahwa kesenian Atjeh mengalami masa-masa jang bukan sadja statis tetapi akan tiba pada kematiannja, dan akan sirnalah segenap eksestensinja. Kedengarannja kesimpulan in bernada melancholi. Dan memanglah kami merasakannja demikian, karena semua itu adalah sematjam realitas.

Kesimpulan tersebut di atas kami pandang dari dua sudut, jaitu dari sudut kwantitas seniman dan karja seni, dan dari sudut perubahan jang terdjadi pada setiap karja seni jang telah ada. Disini kami akan mentjoba menundjukkan beberapa tanggapan mengenai keadaan beberapa tjabang kesenian Atjeh.

Seni sastra. Dalam bidang seni sastra dapatlah bahwa daerah Atjeh hanja mengenal puisi lama dalam bentuk sjair. Sebagai salah satu unsur sastra Arab, maka sjair jang disebut nalon Atjeh telah berkembang dalam sastra Atjeh lama jang disusun dalam bentuk hikajat. Kita mengenal karja-karja sastras berupa : Hikajat Prang Sabe, jang bernafaskan agama dan kepahlawanan, Hikajat Nun Parisi, Hikajat Asai Pase jang berthemakan sejaran, Hikajat Malem Diwa, Hikajat Putroe Baren, Hikajat Gumbak Meuh, Hikajat Putroe Bungong Jeumpa, Hikajat Malem Dagang, Hikajat Indrapatra, Hikajat Prang Kompeuni, Hikajat Peulandok Kantje, dan sebagainja. Disamping sjair, terdapat pula pantun dan hadih madja. Hadih madja jaitu peribahasa Bahasa Atjeh, jang banjak digemari oleh masjarakat dahulu, tetapi oleh masjarakat Atjeh sekarang kurang mendapat perhatian, terutama generasi muda tidak banjak jang mengenalnja.

Sedjalan dengan pantun Melaju, pantun Atjeh telah lama tumbuh dalam masjarakat Atjeh.

Pantun (dan djuga sjair) Atjeh memakai ketentuan-ketentuan seperti jang terdapat dalam pantun melaju, dengan demikian dikatakan oleh Alm. H. Abdullah Arief, seorang sastrawan Atjeh jang produktif. Katakan selandjutnja bahwa dalam sastra Atjeh sedjak dahulu sampai sekarang rangkuman-rangkuman pantun itu telah terdapat beratus-ratus bahkan beribu-ribu. Akan tetapi demikian katanja, belum ada satupun pantun-pantu itu mendjadi sebuah buku untuk mendjadi batjaan umum, sampai dengan tahun 1958 dimana beliau sendiri mulai menerbitkan buku-buku pantun Atjeh jang terdiri dari tiga djilid jaitu (1). Panton Aneuk Miet, (2). Panton Aneuk Muda (Muda-Mudi) adn (3). Panton Ureung Tuha (lihat tulisan Abdullah Arief: Perbandingan pantun Melaju dan pantun, Alamank Umum, 1959).

Mengenai perkembangan pantun Atjeh dikatakan sama dengan perkembangan pantu Melaju, jaitu mengikuti perkembangan jang tertegun-tegun sebab sebahagian masjarakat memandang rendah dan hina. Malahan ada pula jang menganggap bahwa njanjian dengan pantun-pantun itu adalah njanjian Setan dan Iblis, meskipun pandangan serupa itu dapat dipandang sebagai suatu sikap jang sangat fanatik.

Atjeh pada zaman jajanja keradjaan memiliki banjak pudjangga-pudjangga Islam, salah seorang jang terkenal ialah Hamzah Fansuri, jang oleh Sajed Muhammad Naquib Al-Attas, Professor Bahasa dan Kesusteraan Melaju dan Universiti Kebangsaan Malaysia, pada pidato pengukuhan sebagai guru besar mengatakan bahwa, Hamzah Fansuri harus diakui sebagai bapak kesusteraan Melaju Modern, oleh karena beliaulah orang jang pertama menggunakan bahasa Melaju dengan setjara rasional dan sistematis, jang dengan inteleknja merangkum keindahan, pikiran murni jang dikandungnja dalam bahasa jang telah diper-olah-kan hingga sanggup berdaja menjusul lintasan alam pikiran jang berani menempuh suajana lautan falsafah (Lihat buku beliau: Islam Dalam Sedjarah dan Kebudajaan Melaju, Penerbit Universiti kebangsaan Melaju, Malaysia, Kuala Lumpur, 1972, hal. 46).

Akan tetapi pada zaman sekarang Atjeh tidak lagi menghasilkan pudjangga besar seperti itu, baik dalam sastera Atjeh, maupun sastra Indonesia.

Dengan tidak mengurangi usaha dari beberapa orang peminat sastra Atjeh seperti H. Abdullah Arief, Alm. Drs. Araby Ahmad, A. Gani mahmud Leubu, dan beberapa nama lainnja jang produktif menulis sjair dan pantun-pantun Atjeh dapat kita katakan bahwa Islam dalam sastra Atjeh inipun perkembangannja sangat sedikit. Pada permulaan kemerdekaan dalam bidang ini agak menondjol dan banjak buku-buku telah diterbitkan. Malah pada masa Belanda bahasa Atjeh telah didjadikan sebagai mata peladjaran di sekolah, dan telah dikarang buku-buku batjaan untuk itu seperti buku Lhee Saboh Nang karangan H. Abu Bakar Atjeh dan lain-lain beberapa buku batjaan lainnja. Akan tetapi usaha itu sekarang ini mendjadi amat berkurang kalaulah tidak dikatakan tidak ada sama sekali. Seakan-akan minat kepada sastra Atjeh mendjadi sangat berkurang, terutama pada generasi muda. Bahasa Atjeh lalu seolah-olah hanja berfungsi sebagai bahasa pergaulan dan bukan sebagai bahasa sastra atau bahasa ilmu.

Seni tari. Disamping seni sastra, maka bentuk kesenian jang banjak terdapat di Atjeh ialah seni tari. Bermatjam-matjam tarian terdapat di Atjeh, akan tetapi sebagai tarian tradisionil perkembangannja hanja terbatas kepada lingkungan masing-masing. Djadi bersifat lokal. Umpanja tari Pho hanja berkembang di Atjeh Barat dan Selatan sadja. Tari Reusam Beureume dan Tari Guel hanja berkembang dalam lingkungan Atjeh Tengah. Tari Bines hanja berkembang di Atjeh Tenggara dan tarian-tarian daerah lainnja jang hanja di kenal dalam lingkungan tertentu. Diantara tarian tradisionil Atjeh hanja seni Seudati jang dikenal luas; dan perkembangannja jang berkembang luas ialah di Atjeh Utara dan Pidie. Tari-tari seperti Ranub Lampuan, Tarek Pukat, puntja utama dan lain-lain merupakan tarian-tarian Atjeh jang kreasi baru jang mulai dikenal luas, tetapi bukanlah merupakan milik suatu daerah tertentu. Dilihat kepada kuantitas karja di bidang tari tradisionil dapat dikatakan bahwa seni tari di Atjeh mendapat tempat jang baik, namun demikian seniman-seniman jang menondjol dalam bidang ini tidak banjak. Seperti telah disebut di atas bahwa seni tari lebih merupakan kreasi daerah setempat dan bukan merupakan kreasi-kreasi jang berkembang luas di seluruh Atjeh. Karenanja maka perkembangnnja sangat terbatas. Demikian pula di lihat dari perkembangan masing-masing djenis tarian hampir-hampir tidak ada. Tari Pho dimainkan tetap seperti itu-itu sadja, tanpa variasi. Demikian pula tarian-tarian tradisionil jang lain, ketjuali Seudati jang mulai diberikan variasi-variasi, namun menurut kami masih terbatas di dalam gerak, formasi dan njanjian. Perkumpulan-perkumpulan tari jang bergerak khusus untuk pengembangan tjabang seni tari itu hanja beberapa, diantaranja jang terbanjak ialah perkumpulan Seudati. Bermatjam-matjam tarian Atjeh lebih merupakan sebagai ”simpanan seni” sebagai pakaian jang tersimpan baik di dalam lemari, tinggal dipakai apabila diperlukan, jang biasanja pada peristiwa-peristiwa keramaian atau ulang tahun pada Pekan Kebudajaan Atjeh seperti sekarang ini dan sebagainja.

Seni Suara. Seni suara dalam kesenian Atjeh bukanlah suatu tjabang kesenian jang berdiri sendiri. Ia lebih merupakan bagian dari pada seni sastra dan seni tari. Sebab jang dinjanjikan adalah sjair-sjair atau pantun-pantun, jang keadaannja tetap polos tidak mempunjai variasi di dalam nama dan rithme. Menjanjikan sebuah sjair atau pantun dapat dilakukan walau beberapa sadja, pandjangnja sjair atau pantun itu dengan nama dan rithme jang berulang-ulang. Dan menjandjikan sjair atau sebuah pantun tidak pula berdiri sendiri, biasa dilakukan dalam tari jaitu sebagai njanjian peningkah gerak tari tersebut. Umpanja menjandjikan sjair-sjair atau pantun-pantun dalam Seudati, dalam tari Pho, tari-tari Tarik Pukat, Tari Tob Pade dan sebagainja. Dengan kata lain seni vokal dalam kesenian Atjeh tradisionil dalam arti memakai tangga nada, dapat disebut tidak dikenal.

Seni Ukir. Dengan perasaan kehilangan kita terpaksa mengatakan bahwa seni ukir di Atjeh jang riwajatnja pada zaman dahulu merupakan satu kesenian jang hidup di tengah-tengah rakjat Atjeh. Pada masa kini kesenian tersebut benar-benar seperti telah mati. Mengukir, mengajam, merajut, hanja tinggal sisa-sisa dari kepandaian jang dahulu telah banjak memberi bukti. Sulit untuk mendapatkan seniman-seniman muda jang mampu membuat kopiah meukutop, membuat tjeradi dan bermatjam-matjam perlengkapan lainnja untuk pelaminan Atjeh, membuat anjaman tikar Atjeh, mengukir bangunan-bangunan pada rumah, masjid, mengukir perhiasan mas dan lain-lain.

Seni Lukis. Suatu pengaruh terhadap masjarakat Atjeh, jang menurut paham kami bersifat negatif terhadap perkembangan seni lukis adalah pandangan jang menganggap bahwa melukis itu tidak boleh, membuat gambar-gambar menusia di pandang haram. Barangkali pandangan demikianlah jang telah membuat kenjataan bahwa seni lukis mendjadi tidak ada bukti sebagai suatu tjabang jang hidup dalam masjarakat Atjeh tradisionil. Sjukurlah bahwa pandangan itu sudah banjak berubah kalaulah belum dapat kita sebutkan sebagai sebagai telah berubah sama sekali, pada masa sekarang ini, karena telah terbukti kegiatan-kegiatan seni lukis mulai hidup di tengah-tengah generasi muda. Telah muntjul generasi-generasi muda. Telah muntjul pelukis-pelukis muda jang berbakat, misalnja jang tergabung dalam Apelmud di Banda Atjeh (anggatan pelukis muda) jang memerlukan bimbingan dan motivasi guna memupuk mereka mendjadi seniman kreatif.

Seni Drama. Drama sebagai pertundjukan suatu tjerita merupakan tempat penemuan beberapa tjabang kesenian jang lain mendjadi suatu harmoni. Terlihat di dalamnja seni sastra, seni peran, kadang-kadang seni tari, seni deklamasi, seni suara dan djuga seni lukis guna membangkit effek dalam tata dekor, serta hampir senantiasa diiringi oleh seni musik, sehingga karena itu ada jang mengatakan bahwa drama bertemulah seluruh kesenian dan mentjapai puntjaknja, dan karenanja pula maka sebuah drama merupakan hasil karja dari lebih dari hanja seorang seniman. Charlottte Cushman mengatakan tentang seni dram sebagai berikut; semua seni saja sukai, tetapi dari segalanjalah jang paling menarik hati saja, sebab disenilah seluruh seni bertemu dan mentjapai puntjaknja….. Tuhan mentjiptakan alam: menurut saja hal ini adalah puisi. Ia memberi bentuk kepada tjiptaannja dan lahirlah seni pahat. Ia memberi warna kepada pemandangan, mulailah seni lukis. Ia menempatkan makhluk-makhluk hidup di atas bumi dan sedjak saat itu mulai drama jang besar dan besar dan abadi. (Lihat David Koning, 200 tahun teater hal 13). Di dalam drama akan berpadu pula beberapa unsur, jaitu unsur budi (Intelectual Element), unsur perasaan (Emotional Element), Unsur Imaginasi (Element of Imagination) dan unsur gaja (The Technical Element) or The element of Composition and style), (batja W. H. Hudson, An Introduction to the Study of Li terature).

Tentu bahwa perasaan ini bukan tempat membahas teori drama atau teori bermatjam-matjam kesenian, tetapi melalui uraian di atas kami ingin mengatakan bahwa di Atjeh seni dramapun tidak mengalami perkembangan. Nama lain unsur drama dahulu dikenal dengan sandiwara. Dalam suatu lakon sandiwara biasanja terlihat peran-peran dari manusia laki-laki dan perempuan. Keadaan seperti itu belum dapat diterima oleh masjarakat Atjeh lama. Karenanja maka tjabang seni sandiwara itu tidak pula berkembang pada masa-masa itu. Namun setelah kemerdekaan sandiwara dan sekarang drama, mulai tumbuh namun pertumbuhannja pun mengalami kelambatan dan bertegun-tegun. Sudah tentu antara lain disebabkan karena kurang mampu mempergunakan semua tjabang kesenian di dalamnja, karena tidak berkembangnja masing-masing tjabang kesenian itu dengan baik.

Demikianlah kami telah mentjoba memberi tanggapan terhadap bagaimana keadaan beberapa tjabang kesenian Atjeh guna mentjoba menundjukkan perkembangannja, dimana sebagai telah kami simpulkan dimuka bahwa perkembangan kesenian Atjeh amat lambar sekali, disamping banjaknja pula jang memang tidak berkembang. Seperti telah kami singgung di atas barangkali uraian kami mengenai hal ini sangat bernada melancholis, namun ini tidaklah berarti tidak terkandung perasaan optimistis, oleh karena menjadari bahwa waktu belum terlambat dan hari depan masih pandjang membentang.

KEBUDAJAAN MODERN

Pada bagian ini kami ingin menjinggung mengenai kebudajaan modern atau tepatnja mengenai modernisasi untuk mendjawab pertanjaan sedjauh mana kebudajaan modern telah memberi pengaruhnja kepada kesenian Atjeh. Kebudajaan modern umumnja dihubungkan dengan ilmu pengetahuan dan technologi, oleh karena dalam proses modernisasi itu ilmu pengetahuan dan technologi memainkan peranan jang penting. Dapat dibedakan dua matjam kebudajaan modern. Pola pertama ialah jang menolak sama sekali sesuatu jang lama, menolak tradisi, sebaliknja hanja menerima sesuatu jang baru. Pola jang kedua merupakan penjesuaian antara jang lama dengan jang baru. (Batja Prof. Harsojo, Tradisi dan Modernisasi Dalam Pembangunan Masjarakat Indonesia).

Pola pertama berpangkal pada tjara berfikir mengutamakan sikap mental masjarakat Barat, masjarakat jang mengutamakan kemadjuan industri. Pola kedua berpangkal kepada masjarakat tradisionil jang kan dimodernisir, dimana unsur-unsur modern diterapkan di dalam masjarakat tersebut, sehingga pola-pola kebudajaan jang telah menetap disesuaikan dengan pola-pola baru melalui approach ilmu pengetahuan dan technologi. (Batja Neils Mulder: Prospektif terhadap Modernisasi, Madjalah Basis No. XX. Nop. 70).

Masjarakat Indonesia sedang mengalami proses modernisasi. Demikian pula masjarakat Atjeh dengan demikian pola-pola kebudajaan sedang mengalami proses modernisasi pula. Dengan proses tersebut berarti bahwa kebudajaan Atjeh mulai dipengaruhi oleh unsur-unsur modern. Sedjauh mana unsur-unsur tersebut telah memberikan pengaruhnja kepada kesenian Atjeh hanja dapat diketahui dengan menganalisasi perkembangan kesenian Atjeh dewasa ini. Masjarakat Atjeh sebelumnja merupakan masjarakat jang tertutup, kini sedang mengalami proses terbuka. Proses terbuka ini tidak tjepat melainkan bedjalan amat lambat, seraja masih terkandung rasa takut-takut dan prasangka kepada segala sesuatu jang dikatakan modern. Pengaruh modern ini telah meresap dalam kehidupan rakjat sehari-hari terutama di kota-kota. Namun pengaruh itu datangnja tanpa disengaja dan berentjana, malah kadang-kadang tanpa disadari, ketjuali proses jang berlangsung melalui pendidikan di sekolah. Terhadap kehidupan kesenian, menurut hemat kami pengaruh itu belum banjak. Masih sangat terbatas kepada penggunaan alat-alat teknis seperti memakai mikrophon, tape recorder, dan alat-alat teknis lainnja untuk keperluan pelengkap bagi suatu atjara kesenian.

Pengaruh itu belum memasuki isi kesenian ini sendiri. Kalaupun ada maka bentuk-bentuk jang baru jang muntjul merupakan imitasi-imitasi, maksud kami belum didasarkan kepada perkembangan dan technologi jang njatanja setiap orang mengalami perkembangannja. Kesimpulan seperti ini melihat kepada kenjataan bahwa perkembangan kesenian di Atjeh sangt lambat dan bahwa kegiatan-kegiatan di bidang ini tidak melalui proses-proses pendidikan.

Sedikit mengenai pendidikan kesenian itu ingin kami kemukakan disini, jaitu bahwa pendidikan kesenian itu penting, bukan sadja agar supaja seseorang mampu mentjiptakan karja-karja kesenian, tetapi djuga agar supaja seseorang itu mampu ikut serta mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman siseniman, mampu menghajati, berapresiasi terhadap nilai-nilai jang terkandung di dalam karja seni siseniman itu. Dengan demikian akan terbentuklah emosi dan affectivitas. Tepatlah seperti dikatakan oleh Susanne K. Langer bahwa: Education of Art is education of feeling. Forgetting of Art means stopping to build human emotion” (Batja Susanne K. Langer; The Cultural Importance of Art).

Emosi dan affectivitas merupakan unsur pokok dalam mengalami karja kesenian: Dalam berhadapan dengan karja kesenian, bukan sadja dimengerti dengan pikiran, tetapi haruslah semua dimensi kemanusiaan diikut sertakan. Karena itu untuk dapat memahami karja kesenian, untuk dapat berkomunikasi dengan isi dan nilai-nilai kesenian itu serta untuk dapat mengembangkan appresiasi itu diadakan.

Dengan berkesimpulan demikian maka persoalan jang kemudian lalu timbul adalah apakah kesenian Atjeh perlu dimodernisir? Dan apabila di djawab adalah perlu, lalu apakah modernisasi itu dilakukan dengan menanggalkan sama sekali pola-pola tradisionil ataukah dengan mendjalani proses integrasi antara tradisi, nasional dan modern.

Kami berpendapat bahwa jang terakhir itulah jang seharusnja dilakukan, oleh karena pengembangan kesenian daerah daerah adalah dalam rangka pembinaan kesenian (Kebudajaan) nasional, dan oleh karena unsur tradisionil adalah pula merupakan dasar bagi pembangunan. Berbitjara mengenai pembangunan dan modernisasi, maka sesuai dengan perdjuangan bangsa Indonesia sekarang ini, pertanjaan selandjutnja jang dihadapkan kepada kita adalah bukan hanja bagaimana kita dapat membangun dan modernisir masjarakat, tetapi djuga bagaimana kita dapat membangun dengan lebih tjepat. Dengan kata lain ialah bagaimana pembangunan dan modernisasi itu dapat diakselerasikan.

MEMBANGUN KESENIAN ATJEH

Apabila kita telah sepakat dan mempunjai pengertian jang sama untuk membangun dan modernisasi kesenian Atjeh, dan telah sama-sama menjadari bahwa mengakselerasikan pembangunan dan modernisasi kesenian Atjeh dalam skope pembangunan kulturil nasional itu adalah merupakan kebutuhan jang mendesak, maka dihadapan kita akan terpampang persoalan, jaitu bagaimana semua itu dilakukan, jaitu bagaimana kesenian Atjeh itu dibangun dengan tjepat, dimodernisir  dan berintegrasi dengan kebudajaan Nasional.

Dalam seminar ini kami akan mentjoba memberikan beberapa pendapat kerah itu, jaitu :

1.      Membangun dan memodernisir kesenian Atjeh haruslah dengan mempertimbangkan bahwa

a.       Semua itu dilakukan dalam rangka integrasi dengan kebudajaan nasional.

b.      Semua itu dilakukan dalam rangka ketahanan nasional di bidang kulturil.

c.       Tidak menghilangkan unsur-unsur tradisionil.

d.      Tidak menghilangkan identity kesenian Atjeh.

2.      Membangun da memodernisir kesenian Atjeh menuntut adanja perhatian jang sungguh-sungguh, dan aktivitas jang banjak dan berentjana dalam bidang ini. Dalam hubungan ini maka perlu ditempuh usaha-usaha :

a.       Pendidikan kesenian dengan mengintensifkan pelaksanaan Kurikulum sekolah di bidang ini, membuka kursus-kursus dan merangsang serta membimbing par seniman jang berbakat mendjadi seniman muslim jang kreatif.

b.      Memperbanjak aktivitas-aktivitas teknis untuk itu, sehingga dapat berkembang appresiasi mesjarakat terhadap kesenian.

c.       Perlu dibentuk suatu Badan Pembina Kesenian jang bertugas membimbing dan mendorong Lembaga-lembaga Kebudajaan jang terdapat di dalam masjarakat serta para seniman untuk berkarja. Demikian djuga untuk mengevaluir karja kultril tersebut. Terutama terhadap pengaruh jang dapat mengganggu stabilitas ketahanan nasional.

d.      Perlu diperbesar partisipasi intelektuil di dalam pembinaan kesenian, sebab tanpa partisipasi itu tidak dapat diharapkan proses edukasi kesenian akan mentjapai sasarannja dengan berhasil.

e.       Perlu adanja sesekali diadakan cultural exchange sehingga terdjadi kontak dan komperasi-komperasi kulturil jang luas, dimana hal itu mendjadi faktor penting bagi tumbuhnja kreasi-kreasi baru dan bai usaha-usaha memperluas tjakrawala culturil.

f.       Perlu diusahakan kesamaan pola pikiran dan kesempatan dalam kegiatan antara para ulama disatu pihak dan para seniman serta pembina seni dilain pihak mengenai eksistensi kesenian sehingga para seniman dapat mengembangkan kreasinja tanpa prasangka, dan para ulama dapat memberikan partisipasi langsung di dalam pembinaan kesenian Atjeh modern jang mengandung nilai-nilai moral jang tinggi, jang tidak bertentangan atau melanggar adjaran-adjaran agama Islam, tanpa dirasakan sebagai ”hukuman-hukuman” terhadap kreasi oleh seniman-seniman kreatif. Sering kali dipandang bahwa modern bertentangan dengan adjaran agama Islam, sehingga jang bernafas modern dipandang haram. Sebaliknja sering kali Islam disalah tafsirkan, seolah-olah Islam itu tidak dapat menjesuaikan diri dengan modernisasi, pada agama Islam sebagai sebuah agama jang di dalam adjarannja tidak memisahkan ilmu dan iman adalah merupakan agent of modernization jang besar dan kuat. (Batja Muhammad Quth: Islam The Misunderstood Religion, Kuwait, 1964).

Demikianlah beberapa sumbangan pikiran jang dapat kami sampaikan untuk mendjadi bahan-bahan pembahasan dalam seminar ini, moga-moga mengandung manfaat. Disamping itu kami tidak lupa memohon maaf apabila terdapat kesalahan atau kedjanggalan dalam prasaran kami ini. Namun justeru kami berpendapat bahwa kesalahan-kesalahan dan kedjanggalan itu akan mengundang tumbuhnja diskusi.

Terima kasih.

PANITIA PUSAT

PEKAN KEBUDAJAAN ATJEH KE-II

(The 2nd. Atjeh Cultural Festival)

KESENIAN ATJEH. IDENTITAS DAN PENGEMBANGANNJA DALAM RANGKA KEBUDAJAAN NASIONAL

MODERN

O

L

E

H

L. K. ARA

PRASARAN

PADA SEMINAR KEBUDAJAAN

DALAM RANGKA PKA-II DAN DIES

NATALIS KE-XI UNIVERSITAS SJIAH KUALA

21 S/D 25 Agustus, tahun 1972.

D

I

BANDA ATJEH

KESENIAN ATJEH. IDENTITAS DAN PENGEMBANGANNJA

DALAM RANGKA KEBUDAJAAN NASIONAL MODERN.

Oleh : L. K. Ara.

KESENIAN ATJEH AKAN MATI?

 

Dari djudul pembitjaraan jang merupakan pertanjaan ini paling tidak akan menimbulkan dua kemungkinan. Jang pertama ialah apabila kesenian Atjeh akan mati bagaimana mengubutnja. Dan kemungkinan lainnja ialah apabila kesenian Atjeh akan mati bagaimana merawatnja agar ia tetap hidup.

Sebenarnja sedjak Pekan Kebudajaan Atjeh ke I tahun 1958 kita telah tjoba menjadari bahwa kesenian Atjeh tengah menghadapi kemundurannja. Bahkan saat itu dikatakan bahwa pendidikan rusak dan kebudajaan menjelang masa pudarnja. Ini terdjadi disebabkan beberapa hal. Antara lain pada waktu itu bermatjam-matjam pertikaian dan peristiwa telah mendjadi penjebab.

Kemunduran ini diketahui saat itu karena sebelumnja kita mempeladjari dari sedjarah bahwa Atjeh mempunjai kesenian jang tinggi. Seni kerajinan tangan, pertukangan hingga anjam-menganjam bagus mutunja. Begitu djuga seni sastra, serta seni tari pernah menduduki tempat jang patut dibanggakan. Begitulah kita ketahui Hamzah Fansuri sebagai penjair misalnj, jang dikenal dikalangan sedjarah kesusteraan Indonesia sebagai tokokh penjair kenamaan.

Lapangan seni rupa mendapat tempat jang tersendiri dan dapat dipudjikan dalam lapangan seni ukir. Seni menghias jang peninggalannja lewat beberapa monument seperti mesjid dan rumah-rumah tradisionil Atjeh masih dapat berbitjara banjak kepada kita. Memang benar seni patung tidak berkembang di Atjeh namun seni hias begitu derasnja mengalir hingga mungkin mentjapai puntjaknja jang tertinggi disini. Agaknja ini dapat diterima akal karena seni hias ini dapat menampung apa jang mendapat hambatan pada keinginan pentjipta pada seni patu tadi.

Apa jang pernah kita sadari 14 tahun jang lalu bahwa kesenian Atjeh mengalami kemunduran kini di tahun 1972 ini pengalaman kesadaran itu berulang lagi. Kini kita menjadari dalam kata-kata saudara A. Muzakkir Walad ”Tjatatan sedjarah mengenai perang Atjeh, alat-alat kesenian serta karja seni Atjeh dan tjatatan-tjatatan mengenai karja seni itu, dapat dikatakan sekarang tidak ada warisan lagi”. Malah dalam kata sambutan Gubernur Kepala Daerah Atjeh itu pada pelantikan Panitia Pekan Kebudajaan Atjeh ke II tanggal 30 Maret 1972 memberikan tjontoh-tjontoh jang lebih mendetail sifatnja.

Kata Gubernur : Apabila orang-orang jang membuat kupiah meukutop misalnja atau orang-orang jang membundjikan seurunee kalee jang sekarang ini hanja dilakukan oleh beberapa orang jang sudah sangat tua, tidak diusahakan mengembangkannja kembali kepada generasi jang lebih muda, barangkali ada kemungkinan semua sisa-sisa itu akan lenjap pula.

Tentang kemunduran kesenian Atjeh kelihatannja kini kita mengetahui lebih terperintji. Barangkali sedjak 14 tahun sesudah Pekan Kebudajaan Atjeh ke I kita memang belum banjak dapat berbuat tetapi hanja mungkin melihat dan merenung diri sendiri. Melihat kekurangan-kekurangan kita, mentjatatnja kemudian mengedepankannja pada Pekan Kebudajaan Atjeh ke II ini.

Bahaja jang akan mengantjam kesenian tradisionil kita kini lebih kita kenal. Lebih kita resapkan. Kita mengetahui sekarang kesenian Atjeh dapat segera lenjap dan musnah kalau tidak ada pemeliharaan.

Djika telah sampai pada keinginan pada pemeliharaan menurut hemat saja kita telah sampai pada basis pokok, untuk menghidupkan kesenian. Menurut kenjataannja enggak mudah djika jang harus dipelihara hanjalah bangunan dan lingkungan alam. Dan kita mengalami kesulitan djika masalahnja menjangkut pada apa jang kita sebut dengan kesenian. Kita semua mengetahui bangunan atau lingkungan alam merupakan benda jang diam dan kesenian sesuatu jang bergerak hidup. Kita mengetahui perbedaan memelihara benda Budaja Gunongan dengan Tari Seudti. Begitu djuga memelihara Pin Khop akan lebih mudah dibandingkan dengan memelihara Tari Pho. Pa jang pertama kita tjukup memagari, membersihkan dan mentjatat sesekali dalam jangka waktu bertahun-tahun sedang pada jang kedua kita harus mendjadi akan tempat latihan, manusianja untuk dilatih dan lebih dari semua itu ialah minat. Kitapun semua mengetahui kalau kesenian mau hidup terus harus mempunjai pertautan dengan masjarakat dan dilaksanakan oleh masjarat disekitar dimana kesenian itu tumbuh dan berkembang. Kesenian itu datang dari masjarakat untuk masjarakat dan dilaksanakan oleh masjarakat itu sendiri pula.

Djika ada sesuatu jang paling bertanggung djawab untuk memadjukan kesenian adalah seniman itu sendiri. Kelihatannja dalam keadaan tertentu dimana keadaaan ekonomi belum baik ia tentu akan banjak mengalami kesukaran-kesukaran. Tetapi ia memang harus bertahan dan berdiri paling depan untuk memperdjuangkan hak hidup kesenian itu. Seniman disini kelihatannja harus tahan uji jang berhama otjehan bahkan tjatji maki. Dan untuk kehidupannja ia harus berani menderita dalam kemiskinan. Ini wadjar karena dari hasil karja seninja ia tak dapat menutupi keperluan hidupnja. Bahwa ia harus dapat menahan lapar itu sudah pasti. Dan itu adalah akibat dari pekerdjaan jang dihadapinja jang non komersil.

Djika ia seorang penari misalnja ia harus datang kelatihan sampai akrab dengan tarian itu dan untuk itu harus melupakan panas matahari dan hujan karena ia memang barangkali harus djalan kaki menempuh jarak antara rumah dan tempat latihan.

Begitu djuga seorang penjair jang melukiskan sadjak-sadjaknja ia tidak boleh begitu banjak berharap untuk dapat dimengerti puisi-puisinja oleh masjarakat, apalagi uang dari penulisan puisi-puisi itu. Malah ia harus turun ke tengah-tengah masjarakat membatjakan puisi-puisinja seperti seorang pawang membawakan hikajat-hikajatnja. Dan dari penonton djangan diharapkan apa-apa ketjuali perhatian. Itu sudah tjukup.

Tidak aneh kalau seniman akan mengadakan pertundjukan misalnja ia harus bekerdja sebagai pemain, merangkap mengurus peralatan pentas dan djuga sekaligus harus mengangkat kursi untuk tempat duduk penonton. Pokoknja ia harus bekerdja setjara keras. Karena itu ia harus melupakan atap rumahnja, dan menjual hartanja termasuk baju atau tjelananja untuk menutupi kerugian malam pertundjukan. Karena sudah dapat dipastikan ia selalu merugi karena penonton tidak ada atau kalau penonton ada kurang suka membeli kartjis.

Dalam hal ini ada suatu jang dipertahankannja jaitu mendjaga kelastarian agar tetap hidup. Menahan apresiasi kepada kepada masjarakat tidak mudah semudah jang diperkirakan orang. Mungkin sekali masjarakat memerlukan seluruh hajat seniman itu sendiri.

Tentu dapat diduga bahwa banjak seniman-seniman jang lemah iman. Dan seniman demikan akan lebih banjak melibat kepada kemungkinan untuk mendapat fasilitas. Ia mengharapkan tempat-tempat pekerdja kesenian dapat disediakan oleh pemerintah. Ia menginginkan adanja tempat-tempat latihan untuk semua bentuk kesenian. Ia menginginkan sangar untuk pelukis, ia memerlukan media jang baik untuk penjiaran hasil seninja. Bahkan ia mengidamkan gedung kesenian barangkali boleh dikatakan pada kondisi sekarang memang seniman harus banjak menjadari bahwa izin dari pemerintah mengadakan pergelaran kesenian sadja sudah tjukup. Karena pemerintah terlalu banjak urusannja. Ia sangat repot dengan bidang-bidang  jang lebih mendesak sifatnja. Memperbaiki djalan misalnja adalah salah satu tjontoh jang sangat dekat dengan keperluan rakjat. Dan ini memberi keuntungan bagi lantjarnja perekonomian kita.

Memang ada dikatakan pembangunan materi hendaknja sedjalan dengan pembangunan spirituil. Dan dalam hal inilah kembali seniman harus lebih banjak memperlihatkan bukti-bukti bahwa ia bekerdja. Dan ia memerlukan tempat untuk bekerdja itu. Djika pemerintah sudah melihat bahwa keperluan gedung kesenian misalnja sudah lama pentingnja dengan djalan maka pada saatnja seniman akan mendapat bagiannja. Dan untuk itu tidak ada djalan lain ketjuali seniman bekerdja tanpa pamrih.

Dan sebaliknja pemerintah djuga tidak usah heran djika misalnja ada group kesenian jang bermain dalam alam terbuka. Di tengah djalan atau dimana sadja mereka dapat menampilkan dirinja. Dimana publik mau datang maka disitulah mereka menampilkan apa jang ingin dinjatakannja. Sehingga boleh djadi mereka penuh keringat oleh panas terik atau basah kujup oleh hujan.

Dan barangkali sudah saatnja untuk bukan lagi manusia jang harus mengabdi seni tetapi seni itu sendiri jang didjadikan daerah dimana orang akan bisa lebih hidup, lebih merdeka. Dengan kesenian itu mereka lebih sadar diri dan barangkali lebih bahagia.

Seorang seniman seurunee kalee jang mulai meniup alat musiknja sedjak usia belasan tahun hingga ia mempunjai tetap bertahan pada pekerdjaannja sebagai pemusik jang setia. Tjontoh seperti ini ada, meski jumlahnja tidak banjak. Dan tjontoh tersebut tidak hanja kita ketemukan pada lapangan seni suara tetapi djuga masih dapat ditjari pada bentuk-bentuk seni lainnja. Seorang penari jang setia masih dapat kita temukan. Begitu djuga seorang jang mengabdi dalam lapangan seni tradisionil.

Satu hal jang amat djelas ialah baha tokoh-tokoh kesenian tradisionil itu kini usianja sudah sangat tua. Tidak mengherankan apabila. Kesenian tradisionil Atjeh akan segera hilang apabila pemeliharaannja tidak dilakukan setjepat mungkin. Bolehlah dikatakan lebih dulu mengumpulkan pusaka-pusaka lama jang kini terdapat pada generasi tua atau kita akan kedahuluan oleh maut jang merengut generasi tua.

Barangkali tidak ada orang jang menolak bahwa peninggalan lama itu penting artinja, tapi tidak pula bisa dipungkiri bahwa orang jang mau menjediakan diri untuk mengumpulkan dan memelihara jang lama itu sangat sedikit jumlahnja.

Dibeberapa negara ada pengakuan seniman bahwa banjak orang-orang tua mereka sekarang jang tidak mempunjai perhatian pada pemeliharaam warisan kebudajaan negaranja. Dan seniman tersebut mengakui bahwa tanpa initiatif dan tjontoh baik mereka dalam pemeliharaan tersebut generasi tua tentu tidak pantas mengharap terlalu banjak dari orang-orang muda. Inilah soal rumit sekarang, kata mereka.

Kalau boleh kita mengakui apa jang terdjadi pada diri kita sekarang inipun adalah bahwa banjak hal orang tua itu tidak memperlihatkan keperluan pengurusan kesenian sebab barangkali mereka memang tidak mampu mengerti nilai warisan.

Dan apa jang terdjadi pada seniman sekarang memang harus mempeladjari djiwa dan arti seni jang lebih kuno. Dan untuk ini kelihatannja mereka harus banjak mentjari djalannja sendiri. Tentu dapat menimbulkan pertanjaan mengapa mereka harus mempeladjari jang kuno. Paling tidak satu hal jang akan bermanfaat bagi mereka jakni untuk mendjaga supaja seniman-seniman djangan hanja meniru kesenian jang datangnja dari luar.

Dalam hal inipun sudah tentu pemeliharaan kesenian sudah pasti dapat membantu. Dan penting artinja bukan hanja untuk seniman sebagai bahan banding tetapi djuga untuk penelitian.

Oleh karena itu maksud dari Panitia Pekan Kebudajaan Atjeh ke II jang dikemukakan oleh Ketua Umumnja Drs. Marzuki Njakman bahwa pengumpulan dan pengawetan benda budaja jang ada di daerah Atjeh, baik berupa kesenian maupun tjatatan-tjatatan budaja, harus disambut dengan baik.

Dan kelihatan kini bahwa selain usaha pengumpulan ini datangnja dari Pemerintah djuga timbul dari kalangan swasta. Pekerdja-pekerdja kesenian sudah pasti menerima ini dengan gembira dimana pelu memberikan bantuan agar usaha tersebut dapat berhasil sebaik mungkin.

Untuk maksud pengumpulan kesenian ini setidak-tidaknja ada beberapa hal jang kita hadapi. Pengumpulan itu sendiri, penggolongan dan jang terakhir adalah penganalisaannja.

Ada bermatjam-matjam tjara untuk mengumpulkan kesenian. Salah satu jang segera dapat kita mulai adalah mengumpulkan dari apa jang kita dengar dari tutur kata jang mempunjai tjerita dan mentjatat apa jang kita lihat, dari benda kesenian itu sendiri.

Djika boleh kita melihat keluar maka usaha seperti ini sudah dilakukan orang di negara-negara jang telah madju seperti Swedia, Denenmarken, Finlandia, Perantjis, Amerika Serikat.

Dan di Indonesia Ajip Rosidi sudah pula mulai bekerdja mengumpulkan Kesenian Sunda, jang dalam hal ini khusus pantun Sunda. Dilihat dri apa jang pernah dikerdjakan Ajip dan mengalami sendiri oleh pemrasaran ini tentang Kesenian Atjeh maka memang didjumpai beberapa hambatan. Namun sedapat-dapatnja rintangan-rintangan itu akan dapat diatasi meskipun memang dengan susah pajah.

Jang mendjadi tantangan utama menurut hemat saja adalah kita melihat diri kita sebenarnja. Dapatlah kita melihat diri kita jang paling miskin sekalipun. Beranikah kita tampil dengan pengumpulan dalam bentuk stensilan dan dengan kulit jang sederhana?. Beranikah kita mengumpulkan sjair Atjeh di atas kerdja jang guram karena kita tidak mempunjai alat jang baik. Beranikah kita menjimpan dan mengumpulkan seni kerajinan tradisionil dan dipajang di rumah kita, jang sekarang.

Pertanjaan di atas agaknja dapat mendjadi buah renungan kita, sekiranja kita memang mengharapkan diri kita akrab kembali dengan kesenian kita itu.

Sudah tentu pertanjaan di atas masih dapat dilandjutkan dengan, beranikah kita membuat disertasi untuk mentjapai gelar doktor dengan membahas tjerita-tjerita rakjat Atjeh. Barangkali jang terakhir ini sebagai tjontoh kita kalah berani dengan peneliti-peneliti Belanda. Sedikitnja ada dua orang jang bernama H. K. J. Cowan dan Maria Catharina Hilyeamshoff jang membahas masing-masing Hikajat Malem Dagang dan Hikajat Gumbak Meueh (Gombak Emas) untuk mentjapai gelar doktor mereka.

Dan bagaimana mereka sulitnja menemukan bahan tjerita rakjat Atjeh saat itu dapat dibajangkan. Mungkin berhari-hari bahkan berminggu-minggu mereka menggunakan waktu untuk dapat mentjatat sadja apa jang dituturkan oleh si Pandai Tjerita akan berbeda dengan keadaan kita sekarang.

Kemadjuan teknologi modern telah menempatkan kita pada suatu jang menguntungkan. Djika mereka dulu mentjatat hikajat itu berhari-hari bahkan berminggu-minggu, dengan alat jang kita pakai sekarang jang bernama tape-recorder dapat direkam sehari atau dua hari.

Melihat perbandingan ini bolehlah kita akui bahwa mereka mempunjai semangat dan ketelitian jang lebi besar dari kita. Kita sekali lagi dalam hal ini pekerdja-pekerdja kesenian-kesenian boleh menggalak dengan dasar bahwa kita tak punja biaja untuk itu. Dana untuk kesenian sangat ketjil, begitu ketjilnja hingga tidak bisa berbuat apa-apa ketjuali melihat peristiwa kesenian itu sendiri dengan rasa sedih.

Tentu sadja alasan inipun dapat diterima disamping ditolak karena kesenian harus diperdjuangkan hak hidupnja, dengan tjara jang mungkin. Betapa pun pedihnja. Betapapun nasib pekerdja kesenian itu.

