DARI ACEH: MEWUJUDKAN MONUMEN ISLAM ASIA TENGGARA


Dari Aceh:

Mewujudkan

Monumen Islam

Asia Tenggara


Oleh: Tim Peneliti Sejarah Aceh


Diterbitkan Oleh

Yayasan Al-Mukarramah Banda Aceh

Email: almukarramah@yahoo.com

ISBN NOMOR 978-602-97996-0-6

PENGANTAR PENERBIT

Aceh telah memainkan peranan penting di Nusantara dalam beberapa kurun yang lalu. Posisi Aceh yang berada di lintasan perjalanan dunia membuat daerah ini menjadi singgahan banyak pelayar dari seluruh dunia, sehingga Islam ketika mulai menginjakkan kaki di wilayah Asia Tenggara mampir pertama kali di Aceh.

Walau  masih ada silang pendapat tentang dimana Islam masuk pertama kali, di Peureulak atau Pasai, secara umum para pakar sepakat bahwa Aceh memang daerah yang pertama kali disinggahi Islam untuk kawasan Asia Tenggara.

Merujuk kepada seminar nasional tahun 1980 di Kuala Simpang tentang sejarah masuknya Islam di Nusantara, sejarawan yang hadir disana berkesimpulan bahwa Peureulak merupakan daerah yang pertama kali masuk Islam di Aceh.

Untuk menindak lanjuti hasil seminar tersebut dibentuklah Yayasan Monumen Islam Asia Tenggara yang bertugas mewujudkan mimpi besar, menjadikan Aceh sebagai pusat Islam di Asia Tenggara.

Namun seiring perjalanan waktu gaung tersebut kian redup, banyak masyarakat Aceh yang sudah tidak peduli lagi dengan obsesi tersebut.

Untuk itu diadakan penelitian dan penulisan buku ini supaya masyarakat Aceh sadar akan pentingnya ide besar itu diperhatikan oleh semua pihak demi kejayaan Aceh di masa yang akan datang.

Untuk itu Yayasan Al-Mukarramah Banda Aceh bekerjasama dengan Yayasan Monisa Aceh Timur dalam menerbitkan buku ini sehingga bisa hadir di hadapan pembaca sekalian.

Kami ucapkan terima kasih tak terhingga kepada semua pihak khususnya Tgk. Mulyadi Nurdin, Lc yang telah memfasilitasi buku ini untuk diterbitkan oleh Yayasan Al-Mukarramah Banda Aceh.

Banda Aceh, Juni 2010

Yayasan Al- Mukarramah

Ketua

Salman Varisy, S.Ag

Sambutan Ketua Umum

Yayasan Monisa

Bismillahirrahmanirrahim,

Alhamdulillah, buku tentang Monisa ini sudah ada di tangan kita. Ini buku yang sangat penting untuk kembali memperlihatkan kejayaan Peureulak pada masa lalu. Harapannya, dengan buku ini kejayaan itu tidak hilang ditelan jaman. Dengan demikian, generasi penerus menjadi tahu tentang tanah Peureulak yang berukir sejarah gemilang. Sudah pasti, semangat kejayaan itu bisa menjadi contoh dan tauladan agar generasi baru ini memperjuangkan kejayaan itu kembali di masa akan datang.

Selain itu, yang tak kalah penting, buku ini merupakan upaya untuk membangkitkan kembali semangat untuk membangun Monumen Islam Asia Tenggara (Monisa) yang pernah digagas dan diperjuangkan oleh para tokoh-tokoh Islam Nusantara dan Asia Tenggara lewat Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara di Kuala Simpang pada 1980. Upaya itu didukung penuh oleh pemerintah daerah dan masyarakat.

Harapannya, sudah pasti, gagasan dan perjuangan untuk membangun Monisa bisa dihidupkan kembali. Bagaimana pun, monumen itu sangat penting sebagai penanda bahwa di Aceh, khususnya Peureulak, adalah tempat pertama berkembangnya kerajaan Islam di Nusantara. Kami dari Yayasan Monisa akan terus berupaya dan mendorong agar semangat untuk membangun Monisa itu terus berkobar sehingga pada suatu waktu yang tidak terlalu lama, hal itu bisa diwujudkan.

Untuk itu, kami sangat membutuhkan dukungan dari pelbagai pihak, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Aceh, Pemerintah Daerah Aceh Timur, juga masyarakat Islam Nusantara dan Dunia. Dengan buku ini, kami berharap bisa mengabarkan sekaligus mengobarkan kembali gagasan itu kepada berbagai pihak demi terwujudnya monumen penting itu.

Terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Aceh, Pemerintah Daerah Aceh Timur, dan masyarakat yang selama ini tak henti-hentinya mendukung upaya menghidupkan kembali Monisa. Terima kasih secara khusus kami haturkan kepada Yayasan Al-Mukarramah Banda Aceh yang telah bersedia bekerjasama dalam menerbitkan buku ini.

Kepada Allah SWT kita berdoa dan berharap, sambil terus berikhtiar, agar semua keinginan dan cita-cita luhur kita bisa tercapai. Amin.

Yayasan Monisa

Badlisyah

Ketua Umum

Pengantar Tim Penulis

Peureulak, Aceh Timur, Nanggroe Aceh Darussalam, adalah tambang kehidupan dari massa ke masa. Bagi sejarawan dan arkeolog, Peureulak merupakan ladang yang melimpah dengan aneka peristiwa. Mereka menemukan berbagai situs yang berserak di sawah, ladang, dan halaman rumah-rumah penduduk.

Tak cukup, para ilmuwan sosial itu mengunduh tradisi lisan yang terjaga apik secara turun-temurun, data tertulis yang disimpan di laci dan plafon sampai perpustakaan serta museum di dalam dan luar negeri. Lantas mengunyahnya menjadi tulisan mencengangkan dunia: Aceh telah berinteraksi dengan Islam pada awal tarikh Hijriyah, dan berbentuk kerajaan Islam pada abad kedua Hijriyah, seperti Kerajaan Peureulak dan Samudera Pasai.

Sebuah tonggak yang diklaim sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara. Sampai-sampai para peserta Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara pada 1980 merekomendasikan pembangunan Monumen Islam Asia Tenggara disingkat Monisa di Peureulak, Aceh Timur.

Letaknya yang strategis karena berada di tengah-tengah alur pelayaran dunia, serta tanahnya yang subur dengan hasil pertanian dan perkebunan berkualitas tinggi, membuat Aceh bukan hanya sebagai daerah persinggahan para saudagar dan penyebar agama, melainkan juga cocok untuk menetap. Di kuala-kuala yang mata airnya berasal dari pegunungan Bukit Barisan, mereka membangun pelabuhan-pelabuhan dan kerajaan-kerajaan termasyhur.

Rupanya Aceh menjadi daerah yang subur sejak jutaan tahun silam. Tumbuhan, hewan, manusia, dan air ini kelak menjadi fosil. Nah, fosil-fosil yang telah terpendam di kedalaman ribuan meter ini kemudian berubah menjadi lautan minyak dan gas.

Kini, hasil bumi yang subur jutaan tahun silam itu menggiurkan perusahaan perminyakan kelas dunia.  Para insinyur pertambangan melakukan penelitian, uji seismik, dan menemukan minyak dan gas berkualitas nomor wahid. Merekapun engeksploitasi karunia yang dilimpahkan Allah Subhanahu Wataallah, dan menyulapnya menjadi sumber devisa terbesar bagi negara.

Penulis

Peureulak, Negeri Makmur  di Alam Subur

Di mana ada minyak dan gas, di situ pernah ada kerajaan besar. Allahumma anzili rahmata, wal maghfirota, wal syafaata, wal rizkika,wal ttaufika, wal hidayah.

Sepotong doa membahana di delapan penjuru hutan Bukit Pala, Peureulak, Aceh Timur, Nanggroe Aceh Darussalam. Mendayu-dayu dari arah puncak bukit, berkolaborasi dengan tahlil, tahmid, dan salawat, yang dilafalkan oleh sekitar 300 orang petani. Doa berpadu dengan aroma daging kambing dan sapi berbumbu rempah yang diolah puluhan orang kaum hawa.  Hukmahnya seakan meruap ke puncak langit.

Suasana makin hidmat, karena doa-doa memohon keselamatan digelar di sekeliling pusara yang diyakini sebagai makam Teungku Nur Khadimah. Pada papan di  nisan tertulis “Tgk. Nur Khadimah, berkuasa 225 H-249H/846 M-864 M”. Dalam cerita rakyat Aceh, Nur Khadimah adalah seorang panglima ketika Peureulak dipimpin Sultan Abdullah Syah.

Tatkala matahari mendekati ubun-ubun, doa-doa kepada Allah Subhannahu Wa Taala mendekati akhir, asap dan bara kayu bakar mulai padam, rencana  kerja petani telah matang. Giliran para petani, tokoh adat, keucik, kepala mukim, sampai pejabat pemerintah menyantap sajian khas Aceh: gulai, kari, rendang, dan pli-u.

“Upacara ini kami sebut Kenduri Blang,” kata Kepala Mukim setempat, Abdullah Hakim Amin. Sebuah prosesi rasa syukur kepada Sang Khalik atas hasil panen padi di sawah mereka yang melimpah, sekaligus sebagai persiapan turun ke sawah pada awal musim tanam.

Kenduri Blang merupakan tradisi petani Aceh sejak ratusan tahun silam. “Sangat erat kaitannya dengan kebersamaan masyarakat tani untuk menanam secara serentak,” kata Kepala Bidang Usaha Tani dan Pengembangan Dinas Pertanian dan Hortikultura Kabupaten Aceh Timur, Arnaz Zurham.

Rupanya doa dan rencana kerja dalam Kenduri Blang benar-benar menjadi penguat motifasi para petani agar lebih gigih dan sabar dalam bekerja. Dengan begitu, produktifitas hasil pertanian mereka bisa meningkat.

Falsafah itu tidak sia-sia. Lihatlah, dari lahan sawah seluas 34.048 hektare dan tegalan hampir 200 ribu hektare di Aceh Timur, produktifitas petani mengalami peningkatan. Kalau pada 2007 produksi beras sebesar 198.103 ton, pada Agustus 2008 sudah mencpai 148 ribu ton. “Semoga melampai 200 ton pada akhir tahun” kata Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Kabupaten Aceh Timur, Marwi Umar.

Mawi mengakui, saat ini terdapat 11.000 hektare lahan pertanian yang telantar akibat berbagai sebab, terutama konflik panjang, gagal panen, tidak ada irigasi, kekurangan modal, dan banjir. Meski dengan dana terbatas, pemerintah berupaya memperhatikan masyarakatnya. Sebagai contoh, “Tahun ini kami akan membuka 1.000 hektar lahan telantar menjadi produktif,” ujar Marwi.

Tidak hanya padi, semua komoditas tanaman pangan di sini tumbuh bagus dan subur, seperti jagung kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi jalar, ubi kayu, sayuran, dan buah-buahan. “Bahkan jagung Aceh Timur masuk pasar ekspor bekerja sama dengan PT Popan”. Adapun perkebunan meliputi kelapa sawit, karet, kakao, pinang, kopi, kemiri, kelapa, dan lada.

Hasil pertanian dan perkebunan yang melimpah ini tentu saja terkait erat dengan kesuburan tanah. Tanah merupakan faktor produksi yang amat penting untuk pelaksanaan usaha agribisnis, karena hasil produktivitas pertanian sangat ditentukan oleh tingkat kesuburan tanah.

Menurut Marwi, keragaman tanah Aceh Timur menunjukkan tanah yang subur, karena dari jenis podsolik merah kuning (PMK), mediteran, dan organosol atau alluvial. Tanah jenis ini terdapat di hampir semua kecamatan. Jenis tanah latosol dan podsolik tersebar di Kecamatan Idi Rayeuk, Rantau Selamat, Ranto Peureulak, Birem Bayeun, dan Serbajadi.

Tanah jenis alluvial merupakan endapan berbagai sumber alam. Bisa karena erosi, banjir, curah hujan yang tinggi, pelapukan, sampai sungai dari gunung yang membawa lumpur. “Kondisi ini didukung pula oleh iklim yang bagus, dan curah hujan sepanjang tahun,” kata Marwi.

Curah hujan di Aceh Timur sekitar 1.673 milimeter per tahun atau 139,42 milimeter per bulan. Jumlah waktu hujannya 84 hari per tahun atau tujuh hari per bulan. Hujan basahnya sekitar tiga bulan antara Oktober sampai Desember, bulan kering selama tiga bulan, dan bulan lembab selama enam bulan. Curah hujannya berkisar 1.500-3.000 milimeter per tahun. Adapun suhu udara cukup normal namun bervariasi antara 26-30 derajat celsius.

Karunia Ilahi Rabbi bagi Aceh Timur ini berlangsung sepanjang masa. Buktinya, selama berabad-abad nama Peureulak dikenal penjuru dunia sebagai daerah penghasil pertanian yang unggul, terutama rempah-rempahnya.

Selama jutaan tahun, tanah dan tanaman subur, bebatuan dan air, sampai hewan  dan manusia, itu terkubur hingga ribuan meter di perut bumi Aceh Timur. Sebagian memfosil, membentuk hidrokarbon, minyak, gas bumi, batu bara, dan panas bumi.

Aceh Timur juga memiliki potensi kekayaan mineral logam, meliputi tembaga (copper), timah hitam (lead), seng (zinc), molibdenit (molybdenite), emas, perak, dan pyrite. Sedangkan potensi mineral nonlogam meliputi batu gamping, granit, batu sabak, mika, lempung, pasir, sirtu, dan kerikil. Perairan Aceh Timur yang terletak di Selat Malaka juga memiliki kekayaan ikan-ikan yang melimpah ruah.

Sudah lazim, di mana ada ada lahan subur, di situ terjadi perebutan wilayah kekuasaan. Dan, penguasa yang paling kuat dan unggullah yang pantas berkuasa di sana. Perpaduan antara penguasa kuat dan unggul dengan lahan yang subur membuat wilayah tersebut menjadi magnit bagi semua kelas dan golongan dengan beragam maksud dan tujuan, mulai sebagai produsen, perantara, pedagang, pegusaha, politisi, ulama, sampai buruh.

Pemerintahnya kaya dan terkenal, penguasa dan rakyatnya makmur, Sampai-sampai budayawan dan sejarawan Aceh, almarhum Ali Hasyimi berpendapat, “Di mana ada minyak dan gas, di situ pernah ada kerajaan besar”.  Pendapat Hasmy ada benarnya.

Lihatlah di Aceh Utara yang memiliki gas alam Arun, pernah berkuasa Kerajaan Samudera-Pasai pada abad ke-13 Masehi, Kalimatan Timur dengan Kerajaan Kutai abad ke-5 Masehi, Jakarta-Bekasi-Karawang dengan Kerajaan Tarumanagara abad ke-5 Masehi, Palembang dengan Kerajaan Sriwijaya abad ke-7.

Sedangkan Aceh Timur pernah bediri Kerajaan Peureulak. Banyak catatan mentahbiskan raja Peureulak pertama adalah Sayed Maulana Abdullah Aziz Syah yang memerintah pada 225-248 Hijriyah (840-864 Masehi). Berikutnya Sayed Maulana Abdurrahim Syah pada 249-274 Hijriyah (864-888 Masehi), Sayed Maulana Abbas Syah pada 274-300 Hijriyah  (888-913 Masehi), Sayed Maulana Ali Mughayat Syah pada 302-305 Hijriyah (915-918 Masehi), dan Sayed Maulana Muhammad Syah pada 365-377 Hijriyah (979-988 Masehi).

Kalau Kerajaan Peureulak lebih mengandalkan pendapatannya dari hasil pertanian,  perkebunan, dan perikanan. Sedangkan pemerintah masa kini memadukan semua sumber pendapatan itu dengan bahan bakar fosil, minyak dan gas.

Dalam catatan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, potensi energi di Negeri Peureulak itu diperkirakan mengandung cadangan minyak belasan juta barel.

Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Aceh Timur, Irham, selain minyak, Aceh Timur juga memiliki tambang timah hitam yang telah dieksplorasi sebesar 20.250 hektare di Kecamatan Serbajadi.   Adapun tambang emas masih dalam taraf penelitian. “Terdapat potensi yang signifikan di daerah perbatasan dengan Aceh Tenggara,” kata Irham.

Karunia yang melimpah itu membuat Aceh Timur menjadi salah satu daerah penyumbang devisa Negara yang besar. Sebagai imbal balik, pemerintah pusat mengucurkan dana bagi hasil minyak dan gas sebesar 70 persen.

Namun untuk bagi hasil tahun 2008 sempat mengecewakan Bupati Aceh Timur Muslim Hasballah. Karena dana bagi hasil yang masuk ke kas daerah hanya 24 persen. “Sedangkan sebanyak 51 persennya kami kehilangan,” kata Muslim. “Dari bagi hasil kami memperoleh Rp 13 miliar”.

Jika ditambah dengan pendapatan lain, maka Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Aceh Timur menjadi sebesar Rp 515 miliar. Dengan sedikitnya dana bagi hasil, “Kami tidak berani mengatakan apakah rakyat bisa sejahtera dari minyak dan gas,” kata Muslim.

Namun Muslim tidak mau bersungut-sungut menggantungkan hidup daerahnya dari bagi hasil minyak dan gas yang lebih banyak dikuasai pemerintah pusat dan provinsi. Putra Peureulak yang selalu optimistis itu menilai masih banyak cara dan sumber pendapatan yang bisa digali, diolah, dan dikembangkan dari bumi Peureulak nan sumbur. Semua demi kesejahteraan rakyat, seperti yang dilakukan para pemimpin Peureulak masa silam.

Minyak Mengalir Sepanjang Masa

Minyak diperebutkan sejak kemasyhuran Kerajaan Peureulak, Pasai, Sriwijaya, Majapahit, revolusi industri, sampai kini.

Lidah api raksasa itu menjulur-julur dari cerobong besi yang tertancap sekitar seribu meter dari dalam perut bumi Bukit Takteh, Peureulak, Aceh Timur. Peristiwa alam yang telah direkayasa para ilmuwan dan teknisi pertambangan itu bukan terjadi di lapangan luas berpagar pembatas dengan pengamanan kokoh, melainkan dari sela-sela hamparan puluhan ribuan hektare perkebunan kelapa sawit.

Pemandangan seperti ini bukan hanya di Bukit Takteh, tetapi juga kerap dijumpai di tempat-tempat lain di Aceh Timur. Bahkan di beberapa lokasi tiba-tiba mengeluarkan minyak mentah barang beberapa tangki.  Maklumlah, sejak ditinggal perusahaan pertambangan minyak PT Asamera akibat konflik berkepanjangan antara Gerakan Aceh Merdeka dengan Pemerintah Republik Indonesia, sumur-sumur minyak dan gas yang jumlahnya sampai ratusan titik itu, terbengkalai.

Alam dan teknologi yang terbengkalai itu dimanfaatkan pengusaha perkebunan untuk menanam pohon kelapa sawit sebagai bahan baku minyak goreng dan margarin. Pipa-pipa besi baja yang berfungsi sebagai cashing dicopot orang tak dikenal, barangnya tak ketahuan rimbanya. Entah siapa pelakunya. Pihak berwenang bukan  tidak mau mengusut, namun ada yang lebih bernilai dari sekedar saling tuding: perdamaian dan keselamatan.

Di alam damai itulah, terutama paska gempa 8,9 pada Skala Richter dan gelombang Tsunami yang meluluhlantakkan Aceh pada 26 Desember 2004 serta penandatanganan perdamaian di Helsinki, Finlandia, 2006, konflik di Aceh mereda. Pembangunan kembali bergairah.

Minyak dan gas Aceh Timur yang sempat terbengkalai, kembali diperebutkan berbagai perusahaan pertambangan nasional dan multinasional. Belakangan perusahaan minyak dan gas PT Medco E&P Indonesia dan PT Pasific Oil menjadi pemenangnya. Kedua perusahaan ini lantas menghidupkan kembali sumur-sumur minyak terbengkalai itu.

Minyak di Aceh Timur memang layak diperebutkan dan dihidupkan para investor, karena memiliki kandungan yang cukup besar. Kini, potensi energi di Negeri Peureulak itu diperkirakan mengandung cadangan minyak sebesar 13.402 juta barel, sedangkan yang sudah dieksplorasi baru 2.377 juta barel. Adapun potensi gas buminya diperkirakan mencapai 17.252 BSCF, dengan 15.110 yang telah dieksplorasi, dan 2.415 BSCH yang dianggap potensial.

Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Aceh Timur, Irham, produksi minyak bumi yang dihasilkan di Kecamatan Pante Bidari sebesar 724.000,53 barel. Sedangkan minyak bumi dan gas terdapat di sepuluh kecamatan. Selain di Pante Bidari, juga di Birem Bayeun, Sungai Raya, Peureulak, Nurussalam, Indra Makmur, dan Julok.

Rupaya tambang minyak di Aceh Timur memiliki sejarah panjang. Menurut H.M. Zainuddin dalam bukunya, Tarich Atjeh dan Nusantara (1961), minyak pertama kali ditemukan di Peureulak pada abad ke-14. Pada masanya, minyak tanah digunakan untuk menyalakan pelita, obat-obatan, sampai alat perang atau menyerang musuh.

Ketika Peureulak dan Samudera Pasai hendak dikuasai Kerajaan Majapahit pada 1350, pasukan Peureulak dan Samudera Pasai memanfaatkan minyak tanah sebagai amunisi berperang. “Minyak tanah digunakan untuk membakar kapal atau perahu perang musuh,” tulis Zainuddin.

Awalnya ekspedisi Majapahit menyerang Samudera Pasai, namun serangan melalui laut itu digagalkan tentara Samudera Pasai  yang kuat sampai di perbatasan Peureulak. Pada serangan kedua, Majapahit menggunakan jalur laut dan darat. Lagi-lagi serangan laut dipatahkan Samudera Pasai di Kuala Jambo Air dan Lhokseumawe.

Adapun pasukan Majapahit yang menggunakan jalur darat dipukul mundur diantara Peureulak-Peudawa, kemudian mengundurkan diri ke laut dan seberang kuala Peuerulak. Pihak angkatan perang Majapahit dilaporkan mengalami banyak kerugian.

“Sebab kapal-kapal dalam sungai dan kuala diserang dengan rakit bambu yang diisi minyak tanah dibakar,” ujar Zainuddin. Rakit-rakit bambu yang telah berkobar-kobar itu dihanyutkan, sehingga membakar kapal-kapal Majapahit yang tengah berlabuh di kuala dan sungai Peureulak.

Tatkala ilmu pengetahuan terus berkembang dan dunia dilanda revolusi industri pada abad ke-18, bangsa-bangsa Eropa saling berlomba mencari bahan bakar fosil untuk menggerakkan mesin-mesin.

Sebagai salah satu daerah penghasil minyak tanah, Peureulak pun menjadi terkenal, incaran sekaligus perebutan banyak penguasa dan perusahaan asing. Bahkan pemerintah Belanda berupaya menjajah tanah Aceh dengan terlebih dahulu merebut tambang minyak Peureulak.

Ketika Belanda yang dipimpin Kaptain Colijn mendarat di Peureulak pada 1870-an, dia telah memiliki bekal informasi bahwa di Rantau-Panjang, Peureulak, terdapat sumur minyak tanah. Ketika itu tersebar kabar orang-orang kampung menimba minyak mentah menggunakan timba upih pinang.

Minyak tersebut lantas dimasukkan ke dalam bambu (pacok). Di ujung bambu yang telah terisi minyak itu lantas disumbat menggunakan sabut kelapa atau kain, untuk selanjutnya sumbat yang basah oleh minyak tersebut disulut mengguakan api, jadilah pelita atau obor.

Penguasaan atas Peureulak membuat Colijn membawa keuntungan besar bagi pemerintah Belanda dan dirinya. Ternyata selain ia membuat laporan kepada pemerintah, dia juga menjual kabar adanya kandungan minyak di Peureulak kepada perusahaan (maatschappy) minyak tanah.

Kerja Colijn tidak sia-sia. Atas jasanya pada 1897 sebuah perusahaan minyak Belanda, Holland Perlak Petroleum Maatschappy, meminta konsesi eksploitasi tambang minyak di Alur Mas (Alue Meuih).

Kemudian pada 1908 perusahaan minyak Bataafsche Petroleum Maatchappy (BPM) juga membuka pengeboran minyak di Rantau Panjang, di seberang sungai Alur Mas yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari Alur Mas. Semua minyak tanah itu dialirkan menggunakan pipa yang panjangnya mencapai 128 kilometer ke Pangkalan Brandan.

Di sana, minyak-minyak diolah dan diekspor ke luar negeri. Memang, pada awalnya perusahaan minyak tersebut akan membuat pabrik pengolahan minyak di Rantau Panjang Bayeun, namun karena uleebalang negeri Peureulak, Teuku Chi Muda Peusangan Abu Bakar tidak mau bertanggungjawab, akhirnya minyak itu dialirkan ke Pangkalan Brandan.

Sejarah mencatat, tambang minyak Peureulak paling banyak menghasilkan minyak tanah. “Pada masa itu belum ada sumur-sumur minyak di tempat lain, hanya di Peureulak dan Langkat,” ujar Zainuddin. Barulah pada 1928 ditemukan lagi sumur minyak tanah di Rantau Kuala Simpang dan di Cunda, Lkoseumawe.

Termasyhur Berkat Kayu Peureulak

Pohon peureulak dibudidayakan, agar generasi muda tak lupa sejarah kotanya.

Sampan-sampan berbahan kayu peureulak berjejer, berhimpitan bersama puluhan unit sampan terbuat dari kayu ketapang, santalun, dan medang pancang. Terpajang di tepi Jalan Medan-Banda Aceh, Kampung Bayan Alur Itam, Kecamatan Birem Bayeun, Kabupaten Aceh Timur.

Bagi para nelayan, sampan-sampan yang dipajang Muhammad Ali Yunus, 45 tahun, itu tak ubahnya sebuah show room mobil dan motor yang dipajang berderet-deret beberapa kilometer di Kota Langsa. Bedanya, kalau mobil dan motor digunakan sebagai alat transportasi darat masa kini, sedangkan sampan untuk bahan dasar pembuatan perahu yang digunakan sebagai alat transportasi air: sungai dan laut.

Sampan berukuran panjang 5 meter, lebar 1 meter, dan tebal 25 inci itu dilepas Yunus dengan harga mulai Rp 800 ribu sampai Rp 1,8 juta. “Tergantung jenis kayunya,” kata Yunus. Yang paling mahal sampan berbahan kayu medang pancang, Rp 1,8 juta. Alasannya, “Kayunya keras, tahan hingga 10 tahun,” ujarnya.

Sedangkan sampan dari jenis sentalun, ketapang, dan peureulak, dijual dengan harga sekitar Rp 800 ribu. Meski harganya relatif sedang, namun sapan dari kayu peureulak termasuk yang paling disukai para pembuat sampan maupun pemesannya. Bagi pembuat sampan, kayu peureulak meski diperoleh di sekitar daerah Lokop, Aceh Timur, yang berbatasan dengan Kabupaten Gayo Luwes, namun mudah diperoleh. “Lebih dari itu, mudah dipahat,” kata Yunus.

Adapun bagi pemesan yang kebanyakan dari kalangan nelayan dan pencari pasir sungai, kayu peureulak ringan namun  tahan dari resapan air. “Nggak menghisap air dan nggak mudah lapuk,” ujarnya.

Kelebihan kayu peureulak dibenarkan Rusli Jafar, pedagang kayu yang malang melintang selama puluhan tahun antara Peureulak-Peunarun. “Kayu peureulak bagus untuk perahu, mebel, dinding dan plafon rumah,” kata Rusli.

Alasannya, selain ringan kayu peureulak juga sulit ditaklukkan rayap. “Rayap nggak suka. Nggak enak mungkin, pasti dari getahnya nggak bisa dimakan oleh dia (rayap),” ujar Rusli.

Berdasarkan cerita turun temurun, kata Rusli, kayu peureulak yang tua dan besar menjadi lebih kuat setelah melalui tahapan pengolahan. Dahulu, siapapun yang mencari kayu peureulak tidak perlu repot-repot, karena banyak tersedia di sekitar Kreung Peureulak yang lebar dan meluk-liuk sejak dari hulunya di Peunarun dan bahkan Gayo Luwes, sampai ke muaranya  di Aceh Timur.

Saking banyaknya persediaan kayu peureulak, sampai-sampai daerah dan sungai yang bermuara ke Selat Malaka tersebut ditahbiskan banyak penulis sebagai kota dan sungai Peureulak. “Peureulak, artinya menurut nama pohon kayu yang kebiasaan dibuat perahu,” kata H.M. Zainuddin dalam bukunya, Tarich Atjeh dan Nusantara.

Menurut Zainuddin, Peureulak merupakan satu negeri tertua di Sumatera. “Yang namanya tinggal tetap tidak berubah-ubah,” katanya.  Buktinya, kata dia, para musafir Cina, Arab, Parsi, Hindustan, Italia, Portugis, sebelum abad ke-13 telah menulis dalam kitab perjalanannya masing-masing menyatakan sempat singgah di Peureulak, sebuah negeri yang terletak di antara Samudera Pasai dan Aru.

“Lebih terang lagi dalam kisah perjalanan bangsa Italia Marcopolo dalam tahun 1292 yang menyebut perikeadaan penduduk Perlec (Peureulak),” kata Zainuddin. Jadi, Zainuddin kembali menegaskan keyakinannya, kerajaan Peureulak lebih tua dari kerajaan Tumasik (Singapura) dan Bintan. “Juga jauh lebih tua dari kerajaan Pasai dan Malaka, yang mungkin sebaya dengan kerajaan Aru dan Palembang (Sriwijaya),” kata Zainuddin.

Ternyata penyebutan nama Peureulak benar-benar tidak lekang sampai masa-masa kerajaan Islam Nusantara, penjajahan Belanda, dan Republik Indonesia. Seorang pencatat perjalanan asal Parsi, Rasyiduddin, menyebutkan bahwa pada 1310 menyebut nama Peureulak. Pemerintah Hindia Belandapun menerakan kata “Peureulak” dalam arsip-arsipnya, baik dalam surat-surat resmi, peta Aceh Timur tahun 1930-an, maupun Encyclopedia van Nederlandsch Indie karya Prof. Mr. J. Paulus terbitan 1919.

Peureulak yang termasyhur itu kemudian menjadi legenda sepanjang masa. Lihatlah Hikayat Aceh, Hikayat Raja-raja Pasai, Sejarah Melayu, sampai Hikayat Putri Nurul A’la. Para penulisnya menyebut-nyebut Peureulak dengan amat gamblang.

Menurut cerita yang dipercaya atau tidak, kata Rusli, jaman dulu terjadi pembuatan bahtera terbuat dari kayu.  Bahtera itu dibuat di atas bukit di daerah Peunarun. Kalau kita datang ke Peunarun, ujar Rusli, orang-orang tua di sana mengklaim bisa menunjukkan lokasi pembuatan bahtera. “Mereka bilang, bahtera ini asalnya dari kayu peureulak. Dan kayu peureulak itu bukan tanggung besarnya,” kara Rusli.

Malahan ada cerita menyatakan kayu peureulak ikut menyelamatkan ka’bah beberapa abad silam saat terjadi banjir besar yang merendam Masjidil Haram, Mekkah. Konon, banjir dikhawatirkan  bakal membenam ka’bah. Kebetulan ada seorang saudagar dari Aceh membawa perahu ke Arab. Dengan keikhlasannya, sang saudagar membongkar perahu yang terbuat dari kayu peureulak. Lantas kayu-kayu perureulak itu digunakan sebagai pelindung dan penyangga ka’bah.

Namun, seiring perjalanan waktu, generasi muda Aceh masa kini mulai banyak yang tidak tahu bentuk, jenis, dan lokasi tumbuhnya pohon Peureulak. Bisa dipastikan, bila tidak ada upaya penyelamatan dan penanaman  kembali  pohon peureulak, generasi mendatang mengetahui kayu perureulak hanya dari gambar yang terpajang di buku-buku.

Sinyal mulai memudarnya pengetahuan tentang kayu peureulak tengah berlangsung. Buktinya, seiring dengan kian pesatnya perkembangan tekonologi pemotong dan pemahat kayu, kayu peureulak ditinggalkan. Karena kini ada beberapa jenis kayu yang dinilai lebih kuat, tahan lama, dan jauh lebih mahal, seperti meranti batu atau semaram, damar, dan merbau.

“Mungkinkah ini soal tren saja,” kata Rusli. Saat ini  di mana-mana orang membangun rumah menggunakan kayu damar atau merbau. “Karena dianggap lebih kuat, lebih bagus, dan sulit dimakan rayap,” ujarnya. Tragisnya, “Sekarang malah kayu peureulak banyak digunakan untuk mengecor pondasi banguan, dianggap kayu sembarangan,” kata Rusli.

Ketua Yayasan Monumen Islam Asia Tenggara (Monisa) Badlisyah yang paling bertangungjawab secara kultur terhadap pelestarian nilai-nilai Peureulak terhenyak. “Saya khawatir sejarah Peureulak hilang bersamaan dengan punahnya spesies kayu peureulak,” kata Badlisyah.

Meski begitu, dia yakin krisis ini bisa diselamatkan. Caranya, “Saya akan mempeloporinya dengan menanami pohon peureulak pada sepertiga lahan perkebunan yang tengah saya rintis,” ujar Badlisyah. Bila sudah bisa dipanen, kayu-kayu peureulak ini diantaranya akan dijadikan produk kerajinan cindera mata. “Seperti gantungan kunci dan protoive perahu peureulak,” kata Badlisyah.

Semangat memperkenalkan dan melestarikan kayu peureulak juga  disampaikan Ketua Pelaksana Pembangunan Museum H. T. Chik Muhammad Thayeb, T Syahril. Diantaranya dengan cara menempatkan sampan atau perahu yang terbuat dari kayu peureulak di dalam museum. “Agar lebih hidup, kami akan menanam beberapa pohon peureulak di halaman museum,” ujar Syahril.

Peureulak Kerajaan Islam Pertama

Kedua negara Islam itu memang sebaya.

Matahari sudah naik sejengkal dari batas cakrawala Selat Malaka. Puluhan ekor lembu bergerombol di pasir pantai sebelah timur Muara Sungai Peureulak, Beusa Seberang, Peureulak Barat, Aceh Timur.  Dua tiga ekor berkejaran, bercanda tanpa ada yang menganggu. Bocah gembala memandikan hewan yang layaknya hidup di persawahan yang berjarak beberapa kilometer ke arah pedalaman.

Sisa-sisa kehancuran masih tampak jelas dari pondasi kokoh yang patah dan menganga hingga kelihatan besi beton berkarat, bekas coran berbahan kerikil dan pasir gunung, kulit kerang, bercampur semen khusus untuk membangun dermaga. Dari tengah laut yang berjarak sekitar 100 meter dari bibir pantai, kapal-kapal motor nelayan hanya lalu-lalang, seperti enggan merapat.

Aroma ikan segar kini berganti dengan bau kotoran hewan pemakan rumput yang menyeruap di ujung jalan beraspal nan koyak. Roh pelabuhan ramai dan kokoh itu sekonyong-konyong tercerabut dari raga tatkala dan gempa 8,9 pada Skala Richter disusul gulungan ombak tsunami setinggi 5 meter menghantam pantai-pantai barat dan timur Aceh pada 26 Desember 2004.

“Hancur sejak tsunami,” kata Mulyadi Nurdin, warga Peureulak, yang juga Pengurus Yaysan MONISA. Dan, hingga penghujung 2008, pelabuhan ini tak bergairah. Hilang, sunyi. Padahal, di sekitar sinilah sejak belasan abad silam nama Peureulak termasyhur sampai penjuru kepulauan Nusantara, Malaka, Cina, India, Persia, Arab, Afrika, hingga Eropa.

Di sini pula, para raja-raja Islam Peureulak menancapkan pengaruh terdepannya, mengendalikan perekonomian dan menyebarkan agama. Mengagungkan firman Allah, meninggikan derajat penguasa dan kaum berilmu, serta mensejahterakan rakyatnya.

Peureulak dikenal dalam literatur sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara yang pada masa Islam klasik  disejajarkan dengan Kerajaaan Samudera Pasai. “Kedua negara Islam itu memang sebaya,” kata Prof Dr Slamet Mulyana, dalam buku fenomenalnya, Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi (1981).

Pernyataan arkeolog Unversitas Indonesia itu bersandarkan pada tiga sumber penting: Hikayat Raja-raja Pasa, Sejarah Melayu karya Abdullah Ibn Abdulkadir Munsji (1021 Hijriyah/1612 Masehi), dan catatan pelayaran Marco Polo pada 1292.

Sejumlah sejarawan dan peminat sejarah seperti Prof. Ali Hasjmy memasukkan kitab Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak karya Abu Ishak Makarani Al Fasy dan kitab Tazkirah Thabaqat Jumu Sulthan As Salathin karya Syekh Syamsul Bahri Abdullah Al Asyi.

Hikayat dan kitab lama yang dikarang penulis dari dalam negeri itu  memuat nama Peureulak, terutama yang menghubungkan perkawinan Raja Samudra Pasai, Sultan Malik as-Saleh dengan puteri Peureulak, Puteri Genggang. Juga silsilah raja-raja Peureulak.

Adapun Marco Polo, pelancong tersohor dari Venesia, melukiskan Pulau Java Minor atau yang lebih dikenal sebagai Pulau Sumatera dibagi dalam delapan kerajaan, yakni Ferlech, Basa atau Baman, Samara atau Samalanga, Dragoian, Lambri, Fanfur atau Fansur.

