SEJARAH PEMIKIRAN ULAMA ACEH DALAM BERBAGAI BIDANG ILMU PENGETAHUAN


PEMIKIRAN ULAMA ACEH DI BIDANG SOSIAL

Oleh Mulyadi Nurdin, Lc

 

Pemikiran ulama Aceh terkait kemaslahatan sosial dapat kita jumpai dalam beberapa kitab terdahulu. Perhatian mereka tentang sosial sama pentingnya dengan urusan lainnya seperti tauhid, tasawuf dan fiqh ibadah. Ini juga mencerminkan pola pikir mereka yang konperehensif di  berbagai aspek kehidupan.

Dalam pembahasan fiqh sosial biasanya para Ulama menggunakan beberapa hadits untuk menunjang pendapatnya, sebagiannya menggunakan ijtihad yang berlandaskan pada kaedah mazhab Syafii, ada juga yang berpedoman pada adat sehari-hari, dan juga pada kebijakan pemerintah semacam qanun Meukuta Alam Al-Asyi.

 

  1. 1. URGENSI ILMU PENGETAHUAN

Menuntut ilmu merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian serius ulama Aceh terdahulu, untuk memotivasi masyarakat untuk itu mereka menyertai pesannya dengan hadits Nabi SAW, sehingga menuntut ilmu dalam masyarakat Aceh dilandasi oleh semangat mencari pahala dan beribadah, di samping itu partisipasi masyarakat luas dalam pengembangan pendidikan agama juga sangat besar.

Partisipasi itu bisa sebatas memberi dukungan baik moril maupun materi kepada orang yang menuntut ilmu, malah dengan menghadiri majelis ilmu saja sudah mendapat apresiasi dengan adanya janji pahala yang sangat besar dari Allah SWT.

Dalam konteks ini ulama Aceh lebih cenderung menekankan ilmu agama, sehingga dalam masyarakat Aceh budaya menuntut ilmu agama sudah mengakar dan menjadi keharusan sejak usia dini.

Hal itu sebagaimana yang diutarakan oleh Maulana yang Arif Billah Syeikh Abdullah dalam kitabnya Syifaul Qulub, yang merupakan salah satu kitab yang ada dalam kitab Jam’u al-jawamik[1]. Kitab yang berisi 400 hadits, menempatkan bab tentang keutamaan ilmu dan ulama pada bagian pertama.

Ini menunjukkan seriusnya Syekh Abdullah dalam memandang pentingnya ilmu pengetahuan bagi masyarakat Aceh.

Kitab yang umumnya dibaca oleh murid pemula itu telah berdampak luas dalam masyarakat Aceh sehingga terbangunnya struktur masyarakat adat yang mengharuskan anak-anak untuk belajar agama dengan meunasah sebagai sentralnya.

Sementara bagi yang ingin lebih meningkatkan ilmunya akan pergi ke dayah-dayah dengan sistem meudagang (mondok) hingga bertahun-tahun lamanya.

Dalam kurun waktu yang sangat lama Aceh menjadi pusat kajian Islam di nusantara berkat semangat keagamaan tersebut, sehingga ada adagium yang  berkembang seolah-olah kalau tidak bisa mengaji bukan orang Aceh namanya.

Walaupun ada masyarakat Aceh yang lahir sebelum kemerdekaan Indonesia yang buta aksara latin, tapi mereka umumnya sangat lancar membaca huruf Arab dan Arab Jawi, ini menandakan budaya keilmuan telah berkembang di zaman dahulu sesuai dengan konteks yang ada pada masanya. Karena sebelum Belanda Menjajah Aceh, kitab yang berkembang pada masa itu adalah Arab jawi.

Dalam kitab tersebut juga mendorong masyarakat untuk sama-sama membantu orang yang menuntut ilmu:

“Barangsiapa menolong ia akan orang yang alim yakni orang yang mengajar, atau menolong ia akan orang yang mutaallim, yakni orang yang belajar, jikalau adanya dengan qalam yang patah sekalipun, maka serasa-rasa ia berbuat ka’bah tujuh puluh kali (hadits)”[2].

Kutipan-kutipan hadits seperti di atas telah menumbuhkan semangat infaq di kalangan masyarakat, sehingga banyak yang memberi sumbangan kepada lembaga pengajian agama, baik dalam bentuk uang maupun wakaf tanah. Sehingga dimana-mana dalam masyarakat sangat banyak didapatkan tanah wakaf yang dikelola oleh imum gampong selama masih menjabat dan mengajar Al-Quran untuk anak-anak.

Hal yang sama juga kita dapatkan pada lembaga yang lebih tinggi seperti dayah yang sering dibangun di atas tanah wakaf, dan pembangunan juga dilakukan dengan  sumbangan masyarakat sekitar, malah dalam waktu yang sangat lama dayah Aceh tidak mendapat dana dari pemerintah.

Di samping pentingnya ilmu pengetahuan, Syekh Abdullah juga menekankan pentingnya memberi penghormatan kepada para ulama.

“Siapa yang mempermuliakan ulama maka bahwasanya mereka itu pada Allah Ta’ala itu mulia ia (hadits)”.[3]

Pesan-pesan tersebut membentuk karakter masyarakat Aceh yang cinta ulama serta menghormati mereka.

Apalagi dalam lembaga pendidikan seperti dayah rasa hormat kepada guru telah menjadi tatanan yang melekat erat bagi setiap santrinya. Bagi santri jika tidak hormat kepada guru akan dihantui oleh perasaan bersalah (ceumeureuka) dengan gurunya, dan itu akan sangat tabu bagi masyarakat Aceh.

Penghormatan kepada ulama juga disebabkan karena keterlibatan masyarakat yang sangat tinggi dalam pengembangan pendidikan agama di Aceh, sehingga lulusan dari lembaga pendidikan tersebut juga mendapat tempat yang terhormat. Bagi masyarakat awam, lulusan dari lembaga pendidikan merupakan kader yang telah dibesarkan oleh mereka sendiri secara bersama-sama.

Penghormatan kepada ulama yang telah mengakar tersebut menjadikan mereka sebagai pusat fatwa (peuneutoh) dalam berbagai persoalan sosial masyarakat.

 

  1. 2. ADAB MURID DAN GURU

Adab lebih tinggi dari ilmu, demikian pemahaman masyarakat Aceh mengenai pentingnya adab dan sopan santun dalam kehidupan, adab itu sendiri berlaku bagi semua kalangan, baik masyarakat umum hingga ulama sekalipun.

Adab di Aceh sudah menjadi tata krama yang mentradisi dari generasi ke generasi, sehingga melahirkan kondisi sosial masyarakat yang santun, lembut dan menghormati orang lain.

Dalam dunia pendidikan juga sama, adab itu sangat dijunjung tinggi, seorang murid harus menghormati guru, demikian juga guru harus menghargai muridnya, sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan harmonis dan bebas dari beban psikologis.

Suasana penuh keakraban dapat kita lihat dalam lembaga pendidikan agama di Aceh, tidak pernah terjadi murid memprotes guru dengan cara yang tidak wajar apalagi demonstrasi tanpa kendali.

 

Adab Guru

Berikut beberapa kutipan tentang adab yang harus dijaga dalam dunia pendidikan sebagaimana yang diutarakan oleh Syeikh Muhammad anak dari Syeikh Khatib dalam kitabnya Dawaul Qulub[4].

Bermula adab orang yang alim tujuh belas perkara[5]:

  1. 1. Ihtimal (menanggung semua pertanyaan dan pekerjaan dari muridnya).

Seorang guru harus profesional di bidangnya, sehingga mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi muridnya. Guru bukan hanya mentransfer ilmu tetapi juga memberi solusi dari persoalan yang dihadapi muridnya.

  1. 2. Jangan lekas marah.

Seorang guru harus berjiwa besar dalam mendidik, tidak boleh emosi dalam mengajar tetapi sebaliknya harus selalu tabah dan sabar.

  1. 3. Duduk dengan kelakuan yang hebat dan menundukkan kepala.

Guru diharapkan menjadi figur yang disegani oleh muridnya, sehingga dalam tingkah lakunya harus menunjukkan kewibawaan dan kharisma, walau duduk dengan posisi tegap tetapi selalu menundukkan kepala sebagai simbul dari kearifannya.

  1. 4. Meninggalkan takabbur

Sombong merupakan sifat yang dilarang bagi manusia, apalagi bagi seorang guru, sebagai pendidik dia harus mengajarkan sifat-sifat mulia kepada muridnya dan tidak menunjukkan takabbur di depan anak didiknya.

  1. 5. Merendahkan diri

Tawadhuk bukan berarti terlihat hina di depan manusia, akan tetapi ia merupakan sifat yang biasanya dimiliki oleh orang yang berhati mulia, seorang guru harus menunjukkan kerendahan hatinya.

  1. 6. Jangan bermain-main dan bersenda gurau

Dalam masyarakat Aceh sangat pantang seorang guru bersenda gurau dengan muridnya karena hal itu dapat mengurangi kawibawaan.

  1. 7. Kasih sayang segala muridnya

Guru harus memberikan perhatian yang sama pada seluruh muridnya tanpa pilih kasih. Dengan demikian semua anak didik akan mendapatkan perhatian yang sama dan memotivasi mereka dalam mencerna ilmu pengetahuan.

  1. 8. Perlahan-lahan atas pertanyaan orang yang bebal

Tentu saja ada orang yang berlaku kasar dan tidak sopan dalam beberapa majelis pengajian, dalam hal ini seorang pendidik harus bisa menyikapi hal tersebut dengan bijaksana dan tidak membalasnya dengan kekerasan, tetapi menjawab pertanyaan tersebut dengan lemah lembut dan tidak emosi.

  1. 9. Menunjukkan segala orang yang jahil dan jangan menggerintang (marah) (? Hal 930) orang yang baru belajar.

Guru harus menjadi pelita yang selalu menyinari hati orang jahil supaya dapat mengenal kebenaran dan bertambah ilmunya, seorang guru juga dilarang menyembunyikan ilmunya, dan tidak boleh membentak murid yang baru belajar karena kebodohannya.

  1. 10. Jangan malu mengata tiada kutahu jika tiada mengetahui pada suatu masalah atau syak padanya.

Seorang guru tidak boleh bersikap egois, kebenaran hendaklah dijunjung tinggi meskipun ia harus mengaku “belum tahu” atau “tidak tahu” dalam persoalan yang memang belum diketahui jawabannya. Seorang ulama dan guru harus berbesar hati dan selalu profesional sehingga tidak menjawab persoalan dengan pendapat pribadinya.

  1. 11. Hendaklah sungguh-sungguh berhadap kepada orang yang bertanya.