Banjak orang melihat kesenian tradisionil sebagai sesuatu jang beku. Ini barangkali tergantung dari mana kita memandangnja atau bagaimana tjara memandang kesenian itu. Mata seniman jang kreatif selalu menembus lebih tadjam. Ia memberi arti jang baru bagi jang lama itu. Dengan demikian tradisi bagi seniman tidak terhenti disitu sadja tetapi ia harus dikaitkan dengan kodrat kreatifitas. Djika demikian halnja boleh kita katakan ia menolak kebekuan.

Sebaliknja bukan tidak mungkin kesenian tradisi mendjadi beku. Ia banjak tergantung pada orangnja. Kesenian tradisi Atjeh tentu akan mendjadi beku apabila orangnja mendjadi beku. Dan bila ia terdjadi sebenarnja bukan nilainja jang mendjadi beku. Menurut hemat saja nilai jang terkandung dalam kesenian Atjeh itu dapat dikembangkan setjara kreatif. Untuk itu memang diperlukan seniman jang kreatif.

Pekan Kebudajaan Atjeh ke II ini telah membukan bagi seniman jang kreatif itu. Dan djalan itu harus ditempuhnja dengan iman jang teguh karena mungkin djalan itu tjukup pandjang.-

PANITIA PUSAT

PEKAN KEBUDAJAAN ATJEH KE-II

(The 2nd. Atjeh Cultural Festival)

KESENIAN ATJEH. IDENTITAS DAN PENGEMBANGANNJA DALAM RANGKA KEBUDAJAAN NASIONAL

MODERN

O

L

E

H

AKP. DRS. IDRIS. ALI

PRASARAN

PADA SEMINAR KEBUDAJAAN

DALAM RANGKA PKA-II DAN DIES

NATALIS KE-XI UNIVERSITAS SJIAH KUALA

21 S/D 25 Agustus, tahun 1972.

D

I

BANDA ATJEH

KESENIAN ATJEH. IDENTITAS DAN PENGEMBANGANNJA

DALAM RANGKA KEBUDAJAAN NASIONAL MODERN.

Oleh : Ajun Komisaris Polisi Drs. Idris Ali

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Atas nama Allah Jang Maha Pengasih Maha Penjajang

I. PENDAHULUAN

1.      Saja jang berkewajiban lebih dahulu memanjatkan sandjung pudja kehadirat Allah Swt. Tuhan jang punja segala seni dan kesenian. Saja pun harus mengutjapkan selawat jang sedalam-dalamnja kepada Rasul Tuhan jang terakhir dan terbesar Muhammad SAW. Selaku penjelamat ”darah seni” ummat manusia. Kalaulah Engkau hai Muhammad tidak diutus Tuhan, tak terhitunglah kiranja ummat manusia jang tidak dapat mendjalurkan bakat seninja jang memang telah di bawa lahir dari Tuhannja. Sungguh besar djasamu hai Muhammad.

Sdr. Moderator, Pemrasaran dan peserta seminar jang mulia

2.      Tanpa terlintas sedikitpun dalam benak saja bahwa nama saja tertjatat selaku pembanding di tengah-tengah auditoriumpara Sardjana, ahli budaja dan budajawan, ahli seni dan seniman disamping peserta lainnja jang berbahagia. Saja bukan budajawan apalagi budaja, djuga bukan seniman konon lagi ahli seni. Saja sadari dan insafi benar-benar akan hal ini. Justeru karena itu, bandingan saja terhadap Prasaran-prasaran sdr. Dr. Umar Kajam, Sdr. Drs. Darwis A. Sulaiman dan Sdr. L. K. Ara akan terdapat kelemahan-kelemahan saja disana sini. Kekurangan-kekurangan tersebut saja harapkan dapat ditutup oleh Saudara-saudara Pembanding-pembanding utama lainnja jang menurut hemat saja beliau-beliau tersebut mempunjai kelebihan lebih.

3.      Tiga buah Prasaran walaupun topiknja satu, ternjata lenggang-lenggoknja berbeda, namun natijah sasarannja sama, jaitu ingin menolong rakjat dan Pemerintah Dista terutama dalam bidang kesenian untuk mempertjepat proses integrasi dengan kebudajaan Modern.

II. KEDUDUKAN PENDUKUNG KESENIAN ATJEH

4.      Status ini perlu kita clearkan, mengingat problema jang akan kita bahas lebih menjangkut satu Daerah khusus (dalam hal ini DISTA). Saja respect sekali terhadap Sdr. Pemrasaran Jth. Dr. Umar Kajam, jang mampu melepaskan dirinja dalam membahas topik ini dengan meninggalkan scope daerah tertentu (DISTA) tetapi mengambil scope nasional (seluruh daerah-daerah Indonesia). Namun demikian, Daista, terlepas kebetulan saja dilahirkan di Atjeh, setjara ikhlas historishrecht menganjurkan kita untuk paling sedikit membatja bahwa : ”RAKJAT ALI JANG MENDIAMI DAISTA BERGAMA ISLAM”. Tentunja tidak termasuk saudara-saudara kita jang beragama lain jang hidup bersama-sama dengan rakjat Atjeh. Kalau hal ini telah kita sepakati setjara faktuil, biarkanlah suatu pertanjaan tidak perlu diladeni jaitu : ”Apakah agama Islam di Atjeh kolot atau modern?”. dengan tjara demikian kita sudah dapat bertolak dari satu titik bersama jaitu membahas kesenian Atjeh (daerah) dalam satu masjarakat jang totalitas agamanja Islam. Justeru oleh karena itu ada baiknja lebih dahulu kita menindjau tata hidup dan status rakjat Atjeh menurut agama jang dianutnja, oleh karena mereka adalah pendukung seni dan kesenian Atjeh.

Sistim hidup Islam dan masjarakatnja dapat kita simpulkan dalam kata : ”IMAN” dan ”AMAL SALEH”. Dua kata-kata ini dapat dibedakan tetapi kalau dipisahkan nilainja turun, orang jang imannja saja pada Islam tanpa realita amal shalehnja masih lemah djuga Islamnja dan demikian pula daerah miliknja. Hubungan antara iman dan amal…. itu dapat kita lihat digambarkan Tuhan dalam Kitab Sutji Al-Qur’an Surat 10 : 9 dan 19 : 76 sebagai berikut :

”Sesungguhnja orang-orang jang iman dan beramal shaleh Tuhan memimpin mereka dengan iman mereka ….” ”Dan Allah menambah pimpinan-Nja bagi orang-orang jang berdjalan menurut djalan jang benar”.

Perpaduan Iman dan Amal saleh ini setjara umum dianut oleh masjarakat Atjeh. Exeption dari itu tentu selalu ada dimana-mana. Makin tinggi kewajiban dilaksanakan maka iman kita berangsur-angsur mendjadi kekuatan jang kian lama kian kuat sehingga mengubah mentalita kita sehingga memberi warna serta tjorak tertentu kepada djiwa kita kepada pandangan dan sikap kita antara sesama manusia. Demikian pula refleksi dari pada keadaan djiwa mau tidak mau memberi warna dan tjoraknja jang khas pula, baik expressive maupun impressive dimana motif utama selaku pendorongnja tidak lain adalah tjorak djiwa jang iman demikian. Dengan djiwa demikianlah rakjat atjeh pergi kemana-mana, bekerdja sehari-hari sebagai petani, nelajan,saudagar, pendidik, peladjar dan mahasiswa, pemimpin dan ulama tjendikiawan dan last but not leest selaku seniman  dan seniwati. Mereka  bersjair dalam bentuk sadjak( narit neupakhok  = in gebonden stiyl), mengeluarkan nasehat- nasehat dalam ungkapan jang padat sekali isinja(hadis madja), mereka menulis hikajat-hikajat kisah kisah jang sifatnja dewasa dan djuga untuk anak-anak, baik jang masih dalam bahasa Atjeh huruf Arab maupun bahasa Atjeh huruf Latin demikian banjaknja. Mereka menari dan bernjanji bila mereka dalam riang gembira dan lain-lain sebagainja variasi hidup.

Jang penting kami stress disini bahwa apa jang diillustrasikan itu sudah berdjalan sedjak Islam berada di Atjeh. Setjara objektif, pengertian Islam jang hidup di tengah-tengah masjarakat Atjeh tentu berbeda, tergantung pada tinggi rendahnja intellegensi dan pendidikannja. Dan faktor ini pula jang membawa pengaruh dalam kehidupan sosial budaja masjarakat atjeh. Dibalik itu ada satu faktor lagi jang diperhitungkan ialah bahwa” seluruh rakjat atjeh tjinta kepada agamanja”, sehinga Zenntgraaff, seorang pengarang belanda zaman djadjahan terpaksa menulis dalam buku ” Atjeh” p.1 sbb:

”de waarheid is dat de atjehers mannen en vreuwen in het algemeen sehivtereed hebben gevechten voor wat zij zgen alls hun national of religieus idoaal.”

(suatu kebenaran ialah bahwa pada umumnja orang-orang Atjeh laki-laki dan wanita berdjuang amat baiknja untuk sesuatu tudjuan jang merupakan tjita-tjita kebangsaan atau keagamaannja).

Beberapa gambaran jang kami bajangkan diatas, saja rasa kita sudah dapat melihat dan masuk langsung ke tengah-tengah masjarakat Atjeh baik perpective maupun prospectivenja dalam sektor kesenian khususnja kebudajaan umumnja. Moga-moga kita semua terutama para Pemrasaran Jth. Dengan dasar ikhlas ilmiah akan dapat menghajati dan menilai serta menganalisa kenjataan-kenjataan jang ada baik pada masa-masa jang lampai maupun sampai saat-saat sekarang ini.

III. PEMBAHASAN

5.      Pengertian Kesenian

Saja berkejakinan bahwa pada ahli budaja sependapat kesenian merupakan bagian dari pada kebudajaan. Hanja jang masih terdapat perbedaan pandangan jaitu antara kebudajaan bagian dari agama dengan agama merupakan bagian dari kebudajaan. Dalam hal ini saja termasuk golongan jang pertama, dua kebudajaan adalah bagian dari agama. Pengertian agama jang kami maksudkan disini terbatas pada Islam sadja.

Adapun pengertian kesenian menurut Herbert Read dalam buku ”The Meening of Art” Penguin Bocks, 1959 hal. 16 sebagai berikut :

”PENJELMAAN RASA ESTETIKA DENGAN PENTJIPTAAN BENTUK-BENTUK JANG MENJENANGKAN”. Demikian disitir kembali oleh Sdr. Drs. Sidi Gazalba dalam bukunja ”Pengantar Kebudajaan Sebagai Ilmu” hal. 49. Menurut Drs. Sidi Gabalza, kesenian ialah : ”PENJELMAAN RASA KEINDAHAN UMUMNJA, RASA KETERHARUAN KHUSUSNJA, UNTUK KESEJAHTERAAN HIDUP”. (Lihat hal. 49).

6.      Kesenian Atjeh dan Identitasnja.

Sengaja kami kemukakan definisi kesenian tersebut walaupun masih banjak para ahli jang memberikan definisi berbeda dengan itu, oleh karena ada relasi kontaknja dengan kebudajaan Atjeh (kesenian Atjeh) dan kebudajaan Nasional. Sebagaimana telah kami bajangkan pada permulaan bahwa rakjat Atjeh adalah religious, aka untuk menilai pemikiran mengharuskan kita dapat menghajati sampai kesana.

Saudara Umar Kajam, setjara umum memberikan ketentuan kesenian Atjeh jang sama sifatnja dengan kesenian-kesenian Drama lain di Indonesia, jaitu ”Kesenian daerah sifatnja fungsionil atau komunal jang tidak menganggap penting atau relevant akan peranan seniman pentjipta individuilnja”. Sedangkan identitasnja tergentung pada pentjerminan totalitas masjarakatnja pula.

Nampaknja Saudara Pemrasaran agak ragu-ragu untuk terjun langsung menundjukkan identitas apa sebenarnja kesenian Atjeh. Menjamaratakan kesenian-kesenian Daerah jang agraris tradisionil seluruh Indonesia dengan tjiri-tjiri khas memang dapat kita mengerti. Tetapi dari segi identitas belum tentu semua daerah sama, dalam hal ini termasuklah Atjeh.

Sedangkan Pemrasaran L. K. Ara tidak begitu tertarik persoalan identitas dan tjiri-tjiri kesenian Atjeh. Hal ini kemungkinan sekali beliau menarik sikap, dari pada terlalu banjak teori lebih baik saja terjun langsung dilapangan untuk mengangkat kembali kesenian Atjeh. Menurut berita jang saja dengar dari kawan-kawan memang beliau sedang berada di Atjeh terus langsung terdjun di lapangan. Mudah-mudahan berhasil pessimisme jang tergambar pada djudul Prasarannja ”KESENIAN ATJEH AKAN MATI” kiranja akan dapat hidup kembali.

Sebaliknja Sdr. Drs. Darwis A. Sulaiman, besar sekali minatnja tentang pengertian dan identitas kesenian Atjeh sehingga beliau merasa perlu menarik garis demarkasi jang tegas antara :

a.       Mana jang disebut kesenian Atjeh

b.      Mana pula kesenian-kesenian jang terdapat di Daerah Atjeh.

Beliau membedakan kesenian Atjeh asli (tradisionil) disamping kesenian Atjeh jang bukan asli, katakanlahf import dari daerah-daerah lain/luar negeri. Menurut Drs. Darwis A. Sulaiman kesenian Atjeh mentjakup bidasng-bidang seni sastra, seni tari dan seni suara/musik.

Adapun identitas kesenian Atjeh Drs. Darwis memberikan tiga :

a.       Religious,

b.      Dinamis,

c.       Demokratis

Memang tiga identitas tersebut kenjatan dalam kehidupan kulturil masjarakat Atjeh khususnja dalam bidang kesenian sedjak dahulu sebelum djadjahan dan sampai sekarang. Lain halnja identitas kesenian Atjeh jang dikemukakan oleh Saudara Dr. Umar Kajam. Kalau kita mau menambah tiga identitas jang pertama memungkinkan lebih dari itu, namun tiga matjam tersebut sudah representatif.

Hanja saja kami agak kurang manis sedikit, mengingat kedudukan identitas pertama (relegious) disejadjarkan dengan dua identitas lainnja. Menurut hemat saja identitas kesenian Atjeh adalah relegious. Identitas relegiositas ini memantjarkan sifat-sifat/tjiri-tjiri khasnja sendiri jang kualitasnja banjak tergantung pada tinggi rendahnja pengertian agama jang ada pada setiap zamannja. Satu hal kiranja perlu di stress bahwa karakteristiknja Islam adalah dinamis, progressif, revolusioner, demokratis dengan kelemah lembutannja jang khas pula. Sebaiknja dia identitas lainnja (dimanis dan dimokratis) merupakan refleksi dari identitas religiositas,

Sangat menarik dan simpatik sekali apa jang disinjalir saudara Drs. Darwis jaitu disamping terdapat segi-segi positif dari indentitas religiousitas, djuga tidak luput segi-segi negatifnja jang merupakan hambatan-hambatan jang tjukup ketat terhadap perkembangan kesenian di Atjeh.

7.      Fanatisme terhadap Islam membahajakan kesenian ?

Sdr. Drs. Darwis agak marah terhadap fanatisme jang ada dalam kalangan ummat Islam di Atjeh. Sajapun ikut merasakan jang demikian tjuma tidak sampai marah betul. Letak soalnja demikian. Istilah fanatik kepada Islam kurang tepat alamatnja. Sebab pengertian fanatik dalam arti tjinta dan taat teoritis dan prakteknja terhadap agama perlu dipupuk dan dihidup suburkan. Jang perlu diperbaiki dan dirombah fanatik dalam arti sempit jaitu taqlid buta, tanpa ada kemauan mendengar dan meneliti pendapat-pendapat jang lain dari fahamnja sendiri. Kalau fanatisme dalam pengertian terakhir ini jang dimaksud oleh pemrasaran, sajapun sependapat dengan beliau. Masalah fanatik ini perlu dibedakan betul, salah-salah pemberantasannja menjebabkan jang dikandung ketjetjeran jang dikejar mendjauh semua.

Perkembangan terakhir ini di Daista sudah agak menggembirakan, sehingga kuranglah tepat bahwa semuad jang berbau seni adalah haram. Sebenarnja letak kesalahan ini tidak tepat kalau dialamatkan kepada Islam, sebab Islam sendiri tidak ikut bersalah dalam hal ini. Jang masih terasa kekuarangan pengertian terutama di bidang/sektor kesenian adalah orang-orang Islamnja. Dan orang Islam jang demikian terdapat hampir dalam tiap lapisan masjarakat sedjak dari tingkat bawah malah djuga ada dalam lingkungan ulama dan sardjana sendiri. Kalau pemrasaran telah mengutip pendapat dan analisa Prof. H. M. Toha Jahja Umar M.A. tentang bolehnja seni musik, seni suara dan seni tari dan Islam, menundjukkan kebenaran apa jang telah saja kemukakan tadi.

8.      Seni Rupa

Memang benar apa jang dikemukakan oleh saudara L.K.Ara, bahwa seni patung tidak berkembang diatjeh. Persoaalan inipun tidak lepas dari pada tempat/tidaknja analisa para ahli ulama mengenai ahli hadist jang melarang seni rupa(seni lukis). Walaupun  dalam seminar ini tidak menjangkut pembahasan kesenian ditinjau dari segi pandangan agama, tetapi oleh karena ada garis singgungnja dalam prasaran, maka tidak salah kiranja sekedar pokok-pokok pikiran mengenai kedudukan seni rupa dalam Islam bermanfaat untuk dikemukakan dalam forum seminar jang terhormat ini.

Menurut Dr. Zaky M. Hasan bekas dekan faculty of Arts di Fuad University Cairo, dalam madjalah Ismalic Reviou jang terbit di London tahun 1957, bahwa dalam Al-Qur’an tidak terdapat larangan melukis dan membuat patung. Jang ada hanja beberapa hadits Nabi jang melarang seni rupa. Berdasarkan hadits-hadits tersebut sebahagian ulama berpendapat bahwa seni rupa haram hukumnja setjara mutlak. Sebaliknja beberapa orientalis dan ahli sedjarah kesenian eropah berkesimpulan, bahwa hadits tersebut bukanlah perkataan Nabi Muhammad sendiri, tetapi perkataan/pendapat para Ulama waktu itu (abad ke 3 H/9 M). Salah seorang orientalis tersebut ialah R. P. Lammans sardjana Perantjis jang tulisnja dalam Journal Asiatiquo September 1915. Jang kesimpulannja sebagai berikut : ”Bahwa Nabi Muhammad tidak memusuhi lukisan/patung, larangan ini timbul sesudah Nabi Muhammad wafat”.

Dr. Zaky berpendapat bahwa, hadits-hadits larangan Nabi dimaksudkan benar adanja, dan tidak benar tuduhan orientalis terhadap kepalsuan hadits-hadits tersebut. Drs. Zaky mengetjam sebahagian ulama Islam jang terlalu memukul ratakan larangan Nabi seluruh situasi dan kondisi setjara mutlak-mutlakan. Beliau menegaskan lagi bahwa soal seni rupa tidak termasuk keimanan Islam. Jang mendjadi soal ialah maksud dari seni rupa itu. Tudjuan dan sasaran larangan Nabi adalah dalam usaha prepentif membendung orang-orang Islam jang baru masuk Islam dan belum berapa kuat imannja djangan sampai terpengaruh kembali menjembah patung-patung/berhala jang memang banjak sekali waktu itu. Selandjutnja beliau berkesimpulan sebagai berikut :

a.       Jang disepakati semua ulama adalah membuat patung jang ditudjukan untuk disembah selaku tuhan dilarang setiap waktu oleh Islam.

b.      Adapun patung/lukisan dari makhluk jang berdjiwa tidak dilarang setjara mutlak oleh Islam, asal saja tidak mengarah kepada pemudjaan jang mendjurus kepada kemusrikan.

Demikianlah garis besar analisa Dr. Zaky tentang seni rupa dalam agama Islam.

Memang masalah seni rupa (patung) djauh sekali sedjarahnja. Izinkanlah sedjenak saja mengajak hadirin dan hadirat jang berbahagia merenungkan kembali do’anja Nabi Ibrahim ketika ia telah selesai membangun Ka’bah jang mendjadi kiblatnja umat Islam di seluruh dunia, jang diillustrasikan kembali oleh Tuhan dalam kitab sutji Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw otomatis untuk seluruh umat manusia dan tentunja kita jang hadir sekarang djuga tidak terlepas. Do’a dimaksud ialah dalam surat Ibrahim : 36-37.

 

Terdjemahan seni bebas sebagai berikut :

-          Ketika Ibrahim berkata :

-          Tuhanku, djadikanlah negeri ini, negara jang sentosa,

-          Djauhkanlah aku dan anak-anakku dari menjembah berhala,

-          Tuhanku, berhala itu menjesatkan umat manusia,

-          Siapa jang mengikutiku, ialah aku,

-          Jang menolakku, Engkaulah Pengampun lagi penjajang,

-          Tuhan kami, aku dan keturunanku,

-          Diam dilembah tandus gersang tak bertanaman,

-          Namun dekat rumahmu jang sutji dan dimuliakan,

-          Tuhan kami, untuk mendirikan sembahjang,

-          Djadikanlah hari manusia tjondong kepadanja,

-          Beri rezekilah dengan buah-buahan,

-          Mudah-mudahan mereka bersjukur,

-          Segala sandjung pudja untuk Allah,

-          Jang menganugerahi buah hatiku putra Ismail dan Ishak,

-          Dalam usia setua ini,

-          Engkau djualah Tuhanku jang mendengar do’aku ini,

-          O, Tuhanku, ampuni aku dan kedua orang tuaku,

-          Ampuni seluruh kaum muslimin

-          Pada hari ditimbang salah dan benar.

 

Saudara-saudara, hadirin dan hadirat jang tertjinta.

Demikian itu do’a Nabi Ibrahim tatkala selesai membangun Ka’bah tjentrum kebudajaan seluruh dunia. Ibrahim memohon kepada Tuhan djangan sampai beliau dan anak-anaknja menjembah patung, itu bahaja sekali.

Lama sekali masa antara Muhammad dengan Ibrahim ini. Dua ribu lima ratus kemudian, Muhammad datang dengan Islamnja. Ia kaget melihat di dalam Ka’bah penuh dengan serba bentuk berhala jang didjadikan Tuhan manusia Arab pada waktu itu. Kenapa ini bisa terdjadi, sedang Embah Ibrahim membangun Ka’bah ini bersih dari patung-patung?

Islam baru dibangun oleh Muhammad, djiwa tauhid baru sedang menjelinap ke dalam lubuk hatinja, belum lagi berakar kuat, masih terbajang-bajang patung Lata dan Uza. Demi untuk menjelamatkan dan melindungi paham tauhid paham jang hanja menjembah hanja Tuhan Jang Mahasa Esa, Muhammad memerintahkan untuk menghantjurkan seluruh berhala itu. Konon kabarnja di tengah-tengah berhala jang beratus-ratus itu terdapat pula patung Nabi Ibrahim.

Djuga Muhammad Mengerem seni suara, dengan maksud memperkuat dulu kedudukan Al-Qur’an jang belum lengkap turunnja dan belum demikian merata dalam kalangan masjarakat. Namun kemudian kita saksikan dalam sedjarah, tatkala Al-Qur’an telah meluas orang sudah gemar sekali kepada Al-Qur’an, maka seni suara mulai mendapat dorongan dari Rasulullah jang keras sekali. Malah dalam Al-Qur’an kita dapati suatu sindiran ”SE-BURUK-BURUKNJA SUARA ADALAH SUARA KELEDAI”. Se-olah-olah hanja keledailah jang tidak mampu menikmati keindahan seni suara. Dan banjak lagi ……

Demikian pula halnja dengan seni lukis (patung), setelah djiwa tauhid terhudjam kuat dalam seni dada kaum muslimin, maka pintu seni tupa mulai dibuka kembali oleh Nabi. Renungkan apa kata beliau: ”Allah itu indah, karena itu ia mentjintai keindahan”.

Sudah agak djauh kami menerawang di luar garis main, namun terasa oleh saja bahwa persoalan ini perlu sekedarnja dikemukakan dalam forum jang terhormat ini, mengingat kadang-kadang sifatnja non i’tiqudy mendjadi handicap dan didjadikan seapegoat untuk Islam oleh orang-orang jang mungkin belum begitu dekat dengan Islam terutama dalam bidang kesenian.


IV. PERKEMBANGAN KESENIAN ATJEH

Saudara L. K. Ara dan Drs. Darwis, beliau berdua sangat sedih dan terharu, malah hampir sampai putus as, melihat perkembangan kesenian Atjeh jang begitu muram durdja. Beliau berdua mengharapkan turun tangan jang berwajib dan masjarakat untuk menjelamatkan kesenian Atjeh, jang dulunja tjukup megah dengan karja-karjanja.

Lain halnja Saudara Dr. Umar Kajam, melihat kesenian Atjeh dalam untaian kesenian-kesenian daerah lainnja begitu optimis melihat kesenian Nasional hari depan jang sekarang sedang bergerak meninggalkan wajah lamanja jang agraris tradisionil, menudju suatu nation baru jang kuat dan homogen proses perkembangan ini deras dan dahsjat sekali. Atjeh harus berani buka pintu lebar-lebar katanja, dan seterusnja. Pendek kata pertarungan ini akan seru sekali. Dalam siatuasi dan kondisi jang kian panasnja, beliau bertanja : ”QUO VADIS KESENIAN ATJEH”?. Kami tertekun sedjenak menghadapi pertanjaan beliau ini namun tetap optimis.

Berbitjara tentang kesenian Atjeh, saja selaku outsider dalam bidang kesenian memang seperti apa jang dikemukakan saudara L. K. Ara dan Drs. Darwis. Hampir semua tjabang dan ranting kesenian Atjeh membeku. Kalaupun sekali-kali seni sastra muntjul dalam koran/Brosur, itupun jarang dibatja orang termasuk jang berbitjara ini sendiri, lesu dan tidak ada animo. Lain halnja sebelum kemerdekaan. Untuk menolong kedua pemrasaran jang terhormat, saja mentjoba angkat kembali serangkum isi hari Sjeh Rih Krueng Raja jang ditudjukan kepada saudara Talsja di Banda Atjeh, dalam bukunja ”PEDOMAN MASJARAKAT” Pen. Saiful Medan, sebagai berikut :

-          Assalamu’alaikum tanglong hikmat

-          Meu Kru seumangat wahe saudara

-          Daweut sititek lon peu-et njoe pat

-          Keurakan sahbat Bapak talsja.

-          Padum treb sabe hate ingin that

-          Lon Peu-et surat akan pudjangga

-          Keu Bapak Talsja haba lon intat

-          Dalam hikajat peu-et suara

-          Peungarang Atjeh keubit sajang that

-          Padum treb lambat tinggal di bara

-          Tinggai di rumoh ka tinggal kulat

-          Han le soe intat peubeudoh sigra

Demikianlah suatu djeritan hari nurani Sjeh Rih Krueng Raja merupakan manifestasi betapa nasib pudjangga dan pengarang Atjeh, walaupun naskah karangan/karjanja sudah selesai, namun tidak mampu lagi disebar luaskan ke tengah-tengah masjarakat Atjeh, akhirnja terpaksa membeku di bara rumah.

Memang benar tidak mudah menahan apresiasi kepada masjarakat, kadang kala seniman harus menebus dengan djiwa raganja. Dan kalau seniman tersebut. Idialis lagi murni, walaupun telah pergi untuk selama-lamanja namun ia masih hidup terus di dalam kalbunja masjarakat jang ditinggalkannja. Kitapun terkenang kembali pengarang”Hikajat Prang Sabi”, pengarang ”Tjahja Ma’nikam” Habib Tjut Tgk. Muda, Hamzah Fansuri dan lain-lain pudjangga dan seniman Muchlis telah mendahului kita.

Walaupun demikian sudah keadaan jang sekarang ini, tetapi dengan muntjulnja P. K. A. Ke-II sesudah istirahat selama 14 tahun, atau kesadaran jang mendalam dari Pemda Propinsi Daista dan didukung penuh oleh seluruh masjarakat Atjeh, insja Allah hasil karja pudjangga dan seniman Atjeh baik jang sudah mendahului kita maupun jang masih hidup, sedikit banjak akan terungkap kembali, untuk selandjutnja merupakan pedoman hidup jang lebih segar. Peristiwa ini besar sekali pengaruhnja dalam rangka ekselerasi modernisasi era pembangunan 25 tahun.

9.      Seni Sastra

Salah satu tjabang kesenian jang dikemukakan pemrasaran Drs. Darwis, menarik saja untuk mengetahui, apakah seni sastra di Atjeh itu. Seni Sastra Atjeh tidak hanja dalam bentuk puisi (sja’ir) jang lebih terkenal dengan ”Narit Meupakho’” saja, tetapi djuga ada dalam bentuk prosa jang masjur dalam masjarakat dengan ”Haba”. Diantara dua tersebut jang lebih menondjol adalah bentuk puisi. Prof. H. A. Bakar Atjeh termasuk tokoh jang berpendapat demikian dan menurut beliau, sastra Atjeh adalah terkaja dan terbanjak dibanding dengan daerah-daerah lain di Indonesia jang pernah beliau djeladjah. Saja sendiri tidak mengetahui dalam hal ini.

Hal lainnja jang saja rasa harus mendapat pemikiran kita semua ialah nasib bahasa Atjeh, saja melepaskan diri dari unsur pessimisme dan djuga bukan maksud saja daerahisme. Marilah kita lihat persoalan bahasa Atjeh ini setjara objektif apa adanja. Ada benarnja seperti apa jang dikonsistatir oleh drs. Darwis, bahwa bahasa Atjeh sekarang ini hanja dipakai sekedar bahasa pergaulan saja. Dalam lapangan ilmu pengetahuan dan sastra sudah membeku.

Ditinjau dari segi rasa kesadaran Nasional, barang kali Atjeh merupakan daerah jang pertama jang melepaskan bahasa Daerahnja dalam bidang pendidikan (SD sampai Perguruan Tinggi). Menurut hemat saja djikalau kita menggali sebanjak-banjaknja kebudajaan daerah diseluruh Indonesia (dalam hal ini segi sastranja) untuk selandjutnja memperkaja kebudajaan Nasional, maka bahasa daerah masih diperlukan. Sekarang terasa anak-anak SD malah sampai Perguruan Tinggi di Atjeh, praktis tidak dapat mempergunakan bahasa Atjeh baik dalam edjaan Arab maupun edjaan Latin. Saja kira ini merupakan suatu kevacuman rohani (Ziels henger) jang membawa akibat kevacuman kebudajaan Atjeh.

Setjara ideal sajapun sependapat dengan Jth. Drs. Umar Kajam, bahwa pada suatu saat (entah berapa puluh tahun lagi) seluruh daerah Nusantara Indonesia jang kita tjintai ini hanja mengenal satu bahasa jaitu bahasa Indonesia, satu kebudajaan jaitu kebudajaan Indonesia dalam suatu wadah negara, Negara Republik Indonesia.

10.  Seni Tari dan Seni Suara

Baik kemunduran maupun kemadjuan jang dapat ditjapai dalam bidang kedua kesenian ini sebagaimana dikemukakan oleh saudara Drs. Darwis dan saudara L.K. Ara sudah tjukup padat untuk mendjadi bahan rumusan seminar. Hanja saja mengenai seni tari Seudati jang merupakan tarian rakjat jang sampai saat ini mendapat dukungan jang tjukup dari penggemarnja, dalam proses pengembangannja dalam bentuk kreasi baru, ada tenden untuk meninggalkan identitasnja selaku tarian Atjeh. Sebagaimana saja kemukakan di muka bahwa kesenian Atjeh indentitasnja religious, dus Islam. Indentitas ini harus mempertahankan dalam bentuk kreasi barunja. Tjiri-tjiri indentitasnja antara lain terlihat umpama pada tarian pembukaan jang diawali dengan seni suara kombinasi tariannja dengan utjapan ASSALAMU’ALAIKUM dst. demikian djuga selurh kisah dan variasinja mengandung nilai-nilai jang agamis. Djiwa jang demikian ini harus dipertahankan terus sambil peningkatan demi peningkatan.

11.  Seni Ukir

Benarlah seperti apa jang dikemukakan saudara Drs. Darwis kita kehilangan sesuatu jang berharga jaitu seni ukir. Saja belum medapat kesempatan mempeladjari apakah ada/tidak dalam buku-buku sedjarah Atjeh, jaitu siapa sebenarnja pengukir tulisan Arab indah pada Masjid Raja Baiturrahman Banda Atjeh, pada nisan-nisan makam Sultan Atjeh di sekitar Baperis dan mungkin djuga di tempat-tempat lainnja. Tulisan indah tersebut adalah suatu karja seni ukir jang benar-benar mengagumkan. Siapa diantara rakjat Atjeh jang masih hidup sekarang ini mampu melukis huruf indah ini? Sekali lagi bukan pesimis hanja kita harapkan agar pemerintah banjak dapat berbuat untuk membangkitkan kembali karja ilmiiah indah ini terutama pada generasi mudanja.

12.  Seni Lukis

Seni lukis ditinjau dari sudut pandangan agama ala kadarnja saja sudah berusaha mengemukakan tadi. Kenjataannja seni lukis jang merupakan ranting dari seni rupa sudah mulai mendapat udara segar kembali. Kita harapkan via pendidikan/sekolah bakat ini dapat dikembangkan setjara metodik dan didaktik sehingga kekuatan dan kemampuan vantasi generasi muda benar-benar mendapat bimbingan jang terarah.

Walaupun saudara Drs. Darwis, seni lukis, seni ukir tidak digolongkan dalam kesenian Atjeh Asli, hemat saja pemisahan jang demikian ini belum berapa mendesak andai kata aksentuasi penilaian kita dari segi indentitas kesenian Atjeh. Sebab kesenian Atjeh dengan indentitasnja jang demikian akan berakulturasi dan beradabtasi (djadi bukan dengan tjara beradobtasi) dengan kesenian-kesenian daerah lain dimasa-masa mendatang malah sudah berdjalan lama. Setjara prinsifil agama Islampun tidak akan menghambatnja (menurut hemat saja).-

13.  Seni Drama

Ada benarnja seni drama jang dulu terkenal dengan ”Sandiwara” tidak lagi berkembang lagi di Atjeh. Benar pula sedikit mengalami kemadjuan pada masa permulaan kemerdekaan, dimasa kamipun kebetulan ikut aktif di dalamnja. pasaran seni drama pada saat sekarang ini demikian sepinja, mungkin ada kesan masa lampau, bahkan djalan tjerita jang dibawakan dalam sandiwara betul-betul merupakan sandiwara, artinja bukan kedjadian jang sesungguhnja, malah ada istilah jang nadanja sinis kalau ada sesuatu jang tidak baik jang diperankan oleh seseorang jang berfungsi dalam masjarakat, itukan sandiwara melulu/sandiwara di sing bolong”. Kini nama sandiwara telah dimodernisir dalam bentuk drama, toh belum mendapat pasaran djuga.

Drs. Darwis mengemukakan faktor penjebab a.l. karena kurang mampu mempertemukan semua tjabang kesenian di dalamnja, karena tidak berkembangnja masing-masing kesenian dengan baik. Bisa djadi demikian. Namun faktor luar lainnja djuga ikut mempengaruhi sepinja pasaran seni drama, a.l. meningkatnja peranan Bioskop disamping seni drama belum mampu menghidangkan adegan-adegan dengan tjerita-tjerita jang up to date jang benar-benar dapat menghajati liku-liku kehidupan masjarakat sehari-hari.

V. KESENIAN ATJEH DAN MODERNISASI INDONESIA

Berbitjara tentang modernisasi sudah djelas tidak identik westernisasi. Kebudajaan Indonesia memerlukan modernisasi, inipun mutlak. Untuk ini kita harus memperkuat diri sehingga benar-benar mampu berakulturasi dengan sistim adabtasi selektif jang mantap dengan kebudajaan-kebudajaan jang modern baik Barat maupun Timur tidak soal. Jang mendjadi soal apanja jang akan kita ambil dan apa pula jang mampu kita berikan.

Drs. Darwis mensitir pandangan Prof. Harsojo tentang dua pola kebudajaan modern jaitu :

a.       Pola masjarakat Eropah dengan menolak sama sekali sesuatu jang lama.

b.      Pola penjesuaian antara jang lama denagn jang baru.

Drs. Darwis tjondong dengan pola jang kedua. Dus dalam bidang kesenian Atjeh djuga harus melalui proses integrasi antara tradisi, nasional dan modern.

Dr. Ukar Kajam pada prinsipnja jakin bahwa kesenian Atjeh pada suatu saat akan bergeser adalah pasti. Djuga indentitas kesenian Atjeh akan ikut larut modernisasi tetapi dalam satu methamorfosis.

Kembali saja tekankan bahwa kesenian Atjeh indentitasnja religious, tegasnja pengaruh agama Islam kuat sekali artinja nilai-nilai Islam jang muni mendjiwainja kebudajaan dan kesenian Atjeh, membuka kemungkinan jang besar sekali ke arah modernisasi sesuai dengan karakteristik Islam itu sendiri. Dus sajapun seprinsip dengan DR. Umar Kajam. Hanja saja mendjadi pikiran pola apa jang akan kita pakai jang terang pola barat tidak tjotjok, sebab mempunjai watak ’LUPA KATJANG DIKULITNJA”, walaupun sekarang mereka mulai menjadari kelemahan-kelemahan tersebut. Kitapun tidak ingin terlibat dalam kantjah degradasi dan keruntuhan budaja di negara-negara barat sekarang ini.

Kalau para seniman Eropah aliran impressionis jang berkembang dulu semenjak tahun 1860-1924 sehingga tumbul suatu perlambang antara mereka ”ART POUR L’ART” seni buat seni jang mempunjai arti bahwa keindahan jang dapat dirasakan pada suatu lukisan merupakan puntjak daja mentjipta bukan merupakan hasil dari pada pribadi. Terlepasnja rasa seni dari pada pribadi inilah jang menimbulkan pergeseran tjara berpikir mereka sehingga sampai pada : ”BAHWA SENI ADALAH SENI DAN PRIBADI ADALAH PRIBADI”. Aliran ini membawa pengaruh negatif luas dalam kehidupan seni budaja di negara-negara Eropah.

Kekuatiran ini sudah lama dirasakan oleh budajawan-budajawan Eropah. Pada kesempatan ini ada baiknja saja ungkap kembali apa jang constatir oleh Prof. Gebran Ibrahim gebran Maha Guru Ilmu kebudajaan pada Cambridge University di Inggris jang mengatakan Sebagai berikut ” BAHWA DUNIA SEKARANG HANJA MENUNGGU HANTJURNJA SAJA KEBUDAJAAN BARAT”. (Lihat Al-Adib, Beirut 1952). Constatering dimaksud sekarang ini sudah terlihat dan kitapun sudah mulai terasa pengaruhnja.

Djadi sekarang tinggal lagi sistim/pola jang kedua jang djuga disetudjui oleh saudara Drs. Darwis dan sajapun lebih selamat menempuh djalan jang kedua ini. Dalam hal ini terletaklah beban dan tanggung djawab terutama kepada pemerintah dan tokoh-tokoh ahli budaja dan budajawan, ahli seni dan seniman, agar benar-benar dapat menempuh djalan selektif dan adabtasi jang mantap, dan djangan sampai menempuh sistim adabtasi jang belum tentu serasi sedjiwa dengan kebudajaan Nasional Indonesia jang dimanisfestasikan dalam U.U.D. 1945 Bab XIII pasal 32 dan falsafah negara kita Pantjsila.

VI. KESIMPULAN

1.      Prasaran tiga serangkai saudara Dr. Umar Kajam, Drs. Darwis Sulaiman dan L.K. Ara, saja telah berusaha menjelami isi hari beliau-beliau jang tesurat sedjauh kemampuan jang ada pada saja, selaku seorang pembanding jang ditundjuk oleh Panitia Seminar; walaupun saja insaf benar-benar bahwa saja orang ummi dalam bidang kesenian. Beliau-beliau telah berusaha keras untuk menolong kesenian Atjeh. Setjara tidak langsung sajapun sempat menjemput khazanah ilmu jang tjukup bermutu dan berkesan. Untuk ini semua dengan ikhlas saja terima kasih moga-moga bermanfaat bagi saja kiranja.

2.      Saja memperkuat kesimpulan dan pendapat serta saran-saran saudara Darwis A. Sulaiman pada halaman 15-16 prasarannja.

3.      Kesenian Atjeh merupakan untaian rangkaian kebudajaan Atjeh mempunjai peranan besar di dalam processing pembinaan kebudajaan Nasional Indonesia. Justeru karena itu modernisasi kesenian Atjeh dengan tetap menjelamatkan identitasnja perlu dilaksanakan oleh Pemerintah dan masjarakat, sehingga potensi seni budaja merupakan moralforce jang menentukan untuk pembangunan Daerah Propinsi daerah Istimewa Atjeh dalam rangka Era Pembangunan 25 tahun.-

PANITIA PUSAT

PEKAN KEBUDAJAAN ATJEH KE-II

(The 2nd. Atjeh Cultural Festival)

KESENIAN ATJEH. IDENTITAS DAN PENGEMBANGANNJA DALAM RANGKA KEBUDAJAAN NASIONAL

MODERN

O

L

E

H

DRS. A. MUIN UMAR

BANDINGAN

PADA SEMINAR KEBUDAJAAN

DALAM RANGKA PKA-II DAN DIES

NATALIS KE-XI UNIVERSITAS SJIAH KUALA

21 S/D 25 Agustus, tahun 1972.

D

I

BANDA ATJEH

KESENIAN ATJEH. IDENTITAS PENGEMBANGAN

DAN RANGKA KEBUDAJAAN NASIONAL MODERN

Oleh : Drs. A. Muin Umar

Assalamu’alaikum W. W.