Marco Polo yang mampir ke Peureulak dalam pelayarannya dari Kanton ke Teluk Persia merekam dalam catatan hariannya: “Ketahuilah, bahwa negara ini (Ferlech) banyak dikunjungi oleh pedagang-pedagang Muslim. Berkat kedatangan para pedagang Muslim itu rakyat Ferlech memeluk agama Muhammad”.

Tetapi, kata Marco Polo, komunitas Muslim hanya terbatas sampai kepada warga kota, “Karena orang-orang di pegunungan masih hidup sebagai bangsa liar yang makan daging manusia dan daging lainnya baik bersih maupun kotor”.

Kata Ferlech diduga banyak penulis, seperti William Marsden dalam bukunya Sejarah Sumatra (2008) sebagai Perlak atau Peureulak. Kerajaan kecil ini terletak  di bagian paling timur dari pantai utara. “Mungkin Perlak tempat mula-mula mendarat,” kata Marsden.

Dari catatan Marco Polo tersebut Marsden menafsirkan penduduk Ferureulak adalah penyembah berhala. Akan tetapi, orang-orang Arab yang sering mengunjung tempat itu telah mengislamkan penduduk-penduduk kota, sedangkan yang tinggal di gunung-gunung  hidup seperti  hewan dan mempunyai kebiasaan memakan orang.

Meski catatan Marco Polo lebih sahih karena merupakan sumber primer yang dicatat beberapa bulan setelah singgah di Peureulak, sedangkan hikayat lebih kepada cerita rakyat yang menyerupai dongeng dan dibuat beberapa abad kemudian,  namun Slamet menyatakan, “Dongengan itu mungkin sekali mengandung kebenaran”.

Tentu terciptanya kerajaan Islam Peureulak tidak serta-merta. Melainkan mengalami proses yang panjang selama berabad-abad sejak lahirnya agama Islam di Makkah al-Mukarramah pada abad ke-7 Masehi.

Guru Besar Fakultas Kajian Asia dan Afrika Universitas London, Inggris, Hugh Kennedy dalam bukunya The Great Arab Conquests (Alvabet, 2008) mengatakan, sementara penaklukan dan pendudukan dapat berlangsung secara cepat, dan Timur Tengah pusat sebagian besarnya selesai pada 650, konversi masyarakat untuk memeluk Islam merupakan proses yang sangat panjang dan lambat.

“Baru pada abad kesepuluh dan awal abad kesebelas sebagian besar penduduk beralih memeluk Islam,” kata Kennedy. Memang, dalam berbagai literatur mengenai hubungan perdagangan antarbenua pada abad ke-7 sampai abad ke-12, para penulis lebih banyak menyebut-nyebut nama-nama negara besar di Eropa, Arab, Parsia, India, Malaka, Sriwijaya, dan Cina. Sedangkan pelabuhan di Aceh, seperti Lamuri, Pasai, Peureulak, dan Pidie, disinggung hanya sekedarnya.

Namun peserta Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya  Islam di Aceh dan Nusantara di Aceh Timur pada 25-30 Setember 1980, menyimpulkan Islam masuk ke Aceh, terutama Peureulak, sejak awal berdirinya Islam pada abad ke-7 Masehi. Selain faktor penaklukan dan misi penyebaran agama Islam, perubahan jalur pelayaran di sepanjang Selat Malaka membuat Peureulak dan kota-kota pelabuhan di Aceh lainnya makin disemaraki para pedagang Arab Muslim.

Pada seminar itu, Guru Besar Universitas Kebangsaan Malaysia, Profesor Dr Wan Husein Azmi melalui makalah “Islam di Aceh Masuk dan Berkembangnya Hingga Abad XVI” mengatakan, para saudagar Islam Parsi yang telah masuk Islam pada abad ke-7 Masehi berhijrah (bermigrasi) ke Nusantara, terutama ke Sumatera dengan tujuan mengembangkan dakwah Islamiyah. Golongan Parsi yang hijrah tersebut diantaranya Jawani, Lor, Sabankarah, dan keluarga Ashraf (Haji Syaraf Ibn Dhiauddin).

“Maka Islam semakin berkembang dan lahirlah beberapa buah kerajaan Islam yang baru,” kata Husein. Pada saat yang bersamaan, pelayaran para saudagar Islam tersebut  terhalang di Selat Malaka, karena disekat oleh tentara laut Sriwijaya. Kerajaan Budha itu melakukan pembalasan atas serangan tentara Islam pada masa khalifah Al-Hadi pada 775-785 Masehi terhadap kerajaan Hindu di Sind, India.

Dampak lanjutannya, kata dia, Peureulak sebagai sebuah pelabuhan perniagaan yang maju dan aman di abad ke-8 Masehi menjadi tempat persinggahan kapal-kapal perniagaan Arab dan Parsi Muslimin. “Dan dengan demikian maka berkembanglah masyarakat Islam di daerah ini,” kata Husein.

Mengutip sebuah tulisan yang diyakini sebagai naskah kuno, budayawan Prof Ali Hasjmy membuka tulisan tentang asal-usul masuknya Islam di Peureulak dalam makalah berjudul “Adakah Kerajaan Islam Perlak Negara Islam Pertama di Asia Tenggara”.

Masuknya Islam di Peureulak, kata Hasjmy, bermula pada masa pemerintahan Khalifah Makmun ibn Harun Al-Rasyid pada 167-219 Hijriyah  (813-833 Masehi). Keturunan Ali bin Abi Thalib bernama Muhammad bin Jafar Shiddiq bin Muahmmad Bakar bin Ali Zainul Abidin bin Hassa bin Ali bin Abi Thalib, itu memberontak terhadap Khalifah Maknun yang berkedudukan di Baghdad dan memproklamasikan dirinya menjadi khalifah yang berkedudukan di Makkah.

Konon, Khalifah Maknun segera mengirim angkatan perangnya  ke Makkah untuk memukul pemberontakan Muhammad, yang dengan mudah dapat ditindas, tetapi Muhammad dan para tokoh pimpinan pemerintahan lainnya tidak dibunuh, diberi maaf.

Malah setelah itu, Khalifah Makmun menganjurkan agar para pemimpin kaum Syiah lebih baik meninggalkan  Negeri Arab, pergi meluaskan dakwah Islamiyah ke negeri Hindu, Asia Tenggara dan Timur Jauh.

Atas dasar anjuran Khalifah Makmun, maka sebuah angkatan dakwah dibentuk di bawah pimpinan Nakhoda Khalifah dengan jumlah anggota sekitar 100 orang, yang  kebanyakan dari tokoh-tokoh Syiah Arab, Parsia dan Hindi.

Rombongan Nakhoda Khalifah sampai di Bandar Peureulak ketika Syahir Nuwi menjadi Meurah Negeri Peureulak. Syahir Nuwi keturunan Dinasti Sassanid dari Persia beragama Islam. Salah seorang anggota Angkatan Dakwah Nakhoda Khalifah, Ali bin Muhammad Jakfar Shiddiq, kawin dengan adik kandung Syahir Nuwi bernama Puteri Makhdum Tansyuri.

Dari perkawinan ini lahirlah seorang putera bernama Saiyid Abdul Aziz, yang pada 1 Muharram 225 Hijriyah (840 Masehi) dilantik menjadi Raja Kerajaan Islam Peureulak dengan gelar Sulthan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah. Sedangkan Ibu Kotanya diubah dari Bandar Peureulak menjadi Bandar Khalifah.

Dalam “Silsilah Sulthan-sulthan Peureulak” karya T Syahabuddin Razi, setelah Sulthan Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah yang berkuasa pada 225-249 Hijryah/840-864 Masehi, Kerajaan Peureulak dipimpin Sayed Maulana Abdurrahim Syah (249-274 Hijriyah/864-888 Masehi), Sayed Maulana Abbas Syah (274-300 Hijriyah/888-913 Masehi).

Lantas Sayed Maulana Ali Mughayat Syah (302-305 Hijriyah/915-918 Masehi), Sayed Maulana Muhammad Syah (365-377 Hijriyah/976-988 Masehi). Selanjutnya tercantumlima orang raja tak berangka tahun pemerintahan, yakni Sayed Ali, Sayed Qasim, Sayed Ibrahim, Sayed Muhammad, dan Sayed Husen.

Kapan berakhirnya kekuasaan Kerajaan Peureulak? Dalam Sejarah Melayu dikatakan, “Shahdan, beberapa lamanya Sultan Maliku’t-Tahir dan Sultan Maliku-l Mansur pun besarlah, dan negeri Perlak pun (k)alah oleh musoh dari seberang; maka orang Perlak pun pindahlah ke negeri Samudra. Maka Sultan Maliku’s-Saleh pun  pikir dalam hatinya hendak berbuat negeri akan tempat ananda baginda…”.

Dalam analisis Slamet Mulyana, karena kunjungan Marco Polo di Peureulak pada 1292 dan tarikh mangkat Malik as-Saleh pada 1297, maka dapat diambil kesimpulan, “Musnahnya Kesultanan Peureulak antara 1292 dan 1297”.

Lantas, siapa yang dimaksud musuh dari seberang yang mengalahkan Peureulak? Dalam Sejarah Melayu ceritera 8 dikatakan bahwa negara samudera pernah diserang oleh Raja Shahrun-nuwi pada zaman pemerintahan Sultan Malikul mansur.

Menurut Slamet Mulyana, yang dimaksud dengan Raja Shahrun-Nuwi ialah raja Siam. “Mungkinlah musnahnya Kesultanan Peureulak itu juga akibat serangan tentara Siam,” kata Slamet.

Pendapat lain, Peureulak diserang Kerajaan Sriwijaya. H.H. Zainuddin dalam bukunya, Tarich Atjeh dan Nusantara (1961), mengatakan Sriwijaya sebagai kerajaan terbesar di Sumatera irihati atas kemakmuran negeri Peureulak. Kebangunan Pelabuhan Peureulak telah mejadi saingan Sriwijaya.

Bahkan irihati umat Budha kepada kemajuan agama islam yang kian meluas. Penolakan Kerajaan Peureulak agar tunduk kepada Sriwijaya, membuat Sriwijaya mendatangkan angkatan perangnya ke Peureulak pada 670 Hijriyah/1271 Masehi.

Kerajajaan Peureulak tatkala itu, kata Zainuddin, dalam krisis karena perselisihan perebutan kekuasaan di dalam negerinya. Meski mereka dalam keseulitan, tetapi dalam menghadapi serangan Sriwijaya, “Mereka bersatu kembali dalam jihadnya menentang ekspansi asing itu,” kata Zainuddin.

Setelah dua tahun rakyat Peureulak menghadapi peperangan yang dahsyat itu dan pada hari Ahad akhir bulan Zuhijjah 691 Hijriyah (1276 Masehi), Sulthan Alaidin Mahmud Syah berpulang ke Rahmatullah. Pimpinan kerajaan dan pertahanan telah bulat kembali dalam pimpinan Sulthan Machmud Malik Ibrahim.

Dalam tempo tiga tahun peperangan itu berjalan dalam keadaan maju mundur, suasana Peureulak di daerah-daerah pantai jatuh dalam kekuasaan Sriwijaya. Peperangan gerilya terus berjalan dalam tempo beberapa tahun. Pada 673 Hijriyah (1275 Masehi) tentara Sriwijaya terpaksa meninggalkan Peureulak.

“Karena di sana (Sriwijaya) telah timbul huru-hara yang lebih dahsyat, yaitu diserang oleh raja Kertanegara,” kata Zainuddin. Sedangkan sebagian besar rakyat Peureulak yang dalam pengungsian ke daerah-daerah pedalaman, pulang kembali ke kampung halamannya yang masih diperintah oleh Sulthan Machmud Malik Ibrahim.

Sekeping Dirham Sulthan

di Paya Meuligou

Menempa sendiri uangnya, dan menjadikan alat tukar yang sah di dalam negeri dan dunia internasional.

Perempuan tua itu menunjukkan jari telunjuknya pada sebuah titik di  pekarangan rumahnya, Desa Paya Meuligou, Peureulak, Aceh Timur. “Di sanalah saya menemukan uang dirham tigapuluh enam tahun lalu,” kata perempuan dengan nama Rohani binti Teuku Mahmud itu.

Ketika itu, pada 1972 usianya masih 22 tahun. Sekitar pukul 14.00 Rohani sedang mencangkul untuk menanam pisang Wa di pekarangannya. Baru beberapa kali cangkulan, mata Rohani menatap benda kecil seukuran kancing baju yang separo wujudnya berkilau-kilau karena tertumbuk matahari. Kilaunya memantul ke mata Rohani.

Merasa penasaran, dia menyingkirkan cangkul, lantas mengorek dan mengambil benda tipis kekuning-kuningan itu. Beberapa bagian menghitam karena berbalut tanah. Benda aneh bertuliskan huruf Arab itu dia cuci dan disimpan di dalam gubug rumahnya. “Nampak cantik sekali, seperti lukisan,” kata Rohani.

Setelah suaminya, Zakaria, pulang ke rumah Rohani langsung mengabarkan temuannya. “Ini apa, Bang? Saya korek-korek lobang, jadi dapat ini,” kata Rohani. Mata Zakaria melotot takjub. “Wah, ini emas kertas,” kata Rohani menirukan ucapan suaminya. Uang kertas kerap dikenal masyarakat sebagai emas London.

Keesokan harinya Rohani dan Zakaria memperlihatkan dan menanyakan mata uang itu kepada nenek Zakaria, Halimah, yang kebetulan sedang bertandang. “Oo, ini dirham, simpanlah baik-baik,” kata Halimah berpesan.

Menurut Halimah, tulisan dalam mata uang tersebut bertuliskan kalimah “La ilaha illallah, dan sultan alaidin syah”. Entah dapat inspirasi dari mana, dengan ringannya nenek Halimah mengatakan di sekitar lokasi ditemukan emas dirham, pada jaman dahulu ada seorang sultan. “Emasnya jatuh dan masuk ke dalam tanah. Kalau sekarang dikorek dan didapat (uang emas itu) ya, ada rizki,” kata Halimah.

“Penduduk gempar,” kata Kepala Mukim Paya Meuligou, Abdullah Hakim Amin.  Mereka berdatangan ingin melihat dirham Kerajaan Peureulak. M Arifin Amin, abang kandung Zakaria yang juga tokoh masyarakat Aceh Timur.

Pucuk dicinta ulampun tiba. Setelah tujuh tahun disimpan baik-baik, dirham temuan Rohani kembali menggemparkan ketika datang tim ekspedisi Safari Telaga Istana dari Provinsi Daerah Istimewa Aceh pada 1979. Ketua tim ekspedisi, Profesor Ali Hasjmy mengaku takjub dengan penemuan  uang dirham tersebut.

“Saya beruntung dapat melihat tiga macam mata uang asli dari Kerajaan Islam Peureulak,” kata Hasjmy dalam makalahnya yang disampaikan dalam Seminar Masuk dan Berkembangnya Islam di Nusantara 1980 berjudul “Adakah Kerajaan Islam Perlak Negara Islam Pertama di Asia Tenggara”.

Sebuah mata uang emas bernama “dirham,” kata Hasjmy, ditemukan oleh seorang wanita bernama Rohani (istri Zakaria) di Kampung Paya Meuligou, kira-kira 150 meter dari lokasi Bandar Khalifah.

Tulisan pada mata uang terebut, ujar Hasjmy, kurang jelas karena telah lama disimpan bumi. “Rohani menemukan mata uang tersebut waktu dia sedang menggali lobang untuk menanam pohon pisang,” kata Hasjmy.

Sepengamatan Hasjmy, pada sebuah sisi dari mata uang tertulis huruf Arab dengan kata yang mirip dengan “Al A’la” dan pada sisi lain terdapat tulisan yang dapat dibaca “Sulthan”.

Besar kemungkinan, ujar dia, yang dimaksud dengan “Al A’la” pada mata uang emas tersebut Putri Nurul A’la, yang menjadi Perdana Menteri pada masa Pemerintahan Sulthan Makhdum Alaidin Ahmad Syah Jauhan Berdaulat, yang memerintah Kerajaan Islam Peureulak pada 501-527 Hijriyah (1108-1134 Masehi). Putri Nurul A’la adalah seorang “negarawan” yang sangat cakap.

Sebuah mata uang lain, Hasjmy menambahkan, bernama “kupang”. Uang berbahan perak itu ditemukan seorang anak bernama Mahmud ketika mencangkul ladangnya di daerah Kampung Sarah Pineung, Kemukiman Blang Simpo Peureulak, di selatan kota Peureulak.

Pada satu sisi uang tertulis “dhuribat mursyidan” dan di sisi yang lain tertulis “Syah Alam Barinsyah”. Mungkin sekali, kata dia, yang dimaksud “Syah Alam Barinsyah” adalah Puteri Mahkota dari Sulthan Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Syah Jauhan Berdaulat, yang memerintah pada 592-662 Hijriyah atau 1196-1225 Masehi.

Pada 600 Hijriyah atau 1204 Masehi, Hasjmy menguraikan, Malik Abdul Jalil sakit lumpuh, sehingga tidak memungkinkan memimpin pemerintahan. Untuk melaksanakan pemerintahan, diserahkan kepada puterinya, “Puteri Mahkota Barinsyah” yang dibantu adiknya Abdul Aziz Syah. “Mungkin sekali mata uang tersebut dibuat pada waktu Puteri Mahkota Barinsyah memerintah sebagai Pejabat Kepala Negara,” kata Hasjmy.

Seorang penduduk juga memperoleh sebuah mata uang tembaga (kuningan) di lahan yang diduga sebagai bekas Ibu Kota Bandar Khalifah di Paya Meuligou. Mata uang tersebut diperlihatkan kepada Hasjmy oleh M Arifin Ahmad, Ketua Tim Sejarah Aceh Timur. “Saya belum sempat mempelajari apa yang tertulis pada dua sisi mata uang tembaga itu. Tulisannya huruf Arab,” ujar Hasjmy.

Selain mata uang, tim Safari Telaga Istana juga beruntung dapat melihat stempel dari Kerajaan Benahara yang terbuat dari perak murni. Ukurannya kira-kira sebesar paun ringgit. Tulisan huruf Arab pada stempel berbentuk timbul-tenggelam dengan kalimat Al Wasiq Billah Kerajaan Negeri Bendahara sanah 512.

“Jadi, stempel tersebut telah berusia 887 tahun,” kata Hasjmy.  pada 1980. Teknik pembuatannya sangat rapi, yang menununjukkan bahwa Kerajaan Negeri Bendahara waktu itu telah maju. Merujuk naskah tua, kata Hasjmy, Kerajaan Negeri Bendahara pada waktu itu menjadi bagian dari Kerajaan Islam Peureulak.

Menurut Hasjmy, penemuan beberapa benda berharga tersebut amat penting untuk penelitian sejarah. Alat tukar tersebut, kata Hasmy, menceritakan bahwa Kerajaan Islam Peureulak merupakan kerajaan yang betul-betul, yang dapat membuat mata uang sebagai alat pembayaran resmi. “Suatu kerajaan yang namanya saja kerajaan tidak mungkin dapat membuat mata uang sendiri yang demikian baik dan tinggi teknik pembuatannya,” kata Hasjmy.

Jadi, ujar Hasjmy, dengan penemuan mata uang Kerajaan Islam Peureulak, untuk sementara waktu, sebelum ditemukan mata uang Nusantara yang lebih tua lagi, “Maka mata uang Kerajaan Islam Peureulak adalah mata uang asli tertua di Kepulauan Nusantara”.

Dengan penuh keyakinan Hasjmy hendak menggugurkan pendapat banyak pihak, termasuk sejarawan, ketika itu yang mengatakan mata uang asli yang tertua di Kepulauan Nusantara, yaitu mata uang yang dibuat oleh Kerajaan Islam Samudera Pasai, yang bernama dirham, kupang, dan keuh (timah). Kemudian disusul oleh mata uang Kerajaan Islam Darussalam.  “Bukan mata uang Kerajaan Samudera Pasai yang tertua di Kepulauan Nusantara, tetapi mata uang Kerajaan Islam Peureulak,” kata Hasjmy.

Terlepas kapan pertama kali dibuat di Aceh dan bahkan Nusantara, yang jelas mata uang emas Aceh pernah menjadi alat pembayaran yang syah pada masa-masa berikutnya. Dengan kepercayaan diri yang kuat, Sultan Iskandar Muda menghapus mata uang asing, mencetak mata uang sendiri, dan menjadikannya sebagai alat pembayaran yang sah di dalam negeri maupun internasional.

Denys Lombard dalam bukunya Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda 1607-1636, mengatakann “Bagi sultan yang agung itu rupanya tujuan pertamanya ialah menghapus mata uang asing (terutama uang perak seperti real Spanyol) dan menggantikannya dengan mata uang emas yang ditempa di Aceh”. Di negeri ini, kata Beaulieu dari Normandia, “Real biasanya tak berlaku dan juga tidak akan berlaku di kota ini seandainya tidak diambil oleh orang Surat dan Masulipatnam sesudah barang dagangan mereka terjual; hampir tidak ada barang lain yang mereka bawa pulang melainkan mata uang perak itu”. Seandainya dirinya membawa emas, kata Beaulieu, “Dia (Sultan iskandar Muda) pasti memberikan ladanya dengan harga yang berlaku di kota”.

Menurut Lombard, pada sekitar 1620 uang yang dalam peredaran sejak pemerintahan-pemerintahan sebelumnya, rupanya sudah tidak dimanfaatkan lagi dan tidak lagi cocok untuk keperluan perekonomian. Mata uang itu kebanyakan telah rusak. Maka Iskandar memutuskan akan mengedarkan uang mas baru.

Tindakan penting ini, kata Lombard, diambil tak lama sebelum singgahnya Beauliau yang mencatat adanya “uang mas yang besar-besar, yang nilainya sama dengan empat, yang tempaan baru dan dan tidak terlalu baik mutunya.” Jadi mas yang baru itu sama nilainya dengan apa yang dinamakan Davis sebagai perdaw, tetapi kadarnya sebenarnya kurang dari kadar empat mas lama sekaligus.

Rupanya mata uang baru yang tidak sekuat yang lama menimbulkan kecurigaan khalayak ramai dan Iskandar sedikit banyak harus memaksakan nilainya. “Tindakan-tindakan tadi pada akhirnya gagal,” kata Lombard. Mas Aceh tidak berhasil mengambil tempat dalam peredaran internasional dan mereka yang menggantikan Sultan Iskandar Muda tidak pandai dan tidak mampu mempertahankan ekonomi pada tingkat yang tercapai olehnya.

Dampier pada 1688 memberi gambaran yang mengibakan: “Hanya sebagian kecil dari emas mereka ditempa menjadi uang dan hanya  sebanyak mereka perlukan untuk menjalankan perdagangan yang biasa diantara mereka…adapun para pedagang selalu memakai emas itu menurut beratnya”.

Pada abad ke-18 uang sama sekali tidak ditempa lagi. Karena, kata Marsden, tidak ada uang tempaan di negeri itu. “Sehari-hari membayar dengan serbuk emas; maka mereka semuanya mempunyai neraca atau timbangan emas yang kecil”.

Masa kejayaan mata uang Aceh terus tak merosot seiring merosotnya masa kejayaan kerajaan Islam Aceh, sampai akhirnya sama-sekali tidak dipakai dan tidak diproduksi lagi. Sisa-sisa keagungan itu kini bisa disaksikan di sejumlah museum dan kolektor mata uang (numismatik), atau tiba-tiba menyembul di pekarangan seperti pengalaman Rohani.

Alkisah  dari Bandar Khalifah

Banyak cerita berkembang seputar Kerajaan Islam Peureulak. Dari Banta Ahmad yang ditelan hiu lalu dijemput Nurul A’la, hingga makam panjang pada masa sekarang.

Allah hai do do da idang

Rangkang di blang tameh bangka

Beurijang rayeuk putroe sedang

Tadjak tebang perlak raja

Bukit  kecil itu berada di pertigaan Paya Meuligou, persis di belakang sebuah warung. Di kakinya, di bagian utara, sawah menghampar yang dipagari barisan gunung. Di bagian  timur, pohon-pohon rumbia tumbuh dengan batangnya yang besar seperti merayap di antara paya itu. Daun-daunnya menjulang ke atas seperti membentuk sebuah tempat berteduh yang rindang. Matahari hanya bisa mengintip dari celah-celahnya.

“Disitu dulu tempat mandi Nurul A’la,” kata Hakim Amin, seorang warga Paya Meuligou. Nurul Ala adalah putri raja Peureulak ke-11 (1078-1108 M), Sulthan Makhdum Alaiddin Abdullahsyah dan Putri Syarifah Azizah. Namanya Telaga Istana. Tempat permandian itu dibuat bersamaan dengan pembuatan laut buatan sebagai tempat menunaikan nazar agar mereka dikarunai anak. Sebab, sudah 10 tahun menikah mereka belum punya anak.

Nazarnya, jika dikaruniai anak, ketika turun tanah akan dimandikan di tepi laut dengan upacara kenduri dan selamatan untuk fakir  miskin dan yatim piatu. Tak lama, tuan putri pun mengandung hingga lahir seorang bayi laki-laki yang diberi nama Ahmad, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Banta Ahmad.

Dua tahun kemudian,  menurut Teungku M Arifin Amin dalam buku “Sejarah Putri Nurul Akla di Kerajaan Islam Peureulak Abad ke-6 H/12 M” (1987), tuan putri mengandung untuk anak kedua, yang kemudian dikenal sebagai Putri Nurul Akla.

Setelah Nurul A’la lahir,  di atas bukit itu dibikin mahligai dengan satu tiang yang dibuat dari kayu merbau besar. “Tidak berbentuk seperti tiang-tiang rumah biasanya, tapi berbentuk satu tiang,”  kata Azwar, pengurus Yayasan Monisa, memperjelas bentuk mahligai itu.

Sementara itu,  “rencana untuk  melepaskan nazar ke laut terpaksa ditangguhkan,” tulis Arifin Amin. Suatu hari, raja mengadakan rapat kerajaan yang dihadiri oleh pembesar kerajaan, ulama dan ahli nujum. Mereka membicarakan ihwal menunaikan nazar itu di laut. Ulama dan ahli nujum kemudian berpendapat jika pelepasan nazar itu dilangsungkan di tepi laut Banta Ahmad bisa ditelan hiu besar.

Maka, raja pun mencanangkan pembuatan  laut buatan untuk pelepasan nazar itu. Satu berbentuk kolam persis di kaki bukit istana sepanjang 300 meter. Satu lagi membujur ke selatan dengan panjang 1.000 meter dan luas 200 meter. “Kolam inilah yang direncanakan untuk memandikan Banta Ahmad,” kata Arifin.

Soal besarnya laut buatan, ada dua informasi berbeda. Informasi pertama seperti diungkapkan oleh Arifin di atas. Ali Hasjmy memberi informasi tak sama. Menurutnya, panjangnya laut buatan itu 1.000 depa (kira-kira 1.500 meter) dan lebarnya 200 depa (sekitar 300 meter).

Pada hari yang ditentukan, nazar pun ditunaikan. Pertama, Banta Ahmad dimandikan di kolam. Semua berjalan lancar. Selanjutnya, ia dibawa ke laut buatan. Tapi, disitu ada halangan. Bantah Ahmad terhalang perjalanannya oleh sebatang kayu yang rebah. Ahli nujum menyimpulkan pelepasan nazar itu tidak sah dan tetap harus dilaksanakan di laut.

Tapi, naas ketika pelepasan nazar di laut. Banta Ahmad benar-benar ditelan hiu besar.  Padahal pengamanan tempat itu begitu ketat, dipagar rapat, dan tidak seorang pun memperkirakan hiu bisa masuk. Semua geger. Semua berduka. Tapi ahli nujum memberi nasehat agar raja dan putri tidak usah risau, karena Banta Ahmad akan selamat bahkan akan memegang peranan penting di kemudian hari.

Tapi sang bunda, tuan Putri Syarifah Azizah, tak mudah menghapus gelisahnya. Kegelisahan itu dituangkan dalam pantun-pantun yang dibacakan ketika menina-bobokan Putri Nurul A’la, adik Banta Ahmad.

Allah hai do do da idang

Bungong mancang rhot meukeuba

Bak rijang rayeuk bungong keumang

Jak tueng abang di  nanggroe Jawa

Dalam pantun itu, sang ibu berharap Nurul A’la cepat besar sehingga bisa menjemput abangnya yang dibawa hiu ke negeri Jawa. Benar pula, ketika Nurul A’la besar, ia pun mewujudkan harapan orang tuanya: menjemput abangnya yang waktu itu telah diangkat menjadi pemimpin di sebuah tempat di Pulau Jawa. Dilukiskan, Nurul A’la cantik jelita, cerdas, pemberani, simpatik, dan berwibawa.

Halangan sempat datang pula. Selesai membuat perahu dan akan diangkut ke sungai Peureulak, menurut Arifin Amin, si perahu tidak bisa diturunkan. Berhari-hari ia gelisah. Suatu malam, sang putri bermimpi bahwa perahu hanya bisa diturunkan dengan bantalan tubuh Putri Nurqadimah. Tali untuk menarik perahu itu pun harus menggunakan tujuh helai rambut Putri Nurqadimah.

Nurqadimah  adalah sepupu Nurul A’la. Ia putri dari makciknya bernama Putri Nur Sa’adah, adik ayahanda Nurul A’la. “Nur Sa’adah kawin dengan Pang Angkasah yang menjadi panglima angkatan perang kerajaan Islam Peureulak,” kata Ali Hasmy dalam makalahnya yang disampaikan dalam seminar masuknya Islam ke Nusantara di Rantau Kuala Simpang pada 1980.

Ketika sampai di laut Jawa, menjelang mendarat, perang pun  berkecamuk. Banta Ahmad mengira akan ada penyerangan terhadap wilayahnya melihat sejumlah kapal muncul tiba-tiba di laut. Korban pun berjatuhan. Banta Ahmad tidak tahu bahwa yang datang rombongan adiknya. Nurul A’la pun jadi ragu: benarkah yang didarat itu pasukan abangnya.

Nurul A’la  lalu mengirim sebuah surat dengan perantara “bedil hikmat’. Dalam surat itu dikatakan bahwa yang di laut adalah Nurul A’la, yang sedang mencari abangnya Banta Ahmad. Setelah menerima surat itu, Banta Ahmad langsung menghentikan pertempuran. Ia menyongsong sang adik. “Terjadilah suatu pertemuan yang sangat mengharukan,” tutur Hasjmy.

Menurut Hasjmy, Nurul A’la dan  Nurqadimah beserta rombongan sempat beberapa lama berada di tanah Jawa. Saat itu, Banta Ahmad berusaha memberi pengertian kepada ayah-ibu angkatnya, yang menemukan dan merawatnya hingga besar, bahwa ia harus  kembali ke Peureulak. Tentulah berat bagi mereka untuk melepaskan Banta Ahmad yang telah menjadi raja kecil (setingkat kepala desa) disana.

Saat  itulah muncul sosok Prabu Tapa, yang diriwayatkan dalam hikayat sebagai turunan raja-raja Majapahit. Kala itu, menurut Hasjmy, Prabu Tapa yang sedang bertapa di kaki Gunung Lawu, melihat seorang putri yang cantik jelita lewat cermin sakti, “kaca hikmat”. Cerita berbeda disebutkan oleh Arifin Amin. Ia mengatakan Prabu Tapa melihat keberadaan Putri Nurul A’la dalam semedinya.

Pendeknya, Prabu Tapa jatuh cinta.  Ia turun gunung dan menemui sang putri. Tapi Nurul A’la tidak berkenan. Maka, ia pun mencari cara untuk menolaknya dengan mengajukan sejumlah syarat untuk mengulur-ulur waktu. Prabu Tapa kemudian ikut bersama rombongan Nurul A’la ke Peureulak. Sebab, ia ingin meminang Nurul A’la.

Sampai di Peureulak, Nurul A’la kembali memberi syarat lain lagi kepada Prabu Tapa, yakni ia harus belajar agama Islam. Prabu Tapa menurut. Ia lalu mondok di Perguruan Tinggi Islam di Cibrik, lalu ke perguruan yang lebih tinggi, yakni Zawiyah Cot Kala. Setelah lulus di Cot Kala, ia menjadi guru di perguruan Islam di Cibrik.

Nurul A’la terus berusaha menghindar. Apalagi, sebetulnya sang tuan putri telah punya kekasih yakni Meurah Qamaruzzaman. Mereka bertemu ketika sama-sama belajar di Zawiyah Cot Kala. Mereka sempat berpisah ketika Nurul A’la pergi ke tanah Jawa untuk menjemput abangnya.

Menghadapi segala kemungkinan, termasuk perang dari pihak Prabu Tapa bila penolakannya nanti disampaikan,  Nurul A’la bersama abangnya Banta Ahmad (yang telah menjadi raja bergelar Sulthan Ahmad Syah, setelah ayahnya meninggal pada 1108 Masehi) membuat persiapan untuk menghadapi Prabu Tapa. Mereka membuat benteng pertahanan di Buket Alue Meuh.

Sebelumnya juga sempat terjadi perang ketika Nurul A’la menolak pinangan raja Hoa Loan dari Cina. Menurut Arifin,  musuh sempat menguasai daerah pantai. Nurul A’la dan Nurul Qadimah pun maju memimpin pertempuran. “Karena Tuan Putri memakai pakaian laki-laki, mereka tidak kenal siapa yang memimpin perang itu. Orangnya muda, tampan, dan gagah,” tulis Arifin dalam bukunya.

Nurul A’la menantang langsung raja Hoa Loan itu di atas kapal. Disitu sang putri baru menampakkan jati dirinya. Sang raja begitu terpesona. Disitu, terjadilah perkelahian menggunakan pedang. Seperti kisah-kisah heroik lainnya, yang salah pasti kalah. Begitu pula dengan sang raja dari seberang itu. Putri berhasil menebas lehernya dan raja itu tercampak ke laut.

Sepuluh hari  setelah Banta Admad meninggal (1134 Masehi), Nurul A’la menghilang. Ia pergi ke istana Krueng Tuan, selanjutnya menuju ke Peunaron, lalu meneruskan perjalanan ke Istana Batu di Bukit Dayang-dayang. Kabar itu sampai ke Prabu Tapa. Sang Prabu mengamuk. Ia menebas dan membunuh siapa saja dengan pedangnya. Amukannya kemudian dihentikan oleh keroyokan orang kampung. Ia meninggal di tangan warga.

Tapi Nurul A’la juga tidak sempat kawin dengan Qamaruzzaman. Tiga tahun setelah sang kekasih naik haji ke Makkah sekaligus melanjutkan pendidikan agama Islam disana, Nurul A’la meninggal. Begitu pulang, Qamaruzzaman pun pingsan. Kemudian, ia meninggalkan urusan dunia dan mendekatkan diri dengan Allah. “Setiap hari mengurung dirinya berkhalwat di Masjid Kota Seumanah,” tulis Arifin.

Seorang pengurus Monisa,  Hakim Amin, yang juga adik Arifin Amin, masih menyimpan sebilah keris yang diyakini dibawa oleh rombongan Nurul A’la ketika menjemput abangnya di pulau Jawa. “Keris itu dibuat oleh Empu Samidun,” kata Hakim. Kerabat Hakim, Rohani, 58 tahun, juga menyimpan uang logam yang ditemukan ketika mencangkul tanah. Diyakini, uang itu juga peninggalan kerajaan Islam Pereulak.

Hakim juga bercerita, dulu, di kolam tempat permandian Nurul A’la, orang-orang kampung yang hajatan, misalnya kawinan atau sunatan, bisa meminjam piring disana. Bagaimana bisa? Begini ceritanya. “Malam-malam ditaruh keranjang di bibir kolam itu. Paginya sudah ada piring-piring dan gelas di dalam keranjang itu,” katanya. Hal itu didahului dengan prosesi bakar kemenyan.

Dari mana piring-piring dan gelas tersebut? “Dari kolam itu,” kata Hakim. Habis kenduri, menurut dia, piring itu dikembalikan ke sana, dimasukkan ke dalam keranjang dan ditaruh di bibir kolam. Tapi belakangan, piring-piring itu tidak muncul lagi. Sebab, ada seorang warga yang iseng menukar salah satu piring tersebut. Ia suka piring itu karena bagus sekali.  Tapi, “orang yang mengambil piring itu tidak apa-apa,” tuturnya.

Hakim bercerita pula, pernah orang yang mencari harta karun datang kesana. Lalu malamnya orang itu bermimpi agar ia tidak mengambil harta disitu. “Karena yang kami punya ini bukan harta karun. Itu harta kami sendiri. Lebih baik kalian  pulang saja,” Hakim menirukan kata-kata orang dalam mimpi itu. Tapi belum pernah ada penggalian apakah disitu memang ada barang pecah belah tersebut.

Hal-hal unik memang kemudian berkembang seputar kerajaan Islam Peureulak ini. Misalnya, tak jauh dari makam Sulthan Alaidin  Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah ada dua kuburan sepanjang sembilan meter. “Dulu pernah ada yang memindahkan batu nisan itu, tapi balik lagi,” kata Basri, warga di sana. Maksudnya, salah satu nisan itu dipindahkan supaya makam itu lebih pendek atau seperti makam biasanya.

Sesungguhnya, makam itu terletak di kompleks makam raja Peureulak tersebut, yang di sana juga  berdiri sebuah pesantren. Tapi, kondisi makam itu sama sekali tidak terurus. Ia berada di bawah pohon-pohon, tidak dibeton, apalagi dipagar layaknya makam seorang penting. Untuk melangkah ke sana, boh peulincot siap menerkam kain celana.

