PERKEMBANGAN ISLAM DI KAWASAN ASIA TENGGARA DEWASA INI


Disalin kembali oleh Mulyadi Nurdin, Lc

(dari bahan seminar tahun 1980, untuk dapat dibaca oleh masyarakat luas)

PERKEMBANGAN ISLAM DI KAWASAN ASIA TENGGARA DEWASA INI

Disusun OLEH Dr. Tgk.H. Muslim Ibrahim, MA PUSAT STUDI ISLAM ASIA TENGGARA (PSIAT)

IAIN JAM’AH AR-RANIRY DARUSSALAM – BANDA ACEH 1988

PERKEMBANGAN ISLAM DI KAWASAN ASIA TENGGARA DEWASA INI

Oleh : Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim, MA

I.                  PENDAHULUAN

Membicarakan masalah perkembangan Islam di kawasan Asia Tenggara bukanlah suatu hal yang mudah. Kawasan yang secara geografis meliputi tujuh buah negara ini sungguh mempunyai identitas dan kekhasannya yang tersendiri. Di samping itu bahan-bahan rujukan yang dapat penulis kumpulkan sangat amat sedikit, di samping tukar menukar informasi yang sempat penulis lakukan juga relatif amat terbatas. Oleh kerana itu, tulisan yang amat singkat ini adalah semata-mata penulis siapkan atas dasar “ NIBAK BUTA LEUBEH GOT JULENG, NIBAK PUTOH LEUBEH GOT GEUNTENG ”.

Negara-negara Asia Tenggara, terutama yang bergabung salam ASEAN, ditinjau dari segi sosiokultural dan perkembangan Islam, kiranya dapat di kelompokkan ke dalam empat ke lompok, yaitu negara-negara  yang penduduk muslimnya amat sedikit, seperti Thailand; negara-negera yang mayoritas warga negaranya beragama Islam, seperti Malaysia; negara-negara yang pertumbuhan ekonominya cukup lumayan tetapi negara tidak begitu memerhatikan masalah agama, seperti Singapore; dan negara yang amat meperhatikan masalah agama, khususnya Islam seperti Brunei Darussalam.

Atas dasar pertimbangan seperti tersebut diatas, maka makalah ini membatasi diri pada perkembangan Islam dewasa ini di empat negara tersebut, yaitu Thailand, Malaysia, Singapore, dan Brunei.

II. URAIAN

A. Thailand

Kerajaan  Thailand yang berbatasan sebelah utara dengan Burma, sebelah selatan dengan Malaysia, sebelah barat dengan Burma dan sebelah timur dengan Laos ini di diami oleh 54.141.818 jiwa (1986), dan 4 % di antaranya beragama Islam, sedangkan lainnya menganut agama Budha (94 %) sedangkan sisanya menganut agama Kristen dan lain-lain. Kerajaan yang penduduk muslimnya wajib mempunyai dua nama ini, terbagi kepada 72 propinsi. Dari kesemua propinsi yang ada, di ketahui bahwa yang paling ketinggalan di bidang pembangunan adalah 4 propinsi di bagian selatan, yaitu : Yala, Pattani, Narratiwath dan Satun. Ke empat propinsi ini adalah markas utama Kerajaan Islam Pattani dahulu, sehigga sampai sekarang ini penduduknya mayoritas beragama Islam. Berpijak dari kenyataan ini Budhist Thailand menuduh  sebab-sebab ketinggalan pembangunan di empat propinsi ini adalah kerana hambatan dari agama Islam. Benarkah demikian? Umat Islam hendaknya harus segera memberikan jawabanya.