Walau sederhana hal ini akan memberi kesan respek dan akrab bagi murid, dengan memandang ke wajah orang yang bertanya menandakan kalau seorang guru tersebut sangat menghargai orang yang bertanya tersebut.

  1. 12. Menerima dalil dari murid yang membenarkan akan kata dirinya dan jangan menolak akan dia karena malu, karena mengikut yang benar itu wajib.

Jika ada murid yang lebih pandai darinya, seorang guru harus menerima pendapat murid tersebut, tidak boleh menolak hanya karena merasa lebih pandai, apalagi sampai mengancam murid seakan-akan sudah melangkahi guru atau melawannya.

  1. 13. Jangan malu daripada kembali pada masalah yang sudah tersalah.

Maksudnya seorang guru tidak perlu malu untuk mencabut kembali pernyataannya jika memang terbukti pendapat itu salah. Dengan demikian ia akan disegani dan dihormati karena jiwa besarnya.

  1. 14. Menegahkan orang yang berajar daripada ilmu yang tiada memberi manfaat.

Seorang guru harus memastikan semua muridnya belajar ilmu yang bermanfaat, jika memang ilmu tersebut tidak bermanfaat ia harus melarang murid untuk melanjutkan belajarnya, jangan sampai murid terus-menerus terjerumus dalam kesesatan dan kebodohan.

  1. 15. Menegahkan orang yang berajar yang maksud lain daripada  karena Allah Ta’ala.

Seorang guru harus mampu membentuk karakter muridnya supaya mereka belajar sungguh-sungguh karena Allah SWT, keikhlasan akan membuat proses belajar-mengajar berjalan tanpa diganggu oleh faktor eksternal seperti mengharapkan gaji dan bantuan dari pihak manapun.

  1. 16. Menegahkan orang yang berajar fardhu kifayah dahulu daripada fardhu ain. Bermula fardhu ain itu ilmu fiqh, ilmu tauhid, dan ilmu tasawuf.

Seorang guru harus mengarahkan muridnya supaya ada prioritas dalam belajar, jangan mendahulukan pelajaran yang sebenarnya tidak mendesak dilakukan dengan meninggalkan ilmu yang seharusnya dipelajari segera.

  1. 17. Beramal ia seperti ilmunya supaya diikut oleh muridnya.

Guru seringkali dijadikan idola oleh muridnya, jika ia beramal sesuai dengan ilmunya sudah tentu murid akan mengikuti jejaknya.

 

Adab Murid

Di samping adab yang harus dijaga oleh guru, Syeikh Muhammad juga menekankan pentingnya adab bagi murid, kedua pihak harus saling menjaga adab masing-masing.

Pasal pada menyatakan adab orang yang belajar, maka yaitu sebelas perkara:

  1. 1. Mendahulu memberi salam akan gurunya.

Budaya salam sangat mengakar dalam masyarakat Aceh, setiap berjumpa dengan orang lain di mana saja selalu disertai dengan memberi salam sambil mengangkat tangan kanan, kalau tidak memberi salam orang tersebut akan dipandang sinis oleh orang lain, seorang murid harus lebih dulu memberi salam jika berjumpa dengan gurunya, kalau tidak dia akan dianggap tidak memiliki adab dan tata krama.

  1. 2. Jangan banyak kata di hadapan guru.

Budaya hormat (takzim) guru dalam masyarakat Aceh sangat dijunjung tinggi. Seorang murid dilarang banyak berbicara jika berada di depan gurunya baik di dalam majelis ilmu maupun di tempat lainnya, sebaliknya ia harus memberi kesempatan kepada gurunya untuk bicara dan memberi nasehat.

  1. 3. Jangan berkata yang tiada ditanya oleh gurunya.

Dalam ruang belajar seorang murid dilarang berbicara kecuali ketika diminta oleh gurunya. Dengan demikian nuansa belajar terasa nyaman dan penuh konsentrasi.

  1. 4. Minta izin kepada gurunya ketika hendak bertanya.

Dalam ruang belajar seorang murid tidak boleh berbicara tanpa izin dari guru, kalau mau bertanya pun dia harus minta izin dulu, kalau diizinkan baru mengajukan pertanyaannya.

  1. 5. Jangan dikata akan gurunya bahwasanya si pulan itu bersalahan daripada yang engkau kata.

Bisa saja pendapat guru berbeda dengan pendapat orang lain, dalam hal ini seorang murid tidak boleh mengkonfrontir pendapat gurunya dengan orang lain di ruang belajar, sehingga tidak menjatuhkan martabat guru di depan murid lainnya.

  1. 6. Jangan mengisyarat di hadapan gurunya barang yang menyalahi bicara gurunya, maka sangkanya orang lain lebih benar dari gurunya, karena yang demikian itu kurang adab dan berkat.

Jangan sekali-kali murid menyampaikan kata-kata yang membantah pendapat guru atau mengesankan seolah-olah orang lain lebih pandai gurunya.

  1. 7. Jangan berbisik-bisik di hadapan gurunya dengan orang lain.

Jangankan berbicara yang tidak perlu, berbisik-bisik saja tidak dibolehkan di depan guru yang sedang mengajar, karena akan menyebabkan guru tersinggung dan merasa diacuhkan.

  1. 8. Jangan berpaling ke kiri dan ke kanan di hadapan gurunya, tetapi duduk ia seperti dalam sembahyang.

Disini tercermin bagaimana khusyuknya suasana belajar mengajar dalam masyarakat Aceh. Pola duduk yang dianjurkan di hadapan guru adalah sebagaimana duduk di dalam shalat, tidak menoleh kiri-kanan.

  1. 9. Jangan banyak soal tatkala segan gurunya.

Kalau guru dalam keadaan segan jangan menanyakan persoalan yang dapat membebaninya secara psikologis tetapi lebih baik diam saja sambil mendengar pada guru.

  1. 10. Hendak berdiri ia tatkala berdiri gurunya atau tatkala datang.

Bentuk lain dari adab murid yang sudah berlangsung lama di Aceh adalah menghormati guru dengan cara berdiri ketika datang atau ketika guru berdiri hendak keluar dari tempat mengajar.

  1. 11. Jangan jahat sangka akan gurunya tatkala kau lihat bersalahan perbuatannya dengan ilmumu.

Bisa saja seorang guru melakukan sesuatu yang bertentangan dengan pendapat muridnya, dalam hal ini murid dilarang berprasangka negatif apalagi menegur langsung, karena diyakini seorang guru lebih mengetahui tentang apa yang dilakukannya.

Di antara adab yang ditekankan oleh penulis kitab tersebut adalah tidak boleh belajar kecuali ilmu yang bermanfaat, diiringi niat yang ikhlas karena Allah SWT serta memperbanyak zikir.

 

Perilaku Murid dalam Masyarakat

Syeikh Muhammad juga menekankan pentingnya style pakaian, penampilan, tingkah laku yang harus dijaga oleh seorang murid. Hal tersebut sebagaimana dituliskan dalam kitabnya:

“Inilah khatimah pada menyatakan segala perbuatan yang tak dapat tiada bagi murid”[6]

Disini syeikh Muhammad mengingatkan para murid agar tetap menjaga jati dirinya dimana pun berada, seperti menjaga pakaian agar selalu menggunakan warna putih karena itu merupakan salah satu sunnah Nabi saw., selalu mendahului dalam memberi salam kepada siapa pun, menyayangi semua orang tanpa pilih kasih, tidak berburuk sangka pada manusia walaupun ia bersifat fasiq sekalipun, tidak boleh menghina orang lanjut usia, serta selalu menuntut ilmu dimana pun  berada. Pesan tersebut adalah:

  1. 1. Dan setengah daripadanya memakai ia akan pakaian putih yang tiada baik, karena Allah Taala itu kasih ia akan pakaian putih, dan lagi pakaian putih itu setengah daripada pakaian nabi SAW.
  2. 2. Dan setengah daripadanya mendahului memberi salam atas segala manusia karena yang demikian itu alamat tawadhuk lagi sangat kasih hak Allah akan dia.
  3. 3. Dan setengah daripadanya mengasih akan segala manusia karena orang yang kasih akan manusia itu kasih hak Allah akan dia.
  4. 4. Dan setengah daripada adab murid jangan jahat sangka akan manusia jikalau sangat fasiq sekalipun.
  5. 5. Dan setengah daripada adab murid itu jangan menghinakan segala orang yang tuha-tuha dan hendaklah dimuliakan akan dia.
  6. 6. Dan setengah daripada adab murid itu sentiasa ia menuntut ilmu, jangan ditinggalkan akan tuntutnya.

Pesan-pesan di atas umumnya sejalan dengan ajaran Islam, walaupun dalam masyarakat hal tersebut telah membudaya dan menjadi jati diri masyarakat Aceh yang memang religius.

 

Antara Ilmu dan Ibadah Sunat

Menurut Alim Billah Maulana Syeikh Jamaluddin anak Syeikh Abdullah dalam kitabnya I’lamul Muttaqin min Irsyadil Muridin[7] bagi seorang murid harus selalu mengedepankan ilmu dalam segala kondisi, meskipun ia harus meninggalkan beberapa ibadah sunat.

Menurutnya juka berbenturan antara ibadah sunat dengan belajar, harus lebih diutamakan belajar, karena beberapa sebab:

  1. 1. Hasil ibadat, dan sejahtera ia daripada binasa[8].

Maksudnya ibadah itu akan membawakan hasil sesuai dengan kehendak agama jika didasari oleh ilmu yang memadai tentang ibadah itu sendiri, dan manusia akan selamat dari kebinasaan jika beramal sesuai dengan ilmu yang ada. Beramal tanpa ilmu bisa saja akan menjerumuskan manusia ke lembah kesesatan dan kebinasaan.

  1. 2. Karena bahwasanya ilmu yang memberi manfaat itu membawa ia kepada takut akan Allah.

Maksudnya ibadah itu dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menumbuhkan rasa takut kepadaNya, sementara dengan menuntut ilmu hal itu dapat terwujud dengan lebih bermakna karena pemahaman yang benar tentang hakikat ibadah itu sendiri.

 

  1. 3. PERSOALAN KELUARGA

 

Siapa Yang harus Nikah

Nikah merupakan jalan menuju pembentukan keluarga. Begitu pentingnya permasalahan ini sehingga hampir dalam semua kitab fiqh yang ditulis ulama Aceh berisi tentang bab nikah dan berbagai persoalannya. Mereka menjelaskan mulai dari hukum nikah, cara memilih jodoh, motivasi untuk nikah, hingga adab-adab dalam melakukan hubungan suami isteri.