Orang penting? Ya. “Itu Teungku Panyang. Ia seorang kadhi, penegak hukum Islam di kerajaan,” kata Basri. Namun, tak jelas, khadi itu hidup pada masa apa atau tahun berapa.

Ternyata, makam panjang tidak hanya dua. Di sebuah bukit yang letaknya beberapa kilometer dari Paya Meuligou, dan sebagiannya harus ditempuh dengan berjalan kaki memasuki hutan dengan jalan menanjak, juga ada makam panjang. “Itu makam Nurqadimah,” kata Thaleb, 42 tahun, seorang warga. Nurqadimah adalah adik sepupu Nurul A’la, yang pernah menjadi panglima perang di kerajaan Pererulak.

Makam itu letaknya persis  dekat sebuah anak sungai yang tak berfungsi lagi yang terhubung dengan sungai Peureulak. Disisi makam ada sebuah bale. “Dulu bale itu pernah dibakar oleh pihak tertentu, tapi tidak terbakar,” kata seorang warga. Bale itu tampak tak terurus pula dan beberapa bagiannya rusak. Di sejumlah tempat di lantainya yang terbuat dari kayu ada bekas terbakar.

Uniknya , makam itu memanjang melebihi pagar besi yang mengelilinginya. Menurut warga, pagar besi  itu dibuat sekitar tahun 1980. Dengan kata lain, sebelum pagar itu dibuat, bagian kaki makam itu berada di dalam area yang dipagari, bukan di luar seperti sekarang. Mengapa begitu? Tidak seorang pun bisa menjelaskan.

Yang jelas, makam itu termasuk dikeramatkan. Beberapa kain putih tampak tergantung di seputar makam, sebagai simbol pelepasan nazar.

Hal serupa,  kain putih simbol pelepasan nazar, juga bisa ditemui di makam Nurul A’la di tepi Krueng Tuan, sekitar 25 kilometer dari Pasar Peureulak ke arah selatan, jalur jalan Ladia Galaska. Cuma makam Nurul A’la tidak  panjang, tapi normal seperti makam-makam lainnya.

Tak  terlalu jauh dari situ, kata seorang warga di sana, ada makam Prabu Tapa. Di bagian lain, juga ada makam Qamaruzzaman, kekasih Nurul A’la. Jadi Nurul A’la seperti didampingi oleh dua lelaki yang mencintainya. Seperti dalam cerita di atas, Nurul A’la mengasingkan diri dari dunia “politik” pada masa itu. Krueng Tuan menjadi salah satu tempat pengasingannya.

Cerita-cerita itu penuh keajaiban, bahkan bernuansa mistik.  Bagaimana kebenarannya? Tak seorang pun bisa memastikan. Jejak-jejak fisik cerita itu, misalnya laut buatan, dan tapak kerajaan itu sulit ditemui. Hanya sejumlah makam yang masih ada yang diyakini masyarakat sebagai tokoh-tokoh kerajaan masa lalu itu. Kolam permandian Nurul A’la pun kini adalah sebuah paya tempat kubangan kerbau.

Jadi, jika Anda berdiri di atas bukit kecil di pertigaan Paya Meuligou, misalnya, yang tampak hanya pemandangan biasa saja. Tak ada lagi jejak-jejak cerita itu disana. Tapi, boleh jadi nada pantun sang ibu meninabobokan Nurul A’la, secara imajinatif, sayup-sayup mengingang di telinga…

Allah hai do doda idi

Anoe pasi riyeuk tempa

Beurijang rayeuk cut putihdi

Gantoe abi aduen ta mita…

Pendidikan Menuju Peradaban: Dayah Cot Kala

Menjadi  lembaga pendidikan terkenal dengan para santri yang berasal dari dalam maupun luar negeri.

Perjalanan dari Kota Langsa menuju Peureulak, Aceh Timur, sontak terhenti di pertigaan Bayeun. Sebuah papan penunjuk jalan bertuliskan “DSN COT KALA” yang bertengger tegak pada sebuah taman itu membuat kami sempat tertegun.

Apakah Dusun Cot Kala dimaksud sekaligus tempat bersemayamnya Teungku Chik di Cot Kala Meurah M Amin, ulama besar Aceh abad ke-9 yang namanya kerap disebut-sebut dalam buku sejarah pendidikan Islam?

Tanpa pikir panjang, mobil yang kami tumpangi berbelok ke kiri, menyusuri jalan yang di sisi kirinya mengalir Sungai Bayeun. Setengah jam perjalanan, kami berhenti di tepi jalan yang sekelilingnya ditumbuhi ribuan hektare pohon kelapa sawit.

“Masyarakat di sini meyakini, di sanalah pernah berdiri Dayah Cot Kala,” kata seorang teman, Azwar, sambil mengarahkan telunjuknya pada sebuah bukit di ujung perkebunan. Tak ada tanda-tanda bukit itu berdiri sebuah lembaga pendidikan dayah atau pesantren maupun makam Cot Kala. Maklumlah, rentang waktu antara masa Cot Kala dengan masa kini mencapai sekitar 10 abad.

Prof Ali Hasjmy bahkan mengatakan, sejak berdirinya kerajaan Islam pertama di Aceh, yakni Kerajaan Islam Peureulak, “Pendidikan Islam telah mengambil tempat yang terdepan dalam pembangunan bangsa, yang dimulai dengan berdirinya Pusat Pendidikan Dayah Cot Kala”.

Bagaimana ceritanya sehingga Cot Kala menjadi amat terkenal seantero Aceh, Nusantara, dan bahkan Asia Tenggara? Syahbuddin Razi dalam makalahnya “Dayah Cot Kala” yang dipresentasikan dalam Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara mengatakan, semua itu tidak terlepas dari perhatian besar Raja Peureulak Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdurrahimsyah pada 249-274 Hijriyah (864-888 Masehi).

Sultan Alaidin, selain meningkatkan tarap hidup masyarakatnya, dia juga memanfaatkan ilmu para ulama  muda Peureulak yang baru pulang menuntut imu dari luar negeri dengan cara memberikan tempat untuk mengajar di berbagai lembaga pendidikan yang disebut zawiyah atau dayah di Peureulak.

Salah satu dayah terkenal adalah Dayah Bukit Cek Brek. Diantara lulusan Dayah Bukit Cek Brek, Meurah Muhammad Amin, seorang bangsawan keturunan Meurah Peureulak sebelum Islam. Meurah Muhammad Amin meniggalkan kampung halamannya pada 270 Hijriyah dalam usia 18 tahun. Beliau menuju Mekkah. Karena ulama-ulama di Masjidil Haram umumnya bermazhab Syafi’ie, “Otomatis Meurah Muhammad Amin itu menjadi penganut dan pendukung mazhab Syaf i’ie,” kata Syahbuddin.

Setelah lima sampai enam tahun bermukim di Mekkah, Meurah Muhammad Amin  berangkat ke Baghdad, Irak, untuk belajar dengan Syekh Ahmad Ibnu Umar bin Surej  Abul Abbas Al-Qadhi. Dia juga belajar di Baitul Hikmah atau Darul Ilmi, sebuah Universitas Islam termasyhur yang didirikan oleh Khalifah Harun Al-Rasyid (170-193 Hijriyah).

Pada 284 Hijriyah, Meurah Muhammad Amin pulang ke Peureulak dan disambut oleh pembesar Kerajaan Peureulak. Atas dukungan sultan, Meurah Muhammad Amin mendirikan dayah di kawasan Cot Kala. Pada 285 Hijriyah (899 Masehi) Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abbassyah meresmikan pembangunan dayah dengan nama Dayah Teungku Chik Cot Kala deangan Meurah Muhammad Amin sebagai pimpinan dayah dengan gelar Teungku Chik Cot Kala Muhammad Amin. Dayah Cot Kalapun menjadi lembaga pendidikan terkenal dengan para santri yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.

Menurut Syahbuddin, bentuk ilmu dan cabang atau jurusan ilmiah yang diajarkan di Zawiyah Cot Kala antara lain naqliyah, seperti tafsir, hadits, fiqih, usul fiqih, nahwu, sharaf, balagah, bahasa arab, kesusasteraan. Juga ilmu aqliyah, seperti mantik, ilahiyah atau ketuhanan, kimia, ilmu pasti, ilmu ukur, ilmu falak, ilmu hewan, ilmu pertanian, ilmu kedokteran, ilmu strategi perang.

Pendeknya, kata Syahbuddin, Dayah Cot Kala itu berkewajiban menempa ulama-ulama untuk segala hal, disamping untuk membangun Kerajaan Islam Peureulak, juga untuk mendakwahkan dan menyiarkan agama Islam ke segenap penjuru kepualauan Nusantara. “Sedangkan metode dakwah di kala itu adalah dakwah kerja nyata,” kata Syahbuddin.

Berselang 25 tahun kemudian, Teungku Chik Cot Kala  Muhammad Amin dipilih sebagai Raja Islam Peureulak keempat dengan gelar Sulthan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Aminsyah I pada 310-334 Hijriyah  (992-946 Masehi). Raja yang berpendidikan tinggi dan menghargai pengetahuan, membuat Peureulak menjadi kerajaan yang mampu meningkatkan peradaban.

Kini, jejak kemasyhuran Teungku Chik Cot Kala Muhammad Amin bukan hanya diabadikan sebagai nama dusun di Bayeun, tetapi juga menjadi Intitut Agama Islam Cot Kala. Penamaan peguruan tinggi yang terletak di Kota Langsa itu, “Hasil rekomendasi seminar masuknya Islam di Nusantara,” kata Jamaluddin AR, dosen Institut Agama Islam Cot Kala yang juga Pembina Yayasan Monumen Islam Asia Tenggara (Monisa).

Ketika Institut Agama Islam dibuka, kata Jamaluddin, seorang ahli sejarah dari Aceh Utara berharap model pendidikan perguruan tinggi ini menggunakan model pesantren Cot Kala. “Nah model pesantren itu sudah seperti fakultas, lulusannya mengambil jurusan tafsir, sebagai contoh” katanya.

Membuka Jalan ke Kerajaan Islam Peureulak

Banyak orang berperan dalam membuka mata dunia terhadap Islam Peureulak. Ini sebagian dari mereka.

Setelah berjalan kaki kira-kira dua jam, setelah melalui jalan setapak yang becek dan berpacet, setelah menempuh pematang sawah yang licin dan berliku-liku, pada jam 11 siang kami telah berada di Bukit Paya Meuligou.  Di bawahnya terhampar biru telaga istana, yang menjadi bagian penting dari Bandar Khalifah, ibu kota kerajaan Islam Peureulak yang dibangun dalam tahun 225 H, 1174 tahun yang lalu.

Begitulah Profesor Ali Hasjmy menggambarkan “napak tilasnya” ke Paya Meuligou, yang diyakini sebagai  ibu kota kerajaan Islam Peureulak. “Waktu itu, hari Ahad tanggal 16 September 1979,” tulis budayawan yang dikenal sebagai ulama dan mantan Gubernur Aceh itu dalam bukunya Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia (1981). Napak tilas itu dilakukan setahun sebelum digelarnya seminar internasional tentang kerajaan Islam di Rantau Kuala Simpang, Aceh Timur.

Setiba di Paya Meuligou, Hasjmy berpendapat bahwa melihat topografi daerah tersebut, cukup meyakinkan itu dulu sebagai pusat kerajaan. Ia menggambarkan, di sebelah utara dan selatan terpacak bukit barisan rendah yang rimbun dan di kakinya berjejer kampung-kampung. Di sebelah timur mengalir sungai Peureulak. Di tengah bukit barisan rendah di empat penjuru mata angin terbentang luas dataran tinggi yang kini telah menjadi sawah. “Di tempat itulah dahulu berdiri ibu kota Bandar Khalifah, ibu kota Kerajaan Peureulak.”

Menurut M Arifin Amin, salah seorang anggota tim sejarah Aceh Timur kala itu, begitu tiba di bekas bukit istana, selain menyodorkan kayakinannya tentang lokasi itu sebagai bekas kerajaan, Hasjmy juga meminta kapada tim sejarah Aceh Timur untuk mengupayakan ditemukannya kitab Idharul Haq. Ia juga menganjurkan diadakannya pertemuan dengan Muspida dan tokoh-tokoh masyarakat di Langsa, Peureulak, dan Tamiang untuk persiapan seminar sejarah Islam.

Tim Sejarah Aceh Timur  kemudian menyerahkan sejumlah bahan penguat kepada Hasjmy seperti naskah tua, naskah Putri Nurul ‘Ala, Hikayat Nurul A’la, Hikayat Banta Beuransah, dan Hikayat Malem Dewa, mata uang kerajaan Peureulak, juga sebuah Al-Quran tulisan tangan.

Pulang dari Paya Meuligou, menurut Arifin, Hasjmy menulis artikel di Harian Waspada Medan tentang kunjungannya itu. “Setelah Bapak Prof H. Ali Hasjmy pulang dari peninjauan tersebut maka lebih mempercepat proses pelaksanaan Seminar Sejarah Islam di Aceh Timur,” tulis Arifin dalam sebuah sebuah risalah tentang Monisa.

Setahun kemudian, pada 25-30 September 1980, di Rantau Kuala Simpang, seminar yang diharap-harap untuk menguatkan posisi Peureulak sebagai kerajaan Islam pun diadakan. Seminar itu menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri. Hasjmy duduk sebagai ketua panitia pengarah. Sedangkan ketua panitia penyelenggara dipegang Zainuddin Mard, Bupati Aceh Timur kala itu. Seminar itu diadakan oleh Majelis Ulama Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten  Aceh Timur.

Hasjmy memang punya peran besar dalam membuka jalan sehingga wacana Peureulak sebagai kerajaan Islam pertama itu mengemuka. Seminar sejarah Islam di Kuala Simpang itu pun tak lepas dari tangannya. “Dia pemrakarsa untuk mengadakan seminar itu,” kata Jamaluddin AR, sekretaris panitia seminar tersebut. “Yang lain semua di bawah  pengaruh dia,” ia  menambahkan.

Sejumlah nama nara sumber juga datang dari Hasjmy. Dia ikut mengundang mereka secara pribadi, meski yang mengundang secara resmi adalah panitia.  Hasjmy, menurut Jamaluddin, yang melobi ke sana-kemari, menggalang dana, sampai mendekati PT Pertamina agar dapat membantu tempat pelaksanaan seminar itu di Rantau Kuala Simpang. “Yang meminta secara resmi tentu Pemda Aceh Timur.”

Tempat pelaksanaan seminar itu memang di gedung pertemuan milik Pertamina. Peserta pun menginap di wisma dan tempat lain di  kompleks punya perusahaan negara itu.  “Dia memang punya  jaringan yang luas,” tutur Jamaluddin.

Pasca seminar, makin banyak orang berkunjung ke Bandar Khalifah. Masyarakat datang untuk berziarah ke makam Sultan raja pertama Kerajaan Islam Peureulak. “Mereka datang berombongan, dari berbagai daerah. Pernah pula satu rombongan 500 orang,” kata Tgk Abdullah, pengurus Dayah Sulthan Alaiddin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah, pesantren di kompleks makam itu. Sedangkan tokoh dan pejabat datang untuk keperluan pembangunan Monisa.

Pada 8 Oktober 2003, Gubernur Aceh (pada masa itu) H. Hadi Thayeb meletakkan batu pertama pembangunan Monisa.  Lalu, pada 27 Mei 1984, Gedung Serbaguna Monisa diresmikan. Gedung itu adalah bantuan penuh Abu Bakar Abdi, seorang pengusaha asal Peureulak yang tinggal di Jakarta. “Dia pengusaha film,” kata Jamaluddin.

Hasil penelusuran, salah satu film yang pernah dibuat oleh Abu Bakar adalah  Baja Membara yang skenarionya ditulis oleh Bachtiar Siagian, sekaligus sebagai sutradaranya. “Di Monisa, Abu Bakar juga pengurus,” kata Jamaluddin. Namun, ia tidak ingat persis posisinya di mana.

Tapi aksi selanjutnya kurang mulus. Buktinya, sampai kini, pembangunan monumen Islam Asia Tenggara (Monisa) yang menjadi salah satu rekomendasi dari seminar itu, belum terlaksana. Baru gedung serbaguna itu saja yang ada.  Kini, kondisi gedung itu sudah melepuh dimakan waktu. Catnya kusam. Sebagian kaca jendela telah pecah.

Tadinya diharapkan gedung serba guna itu menjadi “pemancing” agar monumen itu segera terwujud. Apalagi, Hasjmy kala itu berpendapat agar panitia tidak langsung mencari bantuan dari luar untuk membangun monumen itu. “Kita bangun dulu sendiri,” ujar Jamaluddin menirukan Hasjmy.

Hasjmy berharap Aceh Timur dulu yang bergerak  mewujudkan ide itu. Namun, menurut Jamaluddin, pemerintah daerah setempat sangat terbatas untuk melakukan aksi itu. Apalagi kalau bukan masalah dana. “Seharusnya waktu itu yang di depan (pemerintah) provinsi,” kata Jamaluddin. Itu belum lagi konflik Aceh bertahun-tahun, ikut membuat cita-cita sempat berantakan.

Sejumlah upaya bukan tak dilakukan. Tak lama setelah rekomendasikan membangun monumen Islam itu muncul, Aceh Timur membentuk Yayasan Monisa. “Saya waktu itu yang ke notaris,” Jamaluddin mengenang. Yayasan ini dimaksudkan untuk lebih memuluskan langkah mewujudkan rekomendasi  itu.

Sejumlah pejabat pemerintah setempat, termasuk bupati, tokoh dan unsur masyarakat Aceh Timur duduk sebagai  pengurus, termasuk Jamaluddin. “Saya sejak awal menjadi sekretaris,” ujarnya. Bahkan, posisi sekretaris Monisa masih dijabat oleh Jamaluddin hingga awal 2008. Kini, ia menjadi ketua dewan pembina.

Sebelumnya, para pejabat pemerintah setempat ikut langsung mengurus Yayasan  Monisa.  “Bupati duduk sebagai Ketua Umum,” kata Badlisyah, Ketua Umum Monisa yang terpilih pada 2008. Sejumlah pengurus Monisa era kini melihat keterlibatan para pejabat pemerintah yang justru sangat sibuk membuat waktu mereka sangat sedikit untuk Monisa. Akibatnya, roda yayasan itu tidak banyak berputar.

Geliat Monisa  yang paling menonjol terjadi pada masa-masa awal, setahun sebelum seminar dan pasca seminar Rantau Kula Simpang. Sejumlah tokoh, termasuk pejabat pemerintah turun ke lapangan. Sebuah dokumen mencatat, pada 1979 ada tiga tim penelitian yang datang ke Peureulak.

Pertama adalah tim MUI Aceh yang dipimpin oleh Tgk H Abdullah Ujung Rimba (Ketua Umum MUI Aceh).  Dalam rombongan yang berkunjung pada 4 Juni 1979 itu ikut dua anggota MUI Aceh yakni Tgk H Amin dan Ahmad Daudi  serta jajaran MUI Aceh Timur yakni Tgk H. M. Yusuf Ibrahim (Ketua) dan Tgk M Arifin Amin (Sekretaris).

Kehadiran mereka demi mempersiapkan data guna seminar di Rantau Kuala Simpang. Mereka tidak hanya datang melihat-lihat di sejumlah tempat di Peureulak, juga menggali nisan makam Sultan Sayed Maulana Abdul Aziz Syah. Disebutkan, pada nisan ditemukan tulisan Arab khat chufi bacaan Abdul Aziz. Dokumen yang disimpan seorang warga Peureulak itu juga menyuguhkan foto-foto, yakni foto nisan dan pose tim peneliti.

Tim kedua adalah Prof Dr NA Baloch, dosen pada University Hyderabad Sind Pakistan dan mantan Menteri Pendidikan di Pakistan. Dalam  kunjungan pada 15 Juni 1979 itu, Baloch didampingi T. Abdul Jalil (Banda Aceh), Rusdi Abdul Amin (Dikbud Aceh Timur), dan dua pengurus MUI Aceh Timur yakni Tgk M Arifin Amin dan Ridwan TA.

Dalam  rilasah itu tidak disebutkan bagaimana bentuk penelitian Baloch. Dokumen itu cuma menulis: lokasi penelitian bekas-bekas Kerajaan Islam Peureulak. Digambarkan, ketika sampai di makam pertama kerajaan Islam Peureulak Baloch sempat menangis melihat makam itu kotor penuh semak dan tidak terurus. Foto-foto kunjungan itu juga tertera di sana.

Ali Hasjmy  adalah tim ketiga yang datang sebelum seminar Rantau Kuala Simpang. Dalam dokumen itu, ada foto Hasjmy sedang mengelilingi makam sultan pertama Kerajaan Islam Peureulak. Ia juga tampak sedang memegang kamera, seperti selesai atau akan memotret sesuatu.

Jauh sebelumnya,  pada 1972, upaya penelusuran jejak-jejak Kerajaan Islam itu sudah dilakukan. Kala itu, sebuah tim yang dipimpin oleh Camat Peureulak, Mahmud, menelusuri makam-makam yang tersebar di sejumlah tempat di kecamatan itu. Lokasinya adalah wilayah Bandar Khalifah meliputi Bandrung, Paya Meuligou, Tualang dan Teumpeun serta Peureulak Bagian Tunong yakni Krueng Tuan dan Seumanah.

Tim  itu beranggotakan Lettu M Syarif Dulsufi (Komandan Koramil Peureulak), Lettu Agus Salim (Kepala Polisi Sektor Peureulak), M Arifin Amin (penulis sejarah), Marsuddin (pegawai kantor Camat Peureulak), M Amin Nyakshih (Kepala Mukim Blang Simpo), dan Harun Ali (Raja Rimba) sebagai penunjuk jalan.

Dalam penelusuran itu, didapati sejumlah peninggalan seperti makam tua raja-raja, petinggi dan keluarga kerajaan, seperti makam Sulthan Alaiddin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah (memerintah 840-864 Masehi) di Desa Bandrong, makam Sulthan Makhdum Alaiddin Abdullah Syah (1079-1108) di Desa Paya Meuligou, makam Nurul A’la di Krueng Tuan dan makam Sulthan Makhdum Alaidin Abdul Kadir Syah di Seumanah.

Selain makam,  dalam dokumen itu diperlihatkan pula temuan lainnya yakni bukit istana dan kolam tempat permandian Nurul A’la di Paya Meuligou, masjid tua yang diyakini dan menurut cerita sudah dibangun sejak era Nurul A’la, Al Quran tulisan tangan, senjata tajam seperti pedang Arab, pedang Turki, parang Aceh, badik, parang panjang, keris hulu jampok, rencong, siwah, dan lain-lain.

Ada pula barang pecah belah seperti piring tapak gajah, talam dan piring bersurat tulisan Arab, talam, pinggan bertutup, cerana, serahi, mangkung bertutup, tempat sirih, mundam. “Semua barang-barang itu diketemukan dari Bekas Kerajaan Islam Peureulak di bekas istana tersebut,” begitu tertulis dalam risalah tersebut.

Pada 1974, tim dari Dinas Purbakala Pusat, Jakarta, datang ke Peureulak. Penelitian ini dipimpin oleh Hasan  Muarif Ambary yang didampingi stafnya, Lina. Sejumlah pejabat dan tokoh Aceh Timur dan Peureulak turut mendampingi tim yang mendatangi wilayah Bandar Khalifah dan Krueng Tuan ini. Hasil penelitian itu dituliskan dalam surat kabar Berita  Yudha Jakarta edisi 27 Maret 1974 dengan judul  “Mencari Jejak Bekas Kerajaan Islam Tertua (1): Kerajaan Peureulak Kerajaan Islam Tertua di Indonesia”.

Pada 27 September 1980, hari kedua seminar di Rantau Kuala Simpang, empat ilmuan asing yang menjadi peserta seminar itu berkunjung ke Peureulak. Mereka adalah Prof DR K Das Cubta (Calcula University India), Prof Madya Dr Husein Azmi (Universiti Kebangsaan Malaysia), DR Lance Castle (ahli sejarah dari Australia yang sedang mengajar di Universitas Syiah Kuala), dan Henry  Chambere Loir (Perancis).

Mereka datang ke Paya Meuligou dan Bandrong, juga Krueng Tuan, untuk melihat makam-makam tua. Kesimpulan mereka, senada dengan Prof Baloch: nisan-nisan di makam-makam itu telah berumur lebih dari seribu tahun. Tapi, tidak pernah terdengar tim itu maupun Baloch mempublikasikan hasil kunjungannya ke Peureulak.

Banyak nama memang yang menorehkan peran, lepas dari besar-kecilnya, untuk mendorong terwujudnya Monisa.  Selain nama-nama yang telah disebut, peran Haji Ramli Mahmud, seorang pengusaha, tak kalah penting. Dialah yang mendanai pembuatan market Monisa yang kini tersimpan di Pendopo Peureulak. “Itu dia yang bikin dengan uang pribadi,” kata Jamaluddin.

Ia mengisahkan, Haji Ramli termasuk orang yang getol menyokong Monisa. “Dia kesana kemari mencari bantuan,” Jamaluddin melanjutkan. Arifin Amin memperkuat kata-kata Jamaluddin. Menurut Arifin, Haji Ramli pula yang mendekati H Abu Bakar Abdi untuk memberi bantuan untuk membangun gedung serbaguna. Itu inisiatif pribadi Haji Ramli.

Selain sebagai ketua Monisa, Ramli adalah ketua tim ceking tanah untuk lokasi monumen itu.  Anggota tim itu berjumlah 12 orang. Selain Ramli, ada Jamaluddin AR sebagai sekretaris, dengan anggota Drs Zukifli UA, Mayor A.M. Isa, Tgk Zainuddin Saman, Tgk M Yusuf Ibrahim Kraut Lintang, OK Mahmunar Rasyid, Zainal Abidin BRE (Kepala PU), Hasanuddin (wakil ketua DPRD), Nurdin Usman  (humas kantor Bupati), dan Ghazal Mahmud BA (camat Peureulak).

Tim ini  kemudian memutuskan bahwa tanah yang cocok untuk lokasi monumen itu adalah yang berada di depan bekas istana atau kolam putri Nurul A’la seluas sekitar 10 hektare. “Sedangkan yang lain dipersiapkan sebagai cadangan,” tutur Arifin Amin.

Arifin Amin sendiri juga begitu bersemangat mendorong sekaligus mempromosikan Monisa.  Ia menulis sejumlah risalah, salah satunya adalah buku Monisa dalam Lintasan Sejarah Bangsa. Buku itu diterbitkan oleh Yayasan Monisa, namun tidak tertera tahun terbitnya.

Dalam buku itu, ia menguraikan secara lengkap tentang sejarah Peureulak, kerajaan Islam Peureulak, latar belakang lahirnya Monisa, hingga konsep Monisa itu sendiri sebagai pusat studi Islam masa depan.  Dalam buku itu bisa ditemukan silsilah raja-raja Peureulak lengkap dengan tahun kekuasaannya.

Ada pula foto-foto, misalnya foto peletakan batu pertama pembangunan Monisa oleh Gubernur Aceh Hadi Thayeb pada 1983 dan penandatanganan prasasti peresmian gedung serbaguna Monisa oleh sang gubernur pada 27 Mei 1984. Bahkan, daftar penyumbang untuk Monisa juga tertera di sini.

Selain itu, ada pula sebuah naskah buku bertajuk Monisa. Naskah itu kurang lebih sama dengan buku yang disebutkan diatas, memuat hal-hal profil daerah Peureulak, asal usul kerajaan Peureulak, latar belakang lahirnya Monisa, sampai program pembangunan Monisa. Pada bagian akhir naskah itu dilampirkan daftar peserta seminar Rantau Kuala Simpang beserta kesan-kesan peserta terhadap seminar itu.

Karya-karya Arifin ini, menjadi salah satu sumber studi literasi terhadap Monisa. Buku ini menjadi semacam rekaman terhadap proses lahirnya Monisa. Arifin memang termasuk salah seorang yang juga punya peran penting untuk mendorong terwujudnya Monias.

Bahkan, ketika sakit pun, Arifin menggelisahkan Monisa. “Ia gelisah jika nanti ia sudah tidak ada, siapa yang melanjutkan ide Monisa,” kata Hakim Amin, adik Arifin Amin.

Sebetulnya, ada satu orang yang perannya tidak bisa dilepaskan dari kerajaan Islam Peureulak, yakni HM Zainuddin.  Dalam bukunya Tarich Atjeh dan Nusantara, ia dengan lugas menyebut Peureulak sebagai kerajaan Islam tertua. Menurut dia dalam buku itu, kekuasaan raja-raja Islam di Aceh dimulai dari Peureulak pada 1078 Masehi alias abad ke-11.

Buku itu memang tidak hanya membahas tentang Peureulak, tapi mengungkap semua kerajaan yang ada di Aceh.  Bahkan, ia menyebut pula sejarah raja-raja di Nusantara. Dan buku itu secara khusus menempatkan Peureulak dalam posisi penting dalam perkembangan Islam di nusantara.

Samudra Pasai, yang selama ini terpatri dalam kepala banyak orang sebagai daerah pertama masuknya Islam di nusantara — karena termaktub dalam buku-buku sejarah resmi, menurut Zainuddin, baru berdiri pada abad ke-13, yakni 1260 M. “Kerajaan Peureulak jauh lebih tua dari kerajaan Tumasik (Singapura) dan Bintan, juga jauh lebih tua dari Kerajaan Pasai dan Malaka,” tuturnya dalam buku itu.

Sebagai seorang penulis, tentu saja HM Zainuddin punya andil besar dalam mempromosikan Peureulak ke kalangan lebih luas.  Membaca tulisan-tulisannya, ia tampak tak kenal lelah mencari tahu tentang Peureulak ini. Ia juga turun  ke lapangan dan tempat-tempat yang dianggap bersejarah.

Kebetulan, ia bekerja sebagai pegawai pertanian dan Departemen Lanbaw (dari pusat, Bogor) untuk meluaskan persawahan rakyat di daerah Peureulak.  “Pada 1926 saya minta berhenti dari pegawai Departemen Landbaw,” katanya.

Ketika bekerja, Zainuddin selalu berkomunikasi dengan orang-orang tua yang tahu sejarah Peureulak dan membaca buku sejarah yang dia pinjam dari perpustakaan di kantor Kontroleur di Idi, yang banyak menyediakan buku-buku sejarah lama. Ia memang membaca banyak sumber, misalnya buku karya Damte “Land en Volkenkunde” dan kitab Hadirul Al Alam al Islami karangan Sjekip Arselan.

Dalam sebuah artekel berjudul “Het volk van Atjeh” menyebutkan bahwa ketika orang-orang Hindu Mahayana sangat sibuk mendirikan candi-candi di Pulau Jawa pada 717 Masehi, kala itu pula di Peureulak orang-orang Arab dari Siriya giat berdakwah mengembangkan Islam.  “Hasil wawancara dan membaca buku-buku itu kelak menambah bahan sejarah yang saya kumpulkan dari Pidie dan Aceh Besar,” tulisnya.

Tulisan-tulisannya,  terutama bukunya berjudul Tarich Atjeh dan Nusantara itu, meskipun kurang kuat secara metodologi sejarah karena menggabungkan antara fakta, dongeng dan mitos, menjadi rujukan orang-orang yang ingin tahu atau mengkaji tentang kerajaan Islam di Peureulak.

“Sebetulnya ada satu buku lagi tentang sejarah  itu, tapi belum sempat terbit,” kata Zakaria Abubakar, cucu Zainuddin, ketika ditemui di Jakarta. Ia mengaku ikut mengedit naskah buku itu. Namun, ia tidak tahu di mana naskah itu berada. Zainuddin sendiri sudah tiada pada 1970-an. Terakhir, ia tinggal di Medan.

Sebetulnya, menurut Zakaria, Zainuddin bukan orang Peureulak. Ia berasal dari Lueng Putu, Kabupaten Pidie. “Ia menikah dengan nenek saya di Peureulak,” tutur lelaki asal Peureulak yang orang dekat bekas Gubernur Aceh Hadi Thayeb.

Ia menggambarkan Zainuddin memang getol menelisik sejarah Aceh. Zainuddin dalam bukunya memang mengaku telah berkeliling ke banyak tempat di Aceh, misalnya mendatangi makam-makam, untuk merekontruksi sejarah Aceh. Jadi, jauh sebelum Ali Hasjmy datang ke Paya Meuligou, dengan berjalan kaki di jalan setapak yang becek dan  berpacet, Zainuddin sudah duluan ke sana.

Selain dia, tentu saja yang tak kalah penting perannya dalam mengungkap kerajaan Islam Peureulak adalah pengarang kitab Idharul Haq, Abu Ishak Al-Makarani. Tapi, tokoh yang disebutkan terakhir ini begitu misteri. Sama misterinya dengan kitab karangannya.

Gaung dari  Gedung Rencong

Sejumlah seminar memperkuat keyakinan sebagian pihak bahwa kerajaan Islam pertama Nusantara itu  di Peureulak.

Gedung itu terpuruk sepi. Cahaya merah sore itu masih memperlihat dengan jelas sosoknya. Catnya kusam. Debu menempel menempel di kaca-kaca jendela. Rumput-rumput liar tumbuh di segala sudutnya. Di bagian belakang, kolam renang seperti sebuah kolam ikan yang lama ditinggali: airnya yang cuma sedikit sudah tidak jelas warnanya. Sisa-sisa kemegahan, sekaligus kemewahan, gedung itu tampak samar-samar.

Namanya  Rencong Staff Club (RSC). Sejatinya, gedung itu begitu bersejarah. Tak hanya bagi Pertamina Rantau Kuala Simpang, pemiliknya, juga bagi masyarakat dunia. Disitulah sebuah persoalan besar pernah dipecahkan: soal masuknya Islam ke Nusantara. Acara yang berlangsung pada 25-30 September 1981 itu bertajuk Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara.

“Waktu itu umur saya 17 tahun,”  kata Supriyati, yang menjadi salah satu juru masak untuk peserta seminar itu, yang ditemui Agustus 2008 lalu. Ia bersama ibunya menjadi tenaga kontrak saat seminar itu. “Saya bantu masak di dapur bersama ibu,” ia menambahkan. Perempuan yang beberapa bulan setelah seminar itu mulai bekerja di Wisma Jeumpa, tempat sebagian peserta seminar diinapkan, masih ingat betul seminar itu.

Jelas tidak mudah lupa, bagi siapa pun.  Ini seminar besar, bertaraf internasional. Pembicara dan pesertanya datang dari berbagai penjuru mata angin: dalam dan luar negeri. Dalam jajaran pembicara, ada nama-nama seperti DR Ruslan Abdulgani, DR Hamka, Prof A. Hasjmy, Prof Dr Hussein Azmy (Malaysia), Abu Hassan Syam (Malaysia), Hamdan Hassan (Malaysia), UU Hamidy MA, Uka Tjandrasasmita, Hasan Muariff Ambary, Rusdi Sufi, dan sebagainya.

Sejumlah hal dibahas dalam seminar itu: tak hanya tentangnya masuknya Islam di Nusantara, juga mengungkap tentang Aceh sebelum Islam, Aceh Serambi Mekkah, hubungan tanah Melayu dengan Aceh, peranan kerajaan Aceh di pesisir timur Sumatera, penggunaan hikayat dalam masuk berkembangnya Islam di Aceh, dan sebagainya.

Memang, ada sejumlah perdebatan dalam seminar itu, terutama menyangkut dimanakah yang pertama Islam masuk ke Nusantara: Pase, Peureulak, atau lainnya. Selama ini, dalam buku-buku sejarah, disebutkan bahwa Pase sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara. Itu berdasarkan fakta-fakta sejarah dan bukti-bukti arkeologis yang ditemukan di sana. Misalnya, makam-makam raja-raja di Geudong, Aceh Utara.

Makam tersebut terletak di dekat reruntuhan bangunan pusat kerajaan Samudera di desa Beuringin, kecamatan Samudera, sekitar 17 km sebelah timur Lhokseumawe. Di antara makam raja-raja tersebut, ada nama Sultan Malik al-Saleh, raja Pasai pertama. Malik al-Saleh atau yang juga dikenal sebagai Malikul Saleh adalah nama baru Meurah Silu, yang mendirikan kerajaan itu, setelah ia masuk Islam.

Malikul Saleh berkuasa pada 1297-1326. Ada yang menyebut, Kerajaan Samudra Pasai adalah gabungan dari Kerajaan Pase dan Peureulak. Pasai mempunyai hubungan yang cukup luas, sampai ke Cina. Seorang pengembara muslim, Ibnu Bathutah, yang mengunjungi Pasai pada 1346 M, menceritakan bahwa ia sempat melihat kapal Sultan Pasai di negeri Cina.

Namun, sebagian pembicara dan peserta seminar di Rantau Kuala Simpang mengajukan fakta-fakta baru bahwa Islam pertama kali masuk dan berkembang di Peureulak. “Itu kerajaan Islam tertua. Islam masuk pertama di Aceh itu di Peureulak,” kata Jamaluddin AR, pembina Yayasan Monisa, yang pada saat seminar itu menjadi sekretaris panitia.

Selama ini, menurut Jamaluddin, yang dikenal sebagai kerajaan Islam pertama adalah Pase. “Kalau sumber-sumber orientalis itu kan Pase. Karena Pase mempunyai suatu keterangan yang lebih lengkap,” tuturnya. Sedangkan Peureulak tidak ada dalam buku-buku atau tulisan-tulisan orientalis Belanda. “Bahkan buku-buku (sejarah di) sekolah tidak ada yang menyebut Peureulak.”

Kesimpulan itu didasarkan pada temuan-temuan di Peureulak, seperti kuburan dan nisan-nisan yang jauh lebih tua. “Kalau di Pase tulisannya (di batu nisan) itu sudah mudah dibaca. Sedangkan di Peureulak batu-batu nisannya tua, batu-batu yang belum berukir,” Jamaluddin melanjutkan.