Sebagai seorang putera daerah Atjeh jang selama ini selalu berda djauh dari kampung halaman meresa mendapat suatu kehormatan untuk ikut serta dalam kegiatan Pekan Kebudajaan Atjeh ke-II ini. Tentu saja dalam hal ini saja mengaturkan ribuan terima kasih atas kepertjajaan panitia jang telah menetapkan diri saja sebagai salah seorang pembanding Dalam topik jang tersebut di atas, walaupun saja sendiri masih khawatir apakah pokok-pokok pandangan saja dalam mensuksskan pekan kebudajaan jang terhormat ini.

Dari brosur-brosur, mingguan-mingguan daerah dan surat-surat jang saja terima dari sini telah memberikan suatu informasi jang djelas bagi saja bahwa thema Pekan Kebudajaan ini adalah kebudajaan dalam pembangunan, bertumpu pada titik tolak Pantjasila sebagai landasan idealnja, Undang-undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusionilnja dan Negara Republik Indonesia jang kokoh bersatu sebagai landasan strukturil, serta berpedoman kepada Pantja Krida Kabinet Pembangunan Republik Indonesia. Karena itu dalam memberikan uraian ini saja djuga akan bertitik tolak dari thema ini.

Jang akan kita diskusikan bersama ialah kesenian daerah, khususnja daerah Atjeh sebagaimana kesenian daerah-daerah lainnja mempunjai tjiri-tjirinja tersendiri dan mempunjai sedjarah pertumbuhan dan perkembangannja sendiri pula. Kesenian daerah atjeh ini semenjak Indonesia merdeka sudah merupan salah satu inventarisasi kesenian nasional.

Sebelum kita mempersoalkan kesenian daerah ini marilah kita lebih dahulu membitjarakan apakah pengertian kesenian itu sendiri.

Kesenian di dalam bahasa Inggeris disebut. Art, di dalam bahasa Latin disebut Ars jang semuanja berasal dari kata Djunani Aro. Artinja asalnja ialah keahlian atau skill, sehingga apabila ada perkataan art of cooking artinja ahli memasak, Art of shooting keahlian menembak dan sebagainja, tetapi jang dimaksud dalam diskusi kita ini bukanlah jang lain jang dapat dipisahkan dalam dua pengertian jaitu dalam pengertian jang luas dan dalam pengertian jang sempit.

Dalam pengertian jang luas art meliputi semua kreasi hasil tjiptaan manusia seperti kesusteraan (literaturer), puisi, drama, musik, tari-tarian dan seni-senin visuil lainnja.

Dalam pengetian jang sempit sering jang dimaksud dengan Art itu hanja jang tergolong dalam seni visuil saja (Visual Arts), karena inilah jang dianggap sebagai kreasi jang artistik jang bisa menimbulkan komunikasi melalui mata, padahal kalau hanja diartikan demikian maka seni visuil itu hanja berkisar pada tiga bagian saja :

1.      Lukisan (painting)

2.      Seni Pahat (sculpture)

3.      Seni Bangunan (architecture)

Sedangkan unsur-unsur pokok jang sangat diperlukan dalam seni visuil ini ialah garis, bentuk (form), warna (colour), ruangan (space), tjahaja (light), badjangan (shade), dengan peranan jang berbeda sesuai menurut pembidangan-pembidangan jang tersebut di atas, misalnja bagi pelukis warnanja merupakan unsur pokok sedangkan bagi arsitek bentuk dan garis-garis jang merupakan unsur pokok, demikian bidang-bidang lainnja. Di dalam seni visuil ini orang sudah mulai mentjiptakan imaginasi-imaginasi semenjak zaman dahulu (palaelithicum) dan pada abad ke 20 ini dibeberapa tempat di Afrika. Kreasi-kreasi mereka di arahkan untuk melindungi diri dari gangguan-gangguan keganasan alam sekitarnja jang dapat menjelamatkan diri mereka dan dapat mengamankan suplai makanan jang dibutuhkan, disamping mewariskan spirit dan semangat kepahlawanan kepada anak tjutju mereka. Salah astu peninggal seni visuil primitif ialah lukisan-lukisan binatang jang digantung di dinding sebagaimana terdapat di Lascaux Perantjis jang dilukis sekitar rahun 15.000 sampai dengan 10.000 sebelum masehi. Jang mendjadi motif bagi artis-artis pada zaman palaelithicum untuk mentjiptakan gambar-gambar ini antara lain ialah untuk mewariskan tradisi-tradisi jang mereka alami dalam melindungi diri dari antjaman-antjaman binatang buas, karena itu gambar-gambar jang mereka tinggalkan ialah seperti gambar-gambar bison, binatang-binatang besar dan sebagainja. Bentuk lebih banjak merupakan expressi visuil jang realistik selandjutnja setjara bertahap mengarah kepada abstraksi sesuai dengan perkembangan zaman.

Demikianlah setjara garis besar pengertian Art setjara luas dan sempit.  Maka apabila forum diskusi ini hanja menindjau Art setjara sempit maka hanja terbatas kepada visual art saja. Saja kira bukan ini jang diinginkan oleh kita semua melainkan Art dalam pengertian jang luas, ini berarti bahwa jang mendjadi pemikiran kita meliputi kesusasteraan, puisi, drama, musik tari-tarian dan seni-seni visuil serta lainnja jang ada hubungannja dengan itu. Semua bidang-bidang ini ada di daerah Atjeh jang telah tumbuh dan berkembang semenjak berabad-abad lamanja.

Di dalam pertumbuhan kesenian Atjeh banjak didjiwai oleh adjaran-adjaran agama Islam, bahwa pemuka-pemuka agama pada zaman dahulu setjara langsung memimpin perkembangan kesenian ini dengan tudjuan pembentukan jama’ah sehingga dengan demikian mudah memberikan memberikan adjaran-adjaran agama kepada anggota-anggota jama’ah tadi, bahkan sekarang pun dapat kita lihat dan dengar kalimat-kalimat jang diutjapkan dalam tari-tarian jang djelas menundjukkan ada pengaruh agama dalam tari-tarian tersebut. Adanja pengaruh agama ini mendjadikan kesenian Atjeh lebih dinamis, hal ini disebabkan karena adjaran agama itu sendiri memdorong ke arah perobahan dinamis. Pada zaman pertengahan ketika agama Islam mulai tersebar diseluruh jazirah Arab maka banjak kesenian-kesenian ditempat jang dimasuki oleh Islam itu sifatnja sangat statis dan tradisionil tetapi setelah pengaruh Islam berhasil memasuki arena kesenian tersebut maka banjak kreasi-kreasi baru timbul sehingga lebih meningkatkan dinamisasinja seperti muntjul maqamat dan meningkatnja kreasi dalam bidang seni bangunan. Kebudajaan dan kesenian Persia lebih dalam kreasinja demikian pula kesenian di Indonesia pada masa dinasti Moghul. Kesenian asli dikembangkan dengan baik dan iisi dengan djiwa Islam sebagaimana djuga dilakukan oleh Sultan Akbar, sehingga salah seorang seniman Hindu jang bernama Tansen memeluk agama Islam dan dengan agamanja jang baru dia terus mengembangkan seni musik jang sesuai dengan djiwa Islam. Hal ini pernah dikemukakan oleh seorang sardjana Muslim jang sekarang masih hidup dan tinggal dinegaranja Pakistan bernama I. H. Qureshi dalam satu artikel berdjudul Islam Under the Moghul jang dimuat dalam Cambridge History of Islam djilid ke II.

Karena itu dalam nilai kesenian Atjeh ini kita tidak dapat melepaskannja dari pengaruh agama Islam dan ini menurut hemat saja tidak akan menghambat untuk diperkembangkannja dimasa-masa jang akan datang. Kita harus mentjari djalan jang mungkin dilakukan guna perkembangan kesenian Atjeh ini terutama dalam rangka kesenian modern. Sebagaimana jang saja singgung di atas rasanja hal ini tidak banjak mengalami kesulitan bila komunikasi antara daerah ini dengan luas sudah terbuka selebar-selebarnja sehingga tidak terisolir sebagaimana jang sudah-sudah. Ini tidak berarti bahwa dengan pengaruh jang datang dari luar itu kesenian Atjeh akan modern, tetapi jang saja maksud adalah bahwa dengan adanja kontak dengan unsur-unsur lain menimbulkan daja kreasi baru untuk berpikir bagaimana melandjutkan kesenian ini. Rakjat Atjeh mudah menerima pengaruh dari luar namun pengaruh itu harus ada pengarahannja sehingga tidak sampai merobah indentitasnja sendiri. Banjak kesenian-kesenian di Eropah misalnja sudah dipermodern sehingga sedemikian rupa tetapi ada beberapa aspek dari kesenian itu tidak menghilangkan identitasnja sama sekali. Berbeda dengan kesenian Djawa jang statis maka kesenian Atjeh lah dinamis. Kesenian Djawa sukar menerima pengaruh dari luar walaupun kontak dengan luar lebih mudah dilakukannja, tapi karena karakter statisnja menjebabkan keseniannja tidak mudah dimasuki oleh unsur-unsur dari luar.

Keinginan kita ialah bagaimana kesenian daerah ii tidak beku sehingga dalam masa selandjutnja dapat dikembangkan mendjadi suatu kesenian jang dapat dibanggakan dalam rangka reinventarisasi kesenian nasional. Menurut hemat saja tjara jang baik untuk dilakukan untuk langkah permulaan ialah :

1.      Mengadakan Art collecting

2.      Mengadakan Research jang mendalam

Apakah jang dimaksud dengan Art Collecting ini ?

Menurut Encyclopedia Americana (2:390) jang dimaksud dengan Art Collecting adalah suatu pengumpulan jang sistimatis mengenai karja-karja kesenian baik dilakukan setjara individuil maupun jang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemerintah (Art Collecting is the sistimatics accumulation of work of art by private individuals or by public Institusions) didalam memberikan penilai terhadap pentingnja art collecting ini Sir Kenneth Clark seorang ahli sedjarah kesenian Inggeris mengatakan : ”Apabila semua dikatakan, maka bumi ini penuh dengan koleksi-koleksi jang sangat banjak jumlahnja, tapi tanpa adanja koleksi maka banjak hasil-hasil karja seni jang besar akan hilang dan musnah”. Karena itu bangsa-bangsa jang beradab dari dulu sangat mementingkan art collecting ini seperti apa jang pernah dilakukan pada abad-abad sebelum masehi oleh Tiongkok, India, Sumeria, Mesir, Creta, Babilonia dan Persia, walaupun koleksi-koleksi pada masa itu lebih banjak dinilai dari segi religi dari pada dari segi aosthetika.selandjutnja pada permulaan abad ke 19 mulai dilakukan Ars Collecting setjara modern sehingga mengalami perkembangan jang pesat sampai sekarang ini. Untuk tertjiptanja Art Collecting ini dibutuhkan Art Museum atau Art Galleries untuk menjimpang dan mempertundjukkan benda-benda budaja. Untuk daerah Atjeh sudah ada Rumoh Atjeh dan kalau ini ditingkatkan pembinaannja akan merupakan Art Museum jang berguna di belakang hari. Adapun benda-benda budaja jang harus disimpan itu meliputi :

1.      Kesusteraan : Mengumpulkan semua karja sastra dari pudjangga-pudjangga Atjeh baik jang sudah lama maupun jang masih baru.

2.      Pusi : mengumpulkan semua sjair-sjair jang disusun oleh pejair-penjair Atjeh baik dulu maupun sekarang.

3.      Drama : Mengumpulkan naskah-naskah drama jang pernah dilakukan oleh dramawan-dramawan Atjeh baik dulu maupun sekarang.

4.      Musik : Mengumpulkan hasil karja musikus-musikus Atjeh baik dulu maupun sekarang.

5.      Tari-tarian : Mengumpulkan semua gambar-gambar mengenai tari-tarian Atjeh baik dulu maupun sekarang, bila mungkin merekam kata-kata jang diutjapkan dalam tari-tarian tersebut dan tari-tarian jang sekarang banjak berkembang bila mungkin didokumentir setjara film, slight dan sebagainja.

6.      Seni Visuil : Mengumpulkan semua hasil karja seniman-seniman Atjeh baik di dalam seni lukis, seni pahat dan seni bangunan serta hasil-hasil kerajinan tangan lainnja.

7.      Mengumpulkan apa saja jang berbentuk kesenian budaja.

Kolesi ini sangat penting untuk bahan studi khususnja bahan studi perbandingan. Misalnja apakah sama Seudati sekarang dengan Seudati 100 tahun jang lalu? Kalau tidak sama dimana letak perbedaannja? Untuk mendjawab ini memerlukan kepada research atau penjelidikan. Hasil penjelidikan ini sedapat mungkin diadakan suatu rekonstruksi terhadap kesenian jang terdjadi pada seratus tahun jang lalu kemudian memikirkan bagaimana memperkembangkannja untuk tahun-tahun selandjutnja. Kepentingan ini bukan saja di dalam memperkembangkan kesenian itu sendiri tetapi perlu apabila ada keinginan untuk membuat film-film sedjarah. Apabila jang dikisahkan Sultan Iskandar Muda dengan penari-penarinja, maka tentu saja pakaian penari itu ialah pakai jang mereka pakai dikala itu. Untuk mengetahui tjorak dan bentuknja sudah tentu membutuhkan penjelidikan. Apa jang saja kemukakan ini saja rasa bukan hal baru tetapi seharusnja demikian, maka bagaimana pun djuga bagian technis penjusunan film itu harus tahu benar bagaimana bentuk tjelana Napoleon dan prajurit-prajuritnja. Dan bagi Dunia Barat hal ini tidak mengalami kesulitan lagi karena koleksi-koleksi mereka dalam bidang ini sudah sangat lengkap dan terpelihara.

Bila usaha ini dapat kita lakukan maka saja optimis kesenian Atjeh dalam artinja jang luas dapat dipelihara dan diperkembangkan dengan baik tanpa menghilangkan identitasnja sendiri.

Mudah-mudahan pokok-pokok uraianini ada faedagbta.

Terima kasih. –

Jogjakarta, 01 Agustus 1972

PANITIA PUSAT

PEKAN KEBUDAJAAN ATJEH KE-II

(The 2nd. Atjeh Cultural Festival)

KESENIAN ATJEH. IDENTITAS DAN PENGEMBANGANNJA DALAM RANGKA KEBUDAJAAN NASIONAL

MODERN

O

L

E

H

PROF. DR. ABUBAKAR ATJEH

SUMBANGAN PIKIRAN

PADA SEMINAR KEBUDAJAAN

DALAM RANGKA PKA-II DAN DIES

NATALIS KE-XI UNIVERSITAS SJIAH KUALA

21 S/D 25 Agustus, tahun 1972.

D

I

BANDA ATJEH

KESENIAN ATJEH. IDENTITAS DAN PENGEMBANGANNJA

DALAM RANGKA KEBUDAJAAN MODERN

I. PENDAHULUAN

Dalam pokok pembitjaraan ini saja menjumbangkan pikiran, sebagaimana djuga dalam pokok pembitjaraan sedjarah, karena saja tidak boleh tugas apa-apa.

Oleh karena pembitjaraan kesenian Atjeh, terutama dalam rangka mentjari indentitas dan pengembangannja di tengah-tengah kebudajaan modern, saja anggap penting, maka saja minta diperkenankan turut djuga berbitjara dalam soal ini.

Pokok pembitjaraan kurang djelas, karena kesenian itu banjak sekali matjamnja, tetapi barangkali jang dimaksudkan oleh penjusun atjara ialah kesenian-kesenian jang merupakan kesenian suara, kesenian tari, kesenian musik. Atau mungkin dimaksudkan sastra atau kesusasteraan.

Tjabang-tjabang kesenian ini agak lebih menondjol dalam masjarakat kita sekarang ini, terutama dalam kalangan pemuda dan pemudi kita.

Djika ini jang dimaksudkan, memang perlu ada pemikiran jang agak mendalam, pembitjaraan jang agak meluas, karena tjabang seni suara, tari, musik dan sastra, pada waktu jang akhir ini, sangat didesak oleh kesenian Barat, jang kalau kita abaikan, akan hilang unsur-unsur kesenian asli dalam kebudajaan kita. Djika jang dimaksudkan dengan pokok atjara itu kesenian-kesenian lain, seperti karang mengarang, kesenian bertenun, kesenian melukis dan memahat, kesenian membuat perhiasan emas dan perak, kesenian membuat alat senjata, kesenian bangun-bangunan, dan kesenian-kesenian jang berhubungan dengan adat istiadat dalam kehidupan sehari-hari, saja rasa kita tidak banjak mempunjai perbedaan paham.

Memang menghidupkan kesenian-kesenian itu kembali dianggap perlu. Saja setudju sekali dengan utjapan Bapak Menteri Agama baru-baru ini, jang mengatakan, bahwa tiap orang Indonesia harus mementingkan tiga perkara, jaitu agama, ilmu pengetahuan dan kesenian.

II. SEDJARAH FILSAFAT KESENIAN

Sudah beratus-ratus atau beribu-ribu tahun orang membitjarakan kesenian dan tudjuan kesenian. Bagi Socrates dan Plato kesenian itu adalah ungkapan jang sesuai dengan kebenaran, dalam kata-kata jang indah dan ksatria. Sedang Aristoteles, begitu djuga kemudian Batteux, berpendapatan, bahwa kesenian itu adalah prinsip dan lukisan tjita-tjita dari pada alam. Karena pengertian ini, tidaklah heran bahwa dalam abad jang ke 19 kita dapati paham Naturalisme dalam kesenian, jang mengutamakan dalam keseniannja lukisan atau ungkapan jang sangat mendekati ke dalam alam jang sebenarnja. Filsafah ini tentu berlainan dengan filsafah Platon dan agama Kristen, jang dalam lukisan kesenian serta ungkapannja menondjolkan kebenaran jang bersifat tjita-tjita dan kerohanian., tidak hanja lukisan atau ungkapan jang bersifat alam kebendaan semata-mata, meskipun Stoa dan Spinoza kedua-duanja tidak meninggalkan paham Naturalisme.

Maka dalam aliran naturalisme (alam) kati dapati dasar-dasar aesthetiza (ilmu keindahan), jang menudju kepada realisme jang tadjam dan mempengaruhi, baik dalam kesenian, karang-mengarang dan bahasa, maupun dalam kesenian pahat-memahat jang atjap kali dinamakan impressioralisme. Adam Van Scheltema mengatakan, bahwa aliran naturalisme ini bergerak kedepan dengan sangat kuatnja. Katanja, bahwa jang demikian itu ialah disebabkan oleh pengaruh pengetahuan tentang alam jang sangat tjepat madjunja dan memperoleh kemenangan dalam segala bidang.

Di negeri Belanda sedjarah kesenian menundjukkan bahwa Frans Netscher (”Gids”, 1885-1886) dan Loderiyk Van Deyssel termasuk orang-orang jang mempertahankan paham naturalisme itu, dengan menempuh djalan Emile Zola George Moore dan M. G. Conrad. Pendorong naturalisme terbesar tak dapat disangkal adalah Ibsen dan Tolstoy.

Aliran naturalisme ini, terutama dalam seni lukis, sudah masuk ke Indonesia melalui pelukis-pelukis kiri, baik dengan nama aliran naturalisme, maupun dengan nama espressionisme, dan lain-lain.

Di samping itu masih banjak orang memberikan penilaian kepada seni keindahan (fiyne kunsten), terutama di Indonesia, lebih-lebih di Atjeh, seperti jang saja katakan pengaruh agama masih kuat. P.R. (Dr. Chr. P. Raven?) menulis bahwa Encycl. V. H. Moderne Denken (Arnhem, 1950), bahwa dunia atau alam sebagaimana jang ada tidaklah selalu dilukis atau diungkapkan seperti jang ada itu. Kita memandang alam ini sebagaimana jang ada tidak selamanja indah. Pelukis dapat saja meniru warna pohon-pohonan, atau penggambar boleh berpikir tentang bintang sebagaimana jang ada, tetapi bentuk alam jang sebenarnja tidalah selalu ditiru. Jang terpenting ialah, bahwa gambaran alam itu dibentuk dalam djiwa kita, dan kita melihat alam itu melalui djiwa dan rasa kita dengan segala keindahannja, djadi tidaklah dapat didekati setjara objektif. Dalam kesenian kita akan mendapati gambaran alam baru , jang ditjiptakan oleh seorang ahli kesenian, jang dapat melihat suatu jang indah dalam alam ini. Keperibadian ahli seni, baik seni kata-kata seni lukisan, maupun seni rupa atau njanjian, itulah jang akan berbitjara. Apa jang dituangkan ke dalam sesuatu seni, bukanlah sesuatu hakikat kebenaran, tetapi tiruan keindahan, jang dapat dirasa oleh semua orang. Hasil kesenian bukanlah hakikat kebenaran, karena aesthetika adalah khajali, tiruan dalam kesenian terhadap alam. Kesenian ini mengatasi alam, karena ia mentjiptakan suatu alam baru. Hal ini tidak mengatakan bahwa kesenian itu terputus dari pada kebenaran dan berdiri sendiri. Sesuatu hasil kesenian harus menggambarkan kebenaran, dan harus ada hubungannja dengan alam, sebagaimana sesuatu khajal tidak dapat berdiri tidak terlepas dari pada hakikatnja (hal. 375).

III. TA’RIF KESENIAN DAN PENGGOLONGANNJA

Dalam ilmu sedjarah kesenian diakui bahwa memang banjak diberikan orang ta’rif kesenian, hal ini disebabkan tidak mudah memberikan betas-batas pengertian tentang kesenian itu. Ta’rif jang diberikan orang kebanjakan merupakan lebih dekat kepada uraian (omschijven) atau keterangan suatu ta’tif jang membatasi. Oleh karena itu ta’rif-ta’rif tersebut hampir semua tidak memuaskan. Apalagi waktu perkembangan aliran-aliran paham politik sekarang ini, ta’rif itu hampir tidak dapat dijakinim karena kehilangan objektifiteitnja dan karena dengan ta’rif aliran itu pembatja ditudjukan kepada suatu arah tertentu.

Sebagaimana sudah kita djelaskan dalam sejaran filsafah kesenian, umum masih banjak memegang kepada ta’rif jang sederhana, jaitu bahwa kesenian itu adalah mentjiptakan segala sesuatu jang indah, lebih ilmiah dapat kita katakan, bahwa kesenian itu adalah mentjiptakan dan melaksanakan keinginan pedjuang (idea), jang bentuknja sesuai dengan pertumbuhan djiwa golongan manusia setempat Van Deysel menjebut, ”kunst is passie”, sedang Kloos menamakan ”kunst is emotie”, ”kesenian asmara”, kesenian itu getaran djiwa, rentjana”. Herbert Kuhn memberi pengertian : Kunst is de in vormen uitgedrukte betrekking van het eindige ik tot het oneindige ik” (kesenian itu adalah hubungan jang sudah dilahirkan bentuknja dari pada pribadi jang terbatas kepada pribadi jang tak terbatas). Bahkan orang sampai kepada utjapan mengenai pertanjaan, apakah arti kesenian kepada djawaban : ”Kesenian itu memberikan djawaban tersendiri berkenaan dengan zaman dan suasananja”.

Pada zaman dahulu, barang kali di Indonesia zaman sekarang ini, orang membagi kesenian itu dalam tjabang-tjabangnja tersendiri dengan pembatasan-pembatasan pengertian jang tadjam. Tetapi pembagian sematjam itu sekarang agak sulit dipertahankan , karena kadang-kadang jang dimaksud itu dengan kesenian adalah perpaduan dari pada beberapa tjabang seni, seperti perpaduan antara seni suara, termasuk kesenian sadjak, kesenian musik dan kesenian tari, bahkan di Atjeh tidak boleh dilupakan termasuk kesenian pakaian.

Sesuatu hasil kesenian pada hakikatnja adalah hasil dari pada tjiptaan djiwa, jang diperoleh dari pada pertumbuhan jang lama, sesudah ditinjau dari segala sudut kesadaran.

Dapat kita mengadakan penggolongan menurut tangkapan djiwa dan djuga menurut nilai halus kasarnja. Tetapi dalam penggolongan ini adalah tangkapan pantja indera, misalnja kesenian jang dapat dirasakan dengan mata (optische) atau jang dapat ditangkap oleh telinga (acoustische). Kesenian-kesenian jang bersifat optiche adalah adalah seperti senin bangun-bangunan, seni pahat, seni lukis, dll. Sedang seni jang bersifat acoustiche adalah seperti seni kataq-kata (termasuk seni karang-mengarang, seni pembuatan sadjak dan pantun) dan seni musik. Kadang-kadang kedua matjam seni ini berkumpul, misalnja dalam seni sandiwara.

IV. KESENIAN SASTERA ATJEH DAN INDONESIA

Bagi Atjeh seni sadjak atau pantun, seni gurindam atau sja’ir (hikajat) termasuk kesenian jang penting, jang sedjak beratus tahun telah mempengaruhi getaran djiwa dan kegemaran orang Atjeh. Djika kita berikan ta’rif kepada seni kata-kata ini, jang paling sederhana ialah, bahwa kesenian itu adalah suatu dorongan jang dilahirkan khajalan dalam bentuk jang sangat indah dan dengan perantaraan bahasa dan susunan kata jang dituangkan dalam suatu bentuk, jang bukan saja oleh penulisan atau penjairannja, tetapi djuga oleh orang lain dapat diterima oleh sesuatu keindahan. Oleh karena itu kepada seorang penjair ditetapkan sebagai sjarat, bahwa ia dengan pilihan kata-kata dan susunan kalimatnja dapat mentjiptakan keindahan, dan dapat memberikan keindahan itu dirasakan oleh orang lain. Vischer mengatakan tentang seni karang-mengarang dan sadjak adalah : ”de kunst der kunsten, dan totaliteit det kunsten”, artinja kesenian dari segala kesenian, semesta (totaliteit) dari segala kesenian, artinja pusat atau kelengkapan dari segala kesenian.

Sedjak dahulu kala bahasa Indonesia, dahulu bernama bahasa Melaju, selain dari pada bahasa resmi dan diplomasi, djuga merupakan bahasa kesenian, bahasa kebudajaan, untuk karang-mengarang dan pembuatan sjair dan sadjak, sebagaimana jang sudah saja bitjarakan dalam bandingan saja mengenai ”Peranan Sastra Atjeh dalam Sastra Indonesia”. Bahasa Indonesia biasanja digunakan untuk persoalan-persoalan ilmiah, perjanjian-perjanjian politik dan peraturan-peraturan serta surat-menjurat antara daerah-daerah dengan daerah dan antara Atjeh dengan negara Asing (ingat hubungan dengan Turki, Belanda dalam masa Prins Mauriss, dan Amerika, Spanjol dan Postugis). Kitab-kitab agama Islam, baik jang merupakan nasar (ingat Mir’atut Thullab, dll.), maupun jang merupakan sjair-sjair atau nalam, hampir semua di tulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf Arab. Bahasa Atjeh hanja digunakan untuk mengarang sedjarah, roman, pantun dan pepata petitih, karena barang kali penulisan tjerita-tjerita jang bersadjak dalam bahsa Atjeh dengan huruf Arab itu, selain untuk isi jang merupakan hikmahf dan peladjaran, djuga ditudjukan untuk mengadjarkan kepada orang Atjeh, membatja dan menulis bahasa Atjeh dengan huruf Arab, dengan lain perkataan membasmi buta huruf dalam kalangan masjarakat Atjeh.

Sebelum kedatangan Belanda, meskipun belum ada sekolah-sekolah dalam arti kata jang sebenarnja anak-anak Atjeh baik laki-laki atau perempuan, sudah mempunjai rumah-rumah pendidikan, sebagai jang sudah saja kemukakan dalam timbangan saja mengenai ”Wajah Rakjat Atjeh Dalam Lintasan Sedjarah”, ketika saja menjinggung kebudajaan Atjeh dalam masa Sultan Iskandar Muda.

Peladjaran membatja dan menulis di dapat melalui haba-haba dan hikajat Atjeh. Ilmu-ilmu mengenai kesenian diperoleh, terutama bagi anak-anak dan gadis Atjeh dari pada wanita-wanita jang sudah berumur dan jang sudah banjak ilmu dan pengalamannja. Pada malam hari berkumpullah anak-anak itu di rumah orang tua tersebut; masing-masing membawa kesenian jang dihadapinja, seperti menganjam tikar, menjulam dan menerawang, dan lain-lain. Di samping itu orang tua tersebut biasanja mengemukakan dongeng dan tjerita-tjerita jang menarik dari sedjarah Atjeh, nasehat dan pengadjaran perkara-perkara jang bersangkutan dengan ibadat, dan biasanja disinilah orang tua-tua itu memberi semangat perlawanan terhadap Belanda . Van Heutsz mengetahui hal ini dan Dr. Snouck pun mempeladjari suasana jang demikian itu. Maka dengan demikian lahirlah banjak sekali dalam masa pemerintahannja sebagai Gubernur Atjeh dan Penasehat Pemerintahan Hindi Belanda sekolah-sekolah desa untuk semua djenis dan kopschool untuk anak-anak perempuan, dimana diadjarkan djuga sedikit kesenian misalnja membuat renda benang dan masak-masakan, tetapi kehilangan kontak dengan wanita-wanita ahli kesenian sebagaimana tersebut di atas berakibat hilang pulalah bibit-bibit dan ahli kesenian di Atjeh. Hasil-hasil industri dan pabrik dari luar negeri, terutama dari pemerintahan djadjahan, menjerbu dengan harganja jang murah ke Atjeh, dan turut mempertjepat ajalnja kematian seni-seni Atjeh.

Dari kedjadian ini kita ambil kesimpulan, bahwa harus ada usaha-usaha jang membangkitkan kembali kesenian-kesenian itu, merawat pada akhirnja mendjadikan badan-badan industri. Pekerdjaan dari pada kesenian-kesenian itu, bagaimanapun asli dan indahnja pada akhirnja tidak dapat menjaingi barang-barang industri dan pabrik.

Di atas sudah kita kemukakan bahwa kesenian kata-kata adalah kesenian jang paling dahulu lahirnja, pembangkit kesenian-kesenian jang lain. Kesenian sastra dapat memenuhi kesenian-kesenian lain. Ia dapat memberikan rupa seni pahat, seni lukis, seni tari dan sebagainja. Kesenian jang lain itu berbeda dengan seni sastra hanjalah dalam menggunakan alat-alat, misalnja bagu dan palu untuk seni pahat, tjat dan kuas untuk seni lukis dan tabuhan untuk seni musik dan lain-lain. Semua kesenian lain itu memberikan bentuk dan tjorak, tetapi rasa dan khajat dari seorang penjair adalah hakikatnja, meskipun dalam bentuk fantasi. Kata-kata itu bukanlah hanja sekedar tanda dan alamat, kata-kata itu dapat mempunjai tjorak dan warna sendiri, sebagaimana jang pernah kita dapati dalam karja-karja pengarang itu.

Oleh karena itu saja tidak mengaku terus benar mereka jang berpendidikan, bahwa edjaan huruf terpisah dari pada bahasa dan suara. Kata-kata adalah gambaran suara, tidak dapat dipisahkan sebagaimana jang terdapat dalam huruf Tjina ideografi, tulisan lain di batja lain. Edjaan baru, C harus di batja TJ, jang sudah mendjadi kejakinan dan batjaan berpuluh tahun. Akan sukar sekali anak-anak kita membatja Atjeh dari pada Atjeh, Atjara dengan Atjara, bukan saja merupakan suatu kesukaran bagi bangsa Indonesia jang sudah berpuluh bahkan beratus tahun menggunakan tj itu (ingat tja, da, pa, ga, aja,, jang dijarkan oleh nenek mojang kita bersama huruf Arab sesudah ”Alif, ba, ta”).

Oleh karena itu sekali lagi saja njatakan pendapat saja disini, bahwa dalam memadjukan sastra dan kesusteraan Atjeh, dalam menetapkan edjaannja, tidaklah usah terlalu berpedoman kepada bahasa Nasional Indonesia, karena kesukaran-kesukaran jang kita dapati dalam huruf hidup dan huruf mati jang sebentar-bentar berubah. Edjaan baru bahasa Indonesia bagi saja bukan menjederhanakan tetapu menjukarkan, kalau tidak mengatjaukan dan merugikan.

V. BEBERAPA KESENIAN ATJEH JANG HAMPIR LENJAP

Dr.Snouck Hutgronje dalam kitabnja ”De Atjehers sedikit sekali menjingung tentang Atjeh. Mungkin dia kurang beroleh informatie atau atau perhatiannja terhadap persolaan kesenian. Karena tugas pokok pemerintahan kepadanja ialah mempeladjari, persoalan agama dan adat, jang merupakan dasar bertahan orang-orang Atjeh jang menghadapi Belanda. Sepandjang jang dapat saja batja dalam karangan-karangan Snouck, ternjata, bahwa penasehat-penasehatnja kebanjakan orang-orang jang beragama, jang biasanja tidak begitu menaruh perhatian terhadap soal-soal kebudajaan dan kesenian. Maka oleh karena itu tidaklah heran, djikalau Dr. Snocuk dalam pasal ”Kunst”, kesenian mengatakan : …”de kunst lieten wij in het opschrift van dit hoofdstuk onvermeld”, artinja tentang kesenian Ace tidak abaikan saja karena kesenian di Atjeh, sepandjang jang dapat kami ketahui, tidak mempunjai arti jang penting (II, 65).

Disamping itu menganggap kesenian Atjeh tidak berarti, kia mengaku, bahwa kesenian-kesenian Atjeh itu pernah ada dan memuntjak dalam kemadjuannja, terutama mengenai seni pahat, seni bangunan, seni tenun dan seni perhiasan emas dan perak , ia mengakui bahwa di Meuraksa, pada zaman jang silan pernah terdapat ahli-ahli pemahat nisan jang tidak tidak sedikit kemadjuannja. Memang ada kemungkinan, bahwa ada beberapa batu nisan itu di datangkan dari India, tetapi bikinan sendiri jang kemudian terdapat pada beberapa tempat di sekitar daerah Meurakas itu, sudah mempunjai tjorak sendiri, baik jang terdapat dalam bentuknja untuk pria dan untuk wanita, baik jang terdapat dalam menjusun ajat-ajat Qur’an jang di pahat dalam huruf Arab jang indah. Dari nisan dan tulisannja, dapat kita ketahui apakah djuga jang dikuburkan di bawah nisan itu, seorang Sji’ah, seorang Ahlisunnah, seorang Radja atau Ulama, seorang pria atau wanita.

Dr. Snouck mengatakan, bahwa kesenian ini sudah hampir lenjap ”Deze kunst is thans zoo goed als dood”, demikian katanja. Pada tempat jang lain ia mengatakan, bahwa orang-orang dari Meuraksa itu sampai waktu terakhir masih mempunjai ketjekatan dalam memahat batu-batu nisan itu, sehingga ”batee Meuraksa” itu masjhur dan tersiar serta di gemari di seluruh Atjeh.

Senin bangunan masih memperlihatkan sisanja di Atjeh, misalnja ”Goenôngan” dan ”Pintô Khôb”, jang diakui olehnja, meskipun dengan rasa tjuriga, sebagai dua buah seni bangunan jang dahulu berdiri dalam sebuah taman jang indah di sekitar Istana Keradjaan Atjeh.

Pada waktu Dr. Snouck datang di Atjeh, di dapati kemadjuan luar biasa dari senin tenunan sutera, dengan berbagai tjorak dan warna jang indah dan dengan sutera jang dipelihara sendiri ulatnja dan dipintal sendiri benangnja. Dari pada kesenian ini disebutkan diantaranja kain sarung sutera, selendang sutera dan tjelana sutera jang masing-masing bermerek dengan nama tempat kain-kain itu ditenun, misalnja ija Lamgoegôb, Lamkareuëng, Lambhoe, dan sebagainja.

Memang pada masa jang lampau kesenian di Atjeh itu, terutama mengenai tenun-menenun, sulam-menjulam mendapat perhatian besar dari luar negeri, seperti jang pernah kita batja dalam sedjarah ”De Zijdeindustrie in Atjeh”.

Lebih lengkap kita dapati djuga pembitjaraan tentang kesenian tenunan dan kesenian pembuatan senjata serta kesenian pembuatan barang perhiasan emas dan perak dalam karangan J. Kreemer, ”Atjeh”, I dan II, dihiasi dengan gambar-gambarnja jang sangat menarik.

Tetapi sajang hampir semua kesenian itu, sesuai dengan apa jang diutjapkan oleh Dr. Snouck ”Deze Kunst is thans zoo goed als dood”, kesenian ini sekarang hampir mati, bahkan apa jang ada ketinggalan sepotong dua di rumah-rumah orang Atjeh, dijual kepada bangsa Asing untuk diangkut ke luar negeri, jang berarti kerugian bagi bangsa Indonesia, seperti jang pernah di katakan oleh Adam Malik.

Sebab jang lain jang membuat kesenian-kesenian Atjeh itu makin sehari makin mundur karena tidak dapat menjaingi barang-barang import dalam harganja dalam penjiarannja jang luas, jang mematikan kesenian-kesenian asli, jang hanja di kerdjakan dengan tangan dan belum mentjapai tingkat jang tinggi pabrik nasional.

Dr. Snouck mengemukakan sebagai sebabnja, bahwa rasa kesenian rakjat Atjeh memang kurang dan dingin (II : 65), dan kedua sebagai alasan mundur karena kemunduran politik di Atjeh, dan sebagai alasan jang ketiga disebutkan agama Islam, jang diantara adjaran-adjarannja sangat menghambat hidup jang artinja kesenian.

Saja sangka, bahwa alasan-alasan jang dikemukakan itu kurang benar, jang benar adalah bahwa kesenian-kesenian tenun itu belum dipimpin setjara baik, orang belum memikirkan pendidikan kejuruan tentang tenun-menenun, penampalan bei dan pembikinan alat-alat senjata, serta bantuan pemerintah dalam mendjalurkan hasil-hasil kesenian itu keluar Indonesia umumnja dan keluar daerah Atjeh khususnja. Sedangkan adjaran haram memakai sutera bagi orang laki-laki hanja terdapat dalam mazhab Sjafi’i, sedangkan mazhab lain ada jang menghalalkannja, sama halnja dengan hukum memakai kain wool sekarang ini.

VI. IDENTITAS DAN PEMBANGUNAN SENI ATJEH

Baik identitas maupun pengembangannja kesenian Atjeh itu dapat menantang modernisasi. Hal itu tentu saja djika kesenian Atjeh itu mendapat perhatian dan bantuan jang penuh baik dari pemerintah maupun dari masjarakat umum.

Langkah jang pertama-tama ialah mempaladjari keaslian kesenian-kesenian Atjeh, mempeladjari keaslian bahasa, sastra dan kesusteraan. Untuk ini harus ada pengadjaran bahasa Atjeh dalam semua tingkatan perguruan, terutama dalam perguruan tinggi. Bahasa Atjeh jang diadjarkan itu bukan dialek setempat, tetapi bahasa Atjeh standard, sebagaimana jang sudah dimulai oleh ahli-ahli ketimuran Belanda. Dalam pengadjaran bahasa itu djangan dilupakan grammaticanja, bukan gramatica jang hanja disalin dari pada gramatica bahasa Indonesia, sebagaimana pernah diterbitkan oleh Departemen P dan K, tetapi diperbuat jang khusus mengenai sifat-sifat bahasa Atjeh serta susunan kalimatnja. Lain dari pada itu dalam Seminar Kebudajaan ini dibitjarakan dengan matang tentang edjaan ditetapkan dan diumumkan untuk dipakai diseluruh Atjeh, sebaik-baiknja melalui DPRD dan Departemen P dan K.

Sewaktu-waktu diadakan perlombaan mengarang dalam bahasa Atjeh, jang disambut dengan hadiah-hadiah perangsang. Untuk maksud pengadjaran bahasa Atjeh tersebut, disediakan kitab-kitab batjaan jang baik pada sekolah-sekolah itu. Begitu djuga untuk keperluan umum Hikajat-hikajat dan Haba-haba jang baik jang ditjetak dan disiarkan dengan harga murah dalam satu edjaan jang sudah disahkan.

Saja sudah usulkan utuk kepentingan ini hendaklah selekasnja mungkin diadakan Lembaga Bahasa Atjeh, jang selalu mengikuti perkembangan dan berusaha memadjukan bahasa Atjeh sebagai suatu bahasa daerah dan kebudajaan di Indonesia.

Pembitjaraan-pembitjaraan dan polemik mengenai bahasa Atjeh disalurkan melalui madjalah, tidak terbit tiap bulan, kalau perlu terbit pada waktu-waktu tertentu, dimana dimuat segala persoalan tidak hanja mengenai seni sastra dan kesusteraan, tetapi djuga mengenai kesenian-kesenian jang lain, pembitjaraan-pembitjaraan jang sudah merupakan polemik, sekali-kali diputuskan dalam sidang-sidang kebudajaan, seperti jang terdjadi dengan Pekan Kebudajaan Atjeh ke II ini. Madjalah Kebudajaan Atjeh ini perlu lekas diadakan dan harus dilangganani oleh mereka jang menaruh perhatian dan keahlian untuk itu.