Salah satunya adalah Al-Ghani Muhammad Zain bin Al-Faqih Jalaluddin Al-Asyi As-Syafii dalam kitabnya Talkhisul Falah fi bayan Ahkam al-Thalaq wal nikah beliau menuliskan:

“Adapun hukum bernikah maka yaitu sunat bagi orang yang berkehendak kepada wata’ dan ada baginya belanja dari pada makanan dan pakaian, dan jika tiada baginya belanja niscaya sunat meninggalkan ia, dan memecahkan ia akan syahwatnya itu dengan puasa. Dan jika tiada berkehendak kepada wata’ dan tiada ada baginya belanja, niscaya makruh baginya bernikah. Dan jika ada baginya belanja tetapi tiada berkehendak kepada wata’ maka bernikah itu harus dengan tiada makruh, tetapi berbuat ibadah itu terafdhal[9]”.

Disini Al-Ghani Muhammad Zain membagi hukum nikah kepada beberapa katagori:

  1. Sunat menikah, bagi yang membutuhkan hubungan suami isteri dan memiliki kemampuan finansial yang memadai seperti belanja makanan dan pakaian.
  2. Sunat meninggalkan nikah, jika membutuhkan hubungan suami isteri tetapi tidak memiliki kemampuan finansial.
  3. Makruh nikah, jika tidak ada kemampuan keuangan dan juga tidak ada hajat kepada hubungan suami isteri.
  4. Mubah atau harus untuk menikah, jika memiliki kemampuan keuangan tetapi tidak berhajat pada hubungan suami isteri.

Ini  juga mencerminkan pentingnya nafkah dan tanggung jawab suami dalam keluarga, sehingga seorang calon suami harus mempersiapkan diri dengan baik dari segi mental (kebutuhan pada hubungan suami isteri) juga finansial. Keduanya menjadi ukuran boleh tidaknya seseorang untuk menikah. Kematangan personal sangat ditekankan dalam nikah supaya tidak terjadinya perselisihan yang berujung pada perceraian.

 

Memilih jodoh

Sebelum melaju ke jenjang pernikahan seorang calon suami harus memperhatikan dengan baik calon isterinya. Pemilihan calon isteri dilakukan dengan memperhatikan asal-usul, kecantikan, kekayaan dan juga agamanya.

Hal itu sebagaimana yang dituliskan oleh Jalaluddin At-Turasani dalam kitab Safinat Al-Hukkam Fi Takhlish Al-Khasham[10]:

“Bermula, tersebut dalam hadis shahih nikah oleh kamu akan perempuan itu karena hartanya dan elok rupanya dan baik bangsanya dan karena agamanya. Maka jika didapat yang beragama maka yaitu terutama lagi beroleh berkat dengan dia[11]”.

Dalam kitabnya Al-Turasani mengutip langsung dari hadits Nabi saw tentang kriteria wanita yang bisa dijadikan isteri, dengan tetap menekankan nilai agama sebagai prioritas dalam memilih jodoh.

Selanjutnya beliau juga menganjurkan kepada calon suami untuk melihat calon isterinya supaya tidak timbul penyesalan di kemudian hari, melihat itu diberi batasan pada melihat muka dan telapak tangan:

“Bermula, harus menilik kepada perempuan yang hendaklah ditelangkai itu pada mukanya dan kedua tapak tangannya karena baik keduanya itu menunjangkan kepada baik sekalian badannya”.

 

Wewenang Orang Tua

Orang tua diberi wewenang dalam mencari jodoh untuk anak perempuan yang masih perawan, sedangkan bagi perempuan janda tidak diberi wewenang untuk menentukan jodohnya. Hal itu sebagaimana yang diutarakan Al-Ghani Muhammad Zain bin Al-Faqih Jalaluddin Al-Asyi As-Syafii dalam kitab Talkhisul Falah fi bayan Ahkam al-Thalaq wal nikah:

“Syahdan, harus bagi bapak mengawinkan anaknya yang bikir, sama ada besar atau kecil dengan tiada izinnya, dengan syarat sekufu dan kaya laki-laki itu dengan maharnya, dan ketiadaaan seteru antara laki-laki dan antara perempuan, dan antara wali, dan tiada harus bagi bapak itu mengawinkan anaknya janda melainkan dengan izinnya. Maka jika ia kecil tiada kahwinkan akan ia melainkan tatkala besarnya dengan izinnya[12]”.

Walaupun orang tua diberi wewenang untuk memilih jodoh bagi anak gadisnya yang masih perawan, tetapi tetap saja dibatasi oleh beberapa ketentuan:

  1. Harus sekufu
  2. Laki-laki harus yang memiliki kemampuan finansial.
  3. Tidak adanya permusuhan antara calon suami tersebut dengan calon isteri.
  4. Tidak adanya persengketaan antar wali kedua belah pihak.

Walaupun kesetaraan atau sekufu merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan dalam memilih jodoh, namun dalam keadaan tertentu prinsip sekufu itu dapat diabaikan:

“Bermula, perempuan jika muzarat atasnya dengan tiada berkawin maka harus ia nikah dengan laki-laki yang tiada sekufunya, jikalau dengan sahaya orang sekalipun”[13].

Dalam kondisi darurat, dimana tidak ada calon suami yang sekufu dikarenakan berbagai faktor, misal tidak ada laki-laki yang melamarnya, maka bisa saja sekufu itu tidak menjadi bahan pertimbangan, demi mencegah dari bahaya lain seperti perzinaan.

Adab-Adab Nikah

Berikut beberapa adab dalam akad nikah sebagaimana yang ditulis oleh Al-Ghani Muhammad Zain bin Al-Faqih Jalaluddin Al-Asyi As-Syafii dalam kitab Talkhisul Falah fi bayan Ahkam al-Thalaq:

  1. 1. Sunat berkahwin pada bulan Syawal dan Dukhul padanya, karena kata Siti Aisyah: berkawin akan daku oleh Rasulullah pada bulan Syawal dan dukhul ia dengan aku padanya.

Ini  merupakan bulan dan hari yang paling dianjurkan untuk melangsungkan pernikahan dan intat linto, sebagaimana disebutkan oleh Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw menikah dengannya pada bulan syawal dan pulang kepadanya (intat linto) juga pada bulan syawal.

  1. 2. Dan sunat akad nikah di dalam mesjid karena menyuruh Nabi dengan dia.

Biasanya menikah dilakukan di dalam mesjid atau meunasah.

  1. 3. Dan sunat pada hari Jum’at, dan permulaan itu terlebih afdhal.

Maksud dari permulaan adalah di pagi hari, artinya sunat akad nikah di pagi hari.

  1. 4. Dan sunat pula menghadirkan orang yang banyak istimewa pula ulama-ulama dan orang shaleh-shaleh.

Supaya dalam melaksanakan akad nikah diumumkan kepada publik dengan  mengundang orang sebanyak mungkin sesuai dengan kemampuan.

  1. 5. Dan sunat bagi wali mengata sebelum nikahnya, aku kahwinkan akan dikau dengan barang yang menyuruh Allah Ta’ala dengan dia, dari pada berpegang dengan yang makruf dan menjalani yang kebajikan.

Wali menasehati calon suami dengan pesan untuk berpegang teguh pada yang makruf dan menjalankan kebaikan dalam keluaarganya.

  1. 6. Dan sunat doa bagi tiap-tiap laki istri[14].

Dianjurkan mengucapkan selamatan dan doa kepada kedua mempelai dengan lafaz: Barakallahu laka atau barakallahu lakuma.

Adat-istiadat ketika masuk kamar pengantin

Ada beberapa adat yang berkembang dalam masyarakat Aceh ketika acara walimah (intat linto atau tueng dara baro), di antaranya adat memijak santan di depan pintu pengantin wanita, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Al-fatawa karya Syeikh Muhammad Wali Al-Khalidi Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan:

“Soal: dalam satu kampung telah berlaku adat bahwa sudah bernikah maka oleh laki-laki (mempelai) memijak santan yang telah disediakan santan itu di pintu bilik perempuan, kemudian santan itu dibuang saja, apakah hukumnya?

Jawab: hukumnya memijak santan itu dan dibuang adalah mubazir makruh”[15]

Dengan tegas beliau mengatakan kalau adat tersebut merupakan perbuatan mubazir, tapi beliau melarangnya dengan hukum makruh, walaupun sebenarnya mubazir itu sendiri kalau dalam Al-Quran dilarang secara tegas (haram), namun bagi Syeikh Muhammad Wali larangan itu masih pada tahapan makruh mungkin dengan pertimbangan sosio kultural yang berkembang dalam masyarakat.

Adab Melakukan Hubungan Suami Isteri

Adab lebih tinggi nilainya daripada ilmu, bagi ulama Aceh adab selalu ditampilkan dalam segala hal termasuk dalam hubungan suami isteri. Salah satunya sebagaimana yang tuliskan oleh Al-Ghani Muhammad Zain dalam kitab Talkhisul Falah fi bayan Ahkam al-Thalaq:

  1. 1. Dan sunat dipegang pada ubun-ubun perempuan pada permulaan masuknya itu sambil membaca doa.

Ini merupakan adab dalam melakukan hubungan suami isteri pada malam pertama setelah nikah, sang suami memegang ubun-ubun isterinya sambil berdoa meminta kebaikan kepada Allah swt dan berlindung dari berbagai kejahatan.

  1. 2. Dan sunat tatkala ia hendak jimak menudung keduanya dengan kain yang satu

Artinya sunat bagi pasangan suami isteri untuk masuk ke bawah satu selimut bersama-sama.

  1. 3. Dan sunat dimandikan keduanya dan memakai bau-bauan sebelum jimak.

Sebelum melakukan hubungan disunatkan mandi dan memakai wangi-wangian.

  1. 4. Dan sunat tatkala ia jimak membaca keduanya akan doa ini.

Doa yang makruf yang dianjurkan oleh Rasulullah saw adalah: Bismillah, Allahumma jannibna asy-syaithan, wajannib asy-asyaitana mimma razaqtana.

  1. 5. Dan sunat bersungguh-sungguh menghadirkan doa tatkala inzal mani dengan benar-benar hatinya.

Dianjurkan supaya doa tersebut diucapkan sungguh-sungguh ketika mencapai orgasme supaya dapat menghasilkan anak yang baik.

  1. 6. Dan tiada makruh jimak menghadap kiblat dan jikalau di padang sekalipun dan makruh berkata-kata pada pertengahan jimak.

Tidak ada larangan untuk melakukan hubungan suami isteri walau menghadap kiblat walau di tempat terbuka sekalipun, berbeda dengan ketika buang air besar yang dilarang menghadap kiblat. Hanya saja dimakruhkan berbicara yang dapat mengganggu konsentrasi ketika sedang melakukan hubungan.