Salah  seorang pembicara seminar itu yang sangat yakin bahwa Islam pertama di Nusantara di Peureulak adalah Ali Hasjmy. Ia mendasari kesimpulan itu pada naskah-naskah tua, seperti Kitab Idharul Haqq karangan Abu Ishak Makarani Al Fasy. Juga kitab Tazkirah Thabakat Jumu Sulthan As Salathin karangan Syekh Syamsul Bahri Abdullah Al Asyi. Kitab ini disalin kembali oleh Said Abdullah Ibn Saiyid Habib Saifuddin pada 1275 H atas titah Sulthan Alaidin Mansyur Syah. Silsilah raja-raja Peureulak dan Pasai catatan Said Abdullah Ibn Saiyid Habib Saifuddin juga menjadi rujukan Hasjmy.

Namun, menurut Hasjmy yang juga menjadi ketua panitia pengarah seminar itu, ada beberapa perbedaan angka tahun pada kitab-kitab itu. Idharul Haqq, misalnya, menyebut angka tahun 225 H sebagai waktu berdirinya kerajaan Islam Peureulak. Sementara Tazkirah Thabakat menyebut 227 H. “Ini mungkin karena kurang teliti orang-orang yang menyalinnya kemudian,” tulis Hasjmy dalam papernya untuk seminar tersebut.

Idharul Haqq mencatat, pada 225 kerajaan Islam Peureulak diproklamirkan. Saiyid Abdul Aziz, putra campuran Arab-Peureulak dilantik menjadi raja pertama dengan gelar Sulthan Alaiddin Saiyid Mauana Abdul Aziz Syah. Lalu, nama ibukota kerajaan, Bandar Peureulak, diubah menjadi Bandar Khalifah. Itu, “sebagai kenangan indah kepada nakhoda khalifah yang sangat berjasa dalam ‘membudayakan Islam’ kepada bangsa-bangsa Asia Tenggara, yang dimulai dari Peureulak.”

Setelah meninjau ke lokasi, Hasjmy sangat yakin bahwa Bandar Khalifah, yang kini berdiri desa Paya Meuligou, sebagai bekas Kerajaan Islam Peureulak.  Dulu, pada 1979, ketika Hasjmy berkunjung ke sana, ia harus berjalan kaki selama dua jam, melalui jalan setapak nan becek dan berpacet.

Ia melukiskan: berdiri di atas Bukit Meuligou, di ujung timur Bandar Khalifah, dan memandang ke barat, di sebelah kanan dan kiri ada bukit barisan rendah yang rimbun dan di kakiknya berjejer kampung-kampung. Jauh di ujung mata, berdiri bukit barisan yang lebih tinggi dan ditutupi kayu-kayu yang belum begitu tua. Di kakinya, sebelah timur, dari utara ke selatan, mengalir sungai Peureulak.

Di tengah-tengah bukit barisan rendah yang membentang di empat penjuru angin, tulis Hasjmy lagi, terbentang luas dataran tinggi sekitar 300 hektare yang kini telah menjadi sawah. “Di tempat itulah dahulu berdirinya kota Bandar Khalifah, ibu kota Kerjaan Islam Peureulak,” ia menambahkan.

Melihat medan begitu, Hasjmy sangat yakin di situ pernah berdiri sebuah kota kerajaan yang makmur. Menurut dia, sebelum ada jalan raya, dulu, ibu kota kerajaan-kerajaan didirikan di tempat strategis, di pinggir laut atau di dekat sungai besar. “Ibu kota kerajaan Islam Peureulak, Bandar Khalifah, berdiri di pinggir sungai Peureulak.”

Tentulah lokasi yang digambarkan Hasjmy kini telah berubah. Untuk menempuh ke Paya Meuligou, tempat yang diyakini berdiri ibukota Kerajaan Islam Peureulak, sudah tersedia jalan yang cukup dilalui dua mobil berpas-pasan. Sebagian jalannya beraspal mulus, sebagian lagi aspalnya koyak di sana-sini, bahkan ada yang masih berkirikil. Paya Meuligou yang dulu dikenal sebagai Bandar Khalifah berjarak sekitar delapan kilometer dari  kota Peureulak.

Tak hanya naskah-naskah tua,  Hasjmy juga mendasari papernya dari hikayat (cerita) karya para pujangga, seperti Hikayat Putroe Nurul A’la dan Hikayat Banta Bransah. “Kedua hikayat itu melukiskan zaman-zaman tertentu dari kerajaan Pereulak,” Hasjmy melanjutkan. Ia berprinsip, sekalipun hikayat hanya cerita, ia selalu melukiskan keadaan dari zaman-zaman tertentu, sehingga ia pun dapat dipakai sebagai sumber sejarah.

Soal ini memang menjadi perdebatan. Sejumlah sejarawan mengatakan karya sastra (di dalamnya termasuk hikayat) tidak bisa dijadikan rujukan sejarah. Sebab, sastrawan menuliskan cerita tidak menggunakan metode sejarah, misalnya berpijak pada bukti-bukti kongkrit, saksi-saksi atau sumber yang valid, check and recheck, hingga pengujian bahan-bahan itu dengan berbagai referensi lain.

Atau dalam bahasa Daniel Dhakidae,  ketika berbicara dalam seminar sastra dan sejarah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol, Padang, pada 10 Oktober 1998, berisiko jika karya sastra diperlakukan sebagai sejarah. Hermawan dari Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, mempertegas: teks cerita rakyat yang dijadikan sebagai sumber sejarah berisiko melemahkan kebenaran yang ingin dicapai oleh teks sejarah.

Keyakinan  seperti Hasjmy, antara lain, juga datang dari Prof Dr Wan Hussein Azmi, sejarawan Malaysia jebolan Universitas Al Azhar, Kairo. Ia menyebut, Peureulak sebagai pelabuhan perniagaan yang maju dan aman  pada abad ke-VIII Masehi. Pelabuhan itu menjadi tempat persinggahan kapal-kapal perniagaan Arab/Parsi muslim. Sehingga berkembanglah masyarakat Islam di Peureulak. Itu terutama karena terjadinya interaksi dengan masyarakat setempat melalui perkawinan.

Wan Hussein mengatakan, Kerajaan Islam Peureulak pertama berdiri pada hari Selasa pada bulan Muharram tahun 225 H atau 840 Masehi. Keyakinan Wan Hussein itu didasari dari naskah stensilan berjudul “Silsilah Tawarich Raja-raja Keradjaan Atheh” karya M.J. Djamil, yang diterbitkan oleh Penerbit Adjdam—I, Iskandar Muda, pada 1968. Dalam naskah buku itu juga disebutkan, Sultan Pertama Kerajaan Peureulak adalah Syed Maulana Abdul Aziz Shah, peranakan Arab Quraisy dengan Putri Meurah Peureulak.

Syed Maulana ini bergelar Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah. Tak hanya itu, dikatakan pula, nama Bandar Peureulak kemudian diubah menjadi Bandar Khalifah. Itu untuk mengingat nama nakhoda Khalifah yang diyakini sebagai yang pertama mengembangkan dakwak Islamiyah di Peureulak pada abad ke-VIII. Dan Islam disana terpengaruh oleh aliran syiah.

Berbeda dengan sejumlah pembicara lain,  Hasan Maarif Ambary yang kala itu Kepala Bidang Arkeologi Islam Pusat Penelitian, Purbakala dan Peninggalan Nasional, bersikap lebih hati-hati dalam melihat Peureulak. Mengutip Marcopollo, ia mengatakan cukup jelas bahwa pada abad ke-13 di Peureulak sudah bermukim pedagang-pedagang muslim dan masyarakat setempat yang masuk Islam.

Namun, menurut dia, sudah seberapa lama Peureulak telah masuk Islam, itu masih menjadi pertanyaan. “Seratus tahun sebelumnyakah atau berapa abad sebelumnya,” tuturnya. Itu memerlukan jawaban dengan bukti-bukti yang kuat. Masalahnya, katanya, belum ditemukan sumber-sumber primer tentang dinasti raja-raja (Sultan) yang pernah memerintah di Peureulak.

Memang ada naskah Idharul Haqq karangan Abu Ishak Maharani Pase yang memuat nama-nama sultan yang memerintah di Peureulak. Namun, menurutnya, itu tidak cukup kuat. “Kelemahan dari sumber ini adalah bahwa naskah ini hanya berupa naskah lepas,” tuturnya. Sehingga, perlu ditemukan naskah utuhnya untuk mengetahui lebih mendalam silsilah yang tertulis di sana dengan jalan cerita naskah secara keseluruhan.

Ambary bahkan melihat gaya penulisan naskah (lembaran lepas itu), “seharusnya dibuat tidak lebih dari abad ke-18-19. ” Selain itu, ia melihat beberapa urutan angka tahun raja-raja yang memerintah menimbulkan pertanyan alias kontoversi. Misalnya, antara masa pemerintahan Abd Rahim Shah (285-310 H) dengan Ali Mugayatsyah (302-305 H). Juga antara pemerintahan Abdul Malik Shah (327-354 H) dengan Mahmud Shah (349-361 H).

Selain itu, menurut Ambary, data arkeologi yang berhubungan dengan Peureulak belum banyak digarap.  “Sejauh ini penelitian arkeologi di situs bekas kerajaan Peureulak baru meliputi beberapa tempat saja,” ia menambahkan. Penelitian itu belum mendapatkan data penanggalan pasti dari makam-makam tua itu. Sebab, makam yang diteliti tidak memuat angka tahun seperti ditemukan di Pase atau daerah Aceh lainnya.

Ia berharap, ada penelitian arkeologi yang intensif di Peureulak.  Dengan demikian data-data tertulis seperti naskah Idharul Haqq itu dapat diperkuat dengan data-data arkeologi yang relevan.

Dan setelah melalui diskusi dan perdebatan melelahkan selama enam hari ( 25-30 September 1980), seminar itu berakhir dengan sejumlah kesimpulan. Isinya, antara lain, memperkuat kesimpulan Seminar Sejarah Islam di Medan pada 1963 yang dikukuhkan pada Seminar Sejarah Islam di Banda Aceh pada 1978 yang menegaskan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada abad pertama Hijriah langsung dari tanah Arab ke Aceh.

Kesimpulan lain, dan ini sangat penting: merujuk dokumen Izdharul Haqq dan Tazkirat Thabakat Jam’u Salatin, Kerajaan Islam Peureulak didirikan pada 225 Hijriah atau abad ke-9.  “Tentang Kerajaan Islam Peureulak tersebut terdapat juga dalam catatan-catatan Marcopolo.” Terhadap sumber-sumber tersebut, menurut kesimpuan itu, dipandang perlu untuk diperkuat dengan penelitian-penelitian arkeologi.

Yang menarik, seperti tertera di atas, kesimpulan seminar itu juga memperkuat seminar sejenis di Medan pada 1963 dan Banda Aceh pada 1978.  Seperti apakah seminar itu? Dua sejarawan Aceh, Muhammad Ibrahim dan Rusdi Sufi, dalam seminar Sejarah Islam di Kuala Simpang pada 1981 kembali menyinggung soal seminar yang berlangsung pada 17-20 Maret 1963 itu.

Menurut mereka,  seminar masuknya Islam ke Indonesia itu diikuti oleh sejumlah sejarawan, negarawan, dan cendekiawan Indonesia. Di situ ada nama-nama seperti  Hamka, A Mukti Ali, H Aboebakar Atjeh, Tudjimah, MD Mansoer, Muhammad Said, Tuanku Hasyim, Dada Meuraxa, DQ Nasution, Hasbullah Bakry, dan lain-lain.

Tema seminar itu dirumuskan dalam dua hal pokok. Pertama tentang masuknya Islam ke Indonesia yang dititikberatkan pada sistem masuknya, dari mana datangnya, golongan mana yang membawanya, juga bagaimana sambutan terhadapnya. Kedua, tentang daerah Islam pertama di Indonesia, yang menyangkut tempat dan waktu mula-mula Islam masuk.

Pemikiran di sana tentu berkembang.  Menurut Profesor Madya Dr Wan Hussein Azmi (Malaysia), dalam seminar Sejarah Islam di Medan pada 1963 itu, nama Barus, Tapanuli Tengah, sempat pula disebut-sebut sebagai tempat pertama disinggahi Islam. Adalah peneliti sejarah di Medan, Dada Muraxa, yang mengemukakan pendapat itu.

Menurut dia, Barus adalah tempat pertama yang menerima Islam di alam Melayu, lebih duluan daripada Pasai dan Samudera. “Pendapatnya itu berdasarkan kepada sebuah batu nisan yang baru dijumpai di Barus,” tulis Wan Hussein dalam makalahnya untuk Seminar Sejarah Islam di Kuala Simpang pada 1980 itu.

Di batu nisan itu, tertulis nama Syikh Ruknuddin dan angka tahunnya ditulis dengan huruf Abjad yaitu bersamaan dengan angka “48 H”. (Dada Meuraxa: Sejarah masuknya Islam ke Bandar Barus, Sumatera Utara–Sasterawan Medan 1973 hal 32). Namun pendapat itu tidak diakui dalam seminar itu.

Wan Hussein mengaku kemudian melihat sendiri batu nisan tersebut pada November 1977. “Maka saya berpendapat bahwa batu-batu nisan itu lebih tua dari batu nisan yang saya lihat di Pasei dan Samudra,” tutur Wan Hussein.

Barus, menurut Wikipedia, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah. Kota tua itu terletak di pantai barat pulau Sumatera, sekitar 60 km disebelah utara kota Sibolga atau di sebelah selatan Kecamatan Singkil, Aceh Selatan.

Pada abad IX, Barus, yang juga disebut dengan nama Fansur, sangat terkenal dengan pelabuhannya yang besar. Daerah ini terkenal dengan kapur Barus, yang diambil dari pohon barus, dan diperdagangkan sampai ke Arab dan Persia.

Seminar Medan kemudian menghasilkan tujuh kesimpulan, antara lain, pertama, Islam telah masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriah atau abad ketujuh/delapan masehi dan langsung dari Arab. Kedua, daerah yang pertama didatangi Islam adalah pesisir Sumatera dan raja Islam pertama berada di Aceh.

Belasan tahun setelah seminar di Medan, diadakan pula seminar yang lebih khusus: sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Daerah Istimewa Aceh. Seminar yang diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia Aceh dilakukan di Banda Aceh pada 10-16 Juli 1978.

Seminar itu menyuguhkan sejumlah kesimpulan, antara lain, pada abad pertama hijriah Islam sudah masuk ke Aceh dan kerajaan-kerajaan Islam pertama adalah Peureulak, Lamuri dan Pase.  Disebutkan pula, perkembangan agama Islam bertambah pesat pada masa Kerajaan Pase sehingga menjadi pusat studi agama islam di kawasan Asia Tenggara.

Dalam bagian lain kesimpulan itu dikatakan bahwa sejak zaman kerajaan Peureulak dan Pase, struktur dan sistem pemerintahan sudah teratur. Terakhir, disimpulkan, dasar pemerintahan kerajaan Peureulak, Pase dan Kerajaan Aceh Darussalam  adalah Islam dengan sumber hukumnya Qur’an, Hadist, ijma’, dan qiyas.

Sebetulnya, seminar-seminar lain juga sempat menyinggung-nyingung soal Peureulak. Misalnya, seminar Aceh dalam Lintasan Sejarah pada Pekan Kebudayaan Aceh kedua pada 1972. Salah seorang pembicara, yakni HM Zainuddin, kembali menyebut-nyebut Peureulak dalam makalahnya.

Zainuddin adalah penulis buku “Tarich Atjeh dan Nusantara” (1961). Dalam salah satu bagian di buku itu, Zainuddin membicarakan panjang lebar tentang kerajaan Peureulak. Buku itu kemudian menjadi rujukan sejumlah penulis tentang Islam di Nusantara. Zainuddin pun menjadi salah seorang yang berjasa untuk mempromosikan Peureulak.

Dalam seminar PKA itu, ia mengetengahkan makalah berjudul “Atjeh dalam Lintasan Inskripsi dan Sejarah”.  Dalam makalah itu, ia menguraikan penelitiannya terhadap makam-makam tua yang ada di Aceh, termasuk Pase dan Peureulak.

Ia menyebut, setelah robohnya kerajaan Hindu, di Aceh terdapat beberapa kerajaan Islam seperti Kerajaan Peureulak, Pase, Jeumpa (dekat Bireun), Kerajaan Pante Raja, kerajaan Pidie (Nagor), Kerajaan Lamuri, Kerajaan Darul Kamal dan Kerajaan Daja (Barat).

Ia  menyebukan Peureulak, pada zaman Purbakala, telah dikenal oleh bangsa-bangsa India, Persia, Palestina, Burma dan negeri Cina. Sebab, saudagar-saudagar dari negeri itu datang ke negeri itu untuk jual-beli barang-barang dagangan, seperti rotan, sumbu badak, kayu papan perahu, kapur barus, kemenyan, madu, dan lain-lain. “Djadi Bandar Peureulak ini adalah suatu pasar dagang jang ramai di masa itu,” tulisnya dalam ejaan lama.

Ia menyebut,  pekannya (maksudnya ibu kotanya) bernama Bandar Khalifah. Letaknya sekitar empat kilometer dari kedai Peureulak sekarang. Dan di pasar Peureulak sekarang, menurutnya, adalah tepi laut yang dalam. “Dan kampung ini sampai sekarang bernama Lhok Dalam artinja teluk jang dalam.” Di hilirnya ada kampung Pasir Putih (tepi laut) dan Blang Betera. Itu adalah tempat berkumpul bahtera/kapal atau perahu.

Menurut Zainuddin, di sekitar Bandar Khalifah ada kolonisasi orang Persia, Afghanistan, Arab dan Afrika. “Orang Afghanistan tinggal di kampung Kabu sekarang, yang asalnya dari kota Kabul,” tulisnya. Di seberang sungai pekan Bandar Khalifah bermukim orang-orang Arab dan orang-orang Persia Mohrat. “Kampung ini sekarang bernama Paya Unoe. Artinya banyak terdapat orang-orang memelihara lebah.”

Di atas Bandar Khalifah, sekitar empat kilometer  ke hulu sungai ada koloni orang Afrikaa yang bernama kampung Seumali. “Saya mengetahui kampung ini karena sedjak tahun 1921-1925 sebagai pegawai pertanian di Departemen Landbaw dari pusat (Bogor) untuk meluaskan persawahan rakjat,” tulisnya. Lahan itu bekas kebun lada yang telah mati.

Zainuddin mengaku pernah membaca satu artikel buku Land en Volkenkunde berjudul Het volk van Atjeh karangan Damste. Buku itu menyebutkan bahwa dalam tahun 717 Masehi atau 95 Hijriah, orang-orang Hindu Mahajana sangat sibuk mendirikan candi-candi di Pulau Jawa. Kala itu pula, di Peureulak/Aceh telah banyak orang Arab dari Syria (Palestina) sebagai muballig Islam yang giat berdakwah dan menyiarkan Islam.

Zainuddin menyimpulkan agama Islam masuk pertama  kali ke Aceh adalah Peureulak, bagian Aceh Timur pada 82 H/ 704 M atau pada 95 H/ 717 M dan pada 161 H/778 M. Ia juga mendasarkan kesimpulannya pada kitab Hadirul Al Alam al Islami halaman 336 karya Sjekib Arselar tentang kedatangan musafir Persia bernama Zahid pada 704 Masehi atau 82 Hijriah.

Ia datang lagi pada 717 H atau 95 Hijriah.  Itu diperkuat dengan buku Encyclopedi van  Ned Indie halaman 73 karangan Prof Mr. J Paulus yang mengatakan banyak pedagang-pedagang Arab datang ke Peureulak/Aceh untuk mengembangkan Islam. Pada masa itu belum ada kerajaan Pasai. Itu diperkuat lagi dengan berdirinya Sulthanaat Peureulak pada 470 H/1078 dan Sultan Peureulak Pertama pada 520-544 H/1161-1186 M.

Diantara seminar-seminar itu, tentulah yang paling monumental adalah  Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara di Rantau Kuala Simpang pada 1980 itu. Selain menghasilkan sejumlah kesimpulan yang memperkuat bahwa kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Peureulak, juga menghasilkan saran-saran, antara lain perlunya dibangun Monumen Islam Asia Tenggara (Monisa) di Peureulak. “Itu untuk memuliakan-memperingati kebesaran Islam pada waktu itu,” ujar Jamaluddin AR.

Tapi, jejak-jejak seminar  itu mulai pupus dimakan waktu. Gedung Rencong Staff Club, tempat berlangsungnya seminar, pun makin tua. Makin terasing. Makin sunyi. Kegelapan malam lalu membetotnya.

Melacak Jejak Idharul Haqq

Kitab ini dikutip dan disebut sebagai literatur penting yang membuktikan Kerajaan Islam Peureulak. Tapi hingga kini masih misteri.

Telepon genggam milik Azwar, pengurus Yayasan Monisa, pagi itu berdering. Ada pesan singkat yang masuk. Ia buru-buru membuka dan membacakannya kepada beberapa orang yang hadir di ruang rapat pendopo baru Bupati Aceh Timur di Peureulak. Isinya membuat orang-orang di sana tertegun sejenak.

“Kata Teungku Muzakir ada enam kitab lagi yang berkaitan dengan Peureulak,” ujar Azwar bersemangat. Teungku Muzakir dimaksud adalah seorang ustadz di pesantren Nurul Huda, di Blang Rubek, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara – sekitar satu setengah jam perjalanan dari Peureulak ke arah barat.

Sehari sebelumnya, Azwar dan kawan-kawan datang ke pesantren itu. Mereka ditemui oleh pimpinan pesantren, Abi Lah, bersama Teungku Muzakir. Kedatangan mereka untuk melacak jejak Tgk. Abdul Samad alias Kek Adu, penduduk Aceh Tengah yang bermukim di Blang Reubek.

Nab Bahany AS, sejarawan Aceh, sempat melihat kitab Idharul Haqq pada Kek Adu, di Desa Sukajadi, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah (dulu masuk wilayah kabupaten Aceh Tengah), pada 1989. Kala itu, Nab tengah melakukan sebuah kegiatan sosial disana. Ia menumpang di rumah Mitra, pegawai di Kantor Camat Kecamatan Bukit, yang tak lain cucu Kek Adu.

Suatu hari, rumah tempat tinggal Nab kedatangan tamu lelaki kurus berusia lanjut dengan tinggi sekitar 165 centimeter dan setengah rambutnya telah memutih. “Tamu itu diantar oleh dua orang anak muda sebagai pengawalnya,” kata Nab.

Mitra selaku pemilik rumah memperkenalkan tamu itu kepada Nab bahwa itu kakeknya sekaligus gurunya dalam menuntun ilmu makrifat. “Namanya Tgk. Abdul Samad, tapi kami sekeluarga dan orang-orang di Aceh Tengah memanggil beliau dengan nama Kek Adu,” kata Mitra seperti ditirukan Nab.

Kek Adu adalah seorang tokoh adat Gayo. “Tapi beliau sudah lama tidak tinggal lagi di Aceh Tengah. Beliau tinggal di pesanten di Matang Rubek,” kata Mitra. Kek Adu hanya sesekali pulang ke Aceh Tengah untuk menjenguk cucu dan saudara-saudaranya.

Mereka pun terlibat obrolan. “Hingga tak terasa obrolan kami semakin akrab dan melebar, mulai dari masalah makrifat hingga masalah sejarah kerajaan Linge dan hubungannya dengan kerajaan Islam Peureulak,” tutur Nab.

Saat Kek Adu menjelaskan hubungan Kerajaan Islam Pereulak dengan kerajaan Linge Aceh Tengah, ia langsung mengeluarkan sebuah kitab dari dalam tasnya. “Kitab ini namanya Idharul Haq,” kata Kek Adu kepada Nab kala itu.

Begitu menyebutkan nama kitab Idharul Haq, Nab langsung minta melihatnya secara jelas. Kitab tersebut berukuran 30 x 25 centimeter. “Tebalnya kira-kira setebal kitab Al-Quran lama 30 jus,” ujar Nab.

Kitab itu tidak memperlihatkan tanda-tanda usang atau tua. Nab menduga kitab itu hasil foto copy dari kitab yang asli. Kertasnya putih seperti layaknya kertas-kertas foto copy.

Kek Adu mengaku membawa kitab itu kemana pun ia pergi. “Karena  sedang saya alihbahasakan dari bahasa Melayu Jawi ke dalam bahasa Indonesia,” katanya sambil memperlihatkan sebagian hasil terjemahan isi kitab itu.

Seingat Nab, kala itu sudah setengah kitab diterjemahkan oleh lelaki yang juga peserta seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara di Rantau Kualasimpang, Aceh Timur  pada 1980 itu. Kek Adu menuliskan hasil salinannya ke dalam bahasa Indonesia ke lembar kertas folio bergaris.

Nab sempat meminta pinjam untuk difoto copy, tapi Kek Adu tidak memberikan. “Nanti kalau sudah selesai semua boleh difotocopy,” kata Kek Adu.

Pulang ke Banda Aceh, Nab menemui Kepala Museum Negeri Aceh (kala itu) Drs Nasruddin Sulaiman agar mendekati Kek Adu untuk mendapatkan salinan kitab penting itu untuk koleksi museum. Tapi rupanya hingga kini kitab itu tidak ada di museum itu.  “Saya belum pernah melihat kitab itu,” kata Nurdin AR, Kepala Meuseum Aceh.

Nurdin pun sudah berusaha mencari, tapi tidak ketemu. Ia hanya pernah melihat secarik lembaran lepas yang memuat silsilah raja-raja Kerajaan Islam Peureulak. “Itu pun fotocopy,” tuturnya. Karena pencarian yang tak berujung itu, membuat ia ragu tentang keberadaan kitab itu.

Idharul Haqq fi Mamlakatil Ferlah wal Fasi karangan  Abu Ishak Makarani Al Fasy adalah kitab tua yang memuat perihal kerajaan Islam Peureulak. Kitab itu menjadi rujukan sejumlah pihak yang membicarakan dan meyakini bahwa Kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Peureulak. Pase, yang kini dipahami sebagai kerajaan Islam pertama, kalah tua dibandingkan Peureulak.

Menurut Idharul Haqq, yang dikutip oleh sejumlah pengamat/pembicara sejarah Islam Peureulak, kerajaan Islam Peureulak berdiri pada 1 Muharram 225 Hijriah (840 Masehi). Raja pertamanya adalah Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah. Ketika kerajaan itu resmi didirikan, nama ibu kota kerajaan diubah dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah.

Tapi sejauh mana keabsahan, sekaligus keberadaan kitab itu, kini tidak ada yang tahu. Ketika seminar sejarah masuknya Islam di Nusantara dan Asia Tenggara di Rantau Kuala Simpang pada 25-30 September 1980, selembaran lepas kitab itu, dalam bentuk fotocopy, pernah terlihat.

Di Perpustakaan dan Museum Ali Hajmy di Banda Aceh juga tidak menyimpan kitab itu. Pada 1979, sebelum seminar di Rantau Kuala Simpang, Ali Hasjmy ketika berkunjung ke lokasi Bandar Khalifah pernah pula meminta kepada tim sejarah Aceh Timur untuk mencari Kitab Idharul Haqq itu.

Disebutkan, kitab itu pernah tersimpan pada keluarga Pang Akob di Peunaron, Peureulak. Dulu, pada 1950, kitab itu pernah disalin oleh Ustadz Yunus Jamil, Banda Aceh. Ia adalah pengarang kitab Silsilah Tawarikh Raja-raja Kerajaan Aceh.

Hasan Maarif Ambari, seorang pembicara dalam seminar itu, beberapa hari sebelum seminar itu sudah mendapatkan foto copy lembaran lepas Idharul Haqq. Kala itu, pada 12 September 1980, ia berkunjung ke Majelis Ulama Indonesia provinsi Daerah Istimewa Aceh. Disitu, ia bertemu dengan Abdullah Ujong Rimba, pengurus majelis ulama, yang memberikan foto copy kitab tersebut.  Sebelumnya, ia sudah tahu adanya Idharul Haqq.

Karena berbentuk lembaran lepas, ia memberi catatan agar naskah utuhnya bisa ditemukan. Itu untuk mengetahui lebih mendalam kaitannya antara daftar silsilah yang dimuat di lembaran itu dengan jalan cerita naskah secara keseluruhan. Bahkan, ia sempat mengatakan, “Melihat gaya penulisanya naskah itu dibuat tidak lebih dari abad ke-18-19,” katanya.

Tapi tidak semua pembicara sebelumnya pernah melihat lembaran lepas itu, apalagi kitabnya. Muhammad Ibrahim dan Rusdi Sufi, misalnya. “Penulis dengan rendah hati mengakui belum pernah melihat, apalagi membaca naskah tersebut,” kata mereka. Ia memang memaparkan isi Idharul Haqq, tapi ia mengutipnya dari apa yang pernah diungkapkan oleh Ali Hasjmy.

Jamaluddin AR, pembina Yayasan Monisa, sangat yakin kitab itu ada. “Karena dulu Aceh itu gudang penulis-penulis kaliber dunia,” katanya. Ia mengatakan, pihak Yayasan Monisa pernah mencari kitab itu pada keluarga Pang Akob, tapi tidak dapat. “Diyakini ada, tapi tidak bisa ketemu,” kata Jamaluddin.

Tapi, M Arifin Amin, yang pernah menjabat sebagai Sekretaris I Yayasan Monisa, sempat menjadikan kitab itu sebagai salah satu rujukan buku kecilnya berjudul “Monisa dalam Lintasan Sejarah Bangsa”. Bahkan, ia menyebut tahun penerbitan kitab itu dalam “Daftar Bacaan” untuk buku yang dituliskan itu, yakni 830. Benarkah ia menyimpan kitab itu? Tidak ada yang tahu.

Makin hari, keberadaan kitab itu makin gelap. Sebab, sejumlah tokoh yang seharusnya bisa membuka misteri itu, karena pernah menyebut-nyebut dan mengutip kitab itu, kini sudah tiada. Misalnya Ali Hasjmy dan Arifin Amin.

Maka itu, ketika mendapat informasi dari Nab Bahany AS bahwa ia pernah melihat kitab itu pada Kek Adu, pengurus Monisa yang kini dipimpin Badlisyah, menjadi bersemangat kembali untuk menyibak misteri itu.  Maka, pada 18 Agustus 2008, selepas panggalian batu nisan makam Sulthan Alaidin Syah Maulana Abdul Aziz Syah di Peureulak, rombongan pun bertolak ke Matang Rubek, Simpang Ulim.

Tim Monisa awalnya menggunakan dua mobil, namun karena ada sesuatu hal, satu mobil lain tak bisa melanjutkan perjalanan. Anggota rombongan dari mobil itu pun bergabung ke mobil yang berangkat. Menjelang magrib, rombongan tiba di Lhok Nibong, Aceh Timur.  Disamping pengurus Monisa, dalam mobil ikut pula Nab Bahany, si pemilik informasi tentang Kek Adu.

Di sana, Azwar menghubungi seorang kenalannya untuk mendapatkan informasi tempat yang dituju. Tak lama, seorang lelaki menggunakan sepeda motor muncul. Azwar dan kawan-kawan pun mengikuti lelaki itu. Tiba di pertigaan, sekitar dua ratus meter dari kota Lhoknibong, lelaki itu berbelok dan berhenti di salah satu toko di sana. Azwar turun. Mereka ngobrol tentang lokasi yang dituju, yang ditimpali oleh orang di toko itu.

Sepotong informasi disitu didapat. “Kek Adu sudah lama tiada,” kata seseorang disana. Mereka lalu mengarahkan rombongan itu untuk mendatangi Pesantren Nurul Huda di Matang Rubek, sekitar 15 menit perjalanan dari pertigaan itu. Sore terus merambat, dan malam pun turun. Mereka menyusuri jalan berbatu, lalu jalan beraspal yang disana-sini telah koyak.

Sesuai informasi penunjuk jalan di pertigaan tadi, sesampai di jembatan di pertigaan di depan, mereka pun belok kiri. Mobil menelusuri jalan kecil, hanya cukup berpas-pasan dua mobil. Disisi kiri adalah sungai kecil dan di sisi kanan sawah, lalu perkampungan penduduk. Jalanan itu cukup sepi dan tanpa penerang. Jalan aspalnya juga terkelupas di sana-sini. Mobil tidak bisa berjalan cepat.

Setelah sempat nyasar dan lewat hampir satu kilometer, mobil berbalik arah. Seorang pemuda kampung yang ditanyai di sebuah kios menunjukkan lokasi Pesantren Nurul Huda. Mobil berbelok memasuki sebuah kompleks dengan masjid cukup besar. Setelah mobil berhenti, enam lelaki turun dan menuju ke masjid. Disana, mereka menemui Abi Lah, pimpinan pesanten itu, yang ditemani Teungku Muzakir.

Mereka duduk di teras samping kanan masjid. Nab Bahany menyampaikan salam pertemuan, sekaligus menyampaikan maksud kedatangan mereka: ingin menemui Kek Adu dan keluarganya untuk mendapatkan informasi tentang Idharul Haqq. Abi Lah mengaku pernah mendengar nama kitab itu. “Idharul Haqq betul ada. Tapi saya belum pernah melihatnya,” katanya.

Abi Lah juga mengenal Tgk. Abdul Samad yang disana lebih dikenal sebagai Teungku Adu. “Tapi beliau sudah lama tiada,” katanya. Ia lalu menyebut beberapa orang yang berkemungkinan tahu jejak Idharul Haqq itu, yang punya hubungan keluarga dengan Teungku Adu. Pembicaraan mengalir. Sejumlah informasi muncul dalam pembicaraan itu, tapi semua masih sepotong.

Namun, diantara sejumlah informasi itu, ada satu informasi yang lumayan mengarah pada apa yang dicari. Mereka menyebut ada seorang lelaki bernama Teungku Ilyas Puteh, 55 tahun, yang kerap membawa-bawa naskah tebal yang menceritakan tentang Kerajaan Peureulak.

“Menurut Tengku Ilyas, yang betul kerajaan Islam tertua itu di Peureulak, bukan Pase,” kata Teungku Muzakir. Buku itu dalam bahasa Indonesia. “Boleh jadi, itu Idharul Haqq hasil terjemahan Kek Adu,” kata salah seorang dari rombongan dari Yayasan Monisa. Lalu, pengurus pesantren menambahkan, bahwa Teungku Ilyas pernah menyembunyikan kitab itu di salah satu ruang di masjid tersebut.

Mereka bahkan mengatakan Teungku Ilyas sangat hati-hati memperlakukan kitab itu. Tidak sembarang orang ia perlihatkan, apalagi meminjamkannya. “Kami pun belum pernah membacanya,” kata Abi Lah. Kemana-mana, ia selalu membawa buku itu. Tapi mereka tidak tahu nama buku atau kitab itu.

Penjelasan itu makin membuat hari rombangan Monisa berbunga-bunga. Teungku Mulyadi Nurdin, salah seorang rombongan dari Monisa, mendesak agar mereka malam itu segera mendatangi rumah Teungku Ilyas. Teungku Muzakir pun menyatakan bersedia untuk mengantar sekaligus menjadi penunjuk jalan. “Dari sini jaraknya sekitar 23 kilometer ke arah selatan,” katanya.

Tidak jauh, memang. Tapi jalan menuju ke situ adalah jalan kampung. Aspalnya sudah terkelupas disana-sini. Azwar kemudian mengambil kesimpulan: “Besok saja kita ke sini lagi. Biar Teungku Muzakir menghubungi dulu Teungku Ilyas,” katanya. Azwar berpendapat, menyimak penjelasan Teungku Muzakir, bahwa tidak sembarang orang diperlihatkan kitab itu.

“Kalau kita datang malam ini, ia juga justru menjadi tertutup. Malah kita tidak dapat apa-apa. Dan lagi sampai di sana pasti malam sekali,” kata Azwar. Jam memang sudah jauh melewati pukul 20.00 Wib. Suasana di sana tidak lagi ramai. Hanya di pesantren itu yang ramai oleh suara anak-anak mengaji, juga di beberapa kios sepanjang jalan kecil di pinggir sungai menuju ke sana yang masih terlihat sejumlah orang duduk-duduk. Sementara jalanan telah sepi. Makin jarang orang lewat.

Di akhir pertemuan, Abi Lah dan Teungku Muzakir menyatakan akan membantu menelusuri jejak Idharul Haqq itu. Mereka sempat bertukar nomor telepon genggam. Setelah itu, rombongan Monisa pamit pulang. Jalan tepi sungai makin sepi. Mereka mengarah ke arah Lhokseumawe. Tiba di Panton Labu, mereka berhenti. Nab Bahany dan Dedi Satria, peneliti arkeologi lulusan Universitas Gajah Mada, turun disana. Mereka menunggu bus untuk  kembali ke Banda Aceh. Sementara rombongan Monisa kembali Peureulak. Malam makin larut.

Paginya, sebuah kabar pun mampir ke telepon genggam kepada Azwar: ada enam kitab lagi tentang Peureulak di tangan Teungku Ilyas. “Kita segera kesana,” kata Badlisyah, Ketua Pengurus Harian Yayasan Monisa, memperlihatkan semangat yang luar biasa. Yang lain di ruang itu tak kalah bersemangat: ”Ayo!”

Menggunakan mobil jip bongsor nan nyaman milik Bili, begitu sapaan akrab Badlisyah, tim Monisa pun meluncur ke Matang Rubek. Sepanjang jalan, dalam kecepatan mobil rata-rata sekitar 100 kilometer perjam, mereka terus bercakap tentang apa yang  bakal didapatnya.

