Mukjizat Sains Al-Quran [2]


Ayat-ayat kauniyah (yang berkenaan dengan alam atau kosmos) di dalam Al-Qur’ân dan disebutkan secara eksplisit, jumlahnya lebih dari ribuan ayat, ditambah ayat-ayat lain yang serupa denganya. Ayat–ayat kauniyah tersebut semuanya hampir berjumlah seperenam dari ayat Al-Qur’ân. Ayat-ayat tersebut tidak mungkin difahami secara terperinci dan mendalam hanya berdasarkan pemahaman sisi lingustiknya saja. Tetapi juga harus dibarengi dengan pengetahuan-pengetahuan saintifik modern, karena di sana ada beberapa kalimat dan makna yang tidak bisa dipahami maknanya kecuali oleh orang-orang yang benar-benar memahami disiplin ilmu dengan berbagai macam spesifikasinya. Dari sini akan bisa dipahami bahwa banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’ân yang memberikan proyeksi pemahaman masa depan, semisal ayat dalam surat Al-An’âm ayat 67. Allah berfirman :

لِكُلِّنَبَإٍمُسْتَقَرٌّوَسَوْفَتَعْلَمُونَ(67)

“Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui“. (al-An’âm: 67); dan juga firman Allah SWT dalam surat al-Naml ayat 93. Allah berfirman :

وَقُلْالْحَمْدُلِلَّهِسَيُرِيكُمْآيَاتِهِفَتَعْرِفُونَهَاوَمَارَبُّكَبِغَافِلٍعَمَّاتَعْمَلُونَ(93)

”Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan tuhanmu tiada lalali dari apa yang kamu kerjakan.” ( al-Naml: 93).

Dan ayat Al-Qur’ân yang berkaitan dengan agama terkonsentrasi ke dalam empat fondasi dasar: akidah, ibadah, akhlak dan mu’amalah yang masing-masing dari ayat tersebut diturunkan dengan konteks kalimat yang muhkamah (jelas), dimana dalil dan makna dari ayat tersebut sangatlah jelas dan tidak mengandung makna kecuali hanya satu saja, sedangkan ayat-ayat yang berkenaan dengan alam semesta atau kosmos, kebanyakan darinya diturunkan dalam bentuk yang mujmal (global) sebagai mukjizat, dimana pemahaman terhadap ayat tersebut masing-masing berbeda sesuai dengan masa, tempat dan zaman orang yang menafsirkan ayat tersebut. Hal ini didasarkan pada konteks, kondisi waktu serta tempatnya. Jika dilengkapi dengan ilmu pengetahuan tentang kosmos dan ilmu-ilmu yang berkenaan dengannya, maka makna-makna ayat tersebut akan dinamis, sejalan dengan perkembangan pengetahuan manusia dan tidak ada kontradiksi di dalamnya, sehingga ayat-ayat Al-Qur’ân akan selalu mendominasi pengetahuan manusia sebarapa pun perkembangan dan luasnya pengetahuan tersebut (Dan hal tersebut tidak akan ada kecuali memang merupakan firman Allah). Dari situ maka kenabian Muhammad saw dalam mensifati Al-Qur’ân, bahwa keagungan dan kebesaran Al-Qur’ân tiada akan pernah berakhir, betapapun banyaknya sanggahan mukjizat tersebut.

Karena itu benarlah anjuran Rab Azza Wajalla yang memerintahkan kita untuk mengahayati makna-makna ayat Al-Qur’ân. Dia berfirman:

أَفَلَايَتَدَبَّرُونَالْقُرْآنَوَلَوْكَانَمِنْعِنْدِغَيْرِاللَّهِلَوَجَدُوافِيهِاخْتِلَافًاكَثِيرًا(82)

”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’ân ? Kalau kiranya Al-Qur’ân itu bukan dari sisi Allah tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak didalamnya.(QS: al-Nisâ: 82). Dalam ayat lain Allah berfirman:

قَدْجَاءَكُمْبَصَائِرُمِنْرَبِّكُمْفَمَنْأَبْصَرَفَلِنَفْسِهِوَمَنْعَمِيَفَعَلَيْهَاوَمَاأَنَاعَلَيْكُمْبِحَفِيظٍ(104)

”Sesungguhnya telah datang dari tuhanmu bukti-bukti yang terang , maka barang siapa melihat (kebenaran itu) , maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri, dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudaratannya kembali kepadanya. Dan Aku sekali-kali bukanlah pemelihara kalian.” (QS. al-An’âm: 104).