  1. 7. Dan sunat apabila terdahulu inzal laki-laki bahwa menanti ia artinya jangan dicabutnya zakar itu dari pada faraj perempuan melainkan tatkala sudah inzalnya.

Inzal artinya orgasme, suami harus menunggu hingga istrinya juga mencapai inzalnya.

  1. 8. Dan sunat bahwa dipilih pada jimak itu waktu yang baik seperti waktu sahur.
  2. 9. Dan sunat pula waktu yang lain dari pada waktu yang lain itu yaitu pada hari Jum’at sebelum lagi pergi sembahyang Jum’at atau malamnya.

Sunat pada malam jumat atau pagi  hari sebelum pergi ke mesjid untuk shalat jumat.

10.  Dan makruh jimak dengan perempuan yang bunting dan perempuan yang menyusui anaknya ini jika tiada yakin ia akan memberi mudharat anak yang dalam perut perempuan itu adapun jika yakin ia akan memberi mudharat anak yang dalam perut perempuan itu maka jimak itu haram[16]”.

Dimakruhkan jimak ketika hamil karena mungkin khawatir akan mengganggu anak dalam kandungan, namun jika secara medis hal itu tidak terjadi pada prinsipnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

 

HUBUNGAN ORANG TUA DAN ANAK

 

Dalam kitabnya Syifaul qulub, Maulana yang Arif Billah Syeikh Abdullah menjelaskan tentang hak dan kewajiban ayah kepada anaknya dan sebaliknya.

“Bermula bab yang kedua puluh sembilan pada menyatakan hak bapak atas anak”[17]

Dalam pembahasannya beliau lebih mendahulukan kewajiban anak kepada orang tua, pada bab ke 29, sedangkan kewajiban orang tua kepada anak ditempatkan pada bab sesudahnya yaitu bab ke 30.

Ini mengisyaratkan bahwa seorang anak harus selalu berbakti kepada orang tuanya, berlaku sopan dalam keluarga, menghormati dan mengabdi serta berusaha membahagiakan mereka.

“Bermula ridha Allah Taala daripada keridhaan ibu bapaknya, dan marah Allah Taala pada marah keduanya (hadits)”

Kutipan di atas merupakan terjemahan dari hadits nabi Muhammad saw, dalam kitabnya Syeikh Abdullah memang tidak menulis teks hadits dalam bahasa Arab serta perawinya, tetapi langsung menerjemahkan dalam bahasa Melayu dengan mencantumkan kata “hadits” di akhir kutipannya.

Tentu saja dalam menulis kitabnya ia memuat hadits pilihan yang mendukung pemikirannya, dalam hal ini ia menghimpun hadits-hadits yang berkaitan dengan kewajiban anak terhadap orang tua dan juga kewajiban orang tua kepada anaknya.

Ini juga merupakan sebuah kesadaran bahwa keluarga sebagai institusi sosial terkecil menjadi cerminan dari watak sosial masyarakat secara keseluruhan, jika keluarga baik maka masyarakat akan baik pula. Begitu juga sebaliknya

Terkait tanggung jawab orang tua terhadap anaknya, berikut tulisan Syeikh Abdullah:

“Mengajari adab seorang kamu akan anaknya itu terlebih baik daripada bahwasanya memberi sedekah pada tiap-tiap hari suatu shak”[18]

Bagi masyarakat Aceh yang agamis pesan-pesan dengan mengutip Alquran dan hadits Nabi tentu akan lebih mudah diterima dan menyentuh perasaan, sehingga  pesan-pesan yang disampaikan pun akan efektif diterima dan diamalkan oleh masyarakat luas.

 

  1. 4. INTERAKSI SOSIAL

Keharmonisan hubungan sosial sangat diperhatikan oleh ulama Aceh, seperti Waliyullah bila niza’, ikutan orang yang arifin, Syeikh Abdurrauf Fansury, dalam kitabnya Mawaizul badi’ah, dan juga Syeikh Muhammad anak dari Syeikh Khatib dalam kitab Dawaul Qulub.

Berikut tulisan Waliyullah bila niza’, ikutan orang yang arifin, Syeikh Abdurrauf Fansury dengan mengutip Hadits Qudsi:

“Barangsiapa takabbur ia atas segala orang miskin niscaya aku (Allah) himpunkan akan dia pada hari kiamaat atas rupa semut yang kecil, dan barangsiapa merendahkan diri bagi orang yang alim niscaya aku angkatkan akandia di dalam dunia dan dalam akhirat. Dan barangsiapa mendatang ia bagi membukakan akan satu aib bagi orang yang Islam niscaya membukakan oleh Allah Taala akan aibnya tujuh puluh kali aib. Dan barangsiapa menghina ia akan orang yang papa, maka sungguhnya menzahir ia akan daku (Allah) dengan berperang”[19]

Sangat jelas terlihat bahwa Syeikh Abdurrauf Fansury mengharapkan terwujudnya masyarakat yang harmonis, bebas dari sifat sombong, angkuh, dengki dan khianat, di samping memberikan penghormatan sewajarnya kepada para ulama, dan larangan saling membuka aib sesama masyarakat muslim.

Dalam tulisannya beliau menggunakan hadits Qudsi supaya dapat menyentuh langsung nilai-nilai religius masyarakat Aceh, sehingga pesan itu akan dapat langsung diamalkan karena terdapat balasan di akhirat.

 

Menjaga Lingkungan

Sementara dalam lingkup yang lebih luas Syeikh Muhammad anak dari Syeikh Khatib dalam kitabnaya Dawaul Qulub menegaskan larangan merusak lingkungan hidup seperti pepohonan.

Berikut kutipannya:

“Dan lagi jangan mengerat kayu pada pohonnya hingga daunnya sekalipun, karena yang demikian itu alamat kurang umur orang yang berbuat dia, jika ada perbuatan itu sia-sia jua. Dan jika ada maksud pada yang demikian itu, maka yaitu harus”[20]

Syeikh Muhammad menempatkan larangan merusak tanaman di bawah bab maksiat anggota badan, ini bisa bermakna bahwa mengganggu makhluk hidup yang tidak bersalah merupakan salah satu dosa anggota badan yang harus dijauhi.

Ini juga menjadi pertanda bahwa ulama dahulu sangat peduli dengan keselamatan lingkungan hidup termasuk hutan dan pepohonan, dimana hanya membolehkan menebang pohon jika dirasa sangat perlu, sehingga keseimbangan ekosisten dapat terpelihara.

 

Larangan memukul manusia dan binatang

Syeikh Muhammad anak dari Syeikh Khatib dalam kitabnaya Dawaul Qulub melarang memukul hamba sahaya, wanita, anak-anak dan binatang:

“Dan lagi haram dipalukan hamba, dan binatang dan perempuan dan anak, dengan tiada sebab pada hukum syarak, atau lebih daripada had”[21]

Ini juga mencerminkan nilai humanisme yang tinggi dari ulama Aceh, mereka dengan sangat tegas melarang orang tua memukul anaknya kecuali dalam hal sangat penting sesuai ketentuan syarak, proses pendidikan hendaknya dilakukan dengan pendekatan persuasif, demikian juga dengan suami dilarang memukul istrinya kecuali dalam hal yang dibolehkan oleh syariat, sehingga kekerasan dalam rumah tangga dapat dicegah seminimal mungkin.

Malah lebih luas lagi dilarang memukul binatang tanpa alasan yang jelas. Sehingga keharmonisan sosial antara sesama manusia, manusia dengan tumbuhan dan manusia dengan binatang sekalipun dapat terwujud.

Prinsip tersebut telah melahirkan tradisi khas masyarakat Aceh yang tidak sembarangan ketika menebang pohon di hutan, tetapi melalui prosesi adat seperti seumapa dengan pohon yang bersangkutan yang berisi syair dan nazam dengan tujuan dialog dan minta izin pada pohon yang hendak ditebang. Hal itu dilakukan karena mereka yakin pohon sebagai makhluk hidup dapat mendengar ucapan manusia.

Demikian juga dalam menghadapi binatang, budaya Aceh lebih melakukan pendekatan dialogis dan seumaloe daripada kekerasan. Misalnya jika berjumpa dengan harimau atau babi hutan, binatang tersebut akan disapa dan diperintahkan untuk pergi ke tempat lain supaya tidak mengganggu manusia. Dengan demikian binatang liar sekalipun tidak semena-mena mengganggu manusia sebagaimana yang banyak terjadi belakangan ini.

 

  1. 5. KEPEDULIAN SOSIAL
  2. a. Anjuran Zakat

Sebagaimana ajaran Islam pada umumnya, ulama Aceh terdahulu juga sangat peduli dengan persoalan sosial masyarakat termasuk pemberdayaan ekonomi melalui zakat.

Adalah Maulana yang Arif Billah Syeikh Abdullah dalam kitabnya Syifaul Qulub menegaskan pentingnya zakat, malah menurut beliau harta akan binasa jika tidak dikeluarkan zakatnya.

“Tiada binasa harta darat dan di laut melainkan dengan sebab menegahkan zakat (hadits)”[22]

Dalam kitab tersebut penulis menghimpun hadits yang sudah diterjemahkan tanpa ada teks asli bahasa Arab berkaitan dengan keutamaan zakat dan ancaman bagi orang yang tidak mau membayar zakat.

Mungkin menurutnya fiqh zakat sudah banyak disebutkan dalam kitab lain, tetapi motivasi masyarakat dalam membayar zakat harus ditampilkan juga sehingga semua orang mengerti hakikat dari zakat, bukan hanya melepas kewajiban tetapi juga mendapat pahala yang sangat besar bagi pelakunya, dan tentu saja ada ancaman bagi yang melanggarnya.

Kalau semangat untuk membayar zakat sudah tumbuh, dalam perjalanannya fiqh bisa dijelaskan kepada orang yang bersangkutan, karena biasanya kalau hendak melakukan sesuatu orang pasti akan bertanya lebih banyak tentang hal tersebut.

Berbeda dengan itu adalah Jalaluddin anak Syeikh Arif Billah Jalaluddin anak Qadhi Baginda Khatib, mengetengahkan hukum zakat dan jenis-jenis harta yang dikenakan zakat dalam kitabnya Hidayatul Awam[23].

“Bermula zakat itu wajib atas tiap-tiap Islam laki-laki dan perempuan kecil dan besar yang sampai nisab hartanya”[24]

Penegasan hukum fiqh ini melengkapi kitab fadhail yang ada pada bagian sebelumnya sehingga semua orang dapat menunaikan zakatnya. Dalam kitab Hidayatul Awam penulis membagi zakat kepada dua bagian yaitu zakat harta dan zakat fitrah, disertai penjelasan singkat tentang jenis-jenis harta yang wajib zakat dan juga tata cara mengeluarkan zakat fitrah.