Sekitar satu setengah jam, mobil berwarna hijau tua itu memasuki halaman pesantren Nurul Huda. Disana, Teungku Muzakir telah menunggu. Turun dari mobil, mereka bersalaman dan diajak naik ke bale di samping masjid. Bale itu berkontruksi  bambu, beratap rumbia, dengan tiang-tiang kayu bulat dan tempat bersandar  bambu bulat diikat dengan tali marlin kuning. Setelah duduk, Teungku Muzakir turun memanggil Teungku Ilyas.

Tak jauh, dekat kamar mandi, terlihat seorang lelaki kurus dan agak bungkuk dengan kulit kemerahan sedang memakai kemeja panjang. Rambutnya yang ikal sebagian memutih. “Mungkin itu Teungku Ilyas,” kata salah seorang anggota rombongan dalam hati, yang duduk menghadap ke arah kamar mandi. Lelaki itu lalu berjalan menuju bale.

Benar, dialah Teungku Ilyas. Ia memakai kemeja biru panjang, celana coklat, ikat pinggang hitam. Tak hanya rambut, kumis dan jenggotnya juga sudah memutih.  Ia mengaku datang ketika seminar sejarah masuknya Islam di Nusantara dan Asia Tenggara di Rantau Kuala Simpang. Menurutnya, seperti juga dikatakan sejumlah sumber lain, dalam seminar tersebut Idharul Haqq diperlihatkan.

Ia lalu berkisah.  Pada 1980, kitab itu sempat diambil oleh Ali Hasjmy dari keluarga Pang Acob di Peunaron. “Itu kitab utuh,” katanya. Tapi tidak jelas, apakah kitab itu sudah dikembalikan. Ia mengatakan pula, kitab Idharul Haqq ditulis tangan pada 840 (225 H). Salinannya disiapkan oleh Muhammad Yamin.

Tidak jelas, siapa Muhammad Yamin itu. Nama penyalin kitab yang dia sebutkan berbeda dengan apa yang diungkapkan Ali Hasjmy. Menurut Hasjmy, seperti telah disebutkan dimuka, kitab itu pernah disalin oleh Yunus Jamil, Banda Aceh. Siapa Ustadz Yunus Jamil, itu pun tidak jelas.

Teungku Ilyas sendiri mengaku tidak punya Idharul Haqq.  Ia hanya mengaku punya buku lain yang menceritakan tentang Peureulak. “Saya punya buku Aceh Sepanjang Abad,” tuturnya. Ia lalu bercerita tentang kisah Kerajaan Islam Peureulak, beserta sejumlah silsilahnya. “Silsilah ada di Idharul Haqq,” kata Teungku Ilyas.

Tapi, menurut pengurus Monisa, cerita-cerita itu sudah banyak. “Aceh Sepanjang Abad hanya menceritakan Idharul Haqq. Kami sudah menelusuri ke  berbagai tempat, museum-museum, termasuk museum Ali Hasjmy, tapi tidak ada kitab itu. Ini tidak cukup lagi dengan cerita, kita perlu bukti,” kata Badlisyah.

Kemudian, ia pun kembali menyebut Pang Acob di Peunaron, sebagai orang yang memiliki kitab itu.  Hanya itu informasi yang didapat dari pertemuan itu. Tidak ada enam kitab lain yang disebutkan dalam SMS yang sebelumnya mampir ke telepon genggam Azwar. Bahkan, Teungku Ilyas tidak memperlihatkan satu kitab atau buku pun ketika pertemuan itu.

Di ujung pertemuan, disepakati  Teungku Muzakir akan membantu menelusuri lewat rekan Pang Acob di Pante Bayam. Rombongan kemudian permisi. Matahari hampir persis di atas kepala. Beberapa meter keluar dari kompleks pesantren itu, Badli bergumam pada Azwar. “Besok-besok kalau ada informasi diperjelas dulu. Jangan langsung ambil,” katanya.

Sang komandan Monisa itu tampak kecewa tidak mendapatkan apa-apa dari pertemuan itu. Azwar diam saja, menyadari bahwa ia tidak mengecek lebih dulu detil informasi yang disampaikan Teungku Muzakir kepadanya. “Saya tidak menduga hasilnya begini,” kata Azwar setengah berbisik kepada anggota rombongan lainnya.

Mobil terus berjalan menelusuri jalan kecil di pinggir sungai kecil itu.  Beberapa meter kemudian, Badlisyah yang memegang kemudi, memencet nomor di telepon genggamnya. Tak lama, ia terdengar bicara dengan seseorang. “Bang, apakah Abang tahu ada Pang Acob di Peunaron?”

Samar-samar terdengar suara dari seberang yang mengatakan tidak tahu.  “Kalau begitu, tolong Abang telusuri siapa Pang Acob itu. Sebab, menurut informasi beliau yang memegang Kitab Idharul Haqq. Beliau adalah  pejuang dulu. Mungkin sekarang sudah tidak ada. Tapi keluarganya tentu masih ada.”

Orang yang diajak bicara di  seberang, yang tak lain adalah Camat Peunaron, menyanggupi. Benar, tidak terlalu lama, camat Peunaron kemudian menelpon Badlisyah dan membenarkan bahwa ada warga bernama Pang Acob. Tapi ia sudah tidak ada.

Badlisyah kemudian meminta tolong untuk mencari jejak keluarganya. “Begitu ada informasi pasti, kami segera meluncur ke tempat Abang,” kata Badlisyah. Teman bicaranya di seberang mengiyakan.  Lalu, telepon ditutup. Mobil terus berjalan, seperti perjalanan pergi tadi, kecepatan mobil kali ini juga sekitar 100 kilometer perjam. Jalan raya Banda Aceh-Medan tidak ramai.

Tapi, tim Monisa tetap penasaran dimana Idharul Haqq kini. Mereka kemudian berbagi tugas. Tim Monisa di Peureulak mencoba menelusuri jejak kitab itu pada keluarga Pang Acob, juga kerabat Kek Adu di Matang Rubek. Sementara Nab Bahany ditugaskan menelusuri kitab itu lewat jalur cucu Kek Adu di Aceh Tengah.

Pertengahan  September 2008, Nab mengirim SMS kepada seorang penulis buku ini. Ia mendapat informasi bahwa Idharul Haqq tersimpan di Perpustakaan Teungku Daod Beureueh. Tapi mesti mencari orang yang bisa membaca dan menemukan kitab itu diantara begitu banyak kitab di sana. Tapi setelah ditelusuri hasilnya juga nihil.

April 2009, Nab Bahany kembali ke Desa Suka Jadi Aceh Tengah untuk menemui cucu Kek Adu. Itu dilakukan untuk memastikan apakah sepeninggal Kek Adu kitab tersebut ada dititipkan sama cucunya itu.

Nab menggambarkan, jalan menuju Desa Sukajadi kini beraspal mulus. Itu berbeda dengan 20 tahun lalu ketika ia melakukan kegiatan sosial disana. Waktu itu, jalan menuju desa yang terletak di puncak Bukit  Pante Raya—yang jaraknya sekitar 5 Km dari jalan raya Bireun-Takengon—masih dalam bentuk jalan setapak dan penuh bebatuan. Kederaan roda dua pun sangat sulit dilalui.

Mobil yang membawa Nab Bahany ke desa itu bisa berjalan mulus, meskipun harus melewati tanjakan-tanjakan bukit yang sangat terjal. Waktu yang ditempuh untuk menuju ke sana pun tidak begitu lama.

Tapi begitu sampai di rumah yang dituju, ternyata Mitra, cucu Kek Adu, tidak lagi tinggal disana, tapi sudah pindah ke kota Takengon. Setelah mendapatkan alamat pada anak Mitra yang menempati rumah itu, Nab pun beranjak ke Takengon. Ia disambut Mitra dan keluarganya dengan hangat.

Cucu Kek Adu ini tidak menyangka kalau kedatangan Nab punya misi khusus yakni mencari kitab Idharul Haq yang pernah diperlihatkan kakeknya. “Apa sepeninggal kakek Adu kitab tersebut ada dititp sama bapak,” tanya Nab.

Namun jawaban yang ia dapatkan dari sang cucu ini tidak sebagaimana diharapkan. “Semua kitab kakek banyak yang telah diambil oleh salah seorang sahabatnya di Lhokseumawe, dan sebagian lainnya disimpan oleh keluarganya di Isak,” jelas Mitra.

Menurut Mitra, kakeknya memang banyak meninggalkan kitab, termasuk kitab-kitab sejarah. “Seperti kitab sejarah kerajaan Lingge, dulu ada sama kakek,” katanya. Tapi khusus kitab Idharul Haqn ini ia tidak tahu dimana..

Mitra berjanji akan membantu untuk memberikan informasi selanjutnya, setelah ia menanyakan pada sahabat kakeknya di Lhokseumawe. Ia juga akan mencoba membongkar kembali kitab-kitab Tgk Abdul Samad yang kini tersimpan di rumah keluarganya di Isak, Aceh Tengah. Siapa tahu, kitab itu bersembunyi disana.

Namun, 9 Mei lalu, Nab mendapat kabar dari Mitra: rumah sahabat Kek Adu di Lhokseumawe terbakar tiga bulan lalu. Sebagian kitab-kitab sempat diselamatkan. Tapi belum diketahui apakah diantara kitab-kitab yang sempat diselamatkan itu ada kitab Idharul Haqq.

Mengundang Arkeolog, Menegakkan Sejarah

Setelah diseminarkan 28 tahun lalu, baru kali ini nisan raja-raja Peureulak digali arkeolog.

Nisan tua itu tak jadi dicabut. Bukan karena tertancap amat kokoh pada coran semen yang dipasang pada dasar makam, melainkan karena arkeolog yang memimpin observasi, Deddy Satria, menyatakan penggalian nisan tak perlu dilanjutkan.

“Cukup, sudah bisa disimpulkan,” kata Deddy. Langkah cepat anak muda Aceh jebolan Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada itu tentu saja separo tidak memuaskan pengurus Yayasan Monumen Islam Asia Tenggara dan tokoh masyarakat setempat yang menyaksikan prosesi bersejarah pada 18 Agustus 2008 itu.

Karena sejak awal mereka berharap nisan polos berbentuk genta atau pintu yang seperlima bagian atasnya telah rompal itu diangkat utuh. Mereka meyakini, pada bagian bawah nisan terdapat sejenis papan batu ukuran lebar bertatahkan nama “Aziz Syah”.

Aziz Syah yang memiliki gelar dan nama lengkap Sultan Alaidin Said Maulana Abdul Aziz Syah diyakini sebagai Sultan Kerajaan Peureulak pertama yang jasadnya dipercaya bersemayam di bawah nisan itu. Keyakinan pula yang membuat pemerintah dan tokoh masyarakat setempat membuat papan identitas makam Aziz Syah.

Pada lempeng baja tertera identitas: “Makam Sultan Alaidin Said Maulana Abdul Aziz Syah dan Istri Putri Meurah Mahdum Khudawi. Pendiri Kerajaan Islam I Asia Tenggara, Bandar Khalifah, Peureulak. Berkuasa Selasa, 1 Muharram 225 H-249 H = 840 M-864 M. Wafat 249 H = 864 M”.

Semua berharap ada sebuah kesimpulan dari Deddy yang menjastifikasi bahwa itu adalah nisan sang sultan. Karena saat melakukan penggalian pada kaki nisan, mereka melihat Deddy sempat menduga ada pahatan beruliskan huruf Arab, seperti “alif,” “za,” shad,” “tsa,” “ha”. Ada pula yang mirip kata “Muhammad”.

Deddy juga sempat curiga adanya tanda-tanda ukiran berbahasa arab seperti yang diduga beberapa orang sebelumnya. Untuk membuktikannya, Deddy membilas kaki nisan yang kasar itu menggunakan air, menggosok menggunakan sabut kelapa, dan memulas permukaannya menggunakan kapur tulis.

Setelah ditelaah lebih seksama, lantas dia berujar: “Tidak ada makna apa-apa, selain  goresan kasar dalam pembuatan nisan itu”. Pernyataan Deddy lagi-lagi mengejutkan beberapa orang yang mengikuti prosesi “pengorekan” tanah sedalam 20 sentimeter, di sekitar batu nisan.

Rupanya, kata Deddy, goresan-goresan itu hanyalah sebuah takikan-takikan hasil pahatan untuk menghasilkan bidang rata. “Dan itu dibuat kasar saja, tidak diperhalus seperti bagian atas nisannya,” katanya. Karena bagian ini akan dibenamkan atau menjadi kaki dari batu nisannya. Hanya spedo kaligrafi alias seakan-akan ada kaligrafi, tetapi sesungguhnya takikan ini dimaksudkan semata untuk membentuk bidang kotak.

Pada awal pembuatan batu nisan tersebut, Deddy memaparkan, seorang pandai pahat membentuk batu andesit alam menjadi kotak yang sangat kasar. Untuk menghasilkan keindahan, bagian atasnya dibentuk sedemikian rupa menjadi halus, jadi ada relief-reliefnya.

Nisan ini hanya dibuat polos, seperti makam Abdullah Syah. Artinya memang tidak ada niat dari si pembuat nisan itu untuk membuat kaligrafi di bagian kaki nisan yang ditanamkan ke dalam tanah itu. “Saya bertanggungjawab dalam penggalian ini,” ujar Deddy menandaskan.

Dua pekan setelah penggalian, Deddy membuat laporan kepada Yayasan Monisa. Dalam makalah 28 halaman berjudul “Situs Paya Meuligou, Peureulak, Aceh Timur” itu, dia menyimpulkan bahwa pada kompleks makam Sultan Alaidin Said Maulana Abdul Aziz Syah ditemukan dua makam.

Pertama, makam yang selama ini diyakini sebagai makam Sultan Alaidin Said Maulana Abdul Aziz Syah. Bentuk nisan berupa papan batu dengan lengkung Persia yang terpotong bagian atasnya. Nisan berukuran tinggi 30 sentimeter, lebar 20 sentimeter, dan tebal 5 sentimeter. Sebagian kecil, lebih kurang seperempat bagian, patah dan hilang. “Nisan ini bentuknya sama dengan nisan pada makam Putri Samudera Pasai Al A’la yang wafat tahun 1387 Masehi,” kata Deddy.

Kedua, makam yang diduga sebagai makam istri Sultan Alaidin Said Maulana Abdul Aziz Syah, Putri Meurah Mahdum Khudawi. Bentuk nisannya berupa papan batru dengan bentuk sayap. Berukuran kecil dengan tinggi 20 sentimeter, lebar 11 sentimeter, dan tebal 4 sentimeter. “Bentuk nisan serupa banyak ditemukan di Samudera-Pasai dari masa lebih kurang 1300 hingga 1400 masehi”.

Adapun pada makam Sultan Abd Allah Syah dengan sebuah makam yang dilengkapi sepasang batu nisan. Namun bentuk dan ukuran kepala dan kaki berbeda. Nisan bagian kepala berbentuk papan batu dengan bentuk kendi pada bagian puncak nisannya. Berikuran lebih besar daripada nisan kaki dengan ukuran tinggi 30 sentimeter, lebar 20 sentimeter, dan tebal 5 sentimeter.

Sedangkan nisan kaki berukuran lebih kecil berukuran tinggi 20 sentimeter, lebar 12 sentimeter, dan tebal 4 sentimeter. Bentuk nisan serupa lengkung Persia yang terpotong bagian atasnya. Seperti nisan-nisan di atas, “Kedua batu nisan secara relatif dibuat pada masa yang bersmaan, lebih kurang 1300 hingga 1400 Masehi,” ujar Deddy.

Prosesi observasi dan survey permukaan tanah yang tanpa melalui upacara peuseujuk tersebut tentu bukan perkara gampang. Betapa tidak? Sejak “penyegaran” Badan Pengurus Yayasan Monisa pada 2007 sempat mendiskusikan pentingnya upaya pembuktian dengan cara menggali nisan yang telah dianggap sebagai makam para raja Peureulak di tepi sungai Peureulak, Bandar Khalifah.

Namun, pengurus yang kebanyakan berasal dari kalangan muda dan berpikir rasional, tidak mau gegabah. “Kami sadar, semua ada ahlinya, termasuk penggalian nisan harus menggunakan arkeolog,” kata Ketua Yayasan Monisa, Badlisyah. Pada akhir Juni, Badlisyah yang mendapat restu dari seorang pembina Yayasan Monisa, berencana melakukan penggalian pada esok harinya.

Namun dia membatalkan rencananya, dengan alasan harus dibicarakan dulu dengan bupati, tokoh masyarakat, dan pembina Yayasan Monisa lainnya. “Jangan sampai kami yang muda-muda ini dianggap lancang,” kata Badlisyah. Setelah sebulan merenung dan berdiskusi, akhirnya Badlisyah memutuskan untuk melakukan penggali atas makam tua itu.

Dalam pertemuan dengan Bupati Aceh Timur Muslim Hasballah di Pendopo Bupati, Langsa, pada 18 Agustus 2008, Badlisyah mengatakan, “Pengurus Yayasan Monisa terus menelusuri pembuktian sejarah Monisa secara kritis”. Setelah mendapat restu dari bupati, maka arkeolog Deddy melakukan observasi dan survei di sejumlah makam tua di Paya Meuligou, Peureulak.

Menurut Badlisyah, penelitian arkeologi terhadap Kerajaan Islam Peureulak bukan hanya keinginan generasi muda Peureulak, melainkan juga memiliki dasar yang kuat, yakni amanah dari peserta seminar Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara pada 25-30 September 1980. “Karena ini amanah yang baik, maka tugas mulia ini harus kami laksanakan,” kata Badlisyah.

Memang, salah satu butir kesimpulan seminar tersebut menyatakan, untuk mendukung sumber-sumber tertulis perlu dilakukan penelitian arkeologi. “Terhadap sumber-sumber tersebut dipandang perlu untuk diperbuat dengan penelitian-penelitian arkeologi”.

Kesimpulan serius yang membahagiakan itu menunjukkan betapa saran para arkeolog dihargai. Hasan Ma’arif Ambary, arkeolog Universitas Indonesia yang saat itu menjabat Kepala Bidang Arkeologi Islam Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, menyarankan agar dilakukan penelitian sejarah dan arkeologi dengan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan. “Diperlukan di masa datang untuk meneliti data sejarah dan arkeologi di Peureulak”.

Alasannya, “Data arkeologi yang berhubungan dengan Peureulak belum banyak digarap,” kata Ambary melalui makalah berjudul “Sejarah Masuknya Islam di Negeri Perlak Ditinjau dengan Pendekatan Arkeologi”.

Sebenarnya penelitian arkeologi di sebelah timur Aceh sudah berlangsung sejak awal abad ke-20. Kala itu, pada 1912-1917 J.J. de Vink, sarjana lapangan bangsa Belanda tertarik pada kepurbakalan Islam di Aceh.

Atas perintah Dinas Purbkala (Oudheidkundige Dienst) dilakukan pemotretan, penggambaran dan pembuatan acuan Provinsi Aceh. Tapi sayangnya, kata Ambary, catatan yang dibuat J.J. de Vink, berdasarkan Gouvermenents Besluit 14 Maret 1912 dalam bentuk Lisjt der Fotografsvhe opnamen gemakt in’t voormaligrijk Aceh maupun catatan Abklats, tidak mencantumkan Peureulak ataupun daerah Aceh Timur lainnya seperti Tamiang.

Rupanya dalam melakukan tugasnya selama lima tahun di daerah Aceh, J.J. de Vink tidak sempat mengunjungi daerah Aceh Timur. Hal ini menarik perhatian Ambary. Untuk itu saat melakukan peninjauan lapangan dalam perjalanannya ke Aceh pada 2 maret 1974, dia menyempatkan diri mengunjungi makam tua di Kreung Tuan yang diyakini sebagai makam puteri Nurul A’la. “Dengan harapan dapat menemukan hal-hal yang berguna bagi kepurbakalaan dan sejarah,” kata Ambary.

Setelah berjalan kaki sejauh 4 kilometer, mereka menjumpai batu nisan “Nurul A’la” yang sangat sederhana namun menunjukkan ciri-ciri archais berukuran sekita 40 sentimeter. Pada bagian lebarnya terdapat tiga kolom berukir bunga-bungaan yang pada bagian tengahnya terdapat huruf kufi bertuliskan “La ilaha Illal’lah,” tidak ada kalimat selain itu. Rupanya, “Tradisi menuliskan nama yang dikuburkan seperti di Samudra Pasai, Aceh Besar dan daerah-daerah lainnya tidak meresap ke sini,” kata Ambary.

Walapun nisannya tidak memuat nama dan angka tahun, Ambary menilai bukan berarti nisan itu tidak penting, karena di beberapa tempat lain seperti Banten, Cirebon, Demak, Imogiri, dan Gresik, banyak makam yang tidak memakai nama atau angka tahun. Meski tidak memuat nama dan angka tahun,  nisa-nisan tersebut dapat diketahui identitasnya berdasarkan tradisi, seperti di Cirebon dalam kitab Purwaka Caruban Nagari karya Pangeran Arya Cirebon (1720).

Di situ termuat nama-nama tokoh yang dimakamkan di kompleks Gunung Jati Cirebon. Demikian pula halnya dengan Kerajaan Peureulak, kitab semacam Idharul Haq fi Mamlakatul Peureulak karya Abu Ishak Al Makarany dianggap bisa memberi petunjuk ke arah itu.

Pada benteng Kareung Inong yang terletak di perkebunan kelapa sawit milik PPN Benteng, Ambary melakukan pengukuran dan penggambaran. “Namun batu yang tingginya hampir tiga meter ini dengan tangga masuk yang menyerupai teras masih merupakan teka-teki besar antara proses alamiah dan buatan tangan manusia,” ujarnya.

Oleh-oleh kunjungannya itu amat berguna, karena pada delapan tahun kemudian hasil kunjungannya itu disampaikan dalam seminar di Rantau, Aceh Timur. Pada kesempatan itu Ambary mengatakan, dengan melakukan penelitian arkeologi tentang bekas Bandar Peureulak, mungkin akan dapat memberikan beberapa jawaban yang lebih memuaskan tentang kronologi Kerajaan Peureulak. Sejauh ini,  Ambary menambahkan, penelitian arkeologi di situs kerajaan Peureulak baru meliputi beberapa tempat.

Penelitian ini belum dapat menghasilkan data pertanggalan yang mutlak dari makam-makam kuno atau penemuan-penemuan lain yang memberikan indikasi data pertanggalan karena makam-makam kuno yang diteliti belum ada yang memberikan ciri-ciri memuat angka tahun seperti yang banyak kita temukan di Pasai atau di daerah Aceh lain, “Seperti makam-makam bertanggal di kompleks Makam Malik As-Shaleh, Kandang XII, Minje Tujoh dan sebagainya,” kata Ambary.

Memang, kata Ambary, kalau sekedar peninjauan lokasi makam-makam di Peureulak sudah dilakukan beberapa arkeolog,  namun ekskavasi belum dilaksanakan untuk membuktikan adanya penemuan benda-benda berasal dari Timur Tengah. Kalaupun ada, baru sebatas asumsi, “Dengan pikiran bahwa kedudukan pelabuhan-pelabuhan kuno di pantai Timur yakni Haru, Peureulak dan Pasai adalah serupa sebagai pelabuhan tempat persinggahan pedagang-pedagang asing dari berbagai negeri”.

Satu-satunya harapan kita, ujar Ambary, di masa yang akan datang kita dapat mengadakan penelitian arkeologi yang intensif di Peureulak. “Sehingga data-data tertulis dari masa abad yang muda seperti naskah Idharul Haq ini dapat diperkuat oleh data-data arkeologi yang relevan,” katanya.

Penelitian arkeologi amat penting. Karena, kata Ambary, kalau ilmu sejarah berhasil mengungkapkan peristiwa-peristiwa kehidupan masa lampau, umpamanya segi kronologinya maka arkeologi dapat membantu dengan memberikan bukti-bukti kehidupan sosial masa lampau.

Misalnya pada peristiwa tertentu berdirinya Kerajaan Peureulak pada tahun tertentu, maka arkeologi dapat membantu dengan aspek-aspek kehidupan sosial masa itu dengan mempelajari semua benda-benda hasil kehidupan sosial masa itu. “Dari benda-benda tersebut akan terdapat benda-benda, yang membantu kronologi juga, misalnya mata uang bertanggal, keramik asing dan sebagainya,” kata Ambary.

Saran Ambary sejalan dengan rekannya, Uka Tjandrasasmita. Arkeolog Universitas Indonesia yang saat itu menjabat Direktur Sejarah dan Purbakala Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Uka menilai sejarah Aceh, khususnya pada masa sebelum kedatangan Islam dan masa peralihannya, perlu diteliti berdasarkan sumber-sumber babad, naskah, hikayat, tambo, dan cerita-cerita rakyat dengan membandingkan pula dengan bukti-bukti lain, seperti berita asing dan peninggalan sejarah atau purbakala.

Pendekatan untuk menyusun sejarah Aceh dari masa ke masa, kata Uka, memerlukan pendekatan penelaahan dengan ilmu sosial, termasuk arkeologi. “Sehingga akan tersusun lengkap mengenai struktur sosial, struktur ekonomi, dan struktur pemerintahan,” kata Uka.

Setelah berlalu selama 28 tahun, rekomendasi pentingnya dilakukan penelitian arkeologis disampaikan kembali oleh mantan Sekretaris Panitia Seminar, Jamaluddin AR, kepada Bupati Aceh Timur, Muslim Hasballah. “Kita (selama delapan belas tahun) belum pernah melakukan penelitian seksama yang ilmiah secara arkeologis,” kata Jalamuddin.

Itu sebabnya, tatkala gagasan penelitian arkeologis digagas oleh generasi muda Aceh yang tergabung dalam Yayasan Monisa, Jamaluddin mendukung penuh.  “Perlu dilakukan. Kalau tidak, masalah pembangunan Monisa akan goyah,” kata Jamaluddin.  Kepada Dewan Pengurus Yayasan Monisa, dia berpesan agar semua program pembangunan monumen Islam Asia Tenggara dijalankan. “Jalan terus,” ujar Jamaluddin.

Memperoleh dukungan yang kuat dari berbagai pihak, Dewan Pengurus Yayasan Monisa kian bersemangat untuk memfasilitasi penelitian arkeologi. “Kami tidak ingin semua ini menjadi beban dan tanggungjawab yang tidak jelas bagi masyarakat Aceh dan Asia Tenggara,” kata Badlisyah.

Meski observasi arkeologi yang dilakukan Deddy mengarah pada kesangsian terhadap sejumlah makam yang diyakini masyarakat sebagai makam tertua para raja Peureulak, namun Badlisyah yakin suatu saat akan ditemukan benda-benda yang berhubungan dengan kerajaan Islam.

Menurut Badlisyah, observasi yang dilakukan Deddy sedikit lebih maju ketimbang penelitian yang dilakukan arkeolog-arkeolog  sebelumnya. Namun dia tidak puas. Untuk itu Yayasan Monisa meminta kepada arkeolog agar melakukan penelitian lebih lama dan mendalam. “Tahap awal kami mengundang arkeolog untuk melakukan survey di lokasi-lokasi yang dicurigai memiliki nilai arkeologi, minimal satu bulan penuh, sehingga Islam Peureulak akan tegak sebagai,” kata Badlisyah.

Berbagai pihak berharap banyak dari keseriusan Yayasan Monisa. Mereka menanti sinar terang atas teka-teki kebesaran Kerajaan Islam di Peureulak. Para arkeolog dan sejarawan tentu amat mendukung langkah mulia ini. Ya, supaya generasi sekarang dan mendatang memahami Kerajaan Islam Peureulak bukan hanya dalam bentuk legenda dan dongeng, melainkan juga sejarah kritis.

Mengembalikan Kejayaan Peureulak dari Simpang Beusa

Peureulak strategis karena menjadi titik penghubung Ladiagalaska di pantai timur Aceh.

Puluhan bangunan rumah toko dan warung sederhana saling berimpitan di Simpang Tiga Beusar, Peureulak Barat, Aceh Timur. Sekitar 100 meter di belakang tempat keriuhan pedagang dan pembeli, sebuah mesjid megah tengah dibangun.

Kendaraan, meski tidak terlalu banyak, berlalu-lalang sepanjang jalan yang menghubungkan Jalan Raya Medan-Banda Aceh pada ruas Simpang Tiga Beusar, Aceh Timur, dengan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Luwes. Semua tumbuh secara alami dan mandiri dengan gerakan yang lamban.

Namun, lamban maupun cepat, kelak Simpang Tiga Beusar menjadi sebuah kawasan bisnis yang besar. Di sanalah manusia dengan berbagai kepentingan bertemu, berinteraksi, bertransaksi, dan menetap. Menciptakan kota pertumbuhan baru. Mengapa?

Karena pemerintah tengah membangun jalan Ladiagalaska, akronim dari Lautan Hindia, Gayo Alas, Selat Malaka. Ladiagalaska merupakan program peningkatan jalan sepanjang 470 kilometer yang menghubungkan wilayah Aceh bagian barat, tengah, dan timur.

Ruas jalannya membentang sejak Meulaboh, Jeuram, Beutong Ateuh, Celala, Takengon, Blangkejeren, Pinding, dan Lokop. Melintasi lima kabupaten, yakni Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Tengah, Gayo Luwes, dan Aceh Timur.

Ladiagalaska merupakan program lanjutan dari Program Pembangunan Jalan Jaring Laba-laba atau Sirip Ikan–karena menyerupai jaring laba-laba dan sirip ikan–yang dirancang pada era 1980-an, dan dimulai pelaksanaannya pada 1985 sebagai manifestasi membuka daerah terisolasi dan terpencil di Aceh.

Pada masa itu jaringan jalan antarwilayah di Aceh belum terbentuk. Yang tersedia baru jalan di daerah pesisir dan beberapa ruas di pedalaman yang terpencil. Jalan Ladiagalaska, selain membuka daerah terisolasi, juga untuk menghubungkan antara wilayah Aceh luar dan Aceh dalam serta zona industri dengan zona pertanian.

Dalam perjalanannya, proyek Ladiagalaska tersendat karena ditentang dan dijegal di mana-mana, terutama kalangan lembaga swadaya masyarakat lingkungan. Mereka mengkhawatirkan proyek Ladiagalaska akan menimbulkan penebangan liar, banjir, punahnya flora-fauna, memakai jalan hak penebangan hutan, dan memotong Taman Nasional Gunung Leuser.

Namun sebagian besar kekhawatiran tersebut terbantahkan. Isu Ladiagalaska memotong Taman Nasional Gunung Leuser tak terbukti, karena tidak ada jalan Ladiagalaska yang memotong Taman Nasional Gunung Leuser.

Untuk meyakinkan bahwa Ladiagalaska tidak memotong Taman Nasional Gunung Leuser, pada 2 Desember 2003 para bupati dan wali kota bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah di seluruh Nanggroe Aceh Darussalam membuat surat pernyataan dukungan terhadap proyek Ladiagalaska, yang salah satu butirnya menyatakan, “Pembangunan jalan Ladiagalaska merupakan harapan seluruh masyaralat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam”.

Sebelumnya, pada 25 Februari 2003 Bupati Aceh Timur, Azman Usmanuddin, melayangkan surat dukungan pembangunan Ladiagalaska kepada Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Abdullah Puteh.

Menurut Azman, pembangunannya tidak akan mengganggu ekosistem dan kerusakan lingkungan, “Karena selama ini jalan tersebut telah dipergunakan sebagai sarana transportasi masyarakat Aceh Timur,” kata Azman, kala itu.  “Nantinya dapat memperlancar roda perekonomian sebagai sarana transportasi masyarakat Aceh Timur”.

Maka, cepat maupun lambat, proyek pembangunan jalan strategis nasional berskala besar itu tak akan terbendung. Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dalam Ringkasan Program Pembangunan  Jalan Strategis Nasional  Ladigalaska yang dipaparkan  Dinas Prasarana Wilayah Nanggroe Aceh Darussalam menyatakan tetap melanjutkan program tersebut dengan rencana strategis dan arah kebijakan umum.

Pertimbangannya, jalan Ladiagalaska untuk meningkatkan jalan yang telah ada dan merupakan kelanjutan program yang telah dilaksanakan sejak lama. Lebih dari itu, Ladiagalaska merupakan harapan seluruh masyarakat Aceh, salah satu upaya percepatan pembangunan untuk mengatasi kesenjangan pertumbuhan ekonomi antarwilayah, dan membuka daerah terisolasi yang ada di pedalaman Aceh.

Alasannya, jalan tembus yang representatif dan memperpendek jarak serta waktu tempuh itu amat dibutuhkan masyarakat Aceh, terutama Kabupaten Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Jaya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Tamiang, Bireun, Pidie.

Tanda-tanda terwujudnya jalan Ladiagalaska ditangkap Bupati Aceh Timur, Muslim Hasballah, sebagai salah satu langkah untuk kian mempermudah akses dan mensejahterakan masyarakat Aceh. “Akses cepat dan kesejahteraan masyarakat harus diutamakan,” kata Muslim.

Belajar dari sejarah, dia melihat sejak beberapa abad silam masyarakat di belahan timur Aceh yang hendak ke belahan barat Aceh harus perjuangan berat. Menggunakan transportasi darat, mereka harus menempuh perjalanan  sekitar 800-900 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 12-15 jam.

Untuk itu mereka harus melintasi Aceh Timur, Aceh Utara, Lhokseumawe, Bireun, Pidie, Aceh Besar, Banda Aceh, Aceh Jaya, Aceh Barat, dan Aceh Barat Daya. “Namun dengan jalan Ladiagalaska cukup 470 kilometer, dengan waktu tempuh 6-8 jam,” kata Muslim.

Dampak lanjutannya, “Mempercepat pengiriman hasil pertanian dan perikanan, juga kebutuhan dasar masyarakat seperti sembako,” kata Muslim. Sedikitnya ada tujuh kabupaten yang bersentuhan langsung dengan Aceh Timur bila Ladiagalaska rampung.

Sebagai contoh, ujar Musim, masyarakat Gayo Luwes dan Aceh tengah yang sementara ini kesulitan mengirim sayur-mayur dan hasil perkebunannya ke Medan, Sumatera Utara, atau ke Bireun karena jaraknya jauh, kelak cukup melalui Aceh Timur. Begitu juga dengan ikan laut dari Aceh Timur, akan lebih cepat tiba di Gayo Luwes dan Aceh Tengah. “Sehingga tidak busuk ketika dibeli konsumen,” ujar Muslim.

Hirup-pikuk yang bertumpu di Simpang Tiga Beusar itu, tentu saja secara alami akan menimbulkan kemacetan dan kesemrawutan. Solusinya, sejak dini harus dirancang tata-ruang wilayah yang serius. “Kalau sekedar pemikiran, sudah,” kata Muslim.

Lantas, bagaimana bila semua hasil bumi dan transportasi menumpuk di Simpang Tiga Beusar? Menurut Muslim, semua harus disalurkan ke daerah lain, seperti Medan dan ekspor. Konsekwensi lanjutannya, jalan kereta api yang kini sedang dibangun dan dihidupkan kembali setelah mati sejak 1950-an, harus benar-benar tersambung dari Aceh Timur ke Banda Aceh maupun ke Medan.

Adapun untuk ekspor, kata Muslim, harus mengembangkan pelabuhan Peureulak menjadi pelabuhan ekspor. Menurut putra Peureulak ini, seyogianya pemerintah Indonesia mengambil pelajaran dari negeri jiran Malaysia dalam mengelola daerah. “Kalau mau belajar, Mungkin Indonesia lebih maju daripada Malaysia,” ujarnya.

Di negara yang dibatasi Selat Malaka itu, kata Muslim, “Daerah diberi izin mengekspor”. Sebenarnya kalau pemerintah pusat berhati baik, Muslim menambahkan, bangunlah pelabuhan dan izinkan ekspor untuk propinsi yang memiliki berbagai sumber penghasilan untuk ekspor, seperti Aceh.

“Kalau banyak pelabuhan ekspor, pusat tidak perlu repot-repot mendapatkan devisa yang besar,” ujar Muslim. Lantas buat aturan  yang jelas tentang hasil ekspor. “Dari sekian ribu ton per bulan yang diekspor dan diimpor, sekian persen untuk pemerintah pusat. “Logikanya begitu, tetapi di pusat mana ada pemikiran begitu,” kata Muslim.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Aceh Timur, Irham, optimistis kelak Peureulak menjadi pelabuhan umum. “Pelabuhan ekspor-impor nanti kita buat di Peureulak,” kata Irham. Alasannya, jalan Ladiagalaska membuat barang-barang dari Aceh Tengah, Aceh Tenggara,  Gayo Luwes, Aceh Tengah, akan turun ke Aceh Timur.

Kalau sudah begini, barang-barang tersebut akan diekspor. Mimpi putra Peureulak ini bukan tanpa alasan. Jauh ke masa silam, ketika transportasi lebih mengandalkan sungai dan laut, Kerajaan Peureulak telah membuktikan pernah menjadi pelabuhan bertarap internasional.

Dari Bandar Khalifah mereka mengirim hasil bumi, pertanian, sampai rempah-rempah, ke kerajaan-kerajaan lain di Nusantara dan mancanegara. “Dulu Peureulak didatangi saudagar-saudagar dari Arab, Cina, dan lain-lain,” kata Irham. Kalau Peureulak memiliki dasar sejarah ekspor-impor sepuluh abad silam, “Kini kita bangkitkan kembali,” ujar Irham.

Untuk menghidupkan kembali kejayaan pelabuhan Peureulak, kata Irham, sambil menanti terwujudnya jalan Ladiagalaska, pihaknya tengah mempersiapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJM), yang didalamnya terdapat rencana tata ruang wilayah (RTRW).

