Pemimpin Perempuan


Pemimpin Perempuan

Nurjannah IsmailOpini

KEHIDUPAN umat selalu mengalami perubahan, termasuk dalam persoalan nilai yang dijadikan ukuran standard. Akibat perubahan ini, terutama era ilmu pengetahuan dan tekhnologi, maka hampir segala sesuatu selalu dinilai dengan pertimbangan rasio atau akal. Karena itu, banyak produk hukum Islam, termasuk hal politik kenegaraan tidak bisa diterima begitu saja, karena tidak sesuai dengan pertimbangan akal sehat. Salah satunya, kepemimpinan politik perempuan. Hadis yang dijadikan landasan agar tidak boleh ada kepemimpinan politik perempuan dipandang sudah tak relevan lagi dengan perubahan kondisi struktur sosial, ekonomi, dan teknologi.

Menurut jumhur ulama, syarat yang harus dipenuhi seorang khalifah (kepala negara) adalah laki-laki. Hal tersebut didasarkan pada respons Nabi saw saat mendengar berita masyarakat Persia telah memilih putri Kisra sebagai pemimpin, kemudian Nabi saw bersabda yang artinya. “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan,” Hadis itu, dipahami sebagai isyarat perempuan tak boleh dijadikan pemimpin dalam urusan pemerintahan atau politik. Oleh karena itu banyak ulama menyatakan perempuan tidak sah menjadi khalifah/imam. Para ulama menanggapi hadis ini sebagai ketentuan bersifat baku-universal, tanpa melihat aspek-aspek terkait dengan hadis, seperti kapasitas diri Nabi saw ketika mengucapkan hadis, suasana yang melatarbelakangi munculnya hadis, setting sosial yang melingkupi sebuah hadis.

Padahal, segi-segi yang berkaitan dengan diri Nabi saw dan suasana yang melatarbelakangi terjadinya hadis mempunyai kedudukan penting dalam pemahaman hadis secara utuh. Hadis yang berbicara tentang larangan perempuan menjabat sebagai pemimpin memiliki sanad sahih (sahih al-isnad). Jumhur ulama memahami hadis kepemimpinan politik perempuan secara tekstual. Mereka berpendapat, berdasarkan petunjuk hadis tersebut, pengangkatan perempuan menjadi kepala negara, hakim pengadilan, dan berbagai jabatan politis lainnya dilarang. Sebenarnya, jauh sebelum hadis itu muncul, yakni pada masa awal dakwah Islamiah ke beberapa daerah dan negeri. Pada saat itu Nabi saw pernah mengirim surat kepada pembesar negeri lain dengan maksud mengajak mereka memeluk Islam. Di antara pembesar yang dikirimi surat adalah Kisra Persia. Adalah Abdullah ibn Huzaifah Al-Shami yang diutus Rasul untuk mengirimkan surat tersebut kepada pembesar Bahrain. Oleh pembesar Bahrain surat tersebut diberikan kepada Kisra. Kisra menolak dan bahkan merobek-robek surat Nabi. Menurut riwayat Ibn Al-Musayyab, setelah peristiwa itu sampai kepada Nabi, kemudian Nabi bersabda, “Siapa saja yang telah merobek-robek suratku, dirobek-robek (diri dan kerajaan) orang itu,”

Tidak lama kemudian, kerajaan Persia dilanda kekacauan dan berbagai pembunuhan yang dilakukan keluarga dekat raja. Pada ahkhirya, diangkatlah seorang perempuan, Buwaran binti Syairawaih bin Kisra (cucu Kisra), sebagai ratu Kisra di Persia. Buwaran dipilih sebagai pemimpin, sebab ayahnya meninggal dunia dan anak laki-lakinya (saudara Buwaran) telah mati terbunuh tatkala melakukan perebutan kekuasaan. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 9 H. Dari segi setting sosial dapat terkuak, bahwa menurut tradisi yang berlangsung di Persia sebelum itu, jabatan kepala negara (raja) dipegang laki-laki. Sedang yang terjadi pada tahun 9 H tersebut menyalahi tradisi, sebab yang diangkat sebagai raja bukan laki-laki, melainkan perempuan. Pada waktu itu, derajat kaum perempuan di mata masyarakat berada di bawah kaum lelaki. Perempuan sama sekali tidak dipercaya untuk ikut serta mengurus kepentingan masyarakat umum, terlebih lagi dalam masalah kenegaraan.