Disamping pengadjaran bahasa, sastra dan kesusteraan serta penerbitan-penerbitan madjalah Kebudajaan tersebut, harus ada djuga tempat melatih kesenian Atjeh, jang sekarang atjap kali dinamakan Park, taman hiburan dan taman ria, dimana diberikan kesempatan kepada semua golongan jang ingin memperlihatkan keseniannja kepada umum, tentu saja dengan bajaran dan pimpinan jang baik serta teratur. Taman ria ini harus ada pada tiap-tiap daerah kesenian, seperti Seudati Tunang di Pidie, Phô di Atjeh Barat, kesenian Gajo dan Alas di daerahnja. Seniman-seniman jang melatih kesenian itu dengan Sendirinja akan memadjukan tjabang kesenian masing-masing, unsur-unsur asli ditambah dengan unsur-unsur modern. Misalnja Seudati, jang mempunjai tjorak Pidie Atjeh Besar dan Atjeh Barat(Djuga) lama kelamaan dapat diiringi, tidak hanja dengan tepuk tangan dan tepuk dada, tetapi dengan menggunakan musik. Kesenian pakaian Atjeh dengan perhiasannja dapat membantu banjak dalam urusan ini. Ahli-ahli kesenian Seudati tidak saja dapat menjumbangkan pantun-pantun jang bermutu mengenai sedjarah, mengenai kisah dan mengenai pendidikan, tetapi lama-kelamaan akan sampai kepada mengubah pantun-pantun bahasa Indonesia dan gurindam-gurindamnja untuk perkembangan diseluruh tanah air.

Pusat taman ria ini tentu harus terletak di Banda Atjeh dan di bawah pimpinan keahlian Lembaga Kebudajaan Atjeh.

Pada pendapat saja dengan djalan demikian dapatlah segala matjam kesenian itu dituntun selangkah demi selangkah kepada kemadjuan jang ditjita-tjita dan diidam-idamkan.

Memang mendjadi pertanjaan : apakah seni suara modern, sebagaimana jang dihadapi dan digemari oleh pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi kita sekarang ini, dalam bahasa Inggeris dan bahasa Indonesia dengan irama Asing, dapat ditampung dalam bahasa Atjeh? Bahasa Atjeh adalah suatu diantara bahasa-bahasa Indonesia jang agak lengkap dengan kata-kata istilah-istilah dan irama-iramanja. Hanja sampai sekarang ini belum tumbuh perhatian kesitu dan belum ditjoba disesuaikan dengan lagu-lagu modern sekarang ini.

Bukan saja bahasa Atjeh, tetapi bahasa Indonesia pun baru memasuki pertjobaan, untuk menjesuaikan sadjak dan iramanja dengan musik barat, kita sedang mentjari suatu kesenian jang tjotjok buat zaman dan suasana sekarang ini. Asal dimulai dengan melatih keasliannja lebih dahulu, saja rasa pembaharuannja akan menjusul.

Bahasa Atjeh, sama dengan orangnja kata orang Barat, mempunjai ”groote asnpassingsvermogen”, mempunjai kekuatan penjesuaian diri jang benar.

TJINTA BERPADU

Djibri saleuem teuma sigra,

Keu Radja jang tamong keunoë,

Tango meutjhe djiseumapa,

Ngon suara mangat bunjoë.

”Kajeé bangka djroh hidoo öon,

Meuhimpoö tjitjém sinarö,

Nateuh keunö teungku ampon,

Uloon seuson duwa djaroë.

Bateung digleë djroh meuhimpoon,

Ka geupeutroon dalam sungoë,

Kureung meudjelih kamoë dusoon,

Teungku ampoon meu’ah djeueb sjoë.

Reusam qanun tan loon turi,

Mitsee baduwi uloonteuh njoë,

Beurajoëk meu’ah nibak duli,

H’an loon tukri reusam nanggroë.

Lila Bangguna seuoöt sapa,

Djaweueb chaba tuwan putroë,

Leumooh leumboöt meusuwara,

Sang biula tango bunjoë.

”Na bu kamoë njak meuhuboon,

Angén peutroon lam dönja njoë,

Kamoë neuteiek bagaoë ie mboon,

Angén peutroon lam nanggroë njoë.

Putroë djoök ranub dalam puwan,

Samboot joöh njan po samlakoë,

Radja samboöt trooh u tangan,

Putroë joöh njan neukheuen meunoë

”Ranub uteuen loon dueq lam glee,

H’an meusampoe reasadjih njoë,

Tuwanku bék sakeet hatee,

Bék neuruhee ’ajewb kamoë.

”Kru seumangat hee boh hatee,

Bak loon mitsee intan pudoë,

Bak gata njak ranub uteuen,

Bak loon buleuen silaseeh roë.”

Keterangan      :

Dikutip dari :

Hikajat Putroe Gumbak Meueh

Karangan ; tidak ddjelas siapa

Hikajat dikarang dalam masa pemerintahan Sulthan Iskandar Muda, (isinja roman jang indah sekali) jang terdjadi antara Putra Mahkota Lila Bangguna dengan Putroë Gumbak Meueh.

Rangkuman-rangkuman di atas ini melukiskan suatu pertjakapan romantis pada suatu malam di istana Putroe Gumbak Meueh.

 

DETIK-DETIK PERPISAHAN

”Adak tuwanku neubeurangkat,

Neukeubah pat putroë hina,

Meung goh meupat loon neukeubah,

Karena Allah h’an kubri bungka.

Pat tuwanku loon neukeubah,

Déetlat leupah prang meulaka,

Ampon tuwanku déelat meukatö,

Kumat didjaroë bak neubungka.

Meung h’an meupat neukeubah kamoë,

Achee rugoë po meukuta,

Teuma meuseuoot meukuta alam,

Radja shalihan ”adee radja.”

”Gata kupeudjoök putroë bak Allah,

Sinan kukeubah rueq-rueq masa,

Gata kupeudjoök putroë bak Allah,

Joöh awaj phoon djudoo keu gata.

Gata taduëq lam meuligoe,

Tuhan sidroë njang peulara,

Teuma seuoot tuwan putroë Phang,

Putroë djeumulang ahli bitjara.

”Meunjo neupeudjök loon bak Allah,

H’an kuthuen langkah bah lee neubungka,

Adak neudjoök bak soë laeen,

Diloon h’an kutem po meukuta.

Leupah tuwanku neudjak panggee prang,

Putroë seumbahjang djilakee du’a,

Djeueb-djeueb watee seumbahjang hadjad,

Lakee sjufa’at keu po meukuta.

Teuma djikheuen tuwan putroë,

That bit raghoë bidjak sana,

Adak tuwanku djadéh beurangkat,

Putroë djak euntat ’oh mieng kuala……,”

Keterangan :

Dikutip dari :

Hikajat Maleem Dagang

Pengarang  : Teungku Tjhik Pantee Geulima, seorang/ kenamaan jang mempunjai pengetahuan luas/ulama.

Hikajat ini mentjeritakan kissah Sulthan Iskandar Muda mengarungi Selat Melaka untuk memerangi Portugis jang telah mendjadjah Malaya.

Rangkuman-rangkuman di atas melukiskan bagaimana terharunja waktu Sulthan Iskandar Muda akan berangkat, dimana terdjadi dialog jang sangat sentimentil antara Iskandar Muda dengan permaisurinja Putroe Phang.

ADIL DAN MAKMUR

Udeep tumboohan meugantoë-gantoë,

Sabab na uroë keunong tjuatja,

Suloöthan Sarah adee lam nanggroë,

Meunankeuh bagoë sifeuet utama.

Haraeutoë adee sabee timbangan,

Nibak hukooman peugang neuratja,

Waleépoon nameit hamba teuboosan,

Beuthat suloothan njan suké radja.

Njang ka patoot brat h’ana djeuet ringan,

Hukoom quruän Hadits Sajdina,

Ngon qieh éedjeumak teungoh pakatan,

Beuna salahan h’an djeuet meutuka.

Hareuetoë sifeuet peunjajang,

Leumah tepandang nibak ri rupa,

Suara maméh h’ana krang tjeukang,

Geutuloong alang barangsoë teuka.

Waleé bangsa Kleeng ureueng meudagang,

H’an tom djiriwang na sroöt suara,

Meunakueh bangon sifeuet peunjajang,

Teuma meuriwang makna taquwa.

Makna taqwa ’ibadat sunggoöh,

Hatee tëewadjoh keu Tuhan Esa,

Djibeudoh tjahja bandrang seumeuloöh,

Peugeueh udjeuoöh tangloong peulita.

Njaqni neupeubuut pakri njang suröh,

Anggéeta tudjooh leumah keutada,

Nibat buut teugah neuboh udjioöh,

Hareuem dan meukroöh h’antoom meuhawa.

Keu aneueq r’aqjat neubri adjaran,

Dum seukalijan tuha ngon muda,

Hukoöm dan adat kanun dan reusam,

Santoon dan supan meudjeulih bahsa.

Lagi neuju buut meugoo meuladang,

Laéën nibak njan ddjalan pemuga,

Bandum na r’aqjat h’an neubri malang,

Peu-ee njang suwang meung sidroö h’ana.

Keterangan :

Dikutip dari :

Hikajat Nun Parisi.

Pengarang ; tidak diketahui.

Dikarang pada masa djajanja Keradjaan Atjeh Darussalam.

Suatu roman politik jang indah sekali, amat tebal. Rangkuman-rangkuman di atas mensifati sifat adil, taqwa dan pemurah dari Radja Sarah jang disebut dalam Hikajat itu.

SATU NEUGERI DUA RADJA

”Pakon butamoë adoë meutuwah,

Tatjuba peugah peue duka tjita?

”Pakari h’an loon moë adeun teungku droë

Uloon eue nanggroë habeeh binasa.

Loon kaloon nanggroë ka djeuet keu uteuen,

Timoh beuraleuen deungon drang ddjawa,

Banda hee adeun ka djimeutuka,

Kroong tjut dimeugla u gampong ddjawa,

Nibak uloon h’ana pikee,

Bah lee matee he langkah ba,

H’an tom digob na tadeungo,

Sabooh nanggroë duwa Radja.

Sabooh keunambam dua gadjah,

Sabooh meunasah dua peutuwa,

Sabooh keubeu duwa keunambang,

Dua agam saboh dara.

H’aba tateem tapanggee prang,

H’ana sajang ke Poteuh Muda,

H’an mee tadjök njan meunalee,

Bah taboöh kee keu panglima.”

Keterangan :

Dikutip dari :

Hikajat Potjut Muhammad.

Pengarang : Teungku di Rukam.

Hikajat ini dikarang dalam zaman pemerintahan Sulthan Iskandar Muda Alaiddin Sjohan Sjah (1735-1760). Hikajat mentjerikan peristiwa perang saudara jang dahsjat sekali, jaitu antara Sulthan Alaiddin Sjohan Sjah dengan Djamalul Alam Badrul Munir jang memproklamirkan dirinja mendjadi Sulthan dan bertempat di kampung Ddjawa. Potjut Muhammad adiknja Sulthan Alaiddin Sjohan Sjah jang mendjadi tokoh utama dalam hikajat ini.

Rangkuman di atasd melukiskan dialog antara Potjut Muhammad dengan abangnja Potjut Klaengi (adik kedua dari Sulthan Alaiddin Djohan Sjah).

PERANG DI TELUK ATJEH

Took Keutjik Bugeeh njan djara hitam,

Neumat ngon tunam neutimbak meudjra,

’oh bah djimeusu njan djara hitam,

Udalam awan djibaplung taga.

Kapaj Beulanda meulinggang-linggang,

Keunong sinampang bak ureueng tuha,

Njang di darat pih h’ana teudoöh,

Ngon boh beureutooh ubeë-beë taga.

H’ana sinjaw’ong njang na djipijoöh,

H’an tom teudoöh meusiklep mata,

Sino di darat pih h’ana peue peugah,

Subeuehanallah h’an eek soë kira.

Masa njan kafee na meunjum ugah,

R’aqjat barullah hatee ka lija,

Masa njan kafee meunjum teumakoöt,

Joöh njan djiseuroöt u Pulo Bunta.

Beentara Peukan teuma kheun meunoë,

Pakon kaboh droë asoë nuraka?

Pakon h’an kaeek bak troöh u sagoë,

Pakon kaboh droë U Pulo Bunta?.

Ladom ulikoöt Pulo Lampudjang,

Njang le djiriwang u Pulo Bunta,

Ladom lam aroöh Pulo Tampuroöng,

Bandum ka djitroön u laoöt Radja.

Keterangan :

Dikutip dari :

Hikajat : Prang Koompeuni.

Karangan ; Doö Karim (Abdul Karim), seorang Ulama/penjair.

Dikarang selagi berketjamuk Prang Atjeh.

Enam rangkuman di atas ini melukiskan kekalahan Belanda dalam penjerbuan pertamanja. Hikajat ini tebal dan indah sekali.

PANITIA PUSAT

PEKAN KEBUDAJAAN ATJEH KE-II

(The 2nd. Atjeh Cultural Festival)

PERANAN SASTRA ATJEH DALAM

SASTRA INDONESIA

O

L

E

H

ADNAN HANAFIAH, S.S

PRASARAN

PADA SEMINAR KEBUDAJAAN

DALAM RANGKA PKA-II DAN DIES

NATALIS UNIVERSITAS SJIAH KUALA KE-XI

21 S/D 25 Agustus, tahun 1972.

D

I

BANDA ATJEH

PERANAN SASTRA  ATJEH DALAM

SASTRA INDONESIA

PENDAHULUAN

Bangsa melaju Polinesia berasal dari Kamboja, Tjampa dan Cochin Tjina atau daerah-daerah jang berdekatan dengan daerah-daerah itu. Demikian kesimpulan Prof. H. Kern pada tahun 1989[1]). Dua tahun kemudian Prof. G. K. Nieman menjatakan, bahawa bahasa Atjeh dalam banjak hal menundjukkan persamaan-persamaan dengan bahasa jang dipergunakan orang pada zaman dahulu dalam keradjaan Tjampa. G. K. Niemann berkata : ”Welicht een gedeelte der bevolking van groot Atjeh unit Tjampa afkomstig is[2]. Artinja barangkali sebagian penduduk Atjeh benar berasal dari Tjampa.

Sebelum agama Islam berkembang di Perlak pada tahun 846 M, agama Hindu dan Budha pernah di anut oleh penduduk di Atjeh. Kita hanja dapat mempersaksikan bekas-bekas tjandi di Indra Patra, Indrapuri, Indrapurwa dan bekas-bekas peninggalan di Lam Nga, beberapa kuburan Hindu tersebar di daerah Atjeh.

Menurut Mohd. Junus Djamil pengarang silsilah Tariach Radja-radja Keradjaan Atjeh mengatakan bahwa pada permulaan abad Masehi Ptelomaeus seorang pengembara bangsa Junani pernah singgah di negeri Indra Purba (Lamuri) dan Indra Jaja (Seudu). Pengembara bangsa Junani itu menamai daerah itu ”Argure” dan dia mengatakan di sana ada dua emperium tempat pengumpulan barang-barang dagangan jang mendjadikan ekspor antara India dan Tiongkok. Maka djelaslah, bahwa sedjak zaman dahulu daerah ini merupakan daerah perdagangan jang terbuka bagi seluruh bangsa jang berhubungan dengan persoalan-persoalan ekonomis, dengan barang-barang dagangannja jang termasjur ke seluruh dunia. Demikianlah sebagai suku bangsa jang suka mengembara atau berlajar dengan kapal-kapal lajar pada masa itu, membawa barang-barangnja ke Tjambaj/Gujarat sampai ke Asia ketjil, bahkan ke negeri Tiongkok melalui Siam, Pegu, Kamboja dan Tjampa. Maka untuk mengisi waktu jang terbuang di negeri-negeri jang disinggahinja, timbullah bermatjam-matjam angan-angan jang berbentuk seni sastra, baik prosa maupun puisi jang banjak ditemui di daerah ini. Kegemaran akan pentjiptaan dan penggubahan karja sastra sebagai tjiri djiwa jang bebas, terpantjarkan dalam karja seni dengan bermatjam-matjam lukisan dan gambaran jang sesuai dengan zamannja, baik hasil karja tjiptaan sendiri maupun salinan dari karja asing. Kegemaran mendengarkan tjerita-tjerita pelipur lara dan hikajat-hikajat sudah mendjadi kebiasaan dalam masa-masa perantauan dan pengembaraan.

Dalam De Atjehers II halaman 276, Dr. C. Snouck Hurgronje menjatakan : ”Hoofden en geringen, eud en jeng van beide geslachten zijn letterlijk virzot op de Hikajats met uetzon dering slecht van enkele schijnheiligen, die ook dit vermaak te wereldsch of den inhoud van sommige romans te weinig specifiek Moslimsch achten, artinja : baik orang-orang besar atau orang ketjil, tua atau muda, laki-laki maupun perempuan semuanja tergila-gila kepada hikajat-hikajat, ketjuali beberapa putera saleh jang menganggap hal itu bertentangan dengan agama Islam. Mengenai wanita Atjeh dikatakannja : ”Omrent de positie der vrouwen in Atjeh opmerkten, zal het niemand verwonderen, dat zij ini liefhebberij voor en kennis van literatuur vaor de mannen geenszins wijls onthalen zij hare vrouwelijke gasten soms ook mennelijke op het reciest eener hikjat en ieder geeft vaoe zulk genoot gaarne zij nachtrust prijs” artinja : mereka tidak kalah dari pada kaum laki-laki baik tentang kegemarannja, maupun pengetahuannja tentang kesusasteraan. Mereka tidak tidur sampai pagi.

Daerah ini tidak hanja kaja dengan barang-barang dagangan seperti jang disebutkan dalam hikajat, tetapi djuga kaja dengan hasil karja sastra. Karja sastra jang ditjipta atau digubah oleh pudjangga-pudjangga Atjeh sedjak masa dahulu sampai sekarang banjak berbentuk puisi, sehingga daerah Atjeh sedjak abad ke-14 telah diproklamasikan sebagai daerah puisi jang diabadikan pada sebuah batu nisan di Minjé Tudjôh. Disana kita dapat menjaksikan dua bait sjair jang berbunji :

Hidjrat Nabi Mustapa jang prasida

Tudjuh ratus asta puluh sawarsa

Hadji tjatur dan dasa wara sukra

Radja iman warda rachmat Allah

Gutra Barubasa mpu hak kadah pasema

Taruk tasih tanah samuha

Ilahi ja rabbi Tuhan samuha

Taruh dalam warga Tuhan tatuha.

Setelah sedikit dipermudah oleh Dr. C. F. Stutterheim maka bunjinja : Setelah hijrah Nabi kekasih jang telah wafat, tudjuh ratus delapan puluh satu tahun bulan zulhijjah empat belas hari Jum’at, Ratu iman warda (Rachmat Allah bagi Baginda) dari Suku Barubasa di Gujarat mempunjai hak Kedah dan Pasei menaruk di laut dan di darat semesta taruhlah Baginda dalam swarga Tuhan.

Pada batu nisan itu terdapat bahasa tjampuran antara bahasa Sanskerta, Arab dan Melaju, karena tahun 1380 M. Adanja peralihan antara masa Hindu ke Islam.

Pada zaman modern pun bumi Atjeh bermandikan sjair-sjair gubahan penjair-penjair terkenal di daerah ini antara lain :

1.      Wa Gadöng karja Sjech Min Djeureula.

2.      Hikajat Hasan Husin. Nasib Putôh Harapan karja Sjech Rich Krueng Raja.

3.      Kamaruzzaman karja Tibranu.

4.      Ratapan Peristiwa Atjeh karja A. Gani Mahmud.

5.      Hikajat Prang Tjumôk karja Ibnu Abbas.

6.      Hikajat Prang Tjumôk, Haba Peulandôk (prosa) karja Tgk. Jahja Baden.

7.      Si Lindông Geulima, Bungong Mawoe Deah Barô (prosa) karja Anzib Lamnjong.

8.      Tanda Mata, Si Miskin, Sijudô Pahlawan Atjeh, Tadjôl Mulôk karja Araby Ahmad.

9.      Nasib Atjeh, Seumangat Atjeh, Pantôn Atjeh, karja Abdullah Arif.

10.  Srikandi karja Aminah Abdullah Arif.

11.  Seuramoe Mekkah karja Ismuha.

SASTRA ATJEH

Sastra Atjeh sebagai hasil karja sastra daerah identik dengan sastra Indonesia klasik. Hasil-hasil sastranja selain ditulis dalam bahasa Atjeh djuga di tulis dalam bahasa Melaju atau bahasa Indonesia klasik. Hikajat Radja-radja Pasei di tulis dalam bahasa Indonesia jang pada waktu itu terkenal dengan bahasa Melaju. Dr. R. Roolvink dalam Bahasa dan Budaja[3]) mengakui, bahwa bahsa Melaju dalam hikajat Radja-radja Pasei sangat baik dan terpelihara. Demikian pula bahasa resmi jang dipergunakan oleh Radja-radja dan pegawai-pegawainja di Atjeh pada masa dahulu adalah Bahasa Melaju. Segala peraturan negara seperti Undang-undang Dasar Negeri Atjeh jang terkenal dengan Adat Poteu Meureuhôm di tulis dalam bahasa Melaju.

Dalam Mir’at at Tullab halaman 6, Abdurrauf Sjiah Kuala mengatakan bahwa Paduka Sri Sultanah Tadjul Alam Safiatuddin Sjah menjuruhnja mengarang sebuah kitab dalam bahsa Djawi jang dibangsakan kepada bahasa Pasei. Mula-mula ia menolaknja, karena ia tidak pandai lagi berbahasa Djawi. Kemudian menerimanja, setelah ia diberi dua orang penerjemah dari bahasa Arab ke bahasa Melaju. Salah seorang diantaranja ialah Babah Daud seorang Tjina Muslim.

Hasil-hasil karja satra Atjeh jang masih dikenal oleh masjarakat di Atjeh antara lain :

1.      Hikajat Asai Pasé.

2.      Hikajat Abu Samah.

3.      Kisah Abdullah Hadat.

4.      Nalam Abda’u.

5.      Akeubarô Karim.

6.      Hikajat Abdô Mulôk.

7.      Hikajat Abu Nawaih.

8.      Hikajat Banta Beuransah.

9.      Beukeumeunan.

10.  Hikajat Banta Ahmad.

11.  Hikajat Banta Ali.

12.  Hikatar Basa Djawoe.

13.  Hikajat Buseutamam.

14.  Hikajat Banta Ra’na.

15.  Hikajat Batěe Meutangkôb.

16.  Hikajat Djaka Bodo.

17.  Hikajat Diwa Sjangsaréh.

18.  Hikajat Djuha Ma’nikam.

19.  Hikatar Diwa Akaih.

20.  Hikajat Djugi Tapa.

21.  Hikajat Diu Plinggam.

22.  Hikajat Dari.

23.  Hikajat Edeurih Kholani.

24.  Hikajat Guda.

25.  Hikajat Gadjah Tujôh Ulèe.

26.  Hikajat Gumbak Meuh.

27.  Hikajat Hajaké Tudjoh.

28.  Hikajat hadat.

29.  Hikajat Indra Bangsawan.

30.  Hikajat Indra Patra.

31.  Hikajat Iskandar Ali

32.  Hikajat Kamarôdaman.

33.  Hikajat Leumo.

34.   Hikajat Leutông.

35.  Hikajat Malém Dagang.

36.  Hikajat Malém Diwa.

37.  Hikajat Malém Diwanda.

38.  Hikajat Meudeuhak.

39.  Hikajat Masa Djeuet Dônja.

40.  Hikajat Sjama’un.

41.  Hikajat Saijidina Usén.

42.  Hikajat Muhamat Napiah.

43.  Hikajat Menhandjéi Abidin.

44.  Hikajat Munadjat.

45.  Hikajat Indra Peutawi.

46.  Nikeubajan.

47.  Hikajat Nun Parisi.

48.  Hikajat Nasrun Adé.

49.  Hikajat Nabi Usuh.

50.  Hikajat Nubuet.

51.  Hikajat Nabi Meutjukô.

52.  Nalam Sifeuet Dua Ploh.

53.  Nalam Djawoe.

54.  Hikajat Otebahôjrolem.

55.  Hikajat Po Diamat.

56.  Hikajat Po Djamboe.

57.  Hikajat Potjut Malém Muhammad.

58.  Hikajat Prang Kompeuni.

59.  Hikajat Putroe Barén.

60.  Hikajat Plandôk Kantjé.

61.  Hikajat Pra’un.

62.  Hikajat Prang Radja Khiba.

63.  Hikajat Printah Salam.

64.  Hikajat Peudeung.

65.  Hikajat Peureuléng.

66.  Hikajat Planta Sina.

67.  Hikajat Putroe Bungong Djeumpa.

68.  Hikajat Prang Sabi.

69.  Hikajat Ruhé.

70.  Hikajat Radja Sulaiman.

71.  Hikajat Ranto.

72.  Hikajat Radja Djômdjômah.

73.  Hikajat Radja Bada.

74.  Ratéb Inong.

75.  Hikajat Radja Budak.

76.  Hikajat Radja Rubék.

77.  Hikajat Radja Bajeuen.

78.  Hikajat Si Pandie.

79.  Haba Si Meuseukir.

80.  Hikajat Sjahkubat.

81.  Hikajat Tudjôh Kisah.

82.  Tambihôn Insan.

83.  Hikajat Saijedina Andah.

84.  Surat Kiréman.

85.  Sifeuet Dua Ploh.

86.  Hikajat Suganda Ali.

87.  Hikajat Siti Dabidah.

88.  Hikajat Tamlikha.

89.  Hikajat Tamim Ansa.

90.  Siri Rama.

91.  Tambéh Tudjôh Blah.

92.  Tjipèe Alam.

93.  Tambihôn Rapilin.

94.  Tjam Nadiman.

95.  Hikajat Tjinta Buhan.

96.  Hikajat Ureueng Ddjawa..

Sebahagian besar hasil karja sastra Atjeh berwudjud hikajat atau tertulis dalam ikatan puisi jang berisi bahan-bahan sedjarah Atjeh seperti Hikajat Malém Dagang, Hikajat Potjut Muhammad, hikajat Prang Kompeuni, Hikajat Nun Parisi mentjeritakan dua keradjaan di utara dan timur sebelum berkembangnja keradjaan-keradjaan Atjeh lainnja.

Hikajat Radja-radja Pasei berisi silsilah Radja-radja Pasei dan Hikajat Suganda Ali berisi silsilah Radja-radja Pasei dan Keureutoe. Hikajat Gadjah Tudjôh Ulée mentjeritakan peperangan melawan Tjina. Hikajat Gumbak Meuh isinja tjerita seorang gadis jang memegang peranan sebagai pahlawan. Saudaranja berjumlah sembilan puluh sembilan orang. Hikajat ini didjadikan disertasi oleh Katharina Amshoff dengan djudul Goudkruintje. Hikajat Putroe Bungong Djeumpa mentjeritakan perkawinan Putera Mahkota Atjeh dengan Putri Radja Tjampa. Hikajat Prang Sabi adalah hikajat jang sangat terkenal di seluruh Atjeh, merupakan kesusasteraan epos jang membangkitkan semangat perdjuangan bagi pembatjanja, karena daja imajinasinja penjairnja sangat kuat dan tinggi dengan sjair-sjair hiroik dan romantis. Demikian pula perasaan dendam dan kebentjian jang meluap-luap terhadap kafir pendjadjah menimbulkan rasa ikhlas berdjuang untuk menghantjurkan musuh.

Djika orang Melaju membangkitkan semangat perdjuangan melawan Portugis di Malaka dan membatja Hikajat Amir Hamzah atau Hikajat Ibu Hanafiah, maka di daerah Atjeh Hikajat Prang Sabi lah di kisahkan di daerah-daerah jang mendjadi basis perdjuangan. Demikianlah sekadar gambaran ini beberapa hikajat jang saja ketahui semoga mendjadi perangsang bagi peminat-peminat jang ingin menjelidikinja.

Selain dari pada hikajat-hikajat tersebut di atas tak adil kiranja, bila kita mengenjampingkan sebuah peribahasa Atjeh jang bernama Narit Madja, jaitu kumpulan pengalaman-pengalaman, pikiran dan perasaan-perasaan orang tua-tua pada masa dahulu, jang diungkapkan dalam kalimat-kalimat dan ungkapan-ungkapan pendek, tepat dan jitu. Peri bahasa ini sangat berguna bagi generasi sekarang dan selandjutnja, karena mereka akan menjadari bagaimana sikap dan pandangan hidup orang Atjeh sedjak zaman dahulu jang sangat menjunjung tinggi keluhuran budi bahasa dalam kehidupan masjarakatnja.

PERANAN SASTRA ATJEH

Sesuai dengan teori Dr. Ph. S. Van Ronkel, bila karja sastra itu datang dari Islam, maka ia lebih dahulu masuk dalam sastra Melaju, kemudian baru ke dalam kesusasteraan Djawa. Demikia pula sebaliknja bila ia berasal dari kesusasteraan India.

Berdasarkan beberapa bukti jang saja berikan di atas tentang penulisan sastra Atjeh, jaitu selain di tulis dalam bahasa Atjeh djuga di tulis dalam bahasa Melaju, djelaslah kiranja bahwa sastra Atjeh jang berbagai ragam bentuk tjeriteranja sangat penting dan besar artinja bagi perkembangan sastra Indonesia.

Beberapa hal jang menarik perhatian saja antara lain :

1.      Hikajat Pak Belalang dalam sastra Indonesia sama dengan tjerita Si Gasien Meuseukin dalam sastra Atjeh.

2.      Dalam Hikajat Malém Diwa terdapat nama-nama Andam Dewi, Nilam Tjahaja, Milam Permata dan Genta Sari jang mengingatkan kita kepada nama-nama jang mirip dengan nama-nama orang di daerah Atjeh pada zaman dahulu.

3.      Malik al Mahmud puteri Malik Az Zahir Radja Pasei tidak ditemui dalam sedjarah Melaju, padahal dalam hikajat Atjeh djuga ditemui nama Radja Mahmud Sjah dan tjeritanja dalam hikajat Atjeh hampir sama dengan tjerita dalam Hikajat Malém Deman dalam sastra Indonesia.

4.      Tjerita Meudeuhak djuga sama dengan Mahasodak.

Demikian pula beberapa hikajat lain seperti Radja Djômdjômah, Abu Samah dan lain-lainnja sama dengan hikajat dalam sastra Indonesia.

Tak perlu saja memaparkan tjontoh-tjontoh lebih landjut, djika para hadirin melihat kembali ke halaman-halaman belakang tentang hasil-hasil karja sastra Atjeh jang masih dikenal oleh masjarakatnja, tentu para hadirin dapat mempertimbangkan sendiri jang mana karja sastra Atjeh tjiptaan sendiri dan mana jang berasal dari sastra Asing.

KESIMPULAN DAN SARAN

Daerah Atjeh kaja dengan hasil-hasil karja sastra baik puisi maupun prosa. Karja-karja sastra itu ditulis dalam bahasa Atjeh dan bahasa Indonesia atau pada masa dahulu dengan bahasa Melaju.

Penjelidik-penjelidik sastra Melaju penjelidik Barat menggolongkan semua karja sastra jang berbahasa Melaju ke dalam bahasa Melaju tanpa meneliti lebih landjut daerah asalnja, padahal bahasa Melaju pada masa itu di kenal dengan bahasa Djawi, sehingga hasil-hasil karja pudjangga-pudjangga Atjeh djuga di masukkan ke dalam golongan kesusasteraan Melaju atau kesusasteraan Indonesia.

Melihat hasil-hasil karja sastra Atjeh masih tersebar di seluruh Atjeh, maka perlu kiranja Pemerintah Daerah mendirikan suatu Lembaga Sastra Atjeh jang bertugas mengumpulkan memperbanjak (reproduksi) dan menjebar luaskannja, agar hasil-hasil karja sastra itu dapat diperoleh dengan mudah oleh masjarakatnja, sehingga mereka dapat mengenal sikap, pandangan hidup dan keperibadian Atjeh sedjak zaman dahulu sampai dewasa ini.

Apabila hasil-hasil karja itu dapat dimiliki oleh suatu Lembaga Sastra di Atjeh maka hal itu sangat berguna bagi generasi muda kita, karena mereka akan mengetahui bagaimana produktifnja pentjiptaan karja-karja sastra oleh pudjangga-pudjangga daerahnja, jang isinja sangat berguna bagi pembangunan mental/spirituil masjarakat Atjeh khususnja, Indonesia pada umumnja.

Maka sudah selajaknja, apabila karja-karja sastra dalam bahasa daerah itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, agar pembangunan jang dimaksudkan di atas itu berhasil dengan baik.

Demikianlah Prasaran Peranan Sastra Atjeh Dalam Sastra Indonesia jang dapat saja susun, semoga kita mendapat petundjuk Tuhan dan sukses dalam segala kegiatan.

DAFTAR BATJAAN

1.      Junus Djamil M.                   –     Silsilah Tawarich Radja-radja Keradjaan Atjeh, Penerbit Adjdam-I/Iskandar Muda

2.      Penerbit Djembatan dan      -     Sedjarah Melaju DdjilidI (Arab-Indonesia), Djakar

Gunung Agung                          ta-1909.

3.      Lembaga Bahasa dan           -     Bahasa dan Budaja No. 3 Fakulteit Sastra dan

Budaja                                        Filsafat Universiteit Indonesia, Djakarta.

4.      Ddjawatan Kebudajaan       –     Bahasa Atjeh No. 1 tahun I/1959- Geupeuteubit

Kem. P. P. dan K.                       16 Bagian Bahasa Ddjalan, Kimia 12 Djakarta.

5.      Snouck Hurgronje, Dr. C.    -     De Atjehers deel II, E. J. Brill 1984

6.      Winstedt, R. O                     -     A History of Malaj Literature Stensilan Fakultas Sastra dan Kebudajaan, Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta.

7.      Hooykaas, Dr. C.                 -     Perintis Sastra, Djakarta, 1951.

PANITIA PUSAT

PEKAN KEBUDAJAAN ATJEH KE-II

(The 2nd. Atjeh Cultural Festival)

PERANAN SASTRA ATJEH DALAM

SASTRA INDONESIA

O

L

E

H

DRS. ARABY AHMAD

PRASARAN

PADA SEMINAR KEBUDAJAAN

DALAM RANGKA PKA-II DAN DIES

NATALIS UNIVERSITAS SJIAH KUALA KE-XI

21 S/D 25 Agustus, tahun 1972.

D

I

BANDA ATJEH

PERANAN SATRA ATJEH DALAM SASTRA INDONESIA

Oleh : Drs. Araby Ahmad

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah jang telah mengizinkan kami mengetengahkan sekedar kemampuan jang da pada kami pada para peserta seminar sekalian mengenai djudul jang di atas. Selandjutnja terima kasih kepada Panitia, jang dengan penuh kepertjajaan telah menundjuk kami sebagai salah seorang jang turut memberi sumbangan di forum seminar jang berbahagia ini dalam rangka penggalian kembali (rediscover) Kebudajaan Atjeh.

Terus terang saja saja mengakui kekurangan kami dalam bidang ini, disebabkan kami merasa pengetahuan kami di bidang ini sangat sedikit, ditambah pula kekurangan bahan jang dapat digunakan dalam membahas masalah jang dipertanggung djawabkan kepada kami. Kami benar-benar merasa kewalahan memberikan uraian dalam djudul jang diberikan.

Kalau kami memperintji maka kesukaran jang kami hadapi itu antara lain disebabkan :

1.      Kami tidak mempunjai bahan jang tjukup lengkap jang khusus memberikan uraian tersebut di atas. Kami telah mentjoba untuk membolak-balik lembaran Kamus Bahasa Indonesia jang ada di tangan kami, baik karangan Purwadarminta, E.St. Harahap atau St. Muhammad Zain, untuk melihat kata-kata Indonesia jang berasal dari bahasa Atjeh, maka tidak ada sepatah kata pun jang disebutkan berasal dari bahasa Atjeh, walaupun dalam pengertiannja atau arti jang diberikan mo khusus tipe Atjeh, padahal menurut anggapan kami tidak kurang diantaranja jang mungkin berasal dari bahasa Atjeh dengan kenjataan utjapannja jang sama benar dengan utjapan bahasa Atjeh. Malahan jang asli tjiri Atjeh pun tidak disebutkan berasal dari bahasa Atjehwalaupun dalam artinja disebutkan sesuatu benda atau berasal dari Atjeh. Pengarang kamus malahan membuat arti jang sama sekali keliru menurut anggapan kami. Ini tidak mengherankan sebab pengarangnja bukan orang Atjeh, malahan mengerti bahasa Atjeh pun tidak, ini pulalah barang kali timbul kekeliruan-kekeliruan demikian. Dan harus diakui kekurangannja manusia, jang tentu saja tidak mampu menguasai seluruh bahasa walaupun mereka ahli bahasa. Djadi kekuranga-kekurangn jang demikian adalah kekurangan jang wadjar menurut anggapan kami.

2.      Ketidak seragaman bahasa Atjeh itu sendiri menurut keadaan setempat, hingga kini melihat adanja perbedaan antara bahasa di Atjeh, Pidie, Timur, Besar atau Selatan. Atjeh Tengah sengaja tidak kami sebutkan sebab disana mempunjai bahasa tersendiri.

3.      Kurang bahan sastra Atjeh jang terkumpul, baik dalam buku peladjaran ataupun bentuk buku batjaan umum. Malahan di Atjeh ini lebih mudah mentjari buku bahasa Indonesia jang disusun dari masa Atjeh merdeka sebagai satu negara dahulu, dari pada mentjari bahan tertulis dari bahasa Atjeh. Apakah ini suatu bukti bahwa rasa nasional dalam djiwa rakjat Atjeh sudah ada sedjak dahulu, terserahlah kepada peneliti di bidang sedjarah.

Walaupun kami mengemukakan keberatan-keberatan atau kesukaran-kesukaran seperti di atas namun kami berusaha dengan segala daja jang ada pada kami untuk mentjari bahan jang kami katakan itu, dengan kejakinan bahwa dalam forum seminar ini kita dapat sempurna menjempurnakan, kita lakukan apa jang perlu kita lakukan, dikurangi, ditambah, diubah dan sebagainja, sehingga nantinja kita akan memperoleh suatu data baru dalam penggalian kebudajaan Atjeh ini. Dengan kejakinan inilah kami memenuhi permintaan ini. Kita jakin penggalian ini berhasil dengan baik, kalau kami melihat tokoh-tokoh pembanding jang sudah tjukup terkenal dari dahulu. Kita melihat pembanding H. A. Bakar Atjeh, jang merupakan tokoh bahasa Atjeh sedjak kami masih ketjil di volkschool dahulu. Demikian pula pembanding di bidang bahasa Indonesia, orang jang tak asing lagi namanja di seluruh pelosok tanah air, sebagai tokohnja Ruba’ijat abad 20.

Para peserta seminar jang kami hormati. Untuk menudju kepada uraian jang sesungguhnja sesuai dengan djudul jang diberikan jaitu mengenai ”PERANAN SASTERA ATJEH DALAM SASTRA INDONESIA, kami kurang mampu masuk ke dalamnja setjara langsung tetapi terpaksalah kami menempuh djalan jang agak berliku. Untuk ini kami akan memberikan pendahuluan uraian ini mungkin lebih pandjang dari isinja, karena untuk mentjari peranan sesuatu sastra kita harus dengan sepintas lalu mengenal bahasa itu sendiri.

Disamping itu djuga kami tidak dapat setjara langsung dan tegas untuk memisahkan uraian antara Bahasa, Sastera dan Kesusasteraan Atjeh dengan Bahasa, Sastera dan Kesusasteraan Indonesia, sebab menurut anggapan kami antara satu dengan jang lain bertautan sangat erat. Hal ini barang kali nantinja jang akan lebih memperpandjang uraian pendahuluan ini, dengan harapan kami kiranja akan ada djuga manfaatnja.

I. RAKJAT ATJEH DAN BAHASANJA

Kalau kita maksudkan rakjat Atjeh dalam tulisan kami ini maka jang kami maksudkan adalah seluruh rakjat Atjeh jang merupakan satu Provinsi ini, bukan sebagai jang dimaksud oleh Funk & Wagnalls jang menjebutkan dalam bukunja bahwa Atjeh itu merupakan tetangga Pidie. Memang sekarang daerah tingkat II itu tidak disebutkan Atjeh dipangkalnja, tetapi rakjatnja murni sepenuhnja orang Atjeh ketjuali di kota-kota jang bertjampur satu dua dengan jang bukan orang Atjeh, karena itu pengertian Atjeh jang kami maksudkan disini bukanlah sebagai jang dimaksudkan oleh Funk Cs di atas.

Suku Atjeh ini sesungguhnja berasal bukan dari satu bangsa atau daerah asal saja, tetapi berasal dari banjak bangsa dan daerah asal. Akibatnja bahasa Atjeh pun turut pula dimasuki oleh unsur-unsur bahasa daerah atau negara asalnja.

Orang Atjeh ini ada jang berasal dari Hindia Belakang sebagaimana suku lainnja di Indonesia, ada jang berasal dari Arab, Parsi, Eropah dan ada pula jang berasal dari Tjina walaupun sedikit sekali. Masing-masing pendatang itu tentu saja membawa bahasa aslinja ! Dalam penelitian Sjech Muhammad Farid Wadjdi didjelaskan bahwa bangsa jang menduduki Timur dan Selatan Asia bahasanja termasuk rumpun bahasa Irani jang kalau ditinjau dari sudut perbendaharaan bahasanja beliau memasukkan bahasa ini dalam bahasa Area. Terlepas dari setudju atau tidaknja kami terhadap analisa beliau ini, jang penting adalah kenjataan bahwa bahasa itu antara jang satu dengan jang lainnja pengaruh mempengaruhi.

Bahasa itu sesampainja di Atjeh, sedikit banjak harus pula ia menjesuaikan diri dengan bahasa orang ali di Atjeh ini atau jang telah lebih dahulu datang ke Atjeh ini, dan untuk itu haruslah diakui bahwa pengaruh bahasa Sanskerta tjukup besar sebagai bahasa tua dari djenis bahasa Area sebagai kita terangkan tadi, sebagaimana halnja djuga dengan daerah-daerah lain di Indonesia.