“Peta untuk arah kebijakannya sedang kita buatkan petanya, supaya jangan kabur saat pelaksanaan,” kata Irham. Diantaranya juga akan dibuat tata ruang Peureulak sebagai kota pendidikan. “Akan kita desain, itu prioritas kita,” kata Irham.

Mulai 2009, kata Irham, Aceh Timur akan membangkitkan pembangunan sarana dan prasarananya fisik, seperti pembangunan dan perbaikan jalan, perbaikan dan pembangunan jembatan, pembangunan gedung sekolah. “Sekarang kita fokus dulu untuk 2009, sehingga setiap orang bisa masuk dari satu kampung ke kampung lain menggunakan jembatan,” kata Irham.

Sedangkan untuk memperkuat argumentasi bahwa Peureulak layak menjadi pelabuhan sejak masa silam, pemerintah daerah menggandengan Yayasan Monuen Islam Asia Tenggara (Monisa) untuk melakukan penelitian dan penulisan buku sejarah Peureulak. “Kami ingin lebih detail lagi, mengapa para pendatang dari negeri Cina, Arab, dan Marcopolo dari Venesia, memilih Peureulak,” kata Irham.

Pelabuhan Peureulak menjadi pelabuhan internasional pilihan para pendatang, “Itu kan satu tanda tanya yang sangat besar. Pasti ada sesuatu disitu,” kata Irham. Dia tidak ingin kejayaan Peureulak masa lalu hanya sebagai kebanggaan sejarah. “Kami nggak mau sampai di situ, tapi juga perlu kita hidupkan kembali”.

Kalau hasil penelitian sejarah menyatakan Peureulak pernah mengekspor sumber daya alam yang bahannya bersumber dari Aceh Tenggara, “Ya, kita buat jalan ke Aceh Tenggara. Supaya kini hidup lagi,” kata Irham. Kalau “. sejarah mencatat Peureulak masa silam mengekspor tambang, “Kita cari lokasinya, mana tahu masih bisa ditemukan”.

Menurut Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Timur,….. masyarakat Aceh pun harus mempersiapkan sumber daya manusianya sejak dini. Untuk mengembangkan sektor kelautan, misalnya, pemerintah bisa mendorong tumbuhnya pesantren kelautan. “Di sektor kelautan kita berikan boot kepada pesantren,” katanya. Kalau sudah berhasil, maka Aceh Timur bakal memiliki sumber daya manusia yang lengkap: lautan dan daratan.

Mewujudkan Monumen Islam Asia Tenggara

Pada masa Aceh yang damai ini, wacana pembangunan monumen kembali menggairahkan.

Gulungan kertas yang telah menguning itu dibentangkan Badlisyah pada puncak bukit Paya Meuligou, Peureulak, Aceh Timur. Sambil memegang kertas berukuran 70×40 sentimeter bergambar Situasi Proyek Pembangunan Monumen Islam Asia Tenggara, itu  tatapan matanya meneropong sekeliling perbukitan yang telah dipenuhi semak belukar.

“Di sinilah kami akan membangun Monumen Islam Asia Tenggara,” kata Badlisyah sembari mengarahkan telunjuk kanannya pada gambar berskala 1:1000. Di atas lahan seluas 114.275 meter persegi itulah, Badlisyah, pengusaha Aceh Timur yang sejak 2007 dipercaya menjadi Ketua Dewan Pengurus Yayasan Monumen Islam Asia Tenggara, itu diberi amanat melanjutkan proyek yang terbengkalai sejak sekitar dua puluh tahun silam.

Melihat disain yang begitu apik, tampaknya gambar dibuat oleh seorang arsitek profesional. “Yang membuat desain adalah Pak Wib Sutrisno pada 1984,” ujar Badlisyah. Ketika itu Wim Sutrisno merupakan pimpinan Directa Consultant Biro Banda Aceh. Pada disain tergambar berbagai bangunan dan fasilitas pelengkap monumen.

Pada bukit yang kami pijak itu, dipercaya sebagai bekas keraton atau mahligai (meuligou) Kerajaan Peureulak. Di bekas mahligai itu pula, “Para pendahulu kami bercita-cita membangun semacam pendopo dengan tiang berbahan kayu, dinding dari pelepah rumbia. Sedangkan atapnya dari daun rumbia”.

Di barat laut bukit terdapat semacam kolam yang dipenuhi belukar dan pohon rumbia, yang kelak dibangun kolam. “Konon, dulunya berupa kolam pemandian Putri Nurul A’la,” kata Badlisyah. Sebelah barat laut kolam terdapat gambar nomor satu berupa bidang persegi lima, yang masing-masing sudutnya terdapat bidang persegi lima pula, namun berukuran lebih kecil.

Pada bidang persegi lima yang besar berbentuk kubah mesjid. Adapun kelima bidang segi lima yang ebih kecil berupa menara tinggi. “Inilah induk bangunan Monisa,” ujar Badlisyah.  Pada bangunan induk Monisa terdapat tiga fasilitas, yakni mesjid, perpustakaan, dan museum.

Antara Monisa dengan Jalan Alur Mas terdapat satu jalur jalan dengan dua lajur, yang pada sisi kiri dan kanan jalan serta median ditumbuni aneka pohon taman. Sekitar 100 meter arah timur laut dari gedung Monisa, terdapat gambar nomor dua berupa bangunan berbentuk empat persegi panjang. Di sana direncanakan berdiri gelanggang remaja yang di dalamnya terdapat perhotelan atau wisma, asrama pelajar, dan perumahan.

Gambar nomor tiga merupakan Gedung Serba Buna yang direncanakan untuk kantor sekretariat Monisa, tempat pertemuan para tamu, serta tempat latihan atau kursus keterampilan. Antara Monisa dan Gelanggang Remaja dengan Gedung Serba Guna terdapat taman dengan jalan penghubung.

Tidak jauh dari gambar Gedung Serba Guna, terdapat gambar nomor empat yang berbentuk huruf W. Di sanalah akan dibangun sekolah Taman Kanak-kanak, sekolah umum atau agama mulai tingkat Sekolah Dasar, Sekolah menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Perguruan Tinggi Agama.

Pada gambar nomor lima yang merngarah ke Jalan Bangsa II terdapat dua bidang berbentuk huruf “L” yang akan berfungsi sebagai pesantren tradisional, pesantren modern, dan pesantren terpadu. Di belakang pesantren tergambar tujuh bidang berbentuk empat persegi panjang untuk dibangun asrama para santri.

Di tengah-tengah antara pesantren, gedung Monisa, Taman Nurul A’la, dan Bukit Meuligou, terdapat gambar enam pada bidang tanah berbukit setinggi 8 meter, yang akan dibangun Taman Mini Sejarah Pengembangan Islam di Indonesia.

Di dalamnya terdapat maket Kerajaan Peureulak, Isak dan Lingga, Pase, Darussalam banda Aceh, Tamiang, Jawa atau Wali Songo,  Kalimantan, Sulawesi, Malaysia dan Asia Tenggara lainnya, serta tokoh mubaligh Indonesia.

Tak lupa, di sana akan disediakan berbagai fasilitas olahraga, kesenian, dan budaya. Semua fasilitas akan terintegrasi dengan makam-makam dan benda cagar budaya lain di sekitar lokasi, terutama di bandrung dan Paya Paligau, Tualang Peureulak, Krung Tuan, Seumanah, Bukit Cek Brek Kabu, dan Gunung Kala Bayeun.

Sebuah disain indah. Namun di lokasi sesungguhnya, sebagian besar lahan masih berbentuk belukar. Kolam yang diyakini sebagai bekas pemandian Putri Nurul A’la, sebagai contoh,  seluruh permukaannya dipenuhi pohon rumbia dan rumput belukar. Begitu pula kondisinya pada lahan yang akan dijadikan monumen dan gelanggan remaja, masih belukar.

Taman Mini Sejarah Pengembangan Islam di Indonesia masih berbentuk bukit tanpa bangunan. Lahan yang direncanakan sebagai pesantren, kini berdiri mesjid atas inisiatif masyarakat sekitar. Pembangunan mesjid yang di luar rencana panitia itu baru rampung sekitar 50 persen, sehingga belum bisa digunakan. Tak jauh dari mesjid baru ini, sekitar 100 meter terdapat mesjid tua Paya Meuligou.

“Kalau mesjid tak masalah dibangun masyarakat, karena pada lahan itu, meski telah dibeli oleh Yayasan Monisa, juga sumbangan mereka juga,” ujar Badlisyah. Tanah tersebut semula milik 24 orang, yakni Abdullah Ubit, M Nur Umar dan T Affan, Zulkifli Abdullah, Abubakar mahmud, Idris Abdullah, A Rani Zen, Tgk Abdullah Musa, M Samin Thalib, TM Zen, M Yunus A Rani, Zainuddin Ben, M Ali Umar, A Rahman Pawang, Abbas Rahman, M Yacob Cut, Tgk Abdullah, Sayed Yahya, Mamunah dan Hamidun, M Saleh Kali Itam, A Rahman Ishak, Siti Hawa Abdullah, G Sulaiman Pulau Blang, Mahmud Tanah Rata, dan Ali Kasim Tanah Rata.

Mereka rela melepaskan tanah, rumah, dan tumbuh-tumbuhan yang berharga dan cintai, karena disana akan dibangun Gedung Monisa yang sangat bermanfaat untuk generasi masa yang akan datang.

Saat itu panitia membayar ganti rugi Rp 23.556.561, dengan perincian Rp 15.286.561 untuk pembebasan tanah, dan Rp 8.270.000 untuk pembayaran ganti rugi rumah. “Betapa besar arti pengorbanan mereka dalam menunjang dan mensukseskan pembangunan ini,” ujar Badlisyah.

Pada lahan paling sudut di sebelah selatan dibangun Sekolah Menengah Pertama (SMP) oleh Pemerintah Aceh Timur. Sedangkan Gedung Serba Guna telah berdiri, namun dengan kondisi memprihatinkan. Sebagian kacanya pecah, plafon jebol, kusen mulai lapuk, dan lantainya ada yang terkelupas.

Maklumlah, sejak diresmikan pada 27 Mei 1984, Gedung Serba Guna nyaris tidak mendapat dana perawatan. Padahal bangunan yang disumbang pengusaha asal Peureulak, H Abubakar Abdy itu diresmikan oleh Gubernur Aceh H. Hadi Thayeb, Ketua DPRD Tingkat I Provinsi Daerah Istimewa Aceh H.M. Amin, Bupati Aceh Timur Drs. Zainuddin Mard, Camat Peureulak Drs. Jacob Hasan, Pengrus Yayasan Monisa, tokoh masyarakat, dan ribuan masyarakat.

Menurut Drs. Jamaluddin Ar, Pembina Yayasan Monisa yang pada 1980-an sebagai Sekretaris Umum Yayasan Monisa, itu Gedung Serba Guna subangan Abubakar Abdy  itu sernilai Rp 30 juta. Sumbangan juga diberikan pemerintah sebesar  Rp 35  juta, dengan perincian Menteri Agama Rp 5 juta, Bupati Aceh Timur Rp 10 juta, Gubernur Daerah Istimewa Aceh Rp 20 juta.

Saat itu, kata Jamaluddin, sumbangan itu amat mendesak, karena saat yayasan tidak memiliki dana, masyarakat amat menbutuhkan gedung untuk masa depan  generasi muda. Kalaupun ada dana, telah habis untuk membayar ganti rugi tanah dan rumah yang terkena proyek Monisa. “Atas inisiatif Bapak H Ramli Mahmud sebagai Ketua I Yayasan Monisa dapat mengimbau Bapak H Abubakar Abdy, putra Peureulak asli yang saat itu menjadi pengusaha sukses di Medan,” kata Jamaluddin.

Mengapa lokasi monumen Islam yang megah itu tetapkan di Paya Meuligou? Memang, kata M Arifin Amin, BA, dalam bukunya, Monisa Dalam Lintasan Sejarah, pada awalnya lokasi monumen diputuskan di Kampung Lho’ Dalam Peureulak.

Alasannya, batu pertama pembangunan Monisa diletakkan di Taman Fajar Peureulak oleh Menteri Agama yang diwakili oleh Sekretaris Jenderal Departemen Agama, Drs. H Kafrawi MA pada 20 September 1980.

Dengan alasan kurang strategis, lokasi pembangunan Monisa di Lho’ Dalam dibatalkan, untuk selanjutnya direncanakan dibangun di Cot Keh, Blang Betra. Panitia yang terdiri dari Bupati Kepala Daerah Tingkat II Aceh Timur Drs. Zainuddin Mard bersama rombongan–Tgk H. Yusuf Ibrahim  Kruit Lintang, H Romli Mahmud, Drs. jamaluddin Ar, Drs Zainuddin Saman, dan Tgk M Arifin Amin, menemui Gubernur Daerah Istimewa Aceh, Hadi Thayeb, di Banda Aceh, pada 10 September 1981.

Pada kesempatan itu Gubernur Hadi Thayeb menyarankan agar Monisa dibangun di tempat kejadian sejarah kerajaan Islam Peureulak, yaitu Bandar Khalifah atau Desa Paya Meuligou. Setibanya di Aceh Timur, panitia menggelar rapat pada 18 September 1981. Rapat memutuskan Desa Paya Meuligou sebagai lokasi pembangunan Monisa. Juga membentuk tim checking tanah yang akan dijadikan lokasi monumen.

Tim terdiri dari H Ramli Mahmud sebagai ketua, Drs. Jamaluddin Ar sebagai sekretaris. Sedangkan anggota tom adalah Drs. Zulkifli UA, Mayor A.M. Isa, Tgk. Zainuddin Saman, Tgk. M. Arifin Amin, Tgk. Yusuf Ibrahim Kruit Lintang, O.K. Mahmunar Rasyid, Zainal Abidin BRE, Usmanuddin, Nurdin Usman, dan Ghazali Mahmud BA. Tim lantas meninjau Desa Bandrung dan Desa Paya Meiligau, Bandar Khalifah, pada 21 September 1981.

Paya Meuligou yang diyakini sebagai bekas Istana dan kolam Putri Nurul A’la seluas 10 hektare, memiliki tanah darat berbukit rendah. Alasannya, “Bila banjir tidak tenggelam”. Sebenarnya masih ada dua lagi lokasi di Desa Paya Meuligou yang dianggap cocok untuk Monisa, yakni sekitar perkuburan Sultan  Abdullah Syah  seluas 6 hektare.

Tanahnya berbukit rendah, sehingga bila banjir tidak tenggelam. Sedangkan lokasi kedua, merupakan tanah bekas kantor dan perumahan BPM seluas 15 hektare, berjenis tanah daratan. “Tidak tenggelam bila banjir”.

Panitia juga sempat menunjuk dua lokasi di Desa Bandrung. Yakni di depan pemakaman Sultan Abdul Aziz Syah seluas 5 hektare, dan di tepi Jalan Alur Mas Peureulak dengan tanah dari jenis sawah seluas 15 hektare. Namun dila banjir, dipastikan terjadi banjir dan menenggelamkan lahan Monisa. “Maka timmemutuskan, tanah yang cocok untuk monumen adalah tanah di depan bekas Istana”.

Peninjauan lapangan yang memutuskan bekas Istana  atau Kolam Nurul A’la itu kemudian diajukan dalam pertemuan dengan bupati, tokoh masyarakat, dan 2 orang pemilik lahan pada 20 Juli 1982. Pada 8 Oktober 1983 bertepatan dengan 1 Muharram 1403 Hijriyah, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung Serba Guna pleh Gubernur Hadi Thayeb.

Acara dihadiri Ketua Majelis Ulama Provinsi Daerah Istimewa Aceh Prof. H. Ali Hasjmy, Bupati Aceh Timur Drs. T.M. Bakhrum, Camat Peureulak Drs. Yacob Hasan, dan anggota DPRD Kabupaten Aceh Timur. Sedangkan peresmian gedung Serba Guna pada 27 Mei 1984.

Dari sini menunjukkan, para penggagas dan pelaksana ingin pembangunan monumen yang diproyeksikan bakal terkenal karena keagungannya itu tidak mubazir, meninggalkan kenyamanan bagi generasi penerus. Sekaligus membawa pesan bahwa untuk membangun sebuah pusat peradaban harus memperhatikan banyak aspek, termasuk geografi, teknik, dan seni.

Kelak, bila semua bangunan megah tersebut rampung, kawawasan Monisa akan menjadi magnit yang hidup. Peureulak akan menjadi ramai, disinggahi para wisatawan Nusantara dan mancanegara. Ujung-ujungnya, ajaran agama Islam, bisnis dan kebudayaan berkembang. “Jauh lebih ramai daripada Peureulak saat kejayaannya dulu,” Badlisyah menambahkan.

Pembangunan Monumen Islam Asia Tenggara merupakan salah satu dari sepuluh poin rekomendasi Seminar Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh pada 1980. “Untuk lebih menghayati proses sejarah pada masa lalu dan guna membangun masa depan yang lebih baik,” kata Jamaluddin.

Seminar, kata Jamaluddin, mendukung gagasan pemerintah untuk membangun dan mengembangkan proyek madrasah dan pesantren terpadu. “Proyek tersebut disarankan dibangun dalam kompleks Monisa,” ujar Jamaluddin.

Panitia seminar yang diberi amanah, melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan Monisa. Setelah seminar, panitia melakukan pertemuan dengan DPRD Tingkat II Aceh Timur. Mereka meminta agar DPRD membuat keputusan pembentukan Yayasan Monisa sebagai badan yang mengelola hasil-hasil keputusan seminar.

Lantas DPRD menyetujui pada 28 Maret 1981 dengan mengeluarkan surat persetujuan Nomor 03 Tahun 1981. Intinya memberi kewenangan kepada Bupati Kepala daerah Tingkat II Aceh Timur untuk membentuk Yayasan Pembangunan Monumen Islam Asia Tenggara di Peureulak.

Setelah 24 tahun berlalu paska pembangunan gedung Serba Guna, Monisa seakan ditelan bumi. Angan-angan pembangunan monumen Islam di Asia Tenggara itu mangkrak. Penyebabnya, “Konflik dan lain sebagainya, sehingga kita ngga bisa mengembangkan apa-apa, (Monisa) tak bisa kita hidupkan,” kata Badlisyah.

Para pendiri dan pengurus Yayasan Monisa, satu persatu menghadap Sang Khalik. Yang tersisa tinggal beberapa saksi sejarah Seminar Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Asia Tenggara pada 1980. Di sekretariat Yayasan Monisa pada sebuah rumah toko di Jalan Medan-banda Aceh, Peureulak, tersisa gambar disain pada kertas yang telah menguning itu, makalah-makalah yang mengargumentasikan bahwa Peureulak merupakan kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara, foto-foto kegiatan.

Adapun maket bangunan monisa teronggok di sudut gudang Pendopo Bupati Aceh Timur dalam kondisi mengenaskan: kubah dan menaranya copot tak tersisa, beberapa lokasi batang fiber telah koyak, dan kaca pelindung maket  pecah dan hilang. “Ini merupakan simbol koyaknya proyek monisa,” kata Azwar, pengurus Yayasan Monis. Namun dia dan rekan-rekannya tak mau putus asa. “Kami harus merangkai dan membangun kembali menjadi lebih indah,” ujar Azwar.

Kini, setelah dihantam gelombang Tsunami pada 26 Desember 2004,  Aceh memasuki babak baru yang damai. Begitu konflik reda, kaum tua yang tersisa dan anak muda Peureulak dengan semangat berkobar-kobar, bertekad meneruskan pembangunan Monisa.

Kepengurusan Yayasan Monisa dirombak. “Ini menjadi tantangan bagi pengurus sekarang,” kata Badlisyah. Para anak muda Peureulak ini bertekad melanjutkan cita-cita para penggagas, pendiri, dan pengurus sebelumnya. Para pendahulu mereka menghendaki Monisa sebagai lambang kejayaan bangsa, sumber kejayaan Islam masa lalu, dan pusat studi Islam masa mendatang.

Kejayaan bangsa akan terlihat melalui sejarah kejayaan Islam yang tertera di dalam kompleks Monisa. Monisa juga menjadi tempat studi berbagai ilmu pengetahuan, kunjungan atau tempat studi pembandingan Islam luar Aceh, Indonesia, dan luar negeri.

Monisa kelak sebagai tempat pengembangan Islam, serta tempat berhimpun seluruh potensi masyarakat yang tersebar di s eluruh Tanah Air. Sebagai sumber kejayaan Islam masa lalu, baik saat Islam berkembang di Timur Tengah dan Eropa sejak abad ke-7 Masehi, dan Kepulauan Nusantara serta Aceh.

Untuk “menghidupkan” proyek Monisa, Yayasan Monisa sepakat membuat sejumlah langkah. Langkah awal, kata Badlisyah, adalah melakukan penelitian, penulisan, dan penerbitan buku tentang sejarah Islam di Aceh, terutama Peureulak. Penelitian akan melibatkan arkeolog, sejarawan, dan jurnalis.

“Ekskavasi oleh arkeolog amat penting untuk memperkuat argumentasi bahwa di Peureulak ada kerajaan besar,” ujar Badlisyah. Buku yang akan diterbitkan dalam bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris, itu diharapkan dapat menggugah kembali para ilmuwan dan donatur dari Indonesia dan dunia. “Bukulah langkah awal untuk mempublikasikan kembali Monisa,” ujar Badlisyah.

Yayasan Monisa tidak bertepuk sebelah tangan. Bupati Aceh Timur, Muslim Hasballah, memberi dukungan penuh. “Ujung tombaknya pengurus Yayasan Monisa, dan kami siap mendukung sepenuhnya,” kata Muslim. Memang, kata Muslim, sebagai anak muda kelahiran Aceh Timur, dirinya belum mengetahui banyak tentang Monisa.

Karena dalam perjalanan Monisa sejak 1980, bangunan Monisa yang prestisius itu belum tewujud. Kalaupun tahu, dia memperolehnya secara samar-samar dari cerita orang-orang tua yang mengatakan di sekitar Paya Meuligou ada kerajaan Peureulak yang nyohor sampai ke penjuru Nusantara Aceh dan Asia Tenggara.

Saatnyalah, ujar Muslim, generasi muda Aceh Timur yang bersemangat dan bertubuh muda melajutkan cita-cita dan rekomendasi para tokoh angkatan 1980.  Dia ingin mengembangkan daerahnya sebagai salah satu pusat pendidikan, penelitian, pengembangan, dan museum Islam terbesar di Asia Tenggara. “Untuk itu kita harus mampu membangun monumen tersebut,” kata Muslim.

Persoalannya, kata dia, hingga saat ini semua pihak di Aceh Timur belum mampu membangun monumen. “Kalau kita nggak bisa membangun, itu artinya perkembangannya tidak bagus,” kata Muslim.  Sekarang yang ada tinggal bukti sejarah berupa makam. Sementara generasi muda Aceh Timur mulai banyak yang tidak mengetahui sejarah Peureulak yang benar.

Melihat jaman yang makin maju, tak ada kata lain, semua pihak harus mempromosikan Peureulak ke berbagai daerah hingga mancanegara. Caranya, katanya Muslim, lakukan penelitian dan penulisan buku tentang Peureulak yang pernah memiliki peran penting sebagai kerajaan Islam. “Diterbitkan dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab”.

Buku yang akan diterjemahkan dalam beberapa bahasa internasional itu akan dikirim ke banyak negara. “Untuk mencari dana pembangunan. Ini sangat serius. Dan dengan keadaan Aceh sekarang (damai), saya rasa pembangunan monumen Islam Asia Tenggara amat mungkin dilanjutkan”.

Monisa di Mata Orang Muda

Tak hanya kalangan muda, kalangan tua pun gelisah. Ada pula yang mengusulkan perlunya Qanun.

Lelaki  itu tampak kekar, berotot, berambut agak cepak. Wajahnya tampak keras. Ia memakai kemeja pendek garis-garis hitam dan abu-abu, celana jean, sepatu hitam. Sebuah jam tangan melingkar di lengannya. Di jari tangan kiri terpatri cincin emas bermata merah. Sedangkan di jari kanan  melingkar cincin besi putih.

Di ruang seluas sekitar 5×6 meter itu, lelaki itu sedang bicara dengan sejumlah orang. Ia tampak tenang. Bahasanya teratur. Ucapan-ucapannya lugas, polos. Sesekali, ia tersenyum. Saat lain, ia tampak serius memandang orang yang sedang berbicara dengannya. Matanya seperti tak berkedip.

Pagi yang mendung itu belum beranjak jauh. Kala itu, pertengahan Agustus 2008, lelaki itu, yang tak lain adalah Bupati Aceh Timur Muslim Hasballah, sedang kedatangan serombongan tamu dari Yayasan Monisa. Mereka sedang bersilaturrahmi dengan sang bupati, tukar pikiran soal yayasan itu yang ingin meneruskan cita-cita lama: mewujudkan monumen Islam Asia Tenggara di Peureulak.

Dalam rombongan itu, ada pengurus Monisa seperti Badlisyah (Ketua Umum), Azwar, Mulyadi Nurdin (Ketua Bidang Perencanaan), pembina Monisa Jamaluddin AR dan T Syahril, sejarawan Aceh Nab Bahany AS, peneliti arkeologi Dedy Satria, dan dua penulis buku tentang Monisa dari Jakarta.

“Sebetulnya, saya belum tahu betul tentang sejarah Monisa,” katanya tentang monumen itu. “Saya hanya mendengar dari orang tua bahwa di Paya Meuligou tempat orang yang membawa Islam ke Aceh dan Asia Tenggara,” ia menambahkan. Karena itu, tuturnya lagi, kedepan, “kami ingin mengembangkan daerah itu sebagai tempat penelitian dan pendidikan.”

Berangkat dari kurangnya informasi tentang Monia, maka muncul pemikiran untuk membuat buku tentang Monisa. “Membuat buku untuk dibaca dan dipelajari banyak kalangan. Kalau banyak orang yang mempelajari mungkin banyak orang yang berniat membangun daerah itu.” Sebab, hingga kini pihaknya  belum mampu membangunnya.

Dan, menurut dia, membangun Monisa tidak bisa hanya dengan dana dari APBD. “Itu tidak mungkin,” katanya. Dana untuk pembangunan itu besar sekali. Diharapkan setelah selesai buku tentang Monisa itu, ada orang yang bisa membantu. Melobi dunia Asia Tenggara? “Diserahkan ke Yayasan Monisa. Nanti monisa yang akan menjalankannya. Kami mendukung penuh.”

Boleh jadi,  orang luar Aceh Timur belum banyak tahu tentang Monisa atau Kerajaan Islam di Peureulak, apalagi daerah-daerah lainnya. Bahkan, orang Aceh Timur  pun belum begitu mendalam mengetahui tentang ini. “Saya tidak banyak tahu,  karena tidak begitu  mengikuti,” tutur Teungku Haji Buchari, pimpinan pesantren Asasul Islamiyah, Peureulak. “Saya membaca di (koran) Waspada, Pak Hasjmy yang menjadi pendorong (ide Monisa).”

Dengar pula kata-kata Muhammad Jully Fuady, aktivis lembaga swadaya masyarakat di Aceh. Ketika ia kecil, ia sering membaca tentang Monisa dari tulisan  Ali Hasjmy. Disebutkan, Meurah Silu sebagai sosok dari Kerajaan Peureulak.

Di luar itu, ia tahu tentang kerajaan Peureulak ini dari cerita lisan, dari mulut ke mulut. Selain Pasai, pria kelahiran Idi Rayek pada 1971 itu tahu bahwa Peureulak punya eksistensi penting dalam sejarah Islam. “Setelah itu saya tidak pernah mendapatkan kembali yang mengkaji khusus soal itu.”

Hanya sebatas itu. Namun kini, ia mulai mengerti. Kemengertian itu dibarengi dengan sikap kritis.  “Sekarang, saya tidak begitu yakin, kalau belum ada satu penjelasan yang lebih ilmiah. Katakanlah ada kerajaan Islam Peureulak, tapi harus dibuktikan,” ujar mantan Wakil Direktur Bidang Operasional LBH Banda Aceh  itu.

Penggalian itu harus terus dilakukan. Ia lalu mengambil contoh di Jawa. Disana, orang Jawa sangat rajin dan komit menggali kebudayaannya. Kajian-kajian budaya dan sejarah di Jawa memberi inspirasi bagi warganya. “Saya punya harapan seperti itu. Bukan konteks sentrisme. Tapi bagaimana mengkaji untuk kepentingan Aceh ke depan,” tuturnya.

Ia berharap Peureulak bisa menjadi starting point bagi orang Aceh umumnya, khususnya anak muda, untuk tertarik pada ilmu sejarah. Sebab, menurut alumnus Fakultas Hukum UII Yogyakarta itu, Aceh krisis ilmuan sejarah. “Kalau memang keberadaan kerajaan Islam Peureulak  benar, itu akan menjadi kebanggaan peradaban. Dulunya pernah muncul peradaban yang maju di sini.”

Ini berbeda dengan Peureulak kini. Daerah itu tidak begitu muncul ke permukaan. Menurut  Jully Fuady, itu bukan karena masyarakat di sana tertutup, tapi ada masalah dengan pendidikan yang rendah, juga konflik Aceh. Masyarakat Peureulak sendiri, ia melihat, sangat terbuka. “Moderat dan tidak alergi dengan asing.”

Selain itu, ia berharap kepada pemuda Aceh Timur, untuk tidak terjebak pada pada pemahaman yang dikotomis antara Peureulak dan Idi sentris. “Sebaiknya anak muda lebih menyatukan diri untuk Aceh Timur yang lebih besar,” kata  lelaki kelahiran Idi pada 1977 itu.

Bagaimana dengan putra Peureulak asli? “Saya mengenal Monisa pada 1984, ketika peresmian gedung serbaguna,” tutur Badlisyah, yang kini menjadi pucuk pimpinan Yayasan Monisa. Ia mengenang, kala itu, sekolah-sekolah berkemah di Paya Meuligou, tempat pembangunan monumen penting itu. “Waktu itu saya masih kelas tiga SMP.”

Ketika peresmian, masing-masing sekolah menampilkan kesenian. Selain itu, ada pula napak tilas di hutan Paya Meuligou. Kala itu, jalanya belum beraspal. “Mulai disitu cerita-cerita tentang kerajaan Islam pertama berkembang. Waktu itu tidak menarik. Teman-teman lain juga sama saja.

Setelah itu, ia “terputus hubungan” dengan Monisa. “Kita hanya mendengar Yayasan Monisa sedang melakukan penggalangan dana untuk membangun  monumen itu.” Ia baru kembali “berhubungan” dengan Monisa ketika dipilih menjadi pengurus yayasan itu. Bahkan, hari-harinya belakangan menjadi bagian tak terpisahkan dari mimpi besar untuk membangun monumen sejarah Islam tersebut.

Lelaki kelahiran Peureulak, 8 Mei 1968 itu  merasa beban Yayasan Monisa secara moral itu berat.  “Kita harus melibatkan semua pihak, apakah sejarawan, arkeolog. Kita butuh dukungan dari berbagai pihak, terutama dari pemerintah tingkat dua.” Dukungan dari provinsi? Ia mengaku belum mulai untuk ke arah sana.

Ia juga sepakat dengan Muhammad Jully Fuady, keberadaan Islam Peureulak perlu pembuktian lebih lanjut. “Saya berasumsi, sementara ini penuh dengan legenda,” kata pimpinan Pesantren Terpadu Nurul Ulum, Peureulak, itu. Ia menunjuk contoh tenang adanya kuburan panjang yang tidak jelas itu siapa.

Begitu pula silsilah raja-raja yang tersusun secara kronologi. “Struktur raja-raja yang bagus itu dari mana sumbernya. Kita tanya kepada pengurus sebelumnya, mereka tidak tahu.” Dengan pembuktian, menurut dia, semua akan menjadi jelas.

Hal serupa dikatakan Azwar Alamsyah, seorang guru di Peureulak.  “Yang paling penting dilakukan sekarang berhubungan dengan Kerajaan Peureulak adalah melakukan pembuktian-pembuktian baik secara tertulis maupun arkeologis.”

Menurutnya, kini sudah ada kesimpang-siuran informasi tentang keberadaan Monisa dan Kerajaan Islam Peureulak: benar adanya atau tidak. “Itu mesti diluruskan.”

Azwar mengaku mengenal Monisa  juga ketika peresmian gedung serbaguna, gedung satu-satunya yang baru berdiri di kompleks monumen tersebut. Sebelumnya, ia mengaku tidak perduli sama sekali. Sebab, kala itu, ia masih terlalu muda.

Apalagi, “orang-orang tua masa itu (pengurus lama Yayasan Monisa) tidak memberi pandangan kepada kita,” ujar lelaki kelahiran Peureulak, 3 Januari 1972 itu.

Maka, ia melanjutkan, ketika “pekerjaan” Monisa itu dilimpahkan kepada generasinya, mereka pun menjadi kalang kabut. “Bahkan kami tidak mengerti asal-usul. Sehingga saat kita turun ke lapangan pun, kita menjadi tamu di kampung kita sendiri,” katanya

Azwar sangat berharap apa yang dilakukan kini, yakni upaya membuktikan keberadaan kerajaan Islam Peureulak, bisa menjadi kenyataan bahwa Peureulak memang kerajaan  Islam pertama di Nusantara, seperti dinisbahkan banyak pihak dan diyakini  masyarakat kini.

Jika tidak? “Kita harus menerima dengan lapang dada. Kalau pembuktian sejarahnya ternyata terbalik, kita harus  mengakui.”

Di masyarakat, kegelisahan terhadap Monisa juga terjadi.  Coba simak komentar Nabawi Majid di situs Lembaga Penelitian Sejarah Aceh (lpsa.wordpress.com) tentang kunjungan pengurus lembaga itu ke Peureulak. “Saya asli putra kelahiran desa Bandrong Kecamatan Peureulak,” tulisnya. Ia mengaku sangat sedih melihat kondisi monumen sejarah itu belum ada tanda-tanda pembangunannya. “Hanya sebatas wacana,” tuturnya.

Lelaki yang mengaku kordinator Aceh Marginal Institute yang bermarkas di Peureulak itu mengatakan pula perlunya penelitian lebih lanjut tentang keberadaan Islam  di Aceh. “Yang perlu sama-sama kita pikirkan dan kita desak pemerintah untuk membentuk tim peneliti untuk penentuan di mana letak kerajaan Islam yang pertama di Aceh.”

Selanjutnya, hal itu bisa diwujudkan dalam sebuah qanun agar tidak saling klaim. “Endingnya mempercepat pembangunan tempat wisata sejarah.”

Seorang pembaca Serambi Indonesia, dalam ruang diskusi internet koran itu juga mengungkapkan kegelisahannya tentang belum terwujudnya pembangunan Monisa.  Lelaki bernama Iradis itu mengatakan, pada 1980 pernah digagas pembangunan monumen Islam Asia Tenggara di Aceh Timur. “Namun sampai saat ini tidak jelas keberadaanya.”

Tak hanya kalangan muda, kalangan tua pun  gelisah. “Kesimpulan saya, penelitian ini perlu dilakukan. Kalau tidak, pembangunan Monisa menjadi sesuatu yang goyah,” kata Ketua Dewan Pembina Monisa, Jamaluddin AR. Maksudnya, apalagi kalau bukan penelitian untuk memperkuat keyakinan masyarakat selama ini tentang keberadaan Islam Peureulak.

Sebab,  kalau tidak ada kepastian yang valid, menjadi sesuatu yang selalu diragukan, dan perdebatan. “Masyarakat Pasee tetap menganggap mereka yang pertama.” Selama ini, menurut dia,  belum pernah ada penelitian yang seksama, penelitian arkeologis. Padahal, semua asumsi memperkuat ke keyakinan bahwa Islam pertama di Peureulak.

Jika dikumpulkan, kegelisahan  juga harapan-harapan akan terwujudnya monumen itu begitu banyaknya. Sudah pasti, ini menjadi semacam dorongan untuk semua pihak untuk mewujudkannya.  Namun sebelum itu, ada yang berpendapat hal itu tidak semata demi “nostalgia yang membahagiakan”, tapi menjadi titik penting untuk melangkah ke depan.

Pendapat semacam ini datang dari  Ir Irham, MT, Ketua Bappeda Aceh Timur. Menurut dia, Monisa jangan hanya sekedar kebanggaan. “Saya ingin Monisa tidak hanya menggali sejarah masa lalu.”

Generasi kini perlu mengkaji  mengapa para pedagang-pedagang dari negeri-negeri jauh dulu datang ke Peureulak, bukan ke Langsa atau Kuala Simpang.  “Mengapa mereka singgah? Misalnya karena ini. Bisa nggak hal itu kita hidupkan kembali.”

Sebagai ketua Bappeda, ia  sudah merancang sejumlah hal untuk menuju ke sana. “Peureulak akan kita jadikan pelabuhan umum. Idi sebagai pelabuhan perikanan. Itu sudah ada sejarahnya. Dulu pedagang-pedagang singgah di Peureulak.”

Silang Pendapat Islam Pertama

Nab Bahany As

Untuk membicarakan sejarah masuk dan berkembangnya agama Islam di Aceh, terutama di wilayah Peureulak Aceh Tumur dan di Pasai Aceh Utara, setidaknya ada empat masalah pokok yang harus menjadi kajian kita.

Pertama, tempat asal kedatangan agama Islam ke Aceh. Kedua, daerah yang menjadi awal masuknya agama Islam ke Aceh hingga berdirinya kerajaan Islam paertama di Aceh. Ketiga, kapan Islam pertama masuk ke Aceh. Keempat, aliran Islam apa yang pertama berkembang di Aceh. Kelima, siapa yang mula-mula membawa agama Islam di Aceh.