Pengaruh pemikiran ulama tentang zakat sangat dirasakan dalam masyarakat Aceh. budaya membayar zakat sudah mentradisi sejak lama dan masih berlangsung hingga kini. Malah institusi adat seperti Keuchik, Imum dan Mukim terlibat aktif dalam pengutipan dan penyaluran zakat kepada yang berhak.

Kontrol sosial masyarakat terhadap zakat juga sangat tinggi, biasanya nama-nama pembayar zakat ditulis pada papan pengumuman meunasah atau mesjid sehingga semua orang dapat membacanya.

Penyalurannya pun dilakukan dengan sangat trasnparan di meunasah atau mesjid dengan melibatkan semua petua kampung setempat, mulai dari penetuan nama-nama orang yang berhak menerima dan juga proses penyalurannya.

 

  1. b. Anjuran Sedekah

Salah satu hal yang menjadi perhatian ulama Aceh adalah saling membantu dalam bentuk sedekah serta tidak boleh memarahi orang yang meminta-minta.

“Barangsiapa marah ia akan orang yang minta sedekah, niscaya marah akan dia oleh Allah dan malaikat pada hari kiamat (hadits)”[25]

Disini jelas bahwa setiap orang dianjurkan untuk bersedekah, malah kalau tidak mampu bersedekah cukup menolaknya dengan kata-kata yang sopan, tidak boleh memarahi orang yang meminta sedekah.

 

  1. c. Memberi salam

Budaya memberi salam sudah sangat melekat dengan masyarakat Aceh, malah kalau tidak dimulai dengan salam, masyarakat Aceh akan enggan berkomunikasi dengan tamu yang datang ke kampungnya. Hal itu tentu saja terisnpirasi dari anjuran agama Islam dan penegasan kembali oleh ulama Aceh sendiri.

“Barangsiapa memulai ia akan kamu dengan berkata dahulu daripada salam, maka jangan kamu jawab akan dia (hadits)”[26]

Kutipan hadits yang dituliskan dalam kitab Syifaul qulub di atas sangat jelas adanya larangan bagi seseorang untuk menjawab pertanyaan orang lain kalau tidak dimulai dengan salam. Hingga kini budaya salam masih terus dipertahankan masyarakat Aceh terutama di desa-desa.

 

  1. d. Mengunjungi orang sakit

Saling mengunjungi (keumunjong) terutama orang yang mendapat musibah baik sakit maupun meninggal dunia merupakan tradisi masyarakat Aceh yang masih terus berlangsung  hingga kini. Ulama telah berjasa dalam membumikan kebiasaan itu di tengah masyarakat dengan memberikan motivasi berupa pahala bagi yang melakukannya.

“Kunjung olehmu akan orang yang sakit dan ikut olehmu akan jenazah, makasanya mengingat ia akan kamu akan akhirat (hadits)”[27]

Pesan yang disampaikan dari kutipan di atas sangat jelas berupa perintah untuk mengunjungi orang sakit dan mengantarkan jenazah ke pemakaman, dan fadhilahnya adalah akan mengingatkan orang tersebut pada akhirat.

Budaya mengantarkan jenazah ke kuburan telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat, malah kalau ada orang yang tidak pernah hadir pada pemakaman orang kampungnya, akan dikucilkan dalam masyarakat, dan orang lain juga tidak akan hadir ketika musibah yang sama menimpa orang tersebut.

“Bermula mengunjungi orang yang sakit itu terlebih pahalanya daripada seekor unta yang mensedekah ia akan dia (hadits)”

Ini merupakan strategi lain dalam penulisan kitab, di samping memerintahkan masyarakat untuk mengunjungi orang sakit, juga disebutkan salah satu pahala yang akan diterimanya di akhirat kelak, sehingga terdapat dua sisi dalam kegiatan tersebut, duniawi dan ukhrawi.

Secara duniawi merupakan kewajiban sebagai sesama muslim, sedangkan ukhrawi mendapat pahala dari Allah swt.

 

  1. e. Menjalin silaturrahmi

Salah satu tatanan sosial yang harus dijaga oleh masyarakat adalah silaturrahmi, sehingga masyarakat akan hidup berdampingan, saling menyayangi, dan saling membantu di antara mereka.

Syeikh Muhammad anak dari Syeikh Khatib dalam kitabnya Dawaul Qulub menuliskan:

“Tiada halal bagi orang Islam mencengum ia akan saudaranya lebih daripada tiga hari, maka barangsiapa mencengum ia lebih daripada tiga hari maka mati ia dalam halnya, niscaya masuk ia ke dalam neraka”[28]

Dalam tulisannya Syeikh khatib mengutip hadits Nabi saw yang melarang umat Islam memutuskan silaturrahmi lebih dari 3 hari, atau ia akan dimasukkan ke dalam neraka.

 

  1. f. Tranfusi Darah dan Menjual Darah

Salah bentuk kepadulian sosial adalah membantu orang sakit melalui transfusi darah. Mengingat pentingnya darah bagi pasien yang mengalami pendarahan atau menjalani operasi, hal tersebut ikut menjadi perhatian ulama Aceh.

Adalah Syeikh Muhammad Wali Al-Khalidi Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan dalam kitab al-fatawa mencantumkan hal berikut:

“Hukum memindah darah itu boleh asal ada syarat-syarat yang tersebut di bawah ini:

  1. 1. Tidak sakit
  2. 2. Lekas sembuh
  3. 3. Tidak mendatangkan kerusakan pada orang yang dipindah darah itu[29]

Kiranya ketiga syarat yang diutarakan oleh Syeikh Muhammad Wali sudah sangat logis dan tidak  memberatkan pihak manapun.

 

Menjual darah

Walaupun membolehkan transfusi darah, Syeikh Muhammad Wali mengharamkan menjual darah.

“Hukumnya jual darah itu tidak sah, karena darah tersebut tidak suci dan tidak mungkin disucikan, tetapi kalau dimaksudnya dengan jual itu memindahkan ikhtishas adalah sah… dan wang harganya tidak halal dengan maksud jual tersebut, dan yang serupa dengan anjing sama dengan anjing, karena sabda nabi: Naha ‘an Tsamani al-kalbi. Tetapi kalau diberikannya wang itu dengan hati yang senang dan bukan atas nama harga jual darah, maka kalau begitu halal hukumnya”

Diharamkannya menjual darah diqiyaskan kepada anjing karena keduanya bernajis, akan tetapi dampak positif dari fatwa ini dapat dirasakan langsung oleh orang sakit, sehingga darah tidak menjadi ajang bisnis yang akan memberatkan pasien yang tidak mampu.

 

  1. g. Bantuan meugang

Meugang atau Makmeugang, dalam kitab Syarah Tazkirah Thabaqat disebut Madmeugang, merupakan kebiasaan makan daging menjelang bulan Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Kebiasaan itu telah sangat merakyat di Aceh sehingga setiap keluarga seakan-akan wajib membeli daging pada hari tersebut.

Tgk. Di Mulek[30] dalam kitab Syarah Tazkirah Thabaqat tidak melarang prosesi meugang, tetapi beliau menawarkan solusi supaya semua orang dapat menikmati daging pada hari “sakral” tersebut:

“Maka dibuka oleh Qadi Mu’azzam khazanah Balai Silatur-Rahmi yaitu mengambil dirham dan kain dan dibeli kerbau atau sapi hendak dipotong hari Madmeugang. Maka dibagi-bagikanlah daging kepada sekalian mereka itu yang tersebut. Yaitu pada tiap-tiap satu orang maka yaitu seemas daging, dan dapat uang lima mas, dan dapat kain enam hasta. Maka pada sekalian yang tersebut semua diserah kepada Geuchik-nya masing-masing gampong daerahnya[31].

Disini Tgk. Di Mulek menegaskan supaya pada hari meugang, setiap orang yang tidak mampu membeli daging, harus mendapat bantuan meugang dari pemerintah berupa seemas daging, uang lima mas, dan kain 6 hasta.

Beliau menegaskan bahwa hal tesebut telah termaktub dalam Qanun Meukuta Alam Al-Asyi Darussalam, yang menandakan bahwa aturan itu telah diterapkan secara resmi pada masa kerajaan Aceh Darussalam tempo dulu.

Tata cara penyaluran bantuan meugang dilakukan melalui geuchik di gampong, sebagaimana pendataan orang miskin juga dilakukan melalui geuchik tersebut.

 

  1. 6. TENTANG CABUL DAN PORNOGRAFI

Perbuatan cabul dan Pornografi dalam masyarakat Aceh sangat tabu dan dilarang secara agama dan adat istiadat. Dalam kitab Al-fatawa Syeikh Muhammad Wali Al-Khalidi Darussalam Labuhan Haji menegaskan bahwa perbuatan cabul dan pornografi tergolong dalam katagori kurang ajar.

“Maka saya berkata : dipaham dari buku ensiklopedia bahasa indonesia tersebut adalah cabul itu ringkasnya kurang ajar, dengan arti kata tidak bermalu, kalau di Minangkabau tidak beradat, dan dalam agama artinya tidak beradab dan tidak bermarwah, dalam agama Islam kurang ajar itu dapat disimpulkan dalam tiga bahagi :

  1. 1. Kurang ajar yang melanggar agama dan adat istiadat manusia seumumnya
  2. 2. Kurang ajar yang melanggar adat istiadat manusia tetapi tidak melanggar hukum agama
  3. 3. Kurang ajar yang salah menurut agama Islam tetapi tidak mengapa menurut adat setempat[32].

Walau syeikh membagi kurang ajar dalam 3 bagian, namun tetap saja ketiga-tiganya tidak boleh dilakukan karena bertentangan dengan sosio kultural masyarakat.

 

  1. 7. LARANGAN MINUMAN KERAS

Minuman keras (khamar) sangat dilarang dalam masyarakat Aceh, sanksi yang diberikan juga tergolong berat, di samping adanya sanksi agama berupa hukuman di akhirat, juga diberikan sanksi sosial berupa dikucilkan oleh masyarakat sekitar.

Maulana yang Arif Billah Syeikh Abdullah menulis dalam kitabnya syifaul qulub:

“Barangsiapa memberi salam ia kepada orang yang minum arak, atau menjabat tangan ia akan dia, atau bertaulan ia akan dia, niscaya membatalkan oleh Allah Taala amalannya empat puluh tahun”[33]

Kiranya sanksi ini jika berlaku dalam masyarakat akan sangat membuat jera pelakunya, dimana masyarakat akan dilarang untuk berhubungan bahkan tidak boleh berjabat tangan dengan orang yang mabuk-mabukan.