Menurut Wan Ahmad bin Abdurrahman, teman penulis yang kini menjabat Wakil ketua Persatuan Pondok (pesantren) di bagian selatan Thailand: Indentitas  Islam di empat propinsi ini, kian hari kian menipis, tulisan Jawi di jalan-jalan sedikit demi sedikit terus diganti dengan tulisan Thai, sehingga di beberapa tempat tulisan yang identik dengan Islam ini hanya di gunakan untuk penulisan nama Pondok, Mesjid, Surau dan warung-warug Islam saja. Memang jumlah Mesjid menjadi 500 buah di samping Mesjid agung Pattani itu sendiri, akan tetapi kehidupan kami terus terjepit; mendirikan Mesjid dan Pondok perlu surat izin; untuk menjadi pegawai negeri amat sukat, sehingga dari 100 orang pegawai Kantor Gubernur Pattani, cuma 10 orang saja yang beragama Islam. Namun demikian, kami tetap bertekad untuk mempertahankan aqidah dengan segala kemampuan  yang ada, baik melalui The Pattani United Liberation Organization ( PULO), Barisan Revolusi Nasional (BRN), Barisan Nasional Pembebasn Pattani (BNPP), ataupun dengan menggalakkan pendidikan Pondok yang kitab pegangan utama untuk mubtadiinya adalah Sabilal Muhtadin, dan sekolah-sekolah Ugama yang sebahagian alumninya sedang melanjutkan pendidikannya di negara-negara Islam Timur Tengah, dan alhamdulillah dewasa ini hanya sekitar 20% anak-anak usia sekolah saja yang masuk Sekolah Siam (kerajaan), sedangkan selebihnya memilih Pondok ataupun Sekolah-sekolah Ugama ( Islam). Demikian Wan Ahmad dalam suratnya yang baru penulis terima pada penghujung bulan Februari yang lalu.

Jeritan tangis kaum Muslimin Pattani dan Thailand pada umumya, akhir-akhir ini mulai diperhatikan Kerajaan, sehingga sejak 3 tahun yang lalu Haji Praset Mohammad Chularatchmmontori diangkat oleh Raja menjadi Syaikhul Islam dan penasehat Departemen Agama yang berada pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Thailand. Dalam melaksanakan tugasnya, Ulama yang lebih dari 20 tahun belajar di Mekkah ini telah membentuk The Central Muslim Committee of  Thailand. Komite yang diketuai sendiri oleh Syaikul Islam ini telah dengan resmi membuka cabang di 28 propinsi. Melalui Komite inilah secara resmi Kerajaan menyambung rasa dengan kaum Muslimin, menyalurkan bantuan-bantuan walaupun relatif amat minim, namun Komite telah dirasa manfaat oleh sebagian kaum Muslimin, terutama dalam masalah penyelenggaraan haji, restorsi mesjid, pengadaan Musabaqah Tilawatul Quran dan lain-lain sebagainya.

Ala kulli hal, di dalam tubuh umat Islam Pattani kini ada dua kutub pemikiran, yang kesemuanya bertujuan untuk dapat berkembang Islam di Thailand secara wajar. Kutub pertama disponsori oleh Haji Zinal Abidin bin Haji Sulong, seorang di antara 11 orang muslim yang menjadi anggota MPR Thailand. Beliau berpendapat bahwa dengan memajukkan pendidikan dan ekonomi, masyarakat Muslim dapat kuat dan hidup terhormat. Kita harus menerima realitas negara Muslimin di bidang agama, adat istiadat, bahasa dan kebudayaan.

Pandangan Pak.Zainal ini amat berbeda dengan pandangan adik kandungya sendiri yaitu Haji Amin bin Sulong yang sampai sekarang berada si Kelantan(Malaysia) untuk memimpin BRN dari kawasan luar Thailand. Beliau tetap berkeras untuk menuntut hak otonomi penuh bagi 4 propinsi yang mayoritas muslim di bahagian selatan Thailand itu.

Menurut penelitian awal pimpinan Pondok Rahmaniyah Pattani bahwa mayoritas kaum muslimin Thailand lebih condong kepada pemikiran Haji Zainal, kerana itulah jalan yang lebih mudah di tempuh dan tidak akan membawa kepada pengorbanan jiwa yang banyak. Demikian menurut kutipan dari majalah HARAKAH edisi 7 Ogos 1987 (Malaysia ) muka 23.

B. Malaysia

Malaysia yang resmi diproklamirkan berdirinya pada tanggal 31 Agustus 1957 ini berpenduduk lk 16,1 juta, 72 % di antaranya beragama Islam. Negara Kerajaan yang terdiri dari 13 buah Negera Wilayah yang masing-masing Wilayah mempunyai DPR, Menteri Besar dan seorang Raja ini sekarang di kepalai oleh Yang Dipertuan Agung Sultan Mutawakkil Alallah Sultan Iskandar Alhaj dan Perdana Menterinya dr. Mahathir Muhammad.