Sementara ini, kalangan sejarawan masih bersilang pendapat mengenai tempat asal mula kedatangan Islam ke Aceh maupun tempat pertama sekali Islam masuk dan berkembang di di Aceh. Ada pendapat yang mengatakan bahwa Peureulak (Aceh Timur) adalah tempat pertama sekali masuk Islam ke Aceh dan di wilayah ini berdirinya kerajaan Islam pertama di Aceh dan Nusantara. Pendapat lain mengkaim bahwa kerajaan Islam pertama berdiri di Aceh dan Nusantara, bahkan untuk Asia Tenggara, adalah kerajaan Islam Samudra Pasai (daerah Aceh Utara sekarang ini).

Demikian pula soal asal daerah Islam pertama datang ke Aceh dan Nusantara. Sebagian pendapat mengatakan agama Islam pertama sekali datang ke Aceh dari Gujarat India. Namun sebagian lainnya mengatakan agama Islam pertama masuk ke Aceh langsung dari Arab. Beda pendapat para sejarawan ini juga mempengaruhi pada aliran Islam pertama yang datang ke Aceh. Ada yang mengatakan aliran Islam pertama masuk ke Aceh adalah Sunni. Ada juga yang mengatakan Syiah.

Pengaruh Hindu

Sebagaimana diketahui, sebelum Islam datang ke Aceh, penduduk di wilayah ini telah lebih dulu dipengaruhi oleh agama Hindu. Hal ini diketahui dari adanya peninggalan-peninggalan purba kepercayaan Hindu, terutama di daerah-daerah pesisir Aceh. Walaupun tidak ada bekas, namun dari ada cerita-cerita rakyat dan peraturan-peraturan lama dalam masyarakat Aceh dapat dipercaya bahwa Hindu telah beberapa lama mempengaruhi peradaban dan bahasa Aceh sebelum masuknya Islam (H.M. Zainuddin, 1961: 42).

Bukti adanya pengaruh Hindu di Aceh juga dipertegas Muhammad Said dalam bukunya Aceh Sepanjang Abad (1981) yang mengatakan bahwa agama Hindu telah masuk masuk ke Aceh seiring datangnya para imigran Hindia di kepulauan Nusantara sejak awal abad keempat masehi. Sejak itu diperkirakan agama Hindu sudah mulai berkembang di Aceh, terutama di wilayah-wilayah tertentu di pesisir Aceh.

Apa yang dikemukakan Muhammad Said memang hampir tak dapat terbantahkan. Jika ditelusuri peninggalan-peninggalan purba yang diyakini sebagai bekas peninggalan Hindu, semuanya terletak di wilayah pesisir Aceh. Misalnya, beberapa bangunan bekas peninggalan Hindu di wilayah Krueng Raya di kaki gunung Selawah Aceh Besar dan sebagian lainnya di Laweung, Pidie. Bangunan-bangunan itu secara arkeologis diyakini sebagai bekas-bekas kerajaan Hindu kecil yang pernah berdiri di Aceh.

Snouch Hurgonje (1893) yang banyak mempelajari tentang asal-usul Aceh mengemukakan, pengaruh Hindu yang lebih muda ditemukan di Aceh bisa dilihat pada cara berpakaian wanita Aceh, juga cara bersanggulnya yang miring, mirip cara bersanggul wanita Hindu. Adanya pengaruh Hindu di Aceh juga dipertegas Van Langen sebagaimana dikutip Muhammad Said (1981:24): selain dibuktikan banyaknya bahasa sangskerta dalam bahasa Aceh juga adanya kerajaan-kerajaan Hindu, yang tak hanya di Aceh Besar, juga Aceh Utara dan bagian timur.

Bukti lain adanya pengaruh Hindu itu dapat dilihat dari kesusastraan di Aceh, seperti hikayat Sri Rama yang ditulis dalam bahasa Melayu. Hikayat ini sama seperti kisah perkawinan Ramayana karya Walmiki. Namun belum dketahui jelas apakah hikayat ini saduran dari naskah Sri Rama tulisan tangan huruf Jawi (Arab) yang menjadi koleksi Pendeta Laud pada 1633 dan kini tersimpan di perpustakaan Bodleian Universitas Oxford di Inggris bersama naskah-naskah kuno lainnya tentang Aceh.

Menurut Muhammad Said (1981:26) naskah hikayat Sri Rama koleksi Pendeta Laud itu adalah naskah Sri Rama asli yang ditulis dalam versi Aceh. Sedangkan naskah Rawana yang juga tersimpan dalam koleksi Laud, meskipun ceritanya sama, ditulis dalam versi lain. Kedua naskah sastra klasik Aceh itu, baik Sri Rama maupun Rawana, dalam beberapa kajian disebutkan sebagai naskah hikayat yang mencerminkan tentang kuatnya pengaruh agama Hindu sebelum datangnya agama Islam di Aceh.

Raja Rawana yang disebutkan dalam hikayat Sri Rama Aceh itu adalah raja Hindu yang pernah bertahta di Indrapuri (Aceh Besar sekarang). Demikian pula dengan nama-nama kampung tertua dalah bahasa sangskerta di Aceh seperti Indrapurwa, Indrapuri dan Indrapatra diperkirakan sebagai nama-nama kota kerajaan Hindu yang pernah tumbuh di Aceh.

Malah di Indrapuri sampai sekarang masih ditemui bekas bangunan Hindu yang diperkirakan disana pernah bediri sebuah kerajaan Hindu yang tergolong besar di Aceh. Namun ketika Sultan Iskandar Muda memerintah Aceh, sebagian bangunan itu dibongkar dan didirikan sebuah masjid di atasnya yang kini dikenal dengan masjid kuno Indrapuri, Aceh Besar. Dalam kajian arkeologis, masjid itu  termasuk yang tertua di Asia Tenggara. Sama halnya dengan perpustakaan kuno di Tanoh Abee, Seulimum, Aceh Besar, dalam kajian arkeologis juga digolongkan sebagai perpustakaan tertua di Asia Tenggra.

Permulaan Islam

Letak geografis Aceh yang sangat strategis di jalur lalulintas internasional Selat Malaka telah membuat Aceh menjadi salah satu daerah terpenting bagi tempat persinggahan keluar-masuknya para padagang dunia. Kontak perdagangan dunia dengan Aceh, menurut Arani Usman (2003:8-9), telah dimulai sejak adanya kehidupan dan tumbuhnya peradaban di Nusantara.

Hubungan antar bangsa yang dijalin orang Aceh pada awalnya adalah melalui hubungan bisnis. Banyak saudagar dari Arab dan India mencari rempah-rempah di Sumatera untuk dibawa melalui India yang selanjutnya diteruskan ke Timur Tengah. Dari interaksi antar bangsa ini memberi petunjuk bahwa hubungan antar budaya orang Aceh dengan bangsa-bangsa dunia sudah berlangsung jauh sebelum agama Islam datang ke Aceh dan Nusantara.

Soal kapan masuknya Islam, sebagaimana telah disinggung di awal tulisan ini, ada dua pendapat yang dikembangkan para sejarawan. Pendapat pertama mengatakan agama Islam sudah masuk ke Aceh sejak abad pertama tahun Hijriah, atau pada abad ketujuh masehi. Pendapat ini dipelopori oleh sejarawan muslim. Sementara pendapat kedua, dipeloporoi sejarawan Barat (orientalis), bahwa Islam pertama masuk ke Aceh (Nusantara) adalah pada abad ke 13 Masehi dengan berbagai pembuktiannnya.

Kedua pendapat ini, tentu, memerlukan analisa sejarah yang kritis. Kita tidak akan mengambil kesimpulan dan memihak pada salah satu pendapat tersebut. Kedua pendapat itu harus diakomodasikan untuk menemukan sebuah kebenaran sejarah secera otentik dan objektif.

Pendapat yang mengatakan Islam sudah masuk ke Aceh dan Nusantara pada abad pertama hijriah memang sudah menjadi kesimpulan dalam beberapa kali seminar Sejarah Masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara. Seminar sejarah Islam yang berlangsung di Medan Sumatera Utara pada 1963, misalnya, menyimpulkan bahwa agama Islam pertama masuk ke Nusantara pada abad pertama Hijriah, dan daerah pertama sekali menerima Islam di Nusantara adalah Aceh.

Kesimpulan ini ditegaskan kembali pada Seminar Sejarah Islam di Banda Aceh pada 1978. Lalu pada 1980 dalam Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Nusantara di Rantau Kuala Simpang, Aceh Timur,  juga disimpulkan bahwa agama Islam telah masuk ke Aceh dan Nusantara sejak abad pertama hijriah. Tiga kesimpulan seminar ini rasanya telah cukup menguatkan pendapat yang mengatakan Islam telah masuk ke Aceh pada abad pertama hijriah atau abad ketujuh masehi.

Kesimpulan-kesimpulan dalam seminar itu, menurut sejarawan Islam, bukan tidak beralasan. Apalagi ketika dihubungkan penyebaran Islam di seluruh jazirah Arab. Diperkirakan menjelang wafatnya Nabi Muhammad SAW, Islam sudah berkembang luas di seluruh jazirah Arab. Pengembangan Islam ini terus meluas hingga ke luar jazirah Arab. Bahkan pada zaman Khalifah Usman Ibn ‘Affan, utusan pengembangan agama Islam ini sudah sampai ke Tiongkok. Para pendakwah Islam itu berlayar melalui lautan India dan laut Tiongkok menuju pelabuhan Kwangjou di Tiongkok Selatan.

Pada zaman itu Tiongkok dipimpin Dinasti T’ang (618-907M) yang membuka pintu masuk untuk kedatangan orang-orang luar. Maka orang-orang Arab dengan mudah masuk ke Tiongkok. Dengan demikian tidak mustahil bila pedagang dan para pelaut Arab yang sudah beragama Islam dalam perjalanan menuju Tiongkok melintasi Selat Malaka dan singgah di pelabuhan-pelabuhan pantai Selat Malaka. Baik untuk menunggu musim ataupun untuk menambah perbekalan, atau bahkan melakukan barter perdagangan dengan penduduk setempat. Tidak mustahil dalam interaksi itu mereka sekaligus mendakwahkan agama Islam bagi penduduk-penduduk Aceh.

Sumber-sumber Tiongkok juga menyebutkan bahwa para perantau Arab yang sudah beragama Islam, sejak tahun 600 masehi sudah banyak ditemukan bermukim di Aceh. Seperti diceritakan dalam catatan perjalanan seorang biksu Tionghowa I Shing, ia menyebutkan bahwa pada 672 masehi, ketika berangkat  dari Canton menuju India melalui Selat Malaka, ia sempat menyinggahi beberapa pelabuhan di pantai sebelah barat Sumatera, yang tak lain adalah pelabuhan-pelabuhan di Aceh.

Saat itu, dalam catatannya I Shing menyebutkan bahwa di pantai barat Sumatera (Aceh atau Sumatera), telah banyak bermukim orang-orang muslim Arab yang disebut sebagai bangsa Ta-shi dalam logat China. Maksudnya adalah bangsa Parsi. Dengan demikian, dari dalil-dalil itu, teori yang mengatakan Islam pertama sekali masuk ke Aceh dan Nusantara pada abad pertama hijriah memang hampir tak terbantahkan.

Latar belakang teori itu juga sekaligus membuktikan bahwa Islam pertama masuk ke Aceh atau Nusantara langsung dari Arab. Itu seiring datangnya pelaut atau pedagang-pedagang Arab ke Aceh dan Nusantara, baik sebagai tempat persinggahan sementara maupun sebagai perarantau atau imigran yang mencari penghidupan baru di kepulauan Nusantara.

Namun teori itu tidak berarti membuat pendapat sarjana Barat — yang mengatakan kedatangan Islam pertama di Aceh dan Nusantara pada abad ke-13 Masehi yang dibawa oleh pedagang dari Gujarat India – termensofkan atau gugur. Sebab, setiap teori mengandung kecenderungan tertentu dengan menekankan aspek-aspek khusus dan mengabaikan aspek-aspek lainnya. Dengan kata lain, masing-masing teori punya latar pijaknya sendiri.

Sejumlah sarjana barat, terutama asal Belanda, memegang teori bahwa asal muasal Islam di Nusantara adalah dari anak Benua India, bukan dari Persia atau Arabia. Sarjana pertama yang mengemukakan pendapat ini adalah Pijnappel, ahli sejarah  dari Universitas Leiden. Ia mengaitkan asal-muasal Islam di Nusantara dengan wilayah Gujarat (India) dan Malabar. Menurutnya, orang-orang Arab yang bermazhab Syafi’i berimigrasi dan menetap di wilayah India yang kemudian membawa Islam ke Nusantara (Azyumardi Azra, 1994:24).

Pendapat ini kemudian dipertegas kembali oleh Snouck Hurgronje. Ia menyatakan begitu Islam telah kokoh di beberapa kota pelabuhan anak benua India, maka para muslim yang tinggal disana, baik sebagai pedagang maupun perantara dalam perdagangan Timur Tengah dan Nusantara, datang ke dunia Melayu-Indonesia sebagai penyebar Islam pertama. Kemudian baru disusul oleh orang-orang Arab yang kebanyakan mereka adalah keturunan Nabi Muhammad SAW. Hal ini diketahui karena mereka menggunakan gelar Said atau Syarif yang menyempurnakan penyebaran Islam di Nusantara.

Tapi Snouck tidak memberi tahu secara jelas dari wilayah mana di india Selatan yang disebutkan sebagai asal Islam di Nusantara. Namun ia menyebutkan bahwa abad ke-12 sebagai periode paling awal dari permulaan penyebaran Islam di Nusantara.

Pendapat serupa dikemukakan Moquette. Sarjana Belanda ini mendasarkan pada bentuk batu nisan di bekas kerajaan Pasai dan batu nisan milik Maulana Malik Ibrahim di Gersik Jawa Timur. Menurutnya, kedua batu nisan itu memiliki kemiripan dengan batu-batu nisan yang ada di Cambay Gujarat India. Sehingga Moquette berkesimpulan bahwa Islam pertama masuk ke Nusantara pada abad ke-13 yang dibawa oleh pedagang-pedagang muslim dari Gujarat.

Moquette tidak membedakan antara waktu masuk dan berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara. Padahal keduanya memiliki proses-proses tersendiri, baik waktu masuknya Islam pertama maupun waktu perkembangannya. Ia tidak melihat proses ini, tapi langsung berkesimpulan pada angka yang tertera di nisan makam Malikussaleh di Pasai (Aceh Utara) dan nisan Malik Ibrahim di Gersik Jawa Timur.

Kerajaan Islam Pertama

Dalam seminar “Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Nusantara” pada 1980 di Rantau Kuala Simpang, Aceh Timur, memang telah di putuskan bahwa kerajaan Islam pertama di Aceh dan Nusantara adalah kerajaan Islam Peureulak. Kesimpulan ini didasarkan pada sebuah dokumen tertua yaitu kitab “Izhharul Haq” karangan Abu Ishak Al-Makarani Al-Fassy. Kitab ini, menurut Prof. Ali Hasjmy, salah satu sumber yang meyakinkan tentang kerajaan Islam Peureulak sebagai kerajaan Islam pertama di Aceh dan Nusantara.

Selain itu, tentang adanya kerajaan Islam Peureulak juga didasarkan pada catatan Marcopolo yang pernah singgah di Peureulak pada 1292 dalam pelayarannya dari Canton ke Teluk Persi. Dalam catatan tersebut Marcopolo menyebutkan: “ketahuilah, bahwa negeri ini (Ferlek) banyak di kunjungi oleh pedagang-pedagang muslim. Berkat kedatangan para pedagang muslim ini rakyat Ferlek memeluk agama Muhammad (Islam), tapi ini hanya terbatas kepada warga kota saja, karena orang-orang di pegunungan masih hidup sebagai bangsa liar yang makan daging manusia maupun daging lainnya baik bersih maupun kotor”.

Namun tentang apa yang disebutkan dalam cacatan Marcopolo ini dibantah oleh Prof. Dr. Slamet Muliana (1986). Ia menyatakan Negara Ferlek dalam laporan Marcopolo ialah translitrasi Itali dari tiponim asli Peureulak atau Perlak. Namun di tempat ini tidak ditemukan peninggalan-peninggalan arkeologis Islam, meskipun sudah berulang kali diadakan penggaliannya.

Menurut Muliana, adanya Negara Peureulak ini semata-mata didasarkan atas pemberitaan Marcopolo dan dongeng dalam hikayat raja-raja Pasai. Karena dalam hikayat ini terdapat bagian yang menceritakan bahwa Sultan Malik Al-Saleh kawin dengan putri Ganggang dari Peureulak.

Meski demikian, apa yang diceritakan Marcopolo tentang adanya Negara Islam Peureulak mungkin juga ada benarnya. Karena Marcopolo juga menyebutkan bahwa antara Negara Islam Peureulak dengan Negara Islam Samudra Pasai agak sebaya usianya. Oleh karenanya kunjungan Marcopolo di Peureulak pada 1292 dan tahun mangkatnya Sultan Malik Al-Saleh tahun 1297, maka dapat di simpulkan bahwa musnahnya kesultanan Peureulak berkisar pada 1292 dan 1297.

Dalam sejarah Melayu memang disebutkan bahwa musnahnya kesultanan Peureulak diakibatkan oleh serangan musuh dari Negara seberang, tapi tidak disebutkan nama negeri yang menyerangnya.

Lalu bagaimana halnya dengan kerajaan Islam Samudra Pasai yang oleh banyak peneliti sejarah juga disebutkan sebagai kerajaan Islam pertama di Aceh dan Nusantara, bahkan Asia Tenggara? Memang polemik mengenai kerajaan Islam pertama di Nusantara, terutama antara kerajaan Islam Peureulak dan kerajaan Islam Samudra Pasai, boleh dikatakan belum memberikan titik final. Para sejarawan masih memiliki beda pendapat dan saling mempertahankan argumennya masing-masing.

Akan tetapi ada suatu titik temu untuk menentukan kebenaran sejarah yaitu dengan pengungkapan peristiwa sejarah itu dalam bentuk pendekatan metodologi yang disebut dengan sejarah kritis. Para sejarawan yang mengungkapkan kerajaan Islam Samudra Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di Aceh dan Nusantara, tampaknya lebih berpegang pada metodologi sejarah ini. Sehingga pendapat hampir tak terbantahkan kebenarannya.

Di antara sejarawan yang meyakini kerajaan Islam Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di Aceh dan Nusantara adalah KFH. Van Langen yang pernah meneliti mata uang kerajaan Pasai pada 1888 ini. Dalam laporannya, Langen menulis kerajaan Islam Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di kawasan ini (maksudnya di Aceh) yang mengeluarkan mata uang emas dan sampai saat ini mata uang emas kerajaan itu masih dianggap sebagai dirham tertua di Indonesia.

Kemudian dalam buku “Mata Uang Emas Kerajaan Aceh”  juga disebutkan, berdasarkan penelitian khusus mengenai mata uang (numanistik) di Aceh, hanya ada dua kerajaan yang memiliki mata uangnya, yaitu kerajaan Islam Samudera Pasai dan kerajaan Islam Aceh Darussalam. Tidak disebutkan adanya mata uang kerajaan Islam Peureulak. Ini jelas secara metodelogis, di Peureulak belum ditemukan tanda-tanda pernah jayanya sebuah kerajaan.

Logikanya, sebuah kerajaan yang pernah maju juga dapat dibuktikan lewat mata uangnya sebagai alat tukar yang berlaku pada kerajaan itu. Tapi kerajaan di Peureulak, yang dianggap sudah pernah maju, sama sekali  tidak adanya sebentuk peninggalan alat tukarnya. Dari segi ini agak diragukan tentang adanya kerajaan Islam Peureulak sebagai kerajaan Islam pertama di Aceh dan Nusantara.

Keraguan itu makin bertambah ketika membaca laporan riwayat penyelidikan kepurbakalaan Islam di Indonesia yang dilakukan J.P. Mouquette pada 1913. Sejauh penelitian yang dilakukan arkeolog dari Belanda ini tentang peninggalan-peninggalan Islam di Aceh, penggaliannya di kawasan Peureulak tidak menemukan adanya peninggalan Islam.  Justru peninggalan Islam yang paling banyak ditemukan Mouquette di kampung Samudera Pasai.

Di kampung itu, Mouquette berhasil membaca nama-nama sultan pada nisan bekas peninggalan Islam, seperti nama Sultan Malikul Al-Saleh yang meninggal pada 696 H (1297 M), dan puteranya bernama Sultan Malik Az-Zahir wafat pada 726 H (1236 M).

Hasil penelitian ini kemudian dibandingkan dengan cerita sejarah baik yang terdapat dalam hikayat raja-raja Pasai, sejarah melayu, ataupun dengan berita asing lainnya. Dari hasil bandingan itu Mouquette berkesimpulan bahwa nama Sultan Malik Al-Saleh itu adalah Sultan pertama atau pendiri kerajaan tertua bercorak Islam di Indonesia. Pendapat ini hingga sekarang masih diterima oleh para ahli sejarah kritis dan ahli-ahli kepurbakalaan, baik di Indonesia dan luar negeri.

Pengaruh Syiah-Sunnah

Agak sulit melacak pengaruh dua aliran itu, syiah dan sunnah (ahlulsunah waljamaah), dalam masa awal masuk dan berkembangnya agama Islam di Aceh dan Nusantara. Tidak jelas, siapa yang lebih dulu. Yang pasti, kedua pengaruh itu hingga kini masih ditemukan bentuknya dalam masyarakat Aceh. Meskipun dalam pelaksanaan ibadah kini lebih dominan menganut Ahlulsunnah waljamaah, akan tetapi dalam soal adat budaya, masih diwarnai oleh pengaruh-pengaruh sebagaimama yang menjadi kepercayaan golongan Islam beralira Syiah.

Hal itu masih ditemukan di kampung-kampung di Aceh. Misalnya, masyarakat masih menyebutkan urutan nama-nama bulan, bulan Hasan Husin dan bulan Asyura sebagai bulan memperingati wafatnya cucu Nabi Muammad SAW dalam tragedi Karbala pada 61 Hijriah. Malah riwayat  tentang Hasan Husin yang memilukan itu telah dihikayatkan oleh orang Aceh dalam bentuk syair-syair yang sangat menarik dan selalu dilantunkan di kampung-kampung. Semua itu mengindetifikasikan bahwa pengaruh Syiah dalam masyarakat Aceh sudah berlangsung cukup lama.

Prof. A. Hasjmy (1983)  menyebutkan sejak masuknya Islam ke Aceh, sejak itu Syiah sudah memulai pengaruhnya terutama di wilayah Peureulak sebagai kerajaan Islam Pertama di Aceh. Setelah itu kaum Syiah yang umumnya datang dari Gujarat terus menebar ajaran ini ke wilayah kerajaan Samudera Pasai. Kesimpulan Hasjmy mengundang pertanyaan apabila kita kembali ke asal datangnya Islam ke Aceh dan Nusantara langsung dari Arab. Sebab pada masa itu disana Islam belum bercampur baur dengan ajaran-ajaran seperti yang dikembang setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, seperti ajaran Syiah, Khawarij, Muktazilah.

Syiah sendiri diperkirakan baru lahir setelah wafatnya Rasulullah yang dipelopori Abdullah Ibnu Saba, seorang gembong Yahudi yang berpura-pura masuk Islam (Ihsan Ilahi Zahir, 1984:30).  Kemudian Syiah dikenal sebagai golongan yang kecewa terhadap Khullafaaur Rasyidin. Sebab menurut mereka Sayyidina Ali bin Abi Thalib-lah yang berhak menjadi Khalifah setelah meninggalnya Rasulullah SAW.

Jadi sungguh tidak mungkin kalau Islam yang datang ke Aceh pertama sekali ke Aceh dan Nusantara langsung dari Arab itu adalah Islam yang beraliran Syiah. Kecuali kalau Islam yang datang ke Aceh ini pertama sekali adalah dari Gujarat India. Karena sebagian pendapat mengatakan orana-orang Islam beraliran Syiah yang terdesak di masa Kalifah Umayyah banyak yang hijrah ke Gujarat India, baik sebagai pedagang maupun sebagai ulama-ulama. Dan pedagang-pedagang inilah yang kemudian datang ke Aceh dan Nusantara.

Malah dalam perkembangan selanjutnya pengaruh-pengaruh Syiah di Aceh makin mengecil diakibatkan lebih dominannya pengaruh Islam Sunni. Hal itu terbukti hingga sekarang. Di Aceh hampir tak pernah terdengar adanya tokoh-tokoh Islam Syiah yang mempengaruhi munculnya konflik keagamaan (khilafiah) dalam memahami Islam.

Daftar Pustaka

Arani Usman, Sejarah Peradaban Aceh sautu analisis Interaksionis, Integrasi dan Konflik, Yayasan Obor, Jakarta, 2003

A.Hasjmy, Sejarah Masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia, PT.Alamarif, Bandung,1989.

………….., Syiah dan ahlussunnah Saling Rebut Pengaruh dan kekuasaan Sejak Awal Sejarah Islam di Kepulauaan Nusantara, PT. Bina Ilmu, Surabaya,1983.

Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan  XVIII, Mizan, Bandung, 1994.

Muhammad Said, Aceh Sepanjang Abad, Jilid I, Cetakan kedua, Perbitan Waspada, Medan, 1981.

Ihsan ilahi zhari, Salah Paham Sunnah-syiah, Penerbit Risalah, Bandung, 1984.

Slamet Muliana, Kuntala Sri wijaya dan suwarnabhumi, Yayasan Idayu,…..,1984.

H.M.Zainuddin, Tarech Atjeh dan Nusantara, Pustaka Iskandar Muda, Medan,1961.

Nab Bahany As, Mengkaji Kembali kerajaan Islam Perlak Sebagai Kerajaan Islam Pertama di Asia Tenggara, Artikel dalam Surat Kabar “Peristiwa”, November, 1990.

………………..,Kerajaan Islam Pasai-Perlak dalam Pandangan Metodelogi Sejarah, Artikel dalam Surat Kabar “Peristiwa”, November, 1990.

Laporan Utama, Syiah Menghilang di Aceh, dalam Surat Kabar “Aceh Kita” 26 Februari 2007.

Penulis

Nab Bahany As, lahir di Ulee Gle, Pidie Jaya, 1 Januari 1964. Adalah alumni Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam pada Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Sekarang bekerja sebagai jurnalis, juga tercatat sebagai pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Provinsi NAD, Ketua Lembaga Studi Kebudayaan dan Pembangunan Masyarakat (LSKPM) Banda Aceh.

Mengkritisi Ahli Timur dan Barat

Misri A. Muchsin

Berbicara seputar Islam di Nusantara, banyak hal yang dianggap masih misteri, yaitu paling tidak perihal kapan Islam mula-mula datang? Siapa pembawa dan kapan eksis serta kerajaan mana yang menjadi satu kekuatan politik Islam (kerajaan) pertama? Semua permasalahan di atas bukan belum pernah didiskusikan oleh para ahli. Sebaliknya, diskusi atau seminar yang dilakukan dari waktu ke waktu membuat makin banyak pendapat dan bukti-bukti serta analisis baru yang perlu dicermati ulang.

Bukan berarti pula diskusi atau seminar itu tak bermakna dan aktivitas mubazir. Sebab ada adagium dalam teori sejarah, bahwa ”sejarah yang benar adalah sejarah masa kini”.  Kemudian ungkapan filosofi lain berbunyi: ”setiap generasi berhak menulis sejarahnya”. Dari dua adagium historis di atas penulis menjadi berani mengkritisi pendapat para ahli, baik peneliti Barat maupun Timur-Islam, yang sudah mengayakan khazanah kesejarahan Islam Nusantara, terutama di Aceh.

Kajian ini difokuskan pada Peureulak dengan segala kekuatan argumentasi yang sudah diajukan ahli, akan ”dineracakan” dan dikomentari secukupnya. Dengan demikian, kajian ini lebih berbentuk sebagai kajian historiografi Islam Nusantara,  yang pada akhirnya sampai pada kesimpulan dengan pendapat yang unggul di antaranya.

Masyarakat Perlak: Penerima Islam Pertama Nusantara?

Marco Polo, seorang pelancong dari Barat mencatat hasil kunjungan dan persinggahannya di pantai timur dan utara Sumatra, tepatnya yang disebut Ferlec pada 1292 M. Ahli kemudian sepakat Ferlec dimaksud tidak lain adalah Perlak atau Peureulak. Ia menyaksikan masyarakat di sana telah memeluk Islam; pemerintahannya memberlakukan hukum Islam kepada seluruh penduduknya.

Menurut catatan sejarah, hubungan perdagangan antara Arab, Parsi, Cina Eropa dan lain-lain dengan Nusantara sudah berjalan sejak sebelum kedatangan Islam. M. Arifin Amin mengutip pada Maharaja Onggang Parlindungan, pengarang buku Tuanku Rao yang menyebutkan sebelum lahir nabi Muhammad SAW, bahkan sebelum lahir Isa a.s, orang-orang Persia telah mengadakan hubungan perdagangan lewat jalan laut dengan Tiongkok. Sementara itu, sebahagian pedagang Arab, Parsi telah membina perkampungan di rantau Asia, di antaranya dengan  Pereulak.

Mengingat kesaksian Marco Polo yang berlangsung pada abad ke-13 M, maka dipastikan bahwa benar umat Islam sudah ada di sana. Tetapi tentu bukan yang pertama, sebab ketika disaksikannya Islam di sana sudah berwujud satu kekuatan politik (kerajaan). Secara teoritis, untuk mencapai satu kekuatan Islam politik membutuhkan waktu berabad-abad.

Karena itu, diprediksi Islam sudah wujud di Peureulak jauh beberapa abad sebelumnya. Tim penulis sejarah Aceh Timur telah menetapkan bahwa Islam mula-mula masuk ke Nusantara yaitu di Perlak, kemudian dari sana tersebar ke daerah-daerah lain.

Berkaitan dengan ke-Islaman masyarakat Peureulak khususnya dan Sumatera bagian pantai utara umumnya, seperti termuat dalam sumber Cina, khususnya catatan riwayat dinasti T’ang (618-918 M), tepatnya dalam buku 222 bab II, bahwa pada 674 M sudah banyak ditemukan orang-orang Arab yang tinggal di daerah ini. Pada 674 M, walaupun baru 40 tahun dari kewafatan Nabi Muhammad, tetapi mereka semuanya sudah Muslim. Oleh karena itu, wajar kalau sarjana muslim umumnya, dan sebagian orientalis seperti Prof. Drewes sependapat mengatakan bahwa pada tahun-tahun tersebut sudah ada pribumi penganut Islam, yang didasari pada sudah adanya orang Arab muslim bermukim di daerah ini.

Hal senada diungkapkan orientalis lain, Harry W. Hazard dalam karyanya Atlas of Islami History, seperti dikutip oleh Mohammad Said (1978: 27) menyebutkan:

”…the first Muslim to visit Indonesia were presumably seventh century Arab traders who stopped at Sumatra  enroute to China. Their successore were merchant from Gujarat who dealt in pepper, an who had by 1100 established the unique combination of commercial and proselytizing which characterized the apreed of Islam in Indoneia”.

Maksudnya: orang Islam yang mengunjungi Indonesia pada abad ketujuh amat boleh jadi adalah saudagar Arab yang singgah di Sumatra dalam perjalanan menuju Cina. Penyusul mereka selanjutnya adalah berasal dari Gujarat yang berdagang lada yang telah membangun hubungan sejak tahun  1.100 sebagai bentuk percampuran yang unik antara perdagangan dengan usaha pengembangkan Islam.

Seperti  Harry W. Hazard, Raymond LeRoy Archer juga menyebutkan bahwa masuknya Islam ke Sumatra Utara (Aceh) dibawa pedagang Arab, bukan khusus oleh mubaligh mereka, dalam abad hijriyah yang paling awal, atau di awal abad kedelapan Masehi. Ketika itu pedagang Arab sudah bermukim di Cina dalam jumlah besar. Maka sangatlah mungkin mereka menetap untuk berdagang di sepanjang pantai Barat Sumatra Utara (Aceh).

Memang logis dengan adanya orang Arab yang bermukim otomatis sudah ada pribumi yang menganut Islam. Sebab setiap muslim diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan ajaran Islam walau satu ayat. Hal ini lebih-lebih mereka merupakan muslim periode awal, yang amat komit dengan agamanya, karena ada kemungkinan pernah bertemu dan mendapat gemblengan langsung dari Nabi Muhammad.

Kemudian dalam tinjauan geografis, dengan adanya orang Arab di Cina dalam jumlah besar, tentu otomatis pula mereka sudah singgah-bermukim di Utara pulau Sumatera (Aceh-Peureulak khususnya), yang letaknya amat penting dan strategis untuk para pelayar yang akan meneruskan pelayarannya hingga ke Timur Jauh (Cina).

Sebagai tempat persinggahan kapal, orang-orang Islam dari Arab tersebut mendirikan Rendezvous (tempat  bertemu di tepi pantai), terutama di Bombay (India), dan di Peureulak (Aceh). Ketika itu Peureulak adalah sebuah kerajaan yang masyhur di kalangan saudagar-saudagar Arab-Parsi karena letak pelabuhannya strategis seperti di persimpangan jalan. Kemasyhuran Peureulak tentu tidak lepas dari penguasa ketika itu, yaitu Maharaja Syahir Nuwi yang berdarah Parsi campuran Siam.

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar Ibn Khattab 13-24 H/634-644 M, Parsi atau Persia dapat ditakluk semuanya dan rakyatnya diislamkan. Oleh karena itu, kemungkinan ini ada juga hubungannya dengan orang-orang Arab dan Parsi yang berada di Peureulak ketika itu bahwa mereka telah ikut memeluk Islam.

Kisah lain: ketika terjadi peristiwa peperangan antara ‘Ali Ibn Abi Talib dengan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan yang terkenal dengan perang Siffin,  banyak pengikut ‘Ali yang disebut sebagai `Alawiyin melarikan diri dari Tanah Arab. Di antara wilayah sasaran pelarian mereka adalah ke Nusantara sampai ke negeri Peureulak. Di antara mereka adalah `Ali ibn Muhammad ibn Ja`far Siddiq ibn Muhammad al-Baqir ibn Zainal `Abidin ibn Husen ibn `Ali  ibn Abi Talib.

Kedatangan Ali Ibn Muhammad disambut baik oleh Maharaja Syahir Nuwi selaku penguasa Peureulak dan rakyatnya. Sebab, ia berasal dari dua keturunan bangsawan terhormat yaitu `Ali ibn Abi Talib dan Fatimah binti Rasulullah. Maharaja Syahir Nuwi kemudian  mengawinkan `Ali ibn Muhammad dengan adik kandungnya Puteri Makhdum Tansyuri. Dalam perkawinan bangsawan Quraisy dengan bangsawan Peureulak ini dianugerahkan seorang putra bernama `Abdul `Aziz. Setelah itu, `Abdul `Aziz dikawinkan dengan Puteri Meurah Makhdum Khudawi atau Puteri Perlak.

Pada 173 H/790 M atau pada abad pertama Hijriah atau 8 M, dicatat dalam sejarah bahwa Khalifah Harun al-Rasyid, Khalifah`Abbasiyah mengantar satu armada dakwah berjumlah seratus (100) orang yang terdiri dari bangsa Arab, Parsi (sekarang Iran), dan India ke Bandar Peureulak. Rombongan tersebut dipanggil sebagai Nakhoda Khalifah. Kedatangan Nakhoda Khalifah ini disambut baik oleh Maharaja Syahir Nuwi.

Dengan kehadiran rombongan dakwah ini telah lebih menguatkan penyebaran Islam dalam jiwa rakyat Peureulak. Hal ini merupakan usaha lanjutan dari proses islamisasi rakyat Peureulak yang memang telah berawal sejak masa Khalifah `Umar Ibn Khattab.

Sebagai hasil dari pengaruh Islam yang begitu cepat dalam masyarakat Peureulak, maka pada hari Selasa, 1 Muharram, tahun 225 H /840 M, Maharaja Peureulak memproklamirkan secara resmi bahawa kerajaannya menjadi kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara, dengan rajanya yang pertama  menantunya sendiri, yaitu `Abdul `Aziz dengan gelaran Sultan `Alaiddin Mualana `Abdul `Aziz Syah.

Menurut satu keterangan, pada hari penetapannya sebagai khalifah, maka pada hari itu pula nama Bandar Peureulak ditukar menjadi Bandar Khalifah sesuai dengan kedatangan rombongan Nakhoda Khalifah yang telah berperan mengembangkan Islam di Peureulak.

Bandar Khalifah begitu terkenal di kalangan para pedagang Arab dan non Arab, karena ia telah menjadi pelabuhan penting dan tempat persinggahan pedagang Arab, Persi dan Gujarat dalam perjalanan  ke China atau balik ke Asia Barat.

Perlak atau Pase : Kerajaan Islam Pertama Nusantara?

Kalaulah disepakati bahwa Islam sudah masuk ke Nusantara, Aceh bagian utara khususnya pada abad pertama hijriah atau tepatnya pada 674 M, tetapi kalau dihubungkan dengan eksistensi Pase sebagai satu kerajaan Islam pada abad 13 M, pertanyaan yang muncul, kenapa  baru muncul sebagai kerajaan atau kekuatan politik setelah tujuh abad lebih dari masuknya Islam? Hal ini perlu dipertanyakan untuk satu analisis, dalam rangka menentukan fokus kerajaan Islam mana yang tertua di Nusantara ini.