Dalam kondisi kerajaan Persia dan setting sosial seperti itu, wajar Nabi saw yang memiliki kearifan tinggi, melontarkan hadis bahwa bangsa yang menyerahkan masalah (kenegaraan dan kemasyarakatan) kepada perempuan tidak akan sukses. Bagaimana mungkin akan sukses, jika orang yang memimpin itu adalah orang yang sama sekali tidak dihargai oleh masyarakat yang dipimpinnya. Mencari petunjuk hadis dengan mengaitkan pada kapasitas Nabi saw  saat menyabdakan hadis, apakah sebagai seorang rasul, kepala negara, panglima perang, hakim, tokoh masyarakat atau seorang pribadi manusia biasa, merupakan sesuatu yang sangat penting sebagaimana dikatakan Mahmud Syaltut: “Mengetahui hal-hal yang dilakukan Nabi saw dengan mengaitkannya pada fungsi Nabi saw ketika hal itu dilakukan, sangat besar manfaatnya,”

Berkaitan dengan hadis kepemimpinan politik perempuan di atas, dapat dikatakan, Nabi saw saat menyampaikan hadis tersebut bukan dalam kapasitas sebagai Nabi dan Rasul yang pembicaraannya pasti mengandung kebenaran dan dibimbing wahyu, tetapi harus dipahami, pendapat Nabi saw yang demikian itu disabdakan dalam kapasitas beliau sebagai manusia biasa (pribadi) yang mengungkap realitas sosial keberadaan masyarakat (bayan al-waqi’) pada saat hadis itu disabdakan dalam rangka mengantisipasi kemungkinan buruk yang terjadi di kemudian hari andai pemimpin itu diserahkan pada perempuan yang secara sosial tidak mendapat legitimasi dari masyarakat.

Dengan demikian hadis tentang pernyataan Nabi saw dalam merespons berita pengangkatan putri Kisra sebagai pemimpin Persia tersebut sama sekali tidak terkait dengan wacana persyaratan syar’i kepala negara. Namun, hanya merupakan informasi mengenai pendapat pribadi Nabi saw yang memberikan peluang adanya dua kemungkinan.  Pertama, boleh jadi, sabda Nabi saw itu merupakan doa agar pemimpin negeri Persia itu tidak sukses dan jaya dikarenakan sikapnya menghina dan memusuhi Islam, sebagaimana sikap dan tindakan yang pernah beliau tunjukkan pula pada saat menerima kabar tentang dirobeknya surat Nabi saw oleh Kisra Persia. Kedua, boleh jadi, hal itu merupakan pendapat pribadi Nabi saw yang didasarkan pada realitas tradisi masyarakat saat itu yang tidak memungkinkan seorang perempuan memimpin negara, karena tidak mendapat legitimasi dan tidak dihormati masyarakat jika dipercaya menjadi pemimpin mereka.

Jadi memaksakan hadis yang berbentuk ikhbar (berita) ke dalam masalah syariah terutama masalah kepemimpinan politik perempuan adalah tindakan yang kurang bijaksana dan kurang kritis serta tidak proporsional. Selain itu, jika hadis tersebut dipahami sebagai pesan dan ketentuan dari Nabi saw yang mutlak mengenai syarat seorang pemimpin, maka akan terasa janggal, karena peristiwa di atas tidak terjadi di dunia Islam (baca: negara Arab Islam), sehingga tidak mungkin Nabi saw menyatakan ketentuan suatu syarat bagi pemimpin negara muslim dengan menunjuk fakta yang terjadi di negara nonmuslim (baca: Persia yang belum Muslim).

Kalau hadis ini dipaksakan sebagai syarat bagi kepemimpinan politik, termasuk di negara nonmuslim, maka selain tidak rasional (karena Nabi saw ikut campur dalam urusan politik negara nonmuslim) juga tidak faktual. Artinya, penetapan syarat pemimpin harus laki-laki, maka bagaimana dengan negara Islam saat ini yang sebagian ada yang dipimpin perempuan, namun tetap sukses. Berarti sabda Nabi saw ini jelas bertentangan dengan fakta yang ada. Bahkan dalam Alquran pun dijumpai kisah tentang perempuan memimpin negara dan meraih sukses besar, yaitu Ratu Balqis di negeri Saba’.

Analisis dan kesimpulan seperti ini juga diperkuat dengan tidak ditemukannya sebuah hadis pun yang secara jelas mensyaratkan pemimpin harus laki-laki. Ini berarti, hadis di atas harus dipahami secara kontekstual karena memiliki sifat temporal, tidak universal. Hadis tersebut hanya mengungkap fakta yang nyata tentang kondisi sosial pada saat hadis itu terjadi dan berlaku untuk kasus negara Persia saja.

Meski hadis larangan kepempimpinan politik perempuan dinilai sahih, ternyata masih dapat didiskusikan. Di kalangan ulama ada yang tidak sepakat terhadap pemakaian hadis tersebut bertalian dengan masalah perempuan dan politik. Tetapi banyak juga yang menggunakan hadis tersebut sebagai argumen untuk menggusur perempuan dari proses pengambilan keputusan.

* Dr. Nurjannah Ismail, MA Dosen Pascasarjana IAIN A-Raniry, Banda Aceh.

http://www.serambinews.com/news/view/40874/pemimpin-perempuan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s