Menurut riwayat sejarah Malaysia khususnya Melaka dan beberapa Wilayah lainnya adalah tempat kedua bertapak Islam, setelah Perlak dan Samudera Pasai, yang keduanya termasuk ke dalam DI.Aceh. Sejak dari masa itu, Islam berkembang dengan cukup baik di semenanjung ini, sehingga di dalam UUD Malaysia di cantumkan “ Ugama Islam adalah Ugama resmi Negara”, dan realisasinya dapat terlihat dalam sebahagian Undang-undang seperti Hukum Perkawinan, Warisan dan juga dalam adat istiadat yang berlaku hingga hari ini, seperti acara maulid, musabaqah Al-quran dan lain-lain.

Sebagaimana di Thailand, di Malaysia  Islam juga indentik dengan suku kaum Melayu dan huruf Jawi. Hingga sekarang ini, huruf Jawi masih terpakai di negara ini, baik dalam Surat Kabar, Majallah, Nama Toko, Nama Jalan dan juga bahan pelajaran, perkuliahan di samping huruf Latin yang lebih dikenal dengan Huruf / Tulisan Rumi.

Sebagai negara yang lama dijajah oleh Inggeris, sudah barang tentu pengaruh Sekularisme juga telihat di Negara ini, namun kerana urusan Ugama langsung dipegang oleh Raja / Yang Dipertuan Agung, maka dewasa ini kita lihat Kerajaan secara aktif  mendorong berdirinya Institusi-Institusi yang langsung merupakan realisasi dari ajaran Islam, seperi Bank Islam, Asuransi Islami, Islamic Center, Koperasi Islam, Badan Zakat, Tabungan Haji dan lain-lain.

Dari segi lain, penerapan hukum Islam juga terlihat dalam pengharaman “dadah”, penggalakkan busanah Muslimah, hukuman zina (di beberapa Wilayah) malah sebagaimana diturunkan “ Utusan Malaysia” tanggal 25 September 1987 “ Di beberapa negara Bagian, orang Islam yang kedapatan tidak melakukan Shalat Jumat akan di bawa ke Mahkamah Syariah. Mereka akan dikenakan denda. Kantor Hal Ehwal Agama Trenggano mengumumkan akan menangkap umat Islam yang tidak menunaikan fardhu sembayang Jumat tanpa alasan keuzhuran syar’i. Meraka  yang di tangkap akan di hadapkan ke Makhkamah Syariah dapat didenda sampai 100 ringgit atau 6 bulan penjara atau kedua-duanya”.

Cara pengelolaan zakat di Malaysia cukup menarik untuk dikaji, sehingga hak Ibnu Sabil, Sabilillah ditambah dengan sedekah-sedekah lainnya dapat dimanfaatkan untuk biaya belajar Agama ke Negara-negara Islam berupa beasiswa yang di kalangannya di kenal dengan “dana siswa”. Menurut  penelitian dari sekitar 1700 mahasiswa / siswa Malaysia yang belajar di beberapa Perguruan Tinggi di Mesir pada tahun 1982-1984, 30% di antaranya dibiayai dengan dana siswa yang besarnya hampir sama dengan dengan beasiswa itu sendiri, yaitu berkisar antara LE 80, sampai dengan LE 160, (Al-Azhar Cuma memberikan beasiswa sebesar LE 25 untuk tingkt S (1) dan LE 35 untuk tingkat S (2)).

Dengan disponsori oleh Kerajaan, mahasiswa Malaysia memiliki sebuah asrama putra dan sebuah asrama putri di Cairo, yang lebih di kenal dengan Rumah / Bait Melayu. Di sampig itu  atas kebijaksanaan Raja Negara Bagian, semua daerah tempatan itu mempunyai asrama putra dan asrama putri tersendiri, malah ada sebahagian yang mempunyai dua asrama putra  dan dua asrama putri seperti yang di miliki mahasiswa / mahasiswi kerajaan Johor.

Dalam rangka pengembangan Agama ini, alumni Timur Tengah yang ingin jadi kaki tangan Kerajaan (Pegawai Negeri), mereka dapat mengajukan borangnya ( surat permohonan ) untuk itu sebelum mereka pulang ke Malaysia, dengan cara mengirim melalui Kedutaan Besarnya. Malah meraka menyediakan dana khusus semacam ikatan dinas bagi kandidat S (3), walaupun bukan Warga Negara  Malaysia dengan syarat akan berbakti di Malaysia sejumlah masa pemberian ikatan dinas itu.