Pengertian khamar tentu saja berlaku juga pada setiap zat yang dapat memabukkan seperti sabu-sabu dan sejenisnya.

 

  1. 8. ETIKA BISNIS

Sistem bisnis di Aceh tidak dilakukan menurut kehendak pelaku pasar, tetapi terdapat aturan dan norma yang tidak boleh dilanggar.

 

Monopoli dan Harga Barang

Tgk. di Mulek dengan mengutip Qanun Meukuta Alam melarang pedagang untuk melakukan monopoli dan sabotase harga barang sehingga menyusahkan masyarakat. Jika ada yang melakukan hal tersebut, akan diberikan sanksi berat berupa 6 bulan penjara, denda 100 tahil[34], dan dicabut izin usaha seumur hidupnya.

“Pasal bab. Maka ketahui olehmu; telah termaktub dalam Qanun Meukuta Alam al- Asyi, bahwa tiap-tiap saudagar Aceh seluruhnya, apabila membunikan barang-barang makanan atau pakaian atau memahalkannya dengan harga yang tiada patut, hingga menjadi susah anak negeri, rakyat ‘umumiyyah, maka saudagar tersebut dihukum dengan qanun negeri enam bulan dikurung dalam pageue, dan diambil denda adatnya seratus tahil dan selama hidupnya tiada boleh berniaga lagi”[35].

Sementara Syekh Muhammad Wali dalam kitab Al-fatawa, menegaskan supaya jual beli dilakukan secara jujur, transparan, dan tidak gharar (adanya penipuan), misalnya tidak boleh menjual padi yang masih hijau di sawah:

“Padi yang masih hijau di sawah tidak boleh di jual kalau tidak di syaratkan potong, tetapi kalau sudah kuning induknya boleh[36].

 

Negosiasi Barang

Etika negosiasi barang antara pedagang dan pembeli dijelaskan dalam kitab Kifayatul Ghulam, bahwa seseorang tidak boleh menawar barang yang sedang ditawar oleh orang lain sebelum ada keputusan antara keduanya, sehingga tidak ada yang tersinggung dan tidak ada yang dirugikan.

“Dan lagi haram menawar atas tawaran orang dan berjual atas jualan orang. Dan haram membeli atas beli orang dan haram menilikkan atas tilikkan orang, hingga tinggalnya akan ia.

Dan haram membeli segala yang najis dan lagi haram menceraikan ibu dengan anaknya hingga mumayyiz ia maka tiadalah sah jualan lagi haram.

Maka barang siapa mengetahuai akan aib hartanya niscaya wajiblah atasnya menyatakan dia bagi yang menghendaki membeli akan dia. Dan jikalau tiada seperti yang demikian maka bahwasanya telah berdiakanlah ia akan ia maka bahwasanya atas batang lehernya itu dosa”.[37]

  1. 9. HUBUNGAN RAJA DENGAN RAKYAT

Hubungan pemimpin (raja) dengan rakyat disebutkan dengan sangat jelas dalam kitab Syarah Tazkirah Thabaqat karya Tgk. Di Mulek, beliau mengutip dari Qanun Meukuta Alam yang pernah berlaku pada masa kerajaan Aceh Darussalam.

Keberanian beliau dalam menuturkan amaran dan larangan bagi seorang raja menunjukkan kharisma dan juga pengaruh beliau yang sangat besar baik untuk raja maupun rakyat. Karena dalam negara sistem monarkhi kritikan dan teguran kepada raja akan berakibat fatal.

Tetapi hal itu sepertinya tidak terlalu terasa di Aceh, sehingga dalam qanun meukuta alam sebagaimana yang disyarah oleh Tgk. Di Mulek dengan sangat terbuka disebutkan hubungan antara pemimpin dan rakyat:

“Maka ketahui olehmu hai talib, bahwa tiap-tiap raja atau rais jumhuriyyah dan sekalian wazir-wazir dan hulubalang dan sekalian panglima; yaitu yang ada pangkatnya dan martabatnya dan jabatannya, maka janganlah pekerjaannya aniaya, zalim dan khianat kepada rakyat. Dan janganlah diberikan sakit hati rakyat. Dan jangan mengharap banyak senjatanya dan kuat lasykarnya dengan kerasnya menindih rakyat dan bermusuh dengan rakyat[38].

Disini Tgk. Di Mulek dengan gamblang menegaskan supaya raja beserta seluruh pejabat publik selalu dekat dengan rakyatnya, tidak boleh menzalimi, menganiaya, dan khianat kepada rakyat. Di samping itu juga tidak boleh sekali-kali pemimpin itu menggunakan senjata dan prajuritnya untuk menyakiti dan memusuhi rakyat.

Doktrin seperti ini ditegaskan dalam qanun, dan tentunya akan membuat pemimpin lebih serius dalam memikirkan rakyatnya, dan tentara yang memilik senjata juga akan tidak dengan mudah menodongkan senjatanya kepada rakyat.

Dalam sistem kerajaan penegakan aturan akan sangat mudah dilakukan jika ada keinginan baik (political will) dari pemimpin tertinggi (raja atau sultan), begitu juga dengan aturan dalam Qanun Meukuta Alam sebagaimana yang diangkat oleh Tgk. Di Mulek di atas akan sangat efektif dilaksanakan pada masanya, sehingga pelanggaran yang dilakukan oleh aparat negara akan sangat kecil.

 

Pedoman bagi Raja

Panduan bagi penguasa dalam menjalankan pemerintahannya juga diutarakan dalam kitab Syarah Tazkirah Thabaqat, disitu Tgk. Di Mulek memberikan tips supaya pemimpin selalu disayangi rakyat dan tidak mendapat perlawanan dari rakyatnya sendiri:

“Syahdan, maka ketahui olehmu hai talib, bahwasanya raja atau rais sekali-kali tidak boleh bercerai dengan rakyat. Yaitu misal umpamanya daging dengan darah dan tulang dengan urat dan bulu dengan kulit dan hati dengan jantung dan akal dengan pikir”[39].

Bercerai dengan rakyat seperti disebutkan di atas tentu saja memiliki makna yang sangat luas, intinya seorang pemimpin harus selalu bersama rakyat dalam berbagai kebijakannya, kedekatan itu tidak boleh tanggung-tanggung tetapi harus seperti kedekatan daging dengan darah.

 

Anjuran kepada Raja-raja

Posisi ulama di Aceh yang kharismatik dan disegani membuat mereka berani menyampaikan pesan politik kepada pemimpin di masanya. Berikut beberapa amaran yang diserukan oleh Tgk. Di Mulek kepada pemimpin:

“Maka ketahui olehmu hai sekalian raja-raja dan sekalian orang yang besar-besar; bahwa raja-raja atau orang yang besar-besar maka hendaklah mengamalkannya delapan perkara[40].

  1. 1. Yang pertama, hendaklah raja atau rais atau sekalian yang besar-besar itu syukur nikmat yang telah diberikannya oleh Allah Ta’ala kepadanya. Yakni ingat yang empunya nikmat kebesaran dan kemuliaan dunia ini dengan pemberian Allah Ta’ala.
  2. 2. Kedua, berbuat baiklah raja kepada Allah dengan mengikuti sekalian suruh dan dengan menjauhkan sekalian tegahnya serta berbuat pekerjaan yang adil.
  3. 3. Ketiga, raja-raja atau rais janganlah datang segera amarah kepada yang di bawah perintahnya dan kepada sekalian rakyat dan manusia ‘umumiyyah.

Maksudnya pemimpin jangan bersikap emosinal terhadap bawahannya, juga kepada rakyat dan manusia semuanya.

  1. 4. Keempat, janganlah raja-raja itu mempermudah-mudah musuh itu dengan pandangan kecil atau memandang enteng dan ringan. Hendaklah dijaga dan diamati dengan sungguh dan sempurna.

Maksudnya Jangan menyepelekan musuh, tetapi perhatikan semua ancaman terhadap keamanan negara dengan sungguh-sungguh.

  1. 5. Kelima, raja itu menghalaukan musuh dengan tipu muslihat. Serta lasykar sipa-i infantri Khan Bahadur yang kuat-kuat dan ahli dan yang setia kepada negeri dan agama dan bangsa dan taat kepada qanun, bay’at dan sumpah.

Disini seorang pemimpin dituntut untuk menyiapkan strategi yang jitu dalam berhadapan dengan musuh, berupa kekuatan senjata, pasukan dan tenaga ahli yang mamadai.

  1. 6. Keenam, raja-raja atau rais jumhuriyyah janganlah kehendak keinginan dunia dengan zalim kepada rakyat. Yaitu dengan zalim kepada rakyat. Yaitu sebab memikir bahwa saya raja negeri dan karenanya bisa dapat memperbuat satu-satu  hal dengan sebab banyak lasykar sipa-i dan senjata kuat, maka tentu lulus sekalian pekerjaannya karena semuanya di belakang raja.

Walaupun seorang pemimpin memiliki semua wewenang dan fasilitas, jangan sekali-kali menzalimi rakyat karena kepentingan duniawi, jangan sampai arogansi kekuasaan dikedepankan.

  1. 7. Ketujuh, bahwa tiap-tiap raja atau rais yaitu seyogia meneguh janji pada sekalian yang telah dijanjikan (kepada) sekalian rakyat dengan selesai dan sempurna. Maka taatlah rakyat kepada raja serta kasih sayang dan setia rakyat kepada raja dan setia raja kepada rakyat dengan hukum adil dan aman negeri. Maka  makmurlah rakyat dengan senang dan sempurna, maka masyhurlah kerajaannya.

Kunci kemasyhuran dan kemakmuran negara adalah ketika rakyat mencintai pemimpinnya, dan pemimpin juga mencintai rakyatnya. Hal itu akan dapat dicapai jika semua pemimpin tidak membohongi rakyat, tetapi menjalankan semua janji yang telah diberikan.

  1. 8. Kedelapan, hendaklah raja-raja atau rais jumhuriyyah bersangat takut kepada Allah dan kepada Rasul dan hendaklah sopan raja kepada rakyatnya;

Pemimpin juga dianjurkan berlaku sopan kepada rakyatnya, di samping memang harus selalu takut kepada Allah swt.

Dari beberapa pesan di atas dapat dibayangkan bagaimana kondisi Aceh masa lalu, bahwa antara ulama dan umara saling melengkapi dan mendukung. Malah ulama dapat dengan tegas memberikan masukannya kepada raja.