Menurut umumnya keterangan ahli, Perlak atau Peureulak sebagai satu kerajaan Islam ternama, sudah pernah dipimpin oleh 20 orang raja atau sulthannya.

Raja-raja yang pernah memerintah di Peureulak

1 Sultan `Alauddin Sayyid Maulana `Abdul `Aziz Syah. 225 – 249 H/840-865 M
2 Sultan `Alauddin Maulana Abdurrahim Syah 249-258 H/865-888 M
3 Sultan `Alauddin Sayyid Maulana `Abbas Syah 258-300 H/888-913 M
4 Sultan `Alauddin Sayyid Maulana `Ali Mughayat Syah 302-305 H/915-918 M
5 Sultan Makhdum `Alauddin Malik Abd.Al-Kadir Syah 306-310 H/918-922 M
6
7 Sultan Muhammad `Alauddin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat 310-344 H/922-946 M
8 Sultan Makhdum `Alauddin `Abdul al-Malik Syah Johan Berdaulat 344-361 H/ 946-973 M
9 Sultan `Alauddin Sayyid Maulana Mahmud Syah 365-377 H/976-988 M
10 Sultan Makhdum `Alauddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat 365-402 H/976-1012 M
11 Sultan Makhdum `Alauddin Malik Mahmud Syah Johan Berdaulat 402-450 H/1012-1059 M
12 Sultan Makhdum `Alauddin Malik Mansur Syah Johan Berdaulat 450-470 H/1059-1078 M
13 Sultan Makhdum `Alauddin Malik `Abdullah S yah Johan Berdaulat 470-501 H/1078-1100 M
14 Sultan Makhdum Malik `Alauddin Malik Ahmad Syah Johan Berdaulat 501-522 H/1100-1134 M
15 Sultan Makhdum `Alauddin Malik Mahmud Syah Johan Berdaulat 522-527 H/1134-1158 M
16 Sultan Makhdum `Alauddin Malik Uthman Syah Johan Berdaulat 527-565 H/1158-1170 M
17 Sultan Makhdum `Alauddin Malik Muhammad Syah Johan Berdaulat 565-592 H/11701196 M
18 Sultan Makhdum `Alauddin Jalil Syah Johan Berdaulat 592-622 H/1196-1225 M
19 Sultan Makhdum Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat 622-662 H/1225-1263 M
20 Sultan Makhdum `Alauddin Malik `Abdul Aziz Syah Johan Berdaulat 662-692 H/1263-1291 M

Jika dibandingkan dengan Pase, maka dapat dipastikan bahwa kerajaan Islam Peureulak lebih dahulu eksis dalam sejarah berdirinya Islam sebagai satu kekuatan politik, yaitu dalam wujud kerajaan.  Perbandingannya sekitar enam abad, jika ditilik dari masa memerintah raja kerajaan Islam Perlak pertama berkuasa, Sultan `Alauddin Sayyid Maulana `Abdul `Aziz Syah. (225 – 249 H/840-865 M), dibandingkan dengan awal masa Meurah Silu atau yang berlaqab Malik al-Salih memerintah selaku raja pertama kerajaan Islam Pase.

Begitu ia dinyatakan menjadi sebuah kerajaan Islam dengan sendirinya Peureulak menjadi pusat perdagangan Islam Nusantara. Meskipun demikian Peureulak mencapai kejayaan dan kemajuannya bermula pada pertengahan abad ke 9 M,  suatu keadaan yang lebih maju dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Sumatera zaman itu. Hal ini seperti kesaksian Marco Polo  sebagai mana ia menyebutkan “Perlak selalu didatangi oleh saudagar-saudagar Saracen (Muslim) yang membawa penduduk Bandar ini memeluk undang-undang Muhammad (The Law of Muslim).

Pada masa Sultan `Abdul `Aziz Syah (840-864 M), sistem pentadbiran kerajaan Peureulak telah tersusun dengan rapi. Menurut sejarah ia bercirikan organisasi kerajaan `Abbasiyah. Para Sultan Peureulak sangat serius dalam bidang pendidikan. Ini dibuktikan dengan didirikan sebuah institusi  pendidikan Islam Zawiyah Buket Cibrek yang diresmikan pada 865 M.

Menurut sejarah ia lembaga pendidikan Islam tertua di Asia Tenggara. Kejayaan  ini dicapai pada masa pemerintahan Sultan `Alaiddin Maulana `Abdur Rahim Syah yang memerintah pada 864-888 M, dan sebagai Sultan kedua kerajaan Islam Perlak. Pada masa pemerintahan Sultan Sayyid Maulana `Abbas Syah yang memerintah pada 888-913 M, Sultan ke III Perlak, dicatat satu lagi kegemilangan dengan didirikan lembaga pendidikan kedua yaitu Zawiyah Cot Kala Peureulak yang diresmikan pada 899 M.

Dalam bidang pertanian, Peureulak telah dapat menghasilkan produk, antara lain lada, rotan dan kayu peureulak untuk dikomersilkan. Dalam bidang industri telah pula menampakkan kejayaannya dengan dapat mengeluarkan emas yang dihasilkan di sebuah daerah yang disebut sebagai Alue Meuh atau Sungai Emas. Selain itu, bidang seni rakyat Peureulak telah dapat menghasilkan ukiran seni yang indah seperti gading gajah, kayu dan lain-lain, yang mendapat sambutan baik dari pedagang asing. Semua ini merupakan faktor kemajuan bagi Peureulak menurut zamannya.

Akan tetapi pada akhir pemerintahan Sultan ke III, Sultan`Alaiddin Maulana Sayyid `Abbas Syah, dalam kerajaan Perlak mulai timbul persengketaan. Peristiwa ini menyebabkan popularitas Peureulak menjadi menurun. Menurut satu keterangan, kemunduran dimaksud berawal dari pulangnya salah seorang keluarga Meurah Perlak dari Mekkah yaitu Meurah `Abdul Kadir Syah. Ia bermazhab Syafi`i dalam Fiqh dan aliran Ahli Sunnah wal jama`ah dalam teologi.

Dengan demikian timbul persengketaan antara penganut kedua faham itu, yaitu ahli Sunnah wal jama`ah sebagai aliran yang baru datang dengan Syi`ah yang sudah lama mengakar dalam pemerintahan dan masyarakat Perlak. Konflik aliran keagamaan ini berlanjut hingga ke masa pemerintahan Sultan Sayyid Maulana `Ali Mughayat Syah.

Untuk mengatasi keadaan yang semakin genting, negeri Peureulak terpaksa dibagi menjadi dua daerah pemerintahan yaitu Peureulak bagian Baroh (Utara) di bawah pimpinan Sayyid Maulana dengan ibukotanya Bandar Khalifah dan Peureulak bahagian Tunong (Selatan) di bawah pimpinan Makhdum Meurah `Abdul Kadir Syah dengan pusat pemerintahannya Bandar Tualang.

Kerajaan Islam Perlak yang telah terbagi kepada Utara dan Selatan atau yang disebut juga sebagai Perlak Daratan dan Perlak Pesisir diperintah oleh dua Dinasti, masing-masing Dinasti `Aziziyah dan Dinasti Makhdum yang diasaskan oleh Meurah `Abdul Kadir Syah.

Pada masa pemerintahan Makhdum `Abdul Malik Syah Johan Berdaulat dari 966-973 M, Sultan Perlak ke VII, sekali lagi terjadi huru-hara yang hebat. Namun dapat diselesaikan dengan suatu perjanjian damai yang disebut Perjanjian Alue Meuh, pada 10 Muharram 353 H/963 M. Butiran perjanjian adalah sebagai berikut: Kedua belah pihak tidak boleh angkat senjata;  Dinasti `Aziziyah memerintah Perlak Baroh; Dinasti  Makhdum memerintah Perlak Tunong; dan hubungan luar negeri harus di bawah satu pimpinan, dalam hal ini diserahkan kepada Sultan `Abdul Malik Syah.

Dengan perjanjian-perjanjian seperti disebutkan di atas, maka untuk sementara waktu konflik dapat teratasi dan kondisi perpolitikan dalam negeri dapat terkendali secara normal.

Nisan Kuno Awal Kerajaan Islam

Deddy Satria

Batu nisan merupakan penanda untuk bagian kepala dan kaki pada suatu makam. Batu nisan sebagai salah satu hasil benda budaya merupakan bentuk seni miniatur. Benda ini mendapat kedudukan istimewa dalam peradaban dan kebudayaan Islam. Batu nisan merekam nilai-nilai budaya dengan latar belakang gagasan/ide dan mencerminkan perilaku masyarakat yang membuat dan memakainya.

Penemuan batu nisan kuno di Samudera Pasai, Aceh Utara, Barus, Tapanuli Utara, Leran, Jawa Timur, dan terakhir di bukit Lamreh, Aceh Besar, yang memuat inskripsi nama tokoh yang dimakamkan dan tahun wafatnya tokoh telah menarik perhatian para sejarawan dan para arkeolog. Batu nisan tersebut memberikan gambaran mengenai keberadaan orang-orang muslim atau komunitas muslim awal di Nusantara dan bahkan di kawasan Asia Tenggara.

Batu nisan kuno pada era awal Islam di Nusantara dan terutama di Aceh mempunyai beberapa ciri khas, terutama perancangan bentuk dan gaya batu nisan itu. Pertama, penggunaan kaligrafi Arab, pahatan kaligrafi Arab yang dipahatkan pada batu nisan yang memuat keterangan nama tokoh dengan waktu wafatnya. Kedua, nama tokoh yang dimakamkan menggunakan nama-nama muslim. Ketiga, penggunaan sistem perhitungan Islam, yaitu tahun wafatnya dalam hitungan tahun hijriyah. Keempat, pada batu nisan juga dipahatkan kutipan ayat-ayat dari Al Qur’an.

Kajian ini dipusatkan pada pengamatan batu nisan kuno Islam awal yang ditemukan di kawasan Sumatera bagian utara, yaitu daerah persebaran batu nisan meliputi bukit Lamreh di Aceh Besar, Samudera Pasai di Aceh Utara, dan Peureulak di Aceh Timur. Jenis batu nisan ini dikenal oleh arkeolog sebagai batu nisan tipe Aceh (Muarif Ambary, 1984) dan Batu Aceh (Othman M. Yatim, 1988). Namun Muarif Ambary dan Othman M. Yatim tidak melihat suatu yang kusus secara rinci dari batu nisan Islam awal yang dikaji disini. Bahkan mereka membuat pengelompokan menjadi satu tipologi batu nisan dengan bentuk yang sama secara umum.

Kawasan bukit Lambreh di Aceh Besar dipercaya oleh para sejarawan dan arkeolog sebagai salah satu lokasi tempat berdirinya Lamuri, yaitu sisa kota pelabuhan kuno yang telah ada sejak maharaja Sriwijaya abad ke-9 M (800-an M.). Samudera Pasai di Aceh Utara, telah disepakati para sejarawan dan arkeolog sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara, dan bahkan di kawasan Asia Tenggara. Peureulak di Aceh Timur salah satu pelabuhan kuno yang penting di kawasan Selat Malaka. Ketiganya merupakan tempat penting yang menjadi tujuan dan rute pelayaran-perdagangan, terutama pada abad ke- 12 M.(Keram Kenovian, 2002).

Permasalahan yang akan diamat dalam kajian ini meliputi morfologi meliputi rancangan bentuk dan gaya batu nisan Islam awal. Terutama peninggalan batu nisan yang tersebar di Bukit Lamreh, Aceh Besar, Samudera Pasai di Aceh Utara, dan Perlak di Aceh Timur. Selanjutnya mencari tahu kronologi (pertanggalan relatif) masa pembuatan batu nisan tersebut dengan mencari keterangan pada nisan yang berangka tahun atau konteks temuan batu nisan dengan batu nisan yang mempunyai angka tahun. Masalah tersebut dapat menjadi salah dasar untuk menentukan keberadaan orang muslim dan komunitas muslim awal di kawasan Sumatera bagian utara, kususnya di Peureulak, Aceh Timur.

MORFOLOGI BATU NISAN

Batu nisan kuno dalam kajian ini merupakan jenis batu nisan yang dibuat relatif sederhana, karena jarang sekali diselesaikan oleh pemahat batu nisan dengan memahatkan motif hiasan dan kaligrafi arab. Walaupun demikian, batu nisan tersebut  mempunyai ciri istimewa bila diamati dari rancangan bentuk dan gayanya.

Kajian morfologi bentuk batu nisan dalam kajian ini meliputi (1) rancangan bentuk batu nisan, (2) motif hiasan yang dipahatkan pada batu nisan, (3) rancangan dan jenis kaligrafi arab yang dipahatkan pada batu nisan, (4) bahan baku batuan yang digunakan untuk membuat batu nisan, dan (5) skala atau ukuran batu nisan.

Batu nisan kuno yang diamati dibagi menjadi beberapa bagian untuk memudahkan pengamatan, yaitu (a) bagian kaki batu nisan, (b) bagian badan dan bahu batu nisan, dan (c) bagian kepala dan mahkota batu nisan.

Rancangan bentuk batu nisan.

Bagian kaki batu nisan. Bentuk bagian kaki dipahat dengan sangat sederhana berupa: (i) profil yang disusun dari garis-garis pelipit atau (ii) profil dengan susunan garis pelipit dan setengah bulat/lingkaran (belah rotan).

Bagian badan dan bahu batu nisan. Batu nisan dibentuk dari papan batu empat persegi panjang, kadang dipahat semakin mengecil ke arah bagian kaki. Ada beberapa variasi bentuk bagian bahu: (i) bahu bulat dan (ii) bahu dengan bentuk sayap kecil.

Bagian kepala dan mahkota. Ada beberapa variasi bentuk kepala batu nisan: (i) bentuk serupa ‘kendi’ (tembikar) dan (ii) bentuk kepala serupa ‘lengkung persia’ yang terpotong bagian atasnya, sehingga menghasilkan bentuk yang rata. Sementara bagian mahkota jarang dipahatkan pada batu nisan jenis ini. Mahkota berupa profil dibentuk dari susunan garis-garis pelipit dan setengah bulat/lingkaran (belah rotan). Bentuk ini serupa dengan bentuk bagian kaki batu nisan.

Motif hias. Seperti telah disebutkan di atas, nisan jenis ini jarang sekali diselesaikan oleh pemahatnya dengan pahatan motif hias. Kebanyakan  polos, walau pun ada hiasan terbatas pada bentuk pahatan dengan tehnik pahat dangkal  dan lebih sebagai goresan yang dipahatkan. Pahatan berupa bentuk bingkai atau panil menyerupakan bingkai pintu atau jendela.  Panil dikombinasi dengan garis berupa gulungan atau spiral seperti ‘belalai gajah’.

Kaligrafi Arab. Batu-batu nisan kuno di Aceh baik dari era Samudera Pasai (abad ke-15 M hingga awal abad ke-16 M.) hingga era Aceh Darussalam (pertengahan awal abad ke-16 M hingga abad ke-19 M) mempunyai pahatan kaligrafi Arab indah. Pahatan kaligrafi tersebut biasa memberikan keterangan nama tokoh dan tahun wafatnya serta cuplikan ayat-ayat al Qur’an, hadits, kalimah syahadah, dan zikir, atau puisi. Batu nisan yang diamati di sini umumnya batu nisan polos.

Bahan batuan. Bahan batuan yang digunakan dalam membuat batu nisan yaitu jenis batuan andesitik berwarna keabu-abuan, mempunyai tekstur yang kasar dengan butiran materi penyusun yang kasar, mempunyai kekerasan yang cukup keras yaitu 7 skala most. Batuan jenis ini terbentuk dari proses pendinginan lava gunung berapi dan banyak tersedia di Sumatera.

Skala (Ukuran). Batu nisan jenis yang diamati berukuran relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan batu nisan kuno dari kedua era tersebut di atas yang berukuran relatif besar. Batu nisan memiliki tinggi maksimal 40-35 cm, lebar maksimal 10-20 cm, dan ketebalan maksimal 5-6 cm.

Perancangan bentuk batu nisan dibedakan menjadi tiga bentuk. Pertama, Bentuk batu nisan dengan ‘lengkung Persia’ terpotong bagian atasnya sehingga menjadi rata. Kadang-kadang diberi mahkota berbentuk profil dengan susunan garis pelipit dan setengah bulat/lingkaran (belah rotan). Kesan yang dihadirkan secara visual berupa ‘kendi dengan penutupnya’. Kedua, bentuk batu nisan dengan ‘sayap’ kecil pada bagian bahu dan bagian kepala berupa ‘kendi’ kadang dengan mahkota. Ketiga, bentuk batu nisan dengan bahu ‘bulat’ dan bagian kepala berupa ‘kendi’ kadang dengan mahkota.

Batu nisan berdasarkan rancangan bentuk dan gaya, serta bahan baku batuan andesitik yang tersedia di kawasan pulau Sumatera bagian utara merupakan masalah yang istimewa. Batu nisan pada awal Islam ini dirancang dengan bentuk yang sederhana, berupa batu nisan polos. Hal tersebut menjadi bukti batu nisan jenis ini dihasilkan oleh ahli pahat lokal, bukan barang yang didatangkan dari luar.

Perkembangan batu nisan kuno pada era Samudera Pasai abad ke-15 M dan awal abad ke-16 M. dan akhirnya dilanjut kan pada masa era Aceh Darussalam pada pertengahan pertama abad ke-16 M. mengembangkan rancangan bentuk batu nisan dari era awal Islam tersebut. Walaupun dalam perancangan bentuk batu nisan, para pemahat batu nisan tersebut mendapatkan pengetahuan seni pahat bergayakan seni dalam kebudayaan Islam dari banyak bangsa waktu itu.

Ada dua rancangan bentuk batu nisan yang digunakan dan dikembangkan pada kedua era itu. Pertama, bentuk batu nisan dengan ’sayap’ kecil dan bagian kepala batu nisan serupa ’kendi’. Kedua, bentuk batu nisan dengan bahu ’bulat’ atau tanpa ’sayap’ kecil dan bagian kepala batu nisan serupa ’kendi’.

Perkembangan batu nisan yang mencolok pada kedua era tersebut yaitu terletak pada rancangan bentuk motif hias dan rancangan kaligrafi Arab yang telah menggunakan kaidah baku, yaitu kaidah khat kufik (terutama di era Samudera Pasai) dan tsulus ornamental atau tsulust Jali (baik era Samudera Pasai hingga era Aceh Darussalam).

BATU NISAN KUNO DI BUKIT LAMREH

Bukit Lambreh berlokasi berdekatan dengan pelabuhan Malahayati di kawasan Krueng Raya, Aceh Besar. Ia berada pada lokasi yang sama dengan situs Benteng (Kuta) Inong Balee (janda). Di lokasi ini juga ditemukan batu nisan jenis di atas. Ada dua bentuk, yaitu: (i) bentuk batu nisan dengan ‘sayap’ kecil pada bagian bahu dan pahatan sederhana berupa panil/bingkai serupa bingkai pintu. Panil dikombinasi dengan garis berupa gulungan atau spiral seperti ‘belalai gajah’. Batu nisan tidak mengandung pahatan kaligrafi Arab. (ii) Bentuk batu nisan dengan bahu ‘bulat’ dan bagian kepala berupa ‘kendi’. Batu nisan polos, tidak ada pahatan motif hias dan kaligrafi Arab.

Itu ditemukan bersama nisan kuno lain yang jenisnya berlainan. Jenis batu nisan itu yang disebut para arkelog dengan plak pling, yaitu batu nisan berbentuk tugu atau balik batu yang dipahat semakin mengecil pada bagian atas. Batu nisan ini dipahatkan motif hias berupa pola tumbuhan (floral) yang ditata bertindihan, dua tingkat. Semakin ke atas semakin mengecil dan bermahkotakan sekuntum bunga kuncup.

Pada bagian bawah, bagian kaki batu nisan, terdapat bingkai persegi empat. Disana, dipahatkan setangkai bunga berkelopak empat yang sedang mekar atau pahatan kaligrafi Arab. Pahatan tersebut ada pada keempat sisi batu secara simetris dengan teknik pahat yang dalam. Selain itu, jenis batuan yang digunakan pada batu nisan jenis plak pling juga berbeda, yaitu jenis batuan sedimentasi. Ini batuan berwarna krem atau kecoklatan dengan tekstur dan butiran materi penyusunannya kasar.

Salah satu batu nisan jenis plak pling tersebut terdapat pahatan kaligrafi Arab. Dari hasil pembacaan oleh Suwedi Montana (1996/1997) diketahui disana terpahat nama tokoh dan tahun wafatnya. Inskripsi kaligrafi Arab tersebut terbaca: Sultan Sulaiman bin Abd Allah bin Basyir tsamaniata wa sitami’ah dengan angka tahun 608 Hijriyah (1211 M.). Pertanggalan ini dapat menjadi alat bantu dalam menentukan kronologi pembuatan batu nisan kuno yang sedang diamati di sini.

Nisan serupa juga ditemukan di lembah Krueng Aceh, Aceh Besar, seperti di Mukim Siem Tungkop dan Lamteh, Ulee Kareng, serta Kampung Pande, Banda Aceh.

BATU NISAN KUNO DI SAMUDERA PASAI, ACEH UTARA.

Persebaran batu nisan kuno era Islam awal banyak ditemukan di kawasan Samudera Pasai. Ada beberapa tempat ditemukan jenis batu nisan yang sedang diteliti di sini yaitu Minye Tujoh dan Peut Poh Peut. Tiga jenis batu nisan yang telah diuraikan di atas juga ditemukan di tempat itu.

Perancangan bentuk batu nisan dibedakan menjadi tiga bentuk. Pertama,  bentuk batu nisan dengan ‘lengkung Persia’ yang terpotong bagian atasnya sehingga menjadi rata. Beberapa batu nisan, kadang-kadang, diberi mahkota berbentuk profil dengan susunan garis pelipit dan setengah bulat/lingkaran (belah rotan). Kesan yang dihadirkan secara visual berupa ‘kendi dengan penutupnya’. Kedua,  bentuk batu nisan dengan ‘sayap’ kecil pada bagian bahu dan bagian kepala berupa ‘kendi’ kadang dengan mahkota. Ketiga, bentuk batu nisan dengan bahu ‘bulat’ dan bagian kepala berupa ‘kendi’ kadang dengan mahkota. Pahatan berupa bentuk bingkai atau panil menyerupakan bingkai pintu atau jendela. Panil dikombinasi dengan garis berupa gulungan atau spiral seperti ‘belalai gajah’.

Salah satu batu nisan yang menarik dan perlu dijelaskan di sini yaitu batu nisan dengan pahatan kaligrafi Arab yang memuat nama tokoh dan tahun wafatnya. Batu nisan dimaksud terletak di situs komplek makam Minye Tujoh. Ini batu nisan dengan ‘lengkung Persia’ yang bagian atasnya terpotong sehingga menjadi rata. Kaligrafi Arab dipahatkan dalan tiga panil/bingkai. Hasil pembacaan inskripsi kaligrafi Arab pada batu nisan bagian kaki makam sisi utara dan selatan oleh Hoesein Djajadininggrat diperoleh informasi nama tokoh: Al ’Ala binti as Sultan al marhum Malik Az Zahir Khan al Attar bin Walidihi Khan, dan wafat tahun 781 Hijriyah atau 1389 M. (dikutip oleh M. Said, 1981).

Hal yang menarik adalah pahatan huruf dan bahasa Jawa Kuno pada batu nisan bagian kepala makam dan berangka tahun berbeda, selisih sepuluh tahun, yaitu 791 Hijriyah. Stuttenheim berhasil membaca inskripsi tersebut akhirnya menemukan bukti baru bahwa Samudera Pasai pernah digabungkan ke dalam Kemaharajaan Majapahit pada pertengahan akhir abad ke 14 M. (dikutip oleh M. Said, 1981).

BATU NISAN KUNO DI PERLAK, ACEH TIMUR.

Rancangan bentuk dan gaya batu nisan kuno di Pereulak, Aceh Timur, serupa dengan batu nisan tersebut. Pengamatan yang dilakukan di kawasan Paya Meuligo, Pereulak, pada 18 Agustus 2008 dipusatkan pada dua lokasi makam. Pertama, makam dengan dua buah makam, yang diduga sebagai sultan Perlak pertama, Sultan Sayyid Maulana Abd al Azis Syah dan isterinya. Kedua, makam dengan sebuah makam, namun diyakinkan di tempat ini dimakamkan dua orang tokoh dalam satu liang kubur, diduga sebagai Sultan Abd Allah Syah dan istrinya. Makam terakhir ini mempunyai dua bentuk batu nisan yang berbeda untuk penanda bagian kepala dan bagian kaki makam. Batu nisan kuno di Peureulak ini polos, tidak ada pahatan motif hias dan kaligrafi.

Batu nisan kuno dari Perlak berdasarkan perancangan bentuk batu nisan dibedakan menjadi tiga bentuk. Pertama, bentuk batu nisan dengan ‘lengkung Persia’ yang terpotong bagian atasnya sehingga menjadi rata. Kadang-kadang diberi mahkota berbentuk profil dengan susunan garis pelipit dan setengah bulat/lingkaran (belah rotan). Kesan yang dihadirkan secara visual berupa ‘kendi dengan penutupnya’. Bentuk batu nisan serupa ini terdapat pada makam Sultan Sayyid Maulana Abd al Azis Syah dan batu nisan bagian kaki pada makam Sultan Abd Allah Syah.

Kedua, bentuk batu nisan dengan ‘sayap’ kecil pada bagian bahu dan bagian kepala berupa ‘kendi’ kadang dengan mahkota. Bentuk batu nisan serupa ini ditemukan pada makam yang diduga sebagai makam istri Sultan Sayyid Maulana Abd al Azis Syah. Ketiga, bentuk batu nisan dengan bahu ‘bulat’ dan bagian kepala berupa ‘kendi’ kadang dengan mahkota. Bentuk batu nisan ini ditemukan pada makam bagian kepala Sultan Abd Allah.

KRONOLOGI. Bukti pertanggalan batu nisan di bukit Lamreh atau Lamuri, berangka tahun 1211 M (608 Hijriyah), dan batu nisan dari Samudera Pasai, 1389 M. (781 Hijriyah), menjadi petunjuk masa pembuatannya. Batu nisan era awal Islam tersebut telah dibuat pada awal abad ke-13 M. Rancangan bentuk dan gaya batu nisan jenis ini tidak mengalami perubahan yang mendasar bahkan terus dibuat hingga abad ke-14 M.

Itu artinya batu nisan jenis ini terus dipahat oleh para pemahat batu selama dua abad. Namun dalam rentang waktu lama tidak mengalami perubahan begitu berarti, terutama dalam hal perancangan bentuk dan gaya batu nisan. Pengunaan motif hias dan kaligrafi arab belum menunjukkan tanda perkembangan.

PERSEBARAN BATU NISAN. Temuan nisan kuno era Islam awal ini secara kuantitatif (jumlah) sangat jerang dan belum banyak contoh yang ditemukan untuk diamati secara lebih rinci. Ini mungkin disebabkan jenis batu nisan ini hanya  dibuatkan oleh pemahat batu nisan untuk pesanan orang tertentu pada masanya. Ada dugaan batu nisan tersebut termasuk barang mewah dan mahal, sehingga hanya orang tertentu yang dapat membeli dan memilikinya. Temuan yang jarang tesebut tentu tidak dapat memberikan gambaran jumlah populasi manusia, orang muslim, sebagai suatu komunitas muslim. Namun dapat dijadikan penjelasan keberadaan orang muslin di suatu tempat.

Sebagai contoh, temuan batu nisan kuno era awal Islam di kompleks makam dari bukit Lamreh, Aceh Besar. Dari pertanggalan pada batu nisan dari salah satu batu nisan terdapat pahatan kaligrafi Arab dengan inskripsi nama tokoh yang dimakamkan dan tahun wafatnya, yaitu Sultan Sulaiman bin Abd Allah bin Basyir yang wafat tahun 1211 M. (608 Hijriyah). Bukti ini dapat dijadikan bukti adanya suatu komunitas muslim pada awal abad ke-13 M (1200-an M.) dan bahkan sejak abad ke-12 M.

Batu nisan itu bahkan memberikan keterangan bahwa di kawasan bukit Lamreh ini telah muncul komunitas muslim dengan sistem pengaturan sosial yang teratur berbentuk kerajaan yang dipimpin seorang bergelar sultan atau kekuasaan tertinggi, Sultan Sulaiman. Ia adalah sultan pertama dikawasan itu. Sementara ayahnya Abd Allah dan kakeknya Basyir tidak mengunakan gelar sultan.

Batu nisan serupa dari Samudera Pasai juga memberikan penjelasan tentang semakin berkembangnya komunitas muslim di kawasan itu pada abad ke-13 M hingga abad ke-14 M. Batu nisan dengan kaligrafi memuat nama tokoh yang dimakamkan dan angka tahun wafatnya, yaitu makam Al ’Ala wafat tahun 1389 M. (791 hijriyah). Al ’Ala adalah putri raja Samudera Pasai, anak perempuan Sultan Malik az Zahir anak Walidihi Khan.

Tokoh-tokoh tersebut disebutkan dalam Hikayat Raja-Raja Pasai. Sultan Malik az Zahir dikenal sebagai Sultan Malik al Mahmud yaitu raja ketiga Samudera Pasai. Sementara Walidihi Khan dikenal sebagai Sultan Malik ath Thahir dan pada batu nisannya terpahat Sultan Muhammad Sultan Malik ath Thahir sebagai raja kedua Samudera Pasai yang wafat pada 1326 M.

Batu nisan pada makam Sultan Malik as Saleh (wafat 1297 M.) tidak dibahas di sini, karena rancangan bentuk dan gaya batu nisannya sangat berbeda dengan batu nisan yang kami teliti disini. Batu nisan tersebut memuat angka tahun yang cukup tua, namun batu nisannya sendiri sama dengan rancangan bentuk dan gaya batu nisan dari era Samudera Pasai abad ke-15 M dan awal abad ke-16 M.

Batu nisan era awal Islam di Peureulak hingga saat ini belum dapat memberikan penjelasan siapa tokoh yang dimakamkan dan tahun wafatnya secara arkeologis. Batu nisan itu dipahat polos, walau cerita yang berkembang dalam masyarakat menyebutkan nama tokoh yang dimakamkan. Perlu penelitian lebih lanjut untuk menemukan bukti-bukti baru tentang keberadaan komunitas muslim awal di Perlak.

Tiga bentuk batu nisan kuno Islam awal di kawasan Sumatera bagian utara (Aceh), yang persebarannya meliputi Lamuri di bukit Lamreh, Aceh besar, Samudera Pasai di Aceh Utara, dan Perlak di Aceh Timur, telah dibuat sejak awal abad ke-13 M. (1200-an M.) dan terus dibuat hingga akhir abad ke-14 M. (1300-an M.). Batu nisan tersebut dipahat oleh para pemahat lokal dengan memanfaatkan jenis batuan andesitik yang juga ditemukan di kawasan itu.

Bentuk batu nisan Islam awal tersebut menjadi dasar perkembangan perancangan bentuk batu nisan, khususnya pada era Samudera Pasai ada abad ke-15 M. hingga awal abad ke-16 M  sehingga menghasilkan bentuk perancangan baru dengan gaya yang baru. Perkembangan lanjut terjadi pada era Aceh Darussalam pada pertengahan pertama abad ke-16 M.

Jenis batu nisan kuno ini merupakan bentuk  pertama yang dirancang dan dibuat dalam perancangan batu nisan dalam era kebudayaan batu nisan Samudera Pasai.  Bentuk batu nisan tersebut menjadi bentuk dasar dalam perkembangan perancangan bentuk batu nisan lebih lanjut di era ’kebudayaan batu nisan’ Samudera Pasai abad ke-15 M. Perkembangan batu nisan terus berlanjut pada era ’kebudayaan batu nisan’ Aceh Darussalam dari abad ke 16 M hingga abad ke-17 M.

Persebaran batu nisan era Islam awal di Bukit Lamreh, Aceh Besar, Samudera Pasai di Aceh Utara, dan Peureulak di Aceh Timur sebagai petunjuk adanya komunikasi dan hubungan yang dekat diantara ketiga tempat tersebut. Ketiga komunitas muslim awal itu telah tumbuh dan berkembang dalam era bersamaan, yaitu dalam kurun waktu abad ke-13 M. Komunitas muslim awal di sini yaitu suatu komunitas yang telah mempunyai sistem pengaturan sosial yang teratur.

penulis

Deddy Satria, sarjana Arkeologi lulusan Universitas Gadjah Mada, bertempat tinggal di Banda Aceh, telah melakukan penelitian arkeologi sejak tahun 1994 terutama pada situs-situs perkampung kuno dan penelitian batu nisan dan pemukiman kuno yang berada di Banda Aceh dan Aceh Besar. serta penulis tetap pada jurnal Arabesk yang diterbitkan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Banda Aceh.

Referensi

ABDUS Samad Ahmad, Sulalatus Salatin; Sejarah Melayu, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pelajaran Malaysia, Kuala Lumpur, 1986.

ACHMAD Cholid Sodrie, Nisan-Nisan Samudera Pasai (Sumatera Utara), Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA) IV (hal. 53-70), Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Jakarta, 1992.

CLAUDE Guillot (Editor), Labu Tuo Sejarah Awal Barus, Ecole Francaise d’Extrem-Orient, Association Archipel, Pusat Penelitian Arkeologi, Yayasan Obor, Jakarta, 2002.

DENYS Lombard, Kerajaan Aceh, Jaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Balai Pustaka Jakarta, 1991.

HASAN Muarif Ambary, L’ Art Funeraire Musulman en Indonesie des Origines au XIXe Siecle Etude Epygraphique et Typologique, Disertasi Doktoral, Ecole sea Hautes en Scienses Sosiales, Paris, 1984.

HASAN Muarif Ambary, Menemukan Peradaban, Jejak Arkeologi dan Historis Islam Indonesia, Logos, Jakarta, 1998.

H.Z. Zentgraaff, Aceh, Penerbit Beuna, Jakarta,1983.

KERAM Kenovian, Suatu Catatan Perjalanan di Laut Cina dalam Bahasa Armenia, hal. 27-104, dalam Labu Tuo Sejarah Awal Barus, Claude Guillot (Editor), Yayasan Obor, Jakarta, 2002.

MUHAMMAD Gade Ismail, Pasai dalam Perjalanan Sejarah; Abad ke-13 sampai awal Abad ke-16, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1993.

MUHAMMAD Said, Aceh Sepanjang Abad, Waspada, Medan, 1981.

OTHMAN M. Yatim, Batu Aceh, Early Islamic Gravestone in Paninsular Malaysia, Museum Assocition of Malaysia (Muzeum Negara), Kuala Lumpur, 1988.

OTHMAN M. Yatim dan Abdul Halim Nasir, Epigrafi Islam Terawal di Nusantara, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur, 1990.

RIBOET Darmosoetopo, Pengantar Epigrafi Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1990.

Suwedi Montana, Pandangan Lain Tentang Letak Lamuri dan Barat (Batu Nisan Abad ke VII-VIII Hijriyah di Lamreh dan Lamno, Aceh), dalam Kebudayaan no 12 tahun VI, hal. 83-93, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1996/1997

SNOUCK C. Hurgronje, Aceh di Mata Kolonil, julid I dan II, Yayasan Soko Guru, Jakarta, 1986.

T. Abdullah, Hikayat Aceh, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, Banda Aceh, 1980.

YASIM Hamid Safadi, Kaligrafi Islam, Thames & Hudson Limited, London, 1978.

Keterangan Rabbing

Gambar-gambar berikut merupakan hasil rabbing dua batu nisan kuno dari koleksi Balai Pelestarin Peninggalan Purbakala (BPPP) Banda Aceh –batu nisan kuno nomor 1 dan 2- serta sebuah batu nisan koleksi Deddy Satria, SS. dari Kampung Pande –batu nisan kuno nomor 3. Rabbing merupakan teknik reproduksi dari arkeologi seperti batu nisan dan menjadi salah satu alat dokumentasi dalam arkeologi, terutama dalam kajian epigrafi. Cara kerja tehnik reproduksi menghasilkan cetakan atau tiruan positif, dengan menggunakan kertas ukuran kuarto dan kertas karbon. Sebelum lakukan kegiatan rabbing, model –yang dimaksud di sini batu nisan kuno- terlebih dahulu di bersihkan terutama dari debu dan jamur. (Hasil rubbing oleh Deddy Satria, 2009)

Batu nisan nomor 1; Bentuk batu nisan dengan ‘sayap’ kecil pada bagian bahu dan bagian kepala berupa ‘kendi’. Batu nisan dipahatkan panil/bingkai menyerupakan bingkai ’pintu’ dan garis bergulung serupa belalai ’gajah’. Panil tersebut dipahat dengan tehnik pahat dangkal. Batu nisan ini menjadi koleksi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Banda Aceh.

Batu nisan nomor 2; Bentuk batu nisan dengan ‘lengkung Persia’ terpotong bagian atasnya sehingga menjadi rata. Batu nisan polos tidak dipahatan bingkai ’pintu’, motif hias dan kaligrafi. Batu nisan ini menjadi koleksi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Banda Aceh.

Batu nisan nomor 3; Bentuk batu nisan dengan ‘lengkung Persia’ terpotong bagian atasnya sehingga menjadi rata. Pada bagian kepala diberi pahatan mahkota berbentuk profil dengan susunan garis pelipit dan setengah bulat/lingkaran (belah rotan). Kesan yang dihadirkan secara visual berupa ‘kendi dengan penutupnya’. Batu nisan ini berasal dari Kampung Pande dalam kondisi fisik rusak dan patah, terutama pada bagian bahu dan bagian kakinya telah patah/hilang.