Dalam ayat lain Allah berfirman:

”Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.

Firman-Nya yang lain:

انظُرْكَيْفَكَذَبُواعَلَىأَنفُسِهِمْوَضَلَّعَنْهُمْمَاكَانُوايَفْتَرُونَ(24)

”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’ân ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda: ”I’rabû al-Qur’ân wa-al-Tamisyû Ghar’ibâha.”

Mengi’rab Al-Qur’ân berarti mengetahui makna-maknanya. Dan yang dimaksud dengan kata wa-al-Tamisyû Ghar’ibâha dalam hadits tersebut adalah mengetahui segala sesuatu di dalam Al-Qur’ân yang maknanya masih misterius bagi umumnya pembaca, khususnya ayat-ayat dalam masalah kosmos yang pemahaman dalilnya senantiasa dinamis dan berkembang sejalan dengan dinamisme dan perkembangan pengetahuan manusia dari generasi kegenerasi. Hal tersebut dikarenakan sederhanaya pemahaman manusia pada waktu diturunkannya Al-Qur’ân, disamping karena watak Al-Qur’ân yang senantiasa berdialektika dengan zaman, dalam artian bahwa perkembangan pengetahuan dan kesejahteraan manusia akan senantiasa bertambah dengan pemahaman manusia terhadap kosmos dan sunnatullah yang berlaku di dalamnya (kosmos).

Ayat-ayat yang berkenaan dengan kosmos dalam Kitabullâh menunjukkan betapa banyaknya kebenaran-kebenaran komos, wujud dan juga bentuknya, yang merupakan bentuk dari ayat-ayat yang tidak akan bisa difahami secara terperinci dan mendalam kalau hanya mengacu pada aspek lingustik saja. Tetapi dalam memahami ayat-ayat tersebut, dibutuhkan juga aspek-aspek ilmiah yang memadai dalam berbagai spesifikasinya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah dalam ayat-ayat Al-Qur’ân, sehingga dari situ bisa didapatkan pemahaman yang benar sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT:

لَكِنْاللَّهُيَشْهَدُبِمَاأَنزَلَإِلَيْكَأَنزَلَهُبِعِلْمِهِوَالْمَلَائِكَةُيَشْهَدُونَوَكَفَىبِاللَّهِشَهِيدًا(166)

”(Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mehakui Al-Qur’ân yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengetahui.” (al-Nisâ: 166).

Allah juga berfirman:

قُلْأَيُّشَيْءٍأَكْبَرُشَهَادَةًقُلْاللَّهُشَهِيدٌبَيْنِيوَبَيْنَكُمْوَأُوحِيَإِلَيَّهَذَاالْقُرْآنُلِأُنذِرَكُمْبِهِوَمَنْبَلَغَأَئِنَّكُمْلَتَشْهَدُونَأَنَّمَعَاللَّهِآلِهَةًأُخْرَىقُلْلَاأَشْهَدُقُلْإِنَّمَاهُوَإِلَهٌوَاحِدٌوَإِنَّنِيبَرِيءٌمِمَّاتُشْرِكُونَ(19)

“Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya ? Katakanlah: “Allah saksi antara aku dan kamu. Dan Al Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’ân (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah ? Katakanlah: aku tidak mengakui. Katakanlah sesunggunhnya Dia adalah Tuhan yang satu dan aku terbebasa atas apa yang merteka sekutukan”. (QS: al-An’âm: 19).