Kedatangan orang atau bangsa dari berbagai daerah dan bermatjam tipe itulah kiranja jang menjebabkan amat sukar untuk mentjaritipe asli rupa orang Atjeh. Jang datang dari Timur Tengah atau Eropah rupanja putih jang menurunkan pula kebanjakan berkulit putih kapas. Jang datang dari India djenis Dravida hitam kulitnja. Jang datang dari Tjina kuning kulitnja. Akibat pentjampuran, maka timbullah pula bentuk antara. Umpamanja antara puih dengan hitam lahirlah hitam manis, antara putih dengan kuning timbul putih kuning dan sebagainja. Demikian pula mengenai bentuk rupa atau suara. Jang seterusnja tentu pula mempengaruhi tjara berbitjara jang diterima dari nenek mojang mereka.

Selandjutnja tempat dimana mereka tinggal djuga mempengaruhi kaja miskinnja bahasa mereka. Orang jang tinggalnja di persisir sunji lain dengan jang dipesisir ramai, lain pula dengan jang dipedalaman ramai dan dipedalaman sunji dan seterusnja. Emosi mereka tentu berbeda-beda. Akibat dari emosi jang berbeda tentu pula membentuk bahasa jang keluar dari mulut mereka baik dari sudut tekanan, dari sudut irama dan sebagainja, malahan kekajaan bahasanjapun berbeda pula. Kita melihat di Atjeh ini tekanan bahasa jangh berbeda antara di pesisir Barat dengan Timur dan djuga antara pedalaman dengan pesisir, malahan istilah-istilah jang dipakai lain pula. Ada jang dianggap sopan di satu tempat, dianggap tidak sopan sama sekali dilain tempat.

Tempat mereka jang berdjauhan, ditambah lagi dengan keadaan perhubungan jang tidak lantjar antara satu tempat dengan tempat jang lain, turut pula mempengaruhi perkembangan bahasanja. Ada daerah jang banjak berhubungan ke luar negeri atau banjak pula melihat barang-barang baru dan dengan demikian dapat segera memakai istilah jang dipakai atau diberikan oleh negara pembuat barang itu, sedangkan daerah jang kurang hubungannja kurang lantjar atau kurang mengetahui istilah asli itu, maka mereka lalu membuat nama sendiri, atau memakai istilah jang keliru atau tidak menurut aslinja. Umpamanja pemakaian istilah senter dan battery atau setokin dengan kaus dan selop jang ada daerah pemakaiannja terdjadi kekeliruan dari pemakaiannja, demikian pula umpamanja pemakaian istilah pom dan thermopeles, pato, galang, kapak, kampak atau sron pemakaian istilah pinsil dengan pense, kense atau kensen, demikian pula pemakaian istilah keeh, ipok, baluem dan bheb. Dan banjak lagi istilah-istilah lain jang pemakaiannja sebagai kita sebutkan di atas.

Keadaan tanahpun turut pula mempengaruhinja. Tanah jang subur lebih kaja bahasanja di bidang pertanian dari tanah jang kurang subur, dan menurut kami ini adalah suatu kewadjaran.

Untuk sekedar tjatatan kami kira ada baiknja kami tambahkan bahwa di Atjeh ini terdapat banjak bahasa penduduk disamping bahasa Atjeh jang merupakan bahasa majoritas penduduk, antaranja : bahasa Gajo, bahasa aneuk jamu (aneuk Jamee: djenis bahasa Minang), bahasa Kluet, bahasa Singkil Sinabang, Tamiang dan sebagainja. Disamping terdapat pula bahasa-bahasa antara ditjelah-tjelah bahasa tersebut di atas.

Sebagai kita terangkan di atas tadi, disini menjebutkan bahasa Atjeh, maka jang kita maksudkan adalah bahasa majoritas penduduk Atjeh, walaupun disana sini terdapat perbedaan-perbedaan prinsipil. Perbedaan itu terdjadi mungkin aslinja jang berbeda atau perbedaan itu datang dari pengertian jang mendatang. Umpamanja istilah boh pik jang perbedaan artinja disebahagian daerah hanja karena pemakaian arti kiasan. Tetapi istilah keundee itu memang berbeda dari aslinja.

Disamping  itu bahasa Agama jang dianut oleh seluruh rakjat Atjeh mempengaruhi pula sebesar-besarnja kedalam bahada Atjeh, jaitu agama Islam. Sebagai diketahui bahasa Agama Islam adalah bahasa Arab, dengan pengertian tuntunan agama Islam itu terdapat dalam bahasa Arab, jaitu bahasa pedoman agama Islam Kitab dan Sunnah. Akibatnja tjukup banjak pengaruh bahasa Arab kedalam bahasa Atjeh, malahan sudah diutjapkan pula sesuai dengan lidah atau utjapan Atjeh. Kita maksudkan perubahan utjapan disesuaikan dengan kebiasaan dan mana jang sudah diutjapkan oleh orang Atjeh, umpamanja Isma’il diutjapkan saja Ma’e atau ’E, Jujus diutjapkan dengan Unoh. Malahan kita melihat pula pepatah atau petitih diutjapkan pula sesuai dengan lidah Atjeh, umpamanja AWWALOON KUTUBI’AT, PEUE NJANG LAZEEM NJAN NJANG MANGAT, kita dapat melihat pula berapa besarnja pengaruh adjaran agama Islam kedalam bahasa Atjeh hingga ada pepatah mereka jang berasal dari hadits umpamanja : NIBAK TAMARIT GET TAIEM DROE, HANA RUGOE HANA LABA, NIBAK TAIEM GET TAMARIT, MARIT JANG KEUBIT TATJALITRA, jang merupakan terdjemahan tidak langsung dari hadits shahih MANKANA JU’MINU BILLAHI WAL JAUMIL ACHIR FAL JAQUL CHAIRAN AU LIJASHMUT. Djelaslah bahwa pengaruh sampai dimasukkan mendjadi istilah dari bingkaian kelaziman jang mereka pakai, sehingga kadang kala mereka tidak menjadari lagi bahwa bahasa jang mereka pakai itu adalah bahasa Arab jang di Atjehkan, apalagi jang memegang peranan jang dan jang sangat terpengaruh dikalangan rakjat Atjeh sedjak dahulu adalah pada Ulama, hingga apa jang diutjapkan oleh Ulama dengan bahasa Arab umpamanja langsung mendjadi bahasa umum. Kita melihat umpamanja bagaimana orang-orang Atjeh jang mempeladjari Nahu menghafal langsung terdjemahan Alfijah Ibnu Malik. Untuk sekedar tjontoh marilah disini kita kutip barang sebaris dua dari terdjemahan tersebut, umpamanja :

”Qala Muahammadun huwa bnu Maliki : Kalheueh neukheuen lee Muhammad aneuk Maleek ”Ahammadul : Rabbillaha Chira Maliki : Uloon pudjo Po Teu Allah jang Po Mileek. ”Mushallian ’alan Nabijjil Muhthafa  Meuseleulaweuet ateueh Nabi njang pileehan. ”Wa’alihi mustakmilinasjsarafa : dan ateueh ahli njang sempurna kemuliaan.

Sadjak jang demikian langsung dihafal oleh murid mereka hingga mendjadi bahan umum di kalangan pesantren.

Jang demikian bukanlah suatu hal jang ganjil sebagaimana djuga apa jang diistilahkan oleh orang besar terhadap sesuatu atau orang jang mereka anggap ahli langsung dipakai oleh umum walaupun istilah itu dipakai dengan pengertian jang tidak tjotjok dengan aslinja, walaupun kemudian dibuat alasan bahwa itu bukan bahasa Arab dan sebagainja. Tetapi bahasa Indonesia. Untuk sekedar tjontoh kita kemukakan istilah ”KALIMAT” dalam bahasa Indonesia, jang diakui atau tidak asalnja dari bahasa Arab. Tetapi pemakaian sama sekali terbalik dengan pengertian aslinja, hingga kalau orang mempeladjari bahasa Arab menjebut kalimat, akan berlawanan pengertiannja dengan jang disebut kalimat oleh orang pandai maka kekeliruan itu hilang lenjap sama sekali, hingga tidak lagi dikatakan salah oleh siapapun. Ini kita ambil hanja sebagai bahan perbandingan, jang dengan demikian di Atjeh pun keadaan demikian itu tidak sunji, jang akibatnja bahasa Arab setjara langsung mempengaruhi pula bahasa Atjeh.

Selandjutnja dari perkembangan keadaan dari sehari ke sehari kian berubah sesuai dengan kemadjuan tehnik dan keahlian manusia maka bahasa Atjeh pun mengikuti perkembangan itu, sehingga bahasa Atjeh di pesisir jang banjak mendapat bahan dari kemadjuan itu lebih tjepat madjunja dan kajanja, dibandingkan dengan bahasa jang dipakai oleh masjarakat jang djauh letaknja di pedalaman. Hal ini bukan hanja dalam menentukan nama benda, malahan dalam menentukan kata kerdja djuga demikian, malahan akhir-akhir ini bahasa Asing pun selain bahasa Arab turut mempengaruhi bahasa Atjeh, walaupun hal jang demikian sudah mulai sedjak masa pendjadjahan Belanda, sehingga timbul istilah reken atau teken dalam bahasa Atjeh dan sebagainja.

Seterusnja untuk melihat sampai dimana sastra Atjeh memegang peranan dalam sastra Indonesia kita djuga meneliti pegangan peranan pemerintahan jang tinggi, atau dengan kata lain : pemegang kekuasaan negara sehingga setiap utjapannja mempengaruhi setjara langsung keseluruhan negara jang dengan sendirinja mempengaruhi bahasa Indonesia dan djuga tidak kurangnja bahasa Atjeh. Pendirian kami ini sesuai dengan pendirian Ibnu Chaldun dalam muqaddimahnja. Umpamanja pada suatu saar alm. Sukarno memakai istilah holopis kultur baris atau istilah gotong rojong, maka istilah itu terus dimasukkan ke dalam bahasa Indonesia, walaupun sebelum itu bahasa Atjeh jaitu ”Seuradja” sudah djuga masuk ke dalam kamus Bahasa Indonesia, tetapi karena pemakaian penguasa maka istilah seuradja itu sampai tidak diketahui lagi oleh umum ketjuali hanja orang Atjeh jang masih mengetahuinja, disamping pengarang kamus. Demikian pula bagaimana tjepatnja perubahan TEIT kepada TAS jang dipelopori oleh Mr. M. Jamin karena beliau merupakan orang jang terpengaruh pada waktu itu. Tegasnja bahasa pemimpin pusat itu mempengaruhi langsung bahasa Nasional, dan sedikit sekali bahasa Nasional kelau sesuatu istilah dipakai oleh Pemimpin atau penguasa daerah.

Akhirnja untuk menudju kepada atjara jang ditentukan serta untuk mengambil sesuatu kesimpulan kami kira djuga ada baiknja kalau setjara umum kami memberikan perbandingan bahasa Atjeh dengan bahasa Indonesia di bidang tata bahasa dan kesusasteraan setjara garis besarnja untuk nantinja kami dapat mengambil sesuatu kesimpulan.


II. BAHASA, SASTRA DAN KESUSTERAAN ATJEH

 

A. TATA BAHASA ATJEH

Dengan djudul ini bukanlah kami maksudkan untuk membitjarakan tata bahasanja setjara terperintji, tetapi sekedar ikhtisar jang umum untuk dibadingkan dengan bahasa Indonesia dengan harapan uraian ini djuga akan membantu kita memberikan tindjauan tentang Peranan Sastra Atjeh dalam Sastra Indonesia.

1.      EDJAAN

Kalau kita bandingkan edjaan bahasa Indonesia dengan edjaan jang terdapat dalam bahasa Atjeh, maka akan melihatan bahwa edjaan jang terpakai dalam bahasa Atjeh djauh lebih banjak dari edjaan jang terdapat dalam bahasa Indonesia baik vokal maupun konsonan.

a.       Konsonan : dalam bahasa Atjeh terdapat konsonan rangkap jang tidak ada atau jarang terdapat dalam bahasa Indonesia. Konsonan-konsonan itu adalah : dh (dhiet, dheut dan sebagainja), dr (drop, dra dan sebagainja), bh (bhah, bhueh dan sebagainja), bl (bleuet, bleut dan sebagainja), br (brat, breueh dan sebagainja), gh (ghah, ghuep dan sebagainja), gl (glap, gleueng dan sebagainja), gr (gruep, groop dan sebagainja), kh (kha, khie dan sebagainja), kl (kla, klép dan sebagainja), kr (kruep, krang dan sebagainja), lh (lhah, lhoh dan sebagainja), mb (mboong, mbah dan sebagainja), ph (pheet, rumphang dan sebagainja) pl (pleung, plang dan sebagainja), pr (prat, pruet dan sebagainja), rh (rhuet, rhah dan sebagainja), sr (srat, sroot dan sebagainja), th (thoo, that dan sebagainja), tr (trooh, trueng dan sebagainja), tjr (tjcrooh, tjrah dan sebagainja), tjh (tjhok, tjhong dan sebagainja), djh (djheut, djheung dan sebagainja), djr (djruen, keudjruen dan sebagainja), njh (njhap, dan sebagainja), sedangkan konsonan-konsonan lain sama dengan bahasa Indonsia. Djelaslah bahwa konsonan dalam bahasa Atjeh djauh lebih banjak dari bahasa Indonesia walaupun huruf-huruf jang dipakai tetap djuga dengan huruf-huruf itu dengan dirangkap.

b.      Vokal : dalam bahasa Atjeh terdapat vokal jang djuga djauh lebih banjak dari vokal bahasa Indonesia. Disamping vokal jang terdapat dalam bahasa Indonesia, maka dalam bahasa Atjeh terdapat vokal jang lain jaitu : oe (putroe, lakoe dan sebagainja), oo (tijoong, tjoong dan sebagainja), ie (ie, leupie dan sebagainja), èe (batèe, gutèe dan sebagainja), ee (hatee, batee dan sebagainja), eu (eu, keubeue dan sebagainja), eue (eue, ’eue an sebagainja), ue (ue, euk dan sebagainja), disamping itu terpat pula huruf sengau atau huruf hidung pada vokal-vokal tersebut.

Oleh karena itu edjaan dalam bahasa Atjeh djauh lebih banjak dibandingkan dengan bahasa Indonesia, maka amat sukar untuk orang jang bukan orang Atjeh untuk mengutjapkan kata-kata Atjeh, sehingga sering terdengar jang mengutjapkap Ulelo kepada Ulée Lheue, Biruen untuk Bireuen dan sebagainja. Akibatnja jang masuk dalam bahasa Indonesia tentu saja jang dapat diutjapkan dengan betul atau jang mendekati betul oleh seluruh bangsa. Akibatnja disamping kebiasaan bahasa Indonesia bersuku dua, djuga kekurangan edjaan, kita melihat dalam bahasa Indonesia jang banjak masuk kata-kata bahasa Atjeh adalah jang bersuku dua disamping jang mudah diutjapkan, maka kita melihat dalam bahasa Indonesia terdapat kata-kata jang sama benar utjapannja dengan utjapan bahasa Atjeh, dan ada pula jang hampir bersamaan tetapi tidak sama benar, marilah di bawah ini kita kutip sebagai tjontoh :

a.        Jang sama benar utjapan dan artinja dengan bahasa Atjeh : daja, djaga, djanji, gantung, kadejak, kuak, pandang, raba, ilat, kurap, kubang, landak, luat, mulia, hina dan sebagainja

b.        Jang hampir sama mengutjapkannja dan sama artinja : balik, raut, giling, kirim, lindung, putar, hati, kolam, melur, musuh, otak, geli, lapis, lekang, lembam, luas dan sebagainja.

Jang mendjadi persoalan sekarang ini untuk kata-kata jang begini, apakah bahasa Indonesia jang berasal dari bahasa Atjeh atau bahasa Atjeh berasal dari bahasa Indonesia? Atau kalau pertanjaan itu kita ubah bentuknja mendjadi Apakah bahasa Indonesia jang memperkaja bahasa daerah atau bahasa daerah jang memperkaja bahasa Nasional, dan bukan bahasa Nasional jang memperkaja bahasa daerah, walaupun disana sini terdapat isi mengisi antara keduanja. Dengan demikian bahasa Atjehlah jang masuk ke bahasa Indonesia dan bukan bahasa Indonesia jang masuk ke bahasa Atjeh, walaupun masih terdapat pengetjualian satu dua kata jang masih dapat dihitung dengan djari. Dengan kita mengatakan begini bukanlah berarti kita mengenjamping bahasa daerah lain, tetapi bahasa Atjeh masuk memperkaja bahasa Indonesia disamping bahasa-bahasa daerah lain turut djuga memperkajanja.

2. SUKU KATA

Berbeda dengan bahasa Indonesia jang kebanjakannja bersuku dua maka dalam bahasa Atjeh imbang antara suku satu, suku dua atau lebih. Ini pulalah jang menjebabkan orang jang bukan orang Atjeh sukar mempeladjari bahasa Atjeh, karena sukar mengartikan kata-kata kalau tidak dilihat keadaan kalimat lebih dahulu, umpamanja da (kakak), dada (dada), du (bapak), dadu (dadu), ma (ibu), dama (kakak ibu atau damar), si (sisi), sisi (sisir), su (suara), susu (susus), mak (ibu), makmak (kue-kue), dan lain-lain. Disamping menggunakan kata-kata jang halus atau kasar baik bersuku satu ataupun lebih umpamanja : glueng, trom, sipak, soeh, tindju; makeuen, padjoh, uet, ’ab, lantak, seupah, muntahdarah, dan sebagainja disamping itu terdapat pula kata-kata jang dalam bahasa Indonesia diutjapkan dalam dua suku tetapi dalam bahasa Atjeh diutjapkan dengan satu suku, umpamanja : tiep (tiap), siep (siap), suep (suap) dan sebagainja. Ini djuga barang mendjadi sebab jarang atau sukar kita melihat utjapakan dalam Bahasa Indonesia jang sama benar dengan bahasa Atjeh. Kita tidak mengatakan bahwa bahasa Atjeh lebih kaja dari bahasa Indonesia, sebab dalam bahasa Atjeh pun terdapat pula kata-kata jang kurang konsonannja kalau dibandingkan dengan bahasa Indonesia, umpamanja : dalam bahasa Atjeh tidak terdapat konsonan akhir kata huruf s, l, atau r walaupun sebenarnja lidah Atjeh mampu mengutjapkannja setjara menjeluruh.

3. AKAR KATA

Akar dari banjaknja bahasa Atjeh jang bersuku satu, disamping jang bersuku dua itu mempunjai arti jang kadang-kadang bertentang atau djauh sekali bedanja maka amat sukar untuk mentjari akar kata dalam bahasa Atjeh, kalaupun kita tidak mengatakan meneliti akar kata dalam bahasa Atjeh adalah perbuatan jang sia-sia saja. Karena jang demikian itu hal ini tidak kita bitjarakan lebih landjut.

4. KATA DASAR DAN IMBUHAN

Dalam persoalan imbuhan ini kita melihat adanja kesamaan (walaupun tidak sepenuhnja) dengan bahasa Indonesia. Kalau dalam bahasa Indonesia terdapat awalan ”ber, se, di, ke, me, ter, pe, per”, maka dalam bahasa Atjeh djuga terdapat awalan ”beu, bu, meu, mu, peu, si, sa, keu, ”jang artinja hampir sama dengan awalan-awalan jang terdapat dalam bahasa Indonesia, malahan masih ada jang dianggap orang awalan djuga jang dalam bahasa Indonesia tidak ada jaitu ”barangga”.

Kalau dalam bahasa Indonesia umpamanja terdapat sisipan ”el, em, er, um”, maka dalam bahasa Atjeh djuga terdapat sisipan ”eun, eum, dan um” jang pengertiannja djuga hampir sama dengan bahasa Indonesia.

Selandjutnja kalau dalam bahasa Indonesia terdapat akhiran ”kan, an, i, lah, kah, tah, pun, nda, man, wan, wati, nja” maka dalam bahasa Atjeh terdapat pula akhiran ”lah, keuh, pih, jih, dan sebagainja), jang pengertiannja djuga sama dengan bahasa Indonesia.

Ditinjau dari sudut ini maka bahasa Atjeh ini djuga mendekati bahasa Indonesia, atau tatabahasanja pun mempengaruhi pula bahasa Indonesia.

5. TEKANAN/IRAMA

Sebagai telah kita terangkan tadi bahwa bahasa Atjeh banjak sekali kata-kata jang bersuku satu, malahan jang banjak suku, sering didjadikan suku satu, hingga dalam memanggil nama orang kadang-kadang nama itu dipotong sadja dan diambil suku akhir. Kalau orang memanggil umpamanja Araby maka dipanggilnja adalah bi, kalau nama Ismail dipanggil saja ’E dan sebagainja. Jang dengan demikian tekanan dalam bahasa Atjeh djuga terdapat disuku akhir, sebagai halnja dengan tekanan dalam bahasa Indonesia, dengan tidak mengindahkan suku-suku bangsa kita jang memberikan tekanan pada suku kedua dari akhir.

6. JANG BERHUBUNGAN DENGAN KALIMAT

Mengenai susunan kalimat bahasa Atjeh kedudukannja sama benar dengan bahasa Indonesia, baik dalam kalimat tunggal, majemuk ataupun kalimat tak sempurna.

Demikian pula mengenai pertanjaan, kalimat perintah dan sebagainja. Sama benar dengan bahasa Indonesia, ketjuali di dalam bahasa Atjeh apa jang dalam bahasa Atjeh ”Peue” kalau disambun mendjadi berobah bentuk dan dibatja ”pa”, jaitu kalau disampung dengan keterangan sebab, tempat dan waktu, jaitu djan, kon, dan ne.

Demikian sekedar perbandingan tata bahasa   apakahga dengan itu kita melihat di bidang ini pun bahasa turut memberi modal pula menurut jang ada padanja ke dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan Nasional.

B. KESUSASTERAAN ATJEH

Untuk kesempurnaan penelitian Peranan Sastra Atjeh ini kami menganggap ada baiknja pula meneliti pula setjara garis besarnja mengenai KESUSASTERAAN ATJEH, apakah itu turut berperan dalam pembentukan Kesusasteraan Indonesia.

Agak berbeda dengan bahasa Indonesia jang kesusasteraannja terbanja adalah prosa, baik tjerita dari mulut ke mulut ataupun dalam bentuk tertulis, maka dalam bahasa Atjeh, untuk kesusasteraan tertulis jang terdapat diantaranja adalah bentuk puisi, sedangkan bentuk tjerita dari mulut ke mulut terbanjak adalah prosa. Prosa tertulis atau puisi dari mulut ke mulut ada djuga tetapi sangat sedikit. Prosa liris di Atjeh sangat sedikit, hingga jang demikian itu dapat kita abaikan saja.

Dalam penelitian kita mengenai hal ini kita terpaksa memberikan tindjauan mengenai perkembangan kesusasteraan ini dari masa ke masa sambil terus memberi perbandingan dengan kesusasteraan Indonesia setjara umum, atau jang umum diketahui.

1. PERKEMBANGAN KESUSASTERAAN ATJEH

Perkembangan kesusasteraan Atjeh setjara sportif harus diakui sangat lambat, hingga perbedaan dari masa ke masa sangat sedikit, menjebabkan timbullah kesukaran orang mentjari perbedaan tersebut dari satu masa ke masa jang lain.

Dalam melihat perbedaan ini kami menindjau dari dua sudut : jaitu dari sudut isi dan dari sudut bentuk.

Jang kita maksudkan dari sudut isi ialah apakah isinja dongeng atau bukan, tjiplakan, tjiptaan ataukah saduran atau terdjemahan langsung.

Jang kami maksudkan dengan tindjauan dari sudut bentuk, ialah teratur atau tidaknja persadjakan pada puisi, ada peraturan tertentu atau tidak, tjara persadjakannja serta banjak suku perbaris.

Menindjau kedua bentuk itu kami akan membagi kesusasteraan ini kepada empat masa, jaitu :

a. KESUSASTERAAN PURBA

Jang kami maksudkan dengan kesusasteraan purba dalam uraian kami ini ialah sedjak zaman dahulu hingga masuk agama Islam ke Atjeh ini. Bentuk kesusasteraan Atjeh dalam masa ini hampir sama benar dengan kesusasteraan Indonesia. Pada waktu ini kesusasteraan Atjeh berisi Kehinduan, dalam bentuk tjerita dari mulut ke mulut, mantera atau neradjah serta sihir, umpamanja tjerita KANTJIL DENGAN HARIMAU, KANTJIL DENGAN LANGKITANG, KANTJIL DENGAN BURUNG TJENTANU, KANTJIL DENGAN GAJAH, GAGAK DENGAN MERAK, LUTUNG, HARIMAU DENGAN KUTJING, MUSANG DENGAN AJAM DJANTAN, dan lain-lain. Walaupun kemudian tjerita-tjerita ini ditulis, tetapi dahulu tjerita ini hanjalah dari mulut ke mulut. Banjak diantara tjerita-tjerita itu jang berisi nasehat dan pendidikan kepada anak-anak, umpamanja TJERITA KERBAU BERANAK ORANG, TI BERANAK ORANG, ORANG KAWIN DENGAN ULAR, dan sebagainja, kami menganggap banjak diantara tjerita-tjerita ini jang masuk kedalam bahasa Indonesia , hanja pakaha tjerita ini berasal dari Atjeh ataupun Atjeh jang mengambil tjerita Indonesia. Kalau dikatakan Atjeh jang mengambilnja sukar pula dibuktikan karena kita mengetahui komunikasi diwaktu itu antara Atjeh dengan daerah-daerah lain sebagaimana djuga keadaannja dengan daerah-daerah lain sangat sedikit.

Mengenai mantera djuga waktu itu masih berbentuk kehinduan, walaupun setelah datangnja agama Islam, maka sihir-sihir atau mantera-mantera itu didahulukan dengan Bismillahirrahmanirrahim, namun kalau kita lihat susunannja djelaslah bahwa mantera-mantera itu berisi unsur-unsur kejakinan Hindu, jang menarik perhatian kita kadang-kadang kata-kata bahasa Atjeh langsung bertjampur dengan bahasa Indonesia dalam satu baris sehingga akhir baris bersadjak dengan bait, walaupun bahasanja jang bertjampur baur. Ini menunudjukkan bukti bahwa orang Atjeh dari masa ini sudah mengenal bahasa Indonesia jang waktu itu merupakan bahasa Melaju walaupun komunikasi tidak seperti sekarang ini serta integrasi masjarakat antara jang satu dengan jang lain tidak seperti kini. Berulang-ulang timbul pertanjaan dalam hal ini apakah bahasa Indonesia jang diperkaja oleh bahasa daerah ataukah bahasa daerah jang diperkaja oleh bahasa Indonesia sebagaimana pertanjaan jang telah kami ajukan.

Mengenai puisi djuga kami melihat persamaan besar sekali dengan bahasa Indonesia, jang diantaranja djuga terdapat isi jang berbentuk kehinduan, umpamanja HIKAJAT SIDANGDERIA, HIKAJAT MALEM DIWA dan lain-lain. Hanja ada satu keistimewaan dalam puisi Atjeh itu ialah disamping berisi pertjintaan, mengandung pula tjerita perang dengan bermatjam kesaktian. Jang lebih menarik lagi ialah dalam tjerita-tjerita Atjeh itu selalu dimuat radja jang jahat ialah radja Tjina, suatu bukti bahwa keburukan Tjina dalam anggapan rakjat adalah anggapan jang sudah ada sedjak dahulu dan tetap hingga sekarang ini, dan memang di dalam tindjauan orang Atjeh, Tjina merupakan bangsa jang terburuk di dunia ini, karena mereka hanja mementingkan keuntungan dirinja saja tanpa menghiraukan kepentingan orang lain. Hingga mereka berani mengorbankan apa dan siapa saja. Asal mereka beruntung, bagaimana djuga kita melihat sekarang ini. Karena itulah maka bangsa jang terburuk dalam pandangan orang Atjeh adalah orang Tjina, dan dianggap buruk pula dalam mata rakjat Atjeh orang jang membela Tjina. Hal-hal jang demikian itu mereka masukkan ke dalam tjerita-tjerita mereka, malahan itu mendjadi tipe khusus dari tjerita-tjerita Atjeh sebagai Malem Diwa, Sidang Deria dan sebagainja.

Tjerita dalam bentuk puisi pada saat ini sangat kurang. Pada waktu itu puisi jang dikenal hanjalah dalam bentuk pantun, seloka (sangat sedikit), gurindam ataupun karmina. Hal ini karena daja mampu untuk menghafal sjair untuk sesuatu tjerita jang diperlukan sangat menjukarkan.

Bentuk persadjakan pada waktu itu belumlah begitu teratur, hingga kadang-kadang terdapat persadjakan dan banjak suku jang tidak imbang antara satu baris dengan baris jang lain dalam satu bait. Kita melihat banjak sekali persamaan antara sadjak bahasa Indonesia dengan bahasa Atjeh dalam hal ini, ketjuali bahasa Atjeh sudah djuga mulai memperhatikan persadjakan akhir baris pertama dengan pertengahan baris kedua, walaupun pada suku jang tidak tetap, disamping masih djuga ada sadjak jang mengabaikannja sama sekali. Dalam hal ini kami kira perlu juha penindjauan apakah puisi bahasa Indonesia jang mempengaruhi bahasa Atjeh ataupun sebaliknja. Kami memberi komentar sama dengan pengaruh kata-kata sebagai jang pernah kami tengahkan.

b. KESUSASTERAAN LAMA

Jang kita masukkan dalam periode ini ialah dari datangnja agama Islam ke Atjeh ini hingga masuknja pendjadjahan Barat, dalam hal ini Belanda. Periode ini kami hitung dari seluruh Atjeh memeluk agama Islam hingga daerah Atjeh disebut dengan Serambi Mekkah karena tidak ada seorangpun rakjat Atjeh jang tidak memeluk agama Islam.

Bentuk sadjak dari sebuah puisi masa ini sudah lebih teratur. Persadjakan kata akhir baris pertama dengan pertengahan baris kedua, dan akhir baris ketiga dengan pertengahan baris keempat disamping akhir baris pertama dengan ketiga dan akhir baris kedua dengan keempat sudah mulai diperhatikan dengan baik walaupun keteraturan itu masih djuga kurang kalau diteliti lebih landjut. Apabila kita meneliti persadjakan diwaktu itu selain Karmina dan Gurindam, maka bentuk puisi ditinjau dari banjak suku dapat digolongkan kepada tiga golongan, jaitu jang bersuku 8, 10 dan 12 satu baris.

Pada puisi jang bersuku 12, maka persadjakannja adalah aa, dan dua baris pada waktu itu dianggap satu bait. Sedangkan pada persadjakaan jang bersuku 10 atau 8 dalam dalam satu baris maka persadjakannja mendjadi aabaab dengan pengertian suku akhir baris pertama bersadjak dengan suku keempat akhir baris ketiga disamping bersadjak pula dengan suku keempat atau kelma baris keempat, disamping akhir baris kedua bersadjak pula dengan suku terakhir baris keempat. Persadjakan jang demikian kadangkala kurang diperhatikan pada zaman purba. Disamping itu ditindjau dari sudut isinja, maka puisi pada waktu itu langsung atau tidak, seluruhnja berbau Agama Islam walaupun kadang-kadang masih djuga kelihatan pengaruh ke Hinduannja. Dalam sadjak-sadjak permulaan zaman ini masih kelihatan pengaruh ke Hinduan memasuki dalam puisi-puisi , disamping pengaruh Agama Islam jang dibawa oleh Sji’ahpun masih njata kelihatan. Kejakinan kepada takhjul belum dapat dikesampingkan. Hal jang demikian masih kelihatan umpamanja dalam Hikajat Putroe Naga di Tapak Tuan, Hikajat Nun Pareusi, Hikajat Sirang Manjang dan sebagainja. Disamping mengandung unsur-unsur didaktis, romantis, masih djuga mengandung unsur-unsur kehinduan. Tetapi berangsur sedikit demi sedikit masa itu dilalui, hingga pada suatu saat seluruh puisi dan sastera dikerahkan untuk membela agama Islam hingga timbulnja Hikajat Tgk. Pante Kulu jang terkenal dengan Hikajat Prang Sabi jang tjukup membakar hati Rakjat Atjeh untuk melawan Belanda, dan jang seakan-akan mendjadi modal perdjuangan menentang pendjadjahan Belanda karena pada waktu itu Belanda telah mulai mendjadjah Atjeh. Untuk ini sjukur bahwa Bapak A. Hasjmy sudah menjusun buku khusus mengenai hal ini, jang kiranja tidak perlu kami memberi komentar lebih landjut. Itulah sebabnja maka pada suatu saat atau tegasnja pada saat pengaruh Ulama sangat besar di Atjeh, hingga dalam hal ini jang banjak mengarang puisi-puisi bahasa Atjeh adalah Ulama, hingga jang mendjadi bahan batjaan rakjat adalah karangan para Ulama, jang sedikit banjaknja disamping tuntutan agama di bidang ini djuga mengandung unsur-unsur pendidikan dan pengadjaran agama Islam sedangkan pengaruh buku-buku dan batjaan barat paa waktu itu dapat dikatakan kurang sekali, kalaupun tidak kita katakan tida ada sama sekali.

Mantera-mantera pada waktu itu djuga sudah mulai disisipkan dengan nama Allah, Muhammad dan nama Nabi-nabi, hingga kita melihat sihir ataupun mantera pada waktu itu sudah mulai diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim, dan banjak pula diantaranja jang diakhiri dengan Lailahaillallah. Tjontohnja : ”Dzi wadi mani manikam, bak Nabi Adam asaj mula, beuhantjoo seluruh bundjie beukom, manikam lam batang tubuhku mengnjo hana hantjoo lurooh beudjie beukom hana Allahkah bak Nabi Muhammad, berkat do’a Nabi Adam mani udalam pantja ulua, berkat do’a nabijullah Noh, fueh peunoh betepantja”. Disini kita melihat bagaimana nama nabi-nabi disangkutkan dengan batjaan jang digunakan pada sihir, malahan kalau kita melihat tipe selandjutnja pada masa ini, maka kita melihat pula bertjampur bauran antara bahasa Indonesia dengan utjapan bahasa Atjeh, dengan bahasa Atjeh sendiri. Tjontohnja : ”He kilat taloe meureuntang, anak urang teugila-gila, makeen kutulak makeen that datang, makeen kupandang makeen that gila……”.

Terus djuga timbul persoalan sekarang ini apakah orang Atjeh jang mengambil bahasa Indonesia untuk ini memang bahasa itu sudah dikenal lama  dan sudah merupakan bahasa Atjeh, jang kemudian baru masuk ke dalam bahasa Indonesia, dapatlah kami memberi komentar djuga jang sama dengan komentar jang kami berikan waktu itu menguraikan kata-kata bahasa Atjeh jang masuk ke dalam bahasa Indonesia.

Dalam melukiskan ketjantikan djuga maka di Atjeh tjara melukiskannja sama dengan tjara melukiskan ketjantikan dan keindahan dalam bahasa Indonesia, umpamanja muka orang dikatakan seperti bulan purnama, dagunja seperti lebah bergantung dan sebagainja. Jang memang pada akhir-akhir ini sudah mendapat kritikan hebat dari Bapak H. B. Jassin jang dapat dilihat di halaman terakhir buku beliau Tifa Penjair dan daerahnja. Sehingga dengan demikian terus menerus djuga mendjadi persoalan mana diantara kedua bahasa jang lebih dahulu menggunakan tjara jang demikian.

c. MASA BARU

Jang kita sebutkan dengan masa baru dalam hal ini ialah masa pendjadjah dari pendjadjahan Belanda hingga pada pendjadjahan Djepang. Pada permulaan masuknja Belanda ke Atjeh, seluruh kekuatan, termasuk djuga kesusasteraan apakah dalam bentuk prosa atau puisi dikerahkan untuk menaikkan semangat menentang pendjadjahan Belanda sebagaimana keadaannja pada masa akhir kemerdekaan Atjeh, disamping tidak djuga diabaikan bidang pendidikan dan pensji’aran agama Islam. Kita melihat pada waktu itu ulama memegang peranan di medan djuang, sehingga puisi-puisi jang disusun oleh Ulama itu mendapat tempat dihati rakjat walaupun isinja sehubungan dengan perang ataupun di bidang liain-lain, termasuk bidang peladjaran. Hikajat Prang Sabi jang telah kita sebutkan di atas merupakan bukti jang njata untuk itu. Hikajat Achabarul Karim mendjadi nash pembitjaraan orang Atjeh, al Fawaidul Ashrijah mendjadi bahan kesenian, Mundjijatul Anam djuga mendjadi bahan alasan umum. Sehingga buku-buku ini terpaksa ditjetak berulang-ulang. Dapatlah dibajangkan kalau di Atjeh waktu itu jang membatjanja sangat terbatas tetapi bukui dapat ditjetak berkali-kali maka tandanja bahwa buku itu mendjadi batjaan umum.

Pada masa ini sadjak sudah mulai teratur sehingga persadjakannja didjaga bukan hanja perbait, tetapi sudah berbait-bait, dan lebih teratur lagi pada masa mendekatnja musnah keradjaan/kekuasaan Belanda di Atjeh, dengan keluarnja buku Tjahaja Permata sebanjak dua djilid dimana sudah mulai diperkenalkan pengetahuan-pengetahuan baru. Kitab itu merupakan pelopor dalam bidang pengaturan persadjakan. Setiap berobah sadjak akan diketahui oleh sampiran, sehingga dengan sampiran itu kita mengetahui bahwa sadjak akhir mulai berubah. Walaupun perubahan demikian belum begitu merata, tetapi dapatlah dianggap mulai menudju kepada merata. Hal ini djuga mulai merata sampai ke pantun jang memperhatikan benar banjak suku sadjak dan keimbangan sampiran dengan isi. Sadjak tengah sebagai jang telah kita uraikan diatas sudah diperhatikan benar oleh merata sasterawan.

Pemerintah Belanda mengetahui dengan pasti kehendak rakjat Atjeh hingga ia tidak menekan bahasa ini, tetapi malahan sadjak tahun 1933 dengan resmi pemerintah menjuruh agar guru-guru menggunakan bahasa pengantar di Volkschool bahasa Atjeh, malahan ditjetak pula buku-buku bahasa Atjeh untuk digunakan di sekolah-sekolah. Roman-roman bahasa Indonesia djuga sudah mengambil bahan-bahan dari Atjeh, hingga lahirlah bukunja N. St. Iskandar jaitu Mutiara, Pahlawan Atjeh, Leburnja Keraton Atjeh dan sebagainja. Jang semua itu diambil bahan dari sastra Atjeh, pada masa Djepang kesempatan mengobarkan semangat tidak begitu mudah sesuai dengan iklim pada waktu itu dapat disebarkan semangat menjerang musuhnja Djepang. Tetapi pada masa akhir-akhir Pemerintahan Djepang mulailah dibajangkan mengenai kemerdekaan jang akan diperoleh oleh sasterawan waktu itu. Orang-orang jang mempunjai bakat seni tidak hilang bakatnja begitu saja, malahan mereka menggunakan segala kesempatan jang ada untuk membimbing rakjatnja. Mass media jang ada mereka manfaatkan seperti ATJEH SHINBUN atau berkala Minami. Djadi isi kesusasteraan waktu itu diarahkan disamping untuk menjebaran agama, karena mereka djuga melihat adanja kesatuan Ulama jang tergabung dalam MAIBKATRA, malahan Ulama djuga turut memegang peranan pada waktu itu. Tetapi disamping itu pendapat umum diarahkan oleh sasterawan untuk memperoleh kemerdekaan. Kita melihat umpamanja sastra Atjeh dalam Madjalah Minami Nomor Lebaran Tahun 1362, djelas menundjukkan keaslian djiwa Atjeh mentjari kemerdekaan. Kalau kita melihat Hikajat Prang Sabi, kemudian kita membatja pula buku-buku Roman Bahasa Indonesia jang memberi tendens kepada semangat kemerdekaan, seperti panggilan Tanah Air oleh Matu Mona dan sebagainja, maka djelaslah kesejadjaran kesusasteraan Atjeh dengan kesusasteraan Indonesia. Selandjutnja pada masa ini terbitlah tjerita-tjerita Islam dalam sastra Indonesia, seperti Abu Nawas dan sebagainja, maka djelaslah kesejadjaran kedua djenis sastra itu dalam masa pendjadjahan ini, suatu bukti pula bahwa semangat kepahlawanan Atjeh tidak pernah hilang dengan pendjadjahan atau tekanan bangsa apapun.

d. MASA MODERN

Jang kita maksudkan dengan masa modern disini ialah masa merdeka jang kedalamnja kita gabungkan saja masa perang phisik dengan Belanda dan djuga masa-masa sesudahnja termasuk masa sekarang ini, untuk lebih memudahkan kita memberi uraiannja.