 

  1. 10. LARANGAN MERENDAH DIRI

Ulama Aceh sangat mendambakan masyarakat hidup dalam nuansa yang harmonis, bebas dari penindasan antara yang kuat dan lemah, atau yang kaya terhadap yang miskin. Setelah adanya anjuran bagi orang kaya supaya bersikap rendah hati (tawadhuk), juga ada seruan kepada orang miskin supaya tidak menjadi penjilat dengan menghinakan diri di depan orang kaya untuk meminta belas kasihan.

Dalam kitab Dawaul Qulub disebutkan:

“Dan lagi jangan engkau berjalan kepada orang yang kaya dengan kau menghina diri kepadanya karena yang demikian itu haram[41].

Dengan adanya ketegasan hukumn haram artinya ulama sangat serius memandang persoalan sosial seperti ini supaya masyarakat hidup dalam optimisme dan tidak menjadi bangsa yang meminta-minta.

Sementara itu dalam pengertian yang lebih luas lagi, Waliyullah bila niza’, ikutan orang yang arifin, Syeikh Abdurrauf Fansury, dalam kitabnya Mawaizul badi’ah, malah melarang untuk menjilat penguasa untuk mendapat jabatan dan kepentingan pribadi:

“Hai anak Adam ketahui olehmu bahwasanya barang siapa tiada mengamalkan tiga perkara ini maka tiada memberi manfaat oleh Allah ta’ala akan amalnya dan jikalau ada ia alim dari pada segala manusia isi dunia sekalipun. Pertama, jangan engkau kasih akan dunia yang lebih dari pada sekedar hajat. Kedua, jangan engkau sakiti akan hati seorang dengan tiada sebenar karena menyakiti hati orang itu bukan dari pada perangai mukmin. Ketiga, jangan engkau bersahabat dengan segala raja karena ia bukan sahabat orang yang mukmin[42].

Ketiga larangan dalam kitab tersebut kiranya dapat membangun stabilitas emosinal masyarakat dalam berinteraksi dengan dinamika kehidupan sehari-hari, tidak berlebih-lebihan dalam menyikapi sesuatu.

 

  1. 11. NAZAR ATAU KAOY

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Aceh untuk bernazar jika dalam menghadapi musibah atau kebaikan, sehingga hal tersebut disinggung oleh Jalaluddin At-Turasani, dalam kitab Safinat Al-Hukkam Fi Takhlish Al-Khasham, terutama tentang tata cara pelaksanaan nazar, dan kafarat jika melanggar nazar itu.

“Kaidah bermula memakan yang dinazarkan harus pada nazar yang mu’ayyan yakni yang sudah tertentu dan tiada harus memakan nazar yang dalam akuan juga[43]

Disini disebutkan tentang boleh memakan makanan nazar (pelheuh kaoy) jika sudah jelas jenisnya dan ukurannya, jika tidak jelas jenis nazarnya maka tidak boleh dimakan ketika ditunaikan.

Jika nazar yang diniatkan tidak kesampaian maka nazar tersebut tidak wajib ditunaikan:

“Artinya tiada nazar melainkan pada yang dikehendaki dengan dia wajah Allah Ta’ala. Maka jikalau dinazarkannya akan wajah Allah Ta’ala dan bersalahan ia yakni tiada sampai seperti yang dimaksud maka tiadalah lazim akan dia kifarat[44]. (hal : 292)

Juga disyaratkan dalam bernazar harus ada nilai ibadah di dalamnya, kalau nazar dilakukan disertai dengan maksiat maka nazar tidak sah.

 

  1. 12. SOGOK-MENYOGOK

Al-Turasani menempatkan risywah (sogok-menyogok) secara umum adalah haram, dengan menggunakan kaedah bahwa apa saja yang tidak boleh diambil berarti juga tidak boleh memberinya oleh siapapun (dua arah). Namun dalam kondisi tertentu beliau juga membolehkan sogok menyogok jika dengan sogok itu haknya bisa didapat kembali.

“Kaidah : barang yang haram mengambil dia maka haram pula memberi dia, seperti riba dan mahar jalang dan upah bertunang dan risywah dan upah menyabak dan upah berserune dan gendrang dan yang sebagainya.

Maka keluar dari pada kaedah ini beberapa surah, dan yaitu : risywah bagi hakim, supaya sampai ia kepada haknya, dan melepaskan tawanan, dan memberi suap bagi orang yang dapat menolakkan aniaya orang kepadanya, dan menolak orang yang merampas dan merebut. Maka yang demikian itu harus[45].

Disini disebutkan bahwa menyogok hakim hanya dapat dilakukan jika:

  1. Dengan sogokan itu bisa memperoleh kembali hak seseorang yang dizalimi.
  2. Dapat melepaskan tawanan yang sudah tiba masanya.
  3. Dapat mencegah seseorang dari aniaya, perampasan dan perebutan hak oleh orang lain.

Semua ini masuk dalam teori darurat, sehingga hal dilarang boleh dilakukan karena darurat tersebut.

 

  1. 13. MEMBUKA LAHAN TIDUR

Untuk menghindari sengketa lahan di dalam masyarakat Al-Turasani dalam kitabnya juga mengatur hal tesebut. Menurutnya lahan tidur menjadi milik orang yang membukanya:

“Pasal, bermula, menghidupkan tanah mati itu sunat, dan hasillah dengan dia milik.”[46]

Kaedah umum ini juga sejalan dengan beberapa hadits nabi saw. Beberapa kasus yang menyertai kepemilikan lahan itu juga disebutkan dalam kitab tersebut, misalnya di dalam lahan yang baru dibuka tersembunyi barang  berharga, tetapi tidak diketahui sama sekali oleh pembuka lahan tersebut. Dalam kondisi ini, ia tidak berhak atas barang tersebut:

“Bermula barang siapa menghidupkan tanah mati maka zahir dalamnya kerukan yang batin padahal tiada diketahuinya akan dia tatkala itu, maka tiadalah dimilikinya akan dia[47].

 

  1. 14. PERBEDAAN MAZHAB

Tgk. Di Mulek merupakan salah satu ulama Aceh yang sangat toleran dalam bermazhab, beliau  mengakui keberadaan empat mazhab yaitu: Syafii, Hanbali, Maliki dan Hanafi. Hal itu dengan tegas dituliskan dalam kitabnya:

“Maka peganglah dengan sungguh-sungguh hati Qanun Meukuta Alam al-Asyi dari karena mengikuti… Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i (dan) Imam Hanbali. Dan empat mazhab itu semuanya tunduk kepada Syari’at Rasullullah saw. … Yakni berhimpun empat, yaitu Islam dan Iman dan Tauhid dan Makrifat, maka barulah bernama agama[48]

Disni juga mencerminkan pemikiran mazhab ulama Aceh masa lalu yang multi mazhab dan toleran dengan dinamika persoalan umat. Bahkan mereka berani pindah mazhab jika suatu persoalan tidak bisa diselesaikan oleh salah satu mazhab.

“Yaitu jika tiada boleh hukumnya dalam mazhab Imam Syafi’i, maka dicari hukumnya dalam mazhab Ahmad Imam Hanbali. Dan jika tiada hukumnya dalam mazhab Imam Hanbali, maka dicari hukumnya dalam mazhab Imam Malik. Dan jika tiada dalam mazhab Imam Malik, maka dicari  hukumnya dalam mazhab Imam Abu Hanifah. Karena adalah Imam yang empat itu pangkat Mujtahid Mutlak yang sah dalam Ahlussunnah waljama’ah[49]

Keragaman mazhab disini hanya terbatas pada empat mazhab saja karena masih dalam koridor ahlus sunnah wal jamaah sebagaimana yang ditegaskan oleh Tgk. Di Mulek. Malah pada masa Iskandar Muda di Aceh dibentuk mufti empat mazhab yang disebut dengan Syaikh Al-Islam supaya dapat mengakomodir semua pemasalahan umat.

“Maka sebab itulah paduka Sri Sultan Sulaiman Meukuta Alam Iskandar Muda Perkasa Alam Syah mendirikan Mufti empat mazhab, yakni Syaikh al-Islam; Mufti Empat dalam negeri Aceh Darussalam. Karena menjaga dan memeliharakan hukum Syara’ Syari’at Rasulullah saw. dari kaum yang Tujuh Puluh Dua yang khianat kepada agama Islam.

Dan maka jika alim ulama yang Ahlus-Sunnah Waljama’ah masuk ke dalam negeri Aceh dari luar negeri, maka dipermuliakannya oleh Sultan Iskandar Muda serta diberikan surat ber-Cap Sembilan dan diberikan tadah. Jika alim ulama itu bermukim dalam negeri Aceh. Dan jika ia musafir maka diberikan belanja sekedar mencukupi yaitu makanan dan pakaian. Dan jika pulang ia ke negeri di mana pun negerinya maka diberikan hadiahnya dan ongkos kapal dibayar oleh kerajaan Aceh[50].

Disini disebutkan bahwa Iskandar Muda sangat hormat pada ulama berbagai mazhab ahlus sunnah wal jamaah, juga disediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan. Sehingga banyak terdapat ulama dari berbagai bangsa yang menetap dan ikut mengajar masyarakat Aceh.


[1] Kitab jam’u Jawami’ al-Mushannafat disusun oleh Syekh Ismail bin Abdul Muthalib Al-Asyi, di dalamnya terhimpun beberapa kitab karya ulama Aceh.  Dalam masyarakat Aceh kitab ini juga disebut kitab Majmu’, atau kitab lapan (delapan).

[2] Maulana yang Arif Billah Syeikh Abdullah, Syifaul Qulub, dalam kitab Jam’u Jawami’ Al-Musannafat, karya Syeikh Ismail Bin Abdul Muthallib Al-Asyi, Penerbit Al-Aqsa lil-Tabba’ah wal Tauzik, tanpa tahun,

hal. 46

[3] Ibid hal. 45

[4] Kitab Dawaul Qulub merupakan salah satu kitab yang dikumpulkan dalam Kitab jam’u Jawami’ al-Mushannafat disusun oleh Syekh Ismail bin Abdul Muthalib Al-Asyi

[5] Syeikh Muhammad anak dari Syeikh Khatib, Dawaul Qulub, dalam kitab Jam’u Jawami’ Al-Musannafat, karya Syeikh Ismail Bin Abdul Muthallib Al-Asyi, Penerbit Al-Aqsa lil-Tabba’ah wal Tauzik, tanpa tahun,  hal. 93

[6] Ibid hal. 118

[7] I’lamul Muttaqin min Irsyadil Muridin adalah  salah satu kitab yang  dikumpulkan dalam Kitab jam’u Jawami’ al-Mushannafat disusun oleh Syekh Ismail bin Abdul Muthalib Al-Asyi

[8] Alim Billah Maulana Syeikh Jamaluddin anak Syeikh Abdullah, I’lamul Muttaqin min Irsyadil Muridin, dalam kitab Jam’u Jawami’ Al-Musannafat, karya Syeikh Ismail Bin Abdul Muthallib Al-Asyi, Penerbit Al-Aqsa lil-Tabba’ah wal Tauzik, tanpa tahun,  hal 126

[9] Al-Ghani Muhammad Zain bin Al-Faqih Jalaluddin Al-Asyi As-Syafii, Talkhisul Falah fi Bayan Ahkam al-Thalaq wal Nikah, dalam kitab Jam’u Jawami’ Al-Musannafat, karya Syeikh Ismail Bin Abdul Muthallib Al-Asyi , Penerbit Al-Aqsa lil-Tabba’ah wal Tauzik, tanpa tahun,  hal. 37

[10] Safinat Al-Hukkam fi Takhlish Al-Khasham merupakan kitab karya Jalaluddin At-Tarusani yang ditulis atas perintah Alaidin Johansyah, Sultan Aceh yang ke-34 (1735-1760M).