Namun harus diakui bahwa ajaran agama Islam belum diterapkan seratus persen di Malaysia, sehingga nada-nada protes karena tak puas terkadang muncul ke permukaan, baik secara terorganisir atau secara berkelompok dan perorangan. Partai Politik PAS, kemudian pecah menjadi HAMIN, TABLIGH dan Darul  Arqam menjadi lidah-lidah Umat yang menginkan penerapan ajaran Islam seratus persen di negeri ini. Dikalangan belia ABIM, juga pernah mendapat tempat di PBB Pemuda Islam IFSO dan MAWY yang masing-masing Sekretaris Generalnya berkedudukan di Kuweit dan Riyadh.

Untuk melempangkan jalan, kesemua perkumpulan itu membaut program-program-program yang cukup jitu dan paten, seperti Darul Alqam (umpamanya) sejak tahun 1972 meraka membeli tanah seluas 5 hektar Sungai Pancala beberapa kilometer di luar Kuala Lumpur untuk dijadikan pilot proyek dengan nama perkampungan Arqam.

Di sini  mereka membuka kedai-kedai, yang juga menjual pakaian-pakaian made in sendiri yang khas dan wajib dipakai, yaitu jubah, serban, dan memelihara jengot bagi lelaki, sedangkan bagi wanita adalah pakaian Muslimah berupa burdah yang menutup seluruh tubuh dan mukanya.

Dewasa ini, Al-Arqam berkembang sangat pesat. Mereka membuka cabang-cabangnya di hampir seluruh kota di Malaysia, bahkan di Singapura, Sabah dan Serawak juga terdapat cabang-cabang Al-Arqam.

Mereka juga menebarka para pendakwahnya sekarang ini sampai ke Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat dan beberapa negera Asia dan Eropah.

Untuk mengembangkan konsep “Masyarakat Islam” mereka membangun pabrik-pabrik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat “yang dijamin halal”, misalnya pabrik minyak goreng, saos tomat, kecap dan lain-lain. Untuk memenuhi santapan rohani, mereka menerbitkan majalah-majalah, buku-buku yang dikerjakan secara professional dan dapat diserap oleh orang awam, intelek, ibu dan anak-anak. Bahan – bahan bacaan itu dicetak di percetakan sendiri. Meraka juga mempunyai armada dakwah, berupa kenderaan-kenderaan yang dilengkapi dengan peralatan canggih, sehingga meraka dapat menerangkan hakikat islam dengan audio, visio dan audio visual.

Perkembangan Islam di Malaysia terutama dengan Al-Arqam menurut Dr.Faizah Hj Othman, Wadek Fakulti Pengajian Islam University Kebangsaan Malaysia “ adalah merupakan petanda dari kebangkitan Islam yang selalu di dambakan Umat ini ”.

C. Singapore

Negeri yang terkadang mendapat julukam Parisnya Asia Tenggara ini berpenduduk  lebih kurang 2.590.246 jiwa, dan sekitar 25 % di antaranya beragama Islam, sedangkan lainnya beragama Hindu, Budha dan Konghucu.

Pada dasarnya Singapore adalah negara yang bersikap netral terhadap agama. Negara sebenarnya tidak mau tahu dengan agama rakyatnya. Namun demekian, kelihatannya di negara yang terstabil ekonominya ini tubuh berkembang dengan subur, seirama dengan perkembangan pembangunan dan pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit Singapore itu sendiri. Namun demikian, perkembangan Islam di negeri ini tidak dapat dikatakan terlalu mundur, ketimbang negara-negara tetangganya, seperti Indonesia. Hal ini dapat terlihat pada sekolah Agama swastanya yang berjumlah dari TK sampai dengan SMAnya sebanyak 21 buah. Suraunya berjumlah 76 buah dan mesjid 40 buah. Memang pada tiga tahun yang lalu 23 buah mesjid-mesjid itu telah dirubuhkan karena terdesak dengn pemodenan kota. Namun 23 mesjid yang menampung 5.830 jema’ah yang digusur itu telah berganti dengan 10 buah mesjid baru yang berdaya tamping 26.000 jema’ah, sementara 5 buah lagi sedang menunngu penyelesaiannya (awal 1988) akan dapat menampung 15.000 orang jema’ah. Memang tak dapat disangkal di negeri yang berlambang singa ini terdapat 700 kuil Cina, 27 kuil Hindu dan 19 Gereja Kristen. Di antara hal yang cukup menarik dalam pembangunan mesjid di negeri ini ialah seluruh dananya adalah sumbangan masyarakat yang di kumpul oleh The Administation of Muslim Law Act. Yang wujudnya itu diakui oleh Parlemen Singapore sejak tahun 1968, yang sekaligus berarti memberikan kedudukan hukum terhadap adanya institusi bagi melaksanakan hukum-hukum agama. Malah lebih dari itu Majlis Ulama Singapore (MUIS) mempunyai autoritas untuk memberikan nasehat terhadap Presiden Singapore tentang masalah Islam, sesuai  dengan pelaksanaan pasal 42 akta tersebut. Di bawah AMLA itu terdapat sebuah badan pengurus Mesjid yang diberi nama dengan Building Fund Scheme.