Pada mula-mula masa ini kesusasteraan Atjeh diarahkan kepada mempertahankan kemerdekaan. Sadjak-sadjak Atjeh ditjiptakan untuk dinjandjikan dan menimbulkan semangat berdjuang. Buku-buku jang bersifat perdjuangan apakah dalam bentuk roman dan sebagainja disusun. Kita bandingkan saja Buku Asmara Dalam Pelukan Pelangi oleh Aria Hadiningsun cs. (mungkin pak Hasjmy) dan kita bandingkan pula dengan hikajat-hikajat Atjeh jang terbit pada waktu itu umpamanja, Buku Seuramoe Makkah oleh Ismuha, Hikajat Prang Tjumbok oleh Ibnu Abbas dan Jahja Baden, disamping itu karangan-karangan Abdullah Arif dan Aminah Abdullah Arif. Tjiri-tjiri jang ada pada masa kedua dan ketiga tetap dipakai ketjuali baik dibidang persadjakan dan suku-suku serta isi sudah lebih sempurna, isi hikajat-hikajat Atjeh pada waktu itu bukan hanja khajalan atau dogeng tetapi jang riil djuga tidak diabaikan, hingga kita melihat tjerita-tjerita riil, nasehat-nasehat berguna, dan bermatjam lagi jang dikeluarkan melalui puisi-puisi oleh para pudjangga Atjeh. Persadjakannja sudah lebih terikat hingga makin lebih sukar menjusun puisi Atjeh ini dari masa-masa sebelumnja. Disamping kadang-kadang ada djuga para penjair atau sasterawan jang tidak menghiraukan hal ini hingga sadjak-sadjaknja itu mendjadi sastra kuno jang timbul di zaman modern. Kalau kita melihat disini maka akan djelaslah sastra Atjeh dengan sastra Indonesia berbanding terbalik. Kalau sastra Indonesia menudju pusisi bebas sebagaimana gambarnja djuga menudju kepada abstrak, maka puisi Atjeh kian terikat, tetapi jang penting ialah kesusasteraan Atjeh dengan Indonesia dalam hal ini (maksud kami dalam hal persadjakan) berbanding terbalik.

Tjerita-tjeritas Atjeh pada waktu ini lebih terarah untuk pengisian kemerdekaan. Pasa masa ini banjaklah timbul pengarang-pengarang baru, jang kadang kala sudah amat sukar ditjari siapa jang memegang peranan di dalam sastra pada waktu ini. Apakah bahasa Atjeh jang berperan dalam sastra Indonesia ataukah sastra Indonesia jang berperan dalam sastra Atjeh. Jang njata antara satu dengan jang lain pengaruh mempengaruhi. Kalau dikatakan bahasa Atjeh turut berperan dalam bahasa Indonesia, maka kami djuga pernah menterjemahkan sastra Indonesia ke dalam sastra Atjeh, umpamanja bukunja Pak A. Hasjmy jang semula diterjemahkan kedalam puisi Atjeh oleh Tibranu (Tgk. Ibrahim Nukman) kemudian djilid II s/d XI kami pula menterjemahkan kedalam bahasa Atjeh, jaitu buku beliau jang bernama pahlawan-pahlawan Islam jang gugur di zaman Nabi. Djuga kami telah menterjemahkan buku-buku Sastra Indonesia jaitu Menanti Kekasih Dari Mekkah oleh Melaju Sukma ke dalam bahasa Atjeh, jang dalam hal ini djelas sastra Indonesia sudah pula mempengaruhi sastra Atjeh.

Sebagaimana tadi telah kita terangkan bahwa dalam sastra Atjeh jang terbanjak adalah puisi dibandingkan dengan prosa, maka sekedar singkat kita ingin pula membandingkan puisi Atjeh dengan puisi Indonesia pada harus besarnja.

Mengapa dalam bahasa Atjeh sastranja jang terbanjak adalah puisi? Mungkin sebagaimana telah kita terangkan bahwa bahasa Atjeh mempunjai suatu kemampuan khusus dibandingkan dengan bahasa lain, jaitu kemampuan menggambarkan semua djenis pengetahuan ke dalam puisi. Hingga segalanja mudah dipuisikan. Bermatjam ilmu kita lihat banjak dipuisikan Nasehat ke Agamaan di bidang adab dan kesopanan, Fiqh, Nahu, Sharaf(djenis ilmu mempeladjari bahasa Arab), Tauhid, Tasauf, tajwid dan sebagainja. Sedjarah dan bermatjam ilmu kita dapati dalam puisi bahasa Atjeh. Hal ini kurang kita lihat kemampuan bahasa Indonesia.

 

2. PUISI DAN SASTRA ATJEH

Dalam bahasa Atjeh djuga terdapat bentuk puisi jang terdapat dalam bahasa Indonesia, umpamanja :

a. PANTUN

Bentuk patun dalam bahasa Atjeh sama dengan bentuk pantun dalam bahasa Indonesia, ketjuali satu hal jang terdapat dalam pantun bahasa Atjeh jang tidak ada atau sangat kurang didapat dalam pantun bahasa Indonesia jaitu persadjakan akhir baris pertama bersadjak dengan pertengahan baris kedua disamping bersadjak pula dengan akhir baris ketiga dan pertengahan baris keempat, sedangkan akhir baris kedua tetap pula bersadjak dengan akhir baris keempat, ketjuali sebahagian pantun masa pertama jang kita sebutkan di atas jang kurang menghiraukan hal ini. Sedangkan dalam bahasa Indonesia bentuk pantun tidaklah seperti jang kita sebutkan itu.

Mengenai sampirannja sama dengan sampiran bahasa Indonesia jaitu kadang kala mempunjai hubungan halus dengan isinja dan kadang-kadang tidak.

b. SJAIR

Mengenai sjair dalam bahasa Atjeh berbeda bentuknja dengan sjair bahasa Indonesia jang kebanjakan bersadjak aaaa, sedangkan dalam bahasa Atjeh terdapat tiga djenis, jaitu :

1.      Jang besuku dua belas satu baris. Untuk ini maka satu bait terdiri dari dua belas baris. Sjair jang begini bersadjak aa. Ini mungkin pengaruh dari Nazham dalam bahasa Arab umpamanja Matan Alfiah jang terkenal baik Alfiah Ibnu Malik ataupun Alfiah Sajuthi, dan banjak lagi nazham jang lain berbentuk demikian jang mudah sekali melagukannja. Hal ini djuga kita melihat dalam sadjak aslinja Umar Chajjan jang bernama Ruba’ijat, ataupun terdjemahan jang diterjemahkan oleh Taslim Ali (EP: No. 160-’50) walaupun pembukuannja baru dibukukan setelah tiga abad setengah beliau meninggal jaitu tahun 1472 H. Jang njata pengaruhnja sadjak Ruba’ijat Umar Chajjan itu mempengaruhi sjair bahasa Atjeh dan mempengaruhi pula puisi bahasa Indonesia. Tetapi menurut logikanja maka puisi-puisi djenis Islam ini lebih dahulu melalui Atjeh baru ke daerah-daerah jang lain, djelaslah lebih dahulu mempengaruhi sastra Atjeh, baru kemudian mempengaruhi sastra Indonesia, jang logis kalau kita mengatakan melalui sastra Atjeh.

2.      Sjair jang bersuku sepuluh. Untuk sjair djenis ini, maka persadjakannja sama dengan persadjakan pantun dan telah kita uraikan, jaitu akhir baris ke satu bersadjak dengan suku kelima baris kedua, akhir baris ketiha, dan suku kelima baris keempat. Kalau dinjatakan dengan rumus dapatlah kita tulis persadjakannja itu aabaab, sedangkan puisi bahasa Indonesia sadjaknja abab atau aaaa ketjuali jang datang dari Barat berupa soneta. Djenis ini tidak terdapat dalam bahasa Atjeh.

3.      Sjair jang bersuku delapan. Persadjakannja sama dengan djenis kedua tadi ketjuali persadjakan suku tengah letaknja pada suku keempat. Ini banjak dipakai djenis ini pada zaman pertama dan zaman kedua kesusasteraan Atjeh, seperti Achbarul Karim dan sebagainja. Persadjakan djenis ini djuga tidak terdapat dalam bahasa Indonesia.

Kalau dalam bahasa Indonesia sjair itu hanjalah berisi tjerita atau nasehat, maka dalam bahasa Atjeh sjair itu dapat berisi apa saja, termasuk djuga bidang ilmiah, malahan sebagai kita kemukakan di atas tadi mempeladjari bahasa Arab pun dipakai sistim sjair bahasa Atjeh.

c. PANTUN PENDEK (KARMINA)

Sama halnja dengan bahasa Indonesia maka dalam bahasa Atjeh pun terdapat pantun pendek (pantun kilat/karmina), jang bentuknja dan isinja sama dengan pantun biasa ketjuali sukunja lebih sedikit, kadang-kadang hanja dua suku satu baris, kadang-kadang tiga suku, kadang-kadang empat suku satu baris. Karena kesamaan itu maka kita tidak menguraikan lebih landjut.

d. GURINDAM

Ini djuga sama dengan bahasa Indonesia, hanja kadang-kadang dalam bahasa Atjeh disebut Hadih Madja, atau kheun ureueng tuha sedangkan nama gurindam itu tidak terdapat dalam bahasa Atjeh. Tetapi bentuk dan isinja sama dengan gurindam dalam bahasa Indonesia, karena itu djuga kita tidak menguraikannja lebih landjut.

C. GAJA BAHASA ATJEH

Menurut penelitian semampu jang ada pada kami melihat bahwa gaa-gaja bahasa jang terdapat dalam bahasa Indonesia terdapat pula dalam bahasa Atjeh. Hanja dalam kesusasteraan Atjeh mereka tidak memberi nama terdapat gaja bahasa jang demikian. Gaja-gaja bahasa jang terdapat dalam bahasa Atjeh terdiri dari PERSONIFIKASI, METAFORA, ASSOSIASI, SYMBOLYK, IRONI/SINISME, PLEONASME, ANJCHDOCHE, EUPHINISME, KLIMAK, ASINDENTEN, POLYSIDETEN, ALLUSI, ATOUTOLOGI ataupun PRETORITO. Semua ini terdapat dalam bahasa dan sastra Atjeh, oleh keadaannja sama saja, maka kami tidak akan menguraikannja lebih pandjang, dan tjontohnjapun tidak perlu kami tengahkan. Tetapi bila peserta seminar menginginkan tjontohnja maka insja Allah akan kami kemukakan seperlunja. Hal ini sengaja kami lakukan demikian hingga tidaklah nantinja tanggal waktu jang sempit kepada para pembanding baik dari Bapak Pembanding Utama ataupun pembanding umum atau pembanding spontan

 

D. TINDJAUAN UMUM

Diatas tadi sudah kami katakan bahwa kami sependapat dengan Ibnu Chaldun jang mengatakan bahwa unsur penguasa penting sekali dalam pembinaan sesuatu bahasa. Kita melihat berkembangnja bahasa Belanda di Indonesia, karena pada suatu saat Belanda dapat menguasai Indonesia. Demikian pula pada waktu Djepang mendjadjah Indonesia maka bahasa Djepanglah jang dikembangkan di Indonesia, walaupun mereka itu merupakan minoritas penduduk di Indonesia pada waktu itu dan walaupun bahasa jang mendjadi bahasa Internasional adalah Bahasa Inggris. Majoritas penduduk saja tidak ada artinja apabila diantara mereka tidak ada jang memegang pimpinan. Bahasa majoritas penduduk itu sendiri akan mati atau sekurang-kurangnja lumpuh apabila diantara mereka tidak/ada jang mendjadi pimpinan.

Selandjutnja apabila kedua bangsa atau suku sama-sama tidak berkuasa atau kedua-duanja sama-sama berkuasa, maka jang berkembang akan berkembang dengan pesat hanjalah bahasa majoritas diantara mereka, dan bahasa majoritas penduduk itulah jang akan mempengaruhi bahasa bersama. Bahasa jang mempunjai nilai sastra adalah bahasa jang hidup, atau menguasai banjak penduduk.

Selandjutnja bahasa jang mempunjai nilai sastra jang baik adalah bahasa jang diarahkan dengan pendidikan, dengan demikian unsur pendidikan djuga mempunjai pengaruh penting dalam perkembangan sastra suatu bangsa atau penduduk. Malahan penggunaan bahasa di sekolah-sekolah djuga mempunjai pengaruh besar sebagai lingkungan pendidikan, disamping pengaruh bahasa di rumah tangga dan di masjarakat djuga besar artinja sebagai tiga unsur pendidikan jang harus diakui.

Dahulu sedjak tahun 1933 bahasa Atjeh sudah pernah diresmikan untuk bahasa pengantar si sekolah-sekolah RENDAH VOLKSCHOOL atau sekolah desa pada waktu itu, disamping digunakan bahasa Melaju atau bahasa Indonesia. Untuk keperluan itu maka pada waktu itu telah ditjetak oleh pemerintah buku-buku bahasa Atjeh sebagai batjaan di sekolah-sekolah dan kami termasuk orang jang sempat mempeladjari dan membatjanja, antanja disusun oleh pembanding sekarang ini jaitu Bapak H. A. Bakar (sekarang Prof. H. A. Bakar Atjeh). Kami masih ingat buku-buku sekolah pada waktu itu seperti : BIDJEH, LHEE SABONG NANG, MEUTIA. Malahan oleh Balai Pustaka djuga telah mentjetak buku-buku batjaan umum dalam bentuk puisi, seperti HIKAJAT SILINDONG GEULIMA jang diterjemahkan oleh Anzib dari buku karangan AMAN (dari bahasa Belanda jaitu dari ”Assche poester”, seri penerbitan Balai Pustaka No. 963), Putroe Naga di Tapaktuan, terdjemahan L. B. Teungku Muhammad Nurdin dari karangan M. Soetan Singa Soro (diterbitkan tahun 1932 dengan No. BP. 1023) dan buku-buku jang lain lagi.

Pada tahun 1940 segolongan orang memprotes didjadikannja bahasa Atjeh sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah dasar dengan masing-masing membuat alasan. Madjalah-madjalah ribut pada waktu itu hingga terdjadilah polemik pada waktu itu antara lain dalam madjalah ABAD DUA PULUH.

Timbullah beberapa orang jang membuat mosi kepada pemerintah agar bahasa Atjeh djangan lagi didjadikan sebagai bahasa pengantar di Volkschool, lebih-lebih buku jang didjadikan bahan batjaan gambarnja tidak ada jang gagah-gagah rupanja. Mosi itu ditanda tangani oleh Tuanku Mahmud, Muchtar de Hoog, Suangkupon, Burger, Sujono.  Mosi itu diajukan ke sidang Landraad. Oleh pemerintah Belanda tetap bertahan, terutama mungkin maksudnja untuk menarik hati rakjat Atjeh jang belum melupakan perdjuangannja. Demikianlah mosi itu tidak menentu ujungnja hingga tahun 1942 Djepang menggantikan kekuasaan Belanda di Indonesia.

Pada masa Djepang bahasa di sekolah-sekolah itu sudah bahasa Melaju, adn jang diutamakan adalah bahasa Djepang harus dipeladjari, demikian djuga rakjat harus mengerti minimal Katakana dan Hiragama, hingga buku bahasa Atjeh hilang satu demi satu, dan sekarang ini mentjari bekasnja pun pajah, selain jang agak mudah ditjari Kamus Bahasa Atjeh ke Bahasa Belanda jang disusun oleh Husein Djadjadiningrat. Buku-buku hikajat pun tidak ditjetak lagi. Maka setelah merdeka lahir, jang timbul dan mengarang adalah hanja orang-orang jang berbakat seni sendiri, sebagaimana djuga keadaannja pada waktu Djepang. Mereka-mereka jang punja bakat seni itu sajalah jang dapat memasukkan karangannja ke dalam madjalah-madjalah atau Harian jang terbit waktu itu seperti Minami dan Atjeh Shinbun.

Ditinjau dari segi pergaulan maka sedjak pemerintah Atjeh jang ke 26 jaitu waktu Iskandar Muda Keradjaan Atjeh pergaulannja tjukup luas hingga sampai ke negeri Turki, sehingga waktu itu rakjat Atjeh diadjarkan djuga sekedarnja untuk mengerti bahasa Turki, malahan pada waktu itu sampai disusun sebuah kamus ketjil dalam empat bahasa jaitu Arab, Turki, Melaju dan Atjeh jang disusun oleh Abdullah bin Ismail Atjeh dan ditjetak pada pertjetakan Musthafa el Baby Mesir pada Rabi’ul Awal tahun 1349 H. Kalau kita melihat kepada kamus ketjil ini belum berapa puluh tahun jang lalu jaitu empat puluh tahun jang lalu, djelaslah bahwa sampai saat ini orang Atjeh masih mau menggunakan atau mempeladjari keempat bahasa itu, dan itu pula buktinja bahwa mempeladjari bahasa Indonesia ini untuk Atjeh bukan merupakan barang baru, walaupun dalam tjara mengutjapkan disesuaikan dengan lidah Atjeh. Orang Atjeh dari dahulu sudah memiliki bahasa Indonesia jang baik dibandingkan dengan pengarang-pengarang jang lain. Untuk sekedarnja marilah disini kita bandingkan dua buah buku bagaimana perbedaan bahasanja :

1.      ”Maka tatkala sampailah ia ke Bandar Atjeh pada Hidjrah Nabi Saw. Seribu empat puluh tahun (1040) pada enam hari bulan Radjab pada hari Ahad, dan kemudian dari pada itu pada dua puluh hari bulan Sjawal maka dititahkan radja jang maha mulia pada fakir jang tidak dapat tiada dijunjung dia jaitu Sultan Iskandar Tsani Aliddin Muhajat Sjah Ddjauhar berdaulat  zillullah fil Alam senantiasalah daulat bahagianja……” (dari pinggir Tadjul Mulok halaman 7).; ”Obat tersalah ambil trueng pungo dan beras pulut dan minjak maka dipipis tempelkan pada sakit itu (Tajul Mulok halaman 50).

2.      Tatkala hijrah Nabi seribu dua puluh satu tahun kepada tahun dal pada dua belas hari Rabi’ul Awal kepada hari Kamis waktu juha pada ketika sjamsu pada zaman keradjaannja marhum jang …… (karangan ini pada waktu Raffles (Sedjarah Melaju penerbitan Djambatan tahun 19590 (buku ini diterbitkan setelah diteliti oleh Abdullah tahun 1796).

Kita melihat kedua teks itu jang diatas njatanja lebih dahulu dari jang di bawah, walaupun tahun jang ditjeritakan peristiwanja tidak begitu lama, djelaslah bahasa buku jang di atas jang di susun di Banda Atjeh djauh lebih baik bahasa Indonesianja, walaupun langsung dimasukkan bahasa Atjeh ke dalamnja umpamanja trueng pungo dan sebagainja.

Djelaslah bahwa Atjeh telah lebih dahulu memberi pembinaan kepada bahasa Indonesia dalam hal ini, karena kami belum mengetahui daerah-daerah lain jang mendahuluinja memakai bahasa Indonesia. Kalau kita melihat lagi karangan-karangan waktu Ratu Safiatuddin lebih baik bahasanja lagi, pertanda pula bahwa bahasa Indonesia di Atjeh ini telah dibina demikian lama, kalau demikian keadaannja dalam pembinaan itu tentu bahasa Atjeh banjak jang langsung dimasukkan ke dalam bahasa Indonesia, malahan sastra Atjeh djuga mungkin langsung masuk dalam sastra Indonesia, sebagai jang kita berikan tjontohnja di atas.

Dengan demikian pengaruhnja di bidang sastra teranglah setjara  langsung, jang kemudian mungkin oleh peperangan maka jang demikian hilang sementara, tetapi jang beratnja malahan tidak diingat lagi hingga pada hari ini kita terpaksa mentjari jejaknja apakah sastra Atjeh itu punja peranan dalam sastra Indonesia atau tidak.

Kehilangan jejak ini sesungguhnja karena diisolirnja Atjeh ini oleh pemerintah pendjadjahan Belanda, dan meniadakan sekolah-sekolah tinggi di Atjeh, dan mendirikannja di daerah lain, hingga pengaruh sastra Atjeh ini dapat digelapkan sama sekali, sebagaimana djuga orang-orang Barat telah menggelapkan pengaruh kebudajaan Islam dalam kebudajaan dunia. Apalagi pada waktu itu diluar daerah sudah didirikan pendidikan tingkat tinggi di Atjeh perang masih berketjamuk menghilang gelapkan bekas-bekas dan tanda-tanda kebudajaannja.

Mas media di Atjeh djuga turut memegang peranan dalam perkembangan sastra Atjeh di dalam sastra Indonesia. Mas Media di Atjeh sangat sedikit. Barulah pada masa-maasa akhir ini mas media itu banjak menurut koran Atjeh, walaupun sehari satu tetapi namanja banjak. Jang sangat disajangkan bahwa sedikit sekali mas media itu jang bersedia membantu berkembangnja sastra Atjeh hingga ia terus memegang peranan bersama bahasa-bahasa lainnja untuk memperkaja kepustaan Indonesia. Hanja ada satu dua koran jang membantunja setjara insidentil.

Sjukurlah bahwa masa akhir-akhir R. R. I. Telah dengan segala daja jang ada padanja membantu perkembangan sastra Atjeh ini hingga dengan demikian lambat laun akan djuga memperkaja perbendaharaan sastra Indonesia. Kami tidak perlu memuji sebenarnja, tetapi realita jang kami katakan hingga hampir tiap malam RRI menjiarkan atjaranja jang khusus kesenian Atjeh, dan kesenian disini dimaksudkan di bidang sastra, apakah ia berbentuk siaran pedesaan, tanja djawab, nalam, rapai, zikir Atjeh, Jeumpa Atjeh, Seudati dan sebagainja. Semuanja itu harus diakui telah turut berdjasa mempekaja perbendaharaan sastra Indonesia.

Disamping itu banjak djuga istilah-istilah jang langsung dipakai oleh Djawatan resmi Pemerintah dari Bahasa Atjeh, walaupun tidak disebutkan itu berasal dari bahasa Atjeh, umpamanja saja nama-nama masakan jang termuat dalam buku MESTIKA RASA jang diterbitkan oleh DEPARTEMEN PERTANIAN. Istilah-istilah jang kami maksudkan itu umpamanja pliek u, keumamah, peugaga, gule rampoe, dan sebagainja. ( lihat umpamanja halaman 218, 222, 230, 232, 238, 304, 1042, dan 721 dari buku tersebut). Dengan demikian karena buku itu buku resmi jang dengan sendirinja akan mendjadi pegangan umum setjara riil bahasa Atjeh telah turut memperkaja bahasa Indonesia sekarang ini.

Kalau orang mengatakan, bahwa kota-kota itu tidak disebutkan berasal dari bahasa Atjeh, maka kita mengatakan bahwa jang demikian itu untuk Atjeh tidak mendjadi soal, karena tidaklah penjebutan nama jang penting untuk Atjeh tetapi sumbangan itu diterima jang utama. Sebab kalau kita mengingat bahwa tidak disebut-sebut kata-kata jang berasal dari bahasa Atjeh jang tegas, hal itu hanja akan membawa tekanan batin jang tidak berarti. Kalau kita melihat kamus maka sepatah katapun tidak ada jang disebutkan bahwa kata-kata itu berasal dari bahasa Atjeh, tetapi apakah jang demikian itu akan menutup kesempatan kita mengatakan bahwa itu berasal dari bahasa Atjeh? Tidak, jang berasal dari bahasa Atjeh tetap dari bahasa Atjeh. Malahan kalau kita memperhatikan kamus jang ada sekarang pun perlu diteliti kembali karena disana terdapat beberapa kekeliruan jang prinsipil. Itu kekurangan manusia jang kami kira tidak ada manusia jang sempurna.

Selandjutnja kita mengulang kembali analisa jang menurut kami (sekali lagi menurut kami) jang logis kalau sastra jang berbentuk atau berisi Islam itu masuk ke bahasa Atjeh terlebih dahulu, sebab diakui atau tidak daerah Atjeh merupakan daerah jang pertama menerima adjaran Islam atau menjambut kedatangan agama Islam.

Seterusnja kalau kita menindjau bentuk puisi atau pun jang lain maka jang lebih sempurna atau lebih pajah itu tentulah lebih dahulu dari jang ringan. Satra bahasa Atjeh lebih pajah, lebih sempurna edjaannja dan lebih banjak kata-katanja kalau dibandingkan dengan bahasa dan sastra Indonesia. Tentulah jang lebih pajah itu jang lebih dahulu, kemudian baru jang lebih mudah. Maka dengand emikian lebih pajahlah jang mempengaruhi bahasa jang lebih ringan dan lebih miskin edjaannja. Dalam hal ini sastra Atjeh lah jang turut membina sastra Indonesia dan bukan sebaliknja. Rumus ini kita ambil dengan kejakinan pula, bahwa bahasa daerahlah jang membantu bahasa Nasional dan bukan sebaliknja.

Hanja kurangnja diketahui peranan sastra Atjeh ini dalam sastra Indonesia, karena kurangnja penelitian dari dahulu, hingga jang gelap itu tambah gelap. Kegiatan pemerintah dahulu pun tidak ada atau minimal hampir tidak ada menambah suramnja lagi bahasa dan sastra Atjeh ini. Sjukurlah kalau masa akhir-akhir ini pemerintah daerah dalam hal ini P dan K. Telah mulai merintis djelas kearah itu walaupun sebelum itu Balai Pustaka sudah djuga mengeluarkan madjalah jang di dalamnja diberi kesempatan pula untuk membahas persoalan Atjeh, tetapi sekarang kamipun tidak tahu apakah madjalah itu masih terbit atau tidak.

Apakah hal ini baik oleh Pusat atau daerah memang karena kesadaran perlunja diperhatikan bahasa daerah itu bukan, itu kami serahkan saja kepada beliau-beliau itu. Kami sendiri tidak dapat memberi komentar apa-apa selain hanja bersjukur. Perhatian kearah itu sudah ada.

Pada beberapa masa jang lalu penerbitanpun sudah mulai memberi perhatian kearah ini, tetapi masa akhir-akhir ini perhatian penerbitpun sangat kurang. Ini mungkin karena mereka mentjetak buku dengan perhitungan komersil belaka, dan bukan keinginan membantu berkembangnja sastra daerah sebagai penjumbang kepada sastra nasional. Kita mengetahui benar bahwa masa akhir-akhir ini banjak timbul sastrawan-sastrawan muda di bidang bahasa daerah ini, tetapi pendjalurannja jang tidak pasti, mengakibatkan bakat mereka mendjadi berkurang kembali tidak sebagai jang diharapkan.

Beberapa waktu jang lalu djelas sekali perhatian kearah ini oleh beberapa penerbit umpamanja Pustaka Atjeh Raja di Banda Atjeh, Pustaka Amsal di Medan, Pustaka Tunu di Lhok Sukon dan sebagainja. Sekarang agak menjepi. Jang kami ketahui terus menerus ada perhatiannja kearah ini ialah alm. Abdullah Arif M. A. Jang mungkin telah berusaha menjusun Kamus Atjeh Indonesia, tetapi sajang beliau lekas di ambil Tuhan, hingga usahanja itu mendjadi telantar begitu saja. Djuga Bapak Anzib Lam Njong telah menjusun satu kamus ketjil Atjeh Indonesia.

Belum ada dari orang Atjeh sendiri jang mau berusaha dengan segala daja mampu jang ada untuk mengarang sebagai Husein Djadjadiningrat. Kami mengetahui benar bahwa perhatian kepada Bahasa Atjeh sudah mulai timbul dikalangan para tjalon tjendikiawan. Kami katakan demikian karena kepada kami telah datang beberapa orang Mahasiswa dari Medan meneliti bahasa dan sastra Atjeh, untuk mereka djadikan bahan skripsi mereka. Sajangnja pedoman untuk mereka sangat sedikit.

E. KESIMPULAN, SARAN DAN PENUTUP

Demikianlah setjara bertele-tele telah kami menguraikan setjara singkat menurut anggapan kami, maka dari uraian kami diatas kami singkatkan dalam beberapa kesimpulan jaitu :

1.      Dalam bidang Perbendaharaan kata-kata, susunan kalimat, gaja bahasa dan sebagainja. Maka bahasa Atjeh turut memegang peranan dalam bahasa Indonesia.

2.      Dalam bidang sastra/kesusasteraan baik pula atau prosa di segala sudut, bahasa Atjeh turut memegang peranan jang besar.

3.      Untuk menambah peranan lagi sewadjarnja oleh Pemerintah mulai sekarang, telah berusaha kearah menimbulkan perhatian kepada bahasa dan sastra Atjeh.

4.      Badan pemerintah jang telah turut memperhatikan perkembangan sastra Atjeh ditengah-tengah sastras Indonesia hanjalah Universitas Sjiah Kuala (dengan diadjarkan bahasa daerah sebagai mata kuliah), Dinas P. K., dan R. R. I.

5.      Kurangnja pengetahuan orang di bidang sastra Atjeh ini disebabkan antara lain :

a.        Kurangnja orang Atjeh jang mengarang buku-buku ilmiah bidang bahasa.

b.        Kurangnja orang Atjeh jang memegang peranan di bidang bahasa.

c.        Kurangnja perhatian para tjendikiawan Atjeh ke bidang bahasa.

d.       Kurangnja pengertian mass media swasta

e.        Kurangnja perhatian penerbit-penerbit untuk ini.

6.      Istilah-istilah jang diartikan di dalam kamus jang ada perlu penelitian kembali.

Mendekati akhir prasaran  kami ini, kami ingin pula mengajukan satu dua saran dengan tidak kami tjantumkan kemana saran kami ini kami tudjukan.

SARAN-SARAN KAMI ITU ANTARA LAIN :

1.      Pemerintah, dalam hal ini khususnja Pemerintah Daerah supaja memberikan perhatian jang wadjar untuk pengembangan bahasa Daerah sebagai unsur memperkaja bahasa Nasional. Perhatian ini diberikan dengan mentjetak buku-buku bahasa Daerah, jang biajanja diusahakan oleh Pemerintah Daerah.

2.      Pemerintah Pusat supaja mengatur perkembangan bahasa Daerah ini dengan djalan membuat bahagian khusus pusat, dalam hal ini Departemen P. K. Dan Agama jang mempunjai sekolah-sekolah.

3.      Mass Media supaja membantu berkembangnja sastra Atjeh ini.

4.      Oleh Pemerintah Daerah mentjetak kembali buku-buku sastra Atjeh Lama seperti Sidang Deuria atau Hikajat Teungku Maleem, Hikajat Prang Sabi dan sebagainja. Untuk mendjadi bahan hiburan rakjat jang dengan tidak langsung telah tergali kebudajaannja sendiri.

Dengan demikian prasaran jang dapat kami berikan sesuai dengan pengetahuan kami jang sangat singkat, memenuhi permintaan Panitia.

Kami menjadari bahwa uraian kami ini djauh dari memuaskan, malah kurang memenuhi maksud Panitia, tetapi hanja inilah jang ada kemampuan kami, dengan harapan sekali lagi, diperbaiki ataupun dikurangi oleh para pembanding, baik Pembanding Utama atau Pembanding Umum nanti. Dengan demikian akan tertjapailah tjita-tjita penggalian kembali kebudajaan Atjeh jang hampir tak kelihatan ini.

Mungkin dalam prasaran kami ini terdapat hal-hal jang menjinggung perasaan baik pembanding, panitia, ataupun menjinggung perasaan para peserta dari bukan asli Atjeh, dalam hal ini dengan permohonan jang sangat untuk dimaafkan. Dan kalau memang ada jang menjinggung itu persoalan prinsip, kami bersedia berkali-kali meminta maaf, dan memang bukan untuk menjinggung itu maksud kami.

Hanja sehingga itu dan kami akhiri dengan :

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Banda Atjeh, 29 Juni 1992.

PANITIA PUSAT

PEKAN KEBUDAJAAN ATJEH KE-II

(The 2nd. Atjeh Cultural Festival)

PERANAN SASTRA ATJEH DALAM

SASTRA INDONESIA

O

L

E

H

DRS. ZAINI ALY

PRASARAN

PADA SEMINAR KEBUDAJAAN

DALAM RANGKA PKA-II DAN DIES

NATALIS UNIVERSITAS SJIAH KUALA KE-XI

21 S/D 25 Agustus, tahun 1972.

D

I

BANDA ATJEH

PERANAN SASTRA ATJEH DALAM SASTRA INDONESIA

Bandingan : Dra. Zaini Ali

Assalamu’alaikum w. w.

Ketua pejelenggaran Seminar Jth.

Saudara-saudara pemrasan jang tjendikiawan.

Bapak-bapak dan saudara hadirin peserta seminar jang mulia.

Terlebih dahulu saja aturkan pudji beserta pudja kehadhirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan selawat beserta salam kepada djundjungan kita Nabi Muhammad Saw. Karena dengan inajatnja-lah saja telah mendapat kesempatan untuk ikut serta dalam Seminar Budaja jang diselenggarakan ralam rangka mengisi salah satu Atjara Pekan Kebudajaan Atjeh jang ke II dan Dies Natalis Universitas Sjiah Kuala ke XI.

Selandjutnja saja tidak akan melupakan ddjuga untuk menjampaikan terima kasih jang seichlas-ichasnja kepada Panitia Pusat Kebudajaan Atjeh ke II jang telah menundjuk diri saja sebagai salah seoarang Pembanding Utama dalam seminar jang berbahagia ini terhadap prasaran jang bertopic ”Peranan Sastra Atjeh Dalam Sastra Indonesia” jang disampaikan oleh Bapak Drs. Adnan Hanafiah dan Drs. Araby Ahmad.

Demikian pula sudah sewadjarnja ddjika pada kesempatan ini saja menjampaikan salut jang setinggi-tingginja kepada Seksi Seminar Budaja jang telah menetapkan sastra Atjeh sebagai salah satu aspk Kebudajaan untuk ikut diseminarkan dalam atjara Seminar Budaja ini.

Dengan demikian ddjelaslah sudah mulai usaha dan perhatian kita untuk menggali kembali hasil karja sastra Atjeh jang sedjak dahulu terkenal dan tersohor kemadjuan dan peranannja. Misalnja Hikajat Prang Sabi karangan Teungku Tjhik Pante Kulu adalah salah satu hasil karja sastra Atjeh jang telah memegang peranan dalam membangkitkan semangat djihat untuk menumpas pendjadjahan pada waktu berlangsungnja Perang Atjeh melawan Belanda.

Usaha menggali dan mengembangkan kembali kesusasteraan Atjeh dalam rangka mengembangkan kesusasteraan Indonesia jang achirnja menudju kepada pembentukan suatu kebudajaan nasional jang lebih luas, berarti kita membantu terlaksananja program pemerintah dalam usaha pembangunan mental spirituil dalam bidang budaja.

Dengan seminar budaja ini kiranja kita akan dapat membangkitkan dan mengembangkan apresiasi masjarakat terhadap nilai-nilai kebudajaan jang telah ada ; selengkapnja chusus kepada para budajawan akan mendjadi tjambuk untuk meningkatkan daja kreatifnja.

Hadiri sidang seminar jang mulia.

Sebenarnja saja merasakan bahwa penundjukan diri saja sebagai salah seorang pembanding jang terhadap topic ” Peranan Sastra Atjeh dalam Sastra Indonesia” kiranja masih kurang tepat karena masih ada orang-orang lain jang lebih mengetahui seluk beluk perkembangan sastras Atjeh. Misalnja Bapak A. Hasymi dan Bapak H. M. Zainul in; beliau adalah seorang jang lebih mengetahuidan menddjalani tentang seluk beluk pertumbuhan dan perkembangan sastra Atjeh dan banjak pula bahan jang beliau miliki dan kuasai baik bahan ilmiah tentang sastra Atjeh maupun bahan jang berupa kumpulan hasil karja sastra itu sendiri. Di dalam chazanah kesusasteraan Indonesia beliau telah memperoleh predikat pudjangga atau sastrawan berdasarkan hasil karja sastra beliau. Selain itu Bapak Anzib Lamjong dan Bapak M. Junus Djamil ddjuga orang-orang jang tidak asing lagi bagi kita dalam bidang sastra Atjeh.

Namun, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan jang lebih ddjauh kedepan maka penundjukan tersebut saja terima dengan penuh kerendahan diri terhadap kekurangan-kekurangan materi ilmiah jang saja kuasai dan bahan-bahan literatur jang saja miliki.

Dengan demikian berarti sekarang tibalah giliran kami untuk menanggapi dan memberi beberapa pertimbangan atau barangkali persetudjuan terhadap prasaran jang telah disampaikan oleh Bapak Drs. M. Adnan Hanafiah dan Bapak Drs. Araby Ahmad.

Seandainja dalam bandingan kami terdapat sedikit perbedaan-perbedaan, hal itu barangkali disebabkan karena hasil analisa kami jang kurang tepat.

I.             Tanggapan terhadap Prasaran Drs. M. Adnan Hanafiah

Setelah kami membatja dan menganalisa prasaran jang telah dikemukakan oleh pemrasaran maka kami akan mentjoba mengemukakan tanggapan sebagai berikut :

Pemrasaran dalam prasarannja pada bahagian ”Peranan Sastra Atjeh” halaman 7 mengataan : ”…, ddjelaslah kiranja bahan sastra Atjeh jang beragam bentuk tjeritanja sangat penting dan besar artinja bagi perkembangan sastra Indonesia”.

Terhadap pendapat tersebut kami sependapat, karena pada hakekatnja bahasa Indonesia sebenarnja tumbuh dan berkembang oleh sastrawan jang berasal dari daerah-daerah dengan mengambil bahan-bahan dari sastra-sastra daerah antara lain dari daerah Atjeh.

Namun demikian sebelum sampai pada pernjataan tersebut kami tidak melihat adanja uraian jang dapat menundjukkan fakta-fakta jang njata dan mejakinkan tentang peranan sastra Atjeh dalam sastra Indonesia. Kami berpendapat bahwa uraian-uraian pemrasaran sebelumnja hanja berkisar sekitar historis perkembangan sastra Atjeh selajang pandang jang menjinggung isi dan bentuk-bentuk sastranja ; kemudian dilandjutkan dengan infentarisasi sebahagian hasil karja sastra Atjeh.

Pada achir isinja mengenai masalah tersebut memang pemrasaran menundjukkan ddjuga beberapa persamaan antara isi hasil karja sastra Atjeh dengan sastra Indonesia; atau jang lebih tepat menurut pendapat kami adalah perbandingan antara isi hasil karja sastra Atjeh dengan isi hasil karja sastra Melaju dan bukan dengan hasil karja sastra Indonesia.

Unsur-unsur persamaan jang telah ditundjukkan pemrasaran menurut pendapat kami tidak mutlak dapat kita tafsirkan bahwa hal tersebut adalah akibat dari pada pengaruh satra Atjeh terhadap sastra Indonesia/sastra Melaju, tetapi mungkin ddjuga sebaliknja. Sebagai tjontohnja dapat kami kemukakan bahwa hikajat Radja Djumdjumah dan Hiakajat Sjammaun kita temui dala beberapa fersi jaitu fersi Melaju, fersi Sunda/Ddjawa dan fersi Atjeh. Hal ini akan menjulitkan kita untuk mengetahui asal usul jang sebenarnja terhadap hasil karja sastra tersebut; apakah berasal dari sastra Melaju ataua berasal dari sastra Atjeh.

Namun demikian tidak berarti bahwa sastra Atjeh tidak memiliki hasil karja sastra jang murni jang merupakan hasil pantjaran masjarakat Atjeh jang diungkapkan dalam bahasa Atjeh, baik dalam bahasa Atjeh jang dipergunakan oleh sebagian besar penduduk Atjeh maupun jang diungkapkan dalam bahasa atjeh Gajo, bahasa Atjeh Alas, bahasa Atjeh Singkil, bahasa Atjeh Djamu (Djamei), bahasa Atjeh Tamiang. Bahasa Atjeh Kluet dan bahasa Atjeh Simeulu.

Sebenarnja untuk mengetahui peranan sastra Atjeh dalam sastra Indonesia sebaiknja terlebih dahulu pemrasaran mengemukakan pengertian istilah dari ”Sastra Atjeh” dan istilah ”Sastra Indonesia” sehigga tudjuan seminar ini dengan mudah dapat kita tjapai karena pengarahannja tepat mengenai sasaran jang dikehendaki jaitu tentang pembahasan materinja.

Dalam hal ini perlu dikemukan terutama ialah kriteria apakah jang menddjadi pegangan untuk menentukan predikat sastra Atjeh dan predikat sastra Indonesia. Kriteria-kriteria tersebut dalam menolong kita dalam usaha menggolongkan sesuatu hasil karja sastra kedalam suatu kelompok sastra, sehingga hasil karja sastra jang sudah berabad-abad jang sudah kita kenal di daerah Atjeh apakah seluruhnja dapat kita masukkan ke dalam perbendaharaan sastra Atjeh, ataukah ke dalam perbendaharaan sastra Melaju atau sastra Indonesia.

Menurut pendapat kami jang bisa kita anggap sebagai perbendaharaan satra Atjeh ialah kumpulan hasil sastra jang diungkapkan/ditulis dalam bahasa Atjeh dan jang merupakan pantjaran masjarakat Atjeh.

Itulah sebabnja roman ”Djeumpa Atjeh” karja sastra Bapak H. M. Zainuddin jang bukunja telah diterbitkan oleh Balai Pustaka jang telah beliau ungkapkan dalam bahasa Indonesia tidak dimasukkan ke dalam perbendaharaan hasil karja sastra Atjeh tetapi dimasukkan ke dalam karja sastra Indonesia/Melaju.

Hal ini berarti bahwa jang menddjadikan kriteria utama untuk dimasukkan suatu hasil karja sastra kedalam perbendaharaan sesuatu sastra ialah bahasa jang dipergunakannja, karena sastra ialah peristiwa seni jang mempergunakan bahas sebagai medianja. Ddjika kita menjadari bahasa adalah alat utama dari sastra maka analisa terhadap hasil sastra meliputi analisa struktur bahasa jang dipergunakan dalam pengungkapan hasil sastra itu.

Sebagai kesimpulan dapat kita katakan tentang kriteria penggolongan sesuatu hasil sastra sebagai hasil karja Atjeh ialah apabila hasil sastra itu diutjapkan/ditulis dalam bahasa Atjeh seperti jang telah kami sebutkan di atas.