[11] Jalaluddin At-Tarusani, Safinat al-Hukkam fi Takhlish al-Kahssham, alih aksara oleh Prof. Dr. Al yasa Abubakar, dkk, Banda Aceh, Pusat Penerbitan dan Penerjemahan IAIN Ar-Raniry, tahun 2001,  hal. 223

[12] Al-Ghani Muhammad Zain bin Al-Faqih Jalaluddin Al-Asyi As-Syafii, Talkhisul Falah fi Bayan Ahkam al-Thalaq wal Nikah, dalam kitab Jam’u Jawami’ Al-Musannafat, karya Syeikh Ismail Bin Abdul Muthallib Al-Asyi , Penerbit Al-Aqsa lil-Tabba’ah wal Tauzik, tanpa tahun,  hal 40

[13] Jalaluddin At-Tarusani, Safinat al-Hukkam fi Takhlish al-Kahssham, alih aksara oleh Prof. Dr. Al yasa Abubakar, dkk, Banda Aceh, Pusat Penerbitan dan Penerjemahan IAIN Ar-Raniry, tahun 2001,  hal. 227

[14] Al-Ghani Muhammad Zain bin Al-Faqih Jalaluddin Al-Asyi As-Syafii, Talkhisul Falah fi Bayan Ahkam al-Thalaq wal Nikah, dalam kitab Jam’u Jawami’ Al-Musannafat, karya Syeikh Ismail Bin Abdul Muthallib Al-Asyi , Penerbit Al-Aqsa lil-Tabba’ah wal Tauzik, tanpa tahun,  hal. 43

[15] Syeikh Muhammad Wali Al-Khalidi Darussalam Labuhan Haji, Al-Fatawa, Bukit Tinggi, Nusantara, tahun 1960,

Hal. 40

[16] Al-Ghani Muhammad Zain bin Al-Faqih Jalaluddin Al-Asyi As-Syafii, Talkhisul Falah fi Bayan Ahkam al-Thalaq wal Nikah, dalam kitab Jam’u Jawami’ Al-Musannafat, karya Syeikh Ismail Bin Abdul Muthallib Al-Asyi , Penerbit Al-Aqsa lil-Tabba’ah wal Tauzik, tanpa tahun,  hal. 44

[17] Maulana yang Arif Billah Syeikh Abdullah, Syifaul Qulub, dalam kitab Jam’u Jawami’ Al-Musannafat, karya Syeikh Ismail Bin Abdul Muthallib Al-Asyi, Penerbit Al-Aqsa lil-Tabba’ah wal Tauzik, tanpa tahun,  hal. 58

[18] Ibid Hal. 59

[19] Syeikh Abdurrauf Fansury, Mawaizul badi’ah, dalam kitab Jam’u Jawami’ Al-Musannafat, karya Syeikh Ismail Bin Abdul Muthallib Al-Asyi, Penerbit Al-Aqsa lil-Tabba’ah wal Tauzik, tanpa tahun,  hal. 68

[20] Syeikh Muhammad anak dari Syeikh Khatib, Dawaul Qulub, dalam kitab Jam’u Jawami’ Al-Musannafat, karya Syeikh Ismail Bin Abdul Muthallib Al-Asyi, Penerbit Al-Aqsa lil-Tabba’ah wal Tauzik, tanpa tahun,  hal. 97

[21] Ibid hal. 98

[22] Maulana yang Arif Billah Syeikh Abdullah, Syifaul Qulub, dalam kitab Jam’u Jawami’ Al-Musannafat, karya Syeikh Ismail Bin Abdul Muthallib Al-Asyi, Penerbit Al-Aqsa lil-Tabba’ah wal Tauzik, tanpa tahun,  hal 53

[23] Kitab Hidayatul Awam disusun oleh Syekh Jalaluddin (ada juga yang menulis Jamaluddin) atas perimtah Sultan Alaidin Ahmadsyah (1727-1735M), ayahnya bernama Jalaluddin Al-Tarusani penulis kitab Safinat Al-hukkam atas perintah sultan Alaidin Johansyah (1735-1760M), kakeknya bernama Qadhi Baginda Khatib, ulama dan politikus terkenal, qadhi negeri Tarusan yang hidup pada masa Sultan Jamalul Alam badrul Munir (1703-1726M)

[24] Jalaluddin anak Syeihk Arif Billah Jalaluddin anak Qadhi Baginda Khatib, Hidayatul Awam, dalam Kitab jam’u Jawami’ al-Mushannafat karya Syeikh Ismail Bin Abdul Muthallib Al-Asyi, Penerbit Al-Aqsa lil-Tabba’ah wal Tauzik, tanpa tahun, hal. 17

[25] Maulana yang Arif Billah Syeikh Abdullah, Syifaul Qulub, dalam kitab Jam’u Jawami’ Al-Musannafat, karya Syeikh Ismail Bin Abdul Muthallib Al-Asyi, Penerbit Al-Aqsa lil-Tabba’ah wal Tauzik, tanpa tahun,  hal 53

[26] Ibid Hal. 54

[27] Ibid Hal. 60

[28] Syeikh Muhammad anak dari Syeikh Khatib, Dawaul Qulub, dalam kitab Jam’u Jawami’ Al-Musannafat, karya Syeikh Ismail Bin Abdul Muthallib Al-Asyi, Penerbit Al-Aqsa lil-Tabba’ah wal Tauzik, tanpa tahun,  hal. 97

[29] Syeikh Muhammad Wali Al-Khalidi Darussalam Labuhan Haji, Al-Fatawa, Bukit Tinggi, Nusantara, tahun 1960,  hal 40

[30] Nama asli Tgk. Di Mulek adalah Sayid Abdullah Jamalul Lail. Ia merupakan keturunan dari Sultan Aceh, Sultan Jamalul Lail Badrul Munir dan Sultan Perkasa Alam Jamalul Lail. Diperkirakan ia  hidup menjelang masa-masa kerajaan Aceh  hampir berakhir (1270H (1849M), ia berdomisili di Lam Garot, Keutapang Dua, Darul Imarah, Aceh Besar.

[31] Tgk. Di Mulek, Syarah Tazkirah Tabaqat, alih aksara oleh Mohd. Kalam Daud, T.A. Sakti (Qanun Meukuta Alam Dalam Syarah Tadhkirah Tabaqat Tgk. Di Mulek dan Komentarnya), Banda Aceh, Syiah Kuala University Press, tahun 2010, hal 31

[32] Syeikh Muhammad Wali Al-Khalidi Darussalam Labuhan Haji, Al-Fatawa, Bukit Tinggi, Nusantara, tahun 1960,  hal. 106

[33] Syifaul qulub Hal. 58

[34] 1 Tahil = 16 mayam emas

[35] Tgk. Di Mulek, Syarah Tazkirah Tabaqat, alih aksara oleh Mohd. Kalam Daud, T.A. Sakti (Qanun Meukuta Alam Dalam Syarah Tadhkirah Tabaqat Tgk. Di Mulek dan Komentarnya), Banda Aceh, Syiah Kuala University Press, tahun 2010,  hal 61

[36] Syeikh Muhammad Wali Al-Khalidi Darussalam Labuhan Haji, Al-Fatawa, Bukit Tinggi, Nusantara, tahun 1960,  hal. 10

[37] Syeikh Ismail Matang Kanu, Kifayatul Ghulam Fi Bayani Arkanil Islam Wa Syurutihi, Banda Aceh, Putra Aceh Jaya, tanpa tahun, hal. 45

[38] Tgk. Di Mulek, Syarah Tazkirah Tabaqat, alih aksara oleh Mohd. Kalam Daud, T.A. Sakti (Qanun Meukuta Alam Dalam Syarah Tadhkirah Tabaqat Tgk. Di Mulek dan Komentarnya), Banda Aceh, Syiah Kuala University Press, tahun 2010, hal 10

[39] Ibid, hal. 11

[40] Ibid, hal. 34

[41] Syeikh Muhammad anak dari Syeikh Khatib, Dawaul Qulub, dalam kitab Jam’u Jawami’ Al-Musannafat, karya Syeikh Ismail Bin Abdul Muthallib Al-Asyi, Penerbit Al-Aqsa lil-Tabba’ah wal Tauzik, tanpa tahun, hal. 97

[42] Syeikh Abdurrauf Fansury, Mawaizul badi’ah, dalam kitab Jam’u Jawami’ Al-Musannafat, karya Syeikh Ismail Bin Abdul Muthallib Al-Asyi, Penerbit Al-Aqsa lil-Tabba’ah wal Tauzik, tanpa tahun, hal. 90

[43] Jalaluddin At-Tarusani, Safinat al-Hukkam fi Takhlish al-Kahssham, alih aksara oleh Prof. Dr. Al yasa Abubakar, dkk, Banda Aceh, Pusat Penerbitan dan Penerjemahan IAIN Ar-Raniry, tahun 2001, hal 170

[44] Ibid, hal. 292

[45] Ibid, hal. 165

[46] Ibid, hal. 209

[47] Ibid, hal. 210

[48] Tgk. Di Mulek, Syarah Tazkirah Tabaqat, alih aksara oleh Mohd. Kalam Daud, T.A. Sakti (Qanun Meukuta Alam Dalam Syarah Tadhkirah Tabaqat Tgk. Di Mulek dan Komentarnya), Banda Aceh, Syiah Kuala University Press, tahun 2010, hal. 3

[49] Ibid, hal. 5

[50] Ibid, hal. 39

 

One comment on “SEJARAH PEMIKIRAN ULAMA ACEH DALAM BERBAGAI BIDANG ILMU PENGETAHUAN

  1. Ping-balik: Bungong Jeumpa

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s