قُلْلَاأَشْهَدُقُلْإِنَّمَاهُوَإِلَهٌوَاحِدٌوَإِنَّنِيبَرِيءٌمِمَّاتُشْرِكُونَ(19)

Allah berfirman dalm ayat lain:

وَيَعْبُدُونَمِنْدُونِاللَّهِمَالَايَضُرُّهُمْوَلَايَنْفَعُهُمْوَيَقُولُونَهَؤُلَاءِشُفَعَاؤُنَاعِنْدَاللَّهِقُلْأَتُنَبِّئُونَاللَّهَبِمَالَايَعْلَمُفِيالسَّمَاوَاتِوَلَافِيالْأَرْضِسُبْحَانَهُوَتَعَالَىعَمَّايُشْرِكُونَ(18)

”Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak (pula) di bumi” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (QS. Yûnus:18)

Allah juga berfirman:

فَإِلَّمْيَسْتَجِيبُوالَكُمْفَاعْلَمُواأَنَّمَاأُنزِلَبِعِلْمِاللَّهِوَأَنْلَاإِلَهَإِلَّاهُوَفَهَلْأَنْتُمْمُسْلِمُونَ(14)

“Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya Al-Qur’ân itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasannya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)? (QS. Hûd:14)

Allah berfirman kepada Nabi Muhammad :

قُلْأَنزَلَهُالَّذِييَعْلَمُالسِّرَّفِيالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضِإِنَّهُكَانَغَفُورًارَحِيمًا(6)

” Katakanlah: “Al-Qur’ân itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Furqân: 6).

Allah berfirman kepada Nabi Muhammad:

وَقُلْالْحَمْدُلِلَّهِسَيُرِيكُمْآيَاتِهِفَتَعْرِفُونَهَاوَمَارَبُّكَبِغَافِلٍعَمَّاتَعْمَلُونَ(93)

”Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamuakan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (al-Naml: 93).

Allah berfirman :

أَلَمْتَرَىأَنَّاللَّهَأَنْزَلَمِنْالسَّمَاءِمَاءًفَأَخْرَجْنَابِهِثَمَرَاتٍمُخْتَلِفًاأَلْوَانُهَاوَمِنْالْجِبَالِجُدَدٌبِيضٌوَحُمْرٌمُخْتَلِفٌأَلْوَانُهَاوَغَرَابِيبُسُودٌ(27)وَمِنْالنَّاسِوَالدَّوَابِّوَالْأَنْعَامِمُخْتَلِفٌأَلْوَانُهُكَذَلِكَإِنَّمَايَخْشَىاللَّهَمِنْعِبَادِهِالْعُلَمَاءُإِنَّاللَّهَعَزِيزٌغَفُورٌ(28)

“Tidakkah kamu melihat bahwasannya Allah menurunkan hujan dari langit, lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya? Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan je-nisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-oramng yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Ma-ha Pengampun.” (QS. Fâthir: 27-28).

Allah berfirman :

وَلَوْبَسَطَاللَّهُالرِّزْقَلِعِبَادِهِلَبَغَوْافِيالْأَرْضِوَلَكِنْيُنَزِّلُبِقَدَرٍمَايَشَاءُإِنَّهُبِعِبَادِهِخَبِيرٌبَصِيرٌ(27)وَهُوَالَّذِييُنَزِّلُالْغَيْثَمِنْبَعْدِمَاقَنَطُواوَيَنشُرُرَحْمَتَهُوَهُوَالْوَلِيُّالْحَمِيدُ(28)

”Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat. Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji. Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.” (QS. al-syûrâ: 27-29).

Ayat-ayat tersebut merupakan ayat-ayat yang menerangkan tentang konsep kosmos atau alam semesta. Dari sini maka perhatian saya terhadap ayat-ayat yang berkenaan dengan kosmos dalam Al-Qur’âan makin bertambah.Karenanya, saya berjanji untuk selalu berusaha merealisasikan segala sesuatu yang telah Allah karuniakan kepada manusia yang lemah dan mempunyai ilmu pengetahuan yang terbatas, tentang sisi-sisi sains yang berkenaan dengan kosmos dengan landasan petunjuk ilmiah dalam ayat-ayat Al-Qur’an, dan menampakkan mukjizat dari ayat-ayat tersebut yaitu dengan menjelaskan kemukjizatan ilmiah yang ada di dalamnya. Dalam artian sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa Al-Qur’ân telah menunjukkan berbagai macam pertanda tentang kebenaran-kebenaran kosmos yang sama sekali belum ditemukan oleh siapapun atau ilmu pengetahuan apapun tentang hal tersebut, pada waktu diturunkannya Al-Qur’ân. Bahkan berabad-abad sesudah diturunkannya Al-Qur’ân, kebenaran-kebenaran kosmos yang telah ditunjukan oleh Al-Qur’ân sejak dahulu dengan jelas dan rinci sejak sebelum seribu empat ratus tahun silam belum juga bisa ditemukan oleh manusia. Manusia tidak bisa menemukan sesuatu apapun yang berharga kecuali sesudah usaha yang begitu lama dan dilakukan oleh ribuan ilmuwan dan memakan waktu ratusan tahun, dan gambaran yang benar ini tidak pernah mengkristal pada diri mereka, kecuali sejak sepuluh tahun terakhir ini.