Sebenarnja bahasa Atjeh bukanlah bahasa jang berdiri sendiri jang tidak mempunjai hubungan dengan daerah jang lain dalam wilajah Republik Indonesia, karena antara bahasa-bahasa Atjeh dengan bahasa daerah jang lain bertemu pada satu rumpun jaitu rumpun bahasa Nusantara.

Demikian ddjugalah halnja tentang kriteria hasil karja sastra Indonesia jaitu hasil karja sastra jang diungkapkan dalam bahasa Indonesia baik setjara lisan maupun setjara tertulis. Namun demikian mengenai kriteria hasil sastra Indonesia ini kita masih menghdapkan pada pemetjahan masalah kriteria sedjak kapankah bahasa Indonesia itu ada. Apakah bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional telah ada sedjak tahun 1928 sedjak diikrarkannja Sumpah Pemuda tentang kejakinan satu bahasa, satu bangsa dan satu nusa. Ataukah bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi baru ada pada tahun 1945 sedjak proklamasi kemerdekaan.

Memang kalau kita perhatikan ddjiwa dari pada satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa maka bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional/persatuan telah ada sedjak tahun 1928 jaitu sedjak Sumpah Pemuda sedangkan bahasa Indonesia resmi diakui sebagai bahasa negara Republik Indonesia tentu sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sehingga predikat ”resmi” ini merupakan formalitas belaka dari pada apa jang telah kita tjetuskan pada hari sumpah pemuda tersebut.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional tentu telah besar ddjasanja dalam mempersatukan berbagai-bagai suku bangsa menddjadi satu bangsa jaitu bangsa Indonesia, sehingga kalau kita berbitjara tentang bahasa Indonesia maka kita tidak hanja menganggap bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi sadja tetapi ia ddjuga merupakan bahasa Nasional jang telah besa ddjasanja, sedjak itulah sjarat satu bahasa setjara konkrit dapat kita terima.

Berdasarkan kenjataan tersebut maka hasil-hasil sastra jang lahir sedjak masa itulah jang setjara positif dapat kita katakan hasil karja sastra Indonesia karena mempergunakan bahasa Indonesia sebagai medianja dalam usaha mengungkapkan daja ekspresi estetis ddjiwa bangsa Indonesia. Sedangkan sebelum itu kita akui ddjuga tentang telah adanja kehidupan sastra tapi dalam hubungan persjaratan satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Sebelum terpenuhi maka hasil sastra itu belum memenuhi sjarat untuk kita masukkan kedalam hasil karja sastra Indonesia.

Hal-hal inilah sebenarnja jang tidak disinggung-singgung oleh pemrasaran sehingga untuk menentukan peranan sastra Atjeh dalam sastra Indonesia kami rasa kurang terarah, sehingga peranan sastra Atjeh jang telah diungkapkan oleh pemrasaran berdasarkan Hikajat Pak Belalang dalam sastra Indonesia pokok tjeritanja sama dengan tjerita Si Gasin Meuseukin dalam sastra Atjeh, Tjerita Maha Sodak sama dengan tjerita Meudeuhak, dan lain-lain, maka pada hakekatnja bukanlah peranan dalam sastra Indonesia, tetapi peranan dalam sastra Melaju sesuai dengan penddjelasan kami di atas.

Kemudian jang menarik perhatian kami bukan sadja tentang persamaan pokok tjerita antara hasil karja sastra Atjeh dengan karja sastra Melaju atau ddjika menurut istilah pemrasaran karja sastra Indonesia jang merupakan bukti tentang perananan sastra Atjeh dalam sastra Indonesia, tetapi pemrasaran mengemukakan ddjuga tentang terdapat nama-nama Andam Dewi, Nilam Tjahaja, Nilam Permata dan Geunta Sari dalam Hikajat Malem Diwa.

Dalam hal ini kami dapat mengambil kesimpulan bahwa pemrasaran mengidentifikasi istilah ”peranan” sastra dengan ”pengaruh”, sehingga peranan sastra Atjeh dalam sastra Indonesia semata-mata ditafsirkan sebagai pengaruh sastra Atjeh terhadap sastra Indonesia. Memang kalau kita perhatikan sepintas lalu ”peranan” sama dengan ”pengaruh” terutama mengenai pokok tjerita dan gaja bahasa.

Namun, berdasarkan perkembangan kesusasteraan Indonesia dewasa ini jang makin madju dan meningkat, maka istilah peranan disini lebih kita titik beratkan kepada hal-hal jang mengarahkan kepada bantuk sumbangan. Ddjadi mengenai peranan sastra Atjeh dalam sastra Indonesia adalah hal-hal jang mungkin dapat disumbangkan oleh sastra Atjeh terhadap chazanah sastra Indonesia dalam rangka memperkaja perbendaharaan sastra Indonesia.

Menurut pendapat kami sumbangan jang mngkin dapat diberikan oleh sastra Atjeh terhadap sastra Indonesia ialah melalui terdjemahan-terdjemahan hasil karja sastra Atjeh kedalam bahasa Indonesia.

Kita akui bahwa sastra Atjeh mempunjai sedjarah jang gemilang dan mengalami perkembangan jang pesat pada masa dahulu sehingga memiliki perbendaharaan karja sastra jang baik namun kita tidak berusaha untuk memperkenalkannja kepada seluruh bangsa Indonesia.

Dalam hal inilah kami belum melihat adanja peranan sastra Atjeh dalam sastra Indonesia, walaupun sastra Atjeh memiliki perbendaharaan sasta jang banjak dengan mutu jang tinggi.

Disini kami sengadja tidak menjebutkan istilah ”pengaruh” karena istilah tersebut kami anggap mungkin terlalu keras.

Demikianlah tanggapan kami terhadap pemrasaran pertama dan sekarang kami akan menlandjutkan tanggapan terhadap pemrasaran jang kedua.

Tanggapan terhadap prasaran Drs. Araby Ahmad

Pada waktu kami membatja prasaran jang disusun oleh bapak Drs. Araby Ahmad maka pada halaman pertama sebagai pendahuluan, pemrasaran telah mengemukakan kesukaran-kesukarannja dalam menjusun prasaran tersebut antara lain :

Tidak mempunjai bahan jang tjukup lengkap jang khusu memberikan uraian mengenai masalah jang menddjadi topic seminar pada hari ini. Terhadap kesukaran tersebut tentu kita sama-sama menjadarinja; tetapi terhadap kesukaran selandjutnja jaitu mengenai tidak terdapatnja kata0kata jang berasal dari bahasa Atjeh dalam perbendaharaan kamus bahasa Indonesia baik jang disusun oleh St. Muhammad Zain maupun jang disusun oleh WJS Purwadarminta dan E. St. Harahap menurut kami tidak pada tempatnja.  Mentdjari bahan dalam kamus untuk mengetahui peranan dalam sastra Atjeh dalam bahasa Indonesia adalah usaha jang sia-sia.

Kamus bukanlah sumber kesusasteraan tetapi merupakan sumber perbendaharaan kata-kata, sehingga walaupun banjak kata-kata jang berasal dari bahasa Atjeh kita ddjumpai dalam kamus bahasa Indonesia, maka hal ini belum berarti bahwa sastra Atjeh telah memegang peranan dalam sastra Indonesia.

Bahasa Indonesia memang banjak memperoleh sumbangan dari bahasa-bahasa daerah baik dalam bidang morfologi maupun dalam bentuk kosa kata (perbendaharaan kata).

Selandjutnja pada halaman dua, pemrasaran jang mengemukakan bahwa antara bahasa sastra kesusasteraan jang sukar untuk memisahkannja memang atara bahasa dan sastra sangat erat sekali hubungannja; seperti halnja hubungan antara seni lukis dengan garis. Seandainja tidak ada bahasa maka sastrapun tidak akan ada; sehingga bahasa merupakan alat utama bagi sastra.

Namun demikian tidak berarti bahwa dalam seminar ini akan membitjarakan ddjuga masalah ilmu bahasa jaitu bahasa Atjeh. Nampaknja pemrasaran mentjampur adukkan antara bahasa dengan alat/media sastra dengan bahasa sebagai ilmu bahasa, sehingga dalam prasarnnja pemrasaran telah membitjarakan ddjuga masalah bahasa Atjeh jang menjangkut masalah Tatabahasa, terutama tentang edjaan, konsonan, vokal, suku kata, akar kata, kata dasar dan imbuhan tekanan/irama dan tentang kalimat.

Masalah tersebut kami anggap diluar scope materi jang harus kita bitjarakan dalam topic seminar pada hari ini. Selain itu pemrasaran ddjuga agak keliru dalam menempatkan salah seorang pembanding utama jaitu Bapak Dr. Umar Kajam, jang dianggapnja sebagai pembanding dalam bidang bahasa. Hal ini dapat kita lihat pada halaman 2 jang berbunji  sebagai berikut : ”Demikian pula pembanding di bidang bahasa Indonesia, orang jang tak asing lagi namanja seluruh pelosok tanah air, sebagai tokohnja Ruba’ijat abad 20”.

Selandjutnja kami ddjuga beranggapan seolah-olah pemrasaran membedakan antara pengertian ”sastra” dengan ”kesusasteraan” sebagai terlihat pada ddjudul fasal II pada halaman 7 jang berbunji : ”Baahasa, Sastra dan Kesusasteraan Atjeh”. Anehnja di dalam fasal II tersebut kami tidak menemukan uraian mengenai ”Sastra Atjeh” tapi jang ada hanja mengenai ”kesusasteraan Atjeh”.

Memang kita akui perkataan sastra setjara etimologi berasal dari bahsa sanskerta jaitu ”Castra jang berarti gubahan, karangan, tulisan, atau kitab; sehingga pada mulanja semua jang tertulis dianggap hasil sastra, baik jang berhubungan dengan filsafat, sedjarah, dan lain-lain dianggap karja sastra.

Dalam pengertian khusus jang kita miliki sekarang, pengertian sastra (castra) berarti kesusasteraan atau seni sastra jang berupa kegiatan kreatif manusia jang berbentuk estetis dengan mempergunakan bahasa sebagai alat perwudjudannja. Ddjadi, sastra atau kesusasteraan adalah tjabang kesenian.

Dengan demikian berdasarkan pengetahuan chusus jang kita miliki sekarang maka jang dimaksud dengan sastra adalag kesusasteraan, sehingga dengan pemakaian istilah ”Sastra” berarati telah menundjukkan pengertian kesusasteraaan.

Kemudian pada halaman 6 pemrasaran berpendapat : ”Seterausnja untuk melihat sampai dimana sastra Atjeh memegang peranan dalam sastra Indonesia kita ddjuga harus meneliti pemegang peranan pemerintahan jang tinggi”.  Untuk memperkuat pendapatnja pemrasaran mengemukakan bahwa pendirian tersebut sesuai dengan pendirian Ibnu Chaldun. Dalam hal ini pemrasaran memberikan tjontoh kata ”holopis kuntul baris” jang  diutjapkan dan dipopulerkan oleh almarhum Ir. Soekarno.

Tjontoh tersebtu diatas bukanlah tjontoh jang berhubungan dengan peranan sastra daerah terhadap sastra Indonesia, tapi tjontohnja jang berhubungan dengan pengaruh kata-kata bahasa daerah terhadap bahasa Indonesia. Sebenarnja kalau kita memperhatikan sedalam-dalamnja terhadap dunia kesusasteraan maka didalamnja kita akan menemukan 4 pihak jaitu :

1.      Pihak pentjipta sastra jakni para sastrawan dan pengarang-pengarang.

2.      Pihak peneliti jakni orang-orang jang meneliti tentang teori kesusasteraan, sedjarah kesusasteraan dan kritik sastra.

3.      Pihak peminat jakni orang-orang jang berminat untuk membatja/mendengar hasil-hasil kesusasteraan.

4.      Karja sastra jakni hasil-hasil kesusasteraan jang ditjiptakan oleh sastrawan/penjair-penjair.

Pihak-pihak diataslah jang memegang peranan dalam duani kesusasteraan, sehingg penguasa bukanlah orang jang dapat menentukan arah perkembangan dalam dunia kesusasteraan. Disini kami tekankan, ddjika kesusasteraan Atjeh ingin memegang peranan dalam pengembangan kesusasteraan Indonesia, maka para sastrawanlah jang akan menentukannja, terutama sastrawan-sastrawan jang berasal dari daerah Atjeh.

Melalui sastrawanlah, sastra Atjeh ini akan dapat memberikan sumbangannja terhadap perkembangan sastra Indonesia, baik dalam bidang pokok tjerita, gaja bahasa, bentuk dan ddjiwa sastra.

Diatas telah kami kemukakan bahwa pemrasaran mentjampuradukkan antara bahasa sebagai media sastra dengan bahasa sebagai ilmu bahasa, sehingga uraian pemrasaran mengenai tata bahasa Atjeh kami anggap menjimang dari persoalan jang sebenarnja. Namu demikian karena pemrasaran telah memaparkan masalah tersebut maka terpaksa ddjuga kami ingin menanggapinja.

Berdasarkan uraian jang telah dikemukakan oleh pemrasaran mengenai hal tersebut maka kami dapat menarik kesimpulan bahwa jang dimaksud dengan edjaan bahasa Atjeh menurut pemrasaran adalah unsur vokal dan konsonan bahasa Atjeh.

Jang dimaksudkan dengan edjaan sebenarnja bukan menjangkut masalah aturan-aturan tentang tjara pemindahan bahasa lisan kedalam abahasa tulisan dengan mempergunakan huruf-huruf sebagai perlambangan fonem. Dengan perkataan lain, edjaan ialah aturan-aturan perkembangan fonem dengan huruf.

Sedangkan jang dimaksudkan dengan fonem ialah unit bunji bahasa jang terketjil jang bersifat membedakan arti; sehingga kalau kita perhatikan fonem-fonem jang terdapat dalam bahasa Atjeh tidaklah sebanjak seperti jang telah digambarkan oleh pemrasaran.

Fonem-fonem bahasa Atjeh terdiri dari fonem konsonan, fonem vokal dan diftong. Fonem-fonem konsonan terdiri dari fonem : /b/, /p/, /m/, /w/, /n/, /s/, /d/, /t/, /l/, /r/, /d/, /dj/, /c/ (TJ), /sn/ (nj), /y/y (j), /g/, /k/, /    /(ng), dan fonem /h/.

Sekarang bunji : dh, dr, bh, bl, br, gh, gl, gr, kh, kl, kr, dan njh bukanlah fonem, tapi merupakan cluster (konsonan rangkap) jang hanja terdapat pada awal kata (posisi awal) dan pada tengah kata (posisi tengah).

Dengan demikian fonem konsonan dalam bahasa Atjeh berdjumlah 18 buah, sedangkan fonem vokal berdjumlah 9 buah.

Fonem-fonem vokal tersebut terdiri dari fonem vokal /i/, /e/, / é/, /e/, /(è), /a/, /e/(e), /u/, /o/(ô), /    /(o) dan fonem vokal ö (eu). Sebahagian besar fonem-fonem vokal tersebut kadang-kadang dalam pengutjapannja mengalami penje-ngau-an; akibatnja muntjullah variasi-variasi fonem vokal jang disengaukan.

Selandjutnja pada halaman 9 pemrasaran mengatakan bahwa konsonan s, l dan r tidak pernah menempati posisi achir kata. Sebenarnja dalam bahasa Atjeh bukan sadja fonem s, l dan r jang tidak pernam menempati posisi achir kata, sehingga apabila pada halaman 9 kami menddjumpai tjontoh kata tiep (tiap) dan suep (suap) jang diachiri dengan fonem /p/, maka kami anggap pemrasaran telah mempergunakan edjaan jang salah, kata-kata tersebut seharusnja diachiri dengan fonem /b/ sehingga edjaannja menddjadi ”tieb” dan ”sueb”.

Tanggapan terhadap masalah tersebut  tidak perlu kami berikah lebih landjut karena masalah ini kami anggap menjimpang dari topic jang sebenarnja.

Kemudian mengenai kesusasteraan Atjeh, pemrasaran membaginja atas 4 priode jaitu :

a.       Kesusasteraan Purba.

b.      Kesusasteraan Lama

c.       Masa Baru.

d.      Masa Modern.

Bentuk pemrasaran Purba menurut pemrasaran hampir sama dengan kesusasteraan Indonesia. Pada waktu itu kesusasteraan Atjeh berisi ke Hindu an.

Dalam hal ini pemrasaran kurang menjadari, bahwa sebelum sastra Atjeh mendapat pengaruh sastra asing jaitu sastra Hindu, sebenarnja dahulu kala di daearah Atjeh sudah memiliki kesusasteraan sendiri dalam bentuk jang asli. Pada waktu itu masjarakat Atjeh sudah mempunjai tjerita-tjerita terutama tjerita-tjerita tentang binatang-binatang, dan mantera-mantera. Tjerita-tjerita tersebut adalah tjrerita-tjerita jang tersebar dari mulut ke mulut, sehingga kita tidak dapat mengenal siapa jang mula-mula mentjeritakannja. Tjerita-tjerita dari mulut ke mulut tersebut dianggap milik bersama jaitu milik masjarakat. Hal ini sesuai dengan sifat kepribadian masjarakat kita jang tidak suka menondjolkan diri.

Selain dari tjerita-tjerita tersebut jang berbentuk prosa, maka pada waktu itu dikenal ddjuga bentuk puisi. Betuk puisi sastra Atjeh jang tertua menurut kami bukanlah bentuk pantun seperti jang dikemukakan oleh pemrasaran. Bentuk pusi jang tertua adalah ”Narit Madja” atau ”Hadih Madja” jaitu dalam bentuk ”Bidal”.

Narit Madja ini merupakan hasil sastra Atjeh asli jang sudah dikenal sedjak dahulu kala sebelum masjarakat Atjeh mengenal pengaruh sastra Asing jaitu sastra Hindu. Narit Madja merupakan kalimat-kalimat singkat jang mengandung satu pengertian jang di dalam penuturannja mempunjai gerak, lagu atau irama jang tertentu. Dengan adanja irama inilah kami anggap Narit Madja menddjadi puisi Atjeh, kemudian berubah menjusul pantun.

Hal ini dapat kami buktikan, melihat pada isi pantun itu sendiri jang pada hakekatnja mengandung ibarat, perumpamaan dan tamsil. Ddjadi, pantun Atjeh sebenarnja merupakan perluasan Narit Madja sehingga mempunjai persadjakan tersendiri. Akibatnja pada mulanja persadjakan pantun Atjeh tidak begitu teratur.

Selandjutnja mengenai pendapat persamaan antara tjerita-tjerita jang terdapat dalam kesusasteraan Atjeh pada waktu itu dengan tjerita-tjerita jang terdapat dalam kesusasteraan Melaju klasik jang tjerita-tjeritanja ddjuga kebanjakan tentang binatang-binatang, maka hal ini bukanlah karena pengaruh sastra Atjeh terhadap sastra Melaju klasik atau sebaliknja, tapi karena pada dasarnja tjerita-tjerita pada waktu itu pada umumnja mempergunakan binatang sebagai objek.

Hal ini bukan sadja kita ddjumpai dalam kesusasteraan Atjeh zaman Purba, tetapi kita ddjumpai ddjuga di dalam kesusasteraan asing sepertidi dalam kesusasteraan Birma, Kambodja dan lain-lain.

Dalam uraian selandjutnja tentang kesusasteraan lama, pemrasaran mengemukakan bahwa bentuk puisi pada masa itu sudah lebih teratur. Jang dimasukkan ke dalam priode ini oleh pemrasaran hasil sastra jang dihasilkan sedjak datangnja agama Islam ke Atjeh hingga masuknja pendjadjahan Barat.

Memang kalau kita perhatikan hasil kesusasteraan Atjeh sesudah penduduk Atjeh memeluk agama Islam telah banjak mengalami kemadjuan terutama tentang pokok tjerita, selain dari itu bentuk puisi pun sudah dikenal bentuk sja’ir akibat pengaruh dari kesusasteraan Arab.

Pada umumnja jang diungkapkan dalam bentuk sja’ir ialah Hikajat-hikajat Atjeh, karena merupakan suatu luksan tjerita. Oleh sja’ir biasanja lukisan jang pandjang-pandjang maka pajahlah ia menddjadi buah kesusasteraan jang sempurna tiap-tiap baris, baik tentang irama maupun tentang bunji dan arti.

Sifatnja semata-mata susunan 4 baris jang bersadjak, sehingga kadang-kadang mempergunakan beberapa perkataan jang tiada ddjelas lagi artinja, karena sekadar untuk membuat keempat baris itu bersadjak. Itu sebabnja maka orang jang membatja Hikajat Atjeh umumnja bukan merasakan keindahan susunan lukisan dan bunji tetapi untuk mendengarkan tjeritanja jang dibatjakan sambil berlagu.

Ddjadi sukar untuk dapat kita katakan bahwa sadjak dari sebuah puisi masa itu sudah lebih teratur, namun demikian kita akui masuknja agama Islam ke Atjeh membawa kemadjuan terhadap kesusasteraan Atjeh baik tentang bentuk maupun mengenai pokok tjerita.

Kalau pada zaman purba hasil kesusasteraan Atjeh berkisar mengenai tjerita-tjerita tentang benda-benda jang ada disekelilingnja dan binatang-binatang maka setelah Islam masuk ke Atjeh, pokok tjerita diarahkan kepada hal-hal jang bernafaskan keagamaan. Hasil kesusasteraan selalu memanifestasikan akal pikiran dan perasaan manusia jang dilandasi dan diddjiwai oleh Al Qur’an dan Sunnah Rasul jang diabadikan untuk perddjuangan Islam dan berguna bagi seluruh ummat manusia.

Berlandaskan kepada kenjataan tersebut maka kami menganggap sedjak agama Islam masuk ke Atjeh, kesusasteraan Atjeh telah mengindjak zaman baru. Dalam hal ini kami memperhatikan pandangan jang berbeda dengan pemrasaran jang telah memasukkan hasil kesusasteraan Atjeh setelah masjarakat Atjeh memeluk Islam ke dalam hasil kesusasteraan lama.

Menurut pandangan kami, jang mutlak dapat kita anggap hasil kesusasteraan lama dalam kesusasteraan ialah hasil kesusasteraan Atjeh Zaman Purba dan hasil kesusasteraan Atjeh jang mendapat pengaruh dari Hindu. Dengan demikian Hikajat Prang Sabi bukanlah hasil kesusasteraan lama sebagai jang dikemukakan oleh pemrasaran pada halaman 14.

Dalam uraiannja tentang kesusasteraan modern pada halaman 17 dan 18, pemrasaran mengemukakan bahwa sastera Atjeh berbanding terbalik dengan sastra Indonesia menudju kepada bentuk puisi bebas, sedangkan satra Atjeh bentuk puisinja makin terikat.

Perkembangan puisi Atjeh sebenarnja bukanlah berbanding terbalik dengan bentuk puisi kesusasteraan Indonesia. Kita akui bahwa bentuk puisi Atjeh tidak mengalami perkembangan, sehingga di dalam sedjarah kesusasteraan Atjeh bentuk puisinja pada umumnja berbentuk pantun, bidal dan sja’irnja. Bentuk pantun, bidal dan sja’ir tersebut di dalam kesusasteraan Indonesia dianggap bentuk puisi lama; sedangkan bentuk puisi barunja pada umumnja tidak lagi terikat kepada banjak baris dan irama sehingga jang terdiri dari 3 baris jang dinamakan Terzina, 5 baris (cuint), 6 baris (sected) 7 baris (septina) dan sebagainja.

Bentuk-bentuk seperti inilah jang tidak dikenal di dalam puisi kesusasteraan Atjeh. Namun demikian mengenai isinja selalu mengalami perkembangan sesuai dengan peristiwa-peristiwa jang terddjadi dalam masjarakat.

Sebenarnja sampai pada achir uraiannja, kami masih belum dapat melihat argumentasi jang mejakinkan mengenai peranan sastra Atjeh dalam sastra Indonesia jang telah diuraikan oleh pemrasaran. Sungguhpun demikian prasaran tersebut banjak mengandung pengetahuan jang berguna bagi penggemar kesusasteraan, terutama mengenai sedjarah perkembangan sastra Atjeh.

Achirnja sebagai kesimpulan dapat kami kemukakan bahwa ddjika kesusasteraan Atjeh ingin memperlihatkan peranannja di dalam perkembangan kesusasteraan Indonesia maka semua hasil kesusasteraan Atjeh jang telah dihasilkan sedjak dahulu kita kumpulkan dan kita terbitkan kembali dalam bahasa Indonesia, baik terhadap hasil sastra jang telah pernah dibukukan maupun folklore jang masih beredar dari mulut ke mulut.

Dengan tjara inilah maka perbendaharaan kesusasteraan Atjeh akan dapat dipersembahkan kepangkuan chazanah kesusasteraan Indonesia, sehingga dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia.

Sebagai penutup, maka dalam kesempatan ini kami ingin mengadjukan beberapa saran melalui Panitia Seminar untuk disampaikan kepada Pemerintah Daerah Istimewa Atjeh dan Bapak Rektor Sjiah Kuala.

Saran-saran tersebut jang sebahagian telah kami muat dalam thesis kami jang berddjudul ”Fonologi dan Morfologi bahasa Atjeh” adalah sebagai berikut :

Ddjika Pemerintah Daerah sungguh-sungguh hendak membina kebudajaan Atjeh dalam rangka membina kebudajaan Atjeh dalam rangka membangun kebudajaan Nasional, hendaknja Pemerintah Daerah harus :

1.      Membantu tenaga-tenaga kreatif (para budajawan) dalam segala bentuk.

2.      Mendirikan Lembaga Penjelidikan dan Pengembangan Kebudajaan Atjeh.

Lembaga-lembaga tersebut harus dilengkapi dengan seksi-seksi :

(1)   Seksi Bahasa/Sastra Atjeh.

(2)   Seksi Peradaban.

(3)   Seksi Seni Lukis.

(4)   Seksi Seni Tari/Drama.

(5)   Seksi Seni Suara.

(6)   Seksi Mesium.

(7)   Seksi Seni Bangunan.

(8)   Seksi Perpustakaan da Publikasi

Kepada Seksi Bahasa/Sastra Atjeh diserahi tugas untuk :

a.       Menentukan suatu bahasa standard (bahasa buku) jang berlaku untuk seluruh daerah Atjeh.

Demikian pula untuk bahasa Atjeh Gajo, bahasa Atjeh Alas dan lain-lain.

b.      Menjusun buku-buku Peladjaran bahasa Atjeh dengan menggunakan metode ilmu bahasa (linguistic method) jang bersifat didaktis metodik. Diantaranja menjusun buku Tata Bahasa Atjeh jang lengkap dan sempurna, serta menentukan standard edjaan jang seragam.

c.       Menerbitkan buku-buku batjaan bahasa Atjeh jang bersifat paeiagogis.

Isinja meliputi seluruh aspek kehidupan masjarakat Atjeh, terutama jang bernafaskan keislaman.

d.      Menjusun buku-buku kesusasteraan Atjeh, dan menerbitkan kembali hasil-hasil kesusasteraan lama, baik jang tertulis dalam tulisan Arab maupun dalam tulisan Latin.

e.       Mengumpulkan folklore jang bersumber pada tjerita dari mulut ke mulut, jang kemudian dianalisa dan dibukukan.

f.       Menjusun Kamus Bahasa Atjeh jang lengkap.

3.      Kepada Bapak Rektor Universitas Sjiah Kuala kita harapkan agar memikirkan pembukuan Djurusan Bahasa dan Sastra Atjeh pada Fakultas Keguruan, sehingga dapat mentjetak Sardjana Pendidikan untuk pengadjaran Bahasa Daerah di sekolah-sekolah.

Demikianlah bandingan ini kami sampaikan setjara singkat mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

Banda Atjeh, 17 Agustus 1972

PANITIA PUSAT

PEKAN KEBUDAJAAN ATJEH KE-II

(The 2nd. Atjeh Cultural Festival)

PERANAN SASTRA ATJEH DALAM

SASTRA INDONESIA

O

L

E

H

PROF. DR. H. ABOEBAKAR ATJEH

BANDINGAN

PADA SEMINAR KEBUDAJAAN

DALAM RANGKA PKA-II DAN DIES

NATALIS UNIVERSITAS SJIAH KUALA KE-XI

21 S/D 25 Agustus, tahun 1972.

D

I

BANDA ATJEH

PERANAN SASTRA ATJEH DALAM SASTRA INDONESIA

Bandingan Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh

I. PENDAHULUAN

Orang Atjeh sebagaimana orang Arab, adalah suatu bangsa penjair, jang mempunjai pembawaan, lebih dapat merasakan kata-kata jang bersadjak, dari pada utjapan dan susunan kalimat-kalimat biasa. Oleh karena itu tidak didapat orang karangan-karangan prosa, baik dalam masa purbakala, Arab sebelum Islam, maupun dalam zaman Atjeh jang lampau. Persamaan kedua bangsa ini ialah, bahwa baik Arab Jahilijjah, baik Atjeh sebelum mengenal dari huruf Arab, mengutjapkan perasaannja dalam kata-kata bersadjak, demikian lantjarnja, seperti mereka berbitjara biasa.

Mungkin mereka pernah memakai huruf nenek mojangnja, jang berasal dari Tjampa atau India, tetapi sesudah Islam masuk ke Atjeh, mereka hanja mengenal huruf Arab, dan dalam huruf ini banjaklah tersimpan hikajat-hikajat Atjeh, sudah dalam bentuk sja’ir, dalam bentuk narit meupakhô, atau dalam bahasa Asing disebut ”in gebonden stijl”. Bahkan banjak diantara penjair-penjair itu menghafal hikajat-hikajat jang digemarinja, untuk kemudian diutjapkan kembali, dan banjak pula penjair-penjair Atjeh jang membuat karangan-karangan dalam dalam pikirannja kemudian dinjandjikan dalam bentuk hikajat jang bersadjak itu. Oleh karena itu terddjadilah kadang-kadang bahwa sebuah hikajat jang sama berlainan sjair-sjairnja ddjika diutjapkan oleh dua atau tiga orang jang berbeda menjandjikan kembali.

Mengenai kesusasteraan Atjeh Dr. C. Snouck Hurgronje dalam karjanja jang tertonjol ”De Atjehers” berkata : ”Jang kami maksudkan dengan kesusasteraan disini ialah sesuatu karja jang menarik, jang berisi peladjaran atau pembangunan budi dari orang Atjeh, jang disusun dalam bahasanja sendiri. Sengadja saja gunakan kata-kata ”disusun” dan bukan ”ditulis”, karena sesuatu jang tidak dapat diabadikan dengan tulisan, jang tidak dapat kita peroleh dari pada pengarang-pengarang Atjeh dalam tutur katanja tidak tetap.

…… ”Malèm Dagang dan Potjoet Moehamad”, dua buah sjair pahlawan Atjeh, jang mengandung fakta-fakta sedjarah dan tjerita Atjeh pada masa jang lampau, sambung menjambung disampaikan setjara tertulis sedjak zaman dahulu. Ada jang lain tjerita jang hampir sama bentuknja dalam sja’ir kedua pahlawan di atas, dan sja’ir-sja’ir jang dikarang oleh seorang penja’ir jang tak tahu menulis dan membatja, diutjapkan di luar otaknja, jang oleh saja kemudian diperintahkan agar menulis, ”en eerat door mijn toedoen in zijn geheel op schrift gebracht”. (De Atjehers, II, hal. 67).

Sja’ir-sja’ir dan hikajat itu barulah ditulis, sesudah Drs. C. Snouck dengan teman-temannja mentjiptakan suatu trancriptie, dalam huruf Latin, dengan edjaan jang diambil dari pada edjaan bahasa Perantjis, karena huruf hidupnja banjak persamaan dengan bunji huruf dalam bahasa Atjeh, dan tidak diambil dari pada edjaan huruf hidup bahasa Inggeris, jang tidak tjukup memberikan bentuk-bentuk suara dalam bahasa Atjeh. Dan dengan demikian barulah bahasa Atjeh itu ditulis dalam huruf Latin, dan dikarangkanlah tjerita-tjerita jang berbentuk prosa, seperti buku bahasa Atjeh jang pertama pada Sekolah-sekolah Dasar ”Batjoet Sapeuë” karangnnja’ Tjoet dan Moh. Djam, karangan-karangan dalam Madjalah Pertanian dalam Bahasa Atjeh oleh T. Mansoer Leupueëng, ”Lhèë Saboh Nang” dan ”Meutia”, oleh H. Aboebakar (Atjeh). Disamping menulis dalam Bahasa Atjeh dengan huruf Latin Haba-haba dan Hikajat, banjak tjerita-tjerita dari suasana baru ddjuga ditulis dalam huruf Latin dalam bentuk sadjak, misalnja karangan-karangan Abdullah Arief dan lain-lain.

Diantaranja daerah-daerah dan kepulauan kita jang pernah saja kundjungi, Atjehlah jang paling kaja dalam kesusasteraannja. Diantara Hikajat-hikajat jang disalin dalam huruf Latin oleh Tgk. Tjeh Moh. Noerdin, saja turut membantunja, sudah berdjumlah 600 buah, kemudian menddjadi milik Prof. Hoessein Djadjadiningrat, dan sesudah wafatnja dibeli oleh Mr. Moh. Jamin, dan tersimpang dalam perpustakannja. Saja sudah beberapa kali menjampaikan kepada pemimpin-pemimpin jang terkemuka di Atjeh, dan sekarang, sekali lagi kepada Konferensi Kebudajaan Atjeh II, agar collectie Hikajat-hikajat Atjeh dengan huruf Latin itu dibeli oleh Pemerintah Daerah Istimewa Atjeh dan dipelihara.

Beberapa banjak diantara nama karangan-karangan itu disebut dan ditulis oleh Dr. C. Snouck Hurgronje dalam kitabnja ”De Atjehers”, II bab Letterkunde.

II. PEMBAHAGIAN KESUSASTERAAN

Berlainan sedikit dengan pengarang-pengarang Belanda, saja ingin membahagikan kesusasteraan Atjeh itu dalam dua bahagian pokok, pertama jang bersifat proza atau Haban Kedua bersifat poezie, atau sadjak dan hikajat atau Naris Moepakho.

Baik dari golongan pertama ataupun dari golongan kedua ada jang bersifat ilmu pengetahuan, sedjarah atau roman. Begitu ddjuga dari kedua golongan ini ada jang diuntukkan buat agama, buat batjaan anak-anak, buat batjaan umum dan nasehat.

Batjaan mengenai agama kebanjakan merupakan terdjemahan dari bahasa Arab atau bahasa Melaju, mengenai rukun Islam, rukun Iman atau bahasa Melaju, mengenai Ichsan, pekerdjaan kebaddjikan dan achlak. Ke dalam golongan ini termasuk ddjuga kata-kata berhikmat, jang dinamakan miseuë, hadih madja, haba djameun dan haba-haba lain, jang mentjeritakan tjontoh-tjontoh dari Qur’an dan Nabi-nabi.

Ddjika golongan ini disja’irkan, atjapkali diberi nama Nalam, jang timbangannja kebanjakan diambil dari pada bahar-bahar dalam ilmu Arudh Qawafi bahasa Arab.

Batjaan-batjaan untuk anak-anak terdiri misalnja dari teka-teki (hiëm), haba plandõ kantje, haba si meuseukin, haba bajeunën, nini keubajan, haba bateë meutangkõb, dan lain-lain. Ada jang dalam proza, dan ada pula jang dalam poezie, seperi hikajat goeda, hikajat leumô, hikajat oereuëng ddjawa dan hikajat Pôdi Amat, hikajat Aboe Nawaih hikajat Po Djambôë, dan lain-lain. Melalui tjerita-tjerita ini ditanamlah ddjiwa Islam kepada anak-anak, sebagaimana ddjuga oleh wali songo di Ddjawa ditjiptakan wajang marmojo, jang tidak lain dari pada sedjarah Islam mengenai peperangan Ali dan Bani Umaijah.

Diatara hikajat-hikajat jang termasuk sedjarah adalah Malèm Dagang jang dianggap sangat penting, karena berisi sedjarah Sultan Iskandar Moeda dan kepahlawannja (1607-1936), terutama di keradjaan-keradjaan Malaja. Pembitjarakan tentang hikajat Malèm Dagang ini pernah dilakukan oleh Dr. Cowan seorang bekas kontelir di Atjeh jang menddjadikan disertatienja dengan pantun tjatatan-tjatatan penting dalam sedjarah. Begitu ddjuga hikajat Potjoet Muhammad, jang bersifat sedjarah radja-radja Atjeh termasuk hikajat jang terpenting, disamping Hikajat Prang Kompeuni, jang dikarang dan diutjapkan diluar kepala, karena ia tidak tahu menulis dan membatja berisi banjak keterangan-keterangan mengenai Perang Atjeh dengan Belanda.

Diantara golongan jang penting adalah Nalam-nalam jang digubah untuk mengandjurkan dan menggiatkan peperangan terhadap Belanda, oleh Ulama-ulama Tiro.

Adapun hikajat-hikajat jang berisi pertjintaan atau peperangan antara radja dengan radja, jang biasa disebut roman, sangat banjak sekali diantaranja Malém Diwa, Hikajat Iskandar Ali, jang isinja masih berisi sedjarah Tjamtalira, sebagaimana jang disebut-sebut oleh Marcopolo dan Ibn Batuta dalam tjerita perantauannja. Tjerita ini membajangkan permainan politik dan peperangan dengan Portugis, Hikajat Nun Parisi, sudah saja bitjarakan di atas, Hikajat Banta Beuransah, Hikajat Malém Diwanda, Hikajat Gadjah Tujôh Oelèe, Hikajat Gumbak Meuh, jang telah menddjadi dissertatie DR. Nj. Amshof, dan jang pernah saja bantu, pada waktu ia mengerdjakan dissertatienja itu, dan lain-lain. Jang semuanja baik diterbitkan atau diterdjemahkan dalam bahasa Indonesia untuk batjaan anak-anak, jang pada hemat saja ddjauh lebih baik dari pada karangan-karangan jang hanja dibuat-buat sekarang ini. Saja tidak akan berpandjang kalam tentang hikajat ini, tjukup mempersilakan sidang membatja daftar hikajat-hikajat itu dalam prasaran Adnan Hanafiah, jang tentu diperiknja dari pada nama-nama jang lengkap dari pada segala penggolongan hikajat-hikajat itu, termuat dalam ”De Atjehers” deel II, bahagian ”Letterkunde”.

Bukan sebagai anak Atjeh tetapi sebagai seorang Indonesia biasa. Saja dapat membandingkan sastra-sastra lama Atjeh dengan sastra-satra jang daerah, dan saja mengambil keputusan, bahwa Atjeh adalah daerah jang paling banjak mempunjai sastra dalam segala matjam isi dan dalam segala ingkat penggolongan, hampir semua dalam kata-kata bersadjak, anak Atjeh di kabupaten mana pun ia berada, adalah penulis dan penja’ir sedjak lahir dari perut ibunja, een dichter tot merg en been :

Mengapa tidak ada hasil sastranja sekarang ini?

Sesudah Belanda dan Ddjepang datang mereke beku kembali, tidak ada edjaan ilmiaah jang bersamaan, tidak pernah mempeladjari bahasa Atjeh dan ilmu bahasanja, tidak ada batjaan dari pada tjerita-tjerita da nroman-roman Atjeh, tidak ada kegiatan pemerintah dan pemimpin rakjat jang mentjetuskannja, agar penja’ir-penja’ir itu lahir kembali dalam zaman baru ini. Ddjangankan untuk batjaan penggerak, untuk kitab-kitab batjaan di sekolah pun tidak ada. Ddjika ada diantara mereka jang menddjadi pengadjar dalam bahasa Atjeh adalah dari pada anak-anak jang tumbuh sendiri, tidak mengetahui seluk beluk sedjarah bahasa dan kesusasteraan Atjeh, mereka hanja mempeladjari bahasa Atjeh disekitar lingkungannja, dan tidak mengenal susunan-susunan sja’ir Atjeh itu dalam hikajat-hikajat jang terkenal dan baik bahasanja.

III. PEMBAHASAN PRASARAN SAUDARA ADNAN HANAFIAH dan DRS ARABY AHMAD.

Saja batja kedua prasaran jang dikirimkan kepada saja oleh Panitia Pusat Pekan Kebudajaan Atjeh ke-II, dengan suratnja tanggal 10 Djuli 1972 No. 605/PKA-II/1972, masing-masing berasal dari saudara Adnan Hanafiah, SS., berddjudul ”Peranan Sastra Atjeh dalam Sastra Indonesia” dan dari Drs. Araby Ahmad, berddjudul jang sama dengan penuh perhatian. Saja setudju dengan maksud kedua saudara ini, jang menganggap penting bahasa dan kesusasteraan Atjeh mendapat perhatian, baik dari umum, terutama dari Pemerintah Daerah dan Pusat.

Senelum saja menjatakan pendapat saja, tentang usul perbaikan, sebagaimana jang dimaksudkan oleh dua pemrasaran tersebut. Saja ingin lebih dahulu membahas serba sedikit dari pada kedua uraian pemuda kita itu.