Bertitik tolak dari ungkapan Saidina Ali yang maksudnya kebatilan yang terorganisasir akan dapat mengalahkan kebenaran yang tak terorganisir, kita merasa bahwa masa depan Islam di Singapore, Insya Allah akan hebat, mengingat pertumbuhan organisasi-organisasi Islam kian hari kian banyak tumbuhya dan kian terorganisir segalanya, termasuk dakwah yang dilakukan dengan menggunakan alat-alat canggih, baik audio-visual ataupun media cetak dan lainnya. Di antara Organisasi Islam amat banyak berperan dalam bidang dakwah, antara lain :

1.      Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS)

2.      Majlis Pendidikan Anak-Anak Islam (MENDAKI)

3.      Lembaga Beasiswa Kenangan Maulid (LBKM)

4.      Persatuan Seruan Islam Singapura (IAMIYAY)

5.      Persatuan Guru-Guru Agama Singapura (PERGAS)

6.      Persatuan Muhammadiyah

7.      Persatuan Pelajar-Pelajar Agama Dewasa Singapura (PERDAUS)

8.      Persatuan Taman Pengajian Islam Singapura (PERTAPIS)

9.      Darul Arqam

10.      Himpunan Belia Islam (HBI)

11.      Persatuan Pemudi Islam Singapura (PPIS)

12.      Persatuan Muslim Singapura (PERMUSI )

13.      Tamil Muslim Jemaah Singapura.

Menyadari, dakwah walaupun amat hebat dan rapi, namun akan kurang berhasil tanpa didukung oleh Lembaga-lembaga social, pelajaran, pendidikan, penulisan dan kebudayaan serta institusi kemasyarakatan lainnya, maka dalam bidang Pendidikan dan Kebudayaan kiat di unjukkan “islamnya”, seperti :

1.      Majelis Pusat Pertumbuhan Budaya Melayu Singapura (Majlis Pusat)

2.      Taman Bacaan Pemuda  Pemudi Melayu Singapura (Taman Bacaan)

3.      Persatuan Persuratan pemuda Pemudi Melayu Singapura (P4M)

4.      Kesatuan Guru-Guru Melayu Singapura (KGMS)

Sedangkan dalam lembaga masyarakat dan social, kita kenal juga nama-nama yang di sebut dengan :

1.      Mahkamah Syar’iyyah

2.      Pendaftaran Perkawinan Orang-Orang Islam

3.      Darul Ihsan

4.      Dewan Pwerniagaan Melayu Singapura.

Dan beberpa organisasi / lembaga lainnya yang peranannya cukup besar dalam bidang pengembangan Ugama Islam di negeri yang terdiri dari satu pulau besar dan 53 pulau kecil yang menyatu dengannya kini.

D. Brunei Darussalam

Kerajaan Brunei Darussalam adalah egara termuda di ASEAN, ia memperoleh kemerdekaan penuh baru pada tanggal 1 Januari 1984. Negara yang bertetangga batas dengan Sarawak, Sabah dan Indonesia ini berpenduduk Cuma 226.054 jiwa, manyoritas beragama Islam dan luasnya Cuma 5.765 km2 saja. Di bidang ekonomi ia termasuk Negara nomor 11 terbesar income percapita di dunia, yaitu lebih kurang 11.890.000, dan mempunyai tanah pertanian yang cukup lumanyan luasnya di Australia.

Berbeda dengan negara-negara tetangga, Kerajaan ini menggariskan bahwa agama resmi adalah Islam, menurut Ahlusunnah Wal Jamaah, bermazhab Syafi’ie. Jiwa ke Islaman terlihat di mana-mana, sampai kepada gelar Rajanya, yaitu “Mu’izuddin” berarti Penjunjung Islam, istana Raja bernam Nurul Iman yang berarti Cahaya  Iman. Di negara yang bebas pajak pendapatan ini di adakan acara “tahlil dan berzanji” tiap malam jumat di Istana dan juga diadakan berzanji di setiap kali Raja ataupun pembesar Negara pulang dari luar negeri, sebagai pernyataan kegembiraan dan syukur atas keselamatan perjalanan pemimpin negaranya.