Usaha saya dalam rangka menjelaskan sisi dari berbagai macam sisi kemukjizatan Al-Qur’ân adalah merupakan usaha manusia biasa dimana dalam usaha manusia kelebihan dan kekurangan adalah sesuatu yang biasa. Akan tetapi mudah-mudahan usaha ini bisa menjadi suatu amalan yang ikhlas hanya karena Allah semata dan untuk mengfungsikan Al-Qur’ân yang merupakan kitab suci penutup dan diwahyukan untuk Nabi penutup, Muhammad saw. Sebagaimana saya berharap mudah-mudahan apa yang saya lakukan bisa bermanfaat bagi para pembaca Al-Qur’ân baik itu dari kalangan orang-orang Islam sendiri maupun dari kalangan non-Muslim dan saya berharap semoga dengan usaha ini Allah memberikan maaf dan ridla-Nya, karena sesungguhnya Dia adalah dzat yang maha mulia.

Apabila dalam usaha saya ini saya menemukan kebenaran, itu tidak lain dikarenakan hidayah dan petunjuk Allah dan apabila dalam usaha ini saya mendapatkan kesalahan hal itu murni merupakan kesalahan yang datang dari diri saya sendiri dan sesungguhnya Allah Insyallah akan mengampuni keterbatasan dan keluputan saya, karena Dia adalah Dzat pengampun segala dosa-dosa manusia.Kecuali dosa-dosa orang-orang yang menyekutukan-Nya, karena hal tersebut merupakan syirik yang maha besar dan Ia adlah pengampun dosa-dosa selain itu-Syirik- bagi siapa saja yang Dia kehendaki.

Sesudah peradaban Islam membawa bendera ilmu pengetahuan ilmiah, ekpertis, dan pemikiran diberbagai sisi kehidupan selama sepuluh abad atau lebih sesudah peradaban Islam colapse alias mengalami kejumudan, maka tindakan amoral dan asusial kembali menguasai kehidupan pemuda-pemudi kita yang sampai saat ini masih meraba-raba dan mencari cara untuk meng-counter serangan globalisasi yang sedemikian rupa diagendakan oleh negara-negara Barat terhadap negara-negara dunia ketiga-secara umum-dan negara-negara Arab-Islam secara khusus dengan mengatasnamakan institusi internasional yang sesat dan menyesatkan. Maka hal tersebut tentu saja menimbulkan perpecahan keluarga dan pelecehan terhadap wanita, sehingga berimbas pada kerusakan masyarakat dan terjauhnya mereka dari agama yang benar serta bertambahnya angka kriminalitas, pecandu narkoba, deviasi sosial, krisis mentalitas, pembunuhan dengan sengaja dan juga bunuh diri (suicide).

Dan tidak ada penyelesain dari semua deretan krisis memilukan tersebut kecuali dengan kembali kepada Kitabullah yang orisinalitasnya terjaga sesuai dengan bahasa ketika Al-Qur’ân tersebut diwahyukan. Yaitu, bahasa Arab, yang dijaga oleh Allah kalimat demi kalimat dan huruf demi huruf, dan tidak mungkin bagi akal untuk merubahnya dengan membuat-buat semacam dengannya atau memberikan deviasi di dalam Al-Qur’ân itu sendiri. Ditemukan pada setiap permasalahan di dalam Al-Qur’ân yang membuktikan bahwasannya ia adalah kitabullah yang maha pencipta, yang tidak akan ada di dalam Al-Qur’ân satupun kebatilan yang datang dari kekuasaan–Nya. Sesungguhnya Al-Qur’ân adalah mukjizat dalam setiap penjelasan, isi dan setiap sisi yang terkandung di dalamnya.

http://religiusta.multiply.com/journal/item/151

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s