Prasaran jang pertama lebih berisi dari pada jang kedua. Selain dari pada saudara Adnan Hanafiah mengemukakan beberapa sedjarah asal usul bangsa Atjeh dalam ”Pendahuluannja” ia mengemukakan serangkaian nama-nama hikajat dalam bahasa Atjeh, jang sebahagian besar sudah tidak terdapat lagi di tengah-tengah masjarakat, meskipun dalam penulisan asli dalam huruf Arab. Nama-nama hikajat ini kita dapati lebih terperintji, dan dengan keringkasan isinja dalam kitab ”De Atjehers” dari Dr. C. Snouck Hurgronje, Dee II, hal. 67, mengenai ”Letterkunde”, dan seterusnja. Saja sudah katakan di atas bahwa sebahagian besar dari pada hikajat-hikajat itu sudah di salin oleh Tgk. Sjeich Moh. Noerdin dari huruf Arab ke dalam huruf Latin, jang kemudia saja dapati kembali dalam perpustakaan pribadi Prof. Dr. Hoessein Djadjadiningrat, tatkala saja saban hari membantu beliau di rumahnja untuk menjelesaikan Kamus Besar Bahasa Atjeh-Belanda. Sesudah beliau wafat, perpustakaannja, termasuk perbendaharaan sastra Atjeh itu, dibeli oleh Mr. Moh. Jamin dan dibawa ke rumahnja di ddjalan Diponegoro, dan sudah saja andjurkan kepada pemimpin-pemimpin Atjeh untuk berusaha membelinja atau menjalin kembali, untuk diterbitkan.

Saja ingin menambah kepada daftar ini dua buah hikajat penting, pertama ”Hikajat Noen Parisi”, jang sekarang ada pada saja, hadiah dari pada Sultan Atjeh terachir, Sultan Mohammad Dawod, sebelum beliau wafat dii Djakarta. ”Hikajat Noen Parisi” ini saja anggap penting untuk diterbitkan kembali, karena mengandung banjak sekali fakta-fakta sedjarah Atjeh, terutama mengenai silsilah empat suku bangsa Atjeh, Sedjarah Pasei, mengenai adat istiadat Radja-Radja Atjeh, dan mengenai Radja Sarah jang memerintah di negeri Sjamtalira (kemudian bernama Sumatera), perkataan mana setjara keliru sudah ditafsirkan oleh H. A. R. Gibb, dalam terdjemahannja mengenai ”Ibn Battuta, Travel in Asia and Africa, 1325-1354” sebagai nama sebuah negara pelabuhan (Sarha may be taken to refer to the ”houses” (as in the translation), but is more probably the name of the port), notes chapter X. Mengenai hikajat jang sangat penting ini Dr. C. Snouck Hurgronje membuat tjatatan : ”Saja tidak berhasil akan mendapat sebuah naschah dari (hikajat-hikajat Noen Parisi), tetapi saja jakin bahwa isinja mengenai sebahagian besar keadaan di negeri Sjamtalira, dan oleh karena itu hikajat ini oleh suku Atjeh dianggap sedjarah keradjaan-keradjaan di Atjeh Utara dan Timur, jang kemakmurannja sudah mendahului dari pada keradjaan-keradjaan Atjeh jang lain’ (Van dit verhaal heb ik nog geen exemplar kunnen verkrijgen, maar zooveel is zeker, evenals het vorige, voor een deel in Tjamtalira speelt, en daarom door de Atjehers beschouw wordt als een tafereel uit de geschiedenis der rijkjes ter Noord en Oostkust, welker bloei aan het ontstaan van het rijk van Atjeh vooraging). Hal. 138, ”De Atjehers” II tersebut.

Kedua jang saja anggap hikajat jang penting ddjuga bagi Atjeh ialah karangan Habib Tjoet Tgk. Moeda, Gampong Ddjawa, jang bernama ”Tjahja Ma’nikam”, sebanjak 12 ddjilid tebal, saja dapati pada alm. Ngoh Drih, Gampong Blang Olele. Dalam hikajat ini dibitjarakan adat-istiadat Atjeh dan ddjuga beberapa peperangan terachir di Atjeh saja ingat pernah ia menjinggung setjara sindiran Habib Abdurrahman Zahir, salah seorang otak pemberontak melawan Belanda bersama keluarga Tgk. Di Tiro, jang achirnja mati di Arab. Dengan perantaraan saja kitab ini pernah dipindjam oleh dr. L. De Vries, jang kemudian disalin oleh Nja’ Itam anak Tgk. H. Bintang, Gampong Blang. Saja tahu kitab itu dikembalikan kepada Ngoh Drih, tetapi sajang salinan ke dalam huruf latin jang dikerdjakan tidak kurang dari dua tahun lamanja, dirampas oleh Ddjepang, sesudah Dr. L. Vries ditangkap di Djakarta dan kemudian meninggal.

Mengenai kitab jang disebut oleh pemrasaran hal. 4 ”Mir’at at Tullab” memang adalah sebuah tuntunan hukum Islam untuk daerah Atjeh, jang dikarang oleh Tgk. Abdurrauf Sjiah Kuala dalam bahasa Melaju tjampur Atjeh atas perintah Sultanah Tadjul Alam Shafiatuddin Sjah, terutama mengenai fikih Islam. Saja pernah punja sebuah naschah kitab ini hak milik ajah saja, jang kemudian saja waqafkan kepada ”Perpustakaan Islam” di Djogjakarta, jang barangkali sampai sekarang masih tersimpan disana. Kitab itu diterbitkan di Mekkah, dan dalam Muqaddimahnja dibentangkan sedjarah Empat Ratu Atjeh dan kesukaran-kesukaran serta kemadjuan-kemadjuan jang ditjapai oleh Radja-radja wanita itu. Sesudah saja batja kitab tersebut, saja berpendapat bahwa kebanjakan dari pada isinja diambil dari kitab-kitab Sjafi’i, seperti ”Tuhfah” dan ”Nihajah”.

Mengenai prasaran Drs. Araby Ahmad, jang saran-sarannja saja setudjui, dapat saja katakan, bahwa bahasa dan kesusasteraan Atjeh menddjadi mundur ialah karena dalam masa pemerintaha Ddjepang peladjaran bahasa itu di sekolah-sekolah dihapuskan dan diganti dengan bahasa Indonesia. Pada waktu saja dengan kejakinan menganggap perlu diadjarkan bahasa Atjeh pada kelas rendah dari sekolah-sekolah jang terdapat di Atjeh, saja karanglah, dua buah batjaan dengan edjaan jang disederhanakan, untuk memudahkan anak-anak Atjeh jang belum banjak memahami bahasa Indonesia, dapat menggunakan bahasanja untuk keperluan sehari-hari, seperti jang terddjadi di Ddjawa, Sunda, Minangkabau, Tanah Batak dan Lampung. Tetapi saja ketika itu kalah, karena diserang oleh beberapa pemimpin di daerah di Atjeh jang tidak paham akan gunannja, dan ddjuga, seperti jang dikatakan oleh pemrasaran ini, diminta dihapuskan oleh anggota-anggota Dewan Rakjat (Volksraad) Tuanku Mahmud, Muchtar de Hoog, Soangkupon, Burger, Sujono, dan lain-lain. Mosi itu bukan diadjukan ke ”Sidang Landraad”, tetapi ke ”Volksraad”. Dengan demikian sedjak itu asnak-anak Atjeh buta bahasanja sendiri, dan menulis sampai sekarang dengan sangat menjedihkan tanpa edjaan tertentu. Saja mentdjari agak satu naschah dari pada karangan saja dahulu itu, jang tidak berisi sama sekali pudjian-pudjian kepada Belanda, sebagaimana pernah kita dapati dalam hampir semua kitab batjaan pada sekolah dasar, tetapi tidak berhasil. Kitab saja ”Lhëe Sabon Nang” dan Meutia”, ”Meuneugòë”, hilang tidak tentu kuburannja. Kitab itu, kalau masih dapat diperoleh, tjukup untuk mengadjarkan edjaan Atjeh jang baik dan memberikan gambaran hidup anak-anak Atjeh menurut pembawaannja di kampung-kampung.

Sejapun membatja beberapa karangan jang ditulis oleh anak-anak kita pada waktu jang achir ini, tetapi masih saja melihat kekurangnnja, karena baik kata-kata maupun susunan kalimat terlalu bersifat kedaerahan, misalnja dialektis Pidie atai dialektis Barat. Dalam karangan-karangan bahasa Atjeh, hendaklah dialektis daerah itu dilepaskan, dan kita tundukkan kepada bahasa dan paramasastra jang dianggap sama untuk seluruh Atjeh. Misalnja perkataan ”Diën”, tetap, karena perkataan itu berasal dari bahasa Melaju ”dian”, bukan ”dhien”. Jang hanja merupakan dialek Pidie. Perkataan ”peu”adalah salah, karena hanja merupakan suara Atjeh Besar, jang benar ”peuë”.

IV. KEPENTINGAN BAHASA DAN SASTRA ATJEH

Dalam U. U. D. 1945 sangat sederhana sekali dibitjarakan mengenai bahasa. Dalam bab XV mengenai bendera dan bahasa, pasal 36, tertulis : ”Bahasa Negara adalah Bahasa Indonesia”. Kesederhanaan ini menimbulkan pembitjaraan jang berlarut-larut dalam sidang konstituente, karena tidak ddjelas apa jang dimaksudkan dengan Bahasa Negara itu, dan apa perbedaannja antara Bahasa Negara, Bahasa Indonesia, Bahasa Nasional dan Bahasa Daerah.

Bahwa Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional, satu bahasa untuk seluruh ”natie” Indonesia, sudah ditetapkan dengan sumpah pemuda, jang terddjadi pada 28 Oktober 1928, jang menjatakan bahwa mereka, semua organisasi Pemuda, ber Tanah Air Satu, ber Bangsa satu dan ber Bahasa Satu, jaitu Bahasa Indonesia. Bahasa inilah jang dianggap Bahasa Nasional dan Bahasa Persatuan diantara semua suku-suku jang tergabung dalam Negara Republik Indonesia, jang kemudian pada waktu 17 Agustus 1945 di Proklamirkan menddjadi ”Republik Indonesia”.

Dalam sidang-sidang konstituante itu barulah kelihatan, bahwa arus ada perbedaan antara Bahasa Indonesia jang diddjadikan Bahasa Negara dan Bahasa Persatuan, dengan bahasa-bahasa daerah, jang ada hubungan rapat dengan persoalan-persoalan kebudajaan, adat istiadat sesuatu suku bangsa dan pendidikan serta pengadjaran.

Maka lalu terddjadilah perbedaan-perbedaan, jang ingin mempertahankan bahasa daerah itu sebagai sumber dan kebudajaan Indonesia. Kepentingan ini terus menerus kita dengar dari pembitjaraan-pembitjaraan jang dikemukakan dalam kongres-kongres Bahasa Indonesia jang diadakan beberapa kali di Tanah Air kita.

Saja pun turut mempertahankan bahasa daerah itu, dan saja harap Kongres Kebudajaan Atjeh pun berpendapat demikian.

Dalam tiap tjabang kesenian Atjeh baik mengenai sastra atau mengenai njanjian-njanjian, untuk sementara waktu bahasa Atjeh belum dapat digantikan dengan bahasa Indonesia. Hal ini tidak hanja untuk kesenian kita Atjeh sadja, dalam kesenian Ddjawa, kesenian Sunda, kesenian Bali, kesenian Minangkabau, ddjuga kita dapati pengindonesiaan njanjian-njanjian daerah itu dapat dirasakan setjara meresap.

Tepat sekali Dr. C. Snouck Hurgronje mengatakan, bahwa ”meskipu orang-orang Atjeh itu dapat mengambil manfaat dari pada bahasa Asing dan menguasai bahasa Melaju untuk kepentingan pengetahuan, surat-menjurat resmi dan lain-lain, tetapi mereka mempunjai ddjuga kesusasteraan sendiri ala kadarnja”. Mereka mempunjai sadjak-sadjak sedjarah, sja’ir-sja’ir kepahlawanan, pantun-pantun dan gurindam atau ratèb, jang dinjandjikan dengan irama tertentu, begitu ddjuga banjak tjerita-tjerita dari bahasa Melaju, jang dinjandjikan dalam bentuk hikajat, tjerita-tjerita agama dan achlak, semua diutjapkan dalam bahasa sendiri dan sangat populer dalam kalangan masjarakat, jang dapat menundjukkan keadaan peradaban, dan tjara berpikir jang dapat dirasakan. Batjalah karangan Snouck Hurgronje ”Studiën over Atjehsche Klank-en Schiftleer”, dalam ”Verpreide Geschriften”, dj. V, hal. 181.”…. alles in hunnen den saat taal en meerendeels echt populair, getuigende van den saat hunner beschaving en denkwinze en tevens dearop invloed oefened”, demikian katanja.

Untuk meratakan bahasa Indonesia keseluruh pelosok-pelosok daerah dan pulau-pulau, masih memerlukan waktu ratusan tahun, sebagaimana kita menanti pertjampuran bermatjam-matjam suku bangsa Indonesia menddjadi satu bangsa jang bulatm ddjuga kita harus sabar melihat waktu jang masih pandjang.

Jang sudah terang, bahwa bahasa daerah itu baik sebagai alat pendidikan maupun alat kesenian, masih perlu ditahankan, disamping kita bekerdja keras untuk meratakan bahasa persatuan kita Indonesia.

Selain dari pada saja telah pernah mengemukakan persoalan ini setjara tertulis dalam suatu uraian saja mengenai bahasa Atjeh untuk Pekan Kebudajaan Atjeh ke-I, saja ddjuga pernah menguraikan dalam suatu kata sambutan untuk kitab ”Sastra Atjeh”, karangan Teukoe Mansoer Leupueng, sebagai berikut :

”Tatkala kepada saja diminta menuliskan sepatah kata sambutan mengenai kitab batjaan ”Senggamara” karangan alam. Teukoe Mansoer Leupueng, terbajang kembali pada saja wadjah pudjangga ini dalam masanja, karena saja dari ketjil mentjintai bahasa Atjeh dan banjak membatja karangan-karangannja jang tersiar dalam madjalah-madjalah.

Pada waktu itu kira-kira tahun 1924, belum begitu populer orang di Atjeh membatja bahasa Atjeh dalam huruf Latin. Kebiasaan orang ketika itu membatja hiakajat-hikajat, jaitu tjerita-tjerita dalam segala bidang jang bersadjak dalam bahasa Atjeh dengan huruf Arab.

Sesudah Prof. Dr. Snouck Hurgronje menetapkan edjakan Latin untuk bahasa Atjeh (lih. Verspreide Geschriften). Maka Tjut Njak dan guru Muhammad Djam memasukkan peladjaran bahasa Atjeh ke Sekolah-sekolah Dasar jang ditulinja dalam beberapa buah kitab batjaan dalam bentuk dasar dengan huruf latin jang berddjudul ”Batjut Sapeuë”. Kemudian diddjelaskan tjara mengadjarkannja oleh Muhammad Saleh dengan kitab penuntunnja bernama ”Puntja”.

Beberapa tahun kemudian populerlah orang membatja dan menulis bahasa Atjeh dengan huruf Latin. Suatu soal timbul sesudah anak-anak Atjeh dapat membatja bahasa Atjeh dengan huruf Latin, manakah batjaan-batjaan selandjutnja? Orang tidak memikirkan hal ini setjara mendalam dan lebih ddjauh karena tudjuan mengadjarkan bahasa Atjeh di Sekolah dasar pada waktu itu hanja untuk memudahkan Anak-anak Atjeh mempeladdjari dan mengenal huruf latin sadja.

Hanja Teukoe Mansoerlah jang memikirkan soal ini jang mempunjai pandangan jang ddjauh dan mengerti betul tentang faedahnja lektur dalam bahasa Atjeh untuk generasi muda bangsa Atjeh, ia seorang pudjangga dan seorang jang berbudi tinggi, terpeladjar Barat dan autididact jang dapat memahami kemadjuan bahasanja indah, dan jang terpenting adalah, bahwa dari sumur jang djernih tidak dapat tidak akan diperoleh air jang djernih pua. Ia menulis dalam madjalah-madjalah, diataranja madjalah ”Tani” (lansbouw maandblad), suatu berkala jang ketika itu dipimpin oleh Njak Umar sebagai penerangan dan suara dari ddjawatan pertanian di Atjeh.

Saja mengikuti tjerita-tjerita dan tjerpen-tjerpen karangan Teukoe Mansoer jang hampir saban nomor dimuat dalam madjalah tersebut. Permuatan karangan-karangan Teukoe Mansoer itu mendapat perhatian tidak sadja dari generasi muda bangsa Atjeh tetepi ddjuga dari bangsa Belanda dan suku-suku bangsa laninnja jang mempeladdjari bahasa dan adat istiadat Atjeh.

Hal ini ternjata dalam beberapa kata sambutan jang diterimanja dari bermatjam lapisan masjarakat pada waktu itu, diantaranja dari Tgjk. Sjeich Ibrahim Muhammad Marhaban kepada Kadli di Kutaradja jang berkata, bahwa adat dan istiadat Atjeh jang pernah ditulis oleh Dr. C. Snouck Hurgronje dalam kitabnjas ”De Atjehers” dan oleh J. Kreemer dalam kitabnja ”Atjeh”, dimana-dimana beliau turut tersebut dalam chotbah kedua kitab ini, namun menurut Tgk. Sjech Ibrahim beliau tidak mengetahui akan kebaikan isinja masing-masing, karena kitab-kitab itu ditulis dalam bahasa Belanda. Lain halnja dalam kitab sanggamara karangan Teukoe Mansoer Leupueng jang ditulisnja dalam bahasa Atjeh, untuk mana beliu sangat memudjinja dan menjatakan sangat berfaedah bagi rakjat Atjeh.

Almarhum T. Njak Arif ketika itu Uléè Balang XXVI Mukim dan anggota volksraat, jang tidak sadja memudji penulisan sadjak-sadjak jang indah, tetapi ddjuga mengenai isi tentang adat istiadat jang dikupasnja oleh pengarangnja setjara mendalam dan baik. Ia menerangkan bahwa selain dari kitab Sanggamara, ddjuga terdjemahan RobinsonCrusoë oleh Teukoe Mansoer Leupueng jang pernah dimuat berturut-turut dalam madjalah ”Tani”, mendapat perhatian besar dari rakjat banjak di Atjeh.

Almarhum T. M. Hasan dari Geulumpang Pajông, salah seorang pegawai negeri tinggi jang ketika itu diperbantukan kepada Kantor Gubernur Atjeh, menerangkan dalam kata sambutannja tanggal 4 Februari 1930, bahwa karja Teukoe Mansoer mengenai adat istiadat dan kehidupan bangsa Atjeh sangat dihargakan tinggi, tidak sadja bagi orang Asing, jang akan mempeladdjari seluk beluk kehidupan di Atjeh, tetapi ddjuga bagi generasi baru dari bangsa Atjeh sendiri jeng telah beroleh pendidikan barat jang telah asing dari kebudajaan dan adat istiadatnja sendiri, bahwa Teukoe Mansoer telah berbuat ddjasa besar untuk bangsanja adn tertutama untuk generasi muda katanja lebih landjut, bahwa aturan-aturan jang dikemukakan di dalam kitab Sanggamara mengenai upatjara-upatjara adat tidak sadja berlaku di Atjeh Besar, tetapi ddjuga berlaku di seluruh Atjeh.

Ulee Balang XXII Mukim, T. Panglima Polem Sri Moeda Perkasa Muhammad Dawud, menerangkan bahwa karangan Teukoe Mansoer ini merupakan segala pokok pembitjaraan jang penting mengenai agama dan kitab-kitab atau dalam utjapan-utjapan orang-orang tua, dan oleh karena itu kitab sanggamara karangan Teukoe Mansoer tersebut merupakan suatu sumber ilmu jang lengkap tentang sopan santun jang berlaku dalam daerah Atjeh.

Almarhum teukoe Rajeuk, Uleebalang VI Mukim Lhong menerangkan bahwa beliau puas melihat buku sanggamara dengan nama jang tepat dipilih oleh pengarangnja jaitu untuk menolak mara bahaja, karena di dalamnja penuh dengan nasehat-nasehat untuk memperbaiki diri dan berguna untuk tua dan muda dalam mentdjari keselamatan dunia achirat. Lebih landjut dikatakannja, bahwa kitab Sanggamara tersebut akan sangat baik dan berguna apabila diddjadikan buku batjaan di sekolah-sekolah di Atjeh.

Sementara itu F. W. Stammeshaus, fd. Controleur Osderafdeeling Lho’nga (sagoë XXV ngon XXVI mukim), seorang warga Belanda jang dalam keterangannja dengan bahasa Atjeh bertanggal 8 Mei 1930 berkata, bahwa isi karangan Teukoe Mansoer dalam kitabnja Sanggamara banjak sekali ia mengambil ilmu tentang adat istiadat bangsa Atjeh dan bahwa orang-orang jang bukan orang Atjeh dapat menggunakannja sebagai suatu buku penuntun untuk mempeladdjari tjara-tjara bergaul dengan orang Atjeh.

Dalam prasaran pengarang terkenal Alm. Tgk. Abdullah Arief Atjeh pada Seminar Bahasa Atjeh jang berlangsung sedjak tanggal 22 s/d 25 Djuni 1966 di Kutaradja, beliau mengakui Alm. Teukoe Mansoer Leupueng sebagai salah seorang pudjangga Atjeh jang turut berddjasa membina kesusasteraan Atjeh.

Ddjuga saja mengetahui, bahwa H. M. Zainuddin, pengarang terkenal dari ”Djeumpa Atjeh” dan sekarang lagi dalam giatnja menjiapkan buku sedjarah Atjeh memudji akan keberanian kebidjaksanaan Alm. Teukoe Mansoer dalam membela Islam dan bangsanja di dalam rapat-rapat Uleebalang-uleebalang dengan pihak pemerintahan Kolonial Belanda pada waktu itu. Sekarang semangat perddjuangan Alam. Teukoe Mansoer Leupueng tersebut dapat disaksikan didalam verprei degeschriften jang telah dikumpulkan dalam buku ”Bungong Rampoë”.

Perhatian umumnja bertambah besar tatakala Teukoe Mansoer menterdjemahkan sebuah tjerita jang sangat populer dari bahasa Belanda, jaitu tjerita Robinson Crusoë ke dalam bahasa Atjeh, sebuah tjerita jang digemari tidak sadja oleh anak-anak, tetapi ddjuga oleh jang sudah dewasa, sebagaimana jang telah saja bajangkan di atas.

Sedjak zaman sebelum Atjeh didjadjah Belanda sampai ± tahun 1924 hikajat-hikajat kuno dalam bahasa Atjeh belum pernah ditulis dengan proza, tetapi selalu dengan bentuk poezie. Beratus-ratus kitab dalam bahasa Atjeh mengenai segala bidang, seperti sedjarah, roman, agama dan lain-lain selalu ditulis dalam bentuk poezie atau sja’ir, sebelum Belanda datang ke Atjeh, orang belum kenal menulis bahasa Atjeh dalam bentuk proza atau nasar.

Oleh karena itu kita lihat banjak tjerita-tjerita jang ditulis oleh Teukoe Mansoer ddjuga dalam betuk poezie (Narit Mupakhök). Dalam bentuk susunan sematjam ini dalap dirasakan orang kelezatan bahasa Atjeh dan keindahan irama kata-katanja.

Dihadapan saja pada saat ini diletakkan kumpulan dari pada karangan-karangan Teukoe Mansoer jang masjhur itu. Isinja hampir mengenai seluruh bidang hudup, mengenai achlak, mengenai agama dan ubudiah, mengenai adat istiadat pada kelahiran anak, perkawinan dan kematian bermatjam-matjam soal sekiat pergaulan jang perlu diadjarkan kepada orang tua dan muda sekarang ini jang sebagaimana kita lihat sudah banjak meninggal adat istiadat dan budi pekertinja jang baik. Saja dapati ddjuga di dalamnja bahan-bahan sedjarah jang penting jang perlu diperhatikan oleh mereka jang sekarang memegang djabatan pemerintah, guru, saudagar, dan lain-lain.

Tjerita-tjerita pendek jang padat isinja, disusun dengan bahasa dan irama jang dapat menggetarkan rasa dan dapat menggerakkan kita untuk berbuat kebaddjikan, sebagaimana jang dikehendaki oleh umum sekarang ini, baik oleh pemerintah maupun oleh masjarakat semesta.

Memang untuk mengadjarkan dan mengenalkan huruf-huruf Latin perlu ada kitab-kitab batjaan ketjil dalam bentuk proza, sebagaimana jang pernah saja tulis dalam ddjudul ”Lhèè Saboh Nang” dan ”Meutia”. Tetapi untuk kelas IV, V dan VI, bahkan untuk tingkat sekolah landjutan, saja memuddjikan kitab Sanggamara dan Robinson Crusoë karangan Teukoe Mansoer jang paling tepat diddjadikan buku batjaan pada sekolah-sekolah di Atjeh, pertama untuk mengembalikan ddjiwa sastra kepada pemuda-pemuda Atjeh jang sekarang hampir hilang lenjap, dan kedua untuk mentjurahkan ke dalam ddjiwa adjaran-adjaran kerohanian, terutama adjaran budi pekerti alam segala bidang hidup, sehingga betul-betul anak-anak kita tertjegah dari pda atheisme dan kebudajaan Barat jang berlebih-lebihan, jang tidak sesuai dengan keperibadian bangsa Indonesia, jang beragama. Nama Sanggamara jang berarti menolak bahaja, sungguh-sungguh telah dipilih menddjadi ddjudul kitab ini, belum luntur dan belum hilang sarinja, sebagai jang ditjiptakan oleh pengarangnja sendiri pada tanggal 28 oktober 1929.

Adapun disamping itu saja memudji, bahwa Robinson Crusoë supaja dapat ddjuga dipakai di sekolah-sekolah landjutan menurut kebidjaksanaan guru sebasgaimana orang pernah memakai tjerita ”Si Miskin” atau ”Mashudulhak” pada masa dahulu, sekedar untuk membangkitkan anak-anak berkenalan dengan batjaan atau lektur sendiri.

Saja selatkan pikiran saja pada sambutan ini, bahwa sebaiknja orang tidak menghilangkan bahasa daerah jang sampai sekarang masih terpakai dalam bermatjam-matjam kebudajaan dan kesenian. Hal ini pernah saja bitjarakan dalam sebuah prae-advies, jang saja kirimkan kepada Kongres Kebudajaan Atjeh sekitar tahun 1957, bahwa bahasa Atjeh masih diperlukan disamping bahasa Nasional Indonesia. Sepandjang ingatan saja pernah diterbitkan ddjuga buku dalam bahasa Atjeh berhuruf Latin, jaitu Hikajat Banta Beuransah dan Hikajat Putroe Gumbak Meuh, jang telah diddjadikan bahan dissertatie oleh Dr. Amshoff dan lain-lain.

Hendaknja penerbit dan buah tangan kitab karangan Alm. Teukoe Mansoer ini, jaitu Sanggamara dan Robinson Crusoë disusun pula oleh penerbitan jang memuat versprei de geschriften dari alm. Teukoe Mansoer Leupueng, jaitu kumpulan karangan-karangan beliau jang penuh dengan do’a dan zikir serta sja’ir untuk kemadjuan agama Islam dan bangsa Indonesia dengan nada semangat perddjuangan jang tinggi.

Insja Allah, setelah karangan-karangan Alm. Teukoe Mansoer ini ditjetak dan diterbitkan, kiranja akan memberi rangsangan bagi putra-putri Atjeh lainnja untuk lebih banjak lagi mengarang dan menerbitkan karangan-karangannja itu dalam bahasa Atjeh berhuruf Latin. Pembinaan Lektur dalam bahasa daerah sudah lama disadari dan dilaksanakan oleh orang Ddjawa dan Sunda demi kelangsungan hidupnja kebudajaan daerah mereka diantara lain-lain kebudajaan daerah dalam negara kesatuan Republik Indonesia jang Bhinika Tunggal Ika.

Mengenai bahasa Atjeh, Teukoe Mansoer dalam kitabnja tersebut berkata :

Tameututô ngon bahsa droë,

Bahsa nanggroë njang biasa,

Bahasa laén bèk tapakoë,

Beuthat raghoë bak beurkata.

Rôh sukaran aduën adoë,

Djeud keu laloë bula mata,

Han geutu-peuë laba rugoë,

Teukab djaroë haté luka,

Han geutupeuë geutuban,

Sang kon énsan njang beurkata,

Ban su tjangguëk dalam kubang,

Handjeuëd tapham surah makna.

Tan soë teupeuë kawan njan,

Peuë amilan tabitjara,

Meung kon hatéteuh ha bimbang,

Sakét sawan pungo gila.

Sikrak dua keumanèsan,

Nas Qeuruän njang mulia,

Ngon nas kitab hadis sadjan,

Surah bèk han tapeunjata.

Njang sabè djeud tan tjeulaan,

Tapi sajang njan tan adja,

Bahsa Inggréh ngon Marikan,

Tabôh sadjan deungon makna.

Bah gob tupeuë bak bèk rintang,

Meung kon meunan rôh geutjeula,

Beutaingat hé budiman,

Djan meukalam bèk talupa.

Ragam bahsa bèk tatirèè,

Ban njang dilèè bèk tatuka,

Ban ragam droë tabôh lagèè,

Meunan teuntèè hana tjeula.

Ureuëng Atjeh djak u Sarèè,

Bèk tatirèè susôn kata,

Han rôh ragam han get lagëë,

Lagi han mèè tapeuseunda.

V. KESATUAN EDJAAN

Ddjika buku-buku Bahasa Atjeh karangan saja, seperti tersebut di atas terus dipakai di sekolah-sekolah oleh mereka jang menamakan dirinja pemimpin, baik di daerah Atjeh maupun dalam Volksraad, pasti Ddjepang tidak menghapuskan bahasa Atjeh itu dalam sekolah-sekolah, dan pasti sekarang ini, sesudah seperempat abad lamanja, sudah lahir pengarang-pengarang terkenal dalam bahasa Atjeh dan sudah dapat kita miliki hasil-hasil sastra dan kesusasteraan dalam bahasa kedaerahan. Di atas sudah disebutkan pandangan ahli ketimuran, jang mengatakan, bahwa orang Atjeh lebih dapat merasakan dan merasapkan sesuatu melalui bahasanja sendiri. Pendapat itu dibenarkan oleh Teukoe Mansoer dengan sadjak-sadjaknja dan oleh Habib Tjoet dengan karja Sja’irnja sebanjak dua belas ddjilid ”Tjahja Ma’nikam” atau tidak kurang dari dua ratus sampai tiga ratus halaman, didektekan di luar kepala. Bukankah kedua pengarang ini patut diperingati sebagai sastrawan Atjeh? Apa kurang banjak dan kurang lantjar atau kurang berisi filsafat karja jang ditjiptakan oleh Habib Tjoet dari karja-karjanja Vondel, Gnested, dan kawan-kawannja? Tetapi ddjasa-ddjasa jang demikian dalam kalangan bangsa kita, umumnja di seluruh kepulauan Nusantara, hilang tidak mendapat penghargaan. Mereka lupa kepada pepatah ”Boe-boe bit, ie ie bit, inong-inong Atjeh”, jang artinja : nasi (terenak) nasi biasa, air (terenak) air biasa, wanita (jang tertarik) adalah wanita Atjeh.

Memang sebelum datang Belanda bahasa Atjeh itu, terutama dalam bentuk sadjak (in gebonden stijl) ditulis dengan huruf Arab, jang dapat dibatja oleh saemua kebudajaan di Atjeh. Huruf ”fa”, ”wau” dan ”ja”, dapat dibatja bermatjam-matjam. Orang Atjeh dari daerah Pidie, Utara dan Timur membatjanja ”peuë”, orang Atjeh Besar membatjanja ”peu” dan orang Atjeh Barat membatjanja ”poeë”, dan seterusnja.

Sesudah datang Belanda ke Atjeh mereka memerlukan trancriptie dalam huruf Latin. Maka terddjadilah penukaran huruf jang pertama oleh K. F. H. Van Langen dalam Tata Bahasa Atjeh dan kamusnja dalam tahun 1889. kemudian datang Joh. S. A. Van Dissel dengan ”Athineesche Spraak kunst”. Kedua-dua edjakan pengarang itu tidak sesuai dengan muchridj dan suara utjapan Atjeh jang sebenarnja, karena mereka bukan ahli bahasa, jang dapat betul-betul mengikuti ”klank-en vormleer” dari pada kesukaran jang terdapat dalam sastra Atjeh, jang hampir semuanja tertulis dalam susunan kata bersadjak, dan orang tidak dapat hanja mempeladjari ini dan bentuk utjapan dari situ sadja, tetapi ddjuga dari bunji bahasa kalimat jang hidup sehari-hari (Nagenoeg alle Atjehsche geschrifteh zijn in gebonden stijl; de levende taal leert men daaruit in geenen deele kennen), demikian kata Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje, lalu ia dengan teman-temannja membuatlah edjakan jang pasti untuk bahasa Atjeh dalam huruf latin.

Dr. C. Snouck Hurgronje adalah seorang Orientalist dalam persoalan dan bahasa-bahasa Timur, seorang jang ahli sungguh-sungguh dalam bahasa Arab, seorang jang mengetahui benar-benar tentang agama Islam, beberapa tahun menjelundup ke Mekkah dengan nama samaran Abdul Ghafoer dan berhasil melukis sebuah kitab ”Mecca” dalam bahasa Djerman, mengenai hubungan Indonesia dengan Arab Islam, dan kemudian ditugaskan untuk mempeladdjari keadaan di Atjeh, jang sesudahnja beberapa tahun berasil melukis dua buah kitab jang sangat berharga untuk kita, pertama ”De Atjehers”, ddjilid I dan II, dan kedua ”Het Gajoland en Zijne Bewoners”, di samping kitab ”Mecca” tersebut dan karangan-karangannja jang terkumpul dalam ”Verspreide Geschriften”, sebanjak tudjuh ddjilid. Diantara bermatjam-matjam soal mengenai Islam, sedjarah dan bahasa. Kita dapati dalam pengumpulan ini dua buah karangan jang pandjang mengenai bahasa Atjeh, petama ”Studiën Over Atjehsche Klank en Schriftleer”, jang ditulis pada tahun 1892, dan ”Atjehsche Taalstudiën”, jang dikarang pada tahun 1900.

Kepada Panitia Pekan Kebudajaan Atjeh ke-II dan para sardjana, jang turut membitjarakan bahasa dan kesusasteraan Atjeh, saja minta membatja dan mempeladdjari kedua karangan itu lebih dahulu, sebelum mengambil sesuatu keputusan mengenai kesatuan edjakan dan huruf latin. Kita tidak boleh mengekor sadja mengambil edjakan bahasa baru sekarang ini jang muchrij dan suaranja tjampur aduk antara edjakan Soewandi-Prijono mengenai bahasa Indonesia dengan edjakan jang dipakai Malaysia untuk bahasa Melaju.

Dalam mentjiptakan kesatuan edjakan Latin untuk bahasa Atjeh, Dr. C. Snouck Hurgronje menggunakanbahasa perantjis, karena baik huruf hidup atau huruf mati dalam bahasa ini lebih dekat dengan huruf dan suara dalam bahasa Atjeh. Sedang edjakan bahasa Melaju, sebagaimana dipeladjari oleh Van der Tuuk, jang kemudian daftarnja disusun oleh Van Ophuyzen, dipakai dalam Kamus Bahasa Indonesia oleh Harahap dan Poerwadarminta. Dengan sendirinja edjakan Soewandi, jang mengambil dari huruf-huruf hidup dari bahasa Melaju Malaysia, lebih radikal lagi oleh Panitia Bahasa Indonesia sekarang, tidak semuanja sesuai untuk dipakai memberikan edjakan baru buat bahasa Atjeh, jang berpokok pangkal, sehingga ditulis setjara aneka ragam.

Kedua pemrasaran Sdr. Adnan Hanafiah, S. S. Dan Drs. Araby Ahmad, dalam prasarannja, masing-masing menggunakan edjakan jang berbeda satu sama lain.

Saja ingin memadjukan untuk dipertimbangkan kembali kepada edjakan lama, sebagaimana jang pernah ditjiptakan oleh Snouck dari bahasa Perantjis, karena lebih tepat mengenai sasaran lidah dan kuping orang Atjeh. Keringkasan edjakan itu sebagai berikut :

I.             Huruf hidup (klinkers) :

a    dalam abang, ama’, ma, gata.

i     dalam idin, tima, gaki.

ië   dalam ië, mië, gapiët, plië’.

ò    dalam bakò, hò, sabòh, sapò.

òë dalam lakòë, palòë, nanggròë.

oe dalam oeba’, oebah, koeloe, boe.

oeë dalam aloeë, gloeë, oeë, koeëh, boeët.

oeë’ dalam koeë’, sitoeë’, broeë, soeët.

è    dalam tapè, misè, è, mè, sipèpè.

èë   dalam djeu’èë, asèë, peureulèë.

e    dalam ba’e, mante, le.

eu dalam eu, beu na, neumiseu’

euë dalam meusiseuë, keubeuë, Ateueë’, seupreuë’

ô    dalam djalô, toelô, djoelô.

euih dalam meuih, deuih.

II.          Huruf Mati (medeklinkers) :

b    dalam boe, taboe, keubeuë.

ch  ddjadi h-haba.

d    dalam di, djoedi, dinab.

f     ddjadi  p-pana.

g    dalam gata, aga’, seugaga.

h    dalam hamba, seuhab, blah.

j     dalam aja’, paja, haj.

k    dalam keubeuë, kamèng.

l     dalam mala, alauë, laboe.

l     dalam ma, matjam, amat.

n    dalam namiët, anue’, tan.

p    dalam pageu, poepôt, asap.

r     dalam rame, barôë, sibara.

s     dalam saban, masam.

t     dalam tamat, ata, ateuëh.

w   dalam watèë. awaj.

Demikianlah edjakan asli dari Dr. C. Snouck jang pernah dilaksanakan oleh Nja’ Tjoet dan Moh. Djam dalam karangnnja ”Batjoet Sapeuë” dan disederhanakan oleh Moh. Saleh dalam ”Poentja”, kemudian saja sederhanakan lagi dalam kedua kitab tersebut. Diatas. Dalam kumpulan karangan Teuku Mansoer ”Sastra Atjeh” sudak dimasukkan edjakan u Indonesia baru, jang lain masih tetap memakai edjakan lama.

Edjakan Snouck dapat kita sederhanakan, untuk memudahkan bagi anak-anak mempeladdjari huruf, misalnja ”ië” ddjadi ”ie”, ”ò” ddjadi ”o”, ”oeë” ddjadi ”oee”, ”òë” ddjadi ”èe”, ”th” menddjadi ”s”, ”euë” menddjadika ”eue”, ”é” tetap untuk membedakan dengan ”e”.

Terserah kepada Panitia jang akan membitjarakan dan menetapkannja.

VI. DIALEK GAJO DAN ALAS

Dalam membitjarakan bahasa Atjeh, kita tidak boleh melupakan dialek atau katakanlah bahasa Gajo dan Alas, jang oleh Dr. Snouck Hurgronje ddjuga untuk sementara sudah ditetapkan dalam ”Gajoländ en Zijne Boweners”. Saja usulkan kepada Panitia, agar ada komisi jang dibentuk untuk mempeladdjari bahasa, dialek, edjakan, untuk penulisan sastra dan kesusasteraan Gajo serta Alas, karena kedua bahasa inipun masih hidup digunakan, baik untuk berbitjara, terutama untuk membangun kesenian-kesenian jang lama jang masih sangat murni dan indah. Meskipun hampir semua anak-anak kita di Kabupaten Atjeh standard, bahasa itu, masih diperlukan untuk semua tjabang seni, baik seni lukis, seni tari, maupun seni suara.

VII. ASAL USUL

Sebagai penutup saja usulkan agar Pekan Kebudajaan Atjeh II mengadakan sebuah ”Lembaga Bahasa Atjeh”, dengan tugas mempeladdjari, mengadakan kuliah-kuliah, mengumpulkan dan menerbitkan hikajat-hikajat dan tjerita-tjerita, baik dalam huruf Arab, maupun dalam huruf latin, serta memadjukan seni suara dalam bahasa Atjeh.

Ddjika hal ini tidak lekas dilaksanakan, saja chawatir Atjeh akan kehilangan kebudajaan dan keseniannja, jang nama kita anggap sangat perlu untuk pembangunan kebudajaan Indonesia, kebudajaan tanah air jang sama-sama kita tjintai dan hendak kita perkajakan.

VIII. PENUTUP

Sebagai penutup kita ulang lagi kepentingan mempeladdjari dan menerbutkan kembali sastra Atjeh jang berharga, karena membatja dan menjandjikan sastra-sastra itu bagi suku bangsa Atjeh merupakan kegemaran dan kehormatan serta pendidikan, jang dirasakan. Dr. C. Snouck berkata : ”Orang-orang besar dan rakjat-rakjat ketjil, tua dan muda (dari bangsa Atjeh) dapat kita katakan senang sekali terhadap hikajat-hikajat itu, ketjuali beberapa orang Ulama, jang menganggap kesenangan tersebut merupakan keduniawian dan isinja tidak sepenuhnja merupakan adjaran agama Islam”, ”Hoofden en geringen, oud en yong van beide geslachten zijn ketter schijnheiligen, die ook dit vermaak te wereldsch of den inhoud van sommige romans te weinig specifiek Moslimschachten” (De Atjehers, II, hal. 276).

Saja sepaham dengan Bapak Menteri Agama jang berpendapat, bahwa ada tiga perkara jang perlu bagi seluruh ummat Indonesia sekarang ini, jaitu agama, ilmu pengetahuan dan kesenian.

Demikianlah adanja.


[1] Diktat Ilmu Perbandingan Bahasa-bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Fakultas Sastra dan Kebudajaan Universitas Gajah Mada Jogjakarta.

[2] G. K. Niemann : B.T.L. N. K. Van N. J. 40 1819, p.43.

[3] R. Roolvink, : Bahasa dan Budaja No. 3 thn. II February 1954 halaman 6, diterbitkan oleh Lembaga Bahasa dan Budaja, Fakultas Sastra dan Filsafat Universiteit Indonesia Djakarta.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s