Secara intensif negara Islam ini terus menerus menata dan memantapkan institusi politik, social, ekonomi dan budaya agar di dominir oleh Islam dan berkembang serta dapat diterima oleh dunia Internasional.

Dua tahum sebelum Brunei merdeka, mereka telah mengirim tim-tim peneliti hukumnya ke Mesir, Saudi Arabia, Surya, Pakistan, Sudan, Kuweit dan lainnya untuk meneliti tata cara penerapan hukum Islam di negara-negera tersebut, di mana pada tahun 1983, penulis termasuk salah seorang staff peneliti lokal untuk Mesir, yang setelah seminggu bertugas, hasilnya didiskusikan secara matang dengan anggota tim dan juga anggota tim-tim untuk negara lain yang kemudiannya berkumpul di Mesir. Pada waktu itu Hakim Agungnya Haji Muhammad Sarudin (sekarang Menteri Agamanya yang baru saja menerima Dr (HC) dari IAIN Hidayatullah ) hadir dan memimpin sendiri sebagian dari sidang-sidang tim kajian penerapan hukum itu. Penulis pun diajak untuk beberapa tahun membantu Brunei, terutama Perguruan Tinggi yang akan di buka “ katanya pada tahun 1985”. Tetapi entah karena apa mungkin karena bodohnya penulis tawaran itu tidak penulis penuhi.

Memang besar Universitas Brunei Darussalam (UBD) di buka pada pertengahan tahun 1985 dan kini mempunyai 500 orang mahasiswa dan 80 orang tenaga pengajar, termasuk bapak Dr.H. Ahmad Daud dari Aceh.

Menurut Menteri Hal Ehwal Ugama Brunei, system IAIN cocok di kembangkan di UBD itu dengan penambahan beberapa fasilitas, seperti Sain dan Teknologi yang Islami di samping fakultas-fakultas kajian Islam guna memproduk perundang-undangan negara yang sesuai 100 % dengan ajaran Islam, karena sampai dengan hari ini sebagai dari perundang-undangan Inggeris masih dipakai di negara itu, sebab belum ada penggatinya yang islami.

Dakwah islamiyah secara resmi dikembangkan oleh Negara, bersaman pembangunan Universitas, negara juga membangun Pusat Dakwah Islamiyah yang megah dengan fasilitas yang serba modern dan canggih, sehingga pertemuan Menteri-menteri Pertanian ASEAN yang baru lalu berlangsung di gedung Pusat Dakwah ini.

Televisi dan Radio Brunei memberikan porsi yang amat besar terhadap siaran agama Islam yang di asuh oleh tenaga-tenaga terampil, baik pesanan dari luar ataupun putra Brunei sendiri yang sudah di apgret di Cairo dan negara-negara Timur Tengah lain. Hampir tiap tahun sejak 1978 tidak kurangdari 5 orang putra Brunei yang belajar pada Akademi Iman, Khattib dan Wa’azh yang di kelola oleh Darul Ifta’ Mesir di Cairo. Di samping itu rata-rata 20 orang mahasiswa / mahasiswi Brunei yang menggeluti ilmu pengetahuan  di berbagai Perguruan  Tinggi yang ada di Mesir, terutama di Al-Azhar yang amat terkenal itu.

Menyedari adanya angin beracun Orientalisme dan faham-faham sesat lainnya yang akan menyusup untuk mengoyahkan keimanan dan keyakinan rakyat Brunei terhadap agamnya, pada bulan November 1987 yang lalu, Sultan Brunei dalam sebuah pidato, yang diulangi kembali pada pidato ultahnya pada bulan Januari, dimana beliau memperingat masyarakat terhadap munculnya ajaran yag merusak faham agama dan menganjurkan agar masyrakat berjaga-jaga terhadap faham pelampau (ekstrem) itu. Aliran dan faham ini yang baru saja dibekuk dan perkumpulannya di bubarkan pada bulan Februari yang lalu itu.

About these ads

One comment on “PERKEMBANGAN ISLAM DI KAWASAN ASIA TENGGARA DEWASA